Tag: better homes & gardens

  • Hujan Deras Tak Masalah! Begini Cara Bikin Dinding Rumah Anti Rembes dan Jamur



    Jakarta

    Kelembapan dan rembesan air adalah tantangan nyata bagi kenyamanan dan keawetan dinding rumah. Terlebih di Indonesia sebagai daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Untuk itu, pemilihan material dinding menjadi kunci dalam menjaga struktur dan estetika rumah agar tetap aman, kering, dan tahan lama.

    Air hujan bisa merembes di dinding rumah karena beberapa faktor. Bisa jadi karena air masuk melalui pori-pori material atau karena sambungan yang tidak rapat. Kemudian, kelembapan yang terperangkap dalam dinding, dapat menyebabkan cat mengelupas, jamur tumbuh, plaster rusak, serta menurunnya ketahanan interior.

    Dilansir dari situs Cohoom, kelembapan bisa meresap ke dalam rumah melalui kebocoran pada fondasi, udara lembap, kondensasi, atau percikan air sehari-hari. Jika dibiarkan, hal ini dapat menimbulkan kerusakan serius, seperti cat yang mengelupas, munculnya jamur, serta plester yang rusak.


    Karena itu, penting untuk menggunakan material anti rembes untuk mencegah air hujan merembes ke dinding rumah. Berikut beberapa material anti rembes.

    1. Cat Waterproof

    Cat waterproof adalah solusi praktis dan efektif untuk melindungi dinding rumah dari rembesan air. Selain mudah diaplikasikan, cat ini membentuk lapisan pelindung yang mencegah kerusakan seperti cat mengelupas, plester retak, atau pertumbuhan jamur.

    Cat ini memiliki beberapa jenis yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Cat berbasis akrilik air, dikenal fleksibel dan mudah diaplikasikan. Cat berbasis minyak, menawarkan daya tahan dan resistensi kelembapan yang lebih tinggi, cocok untuk area dengan kelembapan tinggi. cat berbasis silikon, dikenal paling tahan air karena permukaannya bersifat anti air dan bisa membiarkan uap air keluar sehingga tidak mengurus kelembapan.

    2. Plester Anti Air

    Plester anti air adalah lapisan struktural yang biasanya diterapkan sebelum cat atau finishing. Material ini berfungsi sebagai penghalang utama terhadap rembesan air.

    Beberapa hal perlu diperhatikan saat menggunakan material ini. Terdapat metode plester dengan tambahan aditif anti air untuk meningkatkan resistensi air. Untuk area yang sangat lembap atau basah, plester ini sangat penting untuk mencegah air merembes melalui kelembapan dan kebocoran.

    3. Material Modern dan Teknologi Baru

    Selain cat dan plester dengan metode umum, terdapat juga material modern dengan bahan maksimal untuk menahan air dan jamur. Material seperti beton telah banyak digunakan sebagai dinding tahan air. Teknologi nano struktur juga banyak digunakan untuk proses waterproofing agar bangunan menjadi kedap air.

    Dilansir dari situs Better Homes & Gardens, penggunaan material plester kapur juga banyak digunakan saat ini. Penggunaannya dengan cara dipoles dan dilapisi sabun agar tahan air. Material ini populer sebagai pilihan yang estetis sekaligus fungsional untuk dinding agar tidak lembab.

    Cat waterproof memberikan proteksi permukaan yang relatif mudah diterapkan. Kemudian plester anti‑air memastikan struktur dinding mendapat perlindungan dasar. Sedangkan material modern, menawarkan solusi jangka panjang dengan fitur tahan air dan estetika tinggi.

    Dengan pemilihan dan penerapan yang tepat, dapat memastikan dinding rumah tetap kering dan awet. Semoga bermanfaat.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Masa Simpan Cat Berdasarkan Jenis dan Ciri-ciri Kedaluwarsa


    Jakarta

    Sisa cat dinding yang sudah dipakai masih bisa digunakan lagi lho. Tapi, harus diperhatikan dulu karena cat dinding memiliki ‘umur’ alias masa simpan yang aman untuk digunakan.

    Umur cat dinding ini tergantung dari beberapa hal, salah satunya cara penyimpanannya. Kalau disimpan sembarangan, masa simpannya bisa semakin pendek.

    Menurut superintendent dari ASAP Restoration, Brandon Walker, cat dinding bisa bertahan beberapa tahun jika belum dibuka dan disimpan dengan baik.


    “Jika kaleng-kaleng ini dibuka, atau disimpan di tempat yang tidak memiliki pengaturan suhu dan kelembaban, maka masa pakainya akan berkurang secara signifikan,” katanya, dikutip dari Martha Stewart, Selasa (4/11/2025).

    Berikut ini masa simpan cat berdasarkan jenisnya.

    Cat latex: 2-5 tahun
    Cat akrilik: 5-10 tahun
    Cat berbahan dasar minyak: 5 tahun hingga lebih dari 10 tahun
    Cat berbahan dasar air: 1-2 tahun

    Kualitas cat, warna, dan hasil akhir tidak memengaruhi masa simpan, tetapi jika perlu menyimpan cat di garasi atau gudang, cat berbahan dasar minyak mungkin lebih tahan lama daripada cat berbahan dasar air, termasuk cat akrilik dan lateks.

    “Jika cat disimpan di lingkungan yang suhunya berfluktuasi, seperti suhu beku dan mencair, cat berbahan dasar air lebih rentan mengalami degradasi dalam bentuk cair dibandingkan dengan cat berbahan dasar minyak,” kata senior project manager di Behr, Ed Edrosa.

    Walau demikian, setiap merek cat dinding memiliki panduannya tersendiri untuk masa simpan kaleng cat yang sudah dibuka maupun yang belum dibuka.

    Tanda Cat Sudah Kedaluwarsa

    Ada beberapa tanda cat yang sudah kedaluwarsa dan sebaiknya tidak dipakai lagi. Berikut ini informasinya masih dilansir dari Martha Stewart.

    Cat Menggumpal

    Menurut Edorsa, seharusnya cat yang sudah diaduk, konsistensinya halus dan tidak boleh ada gumpalan atau bertekstur.

    Bau Tak Sedap

    Cat yang sudah kedaluwarsa memiliki ciri-ciri bau tengik. Jadi kalau cat dinding di rumah sudah mengeluarkan bau, sebaiknya ganti dengan yang baru.

    “Cat yang sudah melewati masa simpannya dapat menimbulkan bau tengik, terkadang seperti telur busuk,” kata Edrosa.

    Perubahan Warna dan Hasil Akhir

    Cat yang disimpan terlalu lama juga dapat menunjukkan perubahan warna atau hasil akhir. Jika cat tampak berubah warna, menguning, atau kilapnya tidak merata setelah diaduk, itu pertanda cat telah rusak. Cat yang lebih lama ini kemungkinan besar tidak akan sama dengan warna atau hasil akhir aslinya saat diaplikasikan.

    Cara Menyimpan Cat Agar Awet

    Jaga Cat Tetap Bersih

    Untuk mencegah bakteri masuk ke dalam cat, selalu tuang ke dalam wadah sebelum mengecat, dan buang sisa cat alih-alih menuangkannya kembali ke dalam kaleng. Hal itu karena cat bisa terkontaminasi dan menyebabkan kerusakan dini.

    “Jangan celupkan kuas dan rol langsung ke dalam kaleng, dan jangan pernah meninggalkan kuas dan penutup rol di dalam kaleng atau wadah,” kata Edrosa.

    Penyimpanan yang Tepat

    Dilansir dari Better Homes & Gardens, pastikan untuk menyimpan cat di lokasi yang sejuk dan kering. Tempatkan kaleng cat di tempat yang tidak terkena fluktuasi suhu ekstrem, seperti gudang yang tidak terisolasi.

    Penutup yang Kedap Udara

    Pastikan kaleng cat tertutup dengan baik. Segel kedap udara bisa mengurangi risi pertumbuhan jamur dan lumut. Untuk menciptakan penutup yang kedap udara, tutup kaleng, lalu balikkan sehingga cat cair mendorong penutup ke dalam dengan kuat.

    Itulah informasi mengenai masa simpan cat dan ciri-ciri cat kedaluwarsa.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Hati-hati! Buang Tisu ke Kloset Bisa Picu Masalah pada Septic Tank


    Jakarta

    Banyak masyarakat yang terbiasa membuang tisu ke dalam kloset. Padahal, di dalam kamar mandi sudah disediakan tempat sampah untuk membuang tisu bekas pakai.

    Banyak orang yang menilai jika tisu, terutama tisu toilet, mudah hancur jika terkena air. Hal tersebut yang menjadi alasan banyak orang memilih membuang tisu secara langsung ke dalam toilet.

    Dilansir situs Better Homes & Gardens, memang ada beberapa jenis tisu yang dinilai cepat terurai saat terkena air, yakni tisu toilet daur ulang, tisu dari bambu, tisu satu lapis (1 ply), dan tisu dua lapis (2 ply) yang lembut.


    Meski keempat jenis tisu tersebut dapat dengan mudah hancur ketika terkena air, tapi bukan berarti bisa dibuang langsung ke dalam kloset. Selain kloset jadi terlihat kotor, kebiasaan buruk ini bisa menimbulkan masalah di septic tank.

    Sebagai informasi, air limbah dari dalam rumah akan dibuang ke septic tank. Di dasar septic tank terdapat lapisan lumpur yang mengendap, sedangkan limbah yang lebih ringan akan membentuk lapisan buih yang mengapung di permukaan.

    Lalu, ada bakteri baik di dalam septic tank yang dapat mengurai limbah organik. Sedangkan limbah cair akan mengalir keluar ke saluran pembuangan.

    Bahaya Membuang Tisu ke Kloset

    Tisu toilet yang dibuang ke dalam kloset, terutama jenis tisu yang lapisannya tebal, tidak akan mudah terurai dengan cepat. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyumbatan di saluran pembuangan dan memenuhi kapasitas septic tank.

    Selain itu, tisu yang memiliki bahan kimia tambahan seperti aroma wangi, juga dapat membahayakan sistem pembuangan di septic tank. Zat kimia tambahan ini dapat mengurangi efisiensi bakteri dengan cara membunuh bakteri baik yang berfungsi penting untuk mengurai limbah organik.

    Akibat kebiasaan membuang tisu ke dalam kloset bisa mengganggu fungsi septic tank untuk menampung limbah. Hal ini dapat memicu masalah yang lebih parah di kemudian hari, seperti penyumbatan pipa pembuangan dan potensi terjadinya penumpukan limbah.

    Kapasitas septic tank juga akan berkurang karena terlalu banyak dipenuhi sampah tisu. Jika septic tank di rumah tak pernah disedot dan terus dipenuhi sampah, maka bisa saja memicu ledakan septic tank di kemudian hari.

    Itulah alasan jangan membuang tisu ke dalam kloset karena mengganggu fungsi septic tank. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/zlf)



    Sumber : www.detik.com