Tag: bloomberg

  • Mike Novogratz: Kasus XRP Segera Selesai

    Mike Novogratz, CEO Galaxy Digital mengatakan reli kenaikan XRP secara global mengindikasikan bahwa kasus Ripple Labs dengan SEC mungkin segera selesai.

    “Dengan nilai ekuitas Ripple hanya US$2 milyar di pasar sekunder, saat ini XRP masih tergolong sangat murah. Tapi, jika mungkin kasus ini jauh dari selesai, maka yang terjadi bisa sebaliknya,” katanya.

    Baca Juga: XRP dan BNB Koin Paling Moncer Pekan ini

    XRP mencapai US$1,496, level tertinggi sejak 21 Januari 2018, sebelumnya hari ini di bursa Bitstamp, melonjak lebih dari 281 persen hanya dalam satu bulan.

    Stephen Palley dari Anderson Kill mengklaim bahwa reli XRP ini tidak mungkin terkait dengan dugaan bahwa kasus ini akan selesai.

    “Kecuali memang ada informasi dari orang dalam,” kata Palley.

    Namun Palley mengakui bahwa Ripple Labs telah melakukan langkah lebih baik dari yang diharapkan dalam perselisihan dengan SEC (Komisi Bursa dan Sekuritas) AS.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bloomberg: Bitcoin Kuat Menuju Rp700 Juta, Emas Lemas

    Mike McGlone Analisis dari Bloomberg Intelligence meramalkan bahwa Bitcoin kuat menuju US$50 ribu (Rp700 juta) per BTC. Sementara emas kian lemas, karena arus dana keluar semakin besar.

    Kajian Bloomberg masih bullish terhadap aset kripto nomor wahid itu. Kajian terbaru yang diterbitkan kemarin masih selaras dengan analisis bulan sebelumnya, bahwa ada support kuat BTC menuju US$50 ribu. Pasalnya, sokongan terbesar muncul sebelumnya di level US$30 ribu.

    Baca Juga: Doge Jadi Trending Topic di Twitter Indonesia

    “BTC menunjukkan support yang kuat di US$30 dan terus diadopsi oleh institusi dan berpotensi BTC menjadi aset cadangan global. Ini dapat mendorong harga menjadi US$50 atau lebih tinggi,” tulis McGlone.

    McGlone juga menyoroti semakin besarnya dana arus keluar dari pasar emas khususnya dari Gold ETF.

    Itu berbanding terbalik dengan kuatnya dana masuk ke instrumen investasi berbasis nilai Bitcoin yakni ke Grayscale Bitcoin Trust (GBTC).

    “Perusahaan Grayscale telah menumbuhkan dana GBTC dari 1 persen menjadi 10 persen sepanjang tahun 2020,” sebut McGlone.

    Baca Juga: Menapaki Jejak Perjalanan Bitcoin

    “Di dunia yang serba digital, sangat masuk lebih banyak arus dana mengalir ke Bitcoin dan menjauh dari logam mulia,” tegasnya lagi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Google Kembangkan Kartu Bitcoin (BTC)

    Bloomberg melansir, Google akan memperluas fitur pembayaran berbasis Bitcoin. Keputusan itu dilakukan dalam rangka bersaing dengan kompetitor di bidang layanan daring.

    Google berusaha meningkatkan daya saing dengan menjadikan Bill Ready sebagai Presiden Perdagangan dan merekrut Arnold Goldberg, mantan eksekutif PayPal, sebagai Kepala Divisi Pembayaran.

    Raksasa teknologi itu turut mengkonsolidasikan kemitraan demi mencapai tujuan tersebut.

    Baca jugaMemindai Nilai Bisnis Metaverse di Masa Depan

    Google bermitra dengan Coinbase Global dan BitPay untuk menghadirkan fitur dimana pengguna dapat menyimpan Bitcoin dan aset kripto lain. Berkat ini, pengguna bisa memakai tabungan kripto untuk membiayai pembelian sama seperti memakai uang fiat.

    Menurut Bloomberg, Google telah gagal mencapai sasaran dengan fitur Google Pay. Layanan itu hanya berhasil di India tetapi tidak di negara lain.

    Google Pay tidak berhasil menarik pengguna dan mengalami kesulitan. Sebab itu, Google akan menambahkan fitur tambahan terhadap layanan belanjanya.

    Menurut Ready, gerakan ini akan membantu pengguna memanfaatkan semua pilihan layanan keuangan yang ada. Pemaduan Bitcoin dan aset kripto lain adalah langkah logis dikarenakan peningkatan adopsi dan aksesibilitas di seluruh dunia.

    “Kami bukan bank, kami tidak berniat menjadi bank. Usaha di masa lalu terkadang mulai merambah ke sektor perbankan secara tidak sengaja,” jelas Ready.

    Ia menambahkan, tujuan Google adalah membantu menjalin koneksi dan menjadi pihak yang bebas dari konflik kepentingan.

    Baca jugaNFT untuk Sektor Musik, Apa Saja Manfaatnya?

    Ready dan Goldberg bekerja di PayPal hingga Ready bergabung ke Google untuk mengawasi divisi pembayaran. Kini, Ready mengajak Goldberg menjadi wakil presiden dan general manager bagi proyek Google baru bernama Satu Milyar Pengguna Baru.

    Data dari Bloomberg mengklaim dompet Google, yang akan terpadu dengan Bitcoin dan aset kripto lain, mencatat 150 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

    Kendati demikian, alternatif pembayaran dari Apple menjadi hambatan bagi ambisi Google, bahkan bagi gawai yang menjalankan operating system Android.

    Selain itu, metode pembayaran dari perusahaan pesaing menjadi penyebab gagalnya fitur Google Pay. Hanya 4 persen dari semua pembayaran non-tunai di AS memakai metode Google Pay.

    Sebab itu, Google akan memfokuskan usaha menjadikan dompet mereka lebih komprehensif.

    Soal pasar aset kripto, Presiden Perdagangan Google berkata, “Kripto adalah suatu hal yang kami perhatikan secara seksama. Seiring minat pengguna dan peritel berubah, kami akan ikut berubah.”

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bloomberg: Harga Bitcoin Berpeluang Bull-Run Seperti Tahun 2015-2017

    Bloomberg belum lama ini melaporkan hasil kajiannya yang bertajuk Bitcoin Maturation Leap”. Salah satu nukilan di dalamnya disebutkan, bahwa Bitcoin saat ini bersiap-siap untuk bull-run alias naik tinggi secara besar-besaran seperti periode 2015-2017 yang sempat menghantarkan Raja Aset Kripto itu naik hingga US$19.783 pada 17 Desember 2017.

    Kajian sepanjang 10 halaman itu juga menyebutkan, bahwa bull-run itu terkait dengan perubahan laju produksi Bitcoin alias pengurangan imbalan kepada penambang (Halving) dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block yang akan terjadi pada medio Mei 2020.

    Bloomberg juga menyebutkan emas dan Bitcoin berkarakter sebagai aset lindung nilai, sebagai akibat dari gejolak pasar modal, dampak pandemi COVID-19.

    BERITA TERKAIT  Tether (USDT) Lejitkan Bitcoin Tahun 2017, Siapa Peduli?

    Bitcoin dan emas juga sebagai ‘penerima manfaat utama’ dari stimulus moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang disertai dengan anjloknya pasar saham,” jelas Bloomberg.

    Pasar Berjangka Jinakkan Bitcoin
    Bloomberg juga memastikan bahwa pasar derivatif Bitcoin (seperti futures, options, margin dan lain sebagainya-Red) turut “menjinakkan” volatilitas harga Bitcoin di pasar spot.

    Namun, itu bukan berdampak negatif terhadap Bitcoin dalam konteks manipulasi. Tetapi, karena volatilitas dapat ditekan, maka bisa mendorong lebih banyak orang lagi untuk melakukan pembelian Bitcoin.

    Volatilitas Bitcoin diperkirakan akan terus menurun, sama seperti sepanjang Oktober 2015 yang menandai awal dari pasar bullish. Tentu saja itu terjadi jika memang sejarah selalu berulang. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ⁠Apa itu Dewan Penasihat Bloomberg New Economy?

    Bloomberg New Economy merupakan forum global yang digagas oleh Michael Bloomberg pada tahun 2018 dengan tujuan menjembatani dialog antara negara maju dan negara berkembang. Forum ini lahir dari kebutuhan akan ruang diskusi yang inklusif di tengah perubahan besar dunia, di mana negara berkembang kini banyak memegang peran penting dalam perekonomian global.

    Setiap tahunnya, Bloomberg New Economy menghadirkan para pemimpin negara, CEO perusahaan multinasional, hingga pakar internasional untuk membahas isu-isu krusial seperti perubahan iklim, kesehatan global, stabilitas keuangan, dan transformasi digital. Forum ini berperan sebagai wadah kolaborasi, di mana ide-ide baru dirumuskan dan solusi bersama dicari untuk menghadapi tantangan masa depan.

    Untuk memperkuat perannya, dibentuklah Dewan Penasihat Bloomberg New Economy yang berfungsi memberikan arahan strategis terhadap agenda dan diskusi global. Menariknya, salah satu tokoh yang duduk di dewan ini adalah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. 

    Tapi apa itu sebenarnya ⁠Dewan Penasihat Bloomberg New Economy dan siapa saja anggota lengkap dari dewan tersebut? Simak lebih lengkap di bawah yuk!

    Apa Itu Dewan Penasihat Bloomberg New Economy?

    Dewan Penasihat Bloomberg New Economy (Bloomberg New Economy Advisory Board) adalah dewan penasehat global yang dibentuk oleh forum Bloomberg New Economy untuk membantu pemimpin dunia, pebisnis, akademisi, dan inovator memahami serta merumuskan solusi terhadap tantangan ekonomi baru. 

    Para anggota dewan ini terdiri dari tokoh-tokoh berpengalaman di bidang bisnis, pemerintahan, dan organisasi internasional.  Karena masukan dan pandangan mereka dianggap sangat penting untuk membimbing arah dan strategi organisasi tersebut ke depan, maka dibentuklah Dewan Penasihat Bloomberg New Economy.

    Baca juga: Indonesia Menjajaki Bitcoin: Usulan Cadangan Aset Kripto di Danatara

    Deretan Anggota Dewan Penasihat Bloomberg New Economy

    Dewan Penasihat Bloomberg New Economy beranggotakan tokoh-tokoh berpengaruh dari berbagai latar belakang. Beberapa di antaranya adalah mantan pejabat tinggi negara, CEO perusahaan multinasional, ekonom ternama, serta pakar teknologi.

    Keberagaman latar belakang ini bertujuan agar setiap kebijakan dan rekomendasi yang lahir bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Berikut list lengkapnya:

    Co-Chairs

    • Michael R. Bloomberg – Founder Bloomberg LP & Bloomberg Philanthropies; Mantan Wali Kota New York City
    • Mario Draghi – Mantan Perdana Menteri Italia; Mantan Presiden Bank Sentral Eropa
    • Gan Kim Yong – Wakil Perdana Menteri & Menteri Perdagangan dan Industri, Singapura
    • Gina Raimondo – Mantan Menteri Perdagangan, Amerika Serikat

    Anggota Dewan Penasihat

    • Noubar Afeyan – Co-Founder Moderna; CEO Flagship Pioneering
    • Dawn Fitzpatrick – CEO & CIO Soros Fund Management
    • Gita Gopinath – Profesor Ekonomi, Harvard University
    • Merit Janow – Ketua Dewan Mastercard; Dean Emerita SIPA, Columbia University
    • Kai-Fu Lee – CEO 01.AI; Chairman Sinovation Ventures
    • Jorge Paulo Lemann – Chairman Lemann Foundation
    • Strive Masiyiwa – Chairman & Founder Econet
    • Ravi Menon – Duta Aksi Iklim, Pemerintah Singapura
    • Takeshi Niinami – Mantan Chairman & CEO Suntory Holdings
    • Eyal Ofer – Chairman Ofer Global
    • Charles Phillips – Managing Partner & Co-Founder Recognize
    • Suresh Prabhu – Mantan Menteri Perdagangan dan Industri, India
    • Jing Qian – Co-Founder Center for China Analysis, Asia Society Policy Institute
    • Steven Rattner – Chairman & CEO Willett Advisors LLC
    • Marc Rowan – Co-Founder & CEO Apollo Global Management
    • David Vélez – Co-Founder & CEO Nubank
    • Josephine Wapakabulo – Founder & Managing Director TIG Africa
    • Joko Widodo – Mantan Presiden Republik Indonesia
    • Baca juga: iPhone 17 Rilis, Apa Dampaknya bagi Pasar Smartphone Indonesia?

    Kesimpulan

    Dewan Penasihat Bloomberg New Economy adalah kumpulan tokoh global yang dibentuk untuk memberikan masukan strategis terhadap agenda ekonomi dunia dan memperkuat peran forum Bloomberg New Economy sebagai ruang dialog global antara negara maju dan berkembang.

    Anggotanya terdiri dari tokoh pemerintahan, bisnis, akademisi, dan inovator teknologi dunia, termasuk Michael Bloomberg, Mario Draghi, Gina Raimondo, hingga mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Trump Beri Penangguhan Hukuman ke Bos Binance


    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi penangguhan hukuman kepada salah satu tokoh terkaya dan paling berpengaruh dalam industri mata uang kripto, Changpeng Zhao. Namun penangguhan hukuman ini memperbarui kekhawatiran publik dengan asumsi pihak berkantong tebal mampu membeli jalan keluar dari masalah Trump 2.0.

    Dikutip dari CNN, Zhao memiliki platform perdagangan aset kripto secara global bernama Binance sejak tahun 2017. Platform ini memungkinkan US$ 100 dari rekening bank dengan membeli-menjual mata uang kripto secara virtual di mana pun.

    Binance juga menawarkan layanan keuangan yang lebih kompleks seperti perdagangan margin dan staking, yakni sebuah cara bagi investor untuk mendapatkan imbal hasil pasif atas aset kripto.


    Binance bukan hanya menjadi bursa kripto terbesar di dunia dengan jumlah pengguna 280 juta secara global dan volume perdagangan lebih dari US$ 217 miliar setiap harinya, tetapi juga menguasai 40% pangsa pasar di antara bursa kripto terpusat.

    Duduk Perkara Hukuman Trump

    Meski begitu, Binance kerap tidak mematuhi aturan tentang penjualan layanan keuangan di berbagai yurisdiksi, termasuk di AS, yang secara efektif melarang versi global platform tersebut pada tahun 2019. Kemudian Binance meluncurkan layanan yang lebih terbatas di AS, yakni Binance.US.

    Namun pada praktiknya, banyak pengguna di kawasan perbatasan AS mengakali larangan tersebut. Kemudian jaksa federal AS mengatakan pada tahun 2023, Binance telah menjadi pusat bagi pelaku kejahatan yang memuat praktik pelecehan seksual anak, narkotika, pendanaan teroris, dan pencucian uang.

    Binance juga tidak memiliki protokol atau standar bagi perusahaan jasa keuangan untuk melaporkan transaksi terkait risiko pencucian uang, menurut Departemen Kehakiman, dan para karyawan menyadari pengawasan semacam itu mengundang penjahat ke platform tersebut.

    “Kami membutuhkan spanduk ‘apakah mencuci uang narkoba terlalu keras akhir-akhir ini – datanglah ke Binance, kami punya kue untuk Anda,” kata seorang staf kepatuhan, menurut dokumen pengadilan, dikutip dari CNN, Minggu (26/10/2025).

    Binance pun mengaku bersalah di AS atas pelanggaran pencucian uang. Sebagai bagian dari penyelesaian dengan pemerintah, Zhao mengundurkan diri sebagai CEO, membayar denda US$ 50 juta, dan menjalani hukuman empat bulan penjara federal.

    Meski begitu, Zhao masih memiliki sekitar 90% saham perusahaan, sehingga kekayaan bersihnya diperkirakan lebih dari US$ 80 miliar. Kemudian hingga kini, Zhao menjadi ikon Binance, dan mempertahankan pengaruhnya di industri bahkan setelah dipenjara.

    Pada hari Jumat lalu, Zhao merenungkan pasang surut kariernya baru-baru ini. Menurutnya, karir di dunia kripto hanya sedikit tercoreng.

    “Rekam jejak resmi saya memang sedikit tercoreng, tetapi reputasi saya tetap kuat. Tak seorang pun, tak seorang pun, berhenti berbisnis dengan saya,” jelasnya.

    Akhirnya Trump Luluh

    Pengampunan Trump terhadap Zhao merupakan contoh masalah etika tersebut karena Binance memiliki hubungan finansial langsung dengan bisnis kripto keluarga orang nomor 1 di AS.

    Pada bulan Maret, World Liberty Financial milik keluarga Trump meluncurkan token dipatok pada dolar yang dikenal sebagai stablecoin. Altcoin ini menjadi aset populer dalam kripto karena nilainya tetap konstan, sementara sebagian besar harga token lainnya rentan terhadap volatilitas.

    Menurut Bloomberg, Binance menulis kode dasar untuk mendukung stablecoin World Liberty yakni USD1. Koin ini telah dipromosikan kepada 280 juta penggunanya di seluruh dunia.

    Kemudian perusahaan asal UEