Tag: berkah

  • 5 Doa Selesai Makan Beserta Keutamaan Mengamalkannya


    Jakarta

    Doa selesai makan bisa diamalkan muslim agar makanan yang masuk ke dalam tubuh menjadi berkah dan bermanfaat. Sebagaimana diketahui, Islam menganjurkan umatnya untuk berdoa sebelum memulai dan menyelesaikan kegiatan, termasuk makan.

    Membaca doa selesai makan sama artinya dengan bersyukur atas nikmat yang Allah SWT limpahkan. Dia berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 172,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya.”

    Menurut Jami’us Sirah tulisan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah yang diterjemahkan Abdul Rosyad Shiddiq dan Muhammad Muchson Anasy, Rasulullah SAW selalu mengucap basmalah sebelum makan dan alhamdulilah selesai makan.

    Bacaan Doa Selesai Makan

    Berikut beberapa doa selesai makan yang dinunkil dari buku Tadabbur Doa Sehari-hari yang ditulis Jumal Ahmad.

    1. Doa Selesai Makan Versi Pertama

    اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنَا إِيَّاهُ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلَا قُوَّةٍ

    Alhamdulillâhilladzî ath’amanâ hadzat tha’âma wa razaqanâ iyyâhu min ghairi haulin minnî wa lâ quwwatin.

    Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami makan dengan makanan ini dan telah mengaruniakan kami akan itu makanan dengan tiada daya dan upaya dari kami,”

    2. Doa Selesai Makan Versi Kedua

    اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ المُسْلِمِيْنَ

    Alhamdulillâhilladzî ath’amanâ wa saqânâ wa ja’alanâ minal muslimîn.

    Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan telah memberi kami minum, dan menjadikan kami termasuk orang yang patuh.”

    3. Doa Selesai Makan Versi Ketiga

    اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ

    Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa muslimiin.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang memberikan makan dan minum kepada kami. Dan menjadikan kami orang Islam.”

    4. Doa Selesai Makan Versi Keempat

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

    Alhamdulillahilladzi ath-ama wa saqoo wa sawwagohu wa ja’alaa lahu makhrojaan

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, memberi minum, memudahkan untuk menelan, dan menjadikan baginya jalan keluar.”

    5. Doa Selesai Makan Versi Kelima

    اللهمَّ أَطْعَمْتَ وَسَقَيْتَ وَاغْنَيْتَ وَاقْنَيْتَ وَهَدَيْتَ وَأَحْيَيْتَ
    فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ

    Allahumma ath-amta wa saqoyta wa aghnayta wa aqnayta wa hadayta wa ah yayta falakalhamdu alaa maa a’thoyta

    Artinya: “Duhai Allah, Engkau telah memberi makan, minum, memperkaya, menyangkutkan, menunjukkan, dan menghidupkan. Maka bagi-Mu segala puji atas apa yang telah Engkau karuniakan.”

    Keutamaan Membaca Doa Selesai Makan

    Merujuk pada sumber yang sama, sering membaca doa selesai makan membuat muslim menyadari arti dan maksud dari bacaan tersebut. Saat seseorang mengerjakan sesuatu secara berulang kali, maka ini membuatnya lancar dalam membaca doa.

    Mengucap hamdalah atau doa selesai makan sama seperti menyandarkan rezeki yang diterima oleh Allah SWT. Dengan membacanya, niscaya ucapan tersebut bernilai zikir dan pahala.

    Itulah bacaan doa selesai makan dan keutamaan mengamalkannya. Jangan lupa dibaca ya!

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kehancuran Kaum Saba’, Hidup Makmur Tanpa Rasa Syukur


    Jakarta

    Kaum Saba’ merupakan salah satu dari empat peradaban besar yang terdapat di Arab. Menurut buku Kisah Kota-kota Dalam Al Quran karya Rani Yulianty, diperkirakan kaum Saba’ hidup pada tahun 1000-750 SM. Kisah kaum ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Saba’ ayat 15-19.

    Disebutkan dalam buku 40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-makhluk Allah yang disadur oleh Kaserun AS Rahman, mereka disebut dengan Saba’ karena mereka adalah orang Arab pertama yang pernah menjadi tawanan. Mereka memiliki mahkota yang dikenakan bagi para penguasa.

    Banyak rasul yang diutus kepada mereka untuk mengajak mereka kepada agama tauhid dan menyembah Allah SWT. Akan tetapi, mereka tetap hidup semau mereka dan tidak mau menyambut ajakan para rasul tersebut. Akhirnya, kaum Saba’ mendapat azab berupa banjir besar yang menghancurkan hidup mereka. Berikut kisah kehancuran kaum Saba’.


    Kisah Kehancuran Kaum Saba’

    Diceritakan dalam buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Quran yang ditulis oleh Ridwan Abqary, kaum Saba’ adalah kaum yang hidup makmur dan serba berkecukupan di wilayah Arab Selatan. Allah SWT sudah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh kaum Saba’ dengan hasil pertanian yang subur dan tempat yang sangat cocok untuk berdagang.

    Kebun anggur tumbuh subur di mana-mana dengan hasil yang sangat melimpah. Mereka menjual anggur-anggur hasil panen dan mencukupi kebutuhan hidup mereka setiap hari. Sebuah bendungan yang cukup kuat dan kokoh tampak berdiri tegak di wilayah Ma’rib, yang disebut sebagai Bendungan Ma’rib.

    Bendungan Ma’rib ini menampung air yang mengalir dari Sungai Adhanah dan digunakan untuk mengairi kebun-kebun anggur milik kaum Saba’. Dengan pengairan yang baik dan tanah yang subur, mereka bisa menikmati hasil panen yang baik setiap tahunnya. Oleh karena itu, seluruh penduduk Saba’ tidak ada yang hidup kekurangan.

    Kaum Saba’ adalah kaum yang lengkap, mereka hidup makmur dan bergelimang kemewahan. Selain kenikmatan hidup dari berbagai usaha yang mereka jalankan, mereka pun memiliki pasukan tentara yang sangat kuat.

    Dengan keamanan yang kuat, mereka bisa menjaga kehidupan kaum mereka dengan aman. Mereka hidup dengan nikmat dan berkah dunia yang sangat tinggi.

    Kaum Saba’ pun terkenal sebagai salah satu kaum yang hebat pada saat itu dan disegani oleh kaum-kaum yang lain. Namun ternyata, keberhasilan dan kehidupan mewah mereka tidak diikuti oleh iman dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Mahakuasa.

    Kemakmuran yang merupakan limpahan nikmat dari Allah SWT tidak diiringi dengan rasa syukur. Mereka tenggelam dalam harta duniawi dan mulai melupakan Sang Pemberi Rezeki. Air mengalir terus ke kebun-kebun mereka, namun tidak ada ucapan pujian sedikit pun kepada Allah SWT.

    Merujuk kembali pada buku 40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah, kisah kehancuran kaum Saba’ ini terjadi ketika mereka tidak menjalankan perintah Allah SWT, maka Allah SWT mengirimkan pasukan tikus yang melubangi bendungan mereka yang begitu kokoh itu.

    Bendungan yang kokoh itu pun runtuh hingga terjadi banjir yang sangat besar dan menghantam seluruh penduduk beserta taman-taman mereka yang bagaikan surga. Bumi yang subur dan indah itu pun rusak dan hancur. Batu-batu yang berasal dari bendungan membanjiri seluruh tanah mereka hingga tidak lagi subur dan tidak bisa ditanami.

    Beberapa waktu kemudian, taman bunga dan buah-buahan mereka berganti dengan kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berduri. Anggur, kurma, dan buah-buah segar lainnya telah musnah, berganti dengan pohon yang buruk dan berduri.

    Mengutip kembali buku Kisah Kota-kota Dalam Al-Quran, hukuman yang dikirimkan kepada Kaum Saba’ dinamakan ‘Sail Al-Arim’ atau banjir Arim. Penamaan ini merupakan ungkapan yang menggambarkan datangnya banjir yang menimpa kaum Saba’ bersamaan dengan runtuhnya monumen penting Negeri Saba’, yaitu bendungan Arim.

    Akibatnya, Negeri Saba’ hancur, baik dari segi perekonomian maupun bidang lainnya.

    Disebutkan pula dalam buku 40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah, bahwa hingga saat ini, penduduk Saba’ masih tinggal di desa dan rumah-rumah mereka. Namun, Allah SWT mempersulit dan mempersempit rezeki mereka. Kemakmuran dan nikmat yang mereka rasakan dahulu telah berganti dengan kemiskinan dan kekurangan.

    Meski demikian, Allah SWT tidak sepenuhnya menghancurkan mereka dan tidak memecahbelahkan mereka. Wilayah mereka masih tetap terhubung dengan wilayah yang penuh berkah, Makkah Al-Mukarramah di Jazirah Arabia dan Baitul Maqdis di Syam.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com