Tag: bitcoin 2021

  • BTC Koreksi, Ke mana Arah Selanjutnya ?

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan yang sangat signifikan. Terlihat pada 17 April 2021 hingga 21 April 2021 harga BTC turun sebesar 18.73%. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab dari penurunan harga BTC, yaitu pernyataan dari United States Securities and Exchange Commission (SEC), terjadinya insiden Blackout di China.

    Selain itu faktor alur supply yang tinggi menyebabkan beberapa holder BTC menjual aset mereka sebagai aksi untuk ambil keuntungan (Take Profit).

    Baca Juga: Tiga Faktor yang Sebabkan BTC, ETH, dan BNB Terkoreksi

    Walau sempat beberapa kali melakukan perlawan hingga menunjukan indikasi untuk pullback, tetapi trend bearish untuk BTC saat ini masih kuat.Terlihat pada 23 April 2021 harga BTC kembali merosot dan menyentuh Area Support nya pada range harga US$ 50,423 – US$ 50,976. Ada 2 kemungkinan setelah harga BTC menyentuh area support tersebut yaitu :

    1. Harga BTC akan kembali pullback hingga harga US$54,977-US$56,376, dan untuk selanjutnya konsolidasi menentukan arah apakah akan kembali koreksi atau mencoba pullback dan mengubah trend menjadi bullish.

    2. Harga BTC akan terus koreksi lebih dalam hingga Area Support berikutnya yaitu pada range harga US$46,293-US$47,215.

    Baca Juga: Yuk, Kenalan dengan Mata Uang Digital Populer di Indonesia!

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Data Berbicara: April Bulan yang Baik Bagi Harga Bitcoin

    Memasuki bulan April 2021, ditandai dengan momen bullish sejumlah koin mata uang kripto, termasuk Bitcoin. Meski di bulan ini, Bitcoin dominance menunjukan penurunan, namun sejarah mencatat setiap bulan April harga BTC selalu meyakinkan.

    Per tanggal 4 April 2021, tren Bitcoin memang sedang berada di zona sideways. Sejak tanggal 1, Bitcoin hanya mampu mengejar resistensi di harga US$ 60 ribu. Selebihnya, grafik Bitcoin terkesan melayang-layang.

    Tercatat, selama tiga hari ini harga Bitcoin mengalami koreksi yang tipis ke harga US$57.168. Namun, pergerakan setelahnya masih berkutat di harga US$ 58-59 ribu.

    Namun, data berbicara bahwa April kerap menjadi bulan yang baik bagi mata uang kripto terbesar di dunia ini. Sejak tahun 2011 hingga 2020, persentase pengembalian atau keuntungan Bitcoin di bulan April selalu dominan di antara bulan-bulan yang lain.

     

    April tahun 2011, merupakan momentum kenaikan harga Bitcoin paling tinggi, sebesar 346,09%.

    Di April tahun ini, bisa saja Bitcoin kembali mengulang suksesnya. Sejumlah analis memprediksi bulan April ini akan menjadi momentum bagi Bitcoin untuk kembali menginjak harga tertingginya.

    Baca Juga: Pasar Bitcoin Mulai Jenuh, Siap-siap ALTs Season! 

    Berdasarkan analisa teknikal kami, mayor resistensi Bitcoin saat ini berada di harga Rp 886,456,753. Apabila berhasil menembus angka tersebut BTC bisa saja melanjutkan trennya untuk memperbesar harganya.

    Lebih ekstrim lagi analisa dari CEO CoinCorner, Danny Scott, yang menyebutkan bahwa harga Bitcoin di bulan ini bisa saja menembus harga US$ 83.000 atau sekitar Rp 1,2 miliar. Menurutnya, selama 10 tahun ke belakang, bulan April memberikan keuntungan 51% bagi BTC.

    “Law Average (hukum rata-rata) menunjukan harga #Bitcoin bisa mencapai harga $ 83.000 pada bulan April. Rata-rata lebih dari 10 tahun kebelakang di bulan April + 51%,” tulis Danny melalui akun Twitternya, pada 27 Maret 2021.

    Baca Juga: Inilah 3 Coin yang Akan Menjadi Tren di 2021

    Fundamental

    Secara fundamental, harga Bitcoin di bulan ini pun akan dipengaruhi oleh kemerosotan harga Dollar AS. Kemerosotan harga dollar ini dipengaruhi oleh sejumlah hal, di antaranya bakal terjadinya fenomena de-dolarisasi yang dilakukan Rusia.

    Pemerintah Rusia telah menganjurkan kepada pemilik dollar di negaranya agar memindahkannya ke emas.

    Hal tersebut terkonfirmasi oleh analisis Holger Zschaepitz. Di akun Twitternya, seorang analis pasar di Welt ini mengatakan pangsa dolar AS dari cadangan global menurun dengan cepat karena negara-negara seperti Rusia sedang mengejar strategi de-dolarisasi dan memilih emas.

    “OOPS! Dolar merosot. Sementara bagian Dolar dari cadangan global pada awalnya meningkat pada awal pandemi, ia telah menurun & sekarang berada di hanya 59% —1.5pp penurunan QoQ & terendah sejak 1995. Sebagian dari penurunan karena depresiasi, tetapi juga karena penjualan USD aktif,” tulis Holger pada 3 April 2021.

    Belajar pada kejadian awal-awal pandemi, ketika dalam kondisi seperti ini, sejumlah pemegang aset dollar akan memindahkan uang tunainya tersebut ke sejumlah sektor untuk menjadi pelindung nilainya.

    Pada kuartal pertama 2020, banyak orang yang memindahkan aset mereka ke Bitcoin dan emas.

    UNTUK ANALISA DAN TEKNIKAL KRIPTO KLIK INI

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Mencapai Rp1,15 Triliun Bulan Mei, Menurut Beberapa Trader Options

    Mayoritas trader options di Amerika, menyatakan bahwa Bitcoin dapat mencapai Rp 1,15 Triliun sekitar Bulan Mei 2021.

    Data dari perusahaan analisis, Skew, menyatakan bahwa ada kemungkinan sebesar 6% bahwa mereka akan benar dalam prediksinya.

    Trader Options Prediksi Bitcoin Rp1,15 Triliun

    Dengan antisipasi terhadap melantainya Coinbase di pasar saham Amerika , para trader options memperkirakan Bitcoin akan naik.

    Pada 24 Maret 2021, pendiri dari perusahaan analisis crypto, Glassnode, menytakan mayoritas trader options di Deribit, menyatakan Bitcoin akan mencapai Rp1,15 Triliun.

    Baca juga: CEO SkyBridge Capital Ungkap Bitcoin Lebih Baik dari Emas tapi Ada Syaratnya

    Mereka memprediksi bahwa harga tersebut akan dicapai oleh Bitcoin pada 30 April 2021, walau belum ada bukti nyata atau konfirmasi apa pun.

    Namun, semua dilihat dari data sentimen pasar dimana terdapat kontrak options senilai 4.000 Bitcoin telah dibeli dengan target di harga tersebut.

    Jika pada April 2021 Bitcoin tidak menyentuh harga tersebut, mayoritas kontrak tersebut akan kadaluarsa dengan kerugian.

    Namun, menurut Skew, kemungkinan bahwa mereka benar ada di sekitar 6,19%, yang nampaknya masih sangat kecil, walau masih mungkin.

    prediksi bitcoin

    Selain itu, terdapat juga beberapa bukti yang mendukung bahwa prediksi mayoritas trader tersebut dapat tercapai.

    Baca Juga: Mobil Tesla Sudah Bisa Dibeli Pakai Bitcoin

    Beberapa Data Mendukung Prediksi

    Salah satu hal yang mendukung adalah volume di sekitar kontrak derivatif yang memiliki target di Rp1.73 Triliun untuk Bitcoin.

    Hal tersebut berarti bahwa jika mereka benar, ada kemungkinan bahwa Bitcoin dapat naik hingga harga tersebut dalam Bulan April 2021.

    Namun, menurut Skew, kemungkinan prediksi tersebut menjadi benar hanya 2,15% yang menandakan kemungkinannya masih sangat kecil.

    Tapi, volume pihak yang memprediksi bahwa Bitcoin akan turun juga terlihat signifikan.

    Sehingga masih ada kemungkinan bahwa prediksi harga di sekitar Rp1 Triliun sulit dicapai.

    Skew memperlihatkan bahwa kontrak options Bitcoin kadaluarsa 30 April 2021 adalah kontrak ketiga terbesar dalam volume di pasar derivatif Bitcoin.

    Saat ini, volume pembukaan kontrak tersebut telah mencapai nilai yang setara dengan 38.700 BTC, menandakan besarnya volume Bitcoin tersebut.

    Kontrak dengan kadaluarsa 21 Juni 2021 untuk Bitcoin menjadi peringkat kedua dengan volume pembukaan setara dengan 42.300 Bitcoin.

    Walau terdapat persaingan dari Chicago Mercantile Exchange (CMEE) ke dalam sektor kontrak derivatif Bitcoin di 2020, Deribit masih mendominasi dalam volume.

    Sehingga, data riset yang didapatkan oleh Skew memperlihatkan data yang tidak bias dan dapat dijadikan acuan.

    Skew memprediksi bahwa 91% kontrak options yang diperdagangkan dalam 24 jam terakhir, terjadi di Deribit.

    Angka tersebut diikuti Bit.com sebesar 5%, OKEx dengan 2% dan CME serta LedgerX masing-masing 1%.

    Hari ini, terdapat kontrak options senilai 117,900 BTC yang akan kadaluarsa dengan nilai sekitar Rp85,6 Triliun.

    Sehingga terdapat kemungkinan volatilitas pada perdagangan di pasar Bitcoin hari ini.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Memasuki Tahun Kerbau, BTC Mampu Menembus Area Resistensi

    Harga Bitcoin (BTC) menembus rekor tertinggi pada hari Valentine kemarin. Bitcoin mencetak rekor terbaru dengan angka di atas $ 49,000. Ada 3 indikasi yang menyebabkan harga Bitcoin melonjak ke rekor terbarunya, yaitu; aliran masuk stablecoin yang tinggi, Resistensi $ 38,000 breakout bersih, dan fase konsolidasi yang berkepanjangan.

    Berikut beberapa analisa yang dihimpun trader analyst Tokocrypto : 

    Arus masuk Stablecoin yang tinggi

    Selama beberapa hari terakhir, meskipun Bitcoin konsolidasi di bawah $ 38.000, analis on-chain

    menunjukkan peningkatan terus menerus dalam aliran masuk stablecoin. Menurut data dari CryptoQuant, platform analitik data, Rasio Pasokan Stablecoin (SSR) naik secara signifikan saat reli dari level pertengahan $30.000. Indikator SSR menunjukkan rasio kapitalisasi pasar Bitcoin relatif terhadap kapitalisasi pasar gabungan stablecoin. Ketika harga Bitcoin naik seiring dengan rasio SSR, maka besar kemungkinan Bitcoin di dorong kembali oleh modal yang tersisihkan untuk masuk kembali ke pasar. Hal ini juga didukung pada fakta bahwa reli tidak hanya didorong oleh pasar berjangka yang over-leverage. Faktanya, permintaan asli dari pasar lah yang memimpin tren ini naik. Di atas rasio stablecoin yang tinggi, analis juga menunjukkan penurunan tekanan jual yang datang dari para traders. Kombinasi dari tekanan jual yang lebih rendah dari para traders dan peningkatan aliran masuk stablecoin ke bursa mengkatalis reli Bitcoin yang sedang berlangsung.

    Berita Terkait: Inilah Keuntungan Investasi Bitcoin di 2021!

    Resisten $38.000 breakout dengan sempurna

    Bitcoin berkonsolidasi di bawah area resistensi $38.000 untuk waktu yang lama. Hal ini menyebabkan risiko siklus bull Bitcoin jangka pendek. Ketika harga Bitcoin berada di bawah area resistensi untuk waktu yang lama, hal itu meningkatkan kemungkinan likuiditas BTC turun ke area yang lebih rendah. Hal ini merupakan sebagian alasan mengapa Bitcoin secara teratur turun menjadi sekitar $44.000 sebelum reli impuls akhirnya di atas $38.000.

    Konsolidasi panjang bermanfaat untuk penembusan harga baru BTC

    Periode konsolidasi yang relatif lama biasanya mengarah pada dua skenario: breakdown parah atau breakout besar. Jika Bitcoin memulai reli tanpa fundamental yang kuat, ada kemungkinan lebih besar konsolidasinya mengarah pada koreksi yang dalam. Tetapi, dalam kasus Bitcoin dalam tiga hari terakhir ini, fase konsolidasi di bawah $ 38.000 didukung oleh arus masuk stablecoin yang meningkat, premium Coinbase yang tinggi, dan volume perdagangan yang umumnya tinggi di pasar spot dan futures. Oleh karena itu, meskipun pasar berjangka tetap memiliki cakupan yang tinggi dan ramai, BTC mampu menembus area resistensi meskipun ada resiko tekanan.

    Bukan hanya para pasangan saja yang merayakan hari Valentine kemarin, namun nampaknya hari Valentine juga membawa momentum yang besar untuk Bitcoin, terlebih ternyata Bitcoin yang lahir di tahun 2009, di tahun kerbau.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank of Singapore: Bitcoin Bisa Gantikan Emas, Fiat Tetap Bertahan

    Bank of Singapore (BOS), yang terafiliasi dengan Bank OCBC dari ING Group mengatakan, Bitcoin (BTC) bisa menggantikan peran emas sebagai store-of-value. Sedangkan uang fiat tetap bertahan.

    “Bitcoin bisa menggantikan emas sebagai store-of-value setelah rintangan utama, seperti kepercayaan, volatilitas, penerimaan peraturan dan risiko reputasi bisa diatasi,” kata BOS dalam kajian terbarunya, dilansir dari TheNationalNews, Minggu (24/1/2021).

    Namun bank besar itu dengan tegas menyatakan, bahwa uang fiat yang diterbitkan oleh negara tidak bisa tergantikan oleh Bitcoin sebagai alat pembayaran.

    “Setelah kerugian rintang itu bisa diatasi, maka Bitcoin juga dapat digunakan dalam portofolio investor sebagai aset safe-haven potensial dan untuk diversifikasi aset,” sebut BOS lagi.

    Menurut BOS, investor memerlukan lembaga keuangan yang benar-benar terpercaya untuk dapat menyimpan Bitcoin secara aman.

    “Hal lainnya, likuiditas perlu ditingkatkan secara signifikan untuk mengurangi volatilitas ke tingkat yang dapat dikelola,” kata Mansoor Mohi-uddin, Kepala Ekonom Bank of Singapore.

    Terkiat volatilitas alias naik turunya harga dalam tempo yang sangat cepat, diakibatkan karena adanya konsentrasi kepemilikan Bitcoin dan volume pasar yang tipis.

    Ini merupakan salah satu hambatan terbesar untuk adopsi besar Bitcoin dalam transaksi dunia nyata, menurut Swiss Lombard Odier belum lama ini.

    “Bitcoin terkenal sangat tidak stabil karena reli selama setahun terakhir dari US$4.000 (Maret 2020) menjadi lebih dari US$40.000 (awal Januari 2021) dan kemudian kembali ke US$30.000,” kata Mohi-uddin.

    Bagai Mohi-uddin Bitcoin juga berkorelasi dengan pasar saham dan aset berisiko lainnya. Dalam krisis keuangan, aset kripto, khususnya Bitcoin lebih mungkin dijual oleh investor selama krisis pasar, seperti yang terjadi pada awal pandemi pada Maret 2020.

    Namun peningkatan partisipasi oleh investor institusional seperti manajer aset dengan cakrawala waktu jangka panjang, daripada pembeli ritel atau dana lindung nilai dapat membantu meningkatkan likuiditas, menurunkan volatilitas dan menyebabkan aksi harga lebih didorong oleh fundamental daripada spekulasi, menurut BOS.

    Baca Juga: CEO MicroStrategy: Regulasi Meningkatkan Investasi Bitcoin

    “Daya tarik mata Bitcoin di kalangan anak muda sebagian karena adanya nuansa kenyamanan. Bitcoin dan aset kripto lainnya juga mudah disimpan di dompet digital. Ini berbeda dengan logam mulia yang seringkali perlu disimpan di lokasi fisik yang aman dan tidak dapat digunakan dengan mudah untuk transaksi sehari-hari,” tambahnya.

    Sisi lain dari ini, adalah, mereka lebih mudah untuk dicuri oleh penipu. Ada juga risiko reputasi karena aset kripto telah banyak digunakan oleh penjahat, pencucian uang, dan pihak lain yang ingin memanfaatkan anonimitas mereka.

    Kerugian potensial lainnya adalah bahwa kendati pasokan logam mulia relatif terbatas, peluncuran aset kripto baru di masa depan berpotensi dapat mendevaluasi aset kripto lain yang ada saat ini.

    Volatilitas aset kripto, katanya tidak memungkinkan aset kripto digunakan dalam transaksi sehari-hari.

    Pasokan aset kripto, seperti Bitocin yang terbatas membuatnya tidak dapat memfasilitasi pertumbuhan aktivitas ekonomi. Bahkan pemerintah saat ini cenderung tidak mentolerir tantangan langsung terhadap kedaulatan moneter. Itulah sebabnya beberapa bank sentral telah mengembangkan mata uang digital mereka sendiri menggunakan teknologi blockchain.

    “Pemerintah sangat waspada terhadap teknologi apa pun yang berpotensi menggantikan mata uang nasional. Ini akan mengurangi kemampuan pembuat kebijakan untuk menerbitkan uang baru selama krisis ekonomi,” pungkas Mohi-uddin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin, Jalan Alternatif? – Tokocrypto News

    Ibarat sel tubuh yang tumbuh tanpa hambatan (proliferasi), Bitcoin (BTC) yang berteknologi blockchain kian merasuki kelompok usia muda (Generasi Z). BTC sebagai mata uang digital (MUD) baru, setidaknya selama satu dekade terakhir adalah sebuah kelaziman bagi kaum “ber-DNA digital” itu. Bitcoin sebagai jalan alternatif?

    BTC semakin dianggap sebagai mata uang (currency) alternatif dengan “nilai paling stabil” dibandingkan mata uang resmi alias fiat currency yang diterbitkan oleh negara dan emas.

    Ketika tulisan ini disusun, harga tertinggi 1 BTC mencapai Rp587 juta dalam dua pekan terakhir. Bandingkan dengan Maret 2020 yang hanya Rp76 juta. Atau ketika diciptakan pertama kali, tidak sampai Rp5 ribu, pada tahun 2009.

    Tentu BTC adalah salah satu dari sekitar 4.800 jenis MUD yang lahir setelahnya dalam sepuluh tahun terakhir. Tetapi, lebih dari separuhnya gagal berkembang (Johnson dan Green, 2019). Universitas Cambridge merilis studi yang memperlihatkan peningkatan pengguna MUD sudah mencapai 101 juta orang hingga September 2020 (2019).

    Cryptocurrency (mata uang digital/elektronik berbasis kriptografi) pada prinsipnya tidak diterbitkan oleh negara, melainkan oleh individu ataupun kelompok-kelompok termasuk perusahaan, melalui pemrograman.

    Baca Juga: Warga AS akan Dapat Stimulus, Harga Bitcoin Diprediksi …

    Bitcoin sebagai Sebuah Sistem

    Oleh perancangnya, Satoshi Nakamoto (2008), Bitcoin didefinisikan sebagai “A Peer-to-Peer Electronic Cash System”; sistem uang elektronik peer-to-peer.

    Tulis Nakamoto dalam paper-nya: Versi uang elektronik murni peer-to-peer akan memungkinkan pembayaran daring (online) dilakukan langsung dari satu pihak kepada pihak lain tanpa melalui lembaga keuangan.

    Sebagai sebuah sistem, yang dimaksud dengan Bitcoin adalah peranti lunak untuk bertransaksi objek bernilai (uang), sekaligus penerbitan bentuk uang (money) dan mata uangnya/nilai uang (currency). Wujud mata uangnya adalah digital (juga disebut Bitcoin [BTC]) dan ditransaksikan melalui Internet.

    Memanfaatkan jaringan transaksi peer-to-peer, bagi Nakamoto, guna mencegah terjadinya double spending (uang digunakan dalam beberapa kali transaksi).

    Nakamoto memang tak menyebut sistem itu dengan istilah “blockchain” dalam paper-nya itu. Istilah “block” dan “chain” ditulis terpisah didalamnya, tetapi mengandung makna serupa terhadap makna “blockchain” yang dikenal dunia saat ini.

    Istilah “block chain” (ditulis dengan spasi) kali pertama disebut oleh Hal Finney, seorang pakar kriptografi asal Amerika Serikat yang juga terlibat memberikan masukan soal “sistem Bitcoin” itu kepada Nakamoto, sebelum sistem itu diluncurkan pada awal tahun 2009.

    Disebut dengan blockchain, karena setiap kumpulan transaksi dicatatkan ke dalam block (sebuah jenis berkas/file khusus). Lantas, setiap block ditautkan/dirantai secara kronologis dan diamankan secara kriptografis (hash). Dalam konteks sistem Bitcoin, kemunculan setiap block ditetapkan rata-rata setiap 10 menit.

    Sedangkan BTC sebagai bentuk uang digitalnya, diterbitkan dalam bentuk imbalan (reward) kepada pihak yang memverifikasi dan memvalidasi transaksinya. Pihak itu disebut dengan istilah miner (penambang), menggunakan alat khusus. Alat ini lazimnya “sangat haus” energi listrik karena perlu daya yang besar.

    Jadi, setiap block terbit, miner yang berhasil memverifikasinya, berhak mendapatkan reward dalam bentuk BTC yang baru.

    Kali pertama sistem Bitcoin diluncurkan, reward yang diperoleh miner adalah 50 BTC per block. Nah, karena Bitcoin menganut faham “deflationary system”, setiap 210.000 block berlaku mekanisme Halving. Mekanisme itu memastikan reward akan berkurang sebanyak separuh.

    210.000 block itu setara dengan periode 4 tahun. Jadi setiap 4 tahun, reward yang diperoleh miner berkurang, mulai dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Lalu 25 BTC menjadi 12,5 BTC. Saat ini, sejak Mei 2020 reward-nya (penerbitan BTC yang baru) adalah 6,25 BTC per 10 menit (rata-rata).

    Kelak pada tahun 2024 berkurang separuh lagi, yakni menjadi 3,125 dan seterusnya seperti itu, setiap 4 tahun.

    Pada akhirnya, sekitar tahun 2140 nanti, total BTC yang terakumulasi adalah 21 juta BTC. Tak ada BTC baru yang diterbitkan setelahnya. Saat ini BTC yang sudah ditambang adalah 18.602.600 BTC.

    Dengan kata lain, pasokan (supply) BTC sudah ditetapkan (diprogram) oleh sistem, yakni terbatas hanya 21 juta unit.

    Mata Uang Digital (MUD)  Baru dan Semangat Jalan Alternatif

    Jika dirunut asal muasalnya, kemunculan MUD dipicu oleh ketidakpastian atas nilai uang resmi yang diakui oleh pemerintah, tingginya inflasi, kelambanan operasi dan biaya tinggi perbankan.

    Selain itu, lembaga otoritas keuangan dianggap tidak mampu menjaga nilai tukar uang yang terus menerus terdepresiasi.

    Ratusan orang berlatar belakang disiplin filsafat, matematika, komputer sains, kriptografi dan politik bergabung dalam grup diskusi virtual-mailing list-diberi nama cypherpunk sejak tahun 1992. Mereka adalah sekelompok ahli dan aktivis multidisiplin yang gusar terhadap keadaan dan rute teknologi, ekonomi, sosial, dan politik pada era proliferasi internet jaman itu (Assange, 2016).

    Secara khusus, diskusi awal dimulai dengan kekhawatiran semakin hilangnya privacy dalam dunia digital, yang dilanjutkan dengan diskusi mendasar lainnya yang menantang kemapanan sekaligus kerentanan sistem ekonomi mainstream.

    Pertanyaan penting lainnya yang ingin dijawab adalah bagaimana epistemologi nilai dikembalikan kepada setiap individu.

    Sebagai contoh dalam bentuk operasional; bisakah bank disebut sebagai tempat penitipan aset bernilai, digantikan dan dikembalikan kepada setiap individu itu sendiri? Nah, sampai disini, jawabannya ditemukan: Bitcoin.

    Di sinilah muncul pemberontakan saintifik para cypherpunk; desentralisasi versus sentralisasi. Bank tersentralisasi di pihak ketiga bergeser ke pengertian bahwa “setiap individu adalah bank berjalan”.

    Mata uang dengan nilai tukar yang sama secara permanen versus mata uang resmi dengan nilai tukar yang terdepresiasi. Ide mengembalikan transaksi purba: barter secara adil.

    Blockchain, ekosistem yang dipakai MUD, diletakkan secara saintifik-teknologis plus semangat idealisme gerakan sosial di dalamnya.

    Idealisme otentik dalam sistem blockchain menegaskan bahwa individu harus memiliki kedaulatan atas nilai, tidak tersubordinasi dalam sistem yang eksploitatif; solidaritas (ekonomi) versus individualisme.

    Akademisi di berbagai jurnal ilmiah pun memberikan justifikasi bahwa mata uang berbasis blockchain memang layak dipercaya.

    Baca Juga: Ini Sejarah Lahirnya Logo Bitcoin

    Dari Ide ke Materi

    Kalam telah menjadi materi dan materi telah menciptakan revolusi. MUD ini menggelembung seperti tsunami raksasa lintas negara, menciptakan semacam “chaos” baru.

    Memang, uang ini tidak memposisikan restu negara sebagai prinsip. Jikapun mendapat restu, itu hanya sekadar pelengkap.

    Pada awalnya ada upaya memberangus MUD, namun upaya itu gagal di berbagai negara.

    Para penggagas awalnya memiliki impian akan suatu dunia tanpa penghisapan manusia atas manusia, dunia yang sebisanya tanpa pihak ketiga dalam bertransaksi untuk memastikan nilai yang utuh, akuntabel, rahasia, dan dapat dipercaya.

    Namun, tidak seperti impian ideal para penciptanya, uang digital ini tidak hanya digunakan oleh kelompok Generasi Z untuk bertransaksi.

    Penggunaannya meluas dan mengglobal, tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi menjadi komoditi, hingga munculnya kembali jebakan pihak ketiga; broker jual beli mata uang kripto, layaknya jual beli mata uang resmi (valas/valuta asing).

    Tak Berdaulat atas Private Key

    Contohnya, “kode rahasia” (private key) Bitcoin yang sejatinya harus dipegang oleh masing masing pemiliknya, justru disimpan oleh pihak ketiga dengan jaminan rekognisi negara sebagai barang komoditi.

    Seperti pernak pernik terkait Che Guevara yang dikapitalisasi, demikian juga blockchain. Dalam hal ini satu produknya mata uang kripto, pun dibajak kembali oleh kapitalisme.

    Tercatat beberapa negara gagal juga mencoba MUD. Zimbabwe melegalkan MUD untuk mengatasi kehancuran mata uang dolar setempat.

    Kehancuran mata uang bolivar tahun 2018 memaksa presiden Venezuela, Nicholas Maduro untuk menciptakan MUD petro.

    Tidak hanya negara gagal, negara adikuasa seperti Rusia dan Tiongkok telah menciptakan MUD sendiri, termasuk negara tetangga kita, Singapura.

    Hingga tulisan ini dibuat, total perdagangan global uang digital telah mencapai lebih dari satu triliun dolar AS, dimana lebih dari separuhnya bertumbuh pada saat pandemi COVID-19 dimulai sejak tahun 2020.

    Hal ini dipicu krisis dan plus suntikan uang besar besaran berbagai bank sentral negara-negara di dunia ke dalam pasar (UC, 2020).

    Badan resmi PBB dan LSM internasional pun mulai melirik uang digital sebagai alat transaksi dan donasi yang sah.

    Oktober 2019, UNICEF meresmikan UNICEF Cryptocurrency Fund, unit resmi yang beroperasi menerima donasi publik, dan menyalurkan donasi ke seluruh dunia dalam bentuk uang digital.

    Save the Children, sebuah LSM internasional yang ternama, tercatat sebagai LSM pertama yang menerima dan menyalurkan uang digital sejak tahun 2013.

    Setelah itu, ribuan LSM di seluruh dunia mulai menerima dan menyalurkan donasi uang digital.

    Sebagai Komoditi di Indonesia

    Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah mengakui beberapa jenis MUD sebagai komoditi, meskipun belum menerimanya sebagai alat tukar yang sah.

    Bak jamur di musim hujan, perusahaan jual beli aset digital/aset kripto bermunculan, dan pengguna nasional meningkat tajam.

    Kapitalisasi uang digital di Indonesia pada minggu pertama Januari 2021 telah mencapai lebih dari Rp6 ribu triliun (Fiat, 2021).

    Lebih jauh, mata uang ini tidak hanya dikejar oleh perusahaan keuangan, korporasi dan hedge fund. MUD berpotensi dipakai sebagai alat transaksi ‘uang panas’ oleh para koruptor, mafia, hingga kelompok bersenjata dan teroris, karena tingkat kerahasiaannya yang nyaris sempurna (RAND, 2019).

    Alhasil, mata uang kripto ini tertelan oleh dunia kapitalisme yang gelap dan mengikuti karakter uang, pendahulunya; aset baru dengan tingkat volatilitas dan berisiko tinggi.

    Kontribusi untuk Bumi yang Lebih Baik, Mungkinkah?

    Sejauh ini, perlu digarisbawahi berjaraknya antara pikiran gerakan (keadilan sosial, ekonomi, dan politik) tentang blockchain dengan para pelaku gerakan itu di berbagai lapangan.

    Pemikirannya melesat jauh, sementara pelaku gerakan sosial terlambat jauh dan tertinggal.

    Ide blockchain semakin condong pada sektor keuangan semata. Alhasil, pelaku utama pengguna gagasan besar ini bergeser cepat dan disambar oleh pasar.

    Sebagai promosi kembali ke “khittah” ideal blockchain, sudah selayaknya pelaku gerakan sosial politik melirik penggunaan teknologi ini sebagai alat perlindungan alam.

    Penghancuran sumber daya alam khususnya hutan di Indonesia sebagai emitter tertinggi karbon penyebab perubahan iklim, terjadi karena ketidak-jelasan tenurial yang sudah berlangsung puluhan tahun.

    Penggunaan teknologi blockchain berbasis rakyat masif, dengan menciptakan aplikasi murah yang tersedia di ponsel, berpotensi melindungi hak atas sumberdaya alam dan menjaga keutuhan keanekaragamannya, termasuk menghindari potensi pencurian hak atas kekayaan hayati.

    Sebagai contoh, jika teknologi blockchain digunakan untuk tatakelola tanah berbasis rakyat di Indonesia, maka kemungkinan munculnya perijinan keliru dan tumpang tindih hak atas tanah akan bisa dihindari, dan dengan sendirinya mengurangi konflik tanah.

    Salah satu perhatian penting para pengkritik aset kripto khususnya terhadap Bitcoin adalah penggunaan listrik berskala besar yang digunakan untuk komputer canggih para penambang di berbagai belahan dunia, utamanya di Tiongkok, Amerika Serikat dan Eropa, pusat-pusat penambangan uang digital.

    Namun, penggunaan listrik para penambang virtual ini tidak apple to apple dengan tambang emas, salah satu pesaing penting uang digital.

    Tambang emas yang murni fisik sejatinya menghancurkan bentang alam dan menghasilkan limbah berskala besar, termasuk mencemari air bersih.

    Secara metaforik, satu cincin emas nikah meninggalkan 20 ton limbah terkontaminasi merkuri dan sianida.

    Dengan kehadiran Bitcoin yang kompetitif berhadapan dengan emas, ada harapan perlambatan penghancuran sumberdaya alam dan hutan.

    Tentu gerakan kolektif dan investasi teknologi diperlukan sehingga ekosistem blockchain mampu dipergunakan secara mudah dan murah oleh masyarakat utamanya petani, masyarakat adat, nelayan, dan berbagai pemangku sumberdaya alam dan hutan di Indonesia.

    Penggunaan MUD untuk menerima dan menyalurkan donasi kepada kelompok sosial rentan yang membutuhkan dukungan sosial di Indonesia, adalah salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan, sebagaimana telah dimulai lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa dan lembaga internasional lainnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Prediksi Bitcoin Segera Menuju $20.000 dan Melampauinya

    Bitcoin mengalami fase konsolidasi kuat selama seminggu terakhir. Mata uang crypto ini diperdagangkan dalam kisaran ketat antara $18.500 dan $19.500.

    Banyak sentimen pasar yang berpikir bahwa kisaran harga ini merupakan permulaan dari penurunan harga yang cukup kuat, tetapi menurut seorang analis proses ini memungkinkan Bitcoin untuk naik ke harga yang lebih tinggi lagi.

    Baca Juga: Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Seorang analis aset kripto membagikan grafik di bawah ini.

    prediksi bitcoinGrafik ini menunjukan Bitcoin sedang dalam pola Elliot Wave, yang berpotensi untuk menuju pergerakan pasar yang lebih tinggi menuju $20.000 dan seterusnya.

    Elliot Wave merupakan bentuk analisis teknis yang menunjukkan pasar bergerak dalam gelombang yang diprediksi berdasarkan psikologi investor dan tren lainnya. Menurut penjelasan,

    “Elliott melihat adanya tren harga keuangan berdasarkan hasil dari psikologi dominan investor. Ia menunjukan perubahan dalam psikologi massa selalu muncul dalam pola fraktal berulang yang sama, atau “gelombang”, di pasar keuangan.”

    Jika melihat grafik ini, analis optimis pasar sedang berada dalam pergerakan untuk mencapai level tertinggi baru.

    Baca Juga: Kilas Balik: Ada Apa dengan Bitcoin Minggu Lalu?

    “Bagaimana jika saya berpendapat bahwa 3 minggu terakhir pergerakan Bitcoin yang sideways merupakan koreksi besar kita? $Bitcoin.”

    Pertanyaannya, Kapan?

    Langkah berikutnya yang dapat membawa Bitcoin di atas level resistance $20.000 dapat dimulai dalam beberapa minggu mendatang. Analis aset kripto Philip Swwift mencatat, selama empat tahun terakhir, BTC selalu mengalami pembalikan krusial di pertengahan Desember, di antara tanggal 15 dan 18 Desember.

    “Sifat siklus Bitcoin: 15-18 Des 2016: Parabolic bull rundimulai; 15-18 Des 2017: Siklus teratas; 15-18 Des 2018:Siklus terbawah; 15-18 Des 2019: Post Plustoken rendah; 15-18 Des 2020: ?? Mungkin tidak akan terjadi apapun tahun ini ATAU… kemunduran kecil hingga pertengahan Desember sebelum akhirnya kenaikan parabola baru berjalan?”

    Siklus ini menunjukkan Bitcoin mungkin menjalani awal siklus eksponensial berikutnya pada pertengahan Desember.

    bitcoin 2021

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • S&P Dow Jones Luncurkan Indeks Crypto di 2021, Bakal Dorong Bitcoin Lebih Tinggi?

    S&P Dow Jones Indices, divisi dari penyedia data keuangan S&P Global Inc mengungkapkan pada hari Jumat, 4 Desember 2020, bahwa perusahaan akan meluncurkan indeks mata uang crypto pada 2021 mendatang. Peristiwa ini juga masuk sebagai momentum pengadopsian Bitcoin dan crypto yang lebih luas lagi.

    Baca Juga: VISA Umumkan Kerja Sama dengan USDC, Bukti Adopsi Crypto Makin Luas

    Indeks tersebut akan diberinakan S&P DJI dan menggunakan data dari perusahaan mata uang virtual yang berbasis di New York, Lukka. Data tersebut akan memasukan lebih dari 550 koin di daftar perdagangan teratas.

    Selanjutnya, S&P dan Lukka mengatakan, nantinya klien S&P akan bisa menggunakan penyedia indeks sesuai dengan kebutuhan dan alat benchmarking lainnya pada mata uang crypto.

    S&P dan Lukka berharap data harga yang lebih andal akan memudahkan investor untuk mengakses kelas aset baru, dan mengurangi beberapa risiko pasar yang sangat fluktuatif dan spekulatif.

    “Dengan aset digital seperti mata uang crypto menjadi kelas aset yang berkembang pesat, ini adalah waktu yang tepat (untuk menjadikan indeks tersebut) sebagai tolak ukur yang independen, andal, dan ramah pengguna,” ujar Peter Roffman, kepala inovasi dan strategi global di S&P Dow Jones Indices.

    Langkah salah satu penyedia indeks paling terkenal di dunia dapat membantu adopsi semakin cepat dan menjadi aset investasi utama.

    Terlebih, Bitcoin berhasil menunjukan jati dirinya dengan terus melonjak naik dan mengungguli nilainya terhadap dolar. Ditambah, peningkatan permintaan dari investor yang mengatakan mata uang virtual sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan aset safe-haven.

    Adopsi Bitcoin Semakin Luas

    Dengan semakin banyak perusahaan dan investor besar yang masuk ke dalam dunia crypto, semakin besar pula peluang harga crypto akan terus naik dan menjadi aset investasi utama.

    Saat penulisan, harga Bitcoin hari ini berada di kisaran harga $19.230. Banyak analis yang memprediksi Bitcoin akan terus melonjak ke arah yang lebih tinggi lagi.

    Baca juga: Harga Bitcoin Diprediksi Rally ke $20.000 Jika lewati Harga $19.300

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Selain Tesla, Ini Perusahaan yang Diperkirakan Akan Beli Bitcoin

    Menyusul Tesla yang sudah membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar, rumor dan spekulasi soal perusahaan lain yang mungkin melakukan hal serupa, semakin menyeruak. Perusahaan mana saja?

    Sebelumnya Apple disarankan juga membeli Bitcoin dan menyematkan fitur perdagangan aset kripto di Iphone.

    Hal itu disampaikan oleh RBC Capital Markets dalam kajiannya, beberapa saat setelah Tesla mengumumkan pembelian Bitcoin itu.

    Melalui surel yang diterima redaksi hari ini, Swan Bitcoin menyebutkan bahwa pembelian Bitcoin bernilai jumbo itu setara dengan 15 persen dari kas bersih perusahaan Tesla.

    Lalu, penghayat Bitcoin yang juga penyiar di Russian Television (RT), Max Keiser mengklaim punya informasi yang dapat dipercaya bahwa Larry Ellison, pendiri perusahaan multinasional Oracle juga akan membeli Bitcoin.

    Asal tahu saja, Larry Ellison adalah salah satu pemegang saham di perusahaan Tesla. Berdiri sejak tahun 1977, Oracle adalah salah perusahaan peranti lunak terbesar di dunia, dengan pendapatan pada tahun 2020 mencapai US$39,07 milyar.

    Swan Bitcoin menyebutkan bahwa Oracle sendiri memiliki US$40 miliar dalam bentuk tunai di neraca mereka.

    Rumor soal perusahaan lain yang menyusul Tesla untuk membeli Bitcoin adalah berdasarkan kajian dari Swan Bitcoin.

    Salah seorang penasehat di Swan Bitcoin adalah Lyn Alden, peneliti keuangan terkait aset kripto yang cukup kritis terhadap Ethereum. Penasehat lainnya adalah Max Keiser.

    Bagi Swan Bitcoin, pembelian Bitcoin oleh perusahaan-perusahaan besar amat besar maknanya, karena memberikan posisi Bitcoin secara signifikan sebagai aset bernilai.

    Perusahaan pertama yang dispekulasikan adalah SpaceX, perusahaan yang didirikan dan dikendalikan oleh Elon Musk.

    Perusahaan ini bukanlah perusahaan publik seperti Tesla, sehingga tidak diperlukan pengumuman secara formal kepada pemerintah, dalam hal ini adalah SEC di AS.

    Kemudian ada Salesforce yang sejak beberapa tahun terakhir amat pro dengan teknologi blockchain.

    Swan Bitcoin mengatakan perwilan dari perusahaan itu menghadiri konferensi Internasional oleh MicroStrategy pada 3-4 Februari 2021 lalu tentang cara membeli Bitcoin untuk perusahaan.

    Baca Juga: Mengenal Makers dan Takers dalam Dunia Trading

    Umpan Balik Positif
    Michael Saylor
    , CEO MicroStrategy, yang membeli Bitcoin senilai US$1,3 miliar pada tahun 2020. Dan sejak itu aktif mengkampanyekan perlunya perusahaan untuk membeli Bitcoin untuk menahan terjangan inflasi buruk di masa depan.

    “Bitcoin adalah aset cadangan perbendaharaan tingkat investasi yang aman. Bitcoin adalah solusi untuk masalah penyimpanan nilai yang dihadapi oleh semua perusahaan dan pelanggan mereka,” kata Saylor.

    “Orang yang memiliki Bitcoin (seperti Elon Musk dan Michael Saylor) memiliki insentif yang kuat untuk mempromosikan investasi mereka. Mengapa? Karena itu mendorong harga Bitcoin naik membuat investasi mereka lebih berharga,” sebut Swan Bitcoin.

    Swan Bitcoin beralasan, perusahaan besar yang membeli Bitcoin bukanlah untuk berspekulasi.

    “Pembeli institusional besar ini berpikir jangka panjang dan tidak membuat keputusan emosional. Mereka membeli untuk menahan, bukan untuk berspekulasi. Ini sangat bullish untuk Bitcoin secara jangka panjang,” sebut Swan Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JPMorgan: Beli Bitcoin Guna Imbangi Nilai Aset Lain

    Perusahaan raksasa keuangan asal AS, JP Morgan, menyarankan para nasabahnya untuk membeli Bitcoin guna melindungi nilai aset lain.

    Ahli strategi di JPMorgan menyarankan alokasi portofolio sebesar 1 persen dalam Bitcoin. Bitcoin sebanyak itu dapat berlaku sebagai perlindungan terhadap fluktuasi kelas aset tradisional seperti saham, obligasi dan komoditas.

    Alokasi dalam persentase rendah disarankan untuk meredam risiko penurunan besar-besaran yang sering dialami Bitcoin.

    Baca Juga: Mengenal SFP, Inovasi Baru dari Safepal

    Ase kripto itu memang telah longsor 20 persen sejak titik tertinggi US$58 ribu pada 21 Februari 2021 lalu, tetapi masih naik 60 persen sejak awal tahun.

    Dilansir dari Bloomberg, ahli strategi JPM Joyce Chang dan Amy Ho dalam catatannya kepada klien, menyatakan bahwa dalam portofolio multi-aset, investor dapat menambahkan alokasi hingga 1 persen dalam Bitcoin, demi mencapai keuntungan efisiensi terhadap imbal hasil disesuaikan risiko portofolio tersebut.

    Saran itu menyusul investasi besar-besaran Bitcoin yang dilakukan Paul Tudor Jones, Stan Druckenmiller, Tesla dan MicroStrategy.

    JPMorgan menambahkan bahwa Bank of New York Mellon Corporation telah mengumumkan rencana untuk menyimpan, mentransfer dan menerbitkan aset digital tersebut bagi nasabahnya.

    Ini yang menunjukkan apresiasi besar terhadap Bitcoin oleh pelaku pasar tradisional.

    Baca Juga: Sosok di Balik ADA, Charles Hoskinson

    Analis JPMorgan menambahkan, aset kripto harus diperlakukan sebagai instrumen investasi dan bukan alat pembayaran seperti dolar AS atau yen Jepang.

    Pernyataan itu bertolak belakang dengan komentar oleh ahli strategi lain pada awal bulan yang mengklaim bahwa Bitcoin merupakan alat yang buruk untuk melindungi terhadap penurunan harga saham.

    Berbicara kepada CNBC pada 17 Februari 2021, Cathie Wood dari Ark Investment Management mengatakan, jika semua perusahaan menanamkan 10 persen cadangan kasnya ke Bitcoin, hal tersebut akan menambah harga BTC sebesar US$200 ribu (lebih dari Rp1 milyar).

    Pembelian aset kripto, seperti Bitcoin semakin tumbuh di tahun 2021, dan bukan hanya institusi yang menimbun.

    Perusahaan perdagangan Robinhood melaporkan 6 juta pengguna baru membeli aset kripto melalui platform tersebut dalam dua bulan pertama tahun ini.

    Angka tersebut melampaui angka tahun lalu, mengindikasikan momentum bullish dari sektor ritel masih kuat, kendati terjadi koreksi akhir-akhir ini.

    Saat ini, BTC turun 9 persen dalam kurun waktu 24 jam di harga US$45.400. Sedangkan dalam rupiah di Indonesia, berkisar 670 juta per BTC.



    Sumber : news.tokocrypto.com