Tag: australia

  • Senat Australia: Blockchain Akan Bernilai US$3 Triliun Tahun 2030

    Penerapan teknologi blockchain semakin nyata. Buktinya, senat Australia memprediksi teknologi itu akan bernilai US$3 triliun pada tahun 2030.

    Negeri Kangguru itu memang terkenal ambisius bergerak memanfaatkan blockchain untuk pertumbuhan ekonominya.

    Sebelum pengumuman oleh senat itu, Australia sudah menerbitkan roadmap khusus blockchain yang fokus pada perubahan infrastruktur perbankan, ekspor dan pendidikan.

    Selain itu, Bursa Efek Australia sedang membangun sistem penyelesaian (settlement) dan kliring berbasis blockchain. Mereka bermitra dengan iSignthis.

    Dua perkembangan itulah yang mendorong Fraksi Teknologi Keuangan di Senat Australia membuat kajian soal potensi penerapan blockchain di masa depan

    Menurut senat blockchain bisa mendukung kemajuan dalam teknologi keuangan dan teknologi peraturan. Hal itu menyoroti apa yang bisa menjadi peluang yang terlewatkan sejauh ini, yakni akses terhadap modal, yang sangat efektif dikumpulkan melalui penawaran koin awal (ICO).

    Senat juga mencatat angka yang sama yang dinyatakan dalam pengumuman roadmap Blockchain Nasional pada Februari 2020 lalu. bahwa teknologi blockchain akan menghasilkan US$175 miliar dalam nilai bisnis global pada tahun 2025 dan total lebih dari US$3 triliun pada tahun 2030.

    Michael Bacina dari Piper Alderman di hadapan senat mengatakan sebagian besar proyek teknologi keuangan dan teknologi peraturan akan dibangun terutama pada teknologi blockchain atau banyak digunakan dalam 10 tahun ke depan.

    Senat juga mencatat bahwa teknologi blockchain bisa menguntungkan banyak industri Australia. Sementara industri keuangan dan asuransi menduduki puncak daftar, yang lain termasuk “layanan profesional, ilmiah dan teknis dan perdagangan eceran, tetapi bidang lain termasuk perawatan kesehatan dan bantuan sosial, pertanian, serta layanan real estat.

    Memperbaiki kondisi ICO
    Di bagian lain laporan tersebut, senat berfokus pada peningkatan ICO dan modal yang mereka kumpulkan dan mengapa Australia tidak menuai lebih banyak keuntungan darinya.

    Dr Jemma Green, Pendiri dan CEO Power Ledger Australia menyarankan kepada senat bahwa kondisi peraturan saat ini di negara tersebut tidak kondusif untuk menarik para perusahaan yang menggelar ICO.

    “Banyak negara, misalnya Swiss, konsep ICO diadopsi untuk untuk mendapatkan pajak atas modal, termasuk pemasukan pajak. Sedangkan di Australia, ICO malah dikenakan pajak atas pendapatan,” kata Green.

    Baca Juga: Indonesia Disarankan Terapkan Rupiah Digital Berteknologi Blockchain



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kisah Trader Kripto Muda Cuan Rp 109 Miliar Masih Tinggal Bersama Ibu

    Seorang trader kripto berusia 25 tahun yang masih tinggal bersama ibunya sukses mendapatkan cuan sebesar Rp 110 miliar. Keuntungan itu dia dapat dari trading dan menjalankan bisnis perdagangan kripto.

    Dikutip Cointelegraph, trader kripto muda itu adalah Darren Nguyen yang berasal dari Australia. Nguyen diketahui telah memperdagangkan kripto senilai hampir 3 miliar dolar Australia (US$ 2 miliar) pada tahun 2021 dan menjalankan kerajaan kriptonya dari rumah orang tuanya di Sydney, Australia.

    Nguyen memiliki bisnis perdagangan kripto, PO Street Capital yang terdaftar di rumah orang tuanya di Guildford, Sydney. Bisnis kripto Nguyen membawa pulang laba setelah pajak sebesar AU$ 10,41 juta atau sekitar Rp 110 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir pada 30 Juni 2021, menurut pengajuan dari Australian Securities and Investments Commission (ASIC).

    Keuntungan Nguyen

    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Samsung Gandeng Polygon Masuk ke Web3, Akankah MATIC Melonjak?

    Keuntungan Nguyen berasal dari total perdagangan kripto senilai AU$ 2,98 miliar (US$ 2 juta) selama periode 12 bulan. Itu adalah peningkatan besar dari pendapatan Nguyen tahun sebelumnya, yang berjumlah sekitar AU$ 692.182 (US$ 470.780) pada tahun 2020.

    Auditor PO Street Capital menulis bahwa hasil menunjukkan laba bersihnya meningkat 1.404,12 persen pada tahun 2021, dibandingkan tahun sebelumnya.

    Menurut pengajuan, PO Street Capital memiliki provisi jangka pendek senilai AU$ 4,3 juta (US$ 2,9 juta) pada Juni 2021, di samping pinjaman sebesar AU$ 1,3 juta (US$ 883.960) yang dibayarkan kembali ke Nguyen, tetapi tidak memiliki utang lain dalam pembukuannya.

    Nguyen juga menerima dividen sebesar AU$ 873.200 (US$ 593.750) dari keuntungan tahun itu.

    Keluarga Tertutup

    Ilustrasi aset kripto. Sumber: Shutterstocks.
    Ilustrasi aset kripto. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Pendiri TRON Foundation Justin Sun Singgung Pi Network dan CoreDAO

    Dilaporkan The Australian, keluarga Nguyen tetap bungkam tentang bisnis perdagangan kripto yang dijalankan oleh pria berusia 25 tahun tersebut. Ibunya menolak mengomentari apa yang dia ketahui tentang aktivitas perdagangan yang terjadi di bawah atap rumahnya.

    Sementara itu, Nguyen juga tutup mulut tentang bisnisnya, termasuk strategi perdagangannya dan bagaimana kinerja PO Street Capital untuk tahun keuangan terakhir, yang berakhir pada 30 Juni 2021.

    Khususnya, peningkatan besar-besaran kinerja PO Street Capital pada tahun 2021 bertepatan dengan kenaikan harga kripto yang meroket antara 1 Juli 2020, dan 30 Juni 2021. Namun, dengan penurunan pasar sejak saat itu, tidak jelas bagaimana hal itu berdampak pada Nguyen dan PO Street Capital.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mastercard Uji CBDC dengan Jaringan Ethereum di Australia

    Mastercard baru-baru ini menyelesaikan uji coba central bank digital currency (CBDC) bekerja sama dengan Reserve Bank of Australia (RBA) dan Digital Finance Cooperative Research Centre (DFCRC). Proyek ini mengeksplorasi kemampuan Mastercard untuk mengaktifkan transaksi CBDC di jaringan blockchain Ethereum publik.

    Secara khusus, Mastercard menunjukkan bagaimana teknologinya memungkinkan pemegang CBDC percontohan untuk membeli non-fungible token (NFT) yang terdaftar di blockchain Ethereum publik. Untuk mengaktifkan hal ini, solusi tersebut mengunci jumlah CBDC yang diperlukan pada platform RBA sambil mencetak token yang dibungkus di Ethereum.

    Hal ini menunjukkan kemampuan Mastercard untuk mempertahankan kontrol dan kepatuhan yang diperlukan bahkan ketika bertransaksi CBDC di blockchain publik seperti Ethereum. Perusahaan memanfaatkan penawaran Jaringan Multi Token dan Kredensial Kripto yang berfokus pada standar verifikasi dan interoperabilitas yang dapat diskalakan.

    “Mastercard telah melihat adanya permintaan dari konsumen untuk berpartisipasi dalam perdagangan di berbagai blockchain, termasuk blockchain publik,” kata Richard Wormald, Presiden Australasia di Mastercard.

    Selain Mastercard, proyek ini juga melibatkan perusahaan pembayaran Australia Cuscal dan pasar NFT Mintable.

    Membuka Jalan Masa Depan Perbankan di Australia

    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Inflasi AS Diumumkan Tetap Tinggi, Ini Reaksi Pasar Kripto dan Bitcoin

    Zach Burks , CEO dan pendiri Mintable, peserta program pengembangan Start Path Mastercard mengatakan: “Potensi besar NFT terlihat jelas selama percontohan CBDC progresif ini. Bersama Mastercard, kami telah mengidentifikasi kasus penggunaan di mana mata uang digital dan NFT dapat dengan mudah dihubungkan, sehingga berpotensi menghilangkan penipuan dan pencurian, mengakhiri hilangnya dokumentasi dan catatan, dan membuka kemungkinan baru untuk perdagangan.

    “Mintology, cabang B2B Mintable, membuat NFT lebih mudah diakses dan bernilai dengan penggunaan baru yang inovatif. Meskipun mata uang digital masih dalam tahap awal, NFT sudah digunakan untuk media baru, gamifikasi, identitas digital, program loyalitas, tiket, otentikasi, sertifikasi, dan banyak lagi.”

    Nathan Churchward , pemimpin domain, pembayaran di Cuscal, menambahkan: “Sangat menyenangkan bisa bermitra lebih jauh dengan Mastercard untuk mendukung masa depan perbankan dan pembayaran di Australia.”

    Proyek percontohan CBDC Reserve Bank of Australia (RBA) dengan Digital Finance CRC (DFCRC) mengeksplorasi potensi kasus penggunaan CBDC di Australia. Proyek ini melibatkan RBA yang mengeluarkan CBDC ‘percontohan’ skala terbatas yang merupakan klaim hukum nyata terhadap RBA. CBDC percontohan digunakan oleh peserta industri terpilih untuk menunjukkan bagaimana CBDC dapat digunakan untuk menyediakan layanan pembayaran dan penyelesaian yang inovatif kepada rumah tangga dan bisnis Australia.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penerbitan CBDC Semakin Dekat, Australia Luncurkan Proyek Pilot

    Sejumlah negara sedang semakin dekat dengan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC), termasuk Indonesia. Australia tampaknya selangkah lebih cepat untuk menerbitkan CBDC dengan meluncurkan proyek pilot.

    Reserve Bank of Australia (RBA) telah meluncurkan rencana untuk memeriksa potensi manfaat ekonomi dari memperkenalkan CBDC. Otoritas mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (9/8) bahwa pihaknya akan melakukan proyek pilot atau percontohan selama setahun untuk mengeksplorasi kasus penggunaan yang inovatif dan model bisnis untuk CBDC.

    Selain itu, RBA juga ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pertimbangan teknologi, hukum dan peraturan. Mereka akan bermitra dengan Digital Finance Cooperative Research Center (DFCRC), kelompok industri yang didukung pemerintah, untuk proyek tersebut.

    Ilustrasi aset kripto
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: 5 Strategi Untung Investasi Kripto saat Sideways Market 

    Uji Kelayakan CBDC di Australia

    RBA juga akan mengundang para pelaku industri untuk mengembangkan kasus penggunaan khusus yang menunjukkan bagaimana CBDC dapat menyediakan layanan pembayaran dan penyelesaian yang inovatif untuk rumah tangga dan bisnis.

    Hasil uji coba akan menginformasikan penelitian yang sedang berlangsung tentang keinginan dan kelayakan CBDC di Australia, kata RBA.

    “Proyek ini merupakan langkah penting berikutnya dalam penelitian kami tentang CBDC,” kata Wakil Gubernur RBA, Michele Bullock dikutip Al Jazeera.

    “Kami berharap dapat terlibat dengan berbagai peserta industri untuk lebih memahami potensi manfaat yang dapat dibawa CBDC ke Australia.”

    Berlomba Terbitkan CBDC

    Menurut International Monetary Fund (IMF), sekitar 100 negara sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan CBDC, dengan sejumlah yurisdiksi termasuk China dan Bahama sudah mendistribusikan mata uang digital mereka di antara publik.

    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: Industri Kripto dan Blockchain Tetap Jadi Incaran Venture Capital

    Pendukung CBDC mengatakan teknologi yang baru lahir akan memungkinkan transaksi yang lebih cepat dan lebih murah, mempromosikan inklusi keuangan, dan memberi bank sentral fleksibilitas yang lebih besar dalam kebijakan moneter.

    Meskipun, berbagi beberapa kesamaan dengan aset kripto, CBDC berbeda dari token digital seperti Bitcoin karena dikendalikan oleh otoritas pusat.

    Sementara, aset kripto beroperasi pada jaringan peer-to-peer yang dikenal sebagai blockchain, yang terdesentralisasi sehingga tidak ada satu orang atau kelompok yang melakukan kontrol.

    Indonesia Terbitkan Whitepaper CBDC pada Akhir 2022

    Bank Indonesia terus mendalami CBDC dan akhir tahun ini berada pada tahap untuk mengeluarkan whitepaper pengembangan Digital Rupiah. BI mengatakan terdapat perbedaan CBDC alias Rupiah Digital dengan uang elektronik atau e-money. Secara sederhana, uang elektronik didefinisikan sebagai alat pembayaran dalam bentuk elektronik di mana nilai uangnya disimpan dalam media elektronik tertentu.

    Pengguna uang elektronik harus menyetorkan uangnya terlebih dahulu kepada penerbit dan disimpan dalam media elektronik sebelum menggunakannya untuk keperluan bertransaksi.

    Sementara, CBDC adalah uang digital yang diterbitkan dan peredarannya dikontrol oleh bank sentral, dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah untuk menggantikan uang kartal. CBDC akan bertindak sebagai representasi digital dari mata uang suatu negara.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Australia Resmi Luncurkan ETF Bitcoin Spot Pertama

    Australia bergabung dengan daftar negara yang menawarkan ETF Bitcoin spot, dengan peluncuran produk pertama di negara tersebut yang diharapkan akan dilakukan Selasa (4/6).

    Monochrome Asset Management telah mengumumkan bahwa ETF Bitcoin (IBTC) akan mulai diperdagangkan pada 4 Juni, kecuali terjadi penundaan menit-menit terakhir. ETF ini akan diperdagangkan dengan ticker IBTC dan dikenakan biaya manajemen sebesar 0,98%.

    Monochrome Asset Management, sebagai penerbit, menawarkan dana ini sebagai sarana bagi investor untuk mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin dalam kerangka yang diatur. ETF ini melacak indeks Tingkat Referensi Bitcoin CME CF, memberikan eksposur langsung terhadap harga spot bitcoin.

    Cboe akan menjadi bursa pertama di Australia yang mendaftarkan ETF Bitcoin, mengalahkan Bursa Sekuritas Australia (ASX) yang lebih besar dalam hal pasar. Namun, laporan menunjukkan bahwa ASX juga berencana untuk menyetujui ETF Bitcoin sebelum akhir tahun ini.

    ETF Bitcoin di Australia

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin Teratas untuk Diperhatikan Bulan Juni Ini

    Peluncuran ini memanfaatkan lonjakan minat yang terjadi setelah terobosan persetujuan regulasi ETF Bitcoin di pasar AS pada bulan Januari. Produk-produk ini memicu arus masuk besar-besaran dari investor institusional dan ritel.

    Australia kini siap menawarkan investor eksposur Bitcoin yang mudah dan aman tanpa kepemilikan langsung. Sebagai ETF yang sangat pasif, IBTC menghilangkan tantangan teknis dalam membeli Bitcoin nyata sambil memberikan profil pengembalian yang terkait dengan harga Bitcoin.

    ETF Bitcoin yang teregulasi telah diluncurkan tahun ini di Amerika Utara, Inggris, Eropa, dan Asia-Pasifik. Masuknya Australia mencerminkan penerimaan Bitcoin yang lebih luas sebagai kelas aset institusional.

    Negara-negara lain kemungkinan akan mengikuti, dengan pasar-pasar utama sekarang menawarkan ETF Bitcoin spot. Pembungkus yang diatur ini memberikan legitimasi dan menyediakan cara mudah bagi investor untuk mendapatkan eksposur.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMERSetiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Australia Resmi Atur Kripto: Semua Exchange Wajib Punya Izin!

    Australia mengambil langkah besar dalam industri kripto dengan mengesahkan regulasi komprehensif pertama yang mewajibkan exchange dan penyedia kustodian untuk memiliki izin resmi layanan keuangan.

    Undang-undang ini menjadi titik balik penting yang membawa industri aset digital masuk ke dalam kerangka regulasi keuangan utama.

    Exchange dan kustodian wajib punya lisensi

    Melalui Corporations Amendment (Digital Assets Framework) Bill 2025, seluruh platform kripto kini harus memperoleh Australian Financial Services Licence (AFSL). Artinya, mereka akan berada di bawah standar yang sama seperti broker dan manajer investasi.

    Dilaporkan Bitcoin Magazine, regulasi ini juga memperkenalkan dua kategori baru, yaitu digital asset platforms (exchange) dan tokenized custody platforms (penyedia kustodian aset tokenisasi).

    Kedua kategori ini diwajibkan memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari perlindungan dana nasabah, kecukupan modal, transparansi informasi, hingga mekanisme penyelesaian sengketa.

    Fokus pada perlindungan pengguna

    Alih-alih mengatur aset kripto secara langsung, regulasi ini menargetkan pihak perantara yang mengelola dana pengguna. Pendekatan ini dirancang untuk mencegah kasus-kasus seperti penyalahgunaan dana, pencampuran aset, hingga kegagalan platform yang merugikan pengguna.

    Selain itu, regulator Australia juga mendapatkan kewenangan lebih luas untuk mengatur tata kelola, manajemen risiko, dan sistem kustodi.

    Platform yang tidak mematuhi aturan ini dapat dikenakan sanksi hukum.

    Baca juga: Ripple Akuisisi Perusahaan Australia Demi Lisensi

    Masih ada ruang untuk inovasi

    Meski regulasi diperketat, pemerintah tetap memberikan ruang bagi pelaku industri skala kecil. Platform dengan dana di bawah A$5.000 per pengguna dan volume transaksi tahunan di bawah A$10 juta tidak diwajibkan memenuhi seluruh persyaratan lisensi.

    Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara perlindungan investor dan pertumbuhan inovasi di sektor kripto.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, ini jelas regulasi yang material karena Australia akhirnya bergerak dari pendekatan abu-abu ke kerangka lisensi dan perlindungan dana yang lebih formal.

    “Dampaknya bisa positif untuk legitimasi industri jangka panjang, tetapi biaya compliance bagi exchange dan kustodian kemungkinan naik tajam dalam fase transisi,” jelasnya.

    Menuju adopsi institusional yang lebih luas

    Seiring dengan regulasi ini, dana pensiun besar di Australia, Hostplus, juga tengah mempertimbangkan untuk menyediakan akses Bitcoin dan aset digital lainnya bagi hampir dua juta anggotanya.

    Jika terealisasi, langkah ini dapat membuka arus dana baru dari sektor institusi ke pasar kripto.

    Dengan regulasi yang lebih jelas dan terstruktur, Australia kini memposisikan diri sebagai salah satu negara yang siap menangkap peluang besar di industri keuangan digital global.

    Baca Juga: RLUSD Jadi Kunci? Masa Depan XRPL di Tangan Stablecoin Ripple


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Regulasi Ketat! ASIC Incar Finfluencer Kripto

    Regulator sekuritas Australian Securities and Investments Commission (ASIC) mengeluarkan peringatan tegas kepada investor muda terkait penggunaan finfluencer dan chatbot berbasis AI dalam pengambilan keputusan investasi, khususnya di sektor kripto.

    Langkah ini diambil setelah survei terbaru menunjukkan bahwa sekitar 23% generasi muda di Australia (Gen Z) kini telah memiliki aset kripto, menandakan meningkatnya adopsi di kalangan investor pemula.

    Namun di balik tren tersebut, muncul kekhawatiran besar terkait cara mereka mengambil keputusan finansial.

    Baca Juga: X Buka Kembali Iklan Kripto, Influencer Wajib Pasang Label Khusus

    Media Sosial dan AI Jadi Sumber Utama Keputusan Finansial

    Data survei yang dilansir dari Cointelegraph mengungkap perubahan signifikan dalam perilaku investor muda:

    • 63% responden menggunakan media sosial sebagai panduan keuangan
    • 52% mempercayai finfluencer dalam memberikan rekomendasi
    • 18% menggunakan platform AI untuk keputusan investasi
    • 64% bahkan mempercayai AI sebagai sumber saran finansial

    Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sumber non-tradisional, seperti influencer dan AI, telah melampaui pendekatan konvensional seperti penasihat keuangan profesional.

    Bagi regulator, tren ini menimbulkan risiko besar, terutama karena tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar yang valid atau sesuai dengan profil risiko individu.

    ASIC Tegaskan Batasan Nasihat Keuangan

    ASIC menegaskan bahwa pemberian nasihat keuangan personal tidak bisa dilakukan sembarangan. Di Australia, aktivitas tersebut harus dilakukan oleh pihak yang memiliki lisensi resmi.

    Dalam beberapa kasus, regulator bahkan telah mengambil tindakan terhadap influencer yang mempromosikan produk berisiko tinggi, memberikan rekomendasi spesifik tanpa lisensi, dan menyesatkan investor melalui konten promosi.

    Langkah ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap promosi investasi kini semakin ketat, terutama di era digital.

    AI Masuk Radar Regulasi

    Tidak hanya finfluencer, penggunaan AI dalam investasi juga menjadi perhatian serius.

    Chatbot dan platform AI yang memberikan rekomendasi investasi berpotensi masuk dalam kategori personal financial advice jika:

    • Memberikan saran spesifik
    • Menyesuaikan rekomendasi dengan profil pengguna
    • Mendorong tindakan investasi tertentu

    Jika memenuhi kriteria tersebut, maka layanan AI juga wajib mematuhi aturan lisensi yang sama seperti penasihat keuangan manusia.

    Regulasi Masuk ke Era Digital

    Tim riset dari Tokocrypto menilai bahwa langkah ASIC ini merupakan bentuk regulasi yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.

    “Pesannya ke industri jelas: kalau exchange, influencer, atau tool AI mulai memberi rekomendasi yang terlalu spesifik tanpa payung lisensi, ASIC siap menganggapnya sebagai personal financial advice dan menyeretnya ke wilayah enforcement,” kata Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa batas antara edukasi dan nasihat kini semakin diawasi secara ketat.

    Dampak bagi Industri Kripto

    Langkah ASIC berpotensi membawa dampak signifikan bagi berbagai pihak dalam ekosistem kripto:

    1. Influencer Harus Lebih Hati-hati

    Konten edukasi harus dibedakan dengan jelas dari rekomendasi investasi.

    2. Platform AI Perlu Kepatuhan Regulasi

    Pengembang AI harus memastikan produknya tidak melanggar aturan advice tanpa lisensi.

    3. Exchange Lebih Selektif dalam Promosi

    Bursa kripto perlu memastikan bahwa kampanye pemasaran tidak melanggar regulasi.

    Risiko bagi Investor Muda

    Bagi Gen Z, penggunaan finfluencer dan AI memang memberikan kemudahan akses informasi. Namun, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

    • Informasi yang tidak terverifikasi
    • Konflik kepentingan dari influencer
    • Rekomendasi AI yang tidak mempertimbangkan kondisi personal

    Tanpa pemahaman yang cukup, keputusan investasi dapat menjadi spekulatif dan berisiko tinggi.

    Baca Juga: Korea Selatan Wajibkan Influencer Kripto Bongkar Portofolio

    Peringatan ASIC menandai fase baru dalam regulasi industri kripto, di mana fokus tidak hanya pada platform dan produk, tetapi juga pada sumber informasi yang memengaruhi keputusan investor.

    Dengan meningkatnya peran finfluencer dan AI, batas antara edukasi dan nasihat finansial menjadi semakin kabur.

    Regulator kini berusaha memastikan bahwa inovasi tetap berjalan tanpa mengorbankan perlindungan investor.

    Bagi pelaku industri, pesan ini jelas: di era digital, siapa pun yang memberi rekomendasi investasi—baik manusia maupun mesin—harus siap tunduk pada aturan yang sama.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Heboh Fenomena Pinjol Masuk Kampus


    Jakarta

    Istilah ‘gali lubang tutup lubang’ sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Istilah ini menggambarkan keadaan di mana seseorang meminjam uang untuk melunasi utang yang sudah ada.

    Belakangan, istilah tersebut kian populer di kalangan kampus. Hal ini menyusul maraknya kampus yang menjalin kerja sama dengan pinjaman online atau dikenal dengan pinjol. Layanan pinjol ini diklaim untuk membantu mahasiswa dalam melakukan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT).

    Berdasarkan catatan detikcom, ada banyak kampus yang bekerja sama dengan jasa pinjol melalui PT Inclusive Finance Group (Danacita) sejak Agustus 2023. Tercatat pada Mei 2024 lalu, sudah 82 universitas hingga sekolah tinggi yang menggunakan skema pembayaran UKT melalui pinjaman online. Salah satunya yakni Institut Teknologi Bandung (ITB). Biaya bulanan platform yang dibebankan kepada konsumen sebesar 1,75%.


    Wakil Rektor Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Pengembangan ITB Muhammad Abduh, dalam konferensi pers, menegaskan kerja sama ini tidak bertujuan mengambil keuntungan untuk kampus.

    “Danacita itu kerja sama dengan ITB untuk membantu mahasiswa yang memiliki permasalahan keuangan. Tidak ada hubungannya dengan pemasukan untuk ITB. Pemasukan untuk ITB ketika mahasiswa itu membayar,” tegas Abduh 1 Februari 2024 silam.

    Universitas Negeri Gadjah Mada juga turut bekerja sama dengan Danacita untuk menyediakan skema pembayaran UKT melalui pinjaman online. Kerja sama ini bahkan terjalin sejak Agustus 2022. Kendati demikian, di UGM, kerja sama dengan Danacita hanya diberlakukan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

    Sekretaris UGM Andi Sandi mengatakan kerja sama tersebut datang dari Danacita untuk memudahkan pembayaran UKT, terutama bagi mereka yang mahasiswa program pascasarjana yang memang sudah bekerja. Andi menyebut kini terdapat 33 mahasiswa program pascasarjana yang menggunakan skema tersebut.

    “Untuk Danacita itu tidak serta-merta orang bisa pakai gitu. Karena harus ada approval dari tingkat fakultas. Dan ketika itu disetujui oleh Danacita, dananya tidak tertransfer ke pribadi, tapi ditransfer langsung ke rekening fakultas,” ungkap Sandi.

    Sandi menuturkan kemampuan mahasiswa tersebut bisa membayar pinjaman online dinilai dari data yang diterima pihak kampus dan Danacita. Ketika ada kemampuan membayar yang mendukung, opsi tersebut baru bisa digunakan oleh mahasiswa terkait.

    “Kalau S1 sebenarnya kita cukup yakin dengan mekanisme yang ada bahwa itu tidak akan sampai pada titik untuk menggunakan feature dari lembaga jasa keuangan itu kalau S1. Kalau S2, kan apalagi yang mereka sudah kerja ya, mereka kan bisa ngitung, apalagi ini orang ekonomi,” kata Sandi kepada detikX.

    Sementara itu, Deputi Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito mengatakan OJK telah memanggil Danacita terkait dengan pemberitaan yang beredar. Hasilnya, sejauh ini belum ada pelanggaran yang ditemukan.

    Terkait dengan skema pembayaran UKT melalui pinjaman online, Sardjito menuturkan OJK tidak memiliki wewenang mengatur hal tersebut karena kaitannya dengan kebijakan kampus. Namun Sardjito menambahkan, sebagai pribadi yang pernah menjadi mahasiswa dulunya, penting bagi pihak kampus untuk mencari opsi yang paling baik bagi mahasiswanya.

    “Apabila mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi tentunya yang niat sekolah tapi nggak punya uang, tentu harus dicarikan model atau mode-mode pembayaran UKT yang paling baik untuk mahasiswa. Dan ini tugasnya universitas untuk mencarikan, untuk mencari yang terbaik, jadi tidak hanya mikir yang penting kampus terbayar ini UKT-nya, terserah nanti mahasiswa mau bagaimana dengan pihak pemberi pinjaman,” kata Sardjito kepada detikX.

    Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud-Ristek, Prof Nizam, tidak menanggapi secara spesifik terkait dengan adanya fenomena kerja sama kampus dengan penyedia pinjaman online. Ia mengakui negara belum mampu mendanai penyelenggaraan pendidikan tinggi di PTN. Oleh sebab itu, pendanaan dilakukan gotong-royong bersama masyarakat.

    Namun, kala itu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bersama Kementerian Keuangan sedang mengkaji skema pinjaman tanpa bunga untuk mahasiswa. Ia memberikan contoh praktik student loan yang dipandang cukup berhasil adalah skema income contingent loan yang diterapkan di Australia dan beberapa negara lainnya. Prinsipnya, mahasiswa membayar kembali pinjamannya setelah bekerja dan berpenghasilan di atas suatu batas tertentu.

    “Saat ini skema pinjaman murah bagi mahasiswa dengan sistem pengembalian yang lebih baik tersebut sedang dipersiapkan oleh Kementerian Keuangan, semoga dapat segera terimplementasikan,” pungkasnya.

    Adapun langkah sejumlah Universitas dan Perguruan Tinggi mendapatkan perhatian serius oleh berbagai kalangan. Misalnya, anggota Komisi X DPR RI, AS Sukawijaya yang menyayangkan pinjol masuk kampus. Ia menilai fenomena ini lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

    “Pinjol masuk kampus saya sangat menyayangkan sekali. Harusnya pihak kampus atau pemerintah memiliki solusi lain. Ini fenomena tidak baik. Entah itu pinjol resmi atau tidak, banyak mudaratnya,” ujarnya dikutip dari laman DPR RI.

    Ia menegaskan bahwa dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tercatat pinjaman bagi mahasiswa tidak boleh mengenakan bunga. “Jadi, jelas di UU Sidiknas disebut kalau ada pinjaman tak boleh ada bunga,” jelasnya.

    Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih mengatakan opsi membayar dengan pinjol bukan keputusan yang bijaksana karena konstitusi menyebutkan bahwa pendidikan adalah tugas negara. Terbukti, kewajiban negara ini tercantum pada pasal 31 ayat 1-5 dalam UUD 1945. Ia mengusulkan pembaharuan terhadap struktur dan formula anggaran pendidikan.

    “Maka, menurut saya, perlu diadakan diskusi kembali tentang struktur dan formula anggaran pendidikan yang 20 persen yaitu sebesar Rp660 triliun ke mana saja. Kenapa harus membiarkan problem seperti solusi membayar UKT dengan skema pinjol ini muncul?” ungkap Fikri.

    Pengamat kebijakan pendidikan sekaligus Ketua Prodi Magister dan Doktor Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia Cecep Darmawan menyayangkan fenomena kerja sama pinjol dengan pihak universitas. Sebab, menurutnya, universitas lah yang harus mencari jalan keluar bagi mahasiswa yang kesulitan membayar UKT, bukan dengan diserahkan ke pinjol.

    “Orang bisa pinjam (online) sendiri ya kalau mau. Jadi bukan solusi, bahkan kalau pinjol itu bunganya berlipat-lipat dan menjerat dalam mahasiswa, ya ini akan memprihatinkan, ya kasihan mahasiswa kecuali kalau pinjolnya tanpa bunga, itu bagus,” ucap Cecep.

    Menurutnya, universitas yang bekerja sama dengan pinjol terlalu pragmatis dan kurang kreatif dalam mencari jalan keluar mengelola keuangan. Apabila ini dibiarkan dan berlanjut, dikhawatirkan pihak kampus akan semakin lepas tangan.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Nike Digugat Imbas Penutupan Bisnis Aset Kripto


    Jakarta

    Nike digugat oleh sekelompok pembeli non-fungible token (NFT) bertema Nike dan aset mata uang kripto lainnya. Mereka mengklaim mengalami kerugian besar akibat penutupan tiba-tiba unit bisnis Nike tersebut.

    Gugatan itu diajukan pada Jumat (25/4) di pengadilan federal Brooklyn, New York, Amerika Serikat (AS). Penggugat yang dipimpin oleh penduduk Australia Jagdeep Cheema mengatakan penutupan mendadak unit RTFKT Nike pada Desember 2024 menyebabkan permintaan NFT mereka menurun.

    “Saya tidak akan pernah membeli NFT jika tahu bahwa token tersebut adalah sekuritas yang tidak terdaftar,” katanya dikutip dari Reuters, Minggu (27/4/2025).


    Nike, yang berkantor pusat di Beaverton, Oregon belum memberikan komentar terkait gugatan ini. Sementara itu, Phillip Kim, seorang pengacara untuk para penggugat juga menolak memberikan pernyataan.

    Status hukum NFT sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan, di mana banyak kasus hukum mengenai apakah NFT dapat dikategorikan sebagai sekuritas di bawah hukum federal AS. Gugatan tersebut meminta ganti rugi yang tidak ditentukan lebih dari US$ 5 juta atas dugaan pelanggaran Undang-Undang perlindungan konsumen New York, California, Florida dan Oregon.

    Sebagai informasi, Nike mengakuisisi RTFKT pada Desember 2021. Pada saat itu Nike menyatakan bahwa merek fesyen tersebut menggunakan inovasi mutakhir untuk menciptakan koleksi generasi baru yang menggabungkan budaya dan permainan.

    Nike mengumumkan penutupan RTFKT pada 2 Desember 2024 telah selesai, sambil memproyeksikan bahwa inovasi yang diusung RTFKT akan terus berlanjut melalui banyak kreator dan proyek yang terinspirasi olehnya.

    (aid/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Kenapa Ya Jenis Colokan Listrik di Setiap Negara Berbeda? Simak Ulasannya


    Jakarta

    Di dunia ini, terdapat berbagai jenis colokan listrik yang digunakan di berbagai negara. Perbedaan tersebut sering membuat orang bingung, terutama saat bepergian ke luar negeri. Apa saja jenis-jenis colokan listrik yang umum dan mengapa lubangnya bisa berbeda-beda?

    Simak pembahasan berikut yang akan mengulas secara detail mengenai jenis-jenis colokan listrik yang paling sering digunakan serta alasan perbedaan desainnya.

    Electric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectorsElectric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectors Foto: Getty Images/Sensvector

    Tipe A (Amerika Utara, Jepang)

    Colokan tipe A adalah salah satu yang paling umum di Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang, colokan ini memiliki dua pin paralel tanpa ground, dan digunakan dalam sistem listrik dengan tegangan 100-127 volt. Karena tidak memiliki ground, colokan ini kurang cocok untuk perangkat yang membutuhkan perlindungan tambahan terhadap lonjakan arus listrik.


    Tipe B (Amerika Utara, Jepang)

    Tipe B mirip dengan tipe A tetapi memiliki pin ketiga sebagai ground, melansir sciencefocus.com, colokan besar yang kita gunakan sekarang berasal dari periode setelah Perang Dunia Kedua. Saat itu, banyak rumah yang perlu dibangun kembali setelah perang.

    Pin ini berfungsi untuk menambah keamanan, terutama pada perangkat yang membutuhkan arus besar seperti komputer atau peralatan rumah tangga. Standar ini juga digunakan di Amerika Utara dan Jepang.

    Tipe C (Eropa, Asia, Amerika Selatan)

    Tipe C dikenal sebagai colokan dua pin bulat dan merupakan salah satu jenis yang paling umum di Eropa, Asia, dan beberapa negara Amerika Selatan, colokan ini kompatibel dengan sistem tegangan 220-240 volt dan tidak memiliki ground. Meskipun umum, tipe C biasanya hanya digunakan pada perangkat berdaya rendah.

    Tipe D (India)

    Colokan listrik tipe D digunakan di India dan beberapa negara lain. Bentuknya terdiri dari tiga pin besar, salah satunya adalah ground, ini dirancang untuk perangkat yang membutuhkan lebih banyak daya dan tegangan tinggi, dengan standar 220-240 volt.

    Tipe E dan F (Eropa Kontinental)

    Colokan tipe E dan F adalah dua pin bulat dengan sistem ground yang berbeda. Tipe E digunakan di Prancis dan Belgia, sementara tipe F banyak digunakan di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, kedua tipe ini bekerja dengan tegangan 220-240 volt dan memiliki fitur grounding yang baik untuk keamanan.

    Tipe G (Inggris, Malaysia)

    Colokan tipe G memiliki tiga pin berbentuk persegi dan merupakan standar di Inggris, Irlandia, Malaysia, dan beberapa negara lain. Sistem ini memiliki ground dan dirancang untuk tegangan tinggi (220-240 volt), membuatnya sangat aman untuk perangkat besar.

    Tipe I (Australia, Selandia Baru, Argentina)

    Tipe I memiliki dua atau tiga pin, dan digunakan di Australia, Selandia Baru, dan Argentina. Colokan ini didesain untuk perangkat yang beroperasi pada 220-240 volt, dan menawarkan opsi dengan atau tanpa ground.

    Tipe L (Italia)

    Colokan tipe L terdiri dari tiga pin bulat, yang biasa digunakan di Italia. Desain ini mendukung tegangan 220-240 volt dan menawarkan proteksi ground yang baik.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com