Tag: Abdullah bin Umar RA

  • 50 Kata-Kata Mutiara Para Sahabat Nabi Muhammad SAW



    Jakarta

    Para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah generasi terbaik umat Islam. Mereka bukan hanya saksi hidup perjuangan Rasulullah, tetapi juga penerus risalah yang menebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

    Dalam kehidupan mereka yang penuh kesederhanaan dan keikhlasan, tersimpan banyak nasihat dan kata-kata bijak yang menjadi pelajaran berharga bagi umat hingga kini.

    Kata-kata mutiara para sahabat tidak hanya mencerminkan keteguhan iman dan akhlak mulia, tetapi juga menunjukkan bagaimana mereka memahami hakikat hidup, sabar dalam ujian, dan tulus dalam beramal.


    Melalui ungkapan-ungkapan penuh hikmah ini, kita dapat belajar tentang ketawadhuan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Islam.

    Kata-kata Mutiara Sahabat Rasulullah SAW

    1. “Ilmu adalah cahaya bagi hati dan petunjuk bagi jalan.” – Abu Bakar RA
    2. “Kesabaran menghadapi ujian adalah kunci kebahagiaan.” – Umar bin Khattab RA
    3. “Jadilah orang yang menebar manfaat bagi sesama.” – Ali bin Abi Thalib RA
    4. “Amal kebaikan kecil lebih baik daripada menunda amal besar.” – Utsman bin Affan RA
    5. “Hargai waktu, karena ia tidak akan kembali.” – Abu Hurairah RA
    6. “Jangan sombong, karena semua berasal dari Allah.” – Bilal bin Rabah RA
    7. “Kejujuran adalah fondasi persaudaraan sejati.” – Salman Al-Farisi RA
    8. “Belajarlah sepanjang hayat, ilmu tak mengenal usia.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    9. “Ridha Allah lebih berharga daripada pujian manusia.” – Sa’ad bin Abi Waqqas RA
    10. “Hati yang lembut membawa kedamaian dalam hidup.” – Abu Darda RA
    11. “Tegaslah dalam kebenaran, walau sendirian.” – Abdullah bin Mas’ud RA
    12. “Bersyukurlah atas nikmat kecil maupun besar.” – Aisyah RA
    13. “Berdoalah tanpa henti, karena doa senjata orang mukmin.” – Abu Bakrah RA
    14. “Jangan berhenti berbuat baik meski sedikit.” – Ibn Abbas RA
    15. “Keimanan sejati tampak dari akhlak yang mulia.” – Umar bin Khattab RA
    16. “Jauhi kemarahan, karena ia merusak hati.” – Abu Hurairah RA
    17. “Persaudaraan adalah harta paling berharga.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    18. “Senyum kepada sesama adalah sedekah.” – Abdullah bin Umar RA
    19. “Hidup sederhana, hati tenang, jiwa bahagia.” – Salman Al-Farisi RA
    20. “Jangan menunda kebaikan, lakukan sekarang juga.” – Ali bin Abi Thalib RA
    21. “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah.” – Ibn Mas’ud RA
    22. “Bersikap lemah lembut menenangkan jiwa.” – Abu Darda RA
    23. “Berani menegakkan kebenaran, meski berbeda pendapat.” – Umar bin Khattab RA
    24. “Doa tulus membuka pintu rahmat Allah.” – Aisyah RA
    25. “Jangan iri, karena setiap orang punya rezeki berbeda.” – Utsman bin Affan RA
    26. “Hati yang bersih menenangkan diri dan orang lain.” – Abu Bakr RA
    27. “Sabar menghadapi musibah adalah bagian dari iman.” – Abdullah bin Mas’ud RA
    28. “Kebaikan kecil jika konsisten lebih mulia dari besar tapi jarang.” – Ali bin Abi Thalib RA
    29. “Ridha Allah adalah kebahagiaan sejati.” – Bilal bin Rabah RA
    30. “Ilmu bermanfaat bagi diri sendiri dan umat.” – Salman Al-Farisi RA
    31. “Bersyukur membuat hidup ringan dan tentram.” – Abu Darda RA
    32. “Jangan sombong dengan harta, karena ia sementara.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    33. “Memaafkan orang lain menenangkan hati.” – Aisyah RA
    34. “Setiap langkah menuju kebaikan dicatat sebagai pahala.” – Abu Hurairah RA
    35. “Jangan takut berbuat benar meski sulit.” – Umar bin Khattab RA
    36. “Keikhlasan adalah kunci diterimanya amal.” – Ibn Abbas RA
    37. “Hargai teman yang menasihati dengan tulus.” – Abu Bakrah RA
    38. “Menjaga lisan dari ucapan buruk adalah tanda iman.” – Abdullah bin Umar RA
    39. “Sedekah menyejukkan hati dan memperkuat persaudaraan.” – Ali bin Abi Thalib RA
    40. “Kesederhanaan adalah jalan menuju ketenangan.” – Abu Darda RA
    41. “Ilmu tanpa berbagi akan sia-sia.” – Salman Al-Farisi RA
    42. “Jangan menunda taubat, lakukan segera.” – Ibn Mas’ud RA
    43. “Bersikap rendah hati mendekatkan diri kepada Allah.” – Umar bin Khattab RA
    44. “Hidup untuk memberi manfaat, bukan hanya menerima.” – Abu Bakr RA
    45. “Jangan menilai seseorang dari harta atau kedudukannya.” – Ali bin Abi Thalib RA
    46. “Senyum dan salam mempererat ukhuwah Islamiyah.” – Bilal bin Rabah RA
    47. “Bersyukur dalam segala keadaan adalah tanda orang beriman.” – Abu Hurairah RA
    48. “Belajar dan beramal adalah jalan hidup seorang Muslim.” – Ibn Abbas RA
    49. “Kesabaran menghadapi ujian membentuk karakter kuat.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    50. “Jadilah cahaya bagi orang lain melalui kebaikanmu.” – Aisyah RA

