Category: Makanan Sehat

  • 5 Makanan Sehat yang Konsumsinya Perlu Dibatasi Penderita Gangguan Ginjal


    Jakarta

    Penderita gangguan ginjal harus memperhatikan betul asupan makanannya. Batasi makanan sehat sekalipun yang tergolong tinggi sodium, kalium, dan fosfor.

    Ginjal adalah organ tubuh vital yang berperan dalam banyak hal, seperti menyaring darah, membuang limbah melalui urin, hingga menjaga keseimbangan cairan.

    Menjaga kesehatan ginjal bisa dengan memilih makanan bernutrisi tepat dan menghindari makanan yang membuat fungsinya melemah.


    Bagi penderita gangguan ginjal, konsumsi beberapa makanan yang terlihat sehat pun ternyata bisa berisiko. Jadi hal paling penting adalah berkonsultasi kepada dokter atau ahli gizi yang menangani.

    Dikutip dari Healthline (14/10/2025), inilah 5 makanan sehat yang konsumsinya tetap perlu dibatasi oleh penderita gangguan ginjal:

    1. Alpukat

    Alpukat banyak diandalkan sebagai sumber lemak sehat, serat, dan antioksidan. Namun, perlu diingat, alpukat tetaplah buah tinggi kalium yang perlu dihindari oleh penderita penyakit ginjal. Satu buah alpukat rata-rata mengandung 690 mg kalium.

    Mereka yang ginjalnya bermasalah tetap perlu membatasi asupan alpukat. Jika ingin menjadikannya menu sehat, bisa dengan menyantap 1/4 alpukat saja. Namun, balik lagi, kondisi ginjal setiap pasien bisa berbeda.

    2. Roti gandum

    Healthy food: wholegrain and seeds sliced bread shot on rustic wooden table. Predominant color is brown. High resolution 42Mp studio digital capture taken with Sony A7rII and Sony FE 90mm f2.8 macro G OSS lensFoto: Getty Images/fcafotodigital

    Sering dijadikan pilihan lebih sehat dan kaya serat dari pada roti putih, roti gandum ternyata bisa jadi tak sesehat itu untuk penderita gangguan ginjal. Ini karena kandungan fosfor dan kaliumnya. Semakin banyak biji-bijian utuh dalam roti, maka semakin tinggi kandungan fosfor dan kaliumnya.

    Misalnya, sepotong roti gandum utuh biasa, atau porsi 36 gram (g), mengandung sekitar 76 mg fosfor dan 90 mg kalium. Sebagai perbandingan, sepotong roti putih biasa (28 g) mengandung sekitar 32 mg fosfor dan kalium. Lalu, sebagian besar produk roti juga mengandung natrium dalam jumlah relatif tinggi sehingga perlu diwaspadai pasien penyakit ginjal.

    3. Pisang

    Pisang dikenal karena kandungan kaliumnya yang tinggi. 1 buah pisang ukuran sedang mengandung 422 mg kalium. Jika penderita gangguan ginjal sudah disarankan membatasi asupan kalium, maka konsumsi pisang pun perlu hati-hati.

    Sayangnya, banyak buah tropis lain juga memiliki kandungan kalium yang tinggi. Namun, nanas mengandung kalium yang jauh lebih sedikit dibandingkan buah tropis lainnya dan bisa menjadi alternatif yang lebih cocok.

    4. Produk susu sapi

    Selain Boyolali, Ini 5 Daerah Penghasil Susu Sapi di IndonesiaFoto: iStock

    Susu sapi dan produk olahannya kaya akan berbagai vitamin dan nutrisi, tapi juga menjadi sumber fosfor dan kalium. Kedua mineral ini perlu dibatasi konsumsinya oleh pengidap penyakit ginjal.

    Misalnya, 1 cangkir (240 mL) susu sapi murni mengandung 205 mg fosfor dan 322 mg kalium. Mengonsumsi terlalu banyak susu, bersamaan dengan makanan kaya fosfor lainnya, dapat merusak kesehatan tulang pada penderita penyakit ginjal.

    Produk susu sapi juga tinggi protein. Setiap cangkir (240 mL) susu murni mengandung hampir 8 g protein. Membatasi asupan susu mungkin penting untuk menghindari penumpukan limbah protein dalam darah.

    5. Tomat

    Tomat punya nutrisi unggulan meliputilikopen yang merupakan antioksidan kuat, vitamin C untuk kekebalan tubuh, kalium untuk kesehatan jantung, serta vitamin K1 dan vitamin B9 (folat) yang penting untuk pembekuan darah dan pertumbuhan sel.

    Namun, di sisi lain, tomat adalah buah tinggi kalium yang mungkin tidak sesuai dengan pedoman diet sehat untuk ginjal. Hanya 1 cangkir (245 g) saus tomat dapat mengandung 728 mg kalium. Sebagai alternatif, saus tomat bisa diganti saus paprika merah panggang yang tak kalah lezat, tapi mengandung lebih sedikit kalium per porsi.

    (adr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Hati-hati! 5 Makanan Sehat Ini Justru Bisa Bikin Sakit


    Jakarta

    Makanan sehat sering dianggap aman bagi tubuh dan diet harian. Namun beberapa pilihan populer ternyata bisa menyabotase kesehatan jika dikonsumsi sembarangan.

    Kini banyak orang mulai sadar akan pentingnya pola makan sehat untuk menjaga tubuh tetap fit. Makanan sehat populer sering jadi pilihan utama.

    Namun banyak yang belum tahu beberapa justru berisiko bagi tubuh. Produk yang tampak menyehatkan ternyata bisa mengandung gula, natrium, dan bahan pengawet berlebihan.


    Konsumsi berlebihan tanpa memahami kandungan nutrisinya dan komponen di dalamnya dapat mengganggu kesehatan jangka panjang.

    Hal tersebut diungkap oleh Maria Kupreeva, seorang ahli gizi di The Longevity Lab, dan Pooja Gidwani, pakar kesehatan di Los Angeles.

    Dikutip dari Pedirayudas (15/10) berikut 5 makanan sehat yang bisa berisiko:

    1. Daging Imitasi Nabati

    tidak pakai nama produk daging untuk sajian nabatiIlustrasi daging imitasi berbahan nabati. Foto: iStock

    Daging imitasi nabati sering dianggap alternatif sehat bagi yang vegetarian. Namun banyak produk ini mengandung natrium tinggi dan bahan pengisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

    Meskipun cocok bagi yang ingin menghindari daging hewani, kandungan pengawet dan garam dalam produk ini bisa berbahaya. Konsumsi berlebihan dapat memperburuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

    Sebagai alternatif, pilihlah sumber protein alami seperti kacang-kacangan, tempe, atau tahu. Makanan ini lebih kaya serat dan rendah natrium, mendukung gaya hidup sehat.

    2. Jus Buah

    Jus buah sering dianggap minuman sehat karena mengandung vitamin. Namun proses pemerasan menghilangkan serat yang penting untuk pencernaan dan kontrol gula darah.

    Tanpa serat, jus buah dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat. Hal ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan masalah metabolik lainnya.

    Sebagai gantinya, bisa konsumsi buah utuh untuk mendapatkan manfaat seratnya. Buah utuh juga memberikan rasa kenyang lebih lama dan lebih rendah kalori.

    3. Oatmeal Instan

    Ilustrasi oatmealIlustrasi oatmeal Foto: Getty Images/fcafotodigital

    Oatmeal instan kerap jadi pilihan sarapan sehat dan praktis. Namun banyak produk ini mengandung gula tambahan yang dapat meningkatkan risiko diabetes dan obesitas.

    Meskipun mengandung serat, gula tambahan dalam oatmeal instan dapat menyebabkan lonjakan gula darah. Konsumsi berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan metabolik.

    Untuk alternatif, pilih oatmeal utuh dan tambahkan buah segar atau kacang-kacangan. Cara ini lebih sehat dan memberikan rasa kenyang lebih lama.

    4. Acai Bowl

    Acai Bowl populer sebagai makanan sehat dan Instagramable. Namun di balik penyajiannya yang instagramable itu, mengandung sirup buah dan granola manis.

    Hal tersebut dapat meningkatkan kandungan kalori dan gula. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan penambahan berat badan dan masalah metabolik.

    Penting untuk memeriksa bahan dan memilih topping rendah gula. Agar lebih sehat kamu bisa buat acai bowl sendiri dengan bahan alami dan tanpa tambahan gula.

    5. Bubuk dan Bar Protein

    muesli bar / protein barIlustrasi protein bar Foto: Istock

    Banyak orang yang mengandalkan bubuk dan bar protein sebagai solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan protein. Namun banyak produk ini mengandung gula tambahan.

    Selain itu, ada kandungan bahan kimia yang dapat mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Kandungan protein dalam produk ini mungkin tidak seimbang dengan nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh.

    Jika dikonsumsi berlebih, maka dapat membebani ginjal dan meningkatkan risiko penyakit. Alternatif sehatnya, kamu bisa konsumsi sumber protein alami seperti telur, ikan, atau kacang-kacangan.

    (raf/dfl)



    Sumber : food.detik.com

  • Paprika Merah vs Paprika Hijau, Ahli Gizi Ungkap Beda Nutrisinya Buat Diet


    Jakarta

    Paprika adalah sayuran serba guna yang banyak disukai. Jenis populernya ada paprika merah dan hijau. Lantas, bagaimana perbedaan nutrisi keduanya?

    Paprika enak dimakan mentah atau dimasak menjadi beragam hidangan. Kehadiran paprika dalam masakan punya fungsi menambah warna cerah, memberi rasa manis, sekaligus tekstur renyah pada masakan.

    Paprika merah, yang lebih matang, memiliki rasa manis. Jenis ini cocok untuk saus, sup, dan hidangan panggang. Sementara paprika hijau yang cenderung lebih segar dan sedikit pahit sering digunakan untuk salad, tumisan, dan hidangan dengan rasa yang lebih tajam.


    Bagaimana dengan nutrisi keduanya? Ahli gizi Jamie Baham dan Jordan Hill mengungkapnya kepada Prevention (18/10/2025).

    Nutrisi paprika merah

    Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengungkap per 100 gram paprika merah, atau sekitar 1/2 cup paprika yang sudah diiris, mengandung sekitar:

    31 kalori
    1 g protein
    0 g lemak
    7 g karbohidrat
    1 g serat

    Nutrisi paprika hijau

    Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Regge Generation masuk dalam program inkubator bisnis BRI. Gapoktan ini mendapat bantuan greenhouse untuk pengembangan paprika.Foto: Agung Pambudhy

    Menurut USDA, paprika hijau dalam jumlah yang sama mengandung sekitar:

    23 kalori
    1 g protein
    0 g lemak
    5 g karbohidrat
    1 g serat

    Manfaat paprika merah

    Ternyata Tidak Hanya Berbeda Warna, Paprika Juga Punya Jenis KelaminFoto: iStock

    “Paprika merah merupakan sumber vitamin C yang sangat baik. Banyak orang tidak tahu paprika merah mengandung lebih banyak vitamin C dibandingkan buah citrus seperti jeruk dan lemon,” kata Baham.

    Konsumsi ½ cangkir paprika merah mengasup tubuh dengan 142 miligram (mg) vitamin C, yang hampir dua kali lipat asupan harian yang direkomendasikan untuk wanita dewasa dan sekitar 1,5 kali lipat asupan yang direkomendasikan untuk pria dewasa.

    “Paprika merah juga mengandung serat dan antioksidan seperti beta-karoten dan likopen, yang mendukung fungsi kekebalan tubuh, kulit, dan mata,” tambah Jordan Hill.

    Paprika merah aman dikonsumsi mayoritas orang, kecuali mereka yang sensitif terhadap nightshade, kelompok sayuran yang meliputi tomat, kentang, terong, dan paprika, menurut Cleveland Clinic. Gejala yang muncul biasanya membuat pencernaan tidak nyaman.

    Manfaat paprika hijau

    “Paprika hijau juga kaya akan vitamin C dan serat,” kata Hill. Paprika hijau mengandung sedikit lebih sedikit vitamin C daripada paprika merah, tetapi masih memenuhi lebih dari 100% dari kebutuhan harian.

    “Paprika juga mengandung antioksidan yang disebut klorofil, yang membantu mengurangi peradangan dalam tubuh,” tambah Hill. Soal penggunaannya, Laham mengatakan, “Paprika hijau belum matang sehingga rasanya tidak semanis paprika kuning, oranye, dan merah. Paling sempurna dipadukan dalam hidangan gurih untuk menambahkan rasa ringan yang umum di banyak budaya di seluruh dunia.”

    Seperti halnya paprika merah, tidak ada kerugian mengonsumsi paprika hijau kecuali kamu memiliki alergi, sensitivitas, atau intoleransi yang menyebabkan efek samping tidak menyenangkan setelah memakannya.

    Paprika merah vs paprika hijau, mana yang lebih bagus buat diet?

    Laham menjelaskan, “Paprika merah dan hijau sama-sama bisa menjadi tambahan yang lezat untuk diet seimbang. Rendah kalori dan kaya antioksidan, paprika merupakan camilan renyah yang lezat dengan hummus atau tambahan lezat untuk salad atau tumisan jika Anda sedang berusaha menurunkan berat badan.”

    Hill menambahkan, dua jenis paprika ini sama-sama pilihan bergizi. Jika dibandingkan, paprika merah cenderung mengandung lebih banyak vitamin dan antioksidan karena sudah matang sepenuhnya.

    Namun, pada akhirnya, mengonsumsi lebih banyak sayuran dengan beragam warna adalah langkah yang bagus. Salah satunya dengan mengasup paprika merah dan hijau.

    (adr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Kopi vs Matcha, Mana yang Lebih Sehat dan Bikin Fokus Sepanjang Hari?


    Jakarta

    Tren gaya hidup sehat membuat banyak orang mulai memikirkan ulang pilihan minumannya. Dua yang paling sering dibandingkan adalah kopi dan matcha.

    Keduanya sama-sama jadi favorit untuk menambah energi di pagi hari, tapi punya efek berbeda bagi tubuh. Kopi dikenal sebagai penyemangat instan yang bikin fokus meningkat, sementara matcha lebih lembut dengan sensasi tenang dan stabil.


    Di media sosial, perdebatan lebih baik kopi atau matcha, bahkan makin ramai. Buktinya, pencarian topik ini naik hingga 50% di Google.

    Dari kedai kopi modern sampai kafe matcha kekinian, keduanya kini bersaing jadi pilihan utama penikmat kafein.

    Lalu, mana sebenarnya yang lebih menyehatkan? Dilansir dark VOGUE PH (19/10/2025), berikut penjelasannya.

    1. Kopi dan Manfaatnya

    Two mugs of coffee are on the table.Kopi Foto: Getty Images/Berk Ucak

    Persaingan antara kopi dan matcha kembali jadi perbincangan hangat di media sosial. Pencarian ‘coffee vs matcha’ di Google naik 50% dalam setahun terakhir. Banyak orang mulai membandingkan keduanya, terutama soal energi dan manfaat kesehatan.

    Menurut pelatih kebugaran asal Inggris Luke Worthington, dosis kafein yang tepat sekitar 5 miligram per kilogram berat badan bisa meningkatkan fokus dan performa tubuh.

    Sementara ahli gizi Lucy Miller menyebut kopi kaya antioksidan yang bermanfaat menurunkan risiko Alzheimer, diabetes tipe 2, dan penyakit hati. Namun efeknya tak sama bagi semua orang.

    Terlalu banyak minum kopi bisa memicu kecemasan, gangguan tidur, dan sakit kepala. Karena itu, banyak ahli gizi yang menyarankan agar kopi diminum secukupnya. Serta hindari minum kopi di atas jam 3 sore agar tidur malam tetap nyenyak.

    2. Matcha Jadi Saingan Terbaru Kopi

    Japanese Iced Matcha Latte, green tea with milk,Japanese Iced Matcha Latte Foto: Getty Images/Tyas Indayanti

    Matcha kini makin populer di kalangan pencinta minuman sehat. Apalagi munculnya tren minuman kekinian yang membuat popularitas minuman berwarna hijau cerah ini semakin tinggi peminatnya.

    Meski sama-sama mengandung kafein, kadar kafein pada matcha lebih rendah dibanding kopi, hanya sekitar 70 miligram per cangkir. Sementara kisaran kadar kafein pada secangkir kopi (237 ml) berada di angka 95-250 miligram.

    Matcha dibuat dari daun teh hijau utuh yang ditanam di tempat teduh, sehingga kandungan antioksidannya jauh lebih tinggi.

    “Matcha bisa mengandung hingga 100 kali lebih banyak katekin dibanding teh hijau biasa,” kata Lucy Miller. Antioksidan ini membantu tubuh melawan radikal bebas dan menjaga fokus.

    Uniknya matcha juga mengandung L-theanine, asam amino yang membantu menenangkan pikiran. Efeknya tetap memberi energi tanpa membuat jantung berdebar seperti kopi. Tak heran, banyak orang memilih matcha sebagai alternatif minuman pagi yang lebih lembut di tubuh.

    3. Pilih Kopi atau Matcha?

    5 Budaya Unik Minum Kopi Dunia, Ritual Ethiopia hingga Kopi VietnamKopi. Foto: The Indian Express

    Sebenarnya tak harus memilih salah satu. Keduanya punya manfaat berbeda tergantung kebutuhan dan kondisi tubuh seriap orang. Luke Worthington mengatakan ia minum secangkir espresso di pagi hari untuk menambah energi cepat di tubuhnya, lalu ia minum matcha di pertengahan hari agar tetap fokus.

    “Kopi memberi dorongan kuat, tapi matcha membuat saya tenang dan tetap produktif,” ujarnya.

    Lucy Miller sendiri lebih memilih matcha karena tak menyukai rasa kopi, meski tetap menyarankan kopi dalam jumlah wajar bagi yang cocok. Ia juga mengingatkan agar memilih kopi tanpa gula tambahan atau susu nabati tinggi pemanis. Jika ingin pasokan energi cepat, maka minum kopi bisa jadi pilihan. Namun untuk fokus tanpa efek gelisah, matcha lebih disarankan dikonsumsi.

    4. Matcha dan Kopi Sama-sama Unggul

    Minum Matcha Jangan Asal! Ini 5 Tips agar Khasiatnya MaksimalMinum Matcha Khasiatnya Maksimal Foto: Getty Images/Food Photographer

    Baik kopi maupun matcha punya keunggulan masing-masing. Keduanya mengandung kafein dan antioksidan yang bisa membantu tubuh tetap bugar dan fokus.

    Perbedaannya ada pada efek setelah diminum. Kopi memberi energi cepat, cocok untuk diminum di pagi hari atau sebelum berolahraga. Sementara matcha memberikan energi lebih stabil dengan efek menenangkan, sehingga lebih cocok diminum siang hari.

    Bagi yang mudah cemas atau susah tidur, matcha bisa jadi pilihan lebih aman. Namun bagi penggemar aroma dan cita rasa kuat, kopi tetap tak tergantikan. Kunci konsumsi sehat ada pada cara minum dan porsinya.

    Nikmati secukupnya, jangan berlebihan, dan perhatikan waktu minum kopi atau matcha agar tidak mengganggu waktu tidur. Dengan begitu, manfaat kedua minuman ini bakal tetap terasa optimal.

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Stop Gula Darah Naik Turun! Coba 5 Minuman Antiinflamasi dari Ahli Gizi


    Jakarta

    Inflamasi dan kadar gula darah tinggi saling terkait. Untuk menjaga kestabilan gula darah, coba hidrasi tubuh dengan 5 minuman enak yang bersifat antiinflamasi ini.

    Inflamasi atau peradangan berlebihan pada tubuh perlu dihindari karena meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes tipe 2.

    Terlebih lagi, bagi penderita diabetes, peradangan yang berkelanjutan juga dapat mempersulit pengelolaan diabetes. Sebab peradangan mempersulit sel-sel tubuh untuk menggunakan insulin.


    Kondisi peradangan bisa diatasi dengan mengasup makanan dan minuman tepat yang bersifat antiinflamasi. Dikutip dari Eating Well (20/10/2025), ahli gizi Deborah Murphy mengungkap minuman yang ramah untuk kadar gula darah sekaligus mencegah peradangan.

    Berikut 5 daftarnya:

    1. Teh hijau

    Para ahli gizi sepakat kalau teh hijau adalah minuman yang luar biasa dalam banyak hal, termasuk menjaga kadar gula darah tetap stabil dan melindungi dari peradangan. Teh hijau mengandung katekin seperti EGCG yang dikaitkan dengan kontrol gula darah yang lebih baik.

    Selain itu, teh hijau mengandung senyawa yang memberikan manfaat anti-inflamasi dengan cara yang tak terduga. “Polifenol dalam teh hijau memberi makan bakteri usus yang bermanfaat, yang berperan dalam pengaturan gula darah dan pengendalian peradangan,” kata ahli Marcie Vaske.

    2. Susu kunyit

    Ahli gizi Stacey Woodson menyarankan konsumsi golden milk alias susu emas yang dibuat dari susu plus paduan rempah kunyit. “Dalam hal meredakan peradangan dan menjaga gula darah tetap stabil, minuman ini adalah yang terbaik,” ujarnya.

    Minuman hangat dan menenangkan ini mirip chai latte. Campuran kunyit yang kaya akan kurkumin menjadi penyumbang utama manfaat sehatnya. Sebab kurkumin ampuh dalam melawan peradangan.

    Menurut tinjauan sistematis dan meta-analisis yang terdiri dari 16 studi, kurkumin juga dapat menurunkan kadar gula darah puasa dan A1C secara signifikan. Namun, pastikan mengonsumsi susu kunyit dengan pemanis sehat dan secukupnya. Jangan menambahkan banyak madu atau sirup maple.

    3. Kopi

    Ilustrasi kopi hitamFoto: Getty Images/iStockphoto/PeopleImages

    Minum secangkir kopi tidak hanya meningkatkan energi dan fikus, tapi juga menawarkan berbagai manfaat sehat lain. Salah satunya bantu mencegah diabetes.

    Bahkan, penelitian menunjukkan peminum kopi seringkali memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2. Lantas, apa yang membuat kopi memiliki kekuatan melawan diabetes? Kopi rupanya kaya antioksidan yang disebut asam klorogenat, yang dapat mengurangi peradangan dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin. Pastikan minum kopi yang sehat yaitu kopi hitam atau kopi susu tanpa tambahan banyak gula atau pemanis lain.

    4. Susu sapi

    Setelah menyaring hasil dari 28 studi, para peneliti menemukan, konsumsi susu ternyata tidak berdampak pada peradangan. Dalam beberapa kasus, susu justru dapat melindungi dari peradangan.

    Minuman ini juga merupakan pilihan yang baik untuk diabetes. Susu sapi tidak hanya menyediakan daftar panjang nutrisi yang jarang dikonsumsi, seperti kalsium, kalium, dan vitamin D, tetapi juga merupakan salah satu dari sedikit minuman yang mengandung protein dalam jumlah tinggi. Dalam 1 cangkir susu sapi tanpa lemak mengandung 8 gram protein berkualitas tinggi.

    Susu sapi memang mengandung gula, tapi tak usah khawatir karena protein dalam susu dapat membantu memperlambat penyerapan gula. Asosiasi Diabetes Amerika bahkan mencantumkan susu sapi sebagai salah satu makanan unggulan untuk diabetes.

    5. Jus sayuran murni 100%

    Jus buah dan sayuran buat dietFoto: Getty Images/iStockphoto

    Sayuran adalah bahan makanan sehat penyeimbang gula darah. Tak hanya dimakan, sayuran juga dapat diminum. Kamu dapat mengolahnya jadi jus sayuran 100%. Jenis jus ini mengandung banyak nutrisi anti-inflamasi.

    Bahkan, satu porsi jus sayuran seringkali mengandung nutrisi yang setara dengan beberapa porsi sayuran. Hanya saja, pastikan selalu memeriksa kandungan karbohidrat, gula, dan natrium pada jenis jus sayuran yang dikonsumsi. Selalu juga perhatikan takaran saji yang disarankan.

    (adr/adr)



    Sumber : food.detik.com