Tag: beras oplosan

  • Heboh Beras Oplosan, Begini Cara Cuci Beras yang Benar


    Jakarta

    Peredaran beras oplosan kini tengah meresahkan. Konsumsinya pun perlu diwaspadai, dimulai dari langkah mencuci beras. Begini cara mencuci beras yang tepat.

    Beras yang merupakan bahan makanan pokok orang Indonesia dikonsumsi sehari-hari di banyak dapur rumah tangga. Memasak beras pun ada triknya. Dimulai dari menyiapkan beras yang bersih.

    Terlebih kini masyarakat Indonesia tengah resah dengan beredarnya beras oplosan di pasaran. Beras ini mungkin dicampur kualitasnya dengan yang buruk atau ditambahkan zat pemutih, pewarna buatan, atau bahan pengawet berbahaya.


    Banyak orang akhirnya memilih mencuci beras dengan merendamnya di air beberapa kali, lalu membuang air rendaman tersebut. Langkah ini dilakukan sampai tak ada jejak kotoran atau kontaminan pada beras.

    Mengutip Livestrong (24/1/2023), para ahli gizi dan chef profesional mengatakan mencuci beras memang perlu dilakukan. Mereka mengungkap sejumlah keuntungannya, seperti berikut:

    1. Menghilangkan kontaminan dan logam berat

    Memastikan beras bersih, bebas kontaminan, dan logam berat perlu dilakukan. Sebab menurut penelitian yang dimuat dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (November 2020), beras sangat tinggi arsenik, timbal, dan kadmium yang menimbulkan risiko kesehatan serius untuk kesehatan.

    Salah satu cara menghilangkan kontaminan dan logam berat adalah dengan mencuci beras. Ahli gizi Kimberly Gomer mengatakan, “Kontaminan masuk ke tanaman padi dari air tanah tercemar yang membanjiri sawah, sehingga manfaat utama mencuci beras adalah menurunkan risiko keracunan logam berat.”

    2. Membuat beras bebas kotoran

    Gomer menekankan mencuci beras perlu dilakukan untuk menghilangkan kotoran, debu, bahan kimia, hingga paparan serangga. Alhasil, nasi yang nantinya dikonsumsi akan terjamin kualitasnya.

    Menurut University of Maryland Extension, mencuci beras juga penting karena biji-bijian seperti beras sangat rentan terhadap kontaminasi kutu beras. Serangga kecil ini dapat menyerang makanan dan membuat kualitasnya lebih cepat menurun.

    3. Bikin nasi makin enak

    Chef selebriti Kai Chase mengungkap manfaat konsumsi beras dari sisi rasa dan tekstur nasi yang akan dihasilkan. “Mencuci beras dapat menghilangkan kandungan pati berlebih, menghasilkan tekstur yang lebih pulen dan rasa yang lebih enak,” katanya. Ia juga mengatakan jika beras tidak dicuci, nasi bisa menggumpal nantinya.

    Cara Mencuci Beras yang Tepat

    Jangan Dibuang! Ini 5 Manfaat Air Bekas Cuci Beras, Bikin Awet MudaMencuci beras juga bisa memanfaatkan saringan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Yuuji

    Dikutip dari Simply Recipes (11/8/2024), ada 2 cara mencuci beras yang bisa kamu coba. Berikut penjelasannya:

    1. Cuci beras di bawah air mengalir

    Tuang beras ke dalam saringan halus yang diletakkan di atas mangkuk besar. Letakkan keduanya di wastafel dapur. Alirkan air keran ke seluruh permukaan beras dan gunakan tangan untuk mengaduk-aduk beras.

    Tuang air dari mangkuk setelah penuh. Perhatikan warna airnya. Awalnya akan terlihat putih susu, tetapi seiring kamu membilas beras, airnya akan berubah lebih jernih. Jika sudah jernih, artinya beras sudah bersih dan siap digunakan.

    2. Cuci beras dalam mangkuk

    Sering dilakukan orang Indonesia, mencuci beras dalam mangkuk atau wadah rice cooker langsung jadi andalan. Beras tinggal dimasukkan ke dalamnya. Lalu tuangkan air keran. Aduk-aduk dan putar beras dengan tangan.

    Air akan berubah menjadi putih susu. Tuangkan air dari mangkuk dengan hati-hati, tahan beras dengan satu tangan, jika diinginkan. Kemudian, tambahkan air bersih.

    Ulangi proses ini hingga air tetap jernih setelah kamu mengaduk-aduk beras. Biasanya memakan waktu 4-5 kali. Tidak perlu menggosok beras terlalu keras karena khawatir membuat bulir-bulirnya patah dan rusak. Cukup pakai tangan, bukan pakai alat dapur lain.

    (adr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Soal Beras Premium Dioplos, Begini Hukumnya dalam Islam


    Jakarta

    Pemerintah menemukan sejumlah beras oplosan di pasaran. Ada 212 merek yang terbukti melanggar aturan.

    Karena kecurangan itu, negara ditaksir rugi Rp 10 triliun dalam waktu lima tahun. Kasus ini diungkap oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

    “Negara subsidi Rp 1.500. Kemudian kemudian diangkat naik lagi harga Rp 2.000-3.000. Kita hitung kerugian negara Rp 2 triliun ini satu tahun. Kalau lima tahun Rp 10 triliun, yang diambil adalah Rp 1,4 triliun. Emang berat bagi kami kami siap tanggung risiko,” kata Amran, dikutip dari detikFinance.


    Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini?

    Hukum Jual Beli Barang Oplosan dalam Islam

    Islam sangat jelas melarang praktik jual beli barang oplosan seperti ini. Sebab, dianggap curang dan tidak transparan.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah menegur seseorang yang berlaku demikian. Ia adalah pedagang yang menyembunyikan kualitas buruk barang dagangannya.

    Menukil buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah karya Fuad Abdurrahman, Rasulullah SAW begitu marah dengan pedagang tersebut karena tak jujur dalam berdagang. Karena ia mengoplos gandung kering dan gandum basah yang dijualnya. Begini kisah lengkapnya.

    Suatu hari, Rasulullah SAW berkeliling pasar bersama para sahabat untuk memastikan tidak ada kecurangan dalam transaksi jual beli. Perhatian beliau tertuju pada seorang penjual gandum yang menumpuk dagangannya tinggi.

    Beliau lantas mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam tumpukan gandum tersebut. Saat mengecek, jari jemari beliau merasakan bagian bawah gandum yang basah dan hampir busuk. Ternyata, si penjual sengaja meletakkan gandum berkualitas bagus di atas untuk menutupi kondisi gandum yang jelek di bawahnya, berniat menipu pembeli.

    “Apa ini, hai pemilik gandum?” tanya Rasulullah SAW.

    “Ini bagian yang terkena hujan, wahai Rasulullah,” jawab pedagang itu.

    Rasulullah SAW kemudian menegur, “Mengapa tidak kau letakkan di bagian atas agar bisa dilihat para pembeli? Apakah kau sengaja menempatkan gandum yang basah ini di bawah gandum yang bagus agar tidak ada orang yang melihatnya?”

    Pedagang itu terdiam.

    Lalu, Rasulullah SAW bersabda dengan tegas, “Barang siapa menipu kami maka ia tidak termasuk golongan kami.”

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa membunuh saudaranya sesama muslim maka ia bukan termasuk golongan kami. Dan barang siapa menipu kami, ia bukan golongan kami.”

    Ada pula kisah lain tentang seorang pria yang mengadu kepada Rasulullah SAW karena sering tertipu dalam transaksi. Setelah mendengar keluhannya, beliau menasihati pria itu: “Saat bertransaksi dengan siapa pun, katakan: Jangan menipu!” Sejak saat itu, pria tersebut selalu mengucapkan kalimat itu sebelum berdagang.

    Menipu dan berbohong adalah perbuatan tercela yang sangat dilarang dalam Islam. Setiap muslim yang beriman wajib menjauhi tindakan penipuan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesama muslim adalah saudara. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh menjual barang yang ada cacatnya kepada saudaranya kemudian ia tidak menjelaskan cacat tersebut.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

    Balasan bagi pelaku penipuan sangatlah berat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak masuk surga seorang penipu, orang yang menyebut-nyebut kebaikan (yang pernah ia berikan kepada orang lain), dan orang kikir.”

    Dari kisah dan hadits-hadits ini, jelaslah bahwa Islam sangat menekankan pentingnya kejujuran dan transparansi dalam setiap interaksi, khususnya dalam berdagang. Menipu bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga menjauhkan pelakunya dari golongan Rasulullah SAW dan menghalangi jalan menuju surga.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com