Tag: alergi

  • 5 Cara Ini Diyakini Bisa Bikin Ukuran Mr P Membesar Secara Alami, Apa Saja?


    Jakarta

    Sejumlah pria mencoba cara ini-itu untuk memperbesar ukuran alat vitalnya. Pasalnya banyak orang beranggapan, kepuasan bercinta dipengaruhi oleh ukuran Mr P. Lantas, adakah cara alami yang bisa dicoba untuk memperbesar ukuran Mr P?

    Pada dasarnya, aktivitas seks yang berkualitas tak melulu dipengaruhi oleh ukuran. Tentu saja, faktor stamina dan kerekatan hubungan juga mempengaruhi kualitas momen bercinta. Namun memang, kerap kali beredar anggapan di masyarakat bahwa seseorang harus memiliki penis berukuran besar agar bisa membuat pasangannya puas maksimal.

    Tapi tenang dulu. Rupanya ada beberapa cara alami yang diyakini ampuh memperbesar ukuran Mr P. Apa saja?


    1. Rajin Makan Sayur dan Buah

    Jelas, asupan sayur dan buah memiliki banyak dampak baik buat tubuh. Rupanya, antioksidan yang dikandung sayuran dan buah juga diyakini bisa bikin pria memiliki ukuran penis lebih besar. Pasalnya, antioksidan bekerja melawan komponen perusak sel dalam tubuh.

    2. Sering-sering Konsumsi Bawang Putih

    Sering mendengar bahwa bawang putih punya sederet manfaat baik bagi tubuh seperti melawan kanker? Tak hanya itu, sering mengkonsumsi bawang putih juga diyakini bisa membantu memperbesar ukuran Mr P.

    Tapi ingat, bawang putih ini hanya boleh digunakan dengan cara dimakan. Pasalnya jika dioleskan langsung ke alat vital, justru ada risiko timbul rasa terbakar dan reaksi alergi.

    3. Konsumsi Ginkgo Biloba

    Ginkgo biloba adalah tanaman herbal dari china dan dipercaya dapat memperbesar ukuran penis. Mengkonsumsi ginkgo diyakini dapat meningkatkan aliran darah menuju penis sehingga sirkulasi di area penis menjadi terjaga.

    4. Jalani Diet

    Tak cuma untuk menurunkan berat badan, diet juga bisa membantu pria memperbesar ukuran penisnya. Pria dapat mengkonsumsi makanan yang sehat, berserat, dan kaya akan kalium. Pasalnya, kalium dapat menjaga hormon tetap seimbang yang nantinya berpengaruh pada ukuran penis. Contoh makanan yang dapat dikonsumsi seperti kacang-kacangan, kuning telur, dan alpukat.

    5. Kompres dengan Air Hangat

    Cara terakhir, yakni kompres dengan air hangat. Pasalnya, cara satu ini diyakini bisa memperlancar sirkulasi darah ke penis. Suhu yang hangat akan meningkatkan aliran darah sehingga penis akan terlihat lebih besar. Namun hati-hati, cara ini tidak dapat dilakukan setiap hari karena dapat mengganggu produksi sperma.

    (vyp/vyp)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Apakah Pria Menelan Cairan Vagina Bahaya? Begini Penjelasannya


    Jakarta

    Sama halnya dengan pria, wanita juga mengeluarkan cairan yang disebut dengan air mani. Wanita mengeluarkan air mani ketika terangsang atau mencapai puncak kenikmatan saat melakukan hubungan seks. Sebagian pasangan mungkin ada yang tak sengaja menelan cairan vagina saat melakukan seks oral.

    Air mani yang dikeluarkan oleh wanita diproduksi oleh kelenjar skene yang berada di saluran kencing. Komponen yang ada dalam air mani, seperti vitamin B 12, enzim, natrium, lemak, kolesterol, kalium, asam amino bebas, asam sitrat, fruktosa, prostaglandin, fosfatidilkolin dan seng. Sedangkan sperma pria diproduksi oleh testis untuk membuahi sel telur wanita, sehingga wanita dapat hamil.

    Berbahayakah jika tertelan?

    Dikutip dari Man Matters, komponen penyusun air mani vagina umumnya aman masuk ke dalam tubuh jika tertelan. Pasalnya, air mani bisa dicerna dengan cara yang sama seperti makanan.


    Air mani wanita (female cum) adalah cairan probiotik yang kaya akan air, elektrolit, dan protein. Cairan ini juga mengandung bakteri lactobacillus yang terbukti baik untuk kesehatan usus.

    Namun perlu diingat! Wanita tersebut harus dalam kondisi yang sehat dan tidak mengidap Penyakit Menular Seksual (PMS) ataupun Infeksi Saluran Kemih (ISK). Sebab, penyakit tersebut bisa menular lewat cairan kelamin. Selain itu, reaksi alergi terhadap air mani ataupun sperma bisa muncul kapan saja tanpa disadari.

    Adapun beberapa tips yang dapat dilihat sebelum menelan cairan vagina.

    1. Selalu melakukan pemeriksaan infeksi menular seksual. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai perawatan rutin medis. Biasanya berupa tes darah atau sampel urine.
    2. Memastikan bahwa cairan vagina berwarna putih, tidak kental dan menggumpal, karena hal ini merupakan infeksi jamur. Jika bibir vagina tampak kemerahan dan bengkak juga merupakan tanda terkena infeksi jamur.
    3. Tidak menelan air mani terlalu sering, karena air mani wanita bersifat asam terlebih saat sedang fase ovolusai. Hal ini dapat mengakibatkan perut menjadi tidak enak.
    4. Memeriksa apakah terdapat kutil di area mulut dan vagina wanita, karena itu tanda-tanda IMS.

    (suc/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Garuk-garuk Miss V Melulu Sehabis Bercinta? Ini 6 Kemungkinan Penyebabnya


    Jakarta

    Vagina adalah organ yang tergolong sangat sensitif. Banyak hal yang bisa menyebabkan iritasi pada vagina, vagina kering, hingga infeksi bakteri ataupun jamur.

    Hal tersebut dapat menyebabkan rasa gatal, rasa sakit, hingga rasa terbakar pada vagina. Kondisi-kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan menganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam berhubungan seksual.

    Dikutip dari Insider, terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan vagina gatal setelah berhubungan seksual, berikut adalah 6 di antaranya.


    1. Vagina kering

    Vagina seharusnya dalam kondisi yang lembap dan ketika berhubungan seksual, vagina dapat menghasilkan pelumas alaminya sendiri. Namun, beberapa dapat membuat seseorang tidak menghasilkan pelumas alami yang cukup untuk melembapkan vagina, seperti misalnya kondisi menopause.

    Kondisi ini terjadi karena adanya penurunan kadar hormon estrogen menyebabkan berkurangnya juga kelembapan pada dinding vagina. Selain saat menopause, perubahan hormonal pada masa kehamilan dan menyusui juga dapat menyebabkan perubahan pada kelembapan vagina.

    Vagina yang kering dapat menimbulkan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual hingga menimbulkan gejala seperti iritasi, rasa gatal, dan rasa sakit setelah berhubungan seksual.

    2. Alergi

    Alergi terhadap bahan lateks yang digunakan pada kondom bukanlah suatu kondisi yang langka. Kondisi alergi ini dapat menimbulkan reaksi, seperti rasa gatal, kemerahan, hingga ruam pada vagina.

    3. Dermatitis vulva atau vulvitis

    Kondisi ini terjadi ketika kulit pada vulva atau bibir vagina mengalami iritasi. Biasanya banyak disebabkan oleh faktor eksternal, seperti penggunaan pelumas yang berparfum atau berwarna, yang dapat menimbulkan permasalahan pada vulva.

    Selain itu, hal ini juga dapat disebabkan oleh penggunaan sabun, pembalut, hingga celana dalam yang berbahan sintetis.

    Kondisi ini dapat diatasi dengan menghindari penggunaan produk-produk berparfum, mandi air hangat, mengeringkan bagian vulva dengan sempurna setelah mandi, dan menggunakan celana dalam yang tidak terlalu ketat atau berbahan katun.

    4. Infeksi jamur

    Infeksi jamur dapat terjadi akibat pertumbuhan jamur Candida yang berlebihan pada vagina. Infeksi ini dapat menyebabkan rasa gatal, iritasi, hingga rasa terbakar saat atau setelah berhubungan seksual.

    Gejala lain yang menandakan adanya infeksi jamur adalah keputihan yang tidak biasa, seperti keputihan yang kental, putih, atau bertekstur bagai keju, pembengkakan atau kemerahan pada bagian bibir vagina, dan rasa sakit atau tidak nyaman pada vagina.

    5. Vaginosis bakterialias

    Keseimbangan pH pada vagina dapat terganggu setelah berhubungan seksual akibat pengaruh dari sperma pria. Kondisi keseimbangan pH yang terganggu dapat memicu pertumbuhan bakteri dan meningkatkan risiko terkena vaginosis bakterialis.

    6. Infeksi menular seksual (IMS)

    Seringkali, penyakit menular seksual atau infeksi menular seksual tak menunjukkan gejala yang signifikan. Namun, salah satu gejala yang paling umum adalah rasa gatal pada organ intim. Berhubungan seksual ketika mengalami infeksi menular seksual dapat membuat pembengkakan dan rasa gatal semakin parah.

    Gejala yang perlu diperhatikan adalah keputihan yang tidak biasa, rasa sakit hingga pendarahan ketika berhubungan seksual, rasa sakit ketika buang air kecil, dan rasa sakit pada perut bagian bawah.

    Apapun faktor penyebabnya, ketika vagina dalam kondisi gatal, aktivitas seksual sebaiknya dihindari sampai vagina benar-benar pulih agar tidak semakin memperburuk gejala.

    Bila rasa gatal disertai dengan gejala lainnya yang tidak biasa dan mengganggu, segera konsultasikan pada dokter untuk penanganan lebih lanjut.

    (up/up)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • 6 Penyebab Gatal di Area Kewanitaan Setelah Berhubungan Seks


    Jakarta

    Hal tersebut dapat menyebabkan rasa gatal, rasa sakit, hingga rasa terbakar pada vagina. Kondisi-kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam berhubungan seksual.

    Dikutip dari Insider, terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan vagina gatal setelah berhubungan seksual, berikut adalah 6 di antaranya.

    1. Vagina kering

    Vagina seharusnya dalam kondisi yang lembap dan ketika berhubungan seksual, vagina dapat menghasilkan pelumas alaminya sendiri. Namun, beberapa dapat membuat seseorang tidak menghasilkan pelumas alami yang cukup untuk melembapkan vagina, seperti misalnya kondisi menopause.


    Kondisi ini terjadi karena adanya penurunan kadar hormon estrogen menyebabkan berkurangnya juga kelembapan pada dinding vagina. Selain saat menopause, perubahan hormonal pada masa kehamilan dan menyusui juga dapat menyebabkan perubahan pada kelembapan vagina.

    Vagina yang kering dapat menimbulkan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual hingga menimbulkan gejala seperti iritasi, rasa gatal, dan rasa sakit setelah berhubungan seksual.

    2. Alergi kondom

    Alergi terhadap bahan lateks yang digunakan pada kondom bukanlah suatu kondisi yang langka. Kondisi alergi ini dapat menimbulkan reaksi, seperti rasa gatal, kemerahan, hingga ruam pada vagina.

    3. Dermatitis vulva atau vulvitis

    Kondisi ini terjadi ketika kulit pada vulva atau bibir vagina mengalami iritasi. Biasanya banyak disebabkan oleh faktor eksternal, seperti penggunaan pelumas yang berparfum atau berwarna, yang dapat menimbulkan permasalahan pada vulva.

    Selain itu, hal ini juga dapat disebabkan oleh penggunaan sabun, pembalut, hingga celana dalam yang berbahan sintetis.

    Kondisi ini dapat diatasi dengan menghindari penggunaan produk-produk berparfum, mandi air hangat, mengeringkan bagian vulva dengan sempurna setelah mandi, dan menggunakan celana dalam yang tidak terlalu ketat atau berbahan katun.

    4. Infeksi jamur

    Infeksi jamur dapat terjadi akibat pertumbuhan jamur Candida yang berlebihan pada vagina. Infeksi ini dapat menyebabkan rasa gatal, iritasi, hingga rasa terbakar saat atau setelah berhubungan seksual.

    Gejala lain yang menandakan adanya infeksi jamur adalah keputihan yang tidak biasa, seperti keputihan yang kental, putih, atau bertekstur bagai keju, pembengkakan atau kemerahan pada bagian bibir vagina, dan rasa sakit atau tidak nyaman pada vagina.

    5. Vaginosis bakterialias

    Keseimbangan pH pada vagina dapat terganggu setelah berhubungan seksual akibat pengaruh dari sperma pria. Kondisi keseimbangan pH yang terganggu dapat memicu pertumbuhan bakteri dan meningkatkan risiko terkena vaginosis bakterialis.

    6. Infeksi menular seksual (IMS)

    Seringkali, penyakit menular seksual atau infeksi menular seksual tak menunjukkan gejala yang signifikan. Namun, salah satu gejala yang paling umum adalah rasa gatal pada organ intim. Berhubungan seksual ketika mengalami infeksi menular seksual dapat membuat pembengkakan dan rasa gatal semakin parah.

    Gejala yang perlu diperhatikan adalah keputihan yang tidak biasa, rasa sakit hingga pendarahan ketika berhubungan seksual, rasa sakit ketika buang air kecil, dan rasa sakit pada perut bagian bawah.

    Apapun faktor penyebabnya, ketika vagina dalam kondisi gatal, aktivitas seksual sebaiknya dihindari sampai vagina benar-benar pulih agar tidak semakin memperburuk gejala.

    Bila rasa gatal disertai dengan gejala lainnya yang tidak biasa dan mengganggu, segera konsultasikan pada dokter untuk penanganan lebih lanjut.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy