Tag: arab

  • Raih Pribadi Rajabi untuk Menjadi Ramadhani


    Jakarta

    Pelaksanaan Salat Jumat kali ini, 10 Januari 2025, bertepatan dengan tanggal 10 Rajab 1446 Hijriah. Rajab adalah bulan ke-7 dalam kalender Hijriah. Rajab termasuk bulan haram, bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram.

    Dikutip dari buku Penunjuk Khutbah Juma’t 1444 H (Seri 132), berikut adalah teks khutbah Jumat yang mengangkat tema Raih Pribadi Rajabi untuk Menjadi Ramadhani, yang ditulis oleh KH. Dr.Surahman Hidayat, MA.

    Khutbah Jumat Bulan Rajab

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.


    الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى حَبِيبِنَا وَحَبِيبِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَقَائِدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَأَحْبَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ.

    فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    KHUTBAH I

    Jamaah Jum’at rahimakumullah,
    Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tidak terhingga. Terutama, nikmat iman dan Islam yang menjadi modal selamat bahagia.

    Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, teladan umat manusia, Nabi Muhammad saw berikut keluarga, para sahabat, dan semua pengikutnya hingga akhir zaman.

    Perjalanan waktu mengantarkan kita kepada bulan Rajab, salah satu bulan yang mulia. Rajab merupakan bulan ketujuh dalam kalender Hijriyah. Sebagai salah satu dari asyhurul hurum sudah selayaknya umat Islam memuliakan dan menghormati keagungan bulan Rajab ini.

    Ia disebut dengan bulan Rajab karena pada masa lalu bangsa Arab yarjibuuna, yakni melepaskan mata pisau dari tombaknya sebagai sebuah simbol pengharaman perang. Rajab juga terambil dari kata tarjib (ترجيب) yang bermakna pengagungan.

    Dalam Islam, bulan Rajab memiliki banyak kemuliaan. Di antara kemuliaan yang terdapat pada bulan Rajab adalah bahwa ia merupakan salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan oleh Allah dalam Alquran,

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

    “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” (QS At-Taubah: 36)

    Terkait dengan empat bulan haram tersebut, Nabi SAW menjelaskan,

    الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    “Zaman berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sebagai salah satu bulan haram, pada bulan Rajab ini siapapun dilarang untuk melakukan perbuatan haram seperti peperangan, pembunuhan, kejahatan, dan semua dosa. Sebaliknya, sangat dianjurkan untuk melakukan berbagai ketaatan. Di antaranya dengan memperbanyak puasa. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

    Keutamaan lain dari bulan Rajab adalah bahwa ia merupakan bulan terjadinya peristiwa Isra dan Mi’raj. Tepatnya pada malam 27 dari bulan Rajab. Pada saat itulah Nabi SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu ke Sidratul Muntaha. Allah berfirman:

    سُبْحَانَ الَّذِى أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

    Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Al-Isra: 1).

    Peristiwa Isra dan Mi’raj berisi ibrah yang menguatkan iman akan kekuasaan Allah SWT serta berbuah hadiah Rabbani berupa shalat lima waktu yang menjadi sarana komunikasi dan penghubung antara hamba dengan Tuhan.

    Keutamaan lain dari bulan Rajab adalah bahwa ia merupakan bulan tobat dan meminta ampun kepada Allah SWT. Hal itu dapat dipahami dari firman Allah dalam surat at-Taubah di atas yang berbunyi, “Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” Menurut Dr Ali al-Asyi, ini adalah seruan secara tidak langsung untuk memperbaharui tobat.

    وقال ذو النون المصري – رحمه الله – : رجب للترك الآفات، وشعبان لاستعمال الطاعات، ورمضان لانتظار الكرامات. فمن لم يترك الآفات، ولم يستعمل الطاعات، ولم ينتظر الكرامات، فهو من أهل الترهات

    Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata, “Rajab adalah bulan meninggalkan dosa, Sya’ban bulan melaksanakan berbagai ketaatan, Ramadhan adalah bulan penantian berbagai karomah. Siapa yang tidak meninggalkan dosa, tidak menunaikan ketaatan, dan tidak menantikan karomah, maka ia termasuk kalangan yang alpa (tidak berguna).”

    Keutamaan lain dari bulan Rajab adalah bahwa ia merupakan bulan persiapan menuju Ramadhan. Pasalnya, saat bulan Rajab tiba berarti Ramadhan semakin dekat. Jarak antara Ramadhan hanya dipisahkan oleh satu bulan saja, yaitu bulan Sya’ban. Maka sudah selayaknya bulan Rajab dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri secara maksimal menuju Ramadhan. Itulah yang dilakukan oleh salafunas saleh.

    Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi berkata:

    شهر رجب شهر للزرع، وشعبان شهر لسقي الزرع، ورمضان شهر حصاد الزرع.

    Artinya:

    Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Serta bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman tersebut.

    Setiap orang akan memanen apa yang ia tanam sebelumnya serta mendapatkan hasil usahanya. Maka, siapa yang tidak mau menanam, pada masa panen ia akan kecewa dan menyesal sebab tidak ada yang dihasilkan.

    Demikian sejumlah keutamaan dan kemuliaan bulan Rajab. Ia sarana persiapan menuju Ramadhan. Siapa yang menjadi pribadi rajabi dengan memuliakan bulan Rajab ini lewat berbagai amal taat dan tobat, hal itu akan mengantarnya menuju pribadi Ramadhani. Yaitu pribadi yang pada bulan Ramadhan dapat memanen berbagai amal saleh dan kebaikan. Semoga taufik dan inayah Allah membersamai kita semua.

    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ تِلَاوَتِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِينٍ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    KHUTBAH II

    الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَىٰ، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَىٰ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَآءِ، أَمَّا بَعْدُ.

    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَىٰ اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَىٰ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
    اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَسَائِرَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً.

    اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ.
    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
    عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

    (inf/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Peta Masalah Dunia Pesantren (1)



    Jakarta

    Pada masanya, pesantren adalah tonggak penting dalam dunia pendidikan dan pembentukan karakter di Nusantara. Sekarang, kita dihadapkan pada pertanyaan besar: Apakah pesantren mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan era modern tanpa kehilangan jati dirinya? Inilah titik mula dari upaya memahami dan mengatasi persoalan mendasar yang dihadapi pesantren hari ini.

    Tema utama pesantren saat ini, dan sekaligus permasalahan utamanya, adalah bagaimana institusi pendidikan ini bertransformasi dari model tradisional menuju integrasi dengan sistem global modern. Untuk membahas urusan ini lebih lanjut, kita tampaknya perlu terlebih dulu menjernihkan cara pandang kita. Salah satu yang perlu dikritisi adalah pandangan bahwa pesantren dimarginalisasi secara sengaja oleh negara. Pemikiran seperti ini mengandung bias seolah-olah pesantren sudah “mengutangi” negara dan sekarang menagih pengakuan.

    Faktanya, marginalisasi pesantren bukanlah sesuatu yang sepenuhnya disengaja. Hal ini lebih merupakan dampak dari proses transformasi peradaban menuju konstruksi modern. Kita tahu bahwa pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional yang kita pelihara hingga sekarang, tumbuh dari tradisi lokal yang khas Nusantara. Model seperti ini tidak ditemukan di belahan dunia Islam lainnya, seperti Timur Tengah, Persia, Asia Selatan, atau Afrika. Pesantren betul- betul merupakan produk budaya lokal Nusantara yang lahir dari struktur sosial, budaya, dan politik yang unik di wilayah ini.


    Sebelum era kolonial, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada tersedia. Ia menjadi pusat pembelajaran bagi berbagai lapisan masyarakat, menjadi tempat tujuan bagi siapa saja untuk mendapatkan pendidikan akademik dan intelektual. Bahkan anak-anak bangsawan dan putra raja dari seluruh Nusantara menimba ilmu di pesantren.

    Namun, ketika masyarakat tradisional Nusantara mulai bersentuhan dengan kekuatan kolonial Eropa, pesantren, bersama elemen tradisional lainnya, perlahan-lahan tergeser. Struktur sosial dan budaya tradisional digantikan oleh konstruksi modern yang diperkenalkan oleh kolonialisme. Bukan hanya pesantren yang mengalami hal ini, tetapi juga lembaga tradisional seperti keraton.

    Proses ini membuat pesantren terlihat lambat dalam beradaptasi ke dalam sistem modern. Salah satu alasannya adalah resistensi pesantren terhadap apa pun yang berasal dari kekuatan kolonial. Pada masa penjajahan, pesantren-pesantren, bersama elemen lain dari masyarakat pribumi,

    berperan aktif dalam melawan apa saja yang diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial. Gerakan seperti Taman Siswa di Yogyakarta, yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, merupakan contoh nyata perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial.

    Keraton Yogyakarta juga mengambil inisiatif serupa dengan mengirim seorang santri bernama Muhammad Darwis ke Mekkah untuk belajar modernisasi pendidikan dari Syekh Khatib al- Minangkabawi. Sepulangnya, Darwis, yang kemudian dikenal sebagai Haji Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah untuk mendorong modernisasi pendidikan dengan tetap mempertahankan konten lokal, sehingga tidak harus hanyut ke dalam konten yang disediakan oleh kolonial.
    Memahami konteks kesejarahan ini membantu kita melihat problematika pesantren sebagai bagian dari proses transformasi yang kompleks. Langkah ke depan memerlukan upaya untuk menjembatani tradisi pesantren dengan tuntutan zaman modern tanpa kehilangan akar budaya lokalnya.

    Transformasi Pesantren: Realitas dalam Konteks Globalisasi

    Salah satu ciri khas pesantren sejak masa kolonial adalah etos perlawanan terhadap sistem modern yang diperkenalkan oleh kekuatan kolonial. Meskipun perlawanan ini berlangsung lama, pada akhirnya, pesantren tidak mampu sepenuhnya menghindari dampak dominasi kekuasaan kolonial, yang memiliki sumber daya besar.

    Sekolah modern seperti Muhammadiyah, misalnya, awalnya hanya mengadopsi struktur formal pendidikan modern dengan tetap mempertahankan konten lokal yang dirancang oleh para aktivisnya. Namun, seiring waktu, sistem pendidikan Muhammadiyah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional yang bercorak modern sepenuhnya. Di sisi lain, pesantren tradisional lebih memilih untuk sepenuhnya menolak sistem pendidikan kolonial. Pada masa kakek saya, misalnya, bersekolah di sekolah Belanda adalah sesuatu yang aib. Akibatnya, kalangan pesantren tradisional tertinggal dalam pendidikan formal.

    Hingga 1945, anak-anak pesantren tradisional hampir tidak ada yang bersekolah. Sementara itu, dari kalangan lain, tokoh seperti Sumitro Djojohadikusumo-ayah Presiden Prabowo-sudah meraih gelar doktor ekonomi dari universitas di Amerika. Kondisi ini menciptakan kesenjangan besar dalam pendidikan formal antara pesantren dan kelompok masyarakat lainnya.

    Baru pada tahun 1960-an, anak-anak dari pesantren tradisional mulai mengenyam pendidikan formal dengan susah payah. Namun, mereka tetap menghadapi kendala, termasuk warisan mentalitas yang sulit sepenuhnya beradaptasi dengan sistem modern. Kiai Ali Maksum,

    misalnya, seorang intelektual pesantren terkemuka, mengaku tidak kerasan mengajar di IAIN, semata-mata karena setiap hari harus berangkat ke kampus mengenakan celana panjang.

    Kalangan pesantren baru mulai menghasilkan lulusan sarjana pada pertengahan tahun 1970-an- sarjana lulusan IAIN. Sebelumnya, hanya sedikit sekali orang NU yang mencapai gelar sarjana, sementara kalangan modernis sudah lebih dahulu menempati ruang akademik dan intelektual.

    Ini beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi bagian dari perspektif untuk memahami masalah pesantren dengan lebih jernih. Kita harus berhati-hati agar tidak salah arah, karena jika kita tidak jernih dalam merumuskan masalah dan salah arah ini terus berlanjut, penyelesaiannya akan semakin jauh dari akar masalah. Hanya karena kita bangga terhadap pesantren, tidak berarti bahwa pesantren harus otomatis dianggap sebagai solusi alternatif dalam segala hal. Dunia sudah berubah, dan kita berada di era globalisasi. Tidak ada pilihan lain selain mengintegrasikan diri ke dalam sistem global. Kita melihat Arab Saudi melakukannya. Mereka menyadari bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyesuaikan diri dengan sistem global. Pesantren pun perlu memikirkan posisinya dalam konteks global ini.

    Transformasi dari model tradisional menuju integrasi ke dalam sistem global yang modern inilah akar dari banyak keluhan yang kita dengar, yang kemudian melahirkan tuntutan-tuntutan afirmasi dan pengakuan. Kita mendengar keluhan bahwa lulusan pesantren sulit diterima di perguruan tinggi negeri. Lalu muncul Undang-Undang Pesantren, sebuah produk yang dipicu oleh desakan pesantren untuk meminta afirmasi, menuntut pengakuan, dan menagih janji pemerintah. Sampai-sampai ada kebijakan penerimaan mahasiswa fakultas kedokteran tanpa tes bagi hafiz Quran. Ini jelas tidak relevan, dan hal-hal semacam ini lahir dari cara berpikir yang tidak menyentuh akar masalah-pada kekeliruan membaca peta masalah.

    Persoalannya bukan pada afirmasi, melainkan pada bagaimana sistem tradisional dapat diintegrasikan ke dalam sistem modern. Suka atau tidak, kita harus memikirkan bagaimana pesantren bisa menyelaraskan praktik tradisionalnya dengan tuntutan sistem pendidikan modern. Ini mencakup tidak hanya sistem pendidikan nasional, tetapi juga sistem global yang semakin terstandar dengan ukuran-ukuran internasional, seperti World University Rankings (WUR) dan lain sebagainya. Globalisasi, bagaimanapun, telah membawa sistem pendidikan ke arah yang mengutamakan standar global, bukan sekadar relevansi lokal.

    Transformasi pesantren ke dalam sistem modern tentu membawa konsekuensi logis: ada hal-hal yang bisa didapatkan sebagai insentif integrasi, namun ada juga yang harus dilepaskan atau direlakan hilang. Tantangan utamanya adalah menentukan mana yang harus dipertahankan, dan bagaimana pesantren bisa berintegrasi dengan sistem modern tanpa kehilangan jati diri dan memperoleh manfaat darinya.

    Masalah utama pesantren hari ini adalah bagaimana proses transformasi itu dilakukan. Ada masalah-masalah sampingan, misalnya represi politik di masa Orde Baru. Meski itu pernah terjadi, masalah utamanya tetap pada integrasi sistem pendidikan pesantren ke dalam sistem global. Ini memerlukan visi yang jelas dan pendekatan yang strategis, agar pesantren dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya dalam menjawab tantangan zaman.

    KH. Yahya Cholil Staquf
    Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Isra Miraj Menggoda Iman



    Jakarta

    Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam merubah dunia dan membangun peradaban umat manusia, selain karena taufiq (pertolongan) Allah, juga tidak lepas di antaranya karena adanya peristiwa Isra dan Mikraj.

    Peristiwa yang spektakuler ini diabadikan Allah SWT di 2 tempat di dalam Al Qur’an.

    Pertama firman Allah SWT:


    سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Israa’ [17]: 1).

    Yang kedua, di dalam QS An Najm [53] ayat 13 hingga 18.

    Kemudian diperkuat oleh hadits-hadits Nabi SAW. Di dalam kitab Shahih Al Bukhari, misalnya, terdapat 20 riwayat dari 6 orang sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim, terdapat 18 riwayat dari 7 orang sahabat radhiyallahu ‘anhum [Lihat: As Sirah An Nabawiyah fi Dhau Al Mashaadir Al Ashliyyah, Dr Mahdi Rizqullah, hal. 233-234, Markaz Al Malik Faishal, Riyadh, KSA, Cet. Ke-1, 1992, ]. Itu artinya peristiwa ini harus selalu diingat, maka setiap tahun selalu ada Peringatan Isra dan Mikraj.

    Isra dan Mikraj adalah Mukjizat yang Menggoda Iman

    Isra dan Mikraj merupakan mukjizat nabi akhir zaman, Rasulullah SAW sekaligus sebagai bukti kekuasaan Allah SWT dan kenabian Muhammad SAW.

    Isra’ adalah perjalanan di malam hari dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Sedang Mikraj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha (tempat yang paling tinggi di atas langit yang ke-7), keberadaannya dekat dengan surga.

    Maka, tepat sekali jika ayat tersebut dimulai dengan tasbih, “Maha Suci Allah”. Sebab, jika hanya mengandalkan nalar dan kemampuan akal dalam menelaah peristiwa agung ini, maka manusia pasti akan terbentur pada keterbatasan, tidak akan pernah mampu menembus dimensi Qudrah Ilahiyah (Kekuasaan Allah). Tidak boleh juga hanya sekedar untuk Tamattu’ ‘Aqli, kenikmatan intelektual semata. Karena itu, Isra dan Mikraj menggoda keimanan setiap insan.

    Bagaimana mungkin dan masuk akal, masyarakat Quraisy Mekkah biasa melakukan perjalanan ke negeri Syam, pergi pulang memakan waktu selama 2 bulan, sementara Nabi Muhammad SAW melakukannya hanya dalam semalam.

    Tepatnya, berangkat dari Mekkah dari bakda Isya’ dan pulang balik ke Mekkah lagi sebelum subuh. Maka, diriwayatkan ada segelintir orang Islam yang lemah imannya, murtad setelah mendengar peristiwa Isra dan Mikraj.[Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, XVII hal. 284, hadits no. 4710.].

    Jadi, benar-benar, peristiwa Isra dan Mikraj adalah Ikhtibar Imani, menggoda dan menguji iman. Sehingga kalau seseorang membaca peristiwa yang menakjubkan ini hanya dengan bacaan biasa, maka pasti akan tergoda imannya dan tergelincir untuk mengingkarinya.

    Namun, jika membacanya dengan Qiro’atul Iman, bacaan keimanan, maka akan mempercayainya. Yakni, iman kepada keMahaKuasa-an Allah yang meng-Isra dan Mikraj-kan Rasul-Nya. Iman kepada “Kun Fa yakun”-Nya. Yaitu Jika Allah berfirman, Jadilah maka pasti akan terjadi. Mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Besar dan Agung. Termasuk iman kepada hal-hal yang ghaib.

    “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya …”.

    Untuk itu, setiap kali kita melihat sesuatu yang menakjubkan dan mengagumkan, disunnahkan mengucapkan, “Subhanallah”. Penyebutan “.. memperjalankan hamba-Nya” dalam ayat di atas, menunjukkan pemuliaan dan penghormatan pada Rasulullah SAW, bahwa beliau adalah hamba Allah yang mendapatkan derajat dan posisi istimewa di sisi-Nya. Namun, posisi kehambaannya tidak sampai melebur dengan posisi ketuhanan seperti keyakinan para pemeluk agama Kristen pada nabi Isa AS.

    Penyebutan “hamba-Nya”, menurut Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, juga menunjukkan bahwa beliau di-Isra’-kan dengan ruh dan jasad dalam keadaan bangun dengan mengendarai Buraq, bukan dalam mimpi dan dalam keadaan tidur -seperti pendapat sebagian orang- [ At Tafsir Al Munir, XV/16.].

    Dalam kajian tafsir Sayyid Quthb rahimahullah, bahwa rihlah (perjalanan) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah rihlah pilihan Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Perjalanan ini menghubungkan akidah-akidah tauhid yang besar sejak nabi Ibrahim dan Ismail AS sampai nabi Muhammad SAW. Serta menghubungkan tempat-tempat suci bagi agama-agama samawi.

    Rekreasi spiritual ini sepertinya ingin memaklumatkan pewarisan Rasul terakhir terhadap tempat-tempat suci para rasul sebelumnya. Dan bahwa tempat-tempat suci itu tercakup dalam risalah beliau SAW sehingga hubungan keduanya sangat erat sekali. Hal ini menunjukkan betapa perjalanan monumental itu telah menembus dimensi zaman dan tempat dan menyiratkan makna-makna yang lebih luas dari sekedar makna yang tertangkap pada pandangan pertama [ Fi Zhilal Al Qur’an, IV/2212).].

    Sebagian ulama, menyebut Rihlah (perjalanan) Isra dan Mikraj adalah Rihlatu’t Tasyrif, perjalanan penghargaan dan pemuliaan, sehingga Nabi Muhammad SAW hanya duduk manis saja, seluruh akomodasi dan transportasi telah disiapkan oleh Dzat Yang Memuliakannya, Allah SWT. Hal ini sangatlah kontras dengan peristiwa hijrah Nabi SAW yang merupakan Rihlatu’t Taklif, perjalanan perjuangan. Sehingga beliau SAW harus membuat planning (perencanaan), menyusun strategi dan melibatkan banyak SDM.

    Padahal, saat hijrah itu ada ancaman, Nabi akan dihabisi alias dibunuh, yang harusnya lebih membutuhkan kendaraan super cepat seperti Buraq, tetapi fasilitas ini tidak diberikan oleh Allah SWT. Hal ini memberi pelajaran penting kepada kita, bahwa dalam berjuang membuat perubahan yang lebih baik, kita tidak boleh duduk manis, melainkan harus mengerahkan semua daya upaya kita dengan melibatkan semua elemen umat dan bangsa.

    Baitul Maqdis di Palestina Adalah Bumi yang Diberkahi

    Selanjutnya Allah SWT, dalam ayat di atas, menyifati Baitul Maqdis, bahwa ia “yang telah Kami berkahi sekelilingnya”. Al Barakah dalam bahasa Arab bermakna tumbuh dan berkembang dalam kebaikan. Menurut Imam Al Ashfihani, Al Barakah secara syar’i adalah “tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu” [ Mufradaat Alfaazh Al Qur’an hal. 119.].

    Keberkahan Baitul Maqdis di Palestina mencakup 2 (dua) hal: Al Barakah Al Hissiyah (keberkahan material) dan Al Barakah Al Ma’nawiyah (immaterial/non fisik).

    Termasuk keberkahan material adalah kesuburan tanahnya sehingga banyak ditumbuhi pepohonan, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, khususnya zaitun. Dialiri banyak sungai dan airnya tawar dengan pegunungan yang menambah keindahan alamnya. Di samping letaknya yang strategis dan menjadi jantung negeri-negeri Islam: karena berbatasan dengan Lebanon, Suriah, Yordania, Teluk Aqabah dan Sinai, Mesir.

    Ketika menjelaskan makna “yang telah Kami berkahi sekelilingnya”, Imam Ibnu Katsir mengatakan, “yakni dengan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan” [ Tafsir Ibnu Katsir, III/234.]. Sementara Ibnu’l Jauzi berkomentar, “Sesungguhnya Allah mengalirkan sungai-sungai di sekelilingnya dan menumbuhkan buah-buahan. Sebab ia adalah tempat tinggal para nabi dan tempat turunnya para malaikat” [ Zaadu’l Masiir fii ‘Ilmi’t Tafsir, Ibnu’l Jauzi, V/5.].

    Sedangkan keberkahan ma’nawiyah (immaterial) yang Allah anugerahkan pada bumi Palestina; Baitul Maqdis dan sekelilingnya adalah:

    Pertama: Bumi Palestina adalah tempat diutusnya para nabi dan tempat turunnya para malaikat yang membentangkan sayap-sayapnya di atas negeri Syam, yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha [Lihat: HR Tirmidzi, no. 3954, Ahmad, V/184, Ath Thabrani di Al Mu’jam Al Kabir, no. 4933, dan Al Hakim dalam Al Mustadrak, no. 2854 dan ia berkomentar, “Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim.

    Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaaid, X/60 berkata, “Ath Thabrani meriwayatkannya dan para perawinya adalah perawi (hadits) shahih)”]. Seperti nabi Dawud, Sulaiman dan Isa AS, mereka tumbuh dan dewasa di bumi Palestina. Nabi Ibrahim, Luth dan Musa AS, mereka berhijrah ke bumi yang diberkahi ini. Allah SWT berfirman, “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia” (QS Al Anbiyaa’ [21]: 71).

    Kedua: Bumi Palestina, tempat dikuburnya para nabi. Seperti nabi Ibrahim, Ishaq, Yusuf, Ya’qub dan Musa AS.

    Ketiga: Bumi Palestina adalah bumi Padang Mahsyar, tempat pertanggungjawaban dan penghisaban amal perbuatan manusia sebagaimana disebut dalam hadits [Lihat: HR Imam Ahmad dalam “Musnad”nya, VI/463 dan Ibnu Majah dalam “Sunan”nya, I/429.].

    Dan apa yang terjadi sekarang, problematika Palestina telah menjadi Qadhiyyah Insaniyyah ‘Alamiyyah, problematika kemanusiaan internasional sehingga dimana-mana, di seluruh dunia menyuarakan Free Palestine, sesungguhnya hal ini juga merupakan bagian dari cipratan keberkahan tersebut.

    Masihkah tergoda iman kita untuk tidak mengimani Isra dan Mikraj yang merupakan tanda kekuasaan Allah, Ilahi Rabbi?!

    Bekasi, 27 Rajab 1446 H / 27 Januari 2025 M.

    Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A

    Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta, Pimpinan Pesantren YAPIDH Bekasi

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kedaulatan



    Jakarta

    Kedaulatan berasal dari bahasa Arab yaitu “daulah” yang artinya kekuasaan tertinggi, yang artinya adalah kekuasaan yang tertinggi untuk membuat UU dan melaksanakannya. Sedangkan kedaulatan rakyat berarti pemerintah mendapatkan mandatnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam UU 1945 amandemen tentang Wakil Rakyat dan Presiden dipilih secara langsung, itulah yang diharapkan sebagai kedaulatan memilih di tangan rakyat.

    Perlu diketahui bahwa berdasarkan data LIPI pada Pemilu 2019, sebanyak 47,4 persen responden membenarkan adanya politik uang dan 46,7 persen responden menganggap hal wajar. Sementara hasil kajian KPK terkait politik uang, sebanyak 72 persen responden pemilih menerima politik uang dan 82 persen di antaranya perempuan dengan rentang usia di atas 35 tahun.

    Penulis memperkirakan pada saat pemilu legislatif dan pemilu presiden yang konon banyak pihak mengatakan pelaksanaan pemilu yang paling brutal. Artinya, politik uang merupakan unsur dominan. Oleh sebab itu, di mana letak kedaulatan rakyat?


    Siapa pun yang ingin menjadi wakil rakyat maupun kepala daerah, maka bersiaplah dengan dana yang cukup besar. Maka dalam praktek kontestasi ini muncul istilah “Bandar” yang memberikan sejumlah dana untuk kemenangan wakil rakyat dan kepala daerah.

    Di dalam Al-Qur’an, musyawarah menjadi indikator terpenting yang menunjukkan kualitas keimanan pada suatu masyarakat. Musyawarah juga disandingkan sejajar dengan shalat dan infak. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah asy-Syura ayat 38 yang terjemahannya, “(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

    Makna ayat di atas adalah: Menerangkan bahwa orang-orang yang menyambut baik panggilan Allah kepada agama-Nya seperti mengesakan dan menyucikan Dzat-Nya dari penyembahan selain Dia, mendirikan salat fardu pada waktunya dengan sempurna untuk membersihkan hati dari iktikad batil dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, selalu bermusyawarah untuk menentukan sikap di dalam menghadapi hal-hal yang pelik dan penting, kesemuanya akan mendapatkan kesenangan yang kekal di akhirat.

    Musyawarah merupakan syarat utama untuk membangun manusia yang lebih baik dalam tindakan apa pun yang dilakukannya. Selain itu, musyawarah merupakan sebuah alat yang sangat penting untuk melipatgandakan potensi dan kemampuan yang dimiliki sebuah negara, komunitas maupun organisasi. Adapun hasil musyawarah sebagai berikut:

    1. Meningkatkan kualitas pemikiran.
    2. Meningkatkan sikap saling tolong menolong dalam masyarakat.

    Sesuatu yang dipikirkan bersama melalui musyawarah tentu hasilnya lebih baik dari pemikiran seseorang. Masalah timbul ketika seorang pemimpin “merasa” bahwa pemikirannya yang paling benar, maka proses musyawarah akan menghadapi jalan buntu. Tipe pemimpin yang seperti ini banyak kita jumpai di negeri ini, mereka merasa sebagai pemimpin itu segalanya. Ingatlah apa saja yang dilakukan hendaknya dipertanggungjawabkan. Dengan bermusyawarah akan timbul rasa saling lebih mengenal di antara mereka dan muncullah sikap saling tolong menolong.

    Di negeri tercinta ini makin sulit kita temukan sikap saling tolong menolong, yang ada menang-menangan. Ingatlah bahwa demokrasi saat ini belum cocok dijalankan, terbukti tujuan kedaulatan di tangan rakyat beralih kepada kedaulatan di tangan pemilik modal.

    Ada satu hal yang perlu menjadi bahan pemikiran, apakah dengan sistem demokrasi saat ini masihkah sesuai dengan sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan?

    Tolong dipikirkan dengan hati yang bening dan jawablah, apakah kita konsisten terhadap sila ke-empat ataukah kita sudah jauh meninggalkan ?

    Oleh sebab itu, Lembaga Permusyaratan yang telah terbentuk hendaknya mempunyai kewenangan dalam memecahkan masalah kenegaraan melalui musyawarah. Lembaga ini tidak boleh berhenti bermusyawarah sampai masalah yang mereka bahas menemukan jalan keluarnya. Kadangkala dalam musyawarah konsensus tidak dapat dicapai. Adapun jalan tengahnya adalah, pendapat yang diambil merupakan pendapat yang paling banyak mendapat dukungan dari peserta musyawarah. Rasulullah SAW telah menetapkan bahwa pendapat mayoritas setara dengan hukum yang dicapai lewat konsensus.

    Di dalam Islam yang utama dalam memecahkan persoalan adalah melalui musyawarah, kemudian jika tidak ketemu kesepakatan maka dipilihlah pendapat yang didukung mayoritas bukan cara voting satu-satunya. Untuk itulah penulis berpendapat kembalilah kepada konstitusi yang dapat menjadikan negeri yang berdaulat, bukan negeri yang “dijajah” sekelompok pemodal. Kami rindu dengan sila ke-empat. Wujudkanlah sila ke-lima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat negeri ini. Dalam hal ini diperlukan sikap penguasa untuk bertindak adil khususnya dalam pengelolaan kekayaan negara. Sikap adil ini akan timbul jika berketuhanan, tanpa itu rasanya agak sulit untuk bisa adil.

    Ya Allah, berilah cahaya-Mu agar para pemimpin kami selalu mengingat-Mu dan beribadah dengan benar. Bersikap adil dan melayani, meluruskan agar negeri ini benar-benar berdaulat.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kota Kuno Dumat al-Jandal Jadi Saksi Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad



    Jakarta

    Sebuah kota kuno di jantung Al-Jouf, Arab Saudi menjadi saksi penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dan perjuangan kaum muslimin. Kota itu bernama Dumat al-Jandal atau dulunya disebut Adumato.

    Seorang arkeolog Saudi, Hussain Al-Khalifah, mengatakan peradaban dan kerajaan telah berkembang di Dumat al-Jandal selama ribuan tahun. Wilayah ini diyakini telah dihuni sekitar milenium kedua sebelum masehi.

    “Saat itu sedang musim hujan dengan sungai dan hutan, kemudian berubah menjadi sabana, kemudian memasuki musim dengan sedikit hujan, kemudian pemukiman berpindah ke lokasi lain di dekatnya seperti situs Al-Jamal dan situs Al-Rajajil,” jelas Hussain dilansir Arab News.


    “Setelah itu, Jazirah Arab berubah menjadi gurun seperti yang kita lihat saat ini. Pada zaman dahulu, manusia berpindah ke tempat-tempat yang memiliki tanah dan sumber air yang subur. Oleh karena itu, Dumat Al-Jandal merupakan salah satu kota tertua yang dihuni sekitar milenium kedua SM,” lanjut arkeolog dengan pengalaman lebih dari 30 tahun itu.

    Dumat al-Jandal, kata Hussain, merupakan salah satu titik penting di jalur perdagangan bagi orang-orang yang datang dari selatan Jazirah Arab. Hal tersebut menjadikan wilayah ini kuat dan kaya.

    Ada beberapa kerajaan dan kekaisaran yang mencoba menguasai Dumat al-Jandal. Salah satunya bangsa Asyur. Akan tetapi, pada waktu yang sama muncul Kerajaan Qedar Arab yang tidak hanya menghalau bangsa Asyur tapi juga memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencapai Palestina.

    Dumat al-Jandal sudah ada jauh sebelum era Islam. Pada saat Islam datang, wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Diceritakan dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb karya Abu Bakar Jabir al-Jaziri yang diterjemahkan Iman Firdaus, pada tahun kelima Hijriah, Nabi Muhammad SAW mendengar berita sejumlah musyrikin di Dumat al-Jandal melakukan pencurian, perampokan, dan sering mengganggu kafilah di sana.

    Nabi SAW lantas ingin memberi pelajaran kepada mereka agar daerah itu jauh dari kejahatan dan kezaliman. Selain itu, beliau ingin menggentarkan bangsa Romawi dan penduduk sekitarnya supaya tidak berpikir memerangi beliau dan tak lupa beliau juga ingin berdakwah di sana.

    Rasulullah SAW bertolak ke Dumat al-Jandal bersama seribu pasukan. Setibanya di negeri tersebut, beliau tak menemukan siapa-siapa. Ternyata para musyrikin itu telah kabur dan bercerai-berai karena ketakutan saat mendengar kabar Nabi Muhammad SAW menuju ke sana.

    Nabi Muhammad SAW menginap di Dumat al-Jandal selama beberapa hari. Beliau mengutus pasukannya ke berbagai tempat untuk mencari kaum musyrikin. Namun, nihil. Pasukan Nabi SAW hanya menemukan beberapa ekor unta dan kambing.

    Rasulullah SAW dan kaum muslimin akhirnya kembali ke Madinah tanpa peperangan.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Keterlenaan



    Jakarta

    Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa kehidupan dunia dijadikan layaknya perhiasan bagi orang-orang kafir sehingga mereka merasa senang akan hal tersebut dan mereka dibiarkan menghinakan kehidupan orang-orang bertakwa dan beriman kepada Allah SWT. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara. Sebab pada hari kiamat nanti, giliran orang beriman yang akan membalasnya kemudian dengan ditempatkannya mereka pada tempat yang lebih tinggi dari orang-orang kafir.

    Kondisi di atas sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 212 yang terjemahannya, “Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kufur dan mereka (terus) menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”

    Inti ayat di atas adalah : Kehidupan dunia dijadikan oleh Allah SWT. terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir Mekah. Mereka sangat mencintai dunia dan berlomba-lomba mencari kesenangan dunia sehingga lupa kepada akhirat, dan mereka terus-menerus menghina orang-orang yang beriman, seperti Bilal, suwahaib, dan lainnya karena kefakiran mereka. Mereka terus saja berbuat demikian padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Mereka berada di surga sedangkan orang kafir itu berada di neraka. Dan Allah SWT. memberi rezeki baik di dunia maupun akhirat kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.


    Godaan kehidupan dunia itu melenakan, oleh karenanya waspada akan lebih baik. Dikisahkan ada keluarga yang tersesat di suatu daerah terpencil. Mereka tidak mempunyai tempat tinggal, pakaian, dan makanan. Karena nasib baik, secara tiba-tiba seorang dermawan yang kaya raya melewati daerah tersebut. Ketika mengetahui kondisi keluarga ini, kemudian ia ( dermawan ) memberi rumah yang megah. Dia penuhi semua kebutuhan keluarga itu dan berikan bantuan setiap bulannya.

    Beberapa saat kemudian keluarga ini terlena karena kenikmatan fasilitas yang ada, sehingga mereka lupa pada hati yang telah peduli serta tangan yang telah membantu dan menyelamatkan mereka. Mereka tidak mengakuinya dan dengan pongah mengingkari kebaikan sang dermawan.

    Kemudian sang dermawan mendatangi keluarga itu. Dia ketuk pintu rumah dan keluarlah kepala keluarga. Dermawan berkata, “Menurut berita yang kudengar, kalian telah lepas dari masa-masa sulit. Alhamdulillah, sekarang kalian sudah tidak membutuhkan lagi, maka kalian bisa pergi dari rumahku ini dan pergi ke rumah lain.”

    Kemudian tersadar dari keterlenaan, kepala keluarga berkata, “Mengapa tidak mengusir orang-orang yang tinggal di sekitar rumah ini juga ?”
    Sang dermawan menjawab, “Kalau seperti itu, aku pasti berbuat zalim, karena merampas hak mereka. Mereka semua telah berusaha memiliki tanah dan gigih berusaha membangun rumah, hingga bisa memiliki perabot. Lantas, atas dasar apa aku mengusir mereka dari rumah yang telah mereka bangun sendiri dan melarang mereka menikmati hasil jerih payahnya ?”

    Kisah di atas sejatinya menggambarkan kondisi umat Islam saat ini. Terlena karena kenikmatan dunia dan mengingkari kepada Sang Pemberi nikmat ( Allah SWT ) sehingga telah melupakan ibadah kepada-Nya. Sejarah telah mencatat dan bukti telah menguatkan bahwa umat Islam tidak akan bangkit dari lembah kebodohan dan jurang ketertinggalan menuju puncak kejayaan peradaban kecuali dengan kembali melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

    Ketahuilah Umar bin Khattab r.a., telah mengatakan kepada Abu Ubaida r.a. Saat memasuki pinggiran kota Syam ( Damaskus ), “Kita adalah umat yang dimuliakan bersama Islam. Jika kita berusaha menggapai kemudian dengan selain yang ditetapkan untuk kita, niscaya Allah SWT. menghinakan kita.”
    Ibnu Khaldun juga berkata, “Bangsa Arab tidak akan kuat kecuali bersatu di bawah panji agama dan pengaruh besar agama.”

    Jebakan atas kenikmatan dunia ini telah membawa banyak korban termasuk para pejabat, kepala daerah bahkan sampai level pembantu Presiden ( menteri ). Akhir-akhir ini ramai diberikan tentang kemungkinan kurang tepatnya penyaluran CSR dari Otoritas Moneter kepada anggota legislatif. Kejadian ini dengan alasan apapun telah menyakiti rakyat dan menunjukkan para pelaku yang beragama Islam telah menodai keyakinannya.

    Oleh karena itu, jadilah hamba Allah SWT. yang saleh, akan memanfaatkan segala kenikmatan dunia sebagai alat untuk memudahkannya menuju alam akhirat. Kemewahan dunia yang dimiliki tidak menyebabkannya terlena dan terpedaya dengan bujuk rayu setan. Seluruh waktunya didedikasikan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Semakin bertambah kenikmatan yang diberikan, semakin besar pula rasa syukurnya kepada-Nya. Tiada hari yang dilalui tanpa bermunajat dan bersyukur kepada Allah SWT. atas segala limpahan karunia yang diberikan kepadanya. Semoga Allah SWT. memberikan bimbingan dan keteguhan iman agar tidak tergoda dengan kemewahan dunia.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Saudi Blacklist 54 Biro Umrah Buntut Ratusan Jemaah Haji Ilegal Wafat



    Jakarta

    Otoritas Arab Saudi memasukkan 54 biro umrah ke daftar hitam usai terbukti melakukan pelanggaran selama musim haji bulan lalu. Perusahaan tersebut tersebar di negara Arab dan Islam.

    Dilansir Gulf Insider, Rabu (3/7/2024), biro umrah tersebut terdeteksi usai kematian ratusan jemaah haji yang tidak terdaftar, terutama akibat panas ekstrem yang melanda tempat-tempat suci di Arab Saudi bulan lalu.

    Surat kabar lokal Al Watan melaporkan beberapa biro umrah di Arab Saudi berkoordinasi dengan badan keamanan Saudi untuk mengungkap para calo umrah dalam dan luar negeri. Menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, para perantara ini diduga terlibat perdagangan manusia atas tuduhan mendatangkan jemaah haji ilegal yang tidak mampu membayar biaya umrah sah dengan visa kunjungan.


    Tidak ada komentar resmi dari Arab Saudi mengenai laporan ini.

    Kementerian Kesehatan Arab Saudi mencatat jumlah kematian jemaah haji 2024 mencapai 1.301 dengan 83 persen di antaranya adalah jemaah ilegal dan berjalan jauh di bawah paparan terik matahari tanpa alat pelindung.

    Mesir menjadi salah satu negara dengan jemaah haji ilegal wafat terbanyak. Sumber diplomat Arab mengatakan kepada AFP, total jemaah Mesir yang wafat mencapai 658 orang, 630 di antaranya adalah jemaah ilegal. Ini merupakan data per Kamis, 20 Juni 2024.

    Otoritas Arab Saudi dikabarkan menangguhkan penerbitan e-visa umrah B2C bagi warga Mesir. Keputusan ini menyusul banyaknya jemaah yang meninggal saat haji, mayoritas ilegal.

    Penangguhan penerbitan visa umrah khusus Mesir ini dikonfirmasi asosiasi agen perjalanan Mesir pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, warga Mesir yang memegang visa jenis ini bisa memesan paket umrah langsung melalui portal umrah daring Arab Saudi, lapor Middle East Eye akhir bulan lalu.

    Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Abdul Fattah Mashat baru-baru ini bertemu dengan perwakilan perusahaan umrah untuk membahas persiapan umrah musim mendatang. Agenda ini dilakukan usai berakhirnya musim haji 1445 H/2024 M.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Jelang Pemulangan Gelombang Kedua, Koper Jemaah Mulai Ditimbang



    Madinah

    Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai menimbang koper jemaah haji gelombang kedua yang akan memulai pemulangan lebih awal. Koper jemaah ditimbang dua hari sebelum waktu pemulangan.

    Salah satu kloter yang mulai ditimbang adalah SUB-51 asal embarkasi Surabaya. Mereka sudah berada di Madinah selama 9 hari dan menginap di Loloat Al Madinah Hotel yang berada di kawasan Markaziyah. Rencananya mereka akan pulang ke Tanah Air pada Jumat (5/7/2024).

    Suasana penimbangan koper jemaah SUB-51Suasana penimbangan koper jemaah SUB-51. Foto: Nugroho Tri Laksono/detikcom

    Kepala Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam), Daker Madinah, Ahmad Hanafi mengatakan pihaknya terus memberikan sosialisasi agar koper yang dibawa jemaah tidak melebihi batas maksimal. Selain itu, jangan sampai kelebihan muatan. Hanafi juga mengimbau agar para jemaah tidak membawa air zamzam ke dalam koper.


    “Sudah kami selalu imbau, dari sektor juga bagaimana tentang aturan-aturan contohnya berat koper tersebut maksimal 32 kg lalu tas bagasi maksimal 7 kg dan dilarang bawa zamzam,” ujar Hanafi kepada detikHikmah di Madinah, Rabu (3/7/2024).

    Pantauan detikHikmah di lokasi, sejumlah petugas mulai melakukan penimbangan pukul 12.00 WAS. Ada 181 koper yang ditimbang, tentu koper tersebut sesuai manifes jemaah di hotel.

    Ada satu koper jemaah yang beratnya hingga 37 kg dan diminta agar koper dikeluarkan isinya agar berat koper tak lebih dari 35 kg.

    Untuk diketahui, fase pemulangan jemaah gelombang kedua sudah dimulai pada Kamis (4/7/2024). Ada 22 kloter yang akan diterbangkan pulang ke Tanah Air secara bertahap dengan jumlah 8.793 orang.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Jemaah Embarkasi Palembang Awali Kepulangan Gelombang II ke Tanah Air



    Madinah

    Fase pemulangan jemaah haji gelombang kedua dari Madinah dimulai. Jemaah kloter PLM-10 Embarkasi Palembang mengawali kepulangan jemaah haji gelombang II di Madinah, Arab Saudi.

    Sebanyak 443 jemaah asal OKU Timur, Sumsel ini diberangkatkan menggunakan 11 bus menuju Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA) Madinah. Kepala Daker Madinah, Ali Machzumi melepas langsung pemulangan ke Tanah Air perdana gelombang kedua ini dari Arjawan Al Saadah sekitar pukul 23.30 WAS.

    “Kloter PLM-10 ini merupakan kloter pertama yang akan kembali ke Tanah Air setelah kurang lebih selama 9 hari berada di Madinah,” ujar Kepala Daker Madinah, Ali Machzumi, Kamis (4/7/2024).


    Kepulangan Gelombang II ke Tanah AirSuasana kepulangan jemaah gelombang II perdana ke Tanah Air, Kamis (4/7/2024). Foto: Nugroho Tri Laksono/detikcom

    Ali mengatakan tidak ada kendala dalam pemulangan perdana jemaah haji gelombang kedua ini. Rencananya Kloter PLM-10 ini dijadwalkan akan take of di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA) pada pukul 04.20 WAS.

    “Alhamdulillah kita tadi proses menurunkan jemaah dari kamar menuju lobi hotel semuanya berjalan lancar, jemaah sudah siap karena ini kepulangan, jadi saat bus-bus datang jemaah langsung masuk ke dalam bus masing-masing,” kata Ali.

    Kepulangan Gelombang II ke Tanah AirSuasana kepulangan jemaah gelombang II perdana ke Tanah Air, Kamis (4/7/2024). Foto: Nugroho Tri Laksono/detikcom

    Pantauan detikHikmah di lokasi, wajah para jemaah Kloter PLM-10 tampak sumringah, mereka sangat bersemangat saat keluar dari hotel menuju bus yang akan membawanya ke bandara. Seorang jemaah, Syalila (60) mengaku sangat senang akan kembali Tanah Air hari ini, setelah menuntaskan ibadah haji serta melaksanakan ibadah di Madinah.

    “Sangat senang Alhamdulillah, senangnya tidak ternilai, sama yang di rumah itu masih mewah di sini,” ungkap Syalila.

    Sekitar pukul 23.30 WAS, satu persatu bus yang membawa 443 jemaah ini mulai beranjak pergi. Para petugas haji yang ada di lokasi pun tak lupa melambaikan tangan sebagai ucapan selamat jalan.

    Kepulangan Gelombang II ke Tanah AirPetugas haji melambaikan tangan untuk kepulangan jemaah gelombang II perdana ke Tanah Air, Kamis (4/7/2024). Foto: Nugroho Tri Laksono/detikcom

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Pemulangan Jemaah Gelombang I Selesai, 229 Kloter Tinggalkan Makkah



    Makkah

    Pemulangan jemaah haji gelombang pertama dari Kota Makkah telah berakhir. Sebanyak 90.282 jemaah dan petugas yang tergabung dalam 229 kloter telah meninggalkan kota Makkah.

    “Alhamdulillah hari ini, hari Rabu 3 Juli 2024, kami laporkan dari kota suci Makkah al Mukaramah, jemaah haji gelombang pertama sudah kita berangkatkan seluruhnya dari kota Makkah menuju Jeddah dan juga ada yang pulang dari kota Madinah,” ungkap Kepala Daker Makkah, Khalilurrahman, Rabu (3/7/2024).

    Berdasarkan catatan PPIH Daerah Kerja (Daker) Makkah ada tiga kloter terakhir sebagai penutup fase pemulangan gelombang I dari Kota Makkah. Tiga kloter penutup kepulangan jemaah haji gelombang I tersebut adalah SUB 46, SOC 42, dan KNO 10.


    Pelepasan kepulangan kloter SUB-46 di MakkahPelepasan kepulangan kloter SUB-46 di Makkah, Rabu (3/7/2024). Foto: Dok Media Center Haji 2024

    Turut hadir melepas kepulangan jemaah kloter SUB 46, yakni Duta Besar Republik Indonesia untuk Arab Saudi Abdul Aziz Ahmad bersama pimpinan Mashariq Muhammad Amin Indragiri.

    Lanjut Khalil, berdasarkan data Sistem Informasi Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), dari 229 kloter yang masuk gelombang I sebanyak 183 di antaranya pulang melalui Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Sementara itu, 46 kloter lainnya dipulangkan melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz di Madinah.

    “Artinya untuk saat ini jemaah gelombang I kami nyatakan bersih, sudah dipulangkan dari Makkah menuju bandara untuk selanjutnya diterbangkan ke Tanah Air,” kata Khalilurrahman.

    Dia menambahkan, saat ini Daker Makkah akan berfokus untuk memfasilitasi pemberangkatan jemaah haji gelombang II menuju Madinah. “Selanjutnya, Daker Makkah akan fokus memberangkatkan jemaah haji gelombang ke-2 menuju Madinah,” imbuhnya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com