Tag: akibat

  • 6 Efek Samping Lama Tidak Bercinta, Termasuk Bisa Picu Stres

    Jakarta

    Aktivitas seksual merupakan salah satu aspek penting dalam hubungan suami istri. Namun terkadang, pasutri bisa berhenti berhubungan intim karena beberapa alasan.

    Rutinitas yang terlalu sibuk, gangguan kesehatan, hingga masalah dalam hubungan menjadi beberapa faktor yang membuat pasutri menunda berhubungan intim. Lantas, apa yang terjadi jika pasutri terlalu lama berhenti berhubungan seksual? Apakah ada efeknya bagi kesehatan?

    Dikutip dari berbagai sumber, berikut efek samping yang bisa terjadi akibat terlalu lama berhenti bercinta.


    1. Ansietas dan Stres Meningkat

    Dikutip dari WebMD, pasutri yang jarang berhubungan intim dapat merasa kurang terhubung satu sama lain. Hal ini membuat mereka jarang membicarakan tentang perasaan masing-masing atau mendapat dukungan dalam mengelola stres sehari-hari.

    Jarang berhubungan seks juga membuat tubuh melepaskan lebih sedikit oksitosin dan endorfin. Kedua hormon ini berperan dalam mengelola dampak stres dan menunjang kualitas tidur.

    Dikutip dari laman The Pennsylvania State University, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal The Gerontologist menganalisa hubungan antara fungsi ereksi, kepuasaan seksual, dan kemampuan kognitif pada pria. Penelitian tersebut menemukan pria yang tidak puas secara seksual atau memiliki masalah fungsi ereksi lebih rentan mengalami penurunan daya ingat di usia tua.

    “Ilmuwan telah menemukan bahwa jika Anda memiliki kepuasan yang rendah secara umum, Anda berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan seperti demensia, penyakit Alzheimer, penyakit kardiovaskular, dan masalah terkait stres lainnya yang dapat menyebabkan penurunan kognitif,” ujar profesor dari
    The Pennsylvania State University sekaligus salah satu penulis studi, Martin Sliwinski.

    3. Hubungan Jadi Tidak Harmonis

    Seks yang teratur dapat membuat pasutri merasa lebih dekat secara emosional dengan satu sama lain, sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih baik. Pasutri yang lebih sering berhubungan seks cenderung lebih bahagia dibandingkan pasutri yang jarang berhubungan seks.

    Namun bukan berarti pasutri harus berhubungan intim setiap saat. Sejumlah penelitian menunjukkan pasangan yang bahagia setidaknya melakukan aktivitas seksual seminggu sekali, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan lama menjalin hubungan.

    Pasutri yang jarang berhubungan seks bisa lebih rentan penyakit tertentu, seperti flu dan pilek. Ini karena seks secara teratur dapat meningkatkan kadar antibodi imunoglobluin A yang melindungi tubuh dari infeksi virus dan bakteri.

    5. Atrofi Vagina

    Bagi wanita, khususnya yang sudah mengalami menopause, seks yang teratur sangatlah penting untuk menjaga kesehatan vagina. Dikutip dari Cleveland Clinic, wanita yang jarang melakukan seks penetrasi juga lebih berisiko mengalami atrofi vagina. Atrofi vagina adalah kondisi lapisan vagina menipis atau mengering, sehingga menyebabkan sensasi gatal, terbakar, dan nyeri saat berhubungan seks. Atrofi vagina juga dapat membuatvagina lebih mudah robek, terluka, atau berdarah saat berhubungan intim.

    6. Kanker Prostat

    Hubungan antara seks dan kanker prostat masih pro dan kontra. Namun, beberapa penelitian menunjukkan pria yang jarang ejakulasi memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat.

    Sebuah penelitian besar yang dilakukan pada 30.000 pria menemukan mereka yang mengalami lebih dari 21 kali ejakulasi dalam sebulan memiliki risiko kanker prostat yang lebih rendah dibanding mereka yang hanya ejakulasi empat hingga tujuh kali sebulan.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Seberapa Sering Pria Harus Keluarkan Sperma dalam Seminggu?


    Jakarta

    Ejakulasi sering menjadi topik yang dibicarakan seputar kesehatan seksual pria. Salah satu yang kerap menjadi pertanyaan apakah ada kaitan frekuensi ejakulasi dengan kesehatan pria.

    Adakah batasan dalam seminggu, seberapa sering pria harus mengeluarkan sperma? Penelitian menunjukkan ejakulasi tidak hanya memberikan kepuasan seksual, tetapi juga memiliki dampak positif bagi kesehatan.

    Dikutip dari laman Men’s Health, pria umumnya ejakulasi 21 kali dalam sebulan. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal European Urology, lebih dari 31.000 pria terlibat dalam penelitian yang meminta mereka melaporkan frekuensi ejakulasi mereka.


    Hasilnya, pria yang ejakulasi lebih sering memiliki risiko lebih rendah terkena kanker prostat, bahkan hingga sepertiga lebih kecil.

    Penulis penelitian ini menyatakan bahwa mereka mengevaluasi hubungan antara frekuensi ejakulasi di usia dewasa dan khusus pada tren kanker prostat di Amerika Serikat. Meskipun tidak ada pedoman medis yang spesifik mengenai berapa kali pria harus berejakulasi, studi ini menekankan bahwa aktivitas seksual yang lebih sering, termasuk ejakulasi, dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan.

    Secara umum, ejakulasi yang sering dianggap aman, dan tidak ada jumlah pasti yang direkomendasikan.

    Dikutip dari laman Medical NewsToday, menunda ejakulasi malah berpotensi menyebabkan ketidaknyamanan akibat penumpukan air mani di prostat dan vesikula seminalis.

    Berikut sederet manfaat dari ejakulasi:

    • Menurunkan tingkat stres melalui pengaruh pada hormon kortisol.
    • Meredakan rasa sakit melalui pelepasan hormon tertentu.
    • Meningkatkan kesehatan jantung.
    • Menurunkan tekanan darah melalui aktivitas fisik.
    • Memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan produksi antibodi.
    • Meningkatkan kualitas tidur dengan melepaskan hormon prolaktin dan memperkuat hubungan intim dengan pasangan.

    Secara keseluruhan, meskipun tidak ada rekomendasi medis yang jelas tentang seberapa sering seorang pria harus berejakulasi, menjaga frekuensi yang sehat dapat memberikan berbagai manfaat penting. Ini tidak hanya membantu mengurangi risiko kanker prostat, tetapi juga berdampak positif pada kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

    (naf/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy