Tag: antidepresan

  • 5 Alasan Berat Badan Nggak Turun Meski Sudah Diet Ketat

    Jakarta

    Menurunkan berat badan tidak cukup dengan sekadar mengurangi porsi makan saja. Terkadang, berat badan bisa tidak berkurang meski sudah melakukan diet ketat. Apa penyebabnya?

    Memang, cara menurunkan berat badan tidak jauh dari yang namanya diet. Namun, ada sejumlah faktor lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan.

    Misalnya, sering stres atau kurang tidur. Meski terkesan sepele, hal-hal tersebut bisa menghambat proses penurunan berat badan.


    Lalu, apa saja penyebab berat badan tidak turun meski sudah diet? Dikutip dari Livestrong, berikut pembahasannya.

    1. Tidak Menghitung Kalori yang Dikonsumsi

    Kalori adalah salah satu aspek penting dalam proses penurunan berat badan. Jika seseorang terus menerus mengonsumsi kalori lebih dari apa yang dibutuhkan tubuh, tentu akan semakin sulit mencapai berat badan ideal.

    Untuk bisa menurunkan berat badan, seseorang perlu mencapai defisit kalori. Defisit kalori adalah kondisi ketika jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian.

    Sebagai gantinya, tubuh akan membakar timbunan lemak untuk memenuhi kebutuhan energi. Hal inilah yang kemudian berdampak terhadap penurunan berat badan.

    Namun perlu diingat, jangan mengurangi asupan kalori terlalu drastis. Mengonsumsi kurang dari 1.200-1.500 kalori harian sebenarnya dapat menghambat penurunan berat badan dan bahkan membahayakan kesehatan.

    2. Memilih Makanan yang Kurang Bergizi

    Diet bukan hanya soal jumlah makanan saja. Jenis makanan yang dikonsumsi pun harus diperhatikan.

    Gagal diet dapat disebabkan oleh asupan makanan yang kurang bergizi. Makanan seperti roti tawar, makanan ringan kemasan, olahan daging, gorengan, dan minuman bersoda sebenarnya dapat mendorong seseorang untuk mengonsumsi lebih banyak makanan pada waktu makan berikutnya.

    Sebuah studi yang dilakukan pada 2019 menemukan orang yang mengonsumsi makanan ultra proses cenderung mengonsumsi 500 kalori lebih banyak, dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi makanan tersebut. Inilah yang dapat menghambat proses penurunan berat badan dan bahkan memicu obesitas.

    3. Sering Stres

    Stres dapat memberikan dampak signifikan terhadap proses penurunan berat badan.

    Hormon kortisol yang memicu stres memiliki efek untuk meningkatkan keinginan makan. Alhasil, orang yang sedang stres cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan, khususnya makanan yang tinggi gula, karbohidrat, dan lemak tidak sehat. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah ’emotional eating’ atau ‘stress eating’.

    4. Kurang Tidur

    Kualitas tidur dan berat badan memiliki kaitan yang sangat erat. Sebuah ulasan penelitian yang dipublikasikan di Nutrition Reviews Universitas Oxford menemukan tidur malam kurang dari tujuh hingga delapan jam dikaitkan dengan risiko obesitas yang lebih tinggi.

    Hal ini dikarenakan kurang tidur meningkatkan jumlah hormon penambah nafsu makan. Akibatnya, orang yang kurang tidur akan memiliki keinginan untuk makan lebih banyak keesokan harinya.

    5. Memiliki Kondisi Medis Tertentu

    Jika berat badan tak kunjung turun meski sudah diet dan berolahraga, maka ada baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, ini bisa saja disebabkan oleh kondisi medis yang selama ini tidak disadari, seperti gangguan tiroid, sindrom Cushing, atau sindrom Prader-Will.

    Konsumsi obatan-obatan tertentu, seperti antidepresan, obat antikejang, obat diabetes, dan beta-blocker juga dapat membuat penurunan berat badan menjadi lebih sulit.

    (ath/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Konsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak Optimal


    Jakarta

    Sama-sama memiliki efek yang kuat, obat dan kopi sebaiknya tidak diminum secara bersamaan. Terutama beberapa jenis obat dengan kandungan tertentu.

    Bagi banyak orang, hari belum benar-benar dimulai tanpa minum secangkir kopi. Aroma khas dan rasanya yang enak memberi suntikan energi yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas. Namun di balik kenikmatan itu, kopi yang mengandung kafein bisa menimbulkan masalah jika dikonsumsi bersamaan dengan obat tertentu.

    Kafein memang memberikan efek menyegarkan, tetapi juga bisa berdampak pada beberapa jenis obat dan bisa memengaruhi cara kerja obat di dalam tubuh. Dilansir dari The Conversation (09/06), dari obat flu hingga antidepresan, inilah beberapa jenis obat yang sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan kopi.


    1. Obat Flu

    Konsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak OptimalKonsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak Optimal Foto: Ilustrasi iStock

    Sebagian besar obat flu mengandung pseudoefedrin, zat dekongestan yang bekerja sebagai stimulan. Sama seperti kafein, zat ini mempercepat kerja sistem saraf pusat. Bila dikonsumsi bersamaan, efek stimulan bisa berlipat ganda dan menimbulkan keluhan seperti gelisah, jantung berdebar, sulit tidur, bahkan sakit kepala.

    Beberapa produk obat flu bahkan sudah mengandung tambahan kafein di dalamnya. Kombinasi ini berpotensi meningkatkan gula darah dan suhu tubuh, hal yang patut diwaspadai khususnya bagi penderita diabetes.

    Kombinasi serupa juga bisa terjadi jika kafein dikonsumsi bersamaan dengan obat ADHD seperti amfetamin, atau obat asma seperti teofilin. Efeknya dapat berupa gangguan tidur hingga denyut jantung yang lebih cepat dari normal.

    2. Obat Tiroid

    Konsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak OptimalKonsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak Optimal Foto: Ilustrasi iStock

    Obat tiroid yang paling sering diresepkan yaitu levotiroksin, sangat bergantung pada waktu konsumsi agar dapat bekerja dengan baik di tubuh. Jika diminum terlalu dekat dengan waktu minum kopi, kemampuan tubuh dalam menyerap obat ini bisa berkurang hingga 50%.

    Kandungan kafein dalam kopi dapat mempercepat pergerakan makanan di saluran pencernaan, sehingga tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk menyerap obat secara maksimal. Dalam beberapa kasus, kafein juga dapat berikatan langsung dengan zat aktif obat di lambung, yang membuat penyerapannya menjadi lebih sulit.

    Jika penyerapan terganggu, gejala hipotiroid seperti kelelahan, peningkatan berat badan, dan sembelit bisa muncul kembali, meskipun obat telah dikonsumsi secara rutin. Oleh karena itu, sebaiknya kopi dikonsumsi paling tidak 30-60 menit setelah minum levotiroksin.

    Aturan serupa juga berlaku untuk obat osteoporosis dari golongan bifosfonat, seperti alendronat dan risedronat, yang hanya akan terserap dengan baik jika diminum saat perut kosong.

    3. Obat Antidepresan

    Konsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak OptimalKonsumsi Kopi Saat Minum Obat? Hati-hati Efek Obat Jadi Tak Optimal Foto: Ilustrasi iStock

    Kafein dalam kopi bisa memengaruhi cara kerja obat-obatan untuk kesehatan mental. Misalnya obat golongan SSRI seperti sertraline dan citalopram, keduanya kurang efektif bila diminum berdekatan dengan waktu ngopi. Karena kafein menghambat penyerapannya di lambung.

    Untuk antidepresan jenis lama seperti amitriptilin dan imipramin (golongan TCA), masalahnya berbeda. Obat ini dan kafein diproses oleh enzim yang sama di hati yaitu CYP1A2. Jika diminum bersamaan, proses pencernaannya bisa melambat sehingga meningkatkan risiko efek samping seperti jantung berdebar atau gelisah berkepanjangan.

    Begitu juga dengan Clozapine, obat untuk skizofrenia. Menurut sebuah penelitian minum 2-3 cangkir kopi dapat menaikkan kadar obat ini di darah hampir dua kali lipat, yang berisiko menyebabkan kantuk berlebihan, linglung, hingga efek samping serius.

    Cek di Halaman Selanjutnya!

    4. Obat Pereda Nyeri

    Sick young woman suffering from migraine or headache hold glass of water and painkiller medicine considering having pill, unwell millennial girl feel sad pondering taking antidepressant medication Foto: iStock

    Beberapa obat pereda nyeri bebas seperti aspirin atau parasetamol sengaja ditambahkan kafein untuk mempercepat kerja obat. Kafein mempercepat pengosongan lambung dan meningkatkan keasaman, sehingga obat lebih cepat terserap.

    Namun, percepatan ini juga berisiko menimbulkan iritasi lambung atau gangguan pencernaan, apalagi bila disertai konsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya. Meski kasus serius jarang terjadi, sebaiknya tetap berhati-hati dan batasi konsumsi kafein saat menggunakan obat ini.

    5. Obat Jantung

    Kafein bisa meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung selama beberapa jam setelah diminum. Bagi orang yang sedang mengonsumsi obat jantung atau tekanan darah tinggi, minum kopi bisa mengganggu efektivitas obat.

    Apakah itu berarti penderita penyakit jantung tidak boleh minum kopi? Tidak juga. Tapi penting untuk memantau efeknya. Jika setelah minum kopi jantung terasa berdebar atau tekanan darah naik, mungkin sudah waktunya mengurangi asupan atau memilih kopi tanpa kafein.

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com