Tag: Binance Smart Chain

  • Simak Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan dengan BSC Farm!

    Seperti yang kita tahu, awal tahun 2020 beberapa aset kripto menjadi perbincangan hangat di media sosial khususnya Twitter karena kenaikan harganya yang sangat signifikan. Kenaikan tren bitcoin inilah yang menyebabkan banyaknya pilihan-pilihan baru bermunculan agar Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan mudah. Salah satunya adalah BSC Farm.

    Wah, tren apa lagi sih ini? Yuk, simak selengkapnya!

    Analogi Sederhana Yield Farming

    Selain berinvestasi dan mendapat penghasilan tambahan melalui aset kripto yang sedang mengalami tren kenaikan seperti bitcoin dan ethereum, Anda bisa memperoleh pendapatan pasif melalui Yield Farming.

    Sebelum mengenal Yield Farming lebih dalam, mari kita mulai dari analogi sederhana, yuk!

    Bank merupakan pihak yang memberi kewenangan untuk memberi pinjaman. Nasabah yang meminjam dana kepada bank diharuskan mengembalikan dana tersebut bersama dengan bunga yang telah ditetapkan.

    Lalu sebaliknya, apabila nasabah membuka deposito atau tabungan pada suatu bank, nasabah akan mendapat bunga atau interest dari bank sebagai imbalan.

    Nah, konsep ini juga diadaptasi oleh DeFi. Akan tetapi, perbedaan yang mendasarinya adalah DeFi tidak memiliki perantara (contohnya adalah bank). Dalam DeFi, peran bank digantikan oleh teknologi smart contract yang ada di dalam protokol blockchain.

    Mengenal Yield Farming

    Yield Farming disebut juga sebagai penambangan likuiditas (liquidity mining) yaitu cara untuk menghasilkan rewards atau hadiah dengan kepemilikan aset kripto. Dengan kata lain, Anda bisa mendapat aset kripto dengan aset kripto yang sudah Anda miliki sebelumnya.

    Melalui yield farming Anda bisa mendapat rewards berupa kepemilikan aset kripto menggunakan protokol likuiditas yang bersifat permission less atau tanpa izin. Hal ini tentu membuat siapa saja bisa memperoleh pendapatan pasif menggunakan ekosistem terdesentralisasi yang dibagun di atas jaringan Ethereum.

    Cara Kerja Yield Farming

    Pertama-tama, dalam Yield Farming terdapat dua pihak, yaitu Liquidity Providers (penyedia likuiditas) dan Liquidity Pools (kumpulan Likuiditas).

    Liquidity Providers berperan sebagai pemilik aset kripto yang menyimpan dananya pada Liquidity Pools. Maka, Liquidity Pools sendiri adalah sebuah tempat di mana pengguna dapat meminjamkan asetnya kepada pengguna lain, meminjam aset dari pengguna lain, atau menukarkan aset tersebut kepada token ERC-20 (token yang berjalan di jaringan Ethereum).

    Nantinya, peminjam aset akan dikenakan biaya tertentu yang akan dibayarkan kepada Liquidity Providers sesuai dengan bagian yang diberikan pada Liquidity Pools. Bisa disimpulkan, keuntungan yang diperoleh Liquidity Providers berasal dari aset yang mereka pinjamkan kepada Liquidity Pools.

    Untuk mengetahui bagaimana menghitung return Yield Farming, silakan baca di sini, ya!

    BSC Farm

    Nah, kalau BSC Farm itu apa, ya?

    Pertama-tama, BSC atau Binance Smart Chain merupakan blockchain yang beroperasi di mainnet (perusahaan blockchain yang memiliki blockchain-nya sendiri dan tidak berjalan di jaringan lain). BSC ini memungkinkan pembuatan smart contract untuk token pada blockchain yang diasosiasikan dengan Binance.

    BSC Farm sendiri merupakan proyek Yield Farming pada jaringan BSC yang mempunyai misi khusus yaitu menjadi proyek DeFi yang paling lengkap, akurat, dan terpercaya. BSC Farm juga dapat diartikan sebagai produk yang diciptakan oleh BSC dan memiliki fungsi sebagai penampungan koin dan token-token yang terdapat pada ekosistem BSC.

    Nantinya, pengguna dapat melakukan transaksi, menggadaikan aset kripto yang dimilikinya, atau bahkan meminjamkan aset kripto ke berbagai token/koin yang beredar di BSC melalui BSC Farm sebagai pihak terpercaya.

    Penghasilan Tambahan dengan BSC Farm

    Dapat disimpulkan bahwa, BSC Farm memiliki konsep dasar yang sama dengan yield farming namun berjalan pada jaringan BSC. Jika Anda sebagai pemegang aset kripto yang ingin mengetahui cara mendapatkan penghasilan tambahan dengan menggunakan aset kripto yang sudah dimiliki, maka BSC Farm ini bisa Anda coba.

    Oh iya, jangan lupa untuk mengedukasi diri dan melakukan riset sebelum memutuskan metode dan strategi yang paling tepat untuk Anda, ya!

    More Surprise From Tokocrypto!

    Yep, sebentar lagi Tokocrypto akan merilis Toko Token yang dibangun di atas Smart Contract BSC (Binance Smart Chain) program lho! Nantikan kejutan dari Tokocrypto dan pantengin instagram Tokocrypto biar gak ketinggalan update terbaru, ya!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Binance mendukung Tokocrypto, Proyek DeFi Indonesia pertama di Binance Smart Chain

    Jakarta, March 10, 2020 Tokocrypto, platform pertukaran kripto teregulasi pertama di Indonesia di bawah Badan Pengatur Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia (BAPPEBTI) untuk mendorong adopsi yang lebih besar dari blockchain di Indonesia dengan membangun proyek CeDeFi di atas Binance Smart Chain (BSC).

    BSC menyediakan biaya yang rendah, kecepatan transaksi cepat, layanan andal dan mudah digunakan, yang berfungsi untuk memberdayakan produk keuangan berbasis blockchain generasi berikutnya untuk berkembang dan memanfaatkan industri Fintech yang sedang berkembang di Indonesia. Dengan visi untuk menyebarkan kebebasan finansial kepada semua, Binance senantiasa mendukung Tokocrypto, platform perdagangan aset kripto dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, untuk meningkatkan adopsi blockchain dan mendorong penetrasi aplikasi BSC di negeri ini.

    “Indonesia adalah salah satu komunitas BSC yang paling aktif. Kami harap kerjasama dengan Tokocrypto ini akan memberikan dukungan kepada proyek-proyek blockchain dan mempromosikan adopsi kripto di Indonesia ”,  kata Xiaoguang, koordinator ekosistem BSC

    Tokocrypto akan mengembangkan token CeDeFi (TKO) hybrid pertama di Indonesia di atas Binance Smart Chain. TKO menggabungkan yang terbaik dari Keuangan Terpusat (CeFi) dan Keuangan Terdesentralisasi (DeFi). Produk peminjaman dan passive income DeFi dapat membantu mempercepat adopsi di antara populasi yang tidak memiliki rekening bank di Indonesia serta inklusi keuangan yang lebih besar, sementara CeFi menawarkan produk yang mudah digunakan dan lebih umum. Untuk menjembatani kesenjangan antara pengguna Tokocrypto dan DeFi. Tokocrypto di awal akan fokus untuk memberikan edukasi kepada pengguna tentang keuangan kripto dan pengembangan utilitas CeFi, seperti Setoran TKO, Tabungan TKO & Cashback TKO di Tokocrypto.

    Selain itu, Tokocrypto dan Binance menjadi co-host Indonesian Blockchain Week 2020 dan BSC Indonesia Summit pada 20 Maret 2021. Event ini bertujuan untuk mengumpulkan para pemimpin industri dan influencer dari berbagai proyek BSC kelas dunia. untuk berpartisipasi dalam serangkaian sesi online yang menarik, informatif dan menggugah pemikiran seputar ekosistem blockchain.

    “Binance selalu menjadi pendukung kuat kami di Tokocrypto. Melalui kolaborasi yang lebih erat ini, harapannya akan dapat mendorong adopsi kripto melalui token TKO ke lebih banyak wilayah di Indonesia. Ini juga akan memungkinkan kami memanfaatkan sumber day manusia dan dukungan di seluruh ekosistem BSC, ” kata Pang Xue Kai, CEO Tokocrypto.

    Inisiatif lain sebagai bagian dari kolaborasi ini adalah proyek dana pengembang untuk memberdayakan proyek-proyek yang akan muncul dan mendorong kolaborasi antara Keuangan Terpusat (CeFi) dan Keuangan Terdesentralisasi (DeFi). Proyek ini menyediakan pendanaan, berbagai program dan inisiatif yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Binance Smart Chain (BSC) dan Ethereum: Apa bedanya?

    Binance Smart Chain (BSC), sebagai hasil dari hard fork dari protokol Go Ethereum (Geth), memang memiliki banyak kesamaan dengan blockchain Ethereum. Namun, para pengembang BSC telah melakukan perubahan yang signifikan dalam beberapa aspek utama. Salah satu perubahan paling mencolok adalah mekanisme konsensus BSC, yang menghasilkan transaksi yang lebih terjangkau dan lebih cepat.

    Pengantar

    Pada pandangan awal, Binance Smart Chain (BSC) dan Ethereum tampak seperti saudara kembar. DApp dan token yang berjalan di BSC dapat beroperasi dengan baik di Ethereum Virtual Machine (EVM), dan alamat dompet publik Anda sama di kedua blockchain ini. Bahkan, terdapat proyek-proyek cross-chain yang berfungsi di kedua jaringan tersebut. Meskipun demikian, terdapat perbedaan yang cukup mencolok di antara keduanya. Jika Anda sedang mempertimbangkan pilihan mana yang paling cocok untuk Anda, penting untuk memahami perbedaannya dengan baik.

    Lalu Lintas Blockchain dan Ekosistem DApp

    Pada bulan Juni 2021, Ethereum memiliki lebih dari 2.800 DApp yang berjalan di blockchain-nya, sedangkan BSC hanya memiliki sekitar 810 DApp. Meskipun perbedaan ini cukup besar, hal ini sebenarnya mencerminkan pertumbuhan ekosistem BSC yang luar biasa, mengingat BSC masih terbilang muda.

    Jumlah alamat aktif juga menjadi parameter on-chain yang penting untuk diperhatikan. Meskipun BSC adalah blockchain yang relatif baru, pada tanggal 7 Juni 2021, BSC mencatat lebih dari 2.105.367 alamat aktif. Angka ini lebih dari dua kali lipat rekor tertinggi Ethereum yang mencapai 799.580 alamat pada tanggal 9 Mei 2021.

    Lalu, apa yang mendorong pertumbuhan pesat BSC? Banyak faktor yang memainkan peran di sini, termasuk waktu konfirmasi yang lebih cepat dan biaya yang lebih rendah. Pertumbuhan BSC juga dapat dikaitkan dengan tren yang berkembang seputar NFT dan dukungan yang luas dari dompet kripto populer seperti Trust Wallet dan MetaMask.

    Jika kita melihat transaksi harian, perbedaan antara keduanya semakin mencolok. Di BSC, pengguna dapat mentransfer dana mereka dan berinteraksi dengan smart contract dengan lebih cepat dan lebih ekonomis. Puncak transaksi harian BSC mencapai 12 juta, sementara Ethereum belum pernah mencapai angka sebanyak itu. Bagi pengguna yang sering bertransaksi dan memindahkan dana, BSC mungkin menjadi pilihan yang lebih populer. Jumlah transaksi harian perlu juga dilihat dalam konteks jumlah alamat aktif, yang saat ini lebih tinggi di BSC.

    Anda dapat melihat puncak transaksi harian BSC sebesar 12 juta dan statusnya saat ini di atas empat juta pada gambar di bawah.

    Di sisi lain, Ethereum tidak pernah melampaui 1,75 transaksi harian. Bagi pengguna yang perlu memindahkan dana secara berkala, BSC tampaknya menjadi pilihan yang lebih populer. Transaksi harian perlu dipertimbangkan dalam konteks alamat aktif juga.

    Pada saat penulisan artikel ini, BSC memiliki jumlah yang lebih tinggi untuk pengguna yang juga bertransaksi lebih banyak secara rata-rata.

    DApp DeFi yang Paling Populer di Ethereum dan BSC

    Dalam ranah keuangan terdesentralisasi, terdapat banyak DApp yang melintasi BSC dan Ethereum berkat kompatibilitas blockchain-nya. Pengembang dapat dengan mudah memindahkan aplikasi dari Ethereum ke BSC, dan proyek-proyek baru di BSC seringkali menggunakan kode sumber terbuka dari Ethereum dengan beberapa modifikasi. Mari kita lihat lima DApp DeFi paling populer di Ethereum menurut DAppRadar.

    Di daftar ini, kita dapat melihat dua Automated Market Maker DeFi (Uniswap dan SushiSwap), sebuah permainan kripto (Axie Infinity), dan sebuah marketplace peer-to-peer (OpenSea). Jika kita melihat lima teratas di BSC, kita akan menemukan banyak kesamaan.

    PancakeSwap, misalnya, merupakan hasil dari hard fork dari Uniswap. Autofarm dan Pancake Bunny adalah platform pertanian hasil, yang merupakan kategori yang tidak ditemui di lima teratas Ethereum. Sementara Biswap dan Apeswap keduanya adalah Automated Market Maker. Dikarenakan biayanya yang lebih rendah di BSC dan proses transaksi yang lebih cepat, platform pertanian hasil cenderung lebih efisien di Binance Smart Chain. Inilah yang menjadikannya pilihan populer di kalangan pengguna BSC.

    Namun, ketika berbicara tentang permainan kripto, Ethereum masih tetap menjadi rumah bagi game kripto paling populer. Meskipun ada proyek-proyek serupa di BSC seperti CryptoKitties dan Axie Infinity, mereka belum berhasil mencapai sebesar penggunaan game klasik di Ethereum.

    Transaksi Antar-jaringan

    Jika Anda pernah melakukan penyetoran BEP-20 atau ERC-20 ke dalam dompet Anda, Anda mungkin pernah melihat bahwa alamat dompet di Binance Smart Chain (BSC) dan Ethereum tampak identik. Ini berarti bahwa jika Anda, misalnya, secara tidak sengaja mengirimkan token dari salah satu jaringan ke jaringan lainnya, Anda masih dapat menemukannya dengan mudah di alamat yang sesuai.

    Jika Anda tidak sengaja mengirimkan token ERC-20 ke BSC atau sebaliknya, tidak perlu panik. Dana Anda tidak akan hilang secara permanen. Anda dapat mengikuti panduan yang tersedia, seperti “Cara Memulihkan Kripto yang Ditransfer ke Jaringan yang Salah di Binance,” untuk langkah-langkah yang lebih mendetail.

    Biaya Transaksi

    Sekarang, mari kita bahas biaya transaksi. Baik BSC maupun Ethereum menggunakan model gas untuk mengukur biaya suatu transaksi berdasarkan kompleksitasnya. Pengguna BSC menentukan harga gas sesuai dengan permintaan jaringan, dan para penambang akan memprioritaskan transaksi dengan harga gas yang lebih tinggi. Namun, Ethereum mengalami perubahan signifikan dengan hard fork London yang menghadirkan mekanisme baru dalam penetapan harga gas, yang kemungkinan akan menghilangkan kebutuhan akan biaya tinggi.

    Perubahan ini di Ethereum menciptakan biaya dasar per blok, yang berubah berdasarkan permintaan transaksi. Sehingga, pengguna tidak lagi perlu menentukan harga gas secara manual.

    Di masa lalu, biaya gas Ethereum cenderung lebih tinggi daripada BSC. Puncak biaya gas tertinggi terjadi pada bulan Mei 2021, mencapai $68,72. Namun, tren ini mulai berubah, meskipun saat ini Ethereum masih terhitung lebih mahal.

    Mari kita perhatikan biaya rata-rata Ethereum dari Etherescan. Tiga angka teratas menunjukkan harga gas saat ini di Ethereum. Penting untuk diingat bahwa satu gwei di BSC dan Ethereum setara dengan 0,000000001 BNB atau ETH. Biaya transaksi yang lebih rendah mungkin berarti transaksi akan membutuhkan waktu lebih lama.

    Misalnya, saat ini biaya rata-rata untuk mentransfer token ERC-20 ke dompet lain adalah $2,46. Namun, biaya tersebut dapat meningkat hingga $7,58 saat Anda menggunakan pool likuiditas Uniswap yang melibatkan beberapa transaksi.

    Di sisi lain, di BSC, Anda dapat melakukan transaksi dengan biaya sebesar hanya $0,03, yang setara dengan biaya transfer ERC-20 dengan gas yang ditetapkan di Ethereum. BSC menghitungnya dengan mengalikan jumlah gas yang digunakan dalam transaksi (21.000) dengan harga gas (5 gwei).

    Waktu Transaksi

    Mengukur waktu transaksi rata-rata di blockchain bisa menjadi tugas yang rumit. Sebuah transaksi dianggap selesai setelah penambang memvalidasi blok yang memuatnya, tetapi beberapa faktor dapat memengaruhi waktu transaksi:

    • Jika biaya yang Anda tetapkan terlalu rendah, para penambang bisa menunda atau bahkan tidak memasukkan transaksi Anda dalam blok.
    • Transaksi yang melibatkan interaksi yang lebih kompleks dengan blockchain, seperti menambahkan likuiditas ke dalam pool likuiditas, bisa memerlukan beberapa transaksi sebelum selesai.
    • Banyak layanan hanya menganggap transaksi valid setelah sejumlah konfirmasi tertentu dijaringan.
    • Jika kita lihat statistik gas untuk Ethereum yang ditampilkan di atas, kita bisa melihat bahwa waktu transaksi berkisar antara 30 detik hingga 16 menit. Ini mencakup transaksi yang berhasil, tetapi belum termasuk persyaratan konfirmasi tambahan.

    Sebagai contoh, saat Anda menyetor ETH (ERC-20) ke akun Binance, Anda harus menunggu hingga 12 konfirmasi jaringan. Dengan blok yang ditambang sekitar setiap 13 detik, transaksi tersebut membutuhkan waktu tambahan 156 detik, seperti yang dapat dilihat dalam diagram di bawah.

    Di BSC, waktu rata-rata blok hanya 3 detik. Ini memungkinkan BSC untuk lebih cepat sekitar 4,3 kali lipat dibandingkan dengan Ethereum yang memiliki blok berdurasi 13 detik.

    Mekanisme Konsensus

    Sementara Ethereum saat ini menggunakan mekanisme konsensus Proof of Work (PoW), Binance Smart Chain (BSC) menggunakan Proof of Staked Authority (PoSA). Namun, perlu diingat bahwa Ethereum sedang dalam proses beralih ke Proof of Stake (PoS) melalui Ethereum 2.0.

    PoSA di BSC menggabungkan aspek Proof of Authority (PoA) dan Delegated Proof of Stake (DPoS). Dalam sistem ini, ada 21 validator yang secara bergiliran memproduksi blok dan menerima biaya transaksi BNB sebagai imbalan. Untuk menjadi seorang validator, seorang pengguna harus menjalankan node dan melakukan staking minimal 10.000 BNB untuk menjadi kandidat terpilih.

    Pengguna lain, yang disebut delegator, dapat melakukan staking BNB di belakang kandidat terpilih. Dari 21 kandidat terpilih berdasarkan jumlah yang masuk staking, yang teratas akan bergiliran memproses blok setiap 24 jam. Para delegator juga menerima bagian dari reward yang dihasilkan oleh validator.

    Di sisi lain, PoW di Ethereum melibatkan perlombaan antarpenambang untuk menyelesaikan puzzle komputasional. Siapa pun dapat berpartisipasi, tetapi mereka harus membeli atau menyewa peralatan khusus untuk melakukan mining. Semakin besar daya komputasional yang dimiliki, semakin besar peluang mereka untuk menyelesaikan puzzle dan memvalidasi blok. Penambang yang berhasil akan menerima biaya transaksi dan reward ETH.

    Meskipun PoW telah terbukti efektif dalam mencapai konsensus dan menjaga keamanan jaringan, pengembang terus mencari alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan. 

    Dengan demikian, Ethereum akhirnya akan beralih ke PoS, di mana validator akan melakukan staking ETH untuk berkesempatan menghasilkan blok. Validator lain akan memverifikasi blok tersebut dan memeriksa kebenarannya. 

    Dalam hal ini, jika seorang validator mencoba menghasilkan blok palsu, dia akan berisiko kehilangan semua dana yang telah di-stake-nya. Validator juga akan menerima reward atas blok yang berhasil dihasilkan dan verifikasi yang telah mereka lakukan. Dengan melakukan staking sejumlah besar ETH secara langsung, validator yang bersikap jahat berisiko kehilangan dana mereka.

    Penutup

    Jelas terlihat bahwa meskipun ada banyak kesamaan antara Binance Smart Chain dan Ethereum, BSC telah mengadopsi perubahan menarik untuk meningkatkan kinerja dan efisiensinya. Mekanisme konsensus Proof of Staked Authority (PoSA) memungkinkan pengguna menikmati transaksi blockchain yang lebih murah dan lebih cepat. 

    Namun, perubahan dalam perjalanan juga terjadi di Ethereum, yang bergerak menuju Proof of Stake (PoS) melalui Ethereum 2.0. Dengan berbagai perbedaan ini, pengguna memiliki lebih banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam melakukan transaksi di dunia blockchain.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Binance Smart Chain (BSC) Dan Token BEP20?

    Binance Smart Chain (BSC) adalah blockchain yang bergerak secara paralel dengan Binance Chain. Perlu diketahui bahwa Binance Smart Chain (BSC) berbeda dengan Binance Chain. Pertama kali diluncurkan pada April 2019, Binance Chain difokuskan untuk memfasilitasi perdagangan yang cepat dan terdesentralisasi. 

    Demi mencapai hal tersebut, Binance Chain harus membuat trade-off tertentu, salah satunya adalah bahwa Binance Chain tidak sefleksibel dari sudut pandang programmability seperti blockchain lainnya. 

    Kehadiran Binance Smart Chain di sini adalah untuk mengubahnya. Blockchain baru dengan lingkungan lengkap untuk mengembangkan aplikasi terdesentralisasi berkinerja tinggi. Ini dibangun untuk mencapai kompatibilitas cross-chain dengan Binance Chain untuk memastikan para user mendapatkan yang terbaik dari keduanya. 

    BSC menawarkan fungsionalitas kontrak pintar dan kompatibilitas dengan Ethereum Virtual Machine (EVM). Tujuannya adalah untuk membiarkan throughput tinggi dari Binance Chain tetap utuh sambil mengenalkan smart contract dalam ekosistemnya. 

    Sedangkan Token BEP20 merupakan standar token yang dibuat oleh Binance Smart Chain yang berfungsi untuk memperluas jaringan ERC-20 milik Ethereum, dapat dikatakan bahwa BEP20 merupakan fondasi yang sudah diatur untuk token yang akan menentukan bagaimana mereka dapat digunakan, siapa yang dapat membelanjakannya, serta aturan lain untuk penggunaannya.

    Token BEP20 diciptakan sebagai spesifikasi teknis untuk Binance Smart Chain, yang bertujuan untuk menyediakan format yang fleksibel bagi para pengembang yang ingin meluncurkan berbagai jenis token yang berbeda.

    Seperti Token BEP2 di Binance Chain, transfer token BEP20 didukung oleh BNB. BNB memberikan insentif bagi para validator untuk mengkonfirmasi setiap transaksi yang masuk ke dalam blockchain. 

    BSC dan Binance Chain beroperasi secara berdampingan. Perlu diingat bahwa BSC adalah blockchain independen yang dapat berjalan jika Binance Chain offline. Meski begitu, kedua blockchain ini memiliki kemiripan yang kuat dari sudut pandang desain. 

    Karena BSC kompatibel dengan EVM, BSC diluncurkan dengan dukungan untuk memperkaya Ethereum dan DApps. Secara teori, ini memudahkan developer untuk memindahkan proyek mereka dari Ethereum. Bagi pengguna, ini berarti aplikasi MetaMask dapat dengan mudah dikonfigurasi untuk bekerja dengan BSC. 

    Cara Membuat Token BEP20 dengan Token Create

    1. Pergi ke Halaman Token Create
    2. Isi detail yang diperlukan untuk pembuatan token Anda. Terdapat beberapa kolom yang harus Anda isi dalam pembuatan token BEP20 yang meliputi: Nama Token, Simbol Token, dan Desimal Token. 
    3. Pilih “Buat Token” dan setujui transaksi. 

    Cara Kerja Binance Smart Chain dan Token BEP20

    Konsensus

    BSC menggunakan Proof of Staked Authority (PoSA) dimana peserta menggunakan staking BNB untuk menjadi validator. Jika mereka mengusulkan blok yang valid, mereka akan menerima biaya transaksi dari transaksi yang termasuk di dalamnya. 

    Tidak seperti protokol lainnya, tidak ada subsidi blok untuk BNB yang baru dicetak karena BNB tidak bersifat inflasi. Sebaliknya, pasokan BNB akan menurun seiring waktu, karena tim Binance secara teratur melakukan pembakaran poin. 

    Cross-Chain Compatibility

    BSC dibayangkan sebagai sistem yang independen namun saling melengkapi untuk Binance Chain yang ada. Arsitektur dual-chain digunakan dengan gagasan bahwa user dapat mentransfer aset dengan mulus dari satu blockchain ke blockchain lainnya. Dengan cara ini, perdagangan cepat dapat dinikmati di Binance Chain, sementara aplikasi terdesentralisasi yang kuat dapat dibangun di BSC. Dengan interoperabilitas ini, pengguna dihadapkan pada ekosistem yang luas yang dapat memenuhi berbagai kasus penggunaan. 

    Token BEP2 dan BEP8 dari Binance Chain dapat ditukar dengan token BEP20, standar baru yang diperkenalkan dan dipakai untuk BSC. 

    Decentralized Finance pada Binance Smart Chain

    Sejumlah aset digital seperti BTC, ETH, LTC, EOS, XRP sudah ada di Binance Chain sebagai “Peggy Coin”. Ini adalah token yang dipatok ke aset di rantai aslinya. Misalnya, anda memutuskan untuk mengunci 10 BTC untuk menerima 10 BTCB di Binance Chain. Kapanpun anda dapat memperdagangkan 10 BTCB anda untuk 10 BTC, yang artinya harga BTCB harus mengikuti harga BTC asli. Dengan melakukan ini, anda secara efektif memindahkan aset ke Binance Chain. 

    Fleksibilitas yang diberikan Binance Smart Chain mengakibatkan aset yang dari sejumlah rantai berbeda dapat digunakan di ruang DeFi yang berkembang. 

    Baca Juga: Binance Mendukung Tokocrypto, Proyek DeFi Indonesia Pertama di Binance Smart Chain

    Binance Smart Chain dan Token BEP20 sangat memperluas fungsionalitas Binance Chain asli dan menggabungkan berbagai protokol mutakhir yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara berbagai blockchain. Walaupun masih dalam tahap awal, namun janji BNB staking disamping kompatibilitasnya dengan EVM menjadikan platform ini mesin yang ideal bagi developer yang membangun aplikasi terdesentralisasi yang kuat. 

    Toko Token (TKO)

    TKO merupakan proyek kripto lokal Indonesia pertama yang dibangun di atas Binance Smart Chain, dan juga sebagai token BEP20. TKO menyediakan model token hybrid, yaitu gabungan antara CeFi dan DeFi. 

    Sebagai Token Hybrid, TKO mempunyai 3 utilitas utama yang dapat dinikmati oleh pemegang TKO, mulai dari Token platform penukaran yang mencakup diskon biaya trading, hak airdrop, penukaran merchandise, dan lainnya. 

    Lalu sebagai token CeFi yang berfokus memberikan fasilitas berupa tabungan yang nantinya akan memberikan bunga setiap tahunnya kepada pemegang TKO, deposit, dan cashback. 

    Dan Toko Token sebagai Token DeFi sebagai sistem keuangan terbuka yang memungkinkan terjadinya transaksi yang cepat, mudah, dan murah karena tidak adanya perantara. Nantinya, sebagai token DeFi ini, pengguna dapat melakukan aktivitas staking coin dan lending DeFi yang menawarkan bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan keuangan tradisional.

    Itulah penjelasan lengkap tentang Binance Smart Chain (BSC) dan Token BEP20. Peranan BSC di sini menjadi pilihan bagi pada trader yang ingin menggunakan blockchain yang memiliki biaya perdagangan yang murah dan cepat.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Top Token Ekosistem BNB di Akhir Agustus 2025: BNB, INJ, FORM

    Ekosistem BNB Chain, yang dikenal dengan filosofi Build and Build, terus menunjukkan daya tariknya sebagai salah satu jaringan blockchain terbesar di dunia. Dengan kapitalisasi pasar total mencapai $100,24 miliar dan volume perdagangan 24 jam sebesar $3,44 miliar (+37,58%), ekosistem ini tetap menjadi pusat aktivitas dalam dunia kripto meskipun mengalami penurunan kapitalisasi sebesar 1,22%.

    Berikut adalah lima token teratas dalam ekosistem BNB berdasarkan kapitalisasi pasar pada akhir Agustus 2025:

    1. BNB

    • Harga: $862,32
    • Perubahan 24 jam: -0,72%
    • Volume perdagangan: $3,01 miliar
    • Kapitalisasi pasar: $119,55 miliar

    Sebagai token utama dari ekosistem, BNB masih menjadi aset dominan. Meski turun tipis dalam 24 jam terakhir, kapitalisasi pasarnya yang sangat besar menunjukkan perannya sebagai jangkar stabilitas dan pusat likuiditas dalam jaringan BNB Chain.

    2. Injective (INJ)

    Ilustrasi Injective.
    Ilustrasi Injective.
    • Harga: $13,59
    • Perubahan 24 jam: -5,03%
    • Volume perdagangan: $369,69 juta
    • Kapitalisasi pasar: $1,35 miliar

    Injective tetap berada di posisi kedua dalam ekosistem BNB. Token ini mendukung protokol decentralized finance (DeFi) dengan fokus pada perdagangan lintas rantai. Meski harga turun, volumenya yang tinggi menandakan aktivitas perdagangan yang signifikan.

    Baca juga: Token Ekosistem BNB Chain Catat Kapitalisasi Pasar Rp3.766 Triliun

    3. Four (FORM)

    • Harga: $3,37
    • Perubahan 24 jam: -4,25%
    • Volume perdagangan: $9,92 juta
    • Kapitalisasi pasar: $1,28 miliar

    FORM mencuri perhatian sebagai salah satu pendatang baru yang berhasil masuk jajaran top token. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari $1,2 miliar, token ini semakin diakui perannya dalam ekosistem meskipun volatilitas harga masih cukup tinggi.

    4. PancakeSwap (CAKE)

    pancakeswap (CAKE)
    pancakeswap (CAKE)
    • Harga: $2,65
    • Perubahan 24 jam: -2,03%
    • Volume perdagangan: $83,94 juta
    • Kapitalisasi pasar: $1,00 miliar

    Sebagai decentralized exchange (DEX) andalan BNB Chain, PancakeSwap terus mempertahankan posisinya di jajaran atas. Dengan kapitalisasi pasar $1 miliar, CAKE membuktikan daya tahannya meski persaingan antar-DEX semakin ketat.

    5. FLOKI (FLOKI)

    Ilustrasi aset kripto Floki (FLOKI). Sumber: Floki.
    Ilustrasi aset kripto Floki (FLOKI). Sumber: Floki.
    • Harga: $0,00009935
    • Perubahan 24 jam: -3,93%
    • Volume perdagangan: $133,86 juta
    • Kapitalisasi pasar: $941,26 juta

    FLOKI, token berbasis komunitas yang lahir dari tren meme coin, masih menunjukkan kekuatan komunitasnya. Meski diperdagangkan pada harga mikro, volumenya yang besar dan kapitalisasi mendekati $1 miliar menjadikannya salah satu aset populer dalam ekosistem BNB.

    Meskipun mayoritas token BNB ekosistem mengalami koreksi harga di akhir Agustus 2025, kapitalisasi pasar mereka tetap menunjukkan kekuatan dan kepercayaan komunitas. BNB masih menjadi penggerak utama, sementara token-token seperti INJ, FORM, CAKE, dan FLOKI memperlihatkan diversifikasi fungsi ekosistem — dari DeFi, DEX, hingga komunitas.

    Ekosistem BNB terbukti tetap menjadi salah satu pusat inovasi dan aktivitas perdagangan di industri kripto global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Rekomendasi Aplikasi Crypto Terpercaya 2025


    Jakarta

    Pada tahun 2025, pasar keuangan global memperlihatkan dinamika yang menarik. Walaupun dibayangi oleh ketidakpastian terkait tarif dan kebijakan makroekonomi, performa pasar cryptocurrency tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid.

    Menurut data TradingView, hingga 3 September 2025, Bitcoin (BTC) telah mencatat kenaikan sebesar 18,6%, sementara Ethereum (ETH) meningkat 28,6% sepanjang tahun berjalan.

    Bitcoin bahkan berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak empat kali dalam tahun ini. Selain itu, kapitalisasi pasar crypto secara keseluruhan juga meningkat sebesar 18,2% pada periode yang sama.


    Tren serupa juga tercermin dari aliran dana institusi. Sejak peluncuran ETF (Exchange Traded Fund) Bitcoin pada 2024, yang kemudian diikuti oleh ETF Ethereum dan ETF Solana, semakin banyak investor institusional yang masuk ke pasar aset digital. Berdasarkan data Farside Investors, total dana institusi yang masuk ke Bitcoin melalui ETF telah mencapai $54,5 miliar, diikuti oleh Ethereum sebesar $13,4 miliar, dan Solana $190,4 juta (per 3 September 2025).

    Situasi ini menciptakan peluang baru bagi para trader dan investor untuk memanfaatkan perkembangan pasar, terutama di sektor cryptocurrency. Bagi investor di Indonesia, perkembangan positif ini membuka berbagai peluang investasi. Namun, untuk dapat merespons peluang dengan optimal, pemilihan aplikasi crypto yang tepat menjadi faktor kunci agar proses investasi berjalan cepat dan efisien.

    Pilihan aplikasi crypto di Indonesia pun semakin beragam. Meski demikian, aspek keamanan dan regulasi harus menjadi prioritas utama agar transaksi tetap aman dan nyaman.

    Ulasan berikut membandingkan lima aplikasi crypto terpopuler yang digunakan di Indonesia. Dengan mempertimbangkan tren adopsi teknologi finansial serta kebutuhan akan platform yang aman, efisien, dan mudah diakses, artikel ini bertujuan membantu pembaca mengevaluasi pilihan aplikasi crypto yang paling sesuai dengan preferensi dan tujuan investasi masing- masing.

    1. Pluang

    Pluang semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu aplikasi crypto terdepan di Indonesia. Dengan ekosistem investasi yang luas dan jumlah pengguna lebih dari 12 juta, platform ini hadir sebagai solusi investasi digital yang aman, berizin, dan diawasi langsung oleh Bappebti serta OJK.

    Lewat satu aplikasi, pengguna bisa mengakses lebih dari 1.000 produk investasi-mulai dari aset crypto, saham Amerika dan ETF, emas, reksa dana, hingga crypto futures dan opsi saham Amerika-dengan biaya kompetitif.

    Fitur & Keunggulan

    – Jual beli 360+ aset crypto populer seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL), Pepe, dan Altcoin lainnya mulai dari Rp10.000 dengan pair IDR maupun USD/USDT.

    – Trading crypto futures 130+ coin dengan leverage hingga 25X. Dengan fitur ini, trader dapat bertransaksi melebihi modal yang dimiliki, sehingga peluang keuntungan bisa meningkat signifikan.

    – Pro Features: advanced order, take profit, dan stop loss, ditambah akses gratis ke web trading berbasis TradingView untuk analisis teknikal yang lebih akurat.

    – Kirim dan terima aset crypto kapan saja. Transfer token populer antar platform via Binance Smart Chain (BSC) mulai dari Rp6.300, terima aset tanpa biaya.

    – Pluang Academy dengan video dan artikel edukasi investasi ringkas dan relevan.

    Dari sisi keamanan dan kepatuhan, Pluang beroperasi melalui PT Bumi Santosa Cemerlang sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin OJK untuk aset crypto . Seluruh transaksi tercatat di CFX dan KKI, sementara produk Crypto Futures difasilitasi oleh PT PG Berjangka yang berlisensi Bappebti. Pluang bermitra dengan Fireblocks untuk menjamin keamanan transfer dan penyimpanan aset digital.

    Catatan Risiko

    Meski berada dalam pengawasan regulator, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas tinggi aset crypto.

    2. eToro

    eToro adalah platform investasi global yang menawarkan akses ke saham, ETF, komoditas, dan kripto melalui konsep social trading. Platform ini diawasi oleh regulator internasional seperti FCA, CySEC, dan ASIC, namun belum berada di bawah lisensi OJK.

    Fitur & Keunggulan

    – 70+ aset kripto tersedia

    – CFDs (non-US, leverage)

    – Web & mobile app

    – CopyTrader, social trading, Smart Portfolios, riset pasar

    – Recurring deposits tersedia

    – Akun demo

    Platform ini cocok bagi investor pemula maupun berpengalaman yang ingin memanfaatkan social trading sekaligus mengakses berbagai instrumen global dalam satu aplikasi.

    Catatan Risiko

    eToro belum mengantongi izin PAKD dari OJK, yang berarti transaksi kripto di platform ini bisa menimbulkan masalah pajak dan perlindungan konsumen bagi pengguna di Indonesia.

    3. Webull

    Webull adalah platform trading global yang menyediakan akses ke berbagai produk investasi seperti saham, indeks, komoditas, futures, serta kripto. Platform ini diawasi oleh sejumlah regulator internasional, namun hingga kini belum berada di bawah pengawasan OJK untuk produk kripto.

    Fitur & Keunggulan

    – Akses pembelian dan penjualan aset crypto melalui layanan Webull Pay di wilayah tertentu.

    – Mendukung trading futures pada komoditas, indeks, dan aset crypto.

    – Platform web dan desktop penuh fitur, tersedia juga aplikasi mobile.

    – Mendukung trading saham, ETF, opsi saham, lengkap dengan charting tools, price alerts, paper trading, dan trading di luar jam pasar.

    – Program cash management dengan APY menarik untuk dana nganggur.

    Platform ini cocok bagi investor yang mencari aplikasi trading komprehensif dan terpercaya, lengkap dengan sejumlah instrumen investasi dan tools analisa canggih.

    Catatan Risiko

    Webull belum memiliki izin resmi PAKD dari OJK untuk perdagangan aset kripto, sehingga transaksi di platform ini berpotensi menimbulkan persoalan pajak maupun perlindungan konsumen di Indonesia.

    4. Bybit

    Bybit adalah platform exchange kripto global yang berbasis di Dubai yang diawasi oleh regulator internasional, namun belum berada di bawah lisensi OJK. Platform ini menawarkan akses aset kripto dan menjadi salah satu bursa derivatif yang menawarkan futures berjangka (perpetual contracts) dan leverage tinggi.

    Fitur & Keunggulan

    – 500+ coins: Akses ke ratusan aset kripto populer dan altcoin

    – Termasuk perpetual futures dengan leverage hingga 200×

    – Otomatisasi trading dan tiru strategi trader handal

    – Order Types & Tools: Termasuk Market, Limit, Conditional orders, Trailing Stop, serta tools manajemen risiko

    Platform ini cocok bagi trader yang membutuhkan opsi leverage tinggi dan fleksibilitas trading.

    Catatan Risiko

    Risiko pasar cukup tinggi, terutama pada produk derivatif. Ditambah, absennya izin PAKD dari OJK membuat transaksi kripto di Bybit berpotensi menimbulkan persoalan pajak serta lemahnya perlindungan konsumen.

    5. Coinbase

    Coinbase adalah platform exchange dan dompet aset kripto asal Amerika Serikat. Platform ini merupakan salah satu bursa kripto dengan reputasi keamanan tinggi serta diawasi oleh berbagai regulator global terkemuka, namun belum berada di bawah lisensi OJK.

    Fitur & Keunggulan

    – 300+ aset kripto tersedia luas bagi pengguna

    – Coinbase Wallet, staking, recurring buys, integrasi DeFi

    – Jenis Order & Tools: Limit, Market, Stop-Limit, OCO (one-cancels-the-other), TWAP (time-weighted average price); Futures (hingga 20× leverage), margin, grid trading, copy trading

    – Yield / Staking

    Platform ini cocok bagi investor yang menginginkan akses luas ke aset digital dan berbagai opsi investasi (termasuk leverage dan staking).

    Catatan Risiko

    Coinbase belum berizin PAKD dari OJK, sehingga transaksi kripto di platform ini bisa menimbulkan masalah pajak dan perlindungan konsumen di Indonesia.

    Tips Memilih Aplikasi Crypto

    – Pastikan aplikasi berizin dan diawasi regulator seperti OJK atau Bappebti.

    – Pertimbangkan biaya transaksi, minimum deposit, dan fitur yang sesuai kebutuhan.

    – Pilih aplikasi dengan keamanan data dan dana yang jelas.

    – Manfaatkan akun demo atau fitur edukasi sebelum mulai investasi riil.

    – Sesuaikan pilihan dengan profil risiko dan tujuan investasi Anda.

    Kesimpulan

    Di tengah pertumbuhan pesat industri aset digital di Indonesia, setiap aplikasi crypto menawarkan nilai tambah yang berbeda. Namun, investor tetap perlu memperhatikan aspek keamanan, biaya transaksi, serta kepatuhan regulasi sebelum mengambil keputusan.

    Sepanjang 2025, Pluang terlihat menonjol sebagai salah satu platform investasi terdepan berkat ekosistem produk yang lengkap, biaya kompetitif, serta dukungan regulasi yang kuat. Komitmen Pluang terhadap literasi finansial dan penyediaan fitur edukasi juga memperkuat posisinya di pasar, sekaligus merefleksikan arah perkembangan industri investasi digital di Tanah Air.

    Bagi investor, penting untuk mengevaluasi kebutuhan dan profil risiko pribadi sebelum berinvestasi. Manfaatkan fitur edukasi maupun akun demo yang tersedia agar lebih siap dalam mengambil keputusan investasi.

    (akn/ega)



    Sumber : finance.detik.com