Author: Gambar Ekonomi Perencanaan Keuangan

  • Ajari Anak Nabung di BRI Junio Rencana, Ada Hadiah Tiket KidZania Gratis!


    Jakarta

    Menanamkan literasi keuangan kepada anak harus dilakukan sejak dini. Harapannya agar anak dapat bijak mengelola keuangan di kemudian hari.

    Orang tua bisa mulai memupuk nilai dasar soal uang dengan langkah sederhana. Sesederhana mengajarkannya untuk menabung. Dengan membiasakan menabung, anak akan lebih menghargai uang. Selain itu, anak juga lebih memahami uang memiliki nilai, sehingga tidak boleh dihambur-hamburkan sembarangan.

    Namun berapa usia ideal untuk mengajarkan anak menabung ya? Mengutip laman Haibunda terkait hal ini para ahli memiliki pandangan berbeda-beda. Meski begitu, mereka sepakat bahwa semakin dini anak diajarkan menabung, maka akan semakin baik.


    Sejumlah pakar menyebut waktu terbaik mengajarkan anak menabung adalah ketika mereka berusia enam tahun, karena mereka mulai memahami konsep dasar keuangan. Selain itu memasuki usia 7 tahun, pola ‘financial habit’ anak juga sudah terbentuk. Sementara ahli lain berpendapat agar pembelajaran tentang menabung dan keuangan dimulai di usia lebih muda, yakni tiga atau lima tahun.

    Nabung di BRI Junio Rencana, Banyak Promonya!

    BRIFoto: Dok. BRI

    Bicara soal menabung nggak melulu menggunakan celengan. Di zaman yang modern seperti saat ini ada tabungan khusus untuk anak, seperti BRI Junio Rencana. Anak tak perlu khawatir uang di celengannya hilang, karena sudah tersimpan aman di bank.

    Selain mengenalkan konsep bank kepada anak sedari dini, buka tabungan BRI Junio Rencana juga menawarkan keuntungan lainnya, lho. Sebab saat ini BRI sedang menghadirkan promo khusus bagi nasabah.

    Kamu yang melakukan pembukaan rekening BRI Junio bisa mendapatkan reward dua tiket Kidzania gratis dan saldo BRImo Rp 500.000. Program promosi hanya berlaku untuk nasabah yang melakukan pembukaan rekening sesuai dengan tiering kepesertaan program. Selain itu setoran awal wajib di-hold dengan jangka waktu 12 bulan untuk semua paket program.

    BRIFoto: BRI

    Program hadiah menarik Tabungan BRI Junio Rencana berlangsung hingga 31 Desember 2024. Jadi tunggu apa lagi? Sebelum periodenya habis, segera kunjungi unit kerja BRI terdekat dan buka rekening Tabungan BRI Junio Rencana sekarang karena Tabungan BRI Pas Buatmu!

    Informasi selengkapnya cek di sini. Unduh juga aplikasi BRImo bikin transaksi keuangan makin praktis. #TabunganAnak #TabunganBRIPasBuatmu #TabunganBRI #BRImoMudahSerbaBisa

    (akd/ega)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • 5 Tips Mudah Mengatur Keuangan Selama Ramadan agar Nggak Boros

    Jakarta

    Mengatur keuangan selama bulan Ramadan sangat penting untuk dilakukan. Sebab, pengeluaran saat bulan puasa terkadang lebih boros dari bulan-bulan lainnya.

    Selama Ramadan, kebutuhan seseorang cenderung meningkat dari biasanya, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hal ini yang membuat pengeluaran lebih boros karena membeli barang yang diinginkan, bukan dibutuhkan.

    Apalagi jika sudah mendapatkan THR. Barang apapun yang terlihat bagus langsung dibeli. Tanpa sadar, uang THR langsung habis dalam sekejap. Sedih bukan?


    Maka dari itu, penting untuk mengatur keuangan selama Ramadan agar tidak boros pengeluaran. Bagaimana caranya? Simak tips mengatur keuangan selama Ramadan dalam artikel ini.

    Tips Mudah Mengatur Keuangan Selama Ramadan

    Ada sejumlah cara untuk memastikan pengelolaan keuangan tetap terjaga selama Ramadan. Simak tips mudah mengatur keuangan selama Ramadan yang dikutip dari catatan detikFinance:

    1. Memiliki Rencana Keuangan

    Tips yang pertama adalah memiliki perencanaan keuangan selama Ramadan. Langkah ini dapat mempermudah detikers untuk mengatur uang sesuai dengan pos-pos yang telah ditentukan.

    Selain itu, cara ini juga mempermudah dalam menyusun alokasi pengeluaran selama bulan Ramadan, mulai dari belanja bulanan, sahur, buka puasa, bersedekah, bayar zakat, membagikan THR, dan lain sebagainya.

    2. Catat Setiap Pengeluaran

    Penting untuk mencatat setiap pengeluaran, meskipun jumlah uangnya kecil. Cara ini dilakukan untuk mengetahui secara detail pengeluaran selama Ramadan.

    Apabila tidak dicatat, terkadang kita suka lupa karena terlalu asyik berbelanja. Alhasil, ketika mengecek saldo di rekening ternyata uangnya sudah habis.

    Langkah ini juga dapat mengerem hasrat untuk berbelanja yang tidak dibutuhkan. Sebab, jika jumlah pengeluaran sudah cukup besar maka saatnya untuk setop belanja dahulu.

    3. Disiplin Pengeluaran

    Agar tidak boros pengeluaran selama Ramadan, penting untuk menerapkan sikap disiplin dalam berbelanja. Misalnya, memastikan uang yang dikeluarkan sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan.

    Lalu, usahakan membeli barang yang harganya sesuai atau di bawah budget kamu. Jika membeli barang yang harganya jauh di bawah budget, sisa uangnya bisa dimanfaatkan untuk menabung atau dialokasikan guna membeli barang lainnya.

    Jangan tergiur dengan barang-barang yang harganya mahal dan melebihi budget. Jika berniat untuk membeli barang tersebut, sebaiknya ditahan dahulu hingga uangnya sudah terkumpul.

    4. Belanja Kebutuhan Secara Bertahap

    Saat bulan puasa, kebutuhan bahan pokok untuk rumah tangga justru lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Agar tidak boros pengeluaran, sebaiknya belanja kebutuhan secara bertahap.

    Mengutip laman Bank Muamalat, sebaiknya terapkan strategi belanja secara bertahap agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi. Misalnya, sebelum bulan puasa dapat membeli bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, kurma, dan bahan makanan lainnya.

    Ketika memasuki Ramadan, beli bahan-bahan makanan seperti sayur, daging, ikan, ayam, dan buah-buahan untuk memenuhi asupan saat sahur dan berbuka puasa.

    Ketika mendekati Lebaran, saatnya untuk berbelanja kebutuhan seperti pakaian muslim baru, membeli kue kering, atau memberikan hampers kepada saudara dan teman-teman.

    5. Cek Promo Menarik

    Saat Ramadan dan menjelang Lebaran, biasanya ada banyak promo-promo menarik yang ditawarkan, mulai dari diskon hingga cashback. Manfaatkan promo tersebut untuk membantu menjaga keuangan tetap sehat.

    Misalnya, kamu sudah menyiapkan dana sebesar Rp 1 juta untuk membeli sepatu baru. Jika ada toko yang menawarkan diskon hingga 30%, jangan ragu untuk segera membeli sepatu tersebut karena kamu dapat menghemat pengeluaran.

    (ilf/fds)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Tips Mengatur Gaji Bulanan Agar Bisa Nabung dan Liburan

    Jakarta

    Mengatur keuangan memang bukan hal yang mudah. Namun hal ini menjadi penting untuk dilakukan agar gaji bulanan tak habis begitu saja, apalagi jika upah yang diterima masih setara dengan UMP. Sehingga sisa dana yang ada dapat ditabung atau bisa untuk liburan.

    Perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, mengatakan langkah untuk bisa mengatur keuangan dengan aman bagi para pekerja dengan gaji ‘pas-pasan’ setara UMP adalah dengan membagi penghasilan yang dimiliki saat ini ke dalam beberapa pos-pos pengeluaran tertentu.

    “Komposisinya sebenarnya sederhana ya, dari dulu ya saving 10%, cicilan 30%, lalu
    40% untuk kebutuhan reguler atau rutin dan 20% untuk pribadi,” terangnya kepada detikcom, Jumat (30/5/2025) lalu.


    “Kalau kita nggak punya KPR karena nggak ngambil properti, 30% dari cicilan tadi sebenarnya bisa untuk saving. Jadi 10-40% itu bagus. Semakin besar semakin baik lah kalau kita bisa berinvestasi dari hampir sampai 40% dari penghasilan kita,” jelas Tejasari lagi.

    Senada, Perencana keuangan Eko Endarto menjelaskan cara mengatur keuangan bagi pekerja yang memiliki gaji setara UMP cukup untuk hidup layak wilayah tempatnya bekerja adalah dengan menggunakan skala prioritas pengeluaran.

    Sebab menurutnya yang terpenting bukan seberapa besar pemasukan yang diterima, tapi bagaimana cara menggunakan uang tersebut agar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

    “Anggaplah Rp 5 juta itu 100%, maka 30% itu dibayar untuk membayar cicilan dan utang. Terus 20% harus bisa digunakan untuk investasi tabungan, dan sisanya baru bisa untuk konsumsi. Nah itu prioritas yang harus bisa dilakukan,” kata Eko kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Di luar itu Eko juga mengingatkan masyarakat, khususnya para pekerja yang besaran gajinya masih setara UMP, untuk tidak mementingkan gaya hidup seperti sering-sering nongkrong di kafe, membeli barang-barang yang sedang trend atau booming, hingga berburu tiket konser meski tidak punya dana yang cukup.

    Sebab menurutnya bila yang bersangkutan selalu berkeinginan untuk mengikuti gaya hidup maka ia tidak akan bisa merasa cukup dengan gaji yang diterimanya. Karena itu Eko menekankan seharusnya gaya hiduplah yang menyesuaikan pendapatan dan bukan sebaliknya.

    “Kalau mengikuti gaya hidup nggak pernah cukup ya, apa lagi mengikuti gaya hidup orang lain dia harus menyamakan diri dengan orang lain pasti nggak akan pernah cukup. Sehingga bukan mengikuti gaya hidup, tapi gaya hidup dia harus mengikuti penghasilan yang diterima. Jadi bukan kebalikannya,” ujar Eko.

    “Berarti gaya hidup penghasilan Rp 15 juta akan berbeda dengan gaya hidup penghasilan yang Rp 5 juta. Misalkan kelas kafe-nya (tempat nongkrong), alokasi investasinya, apa yang digunakan untuk utang, itu pasti beda-beda,” pungkasnya.

    7 Tips Mengatur Gaji Bulanan

    Meski sudah mengatur pos-pos keuangan, tak sedikit orang mungkin memiliki kebiasaan yang kurang baik dengan cenderung menghamburkan uang di awal dan berhemat di tanggal-tanggal akhir. Jika terus menerus seperti itu, mungkin tidak akan ada kesempatan untuk kita bisa menabung.

    Untuk menghindari hal-hal tersebut, kita membutuhkan perencanaan dalam mengelola keuangan. Melansir situs resmi media Kementerian Keuangan, berikut tips mengatur keuangan agar tabungan terus bertambah.

    1. Mencatat pendapatan dan pengeluaran

    Sering kali kita kurang peduli dengan catatan penerimaan dan pengeluaran kita. Bahkan terkadang di akhir bulan kita bingung kemana uang kita dihabiskan.

    Dengan mencatat pendapatan dan pengeluaran, kita bisa lebih mudah melacak keuangan bulanan kita. Hal ini bisa dilakukan dengan pembukuan sederhana di catatan kecil. Saat ini juga sudah banyak aplikasi di gawai yang bisa mengakomodasi dan mempermudah dalam pencatatan keuangan.

    2. Perhatikan hal-hal kecil

    Jangan menganggap remeh hal-hal kecil. Kita biasanya menganggap remeh untuk pengeluaran-pengeluaran kecil yang dilakukan, seperti pengeluaran untuk kopi setiap pagi, atau camilan sore misalnya.

    Padahal, mungkin jika digabungkan dalam satu bulan jumlah pengeluaran dari hal kecil tersebut nilainya lebih besar daripada barang-barang mahal. Hal itu yang terkadang membuat keuangan kita tidak terkontrol. Jadi lebih berhati-hatilah dalam melakukan pengeluaran terutama untuk hal kecil sekalipun.

    3. Jangan belanja demi gengsi

    Saat ini barang branded sangat digemari. Biasanya kita membelinya demi memenuhi gengsi dan mengikuti gaya hidup. Akan lebih baik jika kita bisa menggunakannya untuk menambah tabungan dan membeli barang yang memang kita butuhkan.

    Sehingga jangan sekali-kali membeli karena sedang tren apalagi karena gengsi. Perlu disadari bahwa perkembangan tren dan gengsi tidak akan ada habisnya jika terus kita ikuti.

    4. Buat prioritas kebutuhan

    Buatlah daftar prioritas kebutuhan mulai dari hal yang sangat penting hingga yang bersifat kurang penting. Mulailah dari yang sangat mendesak hingga yang masih bisa ditunda untuk dipenuhi.

    Dengan membuat skala prioritas kita bisa lebih mudah dalam mengatur pengeluaran. Selain itu, kita juga bisa belajar untuk bisa lebih hemat dan teratur.

    5. Pasang target masa depan

    Salah satu cara yang efektif dalam mengatur keuangan adalah dengan membuat target di masa depan. Misalnya ketika umur 30 kamu menargetkan sudah memiliki kendaraan sendiri, ketika umur 35 sudah memiliki rumah sendiri, dan lain sebagainya.

    Dengan menetapkan sebuah target maka berarti kita juga siap untuk memulai dan melaksanakannya. Jangan sampai target menjadi wacana saja. Dengan memiliki target kita juga dituntut untuk bisa membuat perencanaan agar target tersebut bisa dicapai.

    6. Disiplin dalam menabung

    Banyak orang yang berfikir jika menabung adalah menyimpan uang yang tersisa pada akhir bulan. Pola pikir tersebut merupakan sebuah kesalahan.

    Jika ingin uang di tabunganmu cepat bertambah buatlah target menabung dan langsung sisihkan uangnya di awal bulan. Jika perlu, buatlah rekening tabunganmu sendiri yang berbeda dari rekening yang biasa kamu gunakan sehari-hari.

    7. Jangan takut untuk berinvestasi

    Berinvestasi memang memiliki banyak risiko. Namun, dari besarnya risiko itu juga terdapat potensi keuntungan yang juga besar jika dilakukan dengan tepat.

    Agar bisa melakukan investasi dengan baik maka kita juga harus belajar dan latihan agar mampu membuat strategi yang tepat dalam berinvestasi. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah mencari tahu jenis investasi yang cocok.

    Selanjutnya, carilah sebanyak mungkin informasi tentang investasi yang kamu pilih sesuai dengan keadaan keuanganmu. Yang terpenting adalah jangan sampai mengganggu pos-pos pengeluaran lainnya.

    (igo/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Simak! Tips Supaya Hidup Tenang Tanpa Dikejar Cicilan Utang


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat untuk tidak telat membayar pinjaman. Menurut OJK, mengajukan pinjaman sebenarnya tidak salah selama dilakukan secara bijak.

    Namun, pinjaman bisa menjadi masalah jika diajukan tanpa siap melakukan pembayaran. Oleh karena itu, OJK mengimbau masyarakat untuk bijak mengelola utang agar hidup lebih tenang.

    “Nggak ada yang salah sama pinjaman. Yang jadi masalah itu kalau nggak siap bayar. Yuk, bijak kelola utang biar hidup tenang,” tulis akun Instagram Layanan Konsumen dan Pengaduan OJK @kontak157, Minggu (29/6/2025).


    OJK meminta agar memperhatikan kembali tujuan pengajuan pinjaman. Terdapat tiga tujuan yang diklasifikasikan OJK terkait dengan tujuan pinjaman, yaitu yang pertama adalah untuk dana darurat.

    Kebutuhan ini contohnya adalah memperbaiki motor yang rusak atau mogok hingga membayar biaya rumah sakit. Kedua, pinjaman yang bersifat konsumtif seperti beli gadget baru atau nonton konser.

    Ketiga, pinjaman yang bersifat produktif seperti untuk modal usaha hingga membeli perlengkapan kerja. Yang terpenting dari ketiga itu, kata OJK, adalah menghitung cicilan dan mengenali kemampuan sebelum mengambil pinjaman.

    “Hidup bisa tetap nyaman tanpa dikejar tagihan. Hitung cicilan, kenali kemampuan, baru ambil pinjaman,” tutup OJK.

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Ikuti 4 Tips Ini Sebelum Kasih THR Lebaran ke Orang Tua, Anak, Keponakan


    Jakarta

    Memberi angpau atau THR Lebaran kepada anggota keluarga dan sanak saudara sudah menjadi salah satu tradisi di masyarakat Indonesia. Namun, tidak sedikit yang masih merasa bingung terkait seberapa besar uang yang perlu diberikan dalam angpau Lebaran itu.

    Jika tidak diperhitungkan dengan baik, keinginan untuk berbagi kebahagiaan ini malah jadi pengeluaran berlebih dan bikin kantong kering.

    Nah buat detikers yang masih bingung tentukan besaran angpau Lebaran ini, berikut beberapa tips yang bisa digunakan.


    1. Tentukan Penerima

    Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Asad, menyarankan kepada yang ingin membagikan THR Lebaran untuk membuat daftar penerima. Misalkan saja untuk orang tua, anak, saudara, hingga keponakan.

    “Pertama kita biasanya kasih orang tua, nah itu biasanya yang paling gede. Terus yang kedua siapa nih? misalnya kakak-adik sudah pada kerja ngapain dikasih? jadi kasih ke yang belum kerja, biasanya keponakan sih. Atau misalnya punya adik yang masih kecil belum kerja, mau dikasih boleh. Jadi berdasarkan level keluarga aja,” kata Teja kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Senada dengan Teja, perencana keuangan Andy Nugroho juga menyarankan untuk menentukan penerima angpau dan estimasi nilainya. Biasanya besaran THR Lebaran yang diberikan, berbeda-beda tergantung tingkatan dalam keluarga.

    “Nah urutannya paling banyak saya akan kasih ke siapa? ke orang tua pertama, terus kemudian habis itu level berikutnya yang lebih kecil jumlahnya tuh saya kasihkan ke misalnya anak atau ke anaknya saudara-saudara saya,” kata Andy.

    2. Sesuaikan Usia dan Kebiasaan di Keluarga

    Untuk nilai uang yang dibagikan, Teja tidak bisa menetapkan besaran pasti. Sebab menurutnya setiap individu atau keluarga memiliki perhitungannya masing-masing seperti tingkat ekonomi keluarga, usia, hingga wilayah tempat tinggal.

    “Misalnya kasih keponakan Rp 50 ribu pantes nggak? Tapi ternyata di kalau di kampung kasih Rp 5 ribu sudah cukup, kasih Rp 20 ribu sudah cukup, gimana tuh? Jadi tergantung situasi,” terang Teja.

    “Itu juga kadang ada yang serba salah tuh, ada yang masih TK, SD, SMP, SMA. Kalau TK dikasih Rp 1.000 dua puluh biji (Rp 20 ribu) senang tuh, kalau SMA dikasih Rp 1.000 dua puluh biji marah-marah nanti,” tambahnya.

    3. Sesuaikan Bujet

    Teja mengatakan pemberian angpau Lebaran bisa disesuaikan dari jumlah THR yang diterima. Dengan begitu perhitungan angpau dapat lebih mudah dan tidak begitu memberatkan pemberi.

    “Pertama adalah menyesuaikan dengan budget kita. Misalnya kita kasih budget ‘oke saya mau kasih THR Lebaran buat saudara-saudara misalnya Rp 1 juta deh semuanya. Karena saya dapat THR Rp 3 juta, masa semua dibagi-bagikan?’ Nanti habis dong,” jelas Teja.

    “Bisa juga dibujet maksimal berapa nih? 20% kah dari THR kah, 30% kah. Misalnya oke 20%, anggap saja Rp 1 juta, ya dibagi-bagi lah jumlah keponakan ada berapa, saudara ada berapa, siapa saja yang mau dikasih,” tambahnya lagi.

    4. Jangan Kejar Gengsi

    Terakhir yang tak kalah penting, menurut Andy saat menentukan besaran budget atau nilai dari masing-masing angpau Lebaran harus disesuaikan dengan kemampuan, bukan demi mengejar gengsi.

    Disarankan agar jumlah pemberian tidak berdasarkan gengsi. Hal ini justru bisa melebihi anggaran, bahkan malah harus berutang untuk menutup kekurangan tersebut.

    “Kadang misalnya kita pemudik, apalagi dari Jakarta kan ‘wah pasti tajir nih, orang kaya, sudah sukses’ nah kadang ditodong untuk ngasih angpau lebih besar,” kata Andy.

    “Sebenarnya pun kalau kita bersikukuh ‘ya saya memberinya segini’, masa iya yang dikasih terus nego nggak mau Rp 20 ribu dong, maunya Rp 50 ribu misalnya,” tambahnya lagi.

    (igo/hns)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Dear Anak Muda, Simak Tips Ini buat Putus Mata Rantai Generasi Sandwich


    Jakarta

    Generasi Sandwich menjadi persoalan yang dihadapi banyak keluarga saat ini. Kondisi ini biasa dialami oleh seseorang yang banyak menyisihkan penghasilannya untuk orang tua dan anak. Pada titik tertentu, kondisi ini akan membawa tantangan besar bagi kesiapan finansial seseorang.

    Namun begitu, ada banyak cara untuk memitigasi kondisi tersebut terjadi di kemudian hari. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui akun resmi Instagram yang dikelolanya @sikapiuangmu memberikan tips untuk menghindari himpitan generasi sandwich.

    Pertama, seseorang perlu memetakan prioritas keuangan. Hal itu penting dilakukan untuk memisahkan kebutuhan harian mendesak yang perlu dipenuhi dengan keinginan yang sifatnya sementara.


    “Buat kategori pengeluaran yang mendesak dan yang bisa ditunda, urutkan berdasarkan urgensi,” tulis unggahan @sikapiuangmu, Minggu (9/2/1015).

    Kedua, perlunya menyiapkan dana darurat dan dana pensiun. Hal ini perlu dilakukan dengan cara menyisihkan dana darurat dengan dana harian atau tabungan jangka panjang. Idealnya, 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

    Jika memiliki waktu bertahun-tahun sebelum pensiun, seseorang perlu menggunakan waktu ini untuk menabung atau berinvestasi untuk menghindari risiko generasi sandwich di masa mendatang.

    Ketiga, memiliki asuransi dan proteksi. Seseorang perlu menyiapkan diri untuk berasuransi yang ditujukan untuk biaya pengobatan yang tidak membebani keuangan keluarga. Begitu juga asuransi jiwa dan proteksi lainnya yang perlu segera disiapkan untuk mengurangi risiko finansial yang besar.

    Keempat, mulai melakukan komunikasi terbuka dengan keluarga. Langkah ini perlu dilakukan untuk memberi gambaran tentang kondisi finansial kepada orang tua dan pasangan. Dalam hal ini seseorang perlu membahas hal-hal prioritas dan apa saja pengeluaran yang dapat diubah maupun efisiensi.

    “Cari solusi bersama seperti pembagian tanggung jawab dengan anggota keluarga lainnya dalam memenuhi kebutuhan,” imbau OJK.

    Adapun risiko besar dari kondisi generasi sandwich berupa kerentanan finansial yang melempar seseorang pada posisi yang sulit menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Selain itu, kondisi terhimpit akan menekan emosional dan finansial yang memicu stres.

    Risiko besar lain dari himpitan ini juga akan terus berulang lantaran tidak adanya rencana finansial yang dibangun. Karenanya, seseorang perlu segera menyiapkan keuangan sedini mungkin untuk menghindari kondisi sandwich ini.

    “Mulai atur keuangan dari sekarang agar lebih siap menghadapi tantangan ini,” tulis unggahan tersebut.

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • 10 Cara Efektif Menambah Penghasilan bagi Kelas Menengah, Tertarik Coba?

    Jakarta

    Biaya hidup yang semakin meningkat membuat masyarakat kelas menengah ke bawah di Tanah Air kian menjerit. Sebagian dari mereka kini tidak lagi bisa mengandalkan pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi menabung untuk masa depan, sehingga penghasilan tambahan kian dicari.

    Ada sejumlah cara efektif menambah penghasilan, mulai dari bekerja freelance hingga berjualan secara online. Kalau sedang mencari pekerjaan sampingan untuk tambahan pendapatan, simak sederet caranya di bawah ini.

    Cara Menambah Penghasilan bagi Kelas Menengah

    Dilansir Nerdwallet dan Bankrate, berikut sederet cara menambah penghasilan bagi masyarakat kelas menengah:


    1. Membuat Konten YouTube

    Kalau memiliki hobi atau minat terhadap sesuatu, detikers dapat mengembangkannya untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Misalnya, hobi berjalan-jalan atau traveling, detikers dapat merekam perjalananmu itu. Kemudian menunjukkan lokasi atau aktivitas menariknya menggunakan ponsel atau kamera khusus.

    Usai mendapatkan rekaman, detikers dapat mengolahnya menjadi serangkaian konten melalui proses pengeditan dan lainnya.

    Setelah itu, kamu bisa mengunggahnya ke saluran YouTube yang telah didaftarkan AdSense. Nantinya, konten yang ditonton banyak orang akan menghasilkan uang.

    2. Membuka Kursus Online

    Bila punya keahlian tertentu, kamu bisa memperoleh penghasilan dari situ. Caranya dengan membuka kelas kursus secara online. Detikers bisa membuat materi pengajaran dalam bentuk video dan mendistribusikannya di situs seperti Udemy atau Coursera.

    Untuk menarik peserta, materi gratis dapat disediakan. Barulah bisa dikenakan biaya apabila mereka tertarik untuk mengetahui informasi lebih banyak.

    Kamu juga dapat membuka kelas online sendiri secara berbayar dengan mengadakan pertemuan. Pertemuan dapat dilakukan selama beberapa hari atau berkala setiap minggu.

    Peserta yang berhasil mengikutinya dapat diberikan sertifikat penyelesaian atau sertifikat keahlian berstandar.

    3. Gabung Program Afiliasi

    Lewat program afiliasi, detikers dapat memperoleh komisi dari setiap transaksi produk yang berhasil dilakukan. Cara ini dilakukan dengan menyertakan link ke penjualan produk.

    Kamu perlu terlebih dahulu mempromosikan produk pihak ketiga di akun media sosial dengan menyertakan tautan ke produk tersebut. Nantinya, orang akan mengklik link darimu jika tertarik membelinya. Dari situlah kamu bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

    4. Menyewakan Rumah atau Sebagian Ruangan

    Kalau punya rumah atau sebagian ruangan yang kosong, detikers bisa menyewakannya kepada orang lain menjadi kontrakan atau kos.

    Kamu dapat menyewakannya secara bulanan atau tahunan dengan bayaran nominal tertentu. Selain itu, bangunan kosong juga dapat disewakan menjadi tempat usaha.

    5. Berjualan Secara Online

    Kini banyak orang lebih tertarik dengan pembelian online melalui e-commerce. Nah, detikers dapat memanfaatkannya untuk berjualan online. Kamu bisa menjual barang-barang produksi sendiri seperti makanan, pakaian, atau barang-barang lain yang mudah didapat.

    Kamu bisa juga menjadi reseller yang memasok barang dari orang lain. Menjadi reseller umumnya bisa dimulai dengan budget yang minim tanpa harus mengeluarkan anggaran besar.

    6. Bekerja Freelance

    Kalau memiliki keterampilan menulis atau desain grafis, kamu dapat melakukan pekerjaan freelance untuk memperoleh penghasilan tambahan.

    Detikers bisa menemukan lowongan pekerjaan lepas ini di platform seperti Upwork atau Fiverr. Dengan bekerja freelance, kamu bahkan bisa mendapatkan proyek dari luar negeri yang upahnya dalam mata uang USD lho.

    7. Menyediakan Lahan Parkir

    Di zaman sekarang banyak orang memiliki mobil tetapi rumahnya tidak memiliki halaman cukup untuk memarkirkan kendaraannya. Jika detikers punya halaman kosong, maka kamu dapat mengubahnya menjadi lahan parkir sewaan.

    Dengan membayar nominal secara harian atau bulanan, pemilik kendaraan yang tidak punya area parkir di tempat tinggalnya, dapat memarkirkan mobilnya di sana.

    8. Membuka Bisnis Franchise

    Franchise kian digandrungi karena menawarkan pembukaan bisnis dengan praktis. Dengan sistem franchise, detikers dapat membuka usaha dengan nama, merek dagang, produk, prosedur, hingga bahan baku dari bisnis yang telah ada.

    Sistem franchise diminati karena kamu tidak perlu pusing merencanakan bisnis dari nol. Bisa dibilang hanya perlu paham cara mengelolanya dengan benar. Dari situ, detikers akan memperoleh cuan yang banyak.

    9. Beriklan di Mobil

    Kalau punya mobil dan senang berjalan-jalan, detikers bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan memasangkan iklan di kendaraanmu.

    Nantinya agen periklanan akan mengevaluasi kebiasaan berkendara dan jarak yang ditempuh. Jika sesuai persyaratan, maka mereka akan membungkus mobilmu dengan stiker iklan.

    10. Jual Foto Online

    Detikers yang hobi memotret bisa mencoba cara yang satu ini. Dengan menjual stok foto ke platform seperti Getty Images atau Shutterstock, kamu dapat memperoleh pemasukan tambahan.

    Stok foto bisa berupa pemandangan atau objek tertentu. Tentunya setiap foto yang dijual harus berkualitas tinggi untuk diterima platform-platform tersebut. Maka dari itu, kamu perlu mempersiapkannya sedemikian rupa.

    Nah, itu tadi sederet cara mudah menambah penghasilan bagi kelas menengah di Indonesia. Detikers tertarik dengan cara yang mana nih?

    (azn/inf)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Bisakah Gaji Rp 6 Juta Punya Tabungan Rp 300 Juta Seperti Kaluna?


    Jakarta

    Film Home Sweet Loan sedang populer di kalangan masyarakat lantaran menginspirasi pekerja kelas menengah untuk memiliki tabungan ratusan juta. Tokoh utama dalam film tersebut, Kaluna, memiliki tabungan Rp 330 juta dengan gaji sekitar Rp 6 juta.

    Kaluna diceritakan sebagai sosok pekerja menengah ibu kota yang memiliki tanggungan keluarga. Dengan gajinya tak jauh dari UMR Jakarta, Kaluna dihadapi banyak tantangan untuk bisa bertahan sekaligus membiayai keluarga. Meski berat, namun Kaluna bisa punya tabungan Rp 330 juta.

    Bisakah hal itu direalisasikan di dunia nyata?

    Menurut Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, pekerja bergaji Rp 6 juta dengan tabungan hingga ratusan juta seperti Kaluna bukan hal yang tak mungkin dilakukan. Terlebih jika pekerja tersebut masih tinggal di rumah orang tua.


    Andy menilai pengeluaran yang perlu ditekan adalah di bagian transportasi dan makan sehari-hari.

    “Dia kan tinggal di rumah sama orang tua, kalo hitungan saya itu kalo sebulan dia bisa menyisihkan Rp 4 juta, katakanlah Rp 500 ribu itu untuk kasih orang tua dan tinggal kita mengelola dengan baik sisanya itu,” kata Andy saat dihubungi detikcom, Jumat (11/10/2024).

    Pola hidup Frugal Living, kata Andy, jadi hal yang tepat dilakukan jika ingin menabung. Frugal living adalah konsep hidup sadar pengeluaran dan fokus pada prioritas keuangan. Sederhananya, frugal living adalah gaya hidup hemat. Andy pun memberikan hitung-hitungan kebutuhan yang bisa dialokasikan oleh pekerja dengan gaji Rp 6 juta.

    “Frugal Living itu kan si Kaluna nggak neko-neko dan sederhana saja ya, jadi perkiraan ku dari Rp 1.500.000 itu dipergunakan untuk toiletries Rp 100.000, skincare Rp 100.000, dan paket internet bulanan Rp 100.000, serta uang transportasi bulanan kalau 22 hari kerja aja itu berarti Rp 7.000 x 22. Sekitar Rp 154.000,” katanya.

    “Total semuanya kan Rp 450.000-an, nah sisanya ini dipergunakan untuk makan sehari hari jadi Rp 1.150.000 sisanya itu dibagi 30 hari sekitar Rp 30 ribuan per harinya,” sambung Andy

    Baginya, kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat terhindarkan, mengingat itu hal primer yang wajib mengeluarkan uang untuk bertahan hidup di Jakarta.

    Menurutnya, keuntungan pola hidup yang frugal tersebut dapat menekan pengeluaran. Yang perlu diperhatikan dalam menjalani hidup frugal living adalah konsistensi dan memperhatikan detail pengeluaran di luar dugaan.

    “Kaluna 7 tahun kerja punya tabungan Rp 300 jutaan dengan nabung Rp 4 juta per bulan itu masih realistis sih kalau menurut saya dan masih bisa diterapkan. Dengan catatan, gajinya tidak berubah sama sekali selama tujuh tahun itu, dan tidak sakit,” tutupnya

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya