Tag: Analisis teknikal

  • Analisa Teknikal 16 September: Bitcoin dan Ethereum

    Dalam beberapa hari lalu, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) telah mencoba pulih dari tekanan kuat Bears pada minggu sebelumnya, yang menyiratkan upaya bertumbuh dari para optimisme crypto, sehingga peluang inilah yang akan menjadi dasar analisa teknikal kita kali ini.

    Pada analisa ini, kita akan mencoba melihat masih ada tidaknya peluang bagi Bullish untuk melanjutkan upaya pemulihan beberapa hari lalu.

    Dan dalam artikel ini, kami akan berbagai pandangan kami dalam analisa teknikal untuk peluang trend BTC dan ETH untuk beberapa hari kedepan.

    BTCUSD

     

    Dalam analisa kami, pada time frame Daily, BTC pulih secara konsisten setelah mampu bertahan diatas level $ 10.000, sang Support kunci kita pada analisa minggu lalu.Ini menyiratkan upaya pemulihan dari level Lower High jangka menengah, sehingga dalam analisa kami, Resistance kunci, $ 11.000, akan menjadi titik validasi utama kita untuk kekuatan Bullish yang akan dibentuk dari reaksi pasar terhadap pemulihan sebelumnya ini.

    Baca Juga: 6 Terobosan Proyek Harmony

    Perlu digarisbawahi, harga menguat saat RSI belum membentuk Oversold, sehingga kita perlu mewaspadai kembalinya RSI ke ranah bawah jika harga mencoba bergerak kurang kuat dalam aksi beli dikisaran level $ 11.000, dimana breakout kuat pada level ini, bisa membawa potensi untuk mencapai Resistance kunci lainnya, yaitu di level $ 12.000.

    Dari time frame 4 jamnya, BTC berlanjut dalam struktur Bullish dari pergerakan ranging sebelumnya, hingga memasuki Area Resistance kunci yang akan menjadi kunci untuk beberapa hari kedepean.

    Jika dilihat dari fundamental, harga Bitcoin akan sideways untuk sementara waktu, ranging di sekitar resistance. Breakout akan terjadi jika ada berita yang mengejutkan.

    Ini tanggal yang harus anda tahu untuk pergerakan harga BTC:

    ETHUSD

    Dalam analisa kami, pada time frame Daily, ETH telah mampu mengumpulkan kekuatan dengan tetap bertahan diatas level Support kunci $ 310 dan level Resistance kunci sebelumnya, $ 370.

    Baca Juga: Cara Staking Aset Crypto Menggunakan Staking Pool

    Price Action pada $ 370 akan menjadi dasar analisa kita untuk kekuatan trend jangka menengah, dimana faktor DeFi akan juga mempengaruhi ETHUSD dalam sisi fundamental yang jangan sampai diabaikan.

    Pada time frame 4 jam ini, ETH telah bangkit dari Area Support kunci, dimana dalam analisa kali ini, kami telah memetakan adanya Area Resistance kunci yang digambarkan dari titik Swing di histori chart, yang sifatnya jangka pendek / menengah, sehingga reaksi harga pada Area ini akan sangat penting di analisa kami, untuk membaca sinyal trend.Jika dilihat dari fundamental ETH, sangat mungkin harga akan turun, sebelum naik di bulan Oktober-November karena ETH 2.0.

    Note: Artikel ini bukan nasihat investasi, lakukan trading dengan bijaksana.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ketahui Cara Mengenali Dead Cat Bounce dan Penyebabnya

    Dead Cat Bounce merupakan salah satu istilah yang digunakan dalam trading aset kripto. Istilah ini digunakan untuk menyebut suatu pola pergerakan aset dalam pasar. Trader yang terjebak Dead Cat Bounce disebut-sebut akan mengalami kerugian. Benarkah demikian? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak penjelasan mengenai Dead Cat Bounce berikut ini!

    Asal Usul Fenomena Dead Cat Bounce

    Fenomena Dead Cat Bounce sebenarnya tidak hanya berlaku pada trading aset kripto. Justru sebaliknya, fenomena ini sudah ditemukan jauh sebelum kripto muncul. Istilah ini mulai digunakan di Wall Street untuk menyebut saham yang sejenak naik dan kemudian mengalami penurunan terus-menerus.

    Baca juga: Tertarik Trading? Simak Jenis Indikator Trading Paling Akurat!

    Saat itu, tepatnya pada Desember 1985, pasar saham Singapura dan Malaysia tiba-tiba mengalami lonjakan setelah sebelumnya terus turun karena resesi. Jurnalis Financial Times, Horace Brag dan Wong Sulong, kemudian menyebut fenomena tersebut dengan istilah “Dead Cat Bounce”.

    Memahami Apa Itu Dead Cat Bounce

    Apa Itu Dead Cat Bounce

    Sebenarnya, istilah Dead Cat Bounce dipilih karena kucing yang sudah mati sekalipun bisa memantul tinggi asal titik jatuhnya juga tinggi. Aset kripto yang mengalami Dead Cat Bounce pun juga sama.

    Lalu, apa itu Dead Cat Bounce yang berlaku pada pasar trading kripto? 

    Jadi, Dead Cat Bounce dalam aset kripto menggambarkan kondisi di mana sebelumnya posisi aset tinggi dan kemudian mengalami tren penurunan yang berkelanjutan, tetapi akan ada kemungkinan aset tersebut tiba-tiba mengalami lonjakan. Sayangnya, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama dan justru menjadi “sinyal” untuk penurunan yang lebih besar pada waktu mendatang.

    Cara Mengenali Dead Cat Bounce

    Cara Mengenali Dead Cat BounceFenomena aset yang memantul ini sebenarnya bisa dikenali. Ini karena Dead Cat Bounce sebenarnya tidak terjadi tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan terlebih dahulu. Ada tiga tahapan yang menandai datangnya Dead Cat Bounce yaitu:

    1. Tahap pertama

    Terjadi penurunan nilai aset yang amat  tajam dan berlangsung dalam durasi yang cukup lama.

    2. Tahap kedua

    Nilai aset tiba-tiba melonjak, seolah sedang terjadi pembalikan tren.

    3. Tahap ketiga

    Nilai aset kembali turun, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan penurunan pada tahap pertama. Seperti pada tahap pertama, tren penurunan ini juga akan berlangsung lama.

    Jika diperhatikan, fenomena ini mirip dengan technical rebound (TR). Hanya saja, lonjakan nilai aset pada Dead Cat Bounce terjadi dalam waktu yang sangat singkat, bahkan tidak lebih dari satu hari. Koreksi nilai pun sulit untuk diprediksi karena fenomena ini baru dapat dikenali saat tahapannya sudah berlangsung.

    Penyebab Terjadinya Dead Cat Bounce

    Penyebab Terjadinya Dead Cat Bounce

    Fenomena ini terjadi karena beberapa faktor yang saling memengaruhi, hingga kemudian menimbulkan dampak yang besar. Berikut ini faktor penyebab terjadinya Dead Cat Bounce:

    1. Spekulasi Investor

    Salah satu penyebab utama Dead Cat Bounce adalah adanya spekulasi dari para investor itu sendiri. Saat nilai aset kripto turun, akan banyak yang mengira bahwa penurunan tersebut hanya sementara dan nilai aset akan segera kembali. Hal tersebut diperparah dengan anggapan bahwa aset yang mengalami tren penurunan memang sudah ada di titik terendahnya.

    Melihat situasi tersebut, wajar jika investor kemudian membeli banyak aset yang sedang turun. Saat aset banyak terjual, otomatis tren penurunannya akan berhenti. Hal ini menimbulkan ilusi bahwa aset akan kembali naik.

    2. Pasar yang Fluktuatif

    Penyebab lainnya adalah karena kondisi pasar itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, pasar kripto sangat fluktuatif. Berbagai kondisi bisa memengaruhi naik-turunnya harga aset. Saat terbit pemberitaan negatif, nilai aset akan terjun. Sebaliknya, saat kabar positif muncul, maka nilai aset akan langsung naik.

    Situasi yang sangat dinamis tersebut jelas mudah menimbulkan ketertarikan. Satu berita positif saja bisa mendorong investor untuk menjual aset kripto mereka karena nilai aset sedang naik. Dampaknya, akan muncul sentimen pasar positif yang hanya berlangsung sementara.

    Fenomena Dead Cat Bounce memang menurunkan peluang untuk mendapat keuntungan dari trading aset kripto. Meski begitu, bukan berarti Anda tidak bisa menghindarinya. Cara terbaik untuk menghindari risiko semacam ini adalah dengan membekali diri dengan pengetahuan mengenai pasar aset kripto.

    Nah, Anda bisa mendapatkan berbagai informasi dan update terbaru mengenai pasar aset kripto di Tokonews, outlet berita dari Tokocrypto yang membahas teknologi blockchain, aset digital, dan aset kripto baik dalam maupun luar negeri. Pastikan Anda juga follow Twitter dan Instagram Tokocrypto!





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Berharap pada Ethereum Sebelum Bitcoin Halving

    Bitcoin sempat melakukan rally yang cukup ganas di akhir bulan April lalu. Namun, raja aset kripto tadi gagal menembus resisten kunci di 9400, langsung “dump” ke zona 8400-8500, dan sekarang mulai “recovery” menuju arah 9000 USD. Bagaimana dengan harga Ethereum?

    Jika dilihat di analisa time frame besar, masih ada kemungkinan Bitcoin menuju 9000-9200 USD sebelum halving, dengan potensi turun setelah halving. Bagaimanakah para trader bisa meng-kapitalisasi kesempatan ini?

    Baca Juga: Ayo Bitcoin Halving, Tunjukkan Taringmu!

    Altcoin terbesar, Ethereum menunjukkan kesempatan bullish di tengah-tengah gonjang-ganjing volatilitas aset kripto dan pasar finansial lainnya.

    Saat ini harga harga ETH menembus zona putih dan garis hijau yng ada dalam gambar. Zona putih adalah resistance mingguan, dan garis hijau adalah resistance yang didapat dengan menggambar trendline di timeframe 1 bulan.

    Saat semuanya tertembus, kemungkinan bullish untuk jangka pendek-menengah (paling tidak sampai bitcoin halving) terbentuk. Terlebih lagi, Ethereum telah melakukan retest di area zona putih, mempersiapkan pondasi untuk naik lebih lanjut.

    Baca Juga: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Diperkirakan bahwa halving 11 Mei akan membuat crypto turun cukup keras, dengan sedikit bullish dari sekarang hingga hari-H.

    Target kenaikan Ethereum, harga bisa naik hingga daily resistance yang terbentuk (zona kuning) atau bahkan area trendline wick-ke-wick bulanan, hingga saat sekitaran halving BTC , semuanya turun besar-besaran.

    Secara sepintas, Ethereum mempunyai potensi gain yang lebih besar daripada Bitcoin hingga halving nanti



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ayo Bitcoin Halving, Tunjukkan Taringmu!

    Dengan Bitcoin halving yang tinggal beberapa hari lagi, antusiasme masyarakat crypto-space sudah memuncak. Para moon-bois sudah meneriakkan 14k, 20k, bahkan 250k USD.

    Namun, analisa teknikal masih belum menunjukkan adanya kemungkinan untuk menuju ke atas zona 10k, apalagi puluhan ribu USD. Teknikal masih menunjukkan adanya PERINGATAN akan merahnya candlestick di bulan Mei.

    Hormati Trendline Di Timeframe Besar!

    Di timeframe 1 bulan, terlihat bahwa candlestick tidak berhasil menutup di atas trendline yang saya gambarkan (warna oranye). Jika diperhatikan, trendline ini paling dihormati sejak akhir 2017-awal 2018. Candlestick bulanan gagal menutup di atas itu, candlestick berikutnya akan merah dan menunjukkan penurunan yang signifikan dengan potensi wick-fishing (wick yang berusaha menyentuh) area trendline abu-abu, yang saya tandai areanya di kotak hijau.

    Baca Juga: Proyeksi Bitcoin Menjelang Halving

    Confluence Dengan Pre-Halving Pump?

    Jika kita lihat secara sejarah, sebelum halving (seperti di 2016) bahwa harga naik, lalu turun setelah halvingnya. Apa yang terjadi di bulan lalu hampir mengkonfirmasinya. Area wick-fishing yang saya tandai mungkin menjadi lanjutan dari kenaikan pre-halving nanti, sebelum MUNGKIN harga akan dump setelah halving mengikuti resistance dari trendline yang telah saya gambar.

    Pertanyaannya: Target turunnya sampai mana?

    Trendline Sebagai Support, Namun Ada Yang Menghantui

    Saya lakukan hal yang sama dengan area bawah, menggunakan trendline yang “dihormati”. Kemungkinan turun adalah di area garis biru dan merah di bawah. Jadi, mungkin 4-5k USD masih memungkinkan. Tapi, ada yang menghantui…

    Baca Juga: Bitcoin Halving Sebentar Lagi! Saatnya Membeli?

    Level resistance yang terbentuk sejak November 2013 (1100-an USD), dan ditembus di bulan Maret 2017, BELUM DI-RETEST LAGI. Bukan maksud FUD, namun, melihat nature dari Bitcoin , hal ini sangat mungkin terjadi, walau kemungkinannya tidak sebesar garis merah dan biru yang saya gambar.

    Dengan besarnya volatilitas dunia finansial saat ini, alangkah baiknya kita berhati-hati sebelum mulai berinvestasi di aset crypto. Akan menjadi investasi yang jauh lebih baik jika kita mulai membeli bitcoin, misalkan, setelah dump besar-besaran pasca halving.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menilik Bitcoin Secara Teknikal, Bagaimana Pergerakan Selanjutnya?

    Penurunan harga Bitcoin (BTC) pekan ini membuat pasar cryptocurrency berantakan. Harga BTC yang terkoreksi cukup besar membuat sejumlah altcoin terdampak. Penurunan harga BTC terlihat sejak tanggal 10 Mei hingga 19 Mei 2021, sebesar 49%.

    Secara fundamental ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan harga BTC secara ekstrim ini. Diantaranya adalah efek cuitan dari Elon Musk yang mengisyaratkan dirinya akan berfokus meningkatkan efisiensi transaksi dengan DOGE dan menangguhkan pembelian Tesla menggunakan Bitcoin.

    Selain efek dari Elon Musk, tak lama ini muncul berita bahwa asosiasi perdagangan China melarang aktivitas perdagangan cryptocurrency, hal tersebut serentak direspon oleh penurunan pergerakan harga BTC.

    Meski begitu, banyak spekulasi yang bermunculan bahwa Elon Musk bersama Tesla yang notabene mereka adalah salah satu investor besar pada Bitcoin melakukan aksi jual atau take profit sehingga menyebabkan harga BTC anjlok.

    Namun, hal tersebut dibantah oleh Elon Musk melalui akun Twitter nya. Elon menegaskan bahwa dirinya dan Tesla belum menjual aset BTC mereka.

    Baca Juga: Cuitan Elon Musk Bikin US$ 98 Juta “Menguap” dari Bitcoin

    Isu tersebut menjadi perhatian untuk beberapa big holder BTC lainnya, seperti Michael J. Saylor selaku co-founder dari perusahaan MicroStrategy yang membuat pernyataan bahwa dia bersama MicroStrategy belum menjual aset Bitcoin mereka.

    Pernyataan dari dua tokoh dunia tersebut mendapat respon yang variatif dari kalangan  dunia cryptocurrency, ada yang menanggapi secara positif dan negatif.

    Untuk yang menanggapi secara positif, beranggapan bahwa dengan adanya pernyataan dari dua tokoh tersebut membuat tingkat kepercayaan dunia akan pergerakan harga BTC akan kembali Bullish. Kalangan ini juga percaya BTC akan menyentuh angka $100,000, sehingga kembali memunculkan minat untuk kembali membeli Bitcoin, setelah massive selling beberapa waktu lalu.

    Untuk yang menanggapi secara negatif,  dengan adanya pernyataan dari dua tokoh tersebut, malah meningkatkan ketakutan para BTC Holder lainnya.

    Karena mereka berpikiran bahwa dengan adanya pernyataan dari dua tokoh tersebut belum melakukan aksi ambil untung atau take profit dengan menjual aset BTC mereka, harga BTC sudah turun begitu dalam. Apa yang terjadi apabila para holder BTC yang besar seperti mereka melakukan aksi ambil untung dengan menjual aset Bitcoin nya.

    Baca Juga: Hanya dengan Duduk Manis Bisa Dapat TKO Gratis

    Teknikal Analisis

    Setelah mengalami penurunan yang ekstrim pada tanggal 19 Mei 2021 lalu, pergerakan harga Bitcoin (BTC) berusaha untuk melakukan pullback. Terlihat saat artikel ini dibuat pada tanggal 21 Mei 2021 pukul 10.36 WIB, laju pergerakan BTC sudah mengalami kenaikan sebesar 36% dari penurunan harga pada tanggal 19 Mei 2021.Pada chart Bitcoin/USDT time frame 1 hari, market Binance, pergerakan harga BTC masih dalam laju koreksinya.

    Saat ini pergerakan harga BTC sedang mencoba untuk masuk ke dalam supply area terdekatnya yaitu pada area harga US$42,842-US$45,675. Pada saat laju harga BTC sudah memasuki area ini, ada 2 kemungkinan untuk menentukan pergerakan arah harga BTC kedepannya, yaitu adanya rejection dan breakout.

    1. Rejection

    Apabila pada saat memasuki supply area, pergerakan harga BTC mengalami rejection, maka pergerakan harga BTC akan mengalami koreksi kembali dan kembali ke area harga US$37,000-US$39,000.

    2. Breakout

    Apabila pada saat memasuki supply area, pergerakan harga BTC mengalami breakout atau dapat menembus resistance nya, maka pergerakan harga BTC berpotensi akan terus naik hingga mencapai harga US$49,962.

     

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    Semua informasi di Portalkripto bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hindari Kesalahan Pemula Fatal Membaca Volume Trading

    Volume trading bisa menjadi salah satu indikator penting saat melakukan trading atau investasi, tapi bagi pemula, banyak yang salah membaca dan menganggap bahwa volume trading bisa jadi satu-satunya indikator untuk mengambil keputusan beli atau jual, tanpa dilengkapi indikator lain.

    Selain salah membaca, ada juga kesalahan lain yang sering dilakukan oleh pemula dalam membaca volume trading lho! Simak lebih lengkapnya di bawah ini.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Tidak Memperhatikan Kedalaman Order Book

    Kesalahan pertama adalah hanya fokus pada volume harian yang tinggi tanpa mengecek kedalaman order book (order book depth). Padahal order book ini bisa menunjukkan seberapa besar likuiditas yang benar-benar tersedia dan dicatat dalam permintaan beli (bid) atau jual (ask) yang siap dieksekusi di rentang harga terdekat tanpa mempengaruhi pergerakan harga secara signifikan.

    Order book ini bisa mencerminkan dua hal:

    • Kesehatan likuiditas: seperti yang disebutkan di atas, order book ini mencerminkan likuiditas di rentang harga terdekat, dan bisa jadi pertimbangan apakah trader bisa masuk/keluar posisi tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
    • Kekuatan psikologis pasar: ekspektasi naik atau turunnya harga bisa tercermin dan dilihat langsung dari kedalaman sisi bid atau ask.

    Misalnya, jika harga jual (ask) BTC saat ini di $100.000 dan terdapat banyak permintaan beli dan jual antara $100.000-101.000 maka bisa kedalaman order book dianggap tinggi. Dan pasar dianggap memiliki likuiditas yang baik sehingga trader bisa dengan mudah melakukan jual beli dalam rentang harga tersebut tanpa menggeser harga secara signifikan.

    Sebaliknya jika terdapat permintaan beli dan jual yang sedikit kedalaman order book dianggap dangkal.

    Simpelnya, bayangkan kalau kedalaman order book ini seperti lapisan yang harus ditembus oleh roket (market order). Kalau lapisannya tebal, roket bakal lambat karena harus melewati banyak lapisan (harga tetap stabil karena banyak order yang siap dieksekusi). Tapi, kalau lapisannya tipis, roket bisa langsung melesat (harga bisa naik/turun drastis karena sedikit order yang siap dieksekusi).

    Pemula yang hanya memperhatikan volume trading tanpa membaca kedalaman order book bisa terjebak dalam manipulasi volume hingga mengalami perbedaan slippage yang cukup besar.

    Mengabaikan Gap dan Ketidakkonsistenan Volume

    Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak memperhatikan gap atau ketidakkonsistenan dalam volume trading. Volume yang tiba-tiba menghilang lalu muncul kembali secara tidak teratur bisa menjadi tanda:

    • Server exchange mengalami downtime.
    • Market maker menarik likuiditas secara tiba-tiba.
    • Ada pihak sengaja melakukan wash trading untuk menciptakan ilusi volume.

    Wash trading sendiri merupakan aktivitas jual beli aset yang sama oleh pihak yang sama untuk menciptakan ilusi seakan-akan memiliki volume yang tinggi. Tujuannya, tidak lain untuk membuat minat trader dan investor kembali atau masuk dengan perasaan FOMO.

    Agar membantu kamu terhindar dari wash trading, yuk gunakan platform terpercaya seperti Tokocrypto yang telah berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kamu bisa mulai investasi atau trading dengan deposit mulai dari Rp20.000 aja lho! 👉 Daftar di sini.

    Tidak Melakukan Cross-Check Volume antar Exchange

    Pemula seringkali lupa untuk membandingkan volume trading antar exchange. Aktivitas volume yang tinggi di satu exchange bisa saja tidak didukung oleh exchange lain, yang bisa jadi indikasi manipulasi lokal.

    Cara Menghindari Kesalahan dalam Membaca Volume Trading

    • Gunakan Platform Analitik: Gunakan platform seperti CoinGecko, CoinMarketCap, atau CoinGlass untuk mendapatkan data komprehensif mengenai volume trading, dan kedalaman order book.
    • Gunakan Lebih dari Satu Sumber Data: Selalu gunakan lebih dari satu sumber data, karena adanya potensi manipulasi lokal.
    • Gunakan Indikator Volume Tambahan: Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan volume trading, gunakan indikator tambahan untuk membantu validasi analisis yang kamu miliki.

    Baca juga: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Masih bingung gimana baca volume trading? Yuk, gabung bareng ribuan trader lainnya di komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Artikel ini bertujuan membantu kamu mengenali kapan volume bisa menjadi sinyal beli atau jual yang akurat — Dalam prakteknya, volume trading tidak hanya bisa digunakkan sebagai sinyal awal (leading indicator) melainkan juga sebagai sinyal konfirmasi (lagging indicator). 

    Untuk mengetahui kapan volume trading bisa menjadi sinyal beli trading, simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini dengan mempelajari jenis indikator trading volume yang biasa digunakkan oleh para trader.

    Baca juga: Apa itu Volume Trading: Maksud dan Kegunaannya

    Volume sebagai Sinyal Awal (Leading Indicator)

    Sebagai leading indicator, volume dapat memberikan petunjuk awal tentang pergerakan pasar. Studi dari jurnal dengan judul “Bitcoin mempool growth and trading volumes” menunjukkan bahwa pertumbuhan volume trading sering kali mengiringi perubahan harga, tapi pertumbuhan trading volume ini sendiri tidak selalu diikuti oleh kenaikan, kadang malah diikuti oleh penurunan. Ini berarti volume bisa menjadi alarm dini bahwa tren besar akan terjadi.

    Contoh praktis: ketika aset sedang konsolidasi dan tiba-tiba muncul lonjakan volume—tanpa disertai pergerakan harga signifikan—ini bisa jadi disebabkan oleh aksi institusional atau whale yang mulai melakukan akumulasi. Dengan kata lain, candle kecil disertai volume besar bisa  menjadi pertanda smart money mulai masuk.

    Volume sebagai Konfirmasi (Lagging Indicator)

    Sebaliknya, volume juga sering digunakan sebagai indikator konfirmasi setelah breakout. Misalnya, saat harga menembus level resistance, tetapi volume tetap rendah, breakout tersebut rentan gagal. Sebaliknya, breakout disertai volume tinggi menunjukkan validitas dan kekuatan tren—bisa membantu trader memastikan sinyal beli.

    Salah satu contoh penggunaannya adalah dengan Volume Moving Average (VMA) yang merupakan hasil dari rata-rata volume dalam jangka waktu tertentu, misalnya 20 hari—untuk membantu memahami tren partisipasi pasar. VMA 20-hari ini akan merata-ratakan volume 20 hari terakhir dan menampilkannya sebagai garis pada chart. Saat volume  ini berada di atas garis VMA, maka dianggap sebagai konfirmasi, dan sebaliknya ketika volume trading berada di bawah garis VMA bisa menunjukkan kurangnya partisipasi pasar.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Indikator Trading Volume yang Bisa Digunakan untuk Mengetahui Sinyal Beli yang Valid

     On‑Balance Volume (OBV)

    Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    On-Balance Volume atau OBV merupakan indikator volume yang menunjukkan apakah aliran uang sedang masuk atau keluar. Cara kerjanya, OBV akan menambahkan volume pada hari di mana harga penutupan lebih tinggi (up day), dan mengurangkan volume pada hari ketika harga penutupan lebih rendah (down day).

    Ketika garis OBV terus naik, itu menandakan tekanan beli lebih kuat daripada tekanan jual, yang bisa menjadi sinyal tren naik (bullish). Sebaliknya, jika OBV menurun, itu menunjukkan tekanan jual yang dominan dan bisa mengindikasikan tren turun (bearish).

    Accumulation/Distribution Line (A/D Line)

    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) digunakan untuk mengukur aliran uang secara kumulatif yang masuk dan keluar. Cara kerjanya, indikator ini mempertimbangkan data harga dan volume sekaligus, sehingga bisa memberikan gambaran tekanan beli dan jual di balik pergerakan harga.

    Kalau garis A/D naik, artinya sedang terjadi akumulasi—pembeli mendominasi pasar. Tapi kalau garis A/D turun, itu menunjukkan distribusi—penjual sedang menguasai. 

    Indikator ini membantu trader menilai apakah pasar cenderung menyerap (accumulating) atau melepas (distributing), dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan entry atau exit.

    Baca juga: Cara Menentukan Harga Entry dan Exit dalam Swing Trading

    Chaikin Money Flow (CMF)

    Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    CMF memperkirakan arus uang (money flow) dalam periode tertentu—biasanya 21 hari—dengan membandingkan harga penutupan relatif terhadap kisaran harian dan volume, lalu hasilnya diberi bobot berdasarkan volume.

    Jika nilai CMF bernilai positif, itu menunjukkan adanya tekanan beli yang kuat. Sebaliknya, jika nilainya negatif, berarti tekanan jual sedang mendominasi.

    Volume Moving Average (VMA)

    Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    VMA adalah rata-rata volume selama periode tertentu (misalnya 20 hari), diplot sebagai garis pada grafik volume guna membantu mengenali tren.

    Kalau volume saat ini secara konsisten berada di atas garis VMA, itu menandakan minat beli yang kuat dan bisa mengonfirmasi tren harga yang naik. Sebaliknya, kalau volume berada di bawah garis VMA, ini mengisyaratkan lemahnya tekanan beli atau mulai munculnya tekanan jual.

    Jadi Kapan Volume Trading Jadi Sinyal Beli Trading Akurat?

    Menggunakan beberapa indikator trading volume di atas bisa menjadi sinyal beli yang akurat, terutama saat indikator-indikator tersebut menunjukkan arah yang sejalan dengan pergerakan harga. 

    Misalnya, ketika OBV menguat bersamaan dengan breakout harga, atau CMF menunjukkan arus uang positif yang konsisten, ini bisa menjadi indikasi kuat bahwa buyer mulai mendominasi pasar. Sebaliknya, jika volume melonjak namun harga mulai menurun dan A/D Line menunjukkan distribusi, itu bisa menjadi sinyal awal untuk bersiap melakukan aksi jual.

    Namun, akurasi sinyal—baik untuk beli maupun jual, tidak hanya ditentukan oleh satu indikator saja. Analisis yang efektif membutuhkan kombinasi antara indikator volume, pola pergerakan harga, zona support dan resistance, serta pemahaman terhadap kondisi pasar yang sedang berlangsung. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, volume trading dapat berperan sebagai alat penting untuk membangun strategi entry dan exit yang lebih valid.

    Penutup

    Meskipun indikator volume sangat membantu untuk membaca kekuatan pasar dan mendeteksi sinyal beli, volume saja tidak cukup untuk membuat keputusan trading yang solid. Volume perlu dikonfirmasi dengan indikator lain seperti struktur harga, area support dan resistance, serta indikator momentum seperti RSI atau MACD.

    Selain itu, karena pasar kripto bergerak sangat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh berita-berita global yang bisa mengubah arah harga, penting bagi trader untuk terus memperbarui informasi dan terhubung dengan komunitas yang aktif.

    Salah satu cara terbaik untuk tetap mendapatkan insight terbaru adalah dengan bergabung bersama komunitas Tokocrypto. Kamu bisa berbagi pengalaman, mengikuti analisis harian, serta memantau pergerakan pasar bersama ribuan trader lainnya–GRATIS!

    Gabung di sini 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber:

    Truedata. “Volume Analysis and Volume Indicators“. 2024.

    Mikhaylova, et al. “Bitcoin mempool growth and trading volumes“. 2023.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategi Identifikasi Tren Harga dengan Trading Volume: On Balance Volume (OBV)

    On Balance Volume (OBV) merupakan salah satu indikator yang berdasarkan pada trading volume — Inikator ini bisa kamu gunakkan sebagai indikator tambahan saat melakukkan trading, baik itu saham atau pun crypto. On Balance Volume (OBV) sendiri bekerja dengan menggabungkan volume dan pergerakan harga untuk membantu kamu mendeteksi kekuatan beli atau jual yang ada di pasar.

    Mulai dari mengidentifikasi tren, divergence hingga mengidentifikasi bearish divergence bisa kamu lakukan dengan indikator OBV. Pelajari lebih lengkap pengertian hingga contoh penggunaannya di bawah ini.

    Apa Itu OBV dan Bagaimana Cara Kerjanya?

    On Balance Volume (OBV) adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur tekanan beli dan jual berdasarkan volume perdagangan. 

    Indikator ini merupakan indikator kumulatif, cara kerjanya seperti ini—pada hari-hari di mana harga naik, volume hari tersebut akan ditambahkan ke total OBV kumulatif, namun jika harga turun, maka volume hari itu dikurangi dari total OBV.  Hasil perhitungan tadi lalu digambarkan dalam bentuk garis, yang dikenal dengan garis OBV.

    OBV ini sering dipakai untuk membantu melihat arah tren harga, atau memperkirakan apakah harga akan berbalik arah kalau ada perbedaan antara gerakan harga dan garis OBV.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Kenapa OBV Dapat Mengidentifikasi Tren?

    Indikator OBV dapat membantu mengungkap pergerakan “smart money“—seperti investor besar atau institusi—yang sering kali masuk pasar sebelum harga bergerak signifikan. Saat harga dan OBV naik bersama, itu menunjukkan bahwa tekanan beli mendukung kenaikan harga, menunjukkan tren naik yang sehat.

    Namun, jika terjadi perbedaan arah—misalnya harga terus naik tapi OBV justru menurun—itu bisa menjadi sinyal peringatan. Artinya, volume tidak mendukung kenaikan harga, dan ada kemungkinan tren akan melemah atau berbalik arah.

    OBV juga berguna untuk memperkuat sinyal dari indikator teknikal lainnya. Tapi seperti alat analisis lainnya, OBV sebaiknya tidak digunakan sendirian. Digunakan bersama indikator lain, OBV dapat memberikan gambaran yang lebih solid dan membantu pengambilan keputusan yang lebih matang.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Sebelum mempelajari lebih lengkap mengenai cara menggunakan OBV, pastikan kamu menggunakan bursa terpercaya seperti Tokocrypto yang terdaftar resmi sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) di Bappebti, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Trading dengan deposit mulai dari Rp20.000 juga bisa lho!

    Contoh Penggunaan On Balance Volume (OBV)

    Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan OBV yang umum dilakukan trader untuk mengidentifikasi tren, mendeteksi divergence, dan mengenali potensi pembalikan arah harga.

    Sebagai Indikator untuk Mengidentifikasi Tren

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) untuk mengidentifikasi tren.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) untuk mengidentifikasi tren.

    OBV dapat digunakan untuk memastikan apakah tren harga saat ini memiliki dukungan dari volume. Jika harga bergerak naik dan OBV juga menunjukkan arah naik, ini mengindikasikan bahwa tekanan beli mendukung tren tersebut. Sebaliknya, jika harga turun dan OBV ikut turun, tekanan jual kemungkinan besar masih mendominasi pasar. Dengan kata lain, OBV membantu mengkonfirmasi kekuatan tren yang sedang berlangsung.

    Indikator Divergence

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai divergence untuk mengidentifikasi pergerakan harga.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai divergence untuk mengidentifikasi pergerakan harga.

    Salah satu kegunaan OBV adalah untuk dalam mengidentifikasi pola divergence—perbedaan arah antara harga dan volume. Ketika harga menunjukkan pola tertentu, tetapi OBV bergerak ke arah berbeda, itu bisa menjadi sinyal bahwa perubahan tren sudah dekat.

    Bearish OBV Divergence

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai indikator untuk mengidentifikasi bearish divergence.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai indikator untuk mengidentifikasi bearish divergence.

    Bearish divergence terjadi saat harga membentuk higher high (harga naik), tetapi OBV justru membentuk lower high (volume melemah). Ini menunjukkan bahwa meskipun harga naik, kekuatan pasar yang mendukung kenaikan tersebut mulai menurun. Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa buyer mulai kehilangan minat, dan ada potensi koreksi harga atau bahkan pembalikan arah menjadi tren turun.

    Baca juga indikator lainnya: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Itu dia strategi untuk mengidentifikasi tren pergerakan harga pasar dengan menggunakan trading volume, On Balance Volume (OBV). Jangan lupa untuk kombinasikan OBV dengan analisa harga dan indikator teknikal lainnya supaya kamu bisa membuat strategi trading yang lebih akurat.

    Masih bingung cara baca volume trading? Yuk, tanya-tanya langsung sama trader aktif lain di Telegram komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber: Trading View. “Volume Keseimbangan / On Balance Volume (OBV)”.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 7 Kesalahan Umum dalam Analisis Teknikal

    Analisis Teknikal atau yang lebih dikenal dengan Technical Analysis (TA) merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk menganalisis pasar keuangan. Pada dasarnya, TA dapat diterapkan pada berbagai jenis pasar keuangan, seperti saham, forex, emas, atau mata uang kripto.

    Meskipun konsep dasar analisis teknikal relatif mudah dipahami, menguasainya sepenuhnya bisa menjadi tantangan. Saat mempelajari keterampilan baru, wajar jika terjadi kesalahan di sepanjang prosesnya. Namun, kesalahan ini dapat menjadi sangat mahal ketika berhubungan dengan perdagangan atau investasi. Tanpa kehati-hatian dan pembelajaran dari kesalahan, risiko kehilangan sebagian besar modal akan meningkat. Meskipun belajar dari kesalahan merupakan hal yang baik, menghindarinya sebisa mungkin jauh lebih bijaksana.

    Dalam artikel ini, kami akan membahas beberapa kesalahan umum dalam analisis teknikal. Jika Anda masih baru dalam dunia perdagangan, disarankan untuk membaca dasar-dasar analisis teknikal terlebih dahulu. Anda dapat melihat artikel kami tentang Apa itu Analisis Teknikal? dan 5 Indikator Penting yang Digunakan dalam Analisis Teknikal.

    Jadi, apa saja kesalahan umum yang sering dilakukan oleh pemula ketika menggunakan analisis teknikal?

    Tidak Memotong Kerugian

    Mari kita mulai dengan kutipan dari trader komoditas terkenal, Ed Seykota, yang mengatakan, “Unsur-unsur perdagangan yang baik adalah: (1) memotong kerugian, (2) memotong kerugian, dan (3) memotong kerugian. Jika Anda mengikuti tiga aturan ini, Anda mungkin akan memiliki peluang.”

    Meskipun terdengar sederhana, tetapi penting untuk diingat bahwa melindungi modal harus selalu menjadi prioritas utama dalam perdagangan. Memulai perdagangan bisa menjadi hal yang menakutkan, dan pendekatan yang bijaksana adalah memulai dengan langkah-langkah kecil, seperti menggunakan ukuran posisi yang lebih kecil atau menggunakan platform seperti Binance Futures yang menyediakan testnet untuk mencoba strategi tanpa risiko.

    Memasang stop-loss adalah tindakan sederhana namun masuk akal. Setiap perdagangan harus memiliki titik invalidasi, di mana Anda harus menerima bahwa ide perdagangan Anda salah. Tanpa menerapkan prinsip ini, kesempatan kesuksesan jangka panjang sangatlah kecil.

    Overtrading

    Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi adalah keinginan untuk selalu berdagang. Padahal, beberapa strategi memerlukan kesabaran untuk menunggu sinyal perdagangan yang tepat. Jesse Livermore, seorang pelopor perdagangan harian, mengatakan, “Uang dihasilkan dengan duduk, bukan dengan berdagang.” Menghindari perdagangan yang tidak tepat waktu adalah kuncinya.

    Jangan tergoda untuk berdagang terlalu sering, terutama dalam kerangka waktu yang lebih rendah. Analisis pada kerangka waktu yang lebih tinggi cenderung lebih dapat diandalkan dan mengurangi kebisingan pasar. Meskipun ada trader yang sukses dengan strategi jangka pendek, namun biasanya memiliki risiko-reward yang buruk.

    Revenge Trading

    Seringkali, trader cenderung melakukan perdagangan balas dendam setelah mengalami kerugian besar. Menghindari keputusan emosional adalah kunci utama. Dalam analisis teknikal, pendekatan yang analitis harus dipertahankan.

    Perdagangan yang dilakukan sebagai respons atas emosi cenderung menghasilkan kerugian lebih besar. Beberapa trader bahkan memilih untuk tidak berdagang sama sekali untuk sementara waktu setelah mengalami kerugian besar, untuk mendapatkan kejernihan pikiran kembali.

    Tidak Mau Mengubah Sikap

    Kondisi pasar bisa berubah dengan cepat, dan trader harus bisa mengidentifikasi perubahan tersebut. Paul Tudor Jones mengatakan, “Setiap hari saya berasumsi bahwa setiap posisi yang saya miliki salah.” Jangan takut untuk mengubah pendapat Anda jika diperlukan.

    Memahami bias kognitif yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan juga penting. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan melihat sisi lain dari argumen Anda, Anda dapat menghindari jebakan mental yang dapat merugikan.

    Mengabaikan Kondisi Pasar Ekstrem

    Kualitas prediksi analisis teknikal dapat berkurang pada kondisi pasar ekstrem. Trader harus memahami bahwa pasar kadang-kadang dipengaruhi oleh emosi dan psikologi massa. Alat analisis seperti RSI bisa mengalami kondisi ekstrem, namun ini tidak selalu menandakan pembalikan harga.

    Membuat keputusan berdasarkan alat teknikal ekstrem dapat berakibat fatal, terutama selama peristiwa black swan di mana pasar sulit diprediksi. Penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain dan tidak bergantung pada satu alat analisis saja.

    Lupa bahwa TA adalah Permainan Probabilitas

    Analisis teknikal harus dianggap sebagai sebuah probabilitas, bukan kepastian. Tidak ada jaminan bahwa pasar akan bergerak sesuai dengan analisis Anda. Oleh karena itu, penting untuk memiliki strategi yang mencakup skenario yang berbeda.

    Mengikuti Trader Lain Secara Buta

    Mengikuti Trader berpengalaman adalah cara yang baik untuk belajar, tetapi Anda juga harus mengembangkan kekuatan dan keunggulan Anda sendiri sebagai trader. Setiap trader memiliki gaya dan strategi yang berbeda, dan penting untuk menemukan apa yang cocok dengan kepribadian dan gaya Anda sendiri.

    Dalam kesimpulan, perdagangan merupakan proses yang membutuhkan waktu dan latihan yang konsisten. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum ini, Anda dapat meningkatkan kemungkinan kesuksesan jangka panjang dalam perdagangan dengan analisis teknikal.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Indikator Kunci dalam Analisis Teknikal

    Penggunaan indikator analisis teknikal adalah langkah yang penting bagi trader untuk mendapatkan wawasan tambahan mengenai aksi harga suatu aset. Indikator-indikator ini mempermudah identifikasi pola serta memberikan gambaran mengenai sinyal beli atau jual di dalam lingkungan pasar saat ini.

    Terdapat berbagai jenis indikator yang digunakan oleh trader harian, swing trader, dan kadang-kadang investor jangka panjang. Bahkan beberapa analis profesional dan trader berpengalaman seringkali merancang indikator khusus mereka sendiri. Dalam artikel ini, kita akan memberikan ringkasan singkat tentang beberapa indikator analisis teknikal paling populer yang berguna bagi semua trader.

    Relative Strength Index (RSI)

    Relative Strength Index (RSI).
    Relative Strength Index (RSI).

    RSI adalah indikator momentum yang digunakan untuk menentukan apakah suatu aset mengalami kondisi overbought atau oversold. Ini dilakukan dengan mengukur perubahan harga terbaru (biasanya dalam periode 14 sebelumnya, seperti 14 hari atau 14 jam) dan menampilkannya sebagai osilator dengan skala antara 0 dan 100.

    Karena RSI adalah indikator momentum, salah satu fungsinya adalah untuk menunjukkan sejauh mana momentum harga berubah. Artinya, jika momentum meningkat saat harga naik, maka itu menandakan adanya uptrend yang kuat dengan banyaknya pembeli yang masuk. Sebaliknya, jika momentum menurun saat harga naik, hal ini menunjukkan bahwa penjual mungkin akan mengendalikan pasar dalam waktu dekat.

    Interpretasi RSI yang sederhana menyatakan bahwa nilai di atas 70 mengindikasikan kondisi overbought, sementara nilai di bawah 30 mengindikasikan oversold. Namun, perlu diingat bahwa nilai ekstrem tersebut hanya memberikan petunjuk tentang kemungkinan pembalikan tren atau pullback di masa mendatang. Selalu bijak untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain sebelum mengambil keputusan perdagangan, mengingat seperti indikator analisis teknikal lainnya, RSI juga dapat memberikan sinyal yang salah atau menyesatkan.

    Moving Average (MA)

    Moving Average (MA).
    Moving Average (MA).

    Moving average berfungsi untuk meratakan fluktuasi harga yang acak dan menyoroti arah tren. Indikator ini didasarkan pada data harga sebelumnya dan sering disebut sebagai lagging indicator.

    Ada dua jenis moving average yang paling umum digunakan, yaitu simple moving average (SMA atau MA) dan exponential moving average (EMA). SMA dihitung dengan mengambil rata-rata harga selama periode tertentu, seperti SMA 10-hari yang mengukur rata-rata harga selama 10 hari terakhir. Sementara itu, EMA lebih responsif terhadap pergerakan harga terbaru karena menitikberatkan pada data harga yang lebih baru.

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, moving average adalah lagging indicator. Semakin lama periode yang digunakan, semakin besar keterlambatannya. Sebagai contoh, SMA 200-hari akan lebih lambat dalam merespons pergerakan harga terbaru dibandingkan dengan SMA 50-hari.

    Trader sering menggunakan hubungan antara harga dan moving average tertentu untuk menilai tren pasar saat ini. Jika harga tetap berada di atas SMA 200-hari dalam waktu yang cukup lama, itu bisa menjadi indikasi tren naik (bull market).

    Trader juga menggunakan crossover moving average sebagai sinyal beli atau jual. Sebagai contoh, jika SMA 100-hari melintasi di bawah SMA 200-hari, ini bisa dianggap sebagai sinyal jual. Ini menunjukkan bahwa harga rata-rata selama 100 hari terakhir kini berada di bawah harga rata-rata 200 hari terakhir, menunjukkan potensi perubahan tren.

    Moving Average Convergence Divergence (MACD)

    Moving Average Convergence Divergence (MACD).
    Moving Average Convergence Divergence (MACD).

    MACD digunakan untuk mengukur momentum suatu aset dengan menunjukkan hubungan antara dua moving average. Indikator ini terdiri dari dua garis utama, yaitu garis MACD dan garis sinyal. Garis MACD adalah selisih antara nilai EMA periode 12 dan EMA periode 26, yang kemudian diplotkan di atas EMA periode 9 (garis sinyal). Banyak grafik juga menampilkan histogram, yang mengukur jarak antara garis MACD dan garis sinyal.

    Dengan memeriksa kondisi divergensi (ketika harga bergerak berlawanan dengan indikator MACD), trader dapat mengamati kekuatan tren saat ini. Sebagai contoh, jika harga membuat high yang lebih tinggi sementara MACD membuat high yang lebih rendah, ini bisa menjadi indikasi bahwa pasar akan segera berbalik. Dalam kasus ini, MACD menunjukkan bahwa meskipun harga naik, momentumnya menurun, yang dapat mengindikasikan potensi pullback atau perubahan tren.

    Trader juga menggunakan crossover antara garis MACD dan garis sinyalnya sebagai sinyal beli atau jual. Jika garis MACD memotong di atas garis sinyal, ini bisa dianggap sebagai sinyal beli. Sebaliknya, jika garis MACD memotong di bawah garis sinyal, itu bisa dianggap sebagai sinyal jual.

    MACD sering dikombinasikan dengan RSI karena keduanya mengukur momentum dengan mempertimbangkan berbagai faktor, memberikan pandangan teknikal yang lebih lengkap di pasar.

    Stochastic RSI (StochRSI)

    Stochastic RSI (StochRSI).
    Stochastic RSI (StochRSI).

    Stochastic RSI adalah osilator momentum yang digunakan untuk menilai apakah suatu aset dalam kondisi overbought atau oversold. Sebagaimana namanya, indikator ini adalah turunan dari RSI, dihitung berdasarkan nilai RSI daripada data harga. Perhitungannya dilakukan dengan menerapkan rumus osilator Stochastic ke nilai RSI standar. Biasanya, nilai Stochastic RSI berkisar antara 0 dan 1 (atau 0 hingga 100).

    Karena lebih cepat dan sensitif, StochRSI dapat menghasilkan banyak sinyal perdagangan yang bisa menjadi sulit untuk diinterpretasikan. Secara umum, indikator ini paling efektif ketika mendekati nilai ekstrem atas atau bawah dalam kisaran tersebut.

    Nilai StochRSI di atas 0,8 biasanya dianggap overbought, sementara di bawah 0,2 dianggap oversold. Nilai 0 menunjukkan bahwa RSI berada pada nilai terendah dalam periode yang diukur (biasanya 14). Sebaliknya, nilai 1 menunjukkan bahwa RSI berada pada nilai tertinggi dalam periode yang diukur.

    Sama seperti RSI, nilai StochRSI yang menunjukkan overbought atau oversold tidak selalu berarti bahwa harga pasti akan berbalik. Dalam kasus StochRSI, ini hanya menunjukkan bahwa nilai-nilai RSI (yang digunakan untuk menghitung StochRSI) berada di dekat nilai ekstrem saat ini. Harus diingat bahwa StochRSI lebih sensitif daripada RSI, dan oleh karena itu, dapat menghasilkan lebih banyak sinyal yang salah atau menyesatkan.

    Bollinger Bands (BB)

    Bollinger Bands (BB).
    Bollinger Bands (BB).

    Bollinger Bands digunakan untuk mengukur volatilitas pasar dan kondisi overbought atau oversold dalam analisis teknikal. Indikator ini terdiri dari tiga garis, yaitu SMA (band tengah), band atas, dan band bawah. Pengaturannya dapat beragam, tetapi umumnya band atas dan bawah dihitung berdasarkan penambahan dan pengurangan standar deviasi dari nilai band tengah. Saat volatilitas meningkat atau menurun, jarak antara band-band tersebut juga mengikuti.

    Secara umum, semakin dekat harga ke band atas, semakin dekat aset ke kondisi overbought. Sebaliknya, semakin dekat harga ke band bawah, semakin dekat aset ke kondisi oversold. Harga biasanya akan tetap bergerak dalam kisaran band, namun pada kesempatan tertentu, harga dapat menembus di atas atau di bawahnya. Meskipun ini bukanlah sinyal perdagangan, peristiwa tersebut dapat berfungsi sebagai indikasi kondisi pasar yang ekstrem.

    Konsep penting lain dalam Bollinger Bands adalah “squeeze”, yang merujuk pada periode volatilitas rendah di mana semua band sangat dekat satu sama lain. Ini dapat digunakan sebagai indikasi potensi peningkatan volatilitas di masa depan. Sebaliknya, jika band berada jauh dari satu sama lain, itu bisa menjadi indikasi periode penurunan volatilitas.

    Penutup

    Meskipun indikator memberikan data yang penting, interpretasinya tetap subjektif. Oleh karena itu, selalu bijaksana untuk mempertimbangkan apakah bias pribadi Anda memengaruhi keputusan perdagangan Anda. Apa yang mungkin menjadi sinyal beli atau jual bagi satu trader bisa menjadi gangguan pasar bagi trader lainnya.

    Seperti halnya dengan banyak teknik analisis pasar, satu indikator berfungsi paling baik ketika digunakan bersama dengan indikator lain atau bahkan metode analisis lainnya seperti analisis fundamental (FA).

    Cara terbaik untuk memahami analisis teknikal (TA) adalah melalui praktik dan pengalaman. Jika Anda merasa tertantang, Anda dapat mencoba menerapkan pengetahuan yang baru Anda peroleh di Binance atau platform perdagangan lainnya!


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com