Tag: belanda

  • Taman Aglaonema Terbesar di Indonesia Ada di Sleman, Ini Daya Tariknya


    Jakarta

    Taman Aglaonema atau Aglaonema Park menyajikan ratusan specimen tanaman aglaonema. Baru dibuka, taman Aglaonema diresmikan oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar pada Juni 2024.

    Taman Aglaonema ini digagas oleh BUMKal Triadi Makmur yang merupakan pengelola Puri Mataram. Lokasinya berada di satu kompleks dengan Puri Mataram. Ada apa saja di dalamnya?

    Daya Tarik Taman Aglaonema

    Taman Aglaonema menyajikan warna-warni tanaman yang memanjakan mata. Sehingga, sangat cocok untuk para pecinta tanaman hias. Berikut beberapa daya tariknya.


    1. Ada 90.000 Tanaman Aglaonema

    Taman Aglaonema menampilkan 90.000 tanaman Aglaonema yang terdiri dari 200 spesimen. Berdasarkan liputan detikJogja ke Aglaonema Park, wisata ini diklaim menjadi Taman Aglaonema terbesar di Indonesia. Tanaman-tanamannya dibangun di atas lahan seluas satu hektar.

    2. Spot Foto

    Wisatawan dapat menemui banyak spot foto berlatarkan tanaman yang cantik. Seluruh tanaman hiasnya ditata rapi dengan berbagai pola. Ada beberapa tanaman hias yang ditanam langsung di atas tanah.

    3. Patung Gregori Garnadi Hambali

    Gregori Garnadi Hambali dinobatkan sebagai Bapak Aglaonema Indonesia. Menurut laman IPB University, alumnus Biologi FMIPA ini merupakan penemu Aglaonema The Pride of Sumatera, sebuah varietas baru tanaman aglaonema yang terlahir di tahun 1987. Tanaman ini berhasil meraih juara saat mengikuti perlombaan di Belanda

    4. Penjualan Tanaman Aglaonema

    Selain melihat menyuguhkan keindahan , taman ini juga menjual tanaman hias Aglaonema. Jadi, wisatawan pecinta tanaman hias bisa membeli aglaonema yang cantik ini.

    Harga Tiket Masuk

    Harga Taman Aglaonema adalah Rp 20.000/orang (gratis untuk anak di bawah 3 tahun). Menurut instagram resminya, ada promo pembelian tiket 10 mendapat gratis 1 tiket, berlaku kelipatan.

    Lokasi dan Jam Operasional Taman Aglaonema

    Jl. Puri Mataram, Pangukan, Tridadi, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55511.
    Jam operasionalnya mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB.

    Itulah informasi mengenai Taman Aglaonema, mulai dari daya tarik, harga tiket dan jam operasional Taman Aglaonema di Sleman. Traveler mau main ke taman ini?

    (elk/elk)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cipeundeuy, Stasiun Kecil yang Dirindukan Penumpang KA Jalur Selatan



    Tasikmalaya

    “Selamat datang kepada penumpang kereta api jarak jauh. Saat ini perjalanan anda tiba di Stasiun Cipeundeuy”.

    Itulah announcement dari Arif dengan logat khas Sundanya yang menyambut kedatangan setiap penumpang KA jarak jauh. Pengucapan Stasiun Cipeundeuy yang khas ini, dengan spontan diikuti hampir semua pedagang di luar KA, bahkan para penumpang yang sudah hapal dengan adat unik nan beda dari stasiun ini.

    “Hahaha…iya sampai hafal. Aku setiap berhenti disini juga spontan aja niruin ucapan masnya tadi. Selamat datang di Stasiun Cipeundeuy pakai logat Sunda gitu,” aku Dyah, penumpang KA dari Yogya tujuan Bandung ini sambil tertawa.


    Selain announcement yang unik, menyebut nama Cipeundeuy, pasti tak asing untuk para penumpang kereta api jarak jauh tujuan Bandung atau Jakarta di jalur selatan. Karena di sinilah, penumpang yang kelaparan, akan mendapat pertolongan dengan hadirnya pedagang makanan kaki lima.

    Stasiun Cipeundeuy berada di wilayah kerja Daop 2 Bandung. Dengan posisi di 772 MDPL, suhu dingin sekejap terasa ketika memasuki wilayah di lembah perbukitan Gunung Karaha Bodas ini. Di stasiun kecil dengan bangunan lawas Belanda inilah, semua rangkaian kereta api wajib berhenti.

    Ayep Hanapi, Manager Humas 2 Bandung menjelaskan, pola operasi di Stasiun Cipeundeuy mengikuti grafik perjalanan kereta api (Gapeka). Semua KA wajib berhenti di stasiun ini untuk mengikuti SOP pemeriksaan rangkaian gerbongnya.

    “Semua KA wajib berhenti sekitar 10 sampai 15 menit untuk pengecekan rangkaian gerbong KA. Kenapa di Stasiun Cipeundeuy, karena dari timur jalur naik, begitu tiba di Cipeundeuy ke arah barat itu jalurnya akan menurun. Nah rangkaian gerbong KA harus diperiksa keamanannya,” papar Ayeb dihubungi beberapa waktu lalu.

    Momen berhentinya semua KA ini menjadi kesempatan para penumpang berburu kuliner tradisional khas Sunda. Seperti cimol, siomay, batagor, tahu bulat sampai minuman bandrek. Beberapa ibu warga lokal, dengan serempak meneriakkan dagangan mereka masing-masing, begitu rangkaian KA berhenti dengan sempurna.

    Sebuah pojok bagian bangunan dengan tulisan lawas “Cipeundeuy” menjadi spot kenangan manis bagi beberapa penumpang KA jarak jauh yang menikmati jajanan tradisional ini. Sebagian lainnya, memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati rokok dan segelas kopi panas.

    Mereka yang baru punya pengalaman pertama, biasanya akan menuju spot itu dan membeli makanan tradisional yang di lapak dalam kondisi masih panas. Namun bagi yang sudah terbiasa, akan berjalan keluar stasiun menuju lokasi para pedagang makanan yang berjejer tepat di depan stasiun. Tak hanya penumpang, beberapa crew KA jarak jauh juga memanfaatkan kesempatan ini buat membeli makanan, camilan dan minuman di pedagang kaki lima di luar stasiun.

    Achmad Cholik adalah satu diantara penumpang KA tujuan Jakarta yang menyimpan kenangan manis itu. Cholik yang merupakan pejabat di Pemkab Blitar kerapkali melakukan perjalanan dinas ke Jakarta dengan naik kereta api. Baginya, Stasiun Cipeundeuy selalu menjadi titik singgah yang dirindukan.

    “Biasanya kalau dari Blitar pagi sampai Cipeundeuy itu sore. Pas hawa dingin, kereta berhenti terus ada ibu-ibu jualan makanan dibalik pagar, aromanya sedap dan mengepul dari dandang. Wes langsung lari turun…jajan hahahaa,” kenangnya.

    Ternyata tidak hanya Cholik seorang yang menyimpan kenangan mengesankan itu. Beberapa penumpang yang sering melakukan perjalanan tujuan Jakarta naik KA juga melakukan hal yang sama. Pokok sampai Stasiun Cipeundeuy harus turun untuk jajan.

    “Soalnya makanan tradisional, masih hangat itu kan gak mungkin kita jumpai di dalam kereta. Itu cerita lama penumpang KA yang sekarang sudah tidak ada. Begitu lihat situasi Stasiun Cipeundeuy ini kok asik, otomatis banyak penumpang yang menikmatinya. Jajan dan merokok , puhh nikmat,” pungkas Kakok, penumpang asal Malang.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Makam Gaya Eropa yang Penuh Misteri di Pinggir Jalan Kuningan



    Jakarta

    Makam dengan gaya bangunan gaya Eropa masih menyimpan misteri hingga kini. Lokasinya di pinggir sebuah jalan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

    Lokasi persisnya di Jalan Raya Cigugur-Palutungan, Kabupaten Kuningan. Konon, banyak yang menyebut bangunan berada di samping markas Koramil 1515 Cigugur itu merupakan makam pembesar Belanda bernama Van Beck.

    Meski demikian, tak banyak warga yang mengetahui silsilah ataupun rekam jejak meneer Belanda yang konon tinggal di daerah Cigugur itu. Hal itu jugalah yang ada di benak Iim Wakim.


    Juru pemelihara situs makam tersebut mengaku hanya mendapat sedikit informasi mengenai sosok Van Beck.

    Makam Van Beck di Kuningan.Makam Van Beck di Kuningan (Foto: Mohamad Taufik/detikJabar)

    “Bangunan ini adalah makam Jenderal Van Beck yang meninggal pada tahun 1912. Tapi tidak ada catatan sejarah ataupun informasi dari warga sini siapa sosok Van Beck tersebut, apakah dia seorang tentara Belanda atau saudagar kaya waktu itu,” ungkap Iim kepada detikJabar, belum lama ini.

    Termasuk makam Van Beck yang mana, Iim tak mengetahui. Sebab, di dalam bangunan berbentuk bulat bak Igloo di Kutub Utara ini terdapat dua makam yang saling berdampingan.

    “Ada dua makam, kondisi satu makam di sebelah Barat sudah terbongkar sedangkan satu lagi di sebelahnya sudah bolong. Tidak ada keterangan makam Van Beck yang mana, dan makam siapa yang satu lagi, apakah istrinya atau siapa saya tidak tahu,” ujarnya.

    Pastinya, kata Iim, di lokasi tersebut dulunya memang area pemakaman yang didominasi warga Belanda yang tinggal di daerah Cigugur. Ini terlihat dari beberapa makam yang tersisa di dekat makam Van Beck mempunyai bentuk makam bergaya Eropa.

    Baca artikel selengkapnya di detikJabar

    (msl/msl)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gereja Ayam Pasar Baru Tempat Ibadah Kelas Menengah-Bawah di Era Kolonial Belanda



    Jakarta

    Di era kolonial Belanda, warga kelas menengah dan bawah pemeluk protestan tidak leluasa beribadah. Salah satu gereja yang membuka pintu untuk kelompok itu adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’.

    Sekretaris Pengurus ‘Gereja Ayam’, Yosie, menjelaskan kepada detikTravel, Kamis (29/8/2024) gereja itu dulu merupakan kapel kecil. Kapel itu dibangun pada tahun 1900.

    “Dulu gereja itu di zaman Belanda untuk golongan menengah ke atas di Gereja Immanuel yang di depan (Stasiun) Gambir itu untuk golongan menengah ke atas. Tapi kalau untuk golongan menengah ke bawah itu ya di sini,” kata Yosie.


    Seiring berjalannya waktu, jemaat yang beribadah di kapel itu semakin banyak. Kapel tersebut kemudian digeser, dari yang awalnya berada di area belakang gereja, kini ke tempat saat ini berdiri di Jalan Samanhudi No.12, Jakarta Pusat.

    “Mulanya ini nggak di sini, letaknya di belakang gedung ini mulanya hanya sebuah kapel. Tapi karena makin lama makin banyak orangnya jadi pindah ke sini dibuatnya 1913,” kata Yosie.

    Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau 'Gereja Ayam' di Pasar Baru, Jakarta PusatGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’ di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Bangunan gereja yang bergaya campuran Italia dan Portugis ini disebut Neo Romani yang dibangun oleh arsitek Belanda bernama Ed Cuypers dan Hulswit. Penamaan ‘Gereja Ayam’ sendiri tercetus dari sebutan masyarakat sekitar, karena di atas gereja ini terdapat ornamen berbentuk ayam.

    Yosie mengatakan ornamen tersebut merupakan alat penunjuk arah angin yang dirancang pada saat itu. Sayangnya, penunjuk arah angin berbentuk ayam ini sudah tidak berfungsi lagi. Kini ornamen ayam tersebut sudah menjadi ikon gereja ini.

    Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau 'Gereja Ayam' di Pasar Baru, Jakarta PusatGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’ di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    “Ini dikenalnya dengan ‘Gereja Ayam’ itu kan kita di atas itu ada ayam. Zaman dahulu ayam itu dipergunakan sebagai alat penunjuk arah mata angin, tapi di dalam lingkungan masyarakat sekitar sini karena lihat ada ayam di atas situ jadi dikenal ini dengan ‘Gereja Ayam’,” kata Yosie.

    Peninggalan-peninggalan masa lampau di ‘Gereja Ayam’ ini masih terjaga, bahkan bangku-bangku di dalam gereja masih bangku dari tahun 1913. Terdapat pula Alkitab berbahasa Belanda pemberian ratu Belanda, Sophian Fredrika Mathilda pada tahun 1855.

    Adapun bejana baptis yang sudah berumur lebih dari 300 tahun. Tampak bangun dari luar pun tak ada yang berubah signifikan dari pertama dibangun, ‘Gereja Ayam’ juga sudah ditetapkan menjadi cagar budaya pada tahun 2015.

    (iah/iah)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah Istana Ajaib Bhre Wengker di Mojokerto



    Mojokerto

    Di Mojokerto, ada sebuah situs bersejarah bernama Situs Kumitir. Situs ini dipercaya sebagai istana ajaib Bhre Wengker. Bagaimana kisahnya?

    Menurut para arkeolog, Situs Kumitir diduga merupakan bekas istana Bhre Wengker yang disebut juga Istana Ajaib. Istana ini dibangun pada era kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi.

    Hipotesis bahwa Situs Kumitir adalah bekas istana Bhre Wengker dan Bhre Daha atau istana timur Majapahit didukung berbagai temuan arkeologi, yakni Naskah Negarakertagama dan peta rekonstruksi peneliti Belanda.


    Dalam Naskah Negarakertagama, Situs Kumitir disebut juga sebagai istana ajaib Bhre Wengker dan Rani Dhaha. Istana timur dan barat Kerajaan Majapahit itu dibangun di masa pemerintahan Putri Raden Wijaya, Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350 masehi).

    Pembangunan istana ajaib Bhre Wengker dan Bhre Daha ini tepatnya dilakukan setelah wafatnya kakak tiri Tribhuwana Tungga Dewi, Jayanegara (1309-1328 masehi), yang menjadi Raja Kedua Majapahit.

    Kedua istana itu dibangun untuk mencegah perebuatan kekuasaan antara Tribhuwana Tunggadewi dengan adik kandungnya, Bhre Daha.

    Karena kedua putri Raden Wijaya, pendiri Majapahit dengan Dyah Gayatri atau Rajapatni itu sama-sama berhak menjadi penguasa kerajaan setelah Jayanegara wafat.

    Istana barat dan timur dibangun di Wilwatiktapura atau Kota Raja Majapahit yang diyakini berada di Kecamatan Trowulan dan sekitarnya.

    Sedangkan, Istana barat ditempati oleh Tribhuwana Tunggadewi dengan suaminya Bhre Tumapel atau Kertawardhana yang kemudian diwariskan ke putra Tribhuwana, Raja Hayam Wuruk.

    Istana barat Majapahit ini diperkirakan berada di Situs Kedaton atau Situs Sumur Upas, Desa Sentonorejo, Trowulan.

    Pertikaian di Majapahit baru terjadi melibatkan keturunan Hayam Wuruk hingga mewariskan tahtanya kepada Wikramawardhana, buah pernikahan dengan Prameswari.

    Hayam Wuruk juga mempunyai anak dari selir, yaitu Bhre Wirabhumi. Wirabhumi diangkat anak oleh Bhre Daha dan dibesarkan di istana timur Majapahit. Ia menikah dengan cucu ibu angkatnya, Nagarawardhani dan dijadikan Bhre Lasem.

    Sebenarnya, Wirabhumi sudah mengalah tapi Wikramawardhana mengganti jabatan Wirabhumi sehingga memicu Perang Paregreg antara Majapahit barat dan timur (1404-1406 masehi).

    Situs Kumitir juga menjadi tempat pendarmaan atau tempat menghormati Mahesa Cempaka, salah seorang raja bawahan Singosari. Bhre Wengker membangun tempat suci itu untuk menghormati leluhurnya, Mahesa Cempaka di dalam istananya yang kini menjadi Situs Kumitir.

    Mahesa Cempaka meninggal pada 1268 masehi. Semasa hidupnya dia menjadi Bhre Daha yang memimpin salah satu negara bagian Kerajaan Singosari. Sementara Singosari kala itu dipimpin saudara tirinya, Wisnu Wardhana.

    Sosok Mahesa Cempaka juga diketahui merupakan keturunan kedua Ken Arok dengan Ken Dedes. Dia adalah kakek Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Sedangkan Wisnu Wardhana keturunan kedua dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Monumen Rawagede di Karawang, Dark Heritage Simpan Luka Sejarah



    Jakarta

    Monumen Rawagede, destinasi dark heritage di Karawang, mengenang tragedi pembantaian 1947. Pengunjung dapat belajar sejarah dan berziarah di makam korban.

    Monumen ini berlokasi di Dusun Rawagede, Desa Rawagede, Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat. Monumen tersebut didirikan untuk mengenang tragedi pembantaian yang terjadi pada tahun 1947.

    Dalam insiden tragis itu sekitar 431 warga sipil laki-laki, yang usianya berkisar mulai dari 15 tahun, tewas.


    Di dalam kompleks monumen, para pengunjung dapat menyaksikan patung-patung, diorama yang menggambarkan suasana pembantaian, serta foto-foto dokumentasi kunjungan pemerintah dan sosok penting Kapten Lukas, yang memainkan peran besar dalam peristiwa tersebut.

    Monumen Rawagede beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Untuk masuk ke area monumen, pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar Rp 2.500, belum termasuk biaya parkir.

    Meski harga tiketnya relatif terjangkau, namun pengalaman yang didapatkan dari kunjungan ke monumen itu sangat mendalam. Terutama, bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

    Sejarah Monumen Rawagede

    Monumen Rawagede merupakan salah satu destinasi yang dikategorikan sebagai wisata dark heritage di Indonesia yang menyimpan kisah tragis dari masa lalu. (Asti Azhari/detikcom)

    Dark heritage ini menjadi destinasi wisata sejarah berkat usulan masyarakat setempat dan dipelopori oleh Bapak K. Sukarman HD, yang kala itu menjabat sebagai lurah. Dengan dukungan dari pemerintah daerah, monumen ini resmi dibuka pada 9 Desember 1996. Selain berfungsi sebagai tempat peringatan, monumen ini juga berperan sebagai sarana edukasi mengenai tragedi Rawagede, mencakup peristiwa sebelum dan setelah tragedi tersebut terjadi.

    Menurut Sukarman, mantan lurah yang kini berusia 75 tahun, Monumen Rawagede awalnya dibangun sebagai tempat pemakaman bagi para korban pembantaian.

    “Awalnya dibuat pemakaman dulu, jasad para korban yang dikebumikan di depan rumahnya masing-masing dipindahkan agar anak cucu generasi bangsa tahu bahwa ada peristiwa ini, sekaligus menghormati jasad para korban pembantaian,” kata Sukarman kepada tim detikTravel dalam perbincangan dengan detikTravel pada 4 Oktober 2024.

    Peristiwa tragis itu bermula ketika Belanda mencari keberadaan Kapten Lukas, seorang pejuang yang melarikan diri ke Rawagede. Sayangnya, tidak ada satu pun warga yang memberikan informasi kepada serdadu Belanda.

    “Salah satu penyebab pembantaian adalah, tak ada satu pun warga yang menjawab pertanyaan serdadu Belanda yang bertanya di mana Kapten Lukas berada dan para pejuang lainnya. Masyarakat memilih bungkam, meski mengetahui keberadaan Kapten Lukas dan para pejuang,” ujar Sukarman.

    Akibat keheningan warga, tentara Belanda langsung menembaki warga yang telah dikumpulkan. Tragedi ini membuat sungai di sekitar Rawagede berubah menjadi merah darah, karena beberapa jasad korban dibuang ke sungai. Sukarman juga menggambarkan bagaimana para istri korban terpaksa mengubur jasad suami dan anak mereka dengan kain seadanya.

    “Jasad dikubur di lubang yang tidak lebih dari 50 cm, hingga sore hari bau busuk mulai tercium,” ujar Sukarman.

    Di dalam kompleks Monumen Rawagede, terdapat sekitar 181 makam korban pembantaian. Para pengunjung, termasuk traveler yang tertarik pada wisata sejarah, dapat berziarah dan mendoakan para korban di makam-makam tersebut. Setiap makam telah mendapatkan izin dari keluarga korban, sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut.

    Salah satu pengunjung dari Karawang Barat, Fajar, mengungkapkan bahwa rasa penasaran terhadap sejarah pembantaian Rawagede membuatnya tertarik kembali mengunjungi Monumen Rawagede. Menurutnya, kunjungan sebelumnya hanya singkat dan ia belum sempat mengeksplorasi monumen secara menyeluruh.

    “Penasaran sih, karena sebelumnya pernah ke sini tapi cuma sebentar, hanya sampai ke area makam, belum masuk ke monumennya,” ujar Fajar.

    Saat berkunjung ke monumen tersebut, Fajar merasakan kesan yang cukup unik. “Kesan saya sih agak mistis, karena banyak makam korban pembantaian di sini, jadi sedikit merinding. Tapi, suasana terasa adem juga karena banyak pepohonan,” ujar dia.

    Menurut Sukarman, monumen ini sering dikunjungi oleh pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga mahasiswa, serta para peneliti yang tertarik mempelajari lebih lanjut mengenai sejarah perjuangan bangsa.

    Pendanaan untuk operasional dan perawatan monumen didukung oleh Yayasan Rawagede, dengan anggaran dari pemerintah Kabupaten Karawang serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Perbaikan dan pelestarian fasilitas di monumen ini juga melibatkan peran aktif masyarakat lokal.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


    Jakarta

    Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

    Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

    Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


    Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

    Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

    1. Vihara Sin Tek Bio

    Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

    Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

    Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

    Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

    “Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

    “Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

    Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

    2. Toko Tio Tek Hong

    Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

    Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

    “Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

    “Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

    3. Toko Kompak

    Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

    Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

    Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

    4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

    Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

    Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

    Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

    Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cerita Mistis yang Menyelimuti Gedung Negara Cirebon



    Cirebon

    Di Cirebon ada satu bangunan bersejarah peninggalan era Hindia Belanda. Namanya Gedung Negara. Konon, cerita mistis menyelimuti gedung ini. Seperti apa?

    Gedung Negara terletak di Kesenden, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Bangunan yang didominasi warna putih ini telah berdiri selama ratusan tahun dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota Cirebon.

    Menurut pegiat sejarah Cirebon, Putra Lingga Pamungkas, Gedung Negara dibangun sekitar tahun 1860-an. Dahulu, gedung ini digunakan sebagai rumah dinas dan kantor keresidenan Cirebon.


    Lingga menjelaskan keresidenan merupakan bentuk pemerintahan pada masa Hindia Belanda yang setingkat dengan provinsi. Keresidenan Cirebon mencakup wilayah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, dan Indramayu.

    “Residen itu setingkat provinsi, gemeente setingkat kotapraja, bupati di kabupaten, district setingkat kecamatan, kewedanan setingkat desa, serta Gubernur Jendral yang menjadi setingkat presiden sebagai perwakilan atau penyambung lidah dari ratu Belanda,” tutur Lingga, belum lama ini.

    Pembangunan Gedung Negara tidak terlepas dari hancurnya benteng Fort De Beschermingh, sebuah benteng yang dibangun oleh VOC pada sekitar tahun 1680 di Kebumen, dekat pesisir Cirebon. Saat masih berfungsi, benteng ini juga digunakan sebagai kantor oleh keresidenan Cirebon.

    Namun, sekitar tahun 1840-an, terjadi ledakan bubuk mesiu di dalam benteng yang disebabkan oleh kelalaian seorang pegawai, yang mengakibatkan benteng tersebut hancur total.

    Setelah Indonesia merdeka, Gedung Negara beberapa kali mengalami pergantian kepemilikan. Berdasarkan catatan, gedung ini pernah dikelola oleh pemerintah provinsi hingga Badan Koordinasi Daerah.

    Gedung Negara CirebonGedung Negara Cirebon Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

    Hingga kini, status kepemilikan Gedung Negara masih berada di tangan pemerintah. Pengunjung pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam Gedung Negara.

    Namun terdapat taman di samping gedung yang memiliki kandang rusa dan burung merak. Pengunjung bisa menghabiskan waktu dengan melihat dan memberi makan rusa, menjadikan tempat ini tujuan alternatif untuk berlibur di Cirebon.

    Cerita Mistis Menyelimuti Gedung Negara

    Sebagai bangunan tua, Gedung Negara memiliki beberapa cerita mistis. Salah satunya paparkan oleh penjaga Gedung Negara, Mulyono. Ia mengatakan memang ada beberapa orang yang pernah mengalami kejadian mistis di Gedung Negara.

    “Memang ada saja beberapa tamu yang menginap di sini, terus pada minta pindah. Katanya, ada yang gangguin, kayak mendengar suara-suara seperti anak kecil, atau suara perempuan noni Belanda,” tutur Mulyono.

    Meski sering mendengar cerita mistis, Mulyono mengaku tidak terlalu memedulikannya.

    “Kalau bagi saya yang sudah lama bekerja di sini, hal seperti itu biasa saja,” katanya santai.

    Gedung Negara memiliki beberapa ruangan, termasuk aula yang dipenuhi perabotan antik berusia ratusan tahun.

    “Untuk kamarnya ada sekitar lima kamar, ada juga ruang tamu, ruang rapat, ruang tengah sama ruang keluarga,” pungkas Mulyono.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gedung di Surabaya yang Dijaga 2 Singa Sejak 123 Tahun yang Lalu



    Surabaya

    Di Surabaya, ada bangunan kolonial Belanda yang dinamakan Gedung Singa. Itu karena gedung ini dijaga oleh dua ekor singa sejak 123 tahun yang lalu.

    Gedung Singa beralamat di Jalan Jembatan Merah No 19 Surabaya. Gedung ini memiliki keunikan yang jadi ciri khasnya yakni dua patung singa yang diletakkan di depan Gedung.

    Kenapa ada dua patung Singa menjaga gedung tersebut?


    Dilansir dari buku Alweer een sieraad voor de stad: Het werk van Ed. Cuypers en Hulswit-Fermont in Nederlands-Indië 1897-1927 karya Obbe Norburis, Gedung Singa yang saat ini sudah berusia 123 tahun, awalnya bernama Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente (Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Tunjangan Hidup).

    Sejak zaman dahulu, orang-orang Surabaya sering menyebut gedung yang dibangun pada tahun 1901 ini dengan nama Gedung Singa karena ada patung dua ekor singa yang ‘berjaga’ di depan pintu masuk.

    Patung Singa di depan pintu masuk utama gedung itu memiliki sepasang sayap. Singa bersayap ini jelas bukan merupakan singa lokal, melainkan terinspirasi dari sosok singa yang berasal dari luar negeri, seperti yang ada di Mesir.

    Gedung Singa SurabayaGedung Singa Surabaya Foto: Firtian Ramadhani

    Dalam budaya Mesir Kuno, singa dipandang sebagai hewan istimewa. Dengan nama latin Panthera leo, singa diasosiasikan dengan matahari dan Firaun, mewakili kekuatan hidup dan mati di Mesir Kuno.

    Karena itu, di bagian dada kedua Singa terdapat simbol matahari. Citra singa juga digunakan untuk objek kehidupan sehari-hari, seperti dengan kursi dan tempat tidur. Tidak hanya itu, dua patung singa di depan Gedung itu juga bisa digunakan sebagai perlindungan.

    Sejarawan Begandring Soerabaia Kuncarsono Prasetyo menjelaskan terkait alasan mengapa ada dua patung singa di depan Gedung Singa tersebut.

    Ia mengatakan bahwa peletakan patung singa itu didasarkan pada simbol teologi Yunani dengan arti kemakmuran.

    “Itu ada banyak filosofi, jadi tidak hanya patung singa saja. Lukisan atasnya juga memiliki banyak filosofi. Kalau singa itu bersayap simbol Yunani, itu teologi Yunani tentang kemakmuran. Di atas itu di lukisan lebih konkret lagi memaknai,” terang Kuncar, Kamis (17/10) lalu.

    Gedung Singa SurabayaGedung Singa Surabaya Foto: Firtian Ramadhani

    Lukisan porselen di bagian atas Gedung Singa juga dinilai Kuncar memiliki makna filosofi yang mendalam. Pasalnya, terdapat simbol Eropa kuno menggambarkan perkawinan dengan simbol-simbol pribumi dengan wujud perempuan berkebaya menggendong anak.

    “Ada juga simbol lain, menggendong bayi dan mengangkat bayi. Kakinya salah satu menghadap di salah satu sisi. Kemudian, ada angka 1880 dimana itu peringatan jaringan Asuransi pertama kali dibuka di Belanda,” jelasnya.

    Pada tahun 1957, Gedung Singa yang terletak di Jalan Jembatan Merah itu dinasionalisasi oleh PT Jiwasraya. Hingga kini, Gedung Singa tetap menjadi aset dari Jiwasraya.

    Namun sekarang, kantor asuransi itu telah berpindah ke tempat lain mengikuti perkembangan zaman. Kantor Asuransi Jiwasraya telah pindah ke tempat yang lebih modern.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mengenal Situs Sokoliman, Saksi Bisu Kehidupan Purba di Gunungkidul



    Gunungkidul

    Situs Sokoliman di Gunungkidul menjadi saksi bisu kehidupan manusia purba di masa lalu. Mari mengenal lebih dekat situs ini.

    Bukti kehidupan zaman batu besar atau megalitikum masih dapat dijumpai hingga saat ini di Situs Sokoliman. Ada temuan-temuan yang identik dengan masa itu.

    Mengutip laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), zaman megalitikum diperkirakan sudah ada sejak 3.500 tahun sebelum masehi. Zaman ini, menjadi periode akhir dari zaman batu.


    Megalitikum juga disebut sebagai zaman batu besar. Itu karena produk yang dihasilkan zaman ini menggunakan batuan-batuan besar, contohnya menhir, dolmen, kubur peti batu, sarkofagus, waruga, punden berundak, dan patung-patung.

    Mengutip Jurnal Penelitian Arkeologi Kemendikbud Ristek dan laman resmi Kabupaten Gunungkidul, Situs Sokoliman ditemukan pada tahun 1934 saat masa kolonial Belanda. Keberadaan situs ini diketahui setelah dilakukan penelitian awal oleh J.L. Moens dan Van der Hoop.

    Pada awalnya, kedua orang Belanda itu melaporkan adanya bekal kubur yang berbentuk manik-manik, alat-alat besi, fragmen gerabah dan benda-benda perunggu di kawasan Dusun Gunungbang, Desa Bejiharjo, Gunungkidul. Di tempat itu, juga ditemukan beberapa kubur batu yang sampai sekarang masih berada di sana.

    Sekitar tahun 1960-an, dilakukan penelitian lanjutan yang melibatkan tenaga lokal. Kemudian, pada tahun 1982, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) yang kini bernama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menerbitkan hasil pemetaan situs kepurbakalaan Desa Sokoliman dan Gunungbang, termasuk pemetaan di Dusun Sokoliman I dan Sokoliman II.

    Sebelum adanya penelitian-penelitian purbakala itu, masyarakat di sekitar Situs Sokoliman telah menyadari keberadaan batu-batu besar tersebut dan dinamai sebagai Kramat Budo. Keberadaan batuan di sana juga menjadi cikal bakal nama Sokoliman, yaitu adanya lima batu menjulang seperti tiang (soko).

    Situs bersejarah di GunungkidulSitus Sokoliman di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana

    Meski disadari keberadaannya, batuan-batuan besar di area itu tidak lantas diistimewakan. Tak jarang warga yang baru pulang dari bertani menjadikan batuan-batuan itu sebagai lap kaki untuk menghilangkan tanah yang menggumpal.

    Akan tetapi, kini warga telah menyadari nilai sejarah yang terkandung di batu-batu besar Sokoliman. Seiring waktu juga situs ini menjadi tempat pengumpulan batuan-batuan zaman megalitikum yang ditemukan di wilayah lain Gunungkidul. Situs Sokoliman pun menjadi tempat wisata edukasi yang dapat dikunjungi masyarakat umum.

    Benda Cagar Budaya di Situs Sokoliman

    Situs Sokoliman telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya bernomor registrasi 3403092001.4.2021.72. Kepemilikan situs ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

    Di dalam Situs Sokoliman, terkumpul berbagai benda-benda peninggalan zaman megalitikum yang identik dengan pemujaan dan penguburan. Berikut beberapa benda cagar budaya di Situs Sokoliman:

    1. Arca Menhir Sokoliman

    Menhir adalah batu tegak yang umumnya ditancapkan dengan posisi berdiri sebagai objek pemujaan. Menhir dikenal juga dengan istilah batu mayat, batu bedil, batu tegak, dan batu meriam.

    Arca menhir Sokoliman berbentuk bulat pejal memanjang dengan permukaan, terutama pada bagian badan, leher, dan muka, dipahat sangat halus. Secara visual, arca ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu badan dan kepala dengan keseluruhannya sepanjang 357 cm, lebar 40 cm, dan diameter 126 cm.

    Situs bersejarah di GunungkidulSitus Sokoliman di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana

    Penemuan batu yang diduga batu menhir ini berawal dari laporan seorang warga bernama Parjiyo yang juga juru kunci kompleks makam desa setempat.

    Ia menemukan batu menhir saat membuat lubang galian makam. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada juru pelihara Situs Sokoliman, Sugito, dan selanjutnya diteruskan ke kantor BPCB DIY melalui laporan tertulis tertanggal 6 Oktober 2016.

    2. Kubur Peti Batu D 24

    Kubur Peti Batu adalah kuburan masa kebudayaan megalitikum yang berbentuk liang lahat dengan diberi lantai batu tipis. Dinding kubur peti batu terdiri dari dua sisi batu panjang dan dua batu pipih yang pendek ujungnya, serta selembar batu pipih lain sebagai penutup.

    Dinding kubur peti batu D 24 sisi timur memiliki ukuran panjang 131 cm dan lebar 57 cm, serta ketebalan 13 cm. Sementara, dinding sisi selatan memiliki panjang 89 cm, lebar, 55 cm, dan ketebalan 13 cm.

    Kubur peti batu di Situs Sokoliman ini ditemukan dari hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Van der Hoop, bersamaan dengan penemuan area ini sebagai situs purbakala.

    Dalam beberapa penelitian lanjutan, hasil analisa terhadap temuan tulang manusia mengidentifikasi setidaknya ada 4 atau 5 individu dalam kubur peti batu ini.

    3. Fragmen Menhir D 12g

    Fragmen Menhir D 12g ditemukan di pekarangan halaman rumah seorang warga bernama Sugito. Batu ini, semula berada di atas tanah tegalan dekat kandang sapi milik warga lain bernama Mento Pawiro (Mento Simin).

    Pada tahun 2009 dan tahun 2017, BPCB DIY melakukan kegiatan inventarisasi yang dilanjutkan dengan pemetaan temuan benda megalitikum yang berada di luar Penampungan Sokoliman. Fragmen batu itu kemudian dipindahkah ke situs Sokoliman.

    Dari penuturan Sugito, fragmen menhir D 12g ini mengalami kerusakan dari saat penemuan awal. Ketika diinventarisasi pada 2009, ukuran panjang fragmen menhir D 12g adalah 1 meter, tetapi saat ini hanya tersisa 84 cm.

    Selain ketiga batuan di atas, masih ada banyak batuan peninggalan masa megalitikum yang dapat dijumpai di Situs Sokoliman. Berdasarkan data inventarisasi BPCB DIY, ada sedikitnya 5 buah kubur batu (insitu), 7 buah papan kubur batu, dan 137 buah batu menhir di Sokoliman.

    Cara Menuju ke Sini dan Harga Tiket

    Situs Sokoliman berada di Padukuhan Sokoliman II, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya terletak pada 20 kilometer timur laut pusat Kota Wonosari, dekat dengan wisata Gua Pindul.

    Bagi yang memulai berkendara dari Jogja, Situs Sokoliman berada pada jarak 45 kilometer ke arah tenggara. Wisatawan dapat berkendara mengikuti Jalan Jogja-Wonosari kemudian mengambil jalur kiri ketika sampai di persimpangan Sambipitu Patuk ke arah Nglipar.

    Wisatawan perlu berkendara sekitar 20 kilometer lagi untuk bisa sampai situs Sokoliman. Untuk masuk ke situs ini, wisatawan perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Akan tetapi, harga tiket tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.

    Oleh karena itu, pengunjung dapat memeriksa tarif pastinya di lokasi secara langsung. Di sana juga telah disediakan pemandu atau juru pelihara situs yang akan mengajak wisatawan mengelilingi Situs Sokoliman.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com