Author: Gambar Ekonomi Perencanaan Keuangan

  • Pakai Paylater Harus Bijak, Jangan Sampai Nunggak!

    Pakai Paylater Harus Bijak, Jangan Sampai Nunggak!


    Jakarta

    Paylater kini merupakan salah satu pilihan pembayaran yang biasa digunakan oleh masyarakat. Jika menggunakan Paylater bisa beli dulu, bayar nanti.

    Saat ini akses menuju ke paylater semakin mudah, misalnya sudah tersedia di e-commerce.

    Namun, sayangnya mungkin banyak masyarakat belum mengetahui risiko di balik sistem pembayaran satu ini. Ternyata, menggunakan paylater ini terdaftar dalam catatan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.


    Informasi tersebut disampaikan oleh Friderica Widyasari Dewi Ketua Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan OJK. Friderica mengatakan catatan SLIK OJK tersebut bisa menjadi salah satu acuan cairan pembiayaan apabila ingin mengajukan usaha.

    “Credit card, paylater itu nama Ibu akan masuk di catatan SLIK. Itu sangat bahaya karena mau bisnis UMKM tadi mengajukan pembiayaan, akan dicek sama bank-nya ternyata catatan utang-nya buruk sekali,” kata Friderica dalam acara “Ngobrolin Literasi Keuangan, Karir, Keluarga untuk Bekal Masa Depan, di Bogor, Jumat (8/12/2023).

    Selain itu, track record di paylater maupun kartu kredit ini juga menjadi salah satu acuan apabila ingin membeli rumah dengan kredit. Belum lagi, berdasarkan data OJK, pengguna paylater adalah generasi muda di rentang usia 19-25 tahun.

    Friderica pun mengingatkan agar para ibu untuk mengawasi putra-putri mereka. Jangan sampai tidak bisa membeli rumah hanya karena catatan SLIK-nya buruk.

    “Sekarang pengguna paylater generasi muda usia 19-25 tahun. Paling seram, ini ada datanya, cicilannya 90% dari penghasilan untuk bayar cicilan paylater. Anak muda ini yang harus bisa beli rumah, jadi ga bisa karena udah ada catatan SLIK-nya macet. Bukan menakuti, tapi sudah terjadi,” jelasnya.

    Untuk itu, dia meminta kepada para ibu-ibu untuk berhati-hati dan lebih bertanggung jawab di sektor keuangan. Apalagi sekarang semua data sudah terintegrasi dan masuk ke catatan SLIK OJK.

    “Karena nanti kalau sudah terkena masalah masalah keuangan, kerjanya ga fokus, dan banyak rentetannya. Ibu-ibu harus paham baru kemudian ke putra-putrinya,” imbuhnya.

    Simak juga Video: OJK Blokir 2.760 Rekening yang Fasilitasi Aktivitas Perjudian

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Empat Cara Agar Dapat Cuan di Tahun Naga Kayu

    Empat Cara Agar Dapat Cuan di Tahun Naga Kayu


    Jakarta

    Tahun 2024 dalam kalender China merupakan tahun dengan shio Naga Kayu. Tahun ini disebut-sebut bisa menjadi awal bagi kesuksesan.

    Pasalnya, Tahun Naga Kayu hanya muncul setiap 60 tahun sekali. Karena kelangkaannya itu maka shio ini menjadi sangat spesial.

    “Tahun Naga Kayu diartikan sebagai awal yang baru bagi kesuksesan. Naga kayu hanya muncul sekali setiap 60 tahun, menjadikannya makhluk yang langka dan menakjubkan,” tulis Otoritas Jasa Keuangan dalam unggahan Instagram @ojkindonesia, Selasa (13/2/2024).


    Tentunya karena Tahun Naga Kayu merupakan tahun yang spesial, cuan bisa mengalir deras di tahun ini. OJK pun membagikan cara agar bisa cuan di Tahun Naga Kayu 2024. Berikut ini selengkapnya:

    1. Mulai belajar produk investasi

    Untuk meraih cuan di tahun Naga Kayu salah satun caranya adalah belajar produk investasi. Temukan produk yang tepat dan pelajari juga risikonya. Jangan lupa cek juga apakah instrumen yang diinvestasikan telah berizin OJK.

    2. Jangan FOMO

    Kurangi pengeluaran yang tidak penting, apalagi hanya untuk ikutan tren alias Fear of Missing Out (FOMO).

    3. Cari penghasilan tambahan

    Untuk menambah pundi-pundi penghasilan yang bisa diinvestasikan, cari cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

    4. Kurangi utang

    Ada baiknya jangan mudah untuk melakukan utang, bila masih ada yang belum dilunasi lebih baik segera dilunasi terlebih dahulu. Pengeluaran harus bisa dikontrol dengan cara membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

    (hal/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Tips Nabung Ala Bank Jago: Jadikan Kebiasaan-Harus Pasang Target!

    Tips Nabung Ala Bank Jago: Jadikan Kebiasaan-Harus Pasang Target!


    Jakarta

    Consumer Business Community Manager Bank Jago yang juga Certified Financial Planner (CFP), Edo Velandika membagikan tips mengelola keuangan di depan mahasiswa Universitas Tarumanegara (Untar). Berdasarkan pengalamannya konsultasi dengan financial planner, hal pertama yang perlu dimiliki adalah tujuan.

    “Financial planner waktu dulu bilang punya tujuan dulu. 1 tahun ke depan harus punya tujuan, saya harus terbang ke Everest. Caranya pisahkan segini setiap bulan,” katanya dalam d’Preneur detikcom Acara ini berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Untar, Jakarta, Selasa (5//3/2024).

    Pria yang akrab disapa Dika ini mengatakan, masyarakat kini dimudahkan dengan banyaknya platform investasi yang terjangkau. Hal ini berbeda dengan dulu, yang mana literasi keuangan belum terlalu baik.


    Adapun Dika bercerita kerap menyisihkan Rp 200 ribu dari penghasilan yang didapatkan. Penghasilan di sini, kata dia, tidak terbatas pada gaji bulanan saja.

    “Waktu itu pokoknya sisihkan Rp 200 ribu tiap dapat penghasilan. Jadi bukan setiap income, setiap dapat penghasilan. Saya waktu itu freelance fasilitator outbound waktu itu, seminggu sekali saya bantuin, saya sisihkan Rp 200 ribu untuk menabung,” tuturnya.

    Meskipun wishlist-nya untuk pergi ke Everest tidak langsung terwujud di tahun pertama dan kedua, kata dia, namun Dika menyebut menabung menjadi kebiasaan. Ia menyatakan menabung bukanlah soal jumlah uangnya, tapi soal aktivitas yang jadi kebiasaan.

    “Jadi saya belakangan berpikir kenapa waktu kecil orang tua ada yang ngasih THR itu pasti ‘sini mama simpan’, kan bisa jadi itu investasi bodong. Tapi yang saya sadari yang mau diajarkan adalah menabung itu habit, bukan soal jumlah uangnya,” sebutnya.

    “Kalau nggak bisa habit nabung dengan uang kecil, nant dengan uang besar bisa nggak? Masalahnya menabung itu soal habit, untuk membangun itu goalsnya apa? Makanya harus punya tujuan dulu,” pungkasnya.

    Simak juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun

    [Gambas:Video 20detik]

    (ily/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Begini Caranya Atur Uang Bulanan buat Mahasiswa

    Begini Caranya Atur Uang Bulanan buat Mahasiswa


    Jakarta

    Mengelola keuangan tidak semudah seperti dibayangkan. Para mahasiswa juga pernah mengalami waktu uang saku bulanan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Perencana Keuangan Nadia Harsya mengatakan hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengalokasikan kebutuhan prioritas saat pertama kali mendapatkan uang saku. Misalnya, kebutuhan mahasiswa seperti uang fotokopi, makan, hingga biaya transportasi.

    “Pertama kalau dapat uang jajan sampai uang jajan berikutnya. Jadi, step satu dapat gajian dapat uang, bereskan dulu tuh bayar kosan beli token,” kata dia di d’Preneur detikcom acara ini berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Untar, Jakarta, Selasa (5//3/2024).


    Kemudian, Nadia bilang perlu mengalokasikan anggaran yang tersisa secara mingguan. Sebab, kalau dilihat secara bulanan, kita akan merasa mempunyai banyak uang.

    Dengan alokasi mingguan, kamu dapat mempunyai kontrol diri yang lebih disiplin. Nadia menilai kontrol diri ini menjadi hal penting karena agar tidak mengambil dana yang lain. Selain itu, dengan alokasi mingguan ini juga dapat menumbuhkan kebiasaan menghabiskan uang sesuai dengan besaran.

    “Paling penting disiplin sama self-control ya. Dengan pengingat ini, aku merasa punya jatah dam batasnya tiap Minggu segini. Misalnya, seminggu Rp 500 ribu operasionalnya. Jadi, punya habit menghabiskan yang jatahnya,” jelasnya.

    Lihat juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Atur Budget buat Self Rewards biar Nggak Bikin Kantong Jebol, Simak Caranya!

    Atur Budget buat Self Rewards biar Nggak Bikin Kantong Jebol, Simak Caranya!


    Jakarta

    Sebagai mahasiswa tentunya pernah merasa perlu mengapresiasi diri atau self rewards. Kamu dapat memberi kebahagiaan diri sendiri dengan self rewards.

    Perencana Keuangan Nadia Harsya mengatakan self rewards dapat dilakukan asalkan semua kewajibannya telah dipenuhi. Dia juga menekankan self rewards ini sebagai bentuk apresiasi diri karena telah berhasil mengerjakan sesuatu.

    “Kalau bikin analogi nih, lagi lari 10 km, berhenti di water station. Self rewards dianalogikan water, kita lari dulu baru akhirnya boleh dapat sesuatu. Kalau nggak ngapain tahu-tahu rewards itu namanya self sabotage,” kata Nadia dalam acara d’Preneur detikcom yang berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Universitas Tarumanagara, Selasa (5/3/2024).


    Lebih lanjut, dia bilang self rewards setiap orang berbeda. Untuk itu, perlu untuk mengenal self rewards masing-masing. Apa membutuhkan nominal besar atau tidak.

    Nadia mengatakan perlu menabung untuk bentuk self rewards yang membutuhkan nominal besar. Dia menekankan self rewards menjadi prioritas yang terakhir ketika semua kebutuhan dapat dipenuhi, mulai dari bayar cicilan hingga menabung dapat dilakukan.

    “Biasanya gini ada yg self rewards kecil-kecil kebetulan budget minggu ini sisa Rp 50 ribu cukup nongkrong di mana. Ada yang self rewards-nya, nggak bisa nih harus nonton konser di Singapura,” jelasnya.

    Lihat juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Susah Nabung di Satu Rekening? Bisa Coba Metode Kantong Ala Bank Jago

    Susah Nabung di Satu Rekening? Bisa Coba Metode Kantong Ala Bank Jago


    Jakarta

    Consumer Business Community Manager Bank Jago yang juga Certified Financial Planner (CFP) Edo Velandika, mengingatkan pentingnya mengelola keuangan. Jika ada anggapan bahwa menabung tidak membuat kaya, kata dia, apalagi kalau tidak menabung.

    “Menabung nomor satu. Banyak yang bilang menabung nggak bikin kaya, apalagi nggak menabung,” katanya dalam d’Preneur detikcom yang berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Selasa (5//3/2024).

    Ia menjelaskan, Bank Jago menawarkan fitur kantong yang memfasilitasi penggunanya untuk menabung. Menurutnya ada 60 kantong yang setara dengan 60 rekening.


    Dengan begitu, pria yang akrab disapa Dika itu menyebut pengguna Bank Jago bisa memecah kebutuhan uangnya tanpa harus membuka banyak rekening. Pengguna juga bisa mengatur jumlah uang yang ingin ditabung pada setiap kantongnya sesuai keinginan.

    “Di Jago, 1 akun bisa bikin 60 kantong, sama dengan 60 rekening. Dengan 1 aplikasi Jago bisa 60 rekening. Artinya punya 60 tujuan keuangan itu bisa dipisahin semuanya dalam 1 aplikasi Jago, sesuai kemauan,” bebernya.

    Ia menambahkan, Bank Jago juga menawarkan fitur autosave, atau menabung otomatis. Waktunya bisa diatur satu hari hingga 30 hari.

    “Katakanlah mau nabung Rp 300 ribu tiap bulan. Misalnya setiap tanggal 3 uangnya langsung dipisahkan, misalnya untuk liburan kita buat kantong liburan. Setiap tanggal yang kita tentukan, uangnya dipisahkan ke kantong itu. Kalo berat bisa di-set mingguan. Atau kalau terlalu berat bisa harian,” tuturnya.

    Pada kesempatan itu ia juga menjamin keamanan menyimpan uang di Bank Jago, sebab sudah mengikuti regulasi Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kalau pun ada kendala umumnya disebabkan karena gangguan yang bersifat teknologi.

    “Tapi ada kejadian misalnya, namanya teknologi, bukan uangnya tidak bisa diambil tapi lupa password. Pindah akun dari HP, itu juga banyak kejadian. Curhatnya uang nggak bisa diambil, padahal ada masalah teknis di teknologinya. Kemudian ada masalah koneksi,” imbuhnya.

    Adapun Dika menyarankan untuk membagi pos tabungan ke dalam 4 kantong. Pertama adalah memenuhi kebutuhan pokok sebesar 50-60%, kedua untuk tabungan jangka pendek 10-20%, ketiga tabungan jangka panjang sekitar 20%, dan terakhir tabungan guilt free, atau yang ang bisa dihabiskan tanpa merasa bersalah.

    Simak juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun

    [Gambas:Video 20detik]

    (ily/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • OJK Minta Emak-emak Jangan Berharap Pada Anak buat Hari Tua, Ini Alasannya

    OJK Minta Emak-emak Jangan Berharap Pada Anak buat Hari Tua, Ini Alasannya


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan para ibu-ibu untuk memberi beban terhadap anaknya untuk mengurus diri mereka di hari tua. Sebab, hal itu bisa menciptakan generasi sandwich yang ‘terjepit’ antara tanggung jawab merawat orang tua dan anak-anak mereka kelak.

    Oleh sebab itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, menyarankan para ibu-ibu untuk mempersiapkan masa pensiun masing-masing.

    “Kalau kita sudah menyekolahkan anak, jangan berharap ‘anak-anak yang nanti menyokong hidupku nanti kalau tua.’ Kalau iya, dari keinginan anak sendiri, alhamdulillah. Karena itu cara mereka berbakti dan mengumpulkan pahala, tapi kita sendiri harus siap,” kata Kiki, sapaan karibnya, di Gedung Perpustakaan Nasional Salemba, Senen Jakarta Pusat, Selasa (23/4/2024).


    Oleh sebab itu OJK mencoba mendorong agar para ibu-ibu bisa berdaya dan mandiri secara finansial. Sejumlah caranya, seperti membuka usaha sendiri maupun berinvestasi di berbagai instrumen keuangan.

    Tapi, ia mengatakan bahwa para ibu-ibu juga tidak harus merasa wajib memiliki usaha di usia tua. Sebab, ada cara lain agar para ibu-ibu bisa mandiri secara finansial yakni dengan berinvestasi.

    “Kalau nggak punya bakat bisnis nggak apa-apa, bisa investasi di emas, reksadana, dan macem-macem, itu silahkan belajar. Jadi kita semua yuk, mumpung masih kuat, berjiwa muda, Insyaallah kita bisa menyiapkan masa depan lebih baik,” ujar dia.

    Simak juga Video ‘OJK Bongkar 288 Pinjol Ilegal Terbaru’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • OJK Minta Emak-Emak Jangan Jadikan Anak Investasi buat Hari Tua

    OJK Minta Emak-Emak Jangan Jadikan Anak Investasi buat Hari Tua


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta para ibu-ibu tidak menjadikan anaknya sebagai investasi buat hari tua. Hal ini berarti para ibu-ibu diharapkan mapan secara finansial dan mampu mengurus diri di masa yang akan datang.

    Sebab, OJK menilai menjadikan anak sebagai investasi bisa menciptakan generasi sandwich yang ‘terjepit’ antara tanggung jawab merawat orang tua dan anak-anak mereka kelak. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, menyarankan para ibu-ibu untuk mempersiapkan masa pensiun masing-masing.

    “Kalau kita sudah menyekolahkan anak, jangan berharap ‘anak-anak yang nanti menyokong hidupku nanti kalau tua.’ Kalau iya, dari keinginan anak sendiri, alhamdulillah. Karena itu cara mereka berbakti dan mengumpulkan pahala, tapi kita sendiri harus siap,” kata Kiki, sapaan karibnya, di Gedung Perpustakaan Nasional Salemba, Senen Jakarta Pusat, Selasa (23/4/2024).


    Oleh sebab itu OJK mencoba mendorong agar para ibu-ibu bisa berdaya dan mandiri secara finansial. Sejumlah caranya, seperti membuka usaha sendiri maupun berinvestasi di berbagai instrumen keuangan.

    Tapi, ia mengatakan bahwa para ibu-ibu juga tidak harus merasa wajib memiliki usaha di usia tua. Sebab, ada cara lain agar para ibu-ibu bisa mandiri secara finansial yakni dengan berinvestasi.

    “Kalau nggak punya bakat bisnis nggak apa-apa, bisa investasi di emas, reksadana, dan macem-macem, itu silahkan belajar. Jadi kita semua yuk, mumpung masih kuat, berjiwa muda, Insyaallah kita bisa menyiapkan masa depan lebih baik,” ujar dia.

    (rrd/rir)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Cek di Sini! Tips Pilih Investasi yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga

    Cek di Sini! Tips Pilih Investasi yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga


    Jakarta

    Ibu rumah tangga mempunyai peran penting dalam mengelola keuangan. Investasi menjadi salah satu cara mengelola keuangan yang baik sekaligus dapat merencanakan masa depan.

    Meskipun tidak bekerja di luar rumah, para ibu juga tetap bisa menghasilkan cuan melalui investasi. Friderica Widyasari Dewi Ketua Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan OJK memberikan beberapa tips investasi yang cocok untuk ibu rumah tangga.

    Friderica mengatakan sebelum memutuskan, para ibu lebih dulu memahami jenis investasi. Apalagi terkadang ada kebutuhan yang mendadak sehingga perlu membutuhkan dana cepat.


    “Investasi itu macem-macem kita juga perlu melakukan diversifikasi. Istilahnya jangan letakkan telur di satu keranjang. Itu sama kayak sebagian di sini, sebagian di sini. Kadang kita butuh uang cepat, anak sakit atau apa, harus punya uang liquid kapan aja kita bisa sampai,” kata Frederica dalam acara “Ngobrolin Literasi Keuangan, Karir, Keluarga untuk Bekal Masa Depan, di GLO Coffee Bogor, Jumat (8/12/2023).

    Dia pun mengatakan ada survei yang mengatakan ada satu jenis investasi yang menjadi favorit para ibu, yakni emas atau logam mulia. Ada pula yang memilih investasi di rumah atau properti.

    Kedua investasi tersebut mempunyai sisi resiko masing-masing. Namun, investasi properti termasuk dalam aset tidak liquid, yang mana aset tidak gampang dicairkan.

    “Beli rumah, rumah itu nggak liquid, kapan butuh uang cepat susah dijualnya. Nah emas bagus sangat liquid. Butuh duit, bisa jual. Bentuknya logam mulia ya kalau perhiasan,” jelasnya.

    Meski begitu, terkadang logam mulia juga bisa hilang. Untuk itu, dia mengingatkan agar para ibu untuk terus belajar, termasuk risiko investasi berdasarkan profil risiko dan jangka waktu berinvestasi.

    Lebih lanjut lagi, dia menegaskan jangan mudah tergiur investasi yang menawarkan hasil bombastis. Dia bilang selalu ingat logis dan legal sebelum memilih investasi.

    Pasalnya, berdasarkan data dari OJK, Jawa Barat menjadi daerah yang paling besar tertipu investasi. Untuk itu, lebih dulu mengecek kembali apakah investasi tersebut legal atau tidak.

    “Izin membuka usaha beda sama sektor keuangan. Sektor keuangan tuh harus ada izin dr OJK,” imbuhnya.

    Sementara itu, Perencana Keuangan Rista Zwestika mengatakan memilih investasi tergantung tujuan dan target investasi. Berbeda waktu, berbeda memilih jenis investasi.

    “Kalau keuangan terbatas dan ilmunya terbatas. Yang pertama coba buat ke deposito. Kemudian masuk ke reksadana pasar uang. Ini aman, deposito dapatnya 3% aman di bawah satu tahun, reksadana bisa dapat 4-5% per tahun,” kata Rista.

    Simak juga Video: Jokowi Ingin Investasi di Luar Jawa Makin Besar: Masak 16 Ribu Pulau Hanya 52%

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Minim Literasi, Mudah Terjebak Tren

    Minim Literasi, Mudah Terjebak Tren


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa indeks literasi keuangan dan inklusi keuangan generasi Z atau Gen-Z menjadi yang terendah dalam skala nasional. Bahkan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Frederica Widyasari Dewi, Agustus lalu mengungkapkan kelompok usia 15-17 tahun memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang paling rendah.

    Hal ini senada dengan hasil riset kredit Karma pada 2018 lalu dimana ditemukan bahwa sebanyak 39% Gen-Z memiliki utang untuk mengikuti tren dalam komunitasnya. Sedangkan berdasarkan Research Institute pada 2019, alokasi tabungan dari pendapatan pada Gen-Z hanya 10,17%. Ini menekankan bahwa mereka juga minim investasi, meski secara umum mereka dianggap mengerti tentang pengetahuan menabung.

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, Gen-Z, juga tumbuh dengan internet dan kecenderungan mencari solusi finansial yang cepat dan efisien, sehingga menghadapi tantangan besar dalam mengelola keuangan secara bijak. Mencermati hal tersebut, platform literasi investasi Tumbuh Makna bekerja sama dengan Universitas Serang Raya mengadakan webinar bersama puluhan mahasiswa dengan tema “Financial Cerdas Gen-Z: Strategi Kelola Dana dan melek Digital Menuju Masa Depan Sejahtera”.


    Benny Sufami, Co-Founder Tumbuh Makna, memberikan sejumlah tips penting agar Gen-Z dapat mengelola keuangan dengan benar, yakni melalui membangun kebiasaan finansial yang sehat, dan menghindari risiko kerugian di masa depan.

    “Keberhasilan finansial tidak datang dalam semalam, melainkan melalui kebiasaan yang dibentuk secara konsisten, seperti menabung, mengelola pengeluaran, dan merencanakan keuangan dengan disiplin. Kebiasaan yang sehat akan menjadi fondasi kuat bagi kestabilan keuangan di masa mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (17/11/2024).

    Benny menekankan bahwa memiliki anggaran atau budgeting yang jelas adalah kunci menuju kebebasan finansial, sekaligus pentingnya pemahaman terhadap investasi. Ia mencatat banyak investor muda yang sering kali mengalami kerugian karena terjebak dalam tren investasi tanpa mempertimbangkan profil risiko pribadi.

    “Banyak yang ikut-ikutan membeli saham hanya karena melihat orang lain melakukannya,” ungkapnya. Benny mengingatkan bahwasetiap individu memiliki toleransi risiko yang berbeda, sehingga penting untuk menyesuaikan jenis investasi dengan profil risiko masing-masing agar terhindar dari kerugian besar.

    Menurutnya, pemahaman risiko sebelum berinvestasi adalah hal krusial agar keputusan yang diambil lebih cerdas dan minim risiko. “Pastikan kamu memahami dengan jelas apa saja risiko yang terlibat,” jelas Benny. Selain itu, ia mengimbau agar setiap keputusan keuangan selalu didasarkan pada prinsip-prinsip yang legal dan logis. “Mindset yang perlu ditanamkan bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan uang, tetapi juga bagaimana mengelolanya dengan tepat dan bijaksana. Pastikan setiap langkah finansial yang diambil mematuhi aturan yang berlaku dan tidak tergoda oleh iming-iming keuntungan instan,” pungkasnya.

    Sementara itu Direktur Utama PT. Persero Batam, Arham S. Torik, mengingatkan bahwa salah satu prinsip dasar dalam pengelolaan keuangan adalah menjaga pengeluaran agar tidak melebihi pemasukan.

    “Mereka harus membuat anggaran yang sesuai dengan gaya hidup. Perencanaan ini penting, khususnya untuk Gen-Z, karena hari ini kamu kerjakan, itu akan menentukan masa depan. Karena tantangan ke depan akan lebih dinamis,” ujarnya. Ia menekankan perlunya kesadaran diri dalam membatasi pengeluaran agar sesuai dengan anggaran yang ada.

    Arham juga menggarisbawahi pentingnya bagi Gen-Z untuk menetapkan anggaran yang realistis, yang mencerminkan kebutuhan mereka secara jujur tanpa mengikuti gengsi atau keinginan semata.

    “Banyak dari Gen-Z mungkin belum memiliki perencanaan yang matang, biasa disebut besar pasak daripada tiang. Untuk itu, kawan-kawan harus tahu pendapatan bersih, kemudian ukur pendapatan dan menyesuaikan pengeluaran. Jangan terlalu banyak keinginan. Prioritaskan kebutuhan, bukan keinginan,” tegasnya.

    Menurutnya, strategi perencanaan keuangan adalah upaya untuk melakukan perencanaan masa depan, termasuk membangun dana darurat secara terukur dan realistis. “Dana darurat ini penting sebagai perlindungan dari risiko tak terduga. Buat rekening terpisah untuk dana darurat, agar dana ini tidak tercampur dan sulit nantinya diakses, sehingga bisa dicairkan dengan segera. Lalu buat otomatis transfer untuk dana darurat,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa perencanaan adalah kunci dari semuanya sehingga harus dibuat dengan baik dan benar sesuai kebutuhan.

    Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Serang Raya, Endang Tri Santi, menekankan pentingnya literasi bagi Gen Z yang tumbuh di era digital. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk memilah informasi yang valid dari yang menyesatkan, terutama agar generasi ini terhindar dari keputusan finansial yang berisiko. “Di tengah tsunami informasi saat ini, sikap kritis sangat diperlukan. Kita harus selalu cek data dan verifikasi sumber dengan teliti, karena hal ini akan membantu kita terhindar dari keputusan finansial yang merugikan,” tegasnya.

    Santi juga mengingatkan bahaya Fear of Missing Out (FOMO) yang sering kali memicu kebiasaan buruk dalam pengelolaan keuangan. “FOMO sering mendorong keputusan impulsif yang justru merugikan, seperti membeli barang-barang viral tanpa pertimbangan matang. Kebiasaan ini bisa jadi bumerang karena menumbuhkan dorongan untuk selalu mengikuti arus,” ujarnya. Ia menasihati agar Gen-Z tidak mudah terpengaruh tren tanpa memahami risikonya dan lebih selektif dalam membuat keputusan keuangan.

    Lebih jauh, Santi mengajak generasi muda untuk memanfaatkan teknologi secara produktif dan positif. Menurutnya, era digital harus dimanfaatkan dengan literasi yang baik, bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai kreator yang dapat menghasilkan produk sendiri. “Mari manfaatkan era digital untuk menjadi lebih kreatif dan produktif,” tambahnya, menggarisbawahi bahwa literasi yang baik bisa membuka banyak peluang bagi Gen-Z untuk berkarya.

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya