Tag: bayi-bayi

  • Melihat Konservasi Penyu di Bali Utara, Ada Ratusan Bayi Penyu!



    Jakarta

    Biar liburan di Bali Utara semakin seru, cobain deh datang ke penangkaran penyu yang ada di Desa Pemuteran ini. Kamu bisa melihat bagaimana telur-telur penyu itu diselamatkan hingga dilepaskan.

    Tempatnya tidaklah besar. Lokasinya berada di Reef Seen Diver’s Resort Desa Pemuteran, Gerokgak. Di sana terdapat beberapa kolam yang berisi ratusan anak-anak penyu yang berenang ke sana ke mari.

    ‘Proyek Penyu’ tertulis besar di papan yang berada di tengah-tengah kawasan kolam. Yap, sudah lebih 30 tahun proyek ini berjalan di Desa Pemuteran.


    “Kita di sini ada tiga jenis penyu, yaitu penyu hijau, penyu olive dan penyu sisik. Penangkaran ini telah ada sejak tahun 1991 dan setiap tahunnya ribuan penyu yang kita lepas dari sini,” kata Ina, salah satu tim Proyek Penyu, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Proyek Penyu di Desa Pemuteran, BulelengKepala Desa Pemuteran bersama Chris Brown dan Ina (Syanti Mustika/detikcom)
    Proyek Penyu di Desa Pemuteran, BulelengProyek Penyu di Desa Pemuteran, Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

    Proyek Penyu ini diinisiatif pertama kali oleh Chris Brown, warga Australia yang datang ke Bali di tahun 1990-an. Dia resah melihat telur-telur penyu dijual belikan tanpa masyarakat tahu nilai hidup dari penyu yang masuk ke dalam daftar terancam punah ini.

    Lina pun mengatakan bahwa di sini terdapat dua cara penetasan telur, yaitu dengan ditanam di pasir dan inkubator.

    “Kita dari dulu menetaskan telur dengan menanamnya di pasir. Dan tingkat keberhasilan dari telur yang menetas adalah 65% saja. Namun, bila menggunakan inkubator, keberhasilan telur mentas mencapai 95%. Kita menggunakan inkubator baru 2 tahun ini, dan bila inkubator penuh, sebagiannya akan kita tanam di tanah,” kata Lina.

    Telur-telur penyu ini didapatkan dari nelayan-nelayan yang datang langsung ke sini. Nanti, para nelayan akan mendapatkan insentif terhadap telur yang mereka serahkan.

    “Jadi kita ambil telur dan kasih santunan ke nelayan. Lumayan banyak yang kita dapatkan, tahun ini bulan Januari sampai Juli kita udah dapat 2.500 telur,” dia menambahkan.

    Proyek Penyu di Desa Pemuteran, BulelengTelur-telur penyu di dalam inkubator (Syanti Mustika/detikcom)

    Setelah telur-telur menetas, mereka pun dipindahkan ke dalam kolam-kolam dan dirawat di sana. Setelah 2-3 bulan, barulah tukik ini dilepaskan ke laut.

    “Biasanya, di kehidupan alaminya tukik yang menetas akan langsung berenang ke laut. Namun daya survival mereka sangat rendah dan rentan di makan predator. Karena itulah kita rawat dia hingga usia bisa mencari makan sendiri,” kata dia.

    Bayi-bayi penyu ini diberi makan setiap harinya sekali sehari. Kolam mereka pun juga dibersihkan berkala hingga mereka tidak asing bila dipindahkan ke laut.

    Untuk bisa melihat penyu-penyu ini dan belajar tentang mereka, traveler hanya perlu membayar Rp 20 ribu saja (untuk domestik) dan Rp 40 ribu (untuk mancanegara). Tiket ini berlaku untuk seminggu, jadi kamu bisa bolak-balik datang ke sini selama satu minggu.

    (sym/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kenapa Anak Tak Boleh Keluar saat Maghrib? Ini Penjelasan Islam dan Sains


    Jakarta

    Ada anjuran bahwa anak-anak tidak boleh keluar rumah saat maghrib. Larangan ini bahkan dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW.

    Dalam kehidupan masyarakat muslim, terutama di kalangan orang tua, terdapat anjuran kuat agar anak-anak tidak dibiarkan bermain atau keluar rumah saat waktu maghrib tiba. Anjuran ini bukan hanya sebatas tradisi atau budaya lokal seperti yang diyakini masyarakat, tetapi sejatinya memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

    Rasulullah SAW telah mewasiatkan hal tersebut lebih dari 14 abad yang lalu. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,


    “Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya ketika itu setan sedang bertebaran.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam riwayat lain dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW juga bersabda,

    “Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi-bayi kalian sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu. Jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu rumah dan sebutlah nama Allah, sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup.” (HR Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW dengan tegas melarang anak-anak keluar rumah saat sore menjelang malam (maghrib), karena pada waktu tersebut setan dan jin tengah bertebaran di bumi.

    Mengapa Waktu Maghrib Dihindari?

    1. Setan Sedang Menyebar di Bumi

    Dikutip dari buku Sehari Semalam bersama Rasulullah Muhammad SAW karya Daeng Naja, waktu maghrib hingga awal malam adalah saat di mana makhluk halus seperti jin dan setan mulai berkeliaran dan berpencar. Mereka mencari tempat tinggal atau berlindung, termasuk ke dalam rumah-rumah manusia atau bahkan menyusup ke dalam tubuh manusia yang lengah dari zikir.

    Imam Nawawi menjelaskan bahwa pada waktu ini, setan-setan memiliki kekuatan yang lebih besar karena mereka bebas berkeliaran sebelum dikendalikan oleh kegelapan total malam. Maka, menjaga anak-anak tetap di dalam rumah adalah bentuk perlindungan agar mereka tidak menjadi sasaran gangguan makhluk halus.

    Rasulullah SAW menganjurkan untuk menutup pintu rumah dan menyebut nama Allah (membaca Bismillah) ketika masuk waktu maghrib. Ini bukan sekadar tindakan fisik, melainkan bentuk perlindungan spiritual agar rumah tidak dimasuki oleh setan.

    “Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Imam Ibnu Abdil Barra dalam kitab Al-Istidzkar juga menjelaskan bahwa tindakan ini bukanlah tahayul, melainkan strategi perlindungan diri yang nyata dari gangguan makhluk halus berdasarkan petunjuk wahyu.

    Penjelasan Ilmiah: Frekuensi Jin dan Spektrum Cahaya Maghrib

    Dalam bukunya yang berjudul The Science of Shalat, Prof. Dr. Ir. H. Osly Rachman menjelaskan bahwa secara ilmiah, menjelang maghrib terjadi perubahan spektrum cahaya alam, yang dominan berwarna merah.

    Warna merah ini, menurut penelitian gelombang elektromagnetik, memiliki frekuensi dan energi tertentu. Uniknya, frekuensi warna merah ini mirip dengan frekuensi energi yang dimiliki oleh jin dan setan. Akibatnya, pada waktu maghrib, kekuatan mereka meningkat secara drastis karena frekuensi lingkungan mendukung eksistensi mereka.

    Di sisi lain, penglihatan manusia saat transisi dari terang ke gelap menjadi kurang stabil. Kombinasi ini membuat manusia, khususnya anak-anak yang masih lemah fisik dan spiritual, lebih rentan terhadap gangguan jin dan setan.

    Doa-Doa Perlindungan dari Godaan Setan

    Dirangkum dari buku Panduan Ibadah Doa dan Zikir Harian Terlengkap (Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah) karya H. Ahmad Zacky, berikut adalah beberapa doa yang dianjurkan untuk dibaca agar terlindung dari gangguan jin dan setan, terutama di waktu maghrib:

    1. Ta’awwudz (Ucapan Perlindungan dari Setan)

    أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ

    Latin: A’ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīm

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

    2. Membaca Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255)

    Membaca Ayat Kursi akan memberikan perlindungan dari gangguan setan dan makhluk jahat hingga pagi hari.

    3. Membaca Surah Al-Falaq dan An-Naas

    Surat Al-Falaq dan An-Naas sangat dianjurkan untuk dibaca sebelum tidur dan saat petang hari sebagai pelindung diri dari sihir, dengki, dan gangguan jin.

    Larangan membiarkan anak-anak keluar rumah saat maghrib bukanlah mitos atau kepercayaan kuno semata, tetapi berasal dari ajaran langsung Nabi Muhammad SAW.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com