Tag: asia

  • Begini Prospek Perkembangan Aset Digital di Indonesia


    Jakarta

    Teknologi transformatif saat ini terus berkembang di Indonesia. Seperti blockchain dan sejumlah teknologi lainnya bisa membentuk masa depan keuangan Indonesia.

    Chief Investment Officer BRI Ventures Markus Liman Rahardja mengungkapkan perusahaan menjembatani kolaborasi yang bermakna antara institusi keuangan mapan dengan mitra teknologi inovatif.

    “Dengan menjembatani dua dunia ini, kami ingin mendorong pertumbuhan berkelanjutan, memperluas inklusi keuangan, dan mempercepat adopsi aset digital di Indonesia,” kata Markus dalam siaran pers, Senin (28/4/2025).


    Saat ini lebih dari 20 juta pengguna crypto, Indonesia kini menempati peringkat ketiga secara global dalam adopsi Web3-sebuah bukti nyata dari ekosistem yang berkembang pesat.

    “Kami melihat pertumbuhan signifikan dalam talenta developer, keterlibatan institusi, serta kejelasan regulasi yang bersama-sama membentuk fondasi untuk kemajuan jangka panjang. Di Coinvestasi, peran kami adalah menghubungkan ekosistem: memfasilitasi dialog, berbagi wawasan, dan menciptakan kolaborasi yang mendorong industri maju,” ujar Founder Coinvestasi Steven Suhadi.

    Lanskap tokenisasi dan blockchain di Indonesia berkembang pesat, didorong oleh populasi muda dan dinamis, kelas menengah yang terus tumbuh, industri fintech yang berkembang, serta sistem pembayaran digital yang makin kuat.

    Kombinasi ini menjadi fondasi bagi gelombang inovasi blockchain berikutnya untuk berkembang dan bertumbuh secara masif.

    Project Wira, laporan yang dikembangkan oleh BRI Ventures, Saison Capital, D3 Labs, dan Tiger Research, menyoroti potensi blockchain untuk mentransformasi ekosistem keuangan Indonesia. Sebanyak 7% populasi Indonesia saat ini telah memiliki aset digital, melampaui jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjumlah 6,4 juta orang – menunjukkan potensi adopsi yang masih sangat besar.

    Inovasi telah bermunculan dalam bentuk uang digital, komoditas, obligasi, kredit karbon, hingga properti. Laporan ini memperkirakan bahwa permintaan terhadap tokenisasi aset di Indonesia dapat mencapai US$88 miliar pada tahun 2030.

    Program Akselerator untuk Startup Real-World Asset (RWA) yang Ingin Berekspansi ke Indonesia Tokenize Indonesia yang menyasar startup Real-World Asset (RWA) secara global, hadir setelah peluncuran laporan “Project Wira – Indonesia’s Asset Tokenization Opportunity” pada November 2024 yang mengidentifikasi potensi pasar tokenisasi aset di Indonesia sebesar US$88 miliar.

    Saison Capital, lengan investasi ventura dari perusahaan keuangan Jepang Credit Saison, bersama BRI Ventures, lengan investasi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Coinvestasi, perusahaan media yang berfokus pada blockchain, secara resmi meluncurkan Tokenize Indonesia – sebuah program akselerator untuk mencari, mendanai, dan mendukung startup Real-World Asset (RWA) yang bergerak di bidang blockchain dan tokenisasi aset untuk berekspansi dan mengimplementasikan solusi mereka di Indonesia.

    Tokenize Indonesia akan berlangsung dari April hingga Agustus 2025. Startup terpilih akan menjalankan Proof of Concept (POC) dengan berbagai perusahaan ternama di Indonesia, termasuk BRI Ventures dan MDI Ventures, anak perusahaan Telkom Indonesia. Program ini akan ditutup pada Agustus dengan sesi demo day yang diselenggarakan dalam Coinfest Asia, festival crypto terbesar di Asia, pada 21-22 Agustus di Bali.

    Pengumuman peluncuran Tokenize Indonesia disampaikan dalam acara ONCHAIN 2025 – konferensi tahunan yang diprakarsai oleh Saison Capital, D3 Labs, Helix, dan Emurgo – yang mempertemukan investor, founder, dan pemimpin industri RWA dari sektor keuangan tradisional maupun fintech.

    Tahun ini, acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 500 peserta di Bangkok. “Di Saison Capital, kami percaya bahwa teknologi blockchain dan manfaat luasnya akan menjadi fondasi dalam membentuk masa depan keuangan yang inklusif, mentransformasi sistem keuangan yang ada, dan menciptakan akses yang lebih merata untuk semua. Meski kondisi pasar saat ini sedang volatil, kami tetap menjadi investor aktif dalam startup blockchain yang menyelesaikan permasalahan nyata di sektor keuangan. Kami percaya pentingnya menjalin kolaborasi dengan mitra strategis untuk memberikan dukungan nyata bagi para founder, dan kami senang menemukan mitra yang sevisi seperti BRI Ventures dan Coinvestasi,” ujar Qin En Looi, Partner di Saison Capital.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Cetak Rekor Baru Tembus Rp 1,94 MIliar!


    Jakarta

    Harga Bitcoin tembus rekor baru ke level US$ 120.000 atau Rp 1,94 miliar (kurs Rp 16.217) untuk pertama kalinya pada Senin (14/7). Capaian ini menandai tonggak sejarah bagi mata uang kripto terbesar di dunia.

    Dilansir dari CNN, Selasa (15/7/2025), Bitcoin mencapai rekor tertinggi di US$ 122.571 atau Rp 1,98 miliar, sebelum akhirnya sedikit melemah hingga perdagangan terakhir di US$ 121.953 atau Rp 1,97 miliar.

    Pada hari yang sama, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS akan membahas serangkaian Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk menyediakan industri aset digital dengan kerangka peraturan negara yang telah lama dituntut.


    Tuntutan tersebut telah mendapat sambutan dari Presiden AS Donald Trump yang menyebut dirinya presiden kripto dan mendesak para pembuat kebijakan untuk merombak aturan agar menguntungkan industri.

    “Saat ini Bitcoin sedang diuntungkan oleh sejumlah faktor pendorong (seperti) permintaan institusional yang kuat, ekspektasi kenaikan lebih lanjut dan dukungan dari Trump sebagai alasan di balik optimisme tersebut,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore.

    Sycamore bahkan memperkirakan Bitcoin akan dengan mudah mencapai level US$ 125.000. Lonjakan Bitcoin yang telah naik 29% sepanjang tahun ini telah memicu reli yang lebih luas di seluruh mata uang kripto lainnya selama beberapa sesi terakhir, bahkan di tengah tarif Trump yang bikin geger banyak negara.

    Ether, token terbesar kedua mencapai level tertinggi lebih dari lima bulan di US$ 3.059,60, sementara XRP dan Solana masing-masing naik sekitar 3%. Total nilai pasar sektor ini telah membengkak menjadi sekitar US$ 3,81 triliun, menurut data dari CoinMarketCap.

    “Yang kami temukan menarik dan kami pantau dengan saksama adalah tanda-tanda bahwa Bitcoin sekarang dipandang sebagai aset cadangan jangka panjang, tidak hanya oleh investor ritel dan institusi, tetapi bahkan beberapa bank sentral,” kata CEO OKX Singapura, Gracie Lin.

    “Kami juga melihat peningkatan partisipasi dari investor yang berbasis di Asia. Ini merupakan tanda-tanda kuat peran bitcoin dalam sistem keuangan global dan pergeseran struktural dalam cara pandangnya, yang menunjukkan bahwa ini bukan sekadar reli yang didorong oleh sensasi,” tambahnya.

    Awal bulan ini, Washington mendeklarasikan tanggal 14 Juli sebagai ‘pekan kripto’, di mana anggota Kongres akan memberikan suara untuk Genius Act, Clarity Act dan Anti-CBDC Surveillance State Act. RUU yang paling signifikan adalah Genius Act, yang akan menciptakan aturan federal untuk stablecoin.

    Tonton juga video “Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?” di sini:

    (aid/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Masih Diburu Interpol & OJK, Eks Bos Investree Malah Jadi CEO di Qatar


    Jakarta

    Mantan CEO PT Investree Radhika Jaya (Investree), Adrian Gunadi, yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) hingga red notice Interpol masih hidup bebas di Qatar. Bahkan kini namanya tercatat sebagai CEO perusahaan di negara itu.

    Adrian Gunadi diketahui menjabat sebagai CEO JTA Holding Qatar, yang merupakan bagian dari JTA International Investment Holding yang berbasis di Singapura. Dalam situs resmi perusahaan, Adrian disebut sebagai operator global dan wirausahawan berpengalaman.

    “CEO: Adrian A Gunadi. Operator global dan wirausahawan berpengalaman. Memimpin pertumbuhan teknologi keuangan di berbagai pasar Asia Tenggara,” tertulis JTA Holding dalam situs resminya, dikutip Jumat (25/7/2025).


    Sementara itu, JTA International Holding sendiri merupakan perusahaan penyedia solusi keuangan dan investasi yang didirikan pada 2010 lalu. Seiring berjalannya waktu, JTA disebut berkembang menjadi penyedia solusi investasi yang aktif dengan kemitraan dan asosiasi yang kuat dengan perusahaan dan individu yang memiliki visi yang sama.

    “Kehadiran global kami, yang terdiri dari kantor-kantor di berbagai negara, beserta jaringan mitra global kami, mendukung platform investasi JTA yang secara aktif mengidentifikasi dan mengkonvergensikan proyek-proyek investasi. Anak perusahaan kami bergerak di bidang energi, pangan, olahraga, kesehatan, pariwisata, teknologi, dan infrastruktur,” jelas perusahaan.

    “Organisasi perusahaan kami, yang didirikan di perusahaan-perusahaan dengan kepemilikan mayoritas di Qatar dan Inggris, mengawasi dana investasi, memberikan arahan bisnis, dan memastikan tata kelola yang terstruktur di seluruh grup,” tulis JTA Holding dalam situs resminya lagi.

    Sebagai informasi, dalam catatan detikcom kasus pengejaran Adrian Gunadi ini bermula pada 2023 saat Investree diterpa isu gagal bayar. Walaupun sempat membantah, namun beberapa bulan berlalu sejak awal 2023 masuk pengaduan mengenai dana nasabah yang tidak kembali.

    Lalu pada awal 2024 di tengah semakin kencangnya kredit macet perusahaan, Adrian Gunadi mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama Investree. Kala itu kredit macet perusahaan tercatat naik signifikan.

    Hingga pada Desember 2024, mantan CEO Investree ini ditetapkan sebagai tersangka dan masuk daftar pencarian orang (DPO). Tak sampai di situ, pada Februari 2025 lalu OJK kemudian mengajukan permohonan red notice terhadap Adrian kepada interpol.

    Terakhir, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (KE PVML) Agusman mengatakan pihaknya bersama penegak hukum masih terus berupaya membawa pulang Adrian ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan kasus Investree.

    “OJK terus berkoordinasi dengan Aparat Penegak Hukum dalam upaya hukum terhadap Sdr. Adrian Gunadi antara lain untuk membawa saudara Adrian ke tanah air dan pengembalian kerugian Lender,” kata Agusman dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (8/6/2025) lalu.

    (igo/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Buronan Investree Jadi CEO di Qatar, OJK Masih Usaha Bawa ke RI


    Jakarta

    Eks CEO PT Investree Radhika Jaya Adrian Gunadi yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) hingga red notice Interpol malah hidup bebas di Qatar. Bahkan kini namanya tercatat sebagai CEO perusahaan di negara itu.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan secara aktif telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum mengenai pencantuman nama Founder dan eks-CEO Investree Adrian Gunadi pada red notice terhitung sejak 7 Februari 2025. Sampai saat ini upaya pemulangan yang bersangkutan ke Indonesia masih terus dilakukan.

    “OJK terus melanjutkan koordinasi dan korespondensi dengan aparat penegak hukum dan kementerian/lembaga terkait baik di dalam maupun luar negeri untuk mendorong upaya pemulangan Sdr. AG ke Indonesia,” kata Kepala Eksekutif Pengawasan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman dalam jawaban tertulis, Kamis (7/8/2025).


    Agusman menyebut upaya pemulangan Adrian Gunadi ke Indonesia agar dilakukan proses hukum atas dugaan tindakan pidana maupun kewajiban perdata yang bersangkutan.

    Diketahui, Adrian Gunadi adalah tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana di sektor jasa keuangan. Kasus bermula pada 2023 saat Investree diterpa isu gagal bayar. Walaupun sempat membantah, namun beberapa bulan kemudian sejak itu masuk pengaduan mengenai dana nasabah yang tidak kembali.

    Lalu pada awal 2024 di tengah semakin kencangnya kredit macet perusahaan, Adrian Gunadi mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama Investree. Kala itu kredit macet perusahaan tercatat naik signifikan.

    Sampai pada Desember 2024, mantan CEO Investree ini ditetapkan sebagai tersangka dan masuk DPO. Tak sampai di situ, pada Februari 2025 lalu OJK mengajukan permohonan red notice terhadap Adrian Gunadi kepada Interpol.

    Malah Jadi CEO di Qatar

    Lama menghilang, Adrian Gunadi justru tercatat sebagai CEO perusahaan JTA Holding Qatar, yang merupakan bagian dari JTA International Investment Holding yang berbasis di Singapura. Dalam situs resmi perusahaan, ia disebut sebagai operator global dan wirausahawan berpengalaman.

    “CEO: Adrian A Gunadi. Operator global dan wirausahawan berpengalaman. Memimpin pertumbuhan teknologi keuangan di berbagai pasar Asia Tenggara,” tertulis JTA Holding dalam situs resminya.

    JTA International Investment Holding merupakan perusahaan penyedia solusi keuangan dan investasi yang didirikan pada 2010. Seiring berjalannya waktu, JTA disebut berkembang menjadi penyedia solusi investasi yang aktif dengan kemitraan dan asosiasi yang kuat dengan perusahaan dan individu yang memiliki visi yang sama.

    “Kehadiran global kami yang terdiri dari kantor-kantor di berbagai negara beserta jaringan mitra global kami mendukung platform investasi JTA yang secara aktif mengidentifikasi dan mengkonvergensikan proyek-proyek investasi. Anak perusahaan kami bergerak di bidang energi, pangan, olahraga, kesehatan, pariwisata, teknologi dan infrastruktur,” jelas perusahaan.

    Lihat juga Video: Buron Paling Dicari Pemerintah China Dibekuk Imigrasi di Bali

    (aid/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tokenisasi Aset Dunia Nyata Diramal Jadi Segmen Blockchain Paling Bernilai


    Jakarta

    Tokenisasi aset dunia nyata diproyeksi jadi salah satu segmen blockchain paling bernilai, dengan Boston Consulting Group memperkirakan pasar senilai US$16 triliun pada 2030. Di Indonesia, analis lokal memperkirakan tokenisasi RWA dapat mencapai US$88 miliar pada tahun yang sama.

    Prediksi ini didorong oleh beberapa faktor: populasi lebih dari 270 juta, lebih dari separuh penduduk masih underbanked atau unbanked, serta pertumbuhan pesat layanan keuangan digital seperti dompet elektronik dan pinjaman daring.

    Permintaan yang meningkat untuk infrastruktur digital yang terpercaya membuka peluang untuk aplikasi seperti pinjaman mikro ter-tokenisasi, kontrak berbasis emas yang terdigitalisasi, pembiayaan rantai pasok yang dapat dilacak, serta lapisan remitansi lintas batas yang semuanya sedang dieksplorasi dalam kerangka Tokenize Indonesia.


    Saat ini tengah terjadi pergeseran besar bukan melalui peluncuran token baru atau hype spekulatif, melainkan dari dalam institusi-institusi paling strategis di Indonesia.

    Mewakili kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$35 miliar, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pegadaian, Pos Digi, dan MDI Ventures bergabung dalam Tokenize Indonesia untuk mendorong use case tokenisasi dan aset dunia nyata (Real-World Assets / RWA) mereka masing-masing.

    Tokenize Indonesia, yang diinisiasi oleh Saison Capital, Coinvestasi, dan BRI Ventures (BVI), dirancang sebagai platform eksperimental terstruktur bagi institusi untuk mengeksplorasi real-world use case blockchain dalam operasi mereka. Alih-alih mengejar popularitas semata, program ini bertujuan menjembatani institusi tradisional dengan penyedia infrastruktur blockchain untuk bersama-sama mengembangkan solusi Develop Used Case yang siap diterapkan.

    Program ini dimulai pada Juli 2025 dan akan berpuncak dalam sebuah showcase di Coinfest Asia, festival kripto terbesar di dunia yang akan digelar pada 21-22 Agustus 2025.

    “Tujuan kami adalah mendorong kolaborasi yang bermakna antara institusi keuangan besar yang mapan dengan mitra teknologi yang inovatif dan bergerak cepat. Dengan menjembatani dua dunia ini, kami ingin mendorong pertumbuhan berkelanjutan, memperluas inklusi keuangan, dan mempercepat adopsi aset digital di Indonesia,” ujar Markus Liman Rahardja, Chief Investment Officer, BRI Ventures dalam keterangan pers, ditulis Minggu (14/9/2025).

    Tokenize Indonesia juga dipandang sebagai gerbang menuju regulatory sandbox OJK yang akan diluncurkan pada 2025. Hal ini menandai perubahan strategis: Indonesia bergerak dari pasar kripto ritel menuju testbed nasional untuk adopsi blockchain tingkat institusi.

    Sandbox, Sebelum Regulasi Final

    Waktu peluncuran program ini sangat tepat. Pada Januari 2025, pengawasan aset digital telah berpindah dari Bappebti (otoritas komoditas) ke OJK. Transisi ini diperkirakan akan mendefinisikan ulang klasifikasi aset digital dan membuka ruang eksperimen berbasis sandbox memungkinkan inovator fintech dan blockchain untuk menguji model baru di bawah pengawasan regulator.

    Dengan menyesuaikan strukturnya lebih awal terhadap kerangka ini, Tokenize Indonesia menempatkan para peserta sebagai pionir dalam lanskap aset digital yang baru.

    Ekosistem kripto Indonesia sendiri telah membuktikan kapasitas skalanya di level ritel. Antara 2021-2024, jumlah pengguna terdaftar meningkat dua kali lipat dari 9,9 juta menjadi 20,9 juta, sementara volume transaksi bulanan melonjak dari US$739 juta menjadi US$2,25 miliar. Namun, pertumbuhan ritel yang cepat juga rawan volatilitas.

    Peluang sesungguhnya ada di adopsi institusional yang lebih berkelanjutan dan sistemik. Begitu blockchain terintegrasi di sektor seperti perbankan, logistik, atau telekomunikasi, dampaknya bukan hanya efisiensi, tetapi juga legitimasi. Dan legitimasi inilah yang akan menjadi jangkar pertumbuhan jangka panjang ekonomi digital Indonesia.

    Blockchain Enabler Global Sudah Bersiap

    Untuk melaksanakan eksperimen berisiko tinggi ini, program menggandeng nama-nama terpercaya dalam infrastruktur blockchain, termasuk:
    * IOTA, dengan jaringan berbasis DAG tanpa biaya yang digunakan di proyek logistik dan IoT global.
    * Stellar, yang banyak diadopsi dalam keuangan lintas batas dan bermitra dengan lembaga kemanusiaan.
    * Ripple, yang protokol pembayarannya digunakan oleh lebih dari 100 institusi keuangan di seluruh dunia.
    * Fireblocks, penyedia infrastruktur yang mengamankan lebih dari US$4 triliun aset digital institusional bagi bank, fintech, dan manajer aset.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • RI Pemain Kripto Kedua Terbesar Setelah Jepang di Asia Pasifik


    Jakarta

    Indonesia menjadi pasar kripto terbesar kedua di kawasan Asia Pasifik dengan pertumbuhan on-chain value received atau nilai aset sebesar 103% sejak Juli 2024 hingga Juni 2025. Pertumbuhan adopsi kripto di Indonesia hanya berada di bawah Jepang yang tumbuh 120%.

    Untuk di kawasan Asia Pasifik, transaksi kripto berkembang cepat dengan lonjakan nilai transaksi on-chain bulanan dari US$ 81 miliar pada Juli 2022 menjadi US$ 244 miliar pada Desember 2024. Lonjakan ini didorong oleh pemulihan pasar global dan tren investasi digital.

    Sementara tahun ini, hingga pertengahan 2025 volume transaksi tetap bertahan di atas US$ 185 miliar per bulan. CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai adopsi kripto di Indonesia sesuai dengan kenyataan di lapangan, di mana jumlah investor terus bertambah sejalan dengan aktivitas perdagangan, baik di pasar spot maupun derivatif (Futures).


    “Capaian Indonesia yang kini berada di urutan kedua setelah Jepang merupakan prestasi yang luar biasa. Ini menunjukkan betapa pesatnya pertumbuhan adopsi kripto di Tanah Air, yang didukung oleh regulasi yang semakin jelas serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap aset digital. Peran generasi muda juga sangat penting, karena mereka menjadi motor penggerak utama dalam memperkuat ekonomi digital nasional,” ujar Calvin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/9/2025).

    Menurut Calvin pertumbuhan volume transaksi kripto di Tokocrypto naik 10% year-on-year hingga Juli 2025. Calvin menyebut, salah satu pendorong lonjakan adposi kripto ini datang dari demografi yang digerakkan oleh generasi muda digital native yang terbiasa dengan teknologi.

    Kombinasi faktor ini mendorong Indonesia mencatatkan pertumbuhan 103% dalam setahun terakhir. Capaian ini menegaskan ekosistem kripto nasional mulai mengambil peran sebagai pilar penting dalam pertumbuhan kawasan Asia-Pasifik.

    “Dukungan regulasi dan inovasi produk yang semakin matang juga membuka akses lebih luas, menjadikan transaksi aset kripto kian mudah, cepat, dan inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat. Di sisi lain, arah kebijakan pemerintah dan regulator seperti OJK yang terus memperkuat tata kelola industri memberi kepastian lebih besar bagi pelaku pasar, baik dari aspek perlindungan konsumen maupun peluang inovasi di sektor keuangan digital,” terang Calvin.

    (hns/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bursa Kripto RI Siap Jadi Hub di Asia Tenggara, Begini Potensinya


    Jakarta

    PT Central Finansial X (CFX) memaparkan Indonesia berpotensi menjadi pusat perdagangan aset kripto di Asia Tenggara. Hal ini ia paparan dalam ajang TOKEN2049 di Singapura.

    Direktur Utama CFX Subani menjelaskan potensi RI jadi pusat perdagangan terjadi karena ekosistem aset kripto Indonesia yang semakin lengkap, teregulasi dan model regulasi yang kolaboratif.

    “Partisipasi dalam TOKEN2049 sekaligus menjadi wujud komitmen Bursa CFX dalam memajukan industri aset kripto Indonesia. Kami ingin menunjukkan kepada pelaku industri aset kripto global bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perdagangan aset kripto di kawasan Asia Tenggara,” kata Subani dalam keterangan tertulis, Jumat (3/10/2025).


    Subani menilai, pendekatan regulasi kolaboratif yang diterapkan Indonesia telah sejalan dengan tren pasar global, yang kini bergerak dari lingkungan aset kripto yang belum teregulasi menuju ekosistem yang semakin teregulasi dan terpercaya.

    Pada kuartal kedua 2025, pasar spot lokal yang telah teregulasi berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,9%, berbanding terbalik dengan pasar spot global yang belum teregulasi justru mengalami penurunan sebesar 27,7% pada periode yang sama.

    “Kepercayaan terhadap pasar domestik yang teregulasi ini berkorelasi langsung dengan lonjakan jumlah konsumen aset kripto,” katanya.

    Berdasarkan data OJK, jumlah konsumen aset kripto telah mencapai 16,5 juta per Juli 2025. Angka tersebut mengalami kenaikan 27,10% jika dibandingkan posisi akhir Januari 2025 yang baru mencapai 12,9 juta.

    Subani menegaskan bahwa seluruh capaian impresif ini masih terjadi di fase awal pertumbuhan industri yang sekaligus menunjukkan masih terbukanya ruang yang sangat luas untuk pertumbuhan di masa mendatang. Oleh sebab itu, Bursa CFX akan fokus pada pendalaman pasar melalui pengembangan ragam produk bernilai tambah dan perluasan use case aset kripto.

    “Kami akan mendorong inovasi dalam menjadikan aset kripto sebagai solusi keuangan digital yang lebih luas, seperti stablecoin berbasis rupiah untuk meningkatkan likuiditas dan penggunaan transaksi remitansi lintas negara, serta optimalisasi penggunaan aset kripto sebagai jaminan dalam melakukan pinjaman,” tambah Subani.

    (ara/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Anjlok!


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di zona merah hingga Kamis (19/2) sore ini. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC melemah 1,95% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 66.834 atau sekitar Rp 1,12 miliar (asumsi kurs Rp 16.910).

    Padahal sebelumnya, harga BTC sempat menguat level US$ 68.332 atau sekitar Rp 1,15 miliar. Melemahnya harga BTC disebut menjadi respons pelaku pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS), yang dinilai lebih agresif dari ekspektasi pasar.

    “Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” ujar Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulis. Kamis (19/2/2026).


    Sebagai informasi, dalam risalah rapat The Fed sejumlah pejabat gubernur The Fed menilai belum ada urgensi untuk memangkas suku bunga. Bahkan terdapat suara anggota yang menyarankan untuk menaikan suku nunga jika inflasi AS bertahan di atas 2%. Adapun The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% berdasarkan Federal Open Market Committee (FOMC).

    Selain risalah rapat The Fed, meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran disebut menjadi sentimen negatif terhadap harga BTC. Terlebih adanya kenaikan harga minyak lebih dari 4% imbas meningkatnya tensi kedua negara tersebut.

    Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga membuat pergerakan harga lebih tajam. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual terhadap BTC terjadi dalam jangka pendek.

    “Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” jelasnya.

    Secara teknikal, Fyqieh menyebut BTC masih berada dalam fase konsolidasi di area krusial dengan zona support jangka pendek di level US$ 66.200 hingga US$ 67.800. Selama BTC dapat bertahan pada level tersebut, ia menilai potensi kenaikan harga masih tetap terbuka meski terbatas.

    “Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$ 69.250 hingga US$ 70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” tutup Fyqieh.

    (ahi/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Pilih Toilet Jongkok atau Toilet Duduk? Ini Perbandingannya



    Jakarta

    Saat memilih perlengkapan untuk hunian, urusan toilet tidak bisa dianggap sepele. Toilet sangat penting karena digunakan untuk buang hajat para penghuni rumah dan tamu yang datang.

    Di Indonesia, toilet jongkok masih banyak ditemukan, sementara toilet duduk makin populer seiring hadirnya hunian modern. Lalu, mana yang lebih tepat untuk rumah Anda? Simak perbandingannya.

    Toilet Jongkok

    Asia, Turkey, Istanbul Area, 2017: View Of Toilet In Turkish RestaurantToilet jongkok. Foto: Getty Images/Kypros

    Dilansir dari laman Bladder & Bowel UK, Minggu (2/11/2025), posisi jongkok dinilai mendukung proses buang air besar lebih alami. Hal ini sejalan dengan kebiasaan banyak orang Asia yang sudah terbiasa menggunakan toilet jongkok.


    Toilet jongkok cenderung tidak membutuhkan banyak ruang, cocok untuk kamar mandi kecil dan area servis seperti kamar mandi ART. Bentuknya sederhana dan menyatu dengan lantai, membuat ruangan lebih efisien.

    Secara struktur, toilet jongkok lebih sederhana sehingga cenderung membutuhkan perawatan lebih minim. Namun karena lantai cenderung basah, kebersihan material lantai perlu diperhatikan agar tidak licin.

    Toilet Duduk

    Ilustrasi ToiletIlustrasi Toilet Duduk. Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawf8

    Dilansir dari Teaching Nomad, toilet duduk dinilai lebih ramah untuk anak-anak, lansia, hingga ibu hamil karena tidak perlu tenaga ekstra untuk berjongkok. Tak heran, toilet duduk banyak digunakan di rumah modern, apartemen, dan hotel.

    Penggunaan toilet duduk menghadirkan tampilan lebih modern pada hunian. Dilansir dari Architectural Digest, tren kamar mandi saat ini menonjolkan desain minimalis dan compact yang kerap dipadukan dengan toilet duduk untuk kesan bersih dan rapi.

    Untuk toilet duduk, perhatian lebih dibutuhkan pada bagian dudukan dan engsel. Dilansir dari Martha Stewart, pembersihan rutin dengan cairan lembut dan lap microfiber disarankan demi menjaga ketahanan porselen dan kebersihan permukaan.

    Perlu diingat, penggunaan toilet jongkok atau duduk tergantung pada kebutuhan masing-masing penghuni rumah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • Ternyata Ini Alasan Orang Barat Ogah Pakai Kloset Jongkok!



    Jakarta

    Terdapat dua jenis kloset yakni kloset jongkok dan duduk. Namun jika kamu perhatikan, jenis kloset yang banyak dipakai adalah kloset duduk, terutama di negara-negara di Eropa dan Amerika. Lantas, apa alasan kloset jongkok jarang ditemui di sana?

    Dilansir situs Jialifu Cubicle, ada beberapa alasan mengapa orang barat jarang menggunakan kloset jongkok, begini penjelasannya.

    1. Kloset Jongkok Dinilai Tak Higienis

    Kloset jongkok yang tidak memiliki penutup di atasnya, membuat orang barat khawatir saat menyiram atau buang air, ada cipratan air yang mengenai pakaian atau lantai kamar mandi. Mereka melihat bentuk kloset jongkok tidak higienis.


    Selain itu, mereka melihat postur jongkok tidak nyaman. Mereka takut tergelincir saat menggunakannya, apalagi tubuh orang-orang barat rata-rata lebih besar dari orang-orang Asia.

    2. Khawatir Ada Barang Bawaan Jatuh

    Alasan selanjutnya mengapa jarang ditemui kloset jongkok di negara-negara Eropa dan Amerika adalah keamanannya. Biasanya mereka menyimpan barang-barang di kantong celana, seperti ponsel dan dompet. Mereka khawatir barang bawaan mereka bisa terjatuh ke dalam kloset ketika mereka jongkok.

    3. Sulit Berdiri Setelah Jongkok

    Selain posisinya yang sulit bagi mereka, ketika berdiri juga mereka merasa kesulitan. Mereka khawatir setelah berjongkok lama, kaki terasa mati rasa (kesemutan). Dengan memakai kloset duduk, mereka bisa melakukan aktivitas lainnya seperti membaca buku, bermain ponsel, dan lainnya dengan lebih aman.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com