Tag: bank of japan

  • Jepang Naikkan Suku Bunga Tertinggi 30 Tahun, Bitcoin Terancam

    Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan besar seiring rencana Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan 18–19 Desember 2025. Kenaikan ini diperkirakan menjadi yang tertinggi dalam hampir 30 tahun terakhir dan berisiko memicu gejolak di pasar aset berisiko global, termasuk kripto.

    Pasar memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga dari 0,5% menjadi sekitar 0,75%. Kebijakan tersebut diambil untuk merespons tekanan inflasi domestik dan pelemahan nilai tukar yen. Meski berfokus pada kondisi ekonomi Jepang, dampaknya diprediksi meluas ke pasar keuangan global.

    Risiko Bitcoin

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 14 Desember 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 14 Desember 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Salah satu risiko utama bagi Bitcoin berasal dari potensi berakhirnya yen carry trade, strategi lama di mana investor meminjam yen dengan bunga rendah untuk diinvestasikan ke aset berimbal hasil lebih tinggi seperti saham teknologi, pasar negara berkembang, dan kripto. Kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman meningkat, sehingga investor cenderung menutup posisi dan menjual aset berisiko.

    Pengetatan likuiditas akibat pembongkaran carry trade dapat menjadikan Bitcoin sebagai sumber likuiditas, bukan aset lindung nilai. Kondisi ini berpotensi melemahkan daya beli global dan meningkatkan volatilitas, terutama di sektor spekulatif.

    Selain itu, penguatan yen sering kali diartikan sebagai sinyal “risk-off” di pasar global. Dalam situasi tersebut, investor biasanya mengurangi eksposur terhadap aset volatil, termasuk kripto. Bitcoin dikenal sensitif terhadap arus likuiditas global, sehingga penguatan yen dapat menghilangkan salah satu faktor pendukung utama reli kripto dalam beberapa tahun terakhir.

    Secara historis, reaksi Bitcoin terhadap kebijakan BoJ cenderung tajam. Pada Juli 2024, ketika BoJ terakhir kali menaikkan suku bunga menjadi 0,5%, harga Bitcoin tercatat turun signifikan pada awal Agustus seiring menguatnya yen dan mengetatnya pasar pendanaan Jepang.

    Baca juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Bertahan di Level $90.289, Pasar Masuk Fase Konsolidasi

    Faktor Kunci Bank of Japan

    Meski pasar telah memperhitungkan kenaikan 0,25%, perhatian investor kini tertuju pada dua faktor kunci. Pertama, panduan ke depan (forward guidance) dari Gubernur BoJ Kazuo Ueda. Sinyal mengenai kenaikan lanjutan atau normalisasi kebijakan yang lebih cepat berpotensi memicu reaksi cepat di pasar global. Kedua, pergerakan nilai tukar yen. Apresiasi yen yang tajam sering menjadi indikator awal pembongkaran carry trade.

    Sejumlah analis menilai sebagian investor telah mengurangi risiko menjelang pertemuan BoJ, sehingga dampak langsung mungkin lebih terbatas. Namun, risiko pergerakan tajam tetap terbuka, terutama jika pernyataan BoJ lebih agresif dari perkiraan.

    Kebijakan BoJ ini juga terjadi di tengah dinamika global yang kompleks, ketika bank sentral Amerika Serikat diperkirakan bersiap memasuki siklus pemangkasan suku bunga pada 2026. Perbedaan arah kebijakan moneter tersebut berpotensi menciptakan tekanan tambahan bagi pasar kripto dalam jangka pendek.

    Baca juga: Lonjakan 32% Open Interest Futures XRP: Sinyal Bullish atau Bearish?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jelang Keputusan Suku Bunga BOJ 18 Desember, Respons Pasar Kripto?

    Menjelang keputusan suku bunga penting Bank of Japan (BOJ) pada 18–19 Desember mendatang, pasar kripto kembali diguncang gelombang likuidasi besar-besaran senilai sekitar US$643 juta pada 1 Desember.

    Menurut data platform prediction market Polymarket, pelaku pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga BOJ sebesar 57% dalam pertemuan bulan ini, setelah serangkaian sinyal bernada hawkish dari Gubernur BOJ, Kazuo Ueda. Saat ini, suku bunga acuan BOJ berada di kisaran 0,5%.

    Likuidasi Paksa Capai US$643 Juta

    Data CoinGlass menunjukkan likuidasi paksa posisi kripto mencapai sekitar US$643 juta pada 1 Desember. Dalam periode tersebut, sebanyak 218.844 trader terdampak pembersihan posisi ini.

    Sebagian besar yang tersapu adalah posisi long (taruhan harga naik) dengan nilai sekitar US$567 juta. Sementara itu, posisi short (taruhan harga turun) hanya sekitar US$69 juta.

    Bitcoin menjadi aset yang paling banyak terkena imbas dengan likuidasi sekitar US$186 juta, disusul Ethereum sekitar US$138 juta. Pola ini menunjukkan mayoritas pelaku pasar sebelumnya bertaruh pada kelanjutan kenaikan harga kripto ketika tekanan jual datang secara tiba-tiba.

    Imbal Hasil Obligasi Jepang Tertinggi Sejak 2008

    Grafik yang menunjukkan tingkat imbal hasil Obligasi Jepang selama 10 tahun terakhir Kredit: jbts.co.jp.
    Grafik yang menunjukkan tingkat imbal hasil Obligasi Jepang selama 10 tahun terakhir Kredit: jbts.co.jp.

    Dilaporkan Coinspeaker, pelaku pasar mengaitkan gejolak kripto ini dengan pergeseran ekspektasi terhadap kebijakan moneter Jepang. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak ke sekitar 1,86% pada 1 Desember, level tertinggi sejak April 2008.

    Kenaikan yield ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa BOJ semakin mendekati sikap moneter yang lebih ketat setelah bertahun-tahun mempertahankan kebijakan ultra-longgar.

    Dalam pidatonya kepada pelaku usaha di Nagoya pada 1 Desember, Gubernur Kazuo Ueda menyatakan bahwa BOJ tengah “secara aktif mengumpulkan informasi mengenai sikap perusahaan terhadap kenaikan upah” menjelang pertemuan 18–19 Desember. Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa bank sentral membuka ruang untuk pengetatan lebih lanjut jika tekanan upah dan inflasi menguat.

    BOJ sebelumnya telah menggandakan suku bunga acuannya dari 0,25% menjadi 0,5% pada Januari, sehingga potensi kenaikan Desember akan menjadi yang kedua kalinya tahun ini.

    Yen Carry Trade Terancam

    Potensi kenaikan suku bunga Jepang juga menekan strategi investasi populer yang dikenal sebagai yen carry trade. Selama bertahun-tahun, investor global meminjam yen dengan bunga sangat rendah untuk kemudian mengalirkannya ke aset berimbal hasil lebih tinggi, seperti saham AS, obligasi Eropa, hingga aset kripto.

    Jika suku bunga Jepang naik dan yen menguat, strategi ini menjadi kurang menarik. Investor berisiko terpaksa menutup posisi yang dibiayai pinjaman yen, memicu aksi jual di berbagai kelas aset, termasuk kripto.

    Nilai tukar USD/JPY tercatat di kisaran 156,58 pada 21 November. Sejarah menunjukkan, ketika kurs mendekati level 160 per dolar, otoritas Jepang kerap mempertimbangkan intervensi untuk menahan pelemahan yen. Jika kenaikan suku bunga BOJ memicu penguatan yen lebih lanjut, tekanan untuk menutup carry trade bisa meningkat dan memicu gelombang likuidasi lanjutan di pasar berisiko dan pasar dengan leverage tinggi seperti kripto.

    Peluang Kenaikan Suku Bunga BOJ

    Tangkapan layar Polymarket yang menampilkan grafik dengan dua garis yang melacak persentase peluang berdasarkan taruhan untuk kenaikan 25 bps pada 61% dan tidak ada perubahan pada 39%. Kredit: Polymarket
    Tangkapan layar Polymarket yang menampilkan grafik dengan dua garis yang melacak persentase peluang berdasarkan taruhan untuk kenaikan 25 bps pada 61% dan tidak ada perubahan pada 39%. Kredit: Polymarket

    Di pasar derivatif dan prediction market, pelaku pasar kini memperhitungkan skenario kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin pada Desember sebagai skenario yang sedikit lebih mungkin terjadi dibanding tidak ada perubahan kebijakan.

    Setelah pidato Ueda pada 1 Desember, probabilitas kenaikan suku bunga yang tercermin di Polymarket bergerak dari sekitar 50% menjadi 57%. Di sisi lain, peluang BOJ mempertahankan suku bunga di level 0,5% diperkirakan sekitar 40%.

    Perkembangan jelang pertemuan BOJ 18–19 Desember kini menjadi salah satu faktor kunci yang diawasi pelaku pasar global. Setiap sinyal baru terkait kebijakan suku bunga Jepang berpotensi memicu volatilitas lanjutan, tidak hanya di pasar obligasi dan valuta asing, tetapi juga di pasar kripto yang sarat posisi leverage.

    Baca juga: Market Sinyal Kripto: Analisis Teknikal dan Peluang 3 Desember 2025


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Suku Bunga Jepang Tertinggi dalam 30 Tahun, Bitcoin Sempat Anjlok

    Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuannya menjadi 0,75% pada Kamis (19/12), level tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Keputusan bersejarah ini langsung memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk pasar kripto, dengan Bitcoin sempat turun di bawah US$86.000 sebelum kembali menguat ke atas US$87.000.

    Kenaikan suku bunga tersebut disepakati secara bulat oleh dewan kebijakan BOJ, yang sebelumnya mempertahankan suku bunga di level 0,5%. Dalam pernyataannya, bank sentral Jepang menegaskan bahwa suku bunga riil masih berada di wilayah negatif dan kebijakan moneter longgar tetap diperlukan untuk menopang aktivitas ekonomi.

    Langkah Bersejarah Menghadapi Tantangan Fiskal

    Baca juga: Jepang Naikkan Suku Bunga Tertinggi 30 Tahun, Bitcoin Terancam

    Dilaporkan Cryptonews, Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan pihaknya akan terus menyesuaikan tingkat akomodasi moneter jika proyeksi ekonomi dan inflasi berjalan sesuai perkiraan. Langkah ini diambil di tengah tekanan fiskal yang meningkat, seiring pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi meluncurkan paket stimulus senilai US$117 miliar yang sebagian besar dibiayai melalui penerbitan obligasi baru.

    Kondisi tersebut menambah kekhawatiran terhadap utang publik Jepang yang kini telah melampaui dua kali ukuran ekonominya. Analis MUFG, George Goncalves, menilai kombinasi utang yang membengkak, suku bunga lebih tinggi, dan belanja fiskal agresif membuat arah ekonomi Jepang semakin sulit diprediksi.

    Di pasar valuta asing, yen sempat menguat sesaat setelah pengumuman kebijakan, namun kembali melemah. Analis OCBC, Christopher Wong, menilai pergerakan tersebut lebih dipengaruhi oleh likuiditas pasar yang tipis ketimbang perubahan fundamental.

    Sementara itu, pasar kripto menunjukkan reaksi beragam. Bitcoin sempat tertekan akibat kekhawatiran unwind yen carry trade, namun penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Sejumlah analis menilai pasar telah mengantisipasi kebijakan BOJ sebelumnya sehingga dampaknya relatif terbatas.

    Perbedaan Arah Kebijakan Menandakan Volatilitas

    Trader kripto Michael van de Poppe menyebut kenaikan suku bunga ini tidak lagi memberikan efek besar terhadap pasar kripto. Ia menilai tekanan jual sebelum pengumuman justru berlebihan. Senada, CryptoMichNL menyatakan dampak marginal terhadap carry trade semakin kecil dibandingkan penyesuaian kebijakan sebelumnya.

    Di sisi lain, mantan CEO BitMEX Arthur Hayes justru merespons sangat bullish. Ia menegaskan kebijakan suku bunga riil negatif BOJ berpotensi melemahkan yen lebih jauh dan mendorong Bitcoin ke level yang jauh lebih tinggi.

    Optimisme jangka menengah juga datang dari Ignacio Aguirre, CMO Bitget, yang menilai perbedaan arah kebijakan BOJ dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 dapat menciptakan volatilitas sekaligus peluang akumulasi bagi investor jangka panjang. Ia memperkirakan Bitcoin berpeluang menguji area US$95.000 hingga US$100.000 pada awal 2026.

    Prediksi paling agresif disampaikan oleh Tom Lee dari Fundstrat, yang kembali menegaskan target Bitcoin di US$200.000 pada Januari 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh arus masuk ETF spot Bitcoin yang telah melampaui US$30 miliar sepanjang tahun ini serta ekspektasi pelonggaran regulasi di Amerika Serikat.

    Dengan kebijakan moneter global yang semakin terpecah, langkah BOJ ini dinilai menjadi salah satu katalis penting yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan di pasar kripto, sekaligus membuka peluang rebound Bitcoin dalam jangka menengah.

    Baca juga: Lonjakan 32% Open Interest Futures XRP: Sinyal Bullish atau Bearish?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kripto Anjlok US$ 270 M, Bitcoin Sempat Jatuh ke Level US$ 54.000


    Jakarta

    Nilai pasar kripto secara keseluruhan anjlok pada hari Minggu kemarin hingga US$ 270 miliar atau sekitar Rp 4.347 triliun dalam jangka waktu 24 jam. Hal ini disebabkan karena investor berbondong-bondong menjual aset berisiko seperti bitcoin dan ether.

    Dikutip dari CNBC Internasional, Senin (5/8/2024), data CoinGecko menunjukkan, Bitcoin turun hingga 11% dan ether turun 21% dalam waktu 24 jam. Hal ini membuat nilai keseluruhan mata uang kripto anjlok sekitar US$ 270 miliar.

    Kondisi ini bertepatan dengan penurunan ekuitas di pasar Asia-Pasifik. Nikkei 225 Jepang anjlok hingga 7%, memperpanjang kerugian yang dimulai minggu lalu, setelah Bank of Japan mengumumkan akan menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 16 tahun.


    Lalu di Amerika Serikat (AS), Nasdaq merosot 3,4% minggu lalu ke wilayah koreksi, mengakhiri tiga minggu terburuk indeks yang sarat teknologi itu sejak September 2022. Saham Amazon dan Nvidia berkontribusi terhadap penurunan tersebut.

    “Penurunan saham minggu lalu sebagian terkait dengan laba yang mengecewakan, laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, pengangguran yang lebih tinggi, dan sektor manufaktur yang menurun,” tulis CNBC.

    Di tengah kondisi tersebut, Federal Reserve AS memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil dan tidak menjanjikan penurunan suku bunga pada bulan September. Suku bunga yang lebih rendah cenderung berkorelasi dengan kinerja yang lebih baik untuk aset berisiko.

    Bitcoin Merosot ke Level US$ 54.000

    Sementara itu, harga Bitcoin telah mencapai level terendah sejak Februari. Mata uang kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan sekitar US$ 54.000 atau sekitar Rp 869,4 juta. Meski demikian, harganya masih mencatatkan kenaikan hampir 23% tahun ini.

    Sedangkan harga ether, token asli yang menopang blockchain ethereum, turun menjadi sekitar US$ 2.300 atau setara Rp 37,03 juta dan telah menghapus keuntungannya untuk tahun ini. Token BNB Binance turun lebih dari 15% dan Solana diperdagangkan 10% lebih rendah.

    Kondisi hancurnya pasar kripto diproyeksikan akan segera dirasakan oleh basis investor yang lebih luas. Hal ini imbas atas Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menyetujui dana yang diperdagangkan di bursa spot baru atau ETF bitcoin spot untuk bitcoin dan ether.

    ETF telah melihat ratusan juta dolar mengalir ke koin tersebut. Pada hari Jumat lalu, CNBC melaporkan bahwa Morgan Stanley akan segera mengizinkan 15.000 penasihat keuangannya untuk menawarkan ETF bitcoin kepada kliennya. Ini merupakan langkah pertama di antara bank-bank besar Wall Street untuk mengadopsi kripto ke dalam portofolio investasinya.

    (shc/das)



    Sumber : finance.detik.com