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Zikir Hari Jumat Penuh Keutamaan yang Dianjurkan Rasulullah



    Jakarta

    Zikir hari Jumat merupakan salah satu amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW. Amalan ini bisa dikerjakan mulai sebelum salat Subuh hingga menjelang salat Maghrib.

    Anjuran berzikir termaktub dalam Al-Qur’an surah Al Ahzab ayat 41-42. Allah SWT berfirman,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ ٤١ وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ٤٢


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

    Dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Kitab Ibnu Sunni yang menyebut anjuran berzikir pada hari Jumat. Dari Anas RA, dari Rasulullah SAW beliau bersabda,

    “Siapa saja pada paginya hari Jumat, sebelum salat Subuh yang membaca:

    أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

    Astaghfirullaahal adzim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul wayyuumu wa atuubu ilaih

    ‘Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Yang Maha menghidupkan, dan aku bertobat kepadanya.’

    Dibaca tiga kali, maka dosa-dosanya diampuni meskipun sebanyak buih lautan.”

    Selain itu, Imam an-Nawawi mengatakan, disunnahkan memperbanyak berdoa pada seluruh waktu hari Jumat, mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari dengan harapan memperoleh waktu mustajab untuk berdoa.

    Selain menganjurkan untuk zikir hari Jumat, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas pada hari Jumat. Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa setelah salat Jumat membaca ‘Qul huwallahu Ahad (Al Ikhlas), Qul a’udzu birabbil-falaq (Al Falaq), dan Qul a’udzu birabbin-nas (An Nas)’ sebanyak tujuh kali, maka Allah akan melindunginya dari keburukan hingga Jumat mendatang.”

    Para ulama Syafi’iyah mengatakan hukum membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas sebanyak tujuh kali setelah Jumatan adalah sunnah.

    Waktu Mustajab di Hari Jumat

    Terdapat satu waktu mustajab untuk berdoa pada hari Jumat atau yang disebut sa’atul ijabah. Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu ini.

    Menurut suatu pendapat sebagaimana dikatakan Imam an-Nawawi dalam Kitab Induk Doa-nya, waktu tersebut terletak sesudah fajar terbit dan sebelum matahari terbit. Ada juga yang berpendapat bahwa waktu tersebut terletak sesudah matahari tergelincir dari tengah.

    Sementara itu, menurut suatu pendapat yang shahih, waktu tersebut terletak di antara imam duduk di atas mimbar hingga ia bersalam dari salatnya, sebagaimana dikatakan Imam an-Nawawi dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin.

    Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW membicarakan hari Jumat lalu beliau bersabda,

    “Pada hari itu ada waktu yang apabila seorang hamba muslim menepati waktu itu dalam keadaan salat lalu ia mohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkan permohonannya.” Dan beliau memberi isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sebentarnya waktu tersebut. (HR Muttafaq ‘Alaih)

    Hal ini turut diriwayatkan Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari RA, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar RA bertanya,

    “Apakah kau pernah mendengar ayahmu menceritakan waktu yang istimewa pada hari Jumat dari Rasulullah SAW?” Abu Burdah menjawab, “Ya, aku pernah mendengar ayah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Waktu tersebut ada di antara duduknya imam hingga selesai salat.’” (HR Muslim dalam Shahih-nya)

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Perjalanan Jauh Naik Mobil agar Selamat sampai Tujuan



    Jakarta

    Lebaran 2023 akan tiba kurang dari tiga pekan lagi. Bagi umat Islam yang hendak mudik, bisa membaca doa perjalanan jauh agar selamat sampai tujuan.

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar menukil sebuah riwayat dari Abdullah bin Sarjis RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah SWT dari beratnya perjalanan hingga buruknya pandangan ketika menempuh perjalanan jauh.

    “Jika Rasulullah SAW melakukan perjalanan beliau meminta perlindungan dari beratnya perjalanan, buruknya tempat kembali dan kebengkokan setelah lurus, doanya orang-orang yang dizalimi, serta buruknya pandangan ada pandangan dan harta.” (HR Muslim dalam Shahih-nya)


    Dalil berdoa ketika melakukan perjalanan jauh juga bersandar pada firman Allah SWT,

    وَالَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الْفُلْكِ وَالْاَنْعَامِ مَا تَرْكَبُوْنَۙ لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ اِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُوْلُوْا سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ

    Artinya: “(Dialah) yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan dan menjadikan kapal laut untukmu serta hewan ternak untuk kamu tunggangi. Agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, “Maha Suci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS Az-Zukhruf: 12-13)

    Doa Perjalanan Jauh Arab, Latin, dan Artinya

    Ketika perjalanan jauh naik kendaraan Rasulullah SAW membaca takbir sebanyak tiga kali, kemudian membaca doa berikut:

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Subhaanalladzii sakhkhara lana hadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun

    Artinya: “Mahasuci Engkau, sungguh aku benar-benar telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”

    Kemudian membaca:

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ في سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوَ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَأَطُو عَنَا يُعْدَهُ

    Arab latin: Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal birra wattak-waa, wa minal amali maa tardlaa, allaahuma hawwin ‘alainaa safaranaa haazaa wa athwi ‘anna bu’dahu

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami, perjalanan yang dalam kebaikan dan ketakwaan, dan termasuk amal yang engkau ridhai, ya Allah permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah atas kami yang jauh.”

    Lalu membaca:

    اللَّهُمَّ أَنتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ وَالخَلِيفَةُ في أأَهْلِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ وَكَابَةِ المَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allaahumma anta shaahibu fis safari wal khalifatu fii ahlii, allaahumma innii a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabbatil mandhari wa suual munqalabi fil maali wal ahli

    Artinya: “Ya Allah, Engkau menyertai dan pengganti keluarga dalam perjalanan, ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan ini dan buruknya pemandangan serta jeleknya tempat kembali pada keluarga dan hamba yang aku tinggalkan.”

    Doa tersebut diriwayatkan dalam Kitab Sahih Muslim pada Kitab al-Manasik, dari Abdullah bin Umar RA.

    Dalam riwayat lain yang termuat dalam Kitab Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dengan sanad yang sahih, dari Ali bin Rabi’ah, sahabat Ali bin Abi Thalib membaca basmalah ketika naik kendaraan. Lalu, ketika telah duduk, dia membaca:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Alhamdulillaahilladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang menundukkan semua ini kepada kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    Kemudian dia membaca takbir sebanyak tiga kali, dan membaca:

    سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ

    Arab latin: Subhaanala innii dhalamtu nafsii fagfirlii fa innahuu laa yaghfirudh dhunuuba illaa anta

    Artinya: “Mahasuci Engkau, sungguh aku benar-benar telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan mengampuni dosa-dosaku kecuali engkau.”

    Doa Perjalanan Jauh Mustajab

    Dalam Kitab Mausu’ah Al-Huquq Al-Islamiyah karya Syaikh Sa’ad Yusuf Mahmud Abu Aziz dikatakan, doa yang dipanjatkan ketika melakukan perjalanan jauh termasuk doa mustajab.

    Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa salah satu yang menyebabkan terkabulnya doa seseorang ialah melakukan perjalanan jauh.

    Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, “Tiga doa yang pasti akan dikabulkan: doa orang teraniaya, doa orang yang selalu bepergian, dan orang tua kepada anaknya.” (HR Abu Dawud dan lainnya)

    Dijelaskan lebih lanjut, perjalanan panjang membuat semakin dekat kepada dikabulkannya doa karena merupakan tempat tercapainya kesedihan jiwa dan keterasingan dari Tanah Air, serta menanggung kesulitan. Kesedihan inilah yang merupakan salah satu penyebab dikabulkannya doa.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com