Tag: ai

  • Banyak Orang Bikin Notes Padahal Nggak Dibaca Lagi, Kamu Juga?


    Jakarta

    Aplikasi Notes mestinya membantu orang mengingat hal-hal penting. Namun banyak yang tidak membacanya lagi. Inilah sebab-sebabnya dan solusinya.

    Aneka aplikasi Notes dengan berbagai nama sejenis baik di smartphone atau laptop, sebenarnya dimaksudkan agar penggunanya secara praktis bisa membuat catatan kecil yang multifungsi. Misalnya mencatat poin penting dari sebuah rapat, atau membuat daftar pekerjaan yang mesti dilakukan.

    Namun, sering kali akhirnya Notes itu diabaikan. Singkat kata, catatan yang sudah kita bikin di Notes akhirnya tidak dibaca lagi. Kalau Anda merasa demikian, Anda tidak sendirian.


    Dilansir dari Medium, Selasa (24/6/2025) membuat Notes yang efektif adalah penting untuk pemahaman yang lebih baik. Notes yang tertata baik menjadi sumber berharga, meningkatkan pemahaman atas konsep yang rumit dan mendukung memori jangka panjang.

    Tapi, ada beberapa faktor yang menyebabkan Notes yang sudah kita bikin tidak dibaca lagi. Inilah beberapa sebabnya:

    1. Distraksi

    Interupsi eksternal dan pikiran yang kemana-mana bisa mengganggu fokus dan membuat kita susah mendapatkan key point dan informasi yang ingin kita pahami. Ada banyak urusan lain yang berpotensi membuat kita melupakan Notes yang sudah kita siapkan.

    2. Tata kelola yang kurang

    Tanpa pendekatan yang terstruktur, Notes bisa dengan cepat menjadi kumpulan tulisan yang kacau. Hal ini membuatnya susah dibaca ulang atau diperoleh informasi dan pemahamannya pada saat kemudian.

    3. Cara yang inefisien

    Cara yang salah dalam membuat Notes menyulitkan pemahaman yang mendalam terhadap sebuah subjek yang rumit. Cara membuat Notes yang salah berdampak pada hasil akhirnya.

    Itulah 3 hal yang membuat aplikasi Notes menjadi kurang bermanfaat karena kebiasaan salah yang kita lakukan. Notes yang tidak terorganisir membuat gap pengetahuan, mengurangi pemikiran kritis dan mengurangi kemampuan menghubungkan ide-ide secara efektif.

    Hasilnya, pemahaman jadi asal-asalan. Kemampuan kita jadi terbatas untuk menerapkan apa yang kita pelajari untuk keperluan praktis atau dari suasana akademik.

    Solusi untuk Notes yang efektif

    Solusinya? Anda bisa gunakan beberapa aplikasi AI untuk membuat catatan penting.

    Pada smartphone seperti Samsung, sudah ada Galaxy AI yang bisa membantu kita membuat ringkasan atau catatan penting. Saat meeting online juga sudah ada Otter yang membantu kita membuat point penting rapat.

    Untuk membaca file PDF, Adobe Acrobat Reader pun sudah memiliki AI Assistant untuk membantu kita membuatkan catatan penting. Catatan inilah yang bisa Anda pindahkan ke Notes atau menjadi cara baru untuk membuat catatan dari pada menulis sendiri di aplikasi Notes secara konvensional.

    Anda bisa belajar pula bagaimana AI membuat ringkasan informasi secara efektif. Hal ini yang nanti bisa ditiru ketika Anda ingin menuliskan langsung informasi penting di aplikasi Notes. Sehingga, tidak ada lagi Notes yang diabaikan di masa depan. Selamat mencoba!

    (fay/afr)



    Sumber : inet.detik.com

  • 5 AI Buat Bantu Skripsi dan Penelitian, Tak Hanya Chat GPT dan Gemini!



    Jakarta

    Kehadiran artificial intelligence (AI) menjadi suatu hal yang tidak terbantahkan di dunia dengan arus informasi tinggi seperti saat ini. Kini, AI digunakan di berbagai bidang termasuk dunia pendidikan dan penelitian.

    Bahkan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai membekali AI sebagai mata pelajaran pilihan di jenjang SD, SMP, dan SMA. Chat GPT dan Gemini AI menjadi tools (alat) AI yang paling banyak digunakan.

    Namun, untuk bidang penelitian atau bahkan penulisan skripsi dan tugas akhir lainnya, banyak AI khusus yang bisa detikers gunakan. Dikutip dari arsip detikEdu dan University of Northampton Inggris, Selasa (21/10/2025) berikut 5 diantaranya.


    5 AI Buat Bantu Skripsi dan Penelitian

    1. Mind the Graph

    AI untuk membantu riset penelitian dalam hal grafis adalah Mind the Graph. Tools ini bisa untuk membuat poster, gambar, graphical abstract, hingga infografis bagi dokter dan researcher.

    Meski demikian, mahasiswa atau peneliti perlu mengecek lagi bahan riset yang telah diulas atau diberikan oleh AI.

    2. TurboScribe AI

    TurboScribe AI bisa diakses secara gratis melalui tautan https://turboscribe.ai/. Tools ini bisa membantu peneliti dalam proses transkrip audio maupun video menjadi teks.

    Pendaftaran cukup dilakukan menggunakan akun email dan pengguna akan mendapatkan tiga kali proses transkrip secara gratis. Pastikan sumber suara terdengar agar transkripsi semakin akurat.

    3. Scholarcy

    Scholarcy adalah AI yang bisa membantu peneliti dalam membuat highlight hingga literature review dengan akurat dan tidak bias.

    4. Statista Research AI

    Statista mengkompilasi statistik, laporan, dan informasi lain, baik dari studi milik peneliti itu sendiri maupun konten dari penelitian sejenis. Fitur AI Riset di Statista menawarkan metode alternatif untuk mencari dan mengakses informasi.

    AI ini akan memberikan ringkasan hasil yang sangat informatif nagi pengguna. Pengguna juga dapat mencari dan mengambil hasil penelitian dari berbagai bahasa.

    Dalam beberapa bahasa, hasil yang diperoleh mungkin terbatas, karena bahasa Inggris adalah bahasa utama yang digunakan dalam AI ini. Tools ini juga memberikan rekomenfasi kueri lanjutan atau konten terkurasi untuk membantu pengguna memperdalam riset dan menjelajahi topik terkait.

    University of Northampton menyebutkan pengguna harus menggunakan prompt yang spesifik untuk menampilkan hasil yang relevan. Pertanyaan yang kurang tepat dapat menghasilkan hasil yang kurang bermanfaat.

    Statista mengumpulkan data dari berbagai sumber, sehingga terdapat risiko menemukan data yang saling bertentangan. Pengguna harus mengevaluasi sumber secara kritis untuk memilih sumber yang paling sesuai dengan kueri mereka.

    5. Writefull

    Dalam hal penulisan, Writefull berguna sebagai AI yang mengoreksi naskah, panduan penulisan akademis, dan pemeriksaan bahasa. Menurut situs resminya, Writefull bekerja melalui big data dalam memberikan saran terkait pemilihan bahasa.

    Itulah 5 AI yang bisa dimanfaatkan dalam penulisan skripsi dan penelitian. Semoga bermanfaat detikers!

    (det/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • AI Tak Bisa Dijadikan Rujukan Hukum Agama



    Jakarta

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak bisa menjadi rujukan penjelasan hukum agama. Menurut Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis, AI tidak memiliki kesadaran seperti manusia sedangkan unsur kesadaran harus ada ketika mengeluarkan fatwa.

    “Seorang mufti harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang yurisprudensi Islam. Meski kecerdasan buatan adalah karunia dan berkah yang besar dari Allah SWT,” ujarnya dikutip dari situs resmi MUI pada Rabu (20/8/2025).


    Pria yang akrab disapa Kiai Cholil itu menjelaskan bahwa fatwa merupakan pekerjaan yang butuh pengetahuan mendalam serta keakraban dengan realitas. Oleh karenanya, AI tidak dapat menjadi mujtahid atau mufti.

    Kiai Cholil menekankan bahwa AI harus digunakan dengan bijaksana dan dapat menjadi alat efektif membantu para peneliti serta sarjana melakukan analisis yurisprudensi yang lebih akurat dan komprehensif. AI bisa memberi jawaban atas keputusan masalah yang dihadapi dengan memberi saran untuk pengambilan keputusan.

    “Kecerdasan buatan dapat memberikan jawaban atas hukum masalah yang dihadapi dan memberikan saran untuk pengambilan keputusan. Namun tidak memiliki kesadaran manusia dan unsur kesadaran harus ada dalam mengeluarkan fatwa,” ujarnya menguraikan.

    Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu juga menyebut bahwa AI bersifat anonim. Hal ini tidak memenuhi syarat untuk menjadi mufti yang pendapatnya dapat diikuti.

    Mesin, kata Kiai Cholil, tidak dapat dipercayakan dengan beban dan tanggung jawab. Sebab, keandalan mesin dalam mengeluarkan fatwa harus bergantung pada orang yang cakap dan berpengetahuan untuk memikul tanggung jawab tersebut yang mana harus ada unsur manusia.

    Mufti harus memiliki pengetahuan mendalam terkait yurisprudensi Islam dan prosedur-prosedur dalam mengeluarkan keputusan hukum selain memahami realitas situasi yang dihadapi si penanya.

    “Fatwa adalah hasil ijtihad ilmiah yang mendalam berdasarkan Al-Qur’an, sunnah, konsensus dan analogi, dan bahwa mufti haruslah seorang ulama yang memenuhi syarat yang dicirikan oleh kualitas pengetahuan, kejujuran, dan keadilan dan memahami teks-teks syariah dan realitas kontemporer,” ungkap Kiai Cholil menguraikan.

    Lembaga-lembaga fatwa di dunia Islam termasuk MUI mengikuti metodologi yang tepat dalam mengambil keputusan, termasuk mendamaikan antara mazhab-mazhab atau menimbang pendapat sesuai dengan aturan yurisprudensi komparatif serta ijtihad kolektif dalam masalah-masalah yang muncul.

    “Keberadaaan mufti dan lembaga fatwa merupakan kebutuhan yang tak terhindarkan agar setiap fatwa dan keputusan yurisprudensi memiliki pihak yang bertanggung jawab di hadapan manusia dan Tuhan. Islam harus melakukan pendekatan terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan,” kata Kiai Cholil.

    Ia melanjutkan, hal tersebut dalam kerangka kerja etis yang berakar pada prinsip-prinsip Islam demi memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kebaikan dan menghormati nilai-nilai moral serta Hak Asasi Manusia (HAM).

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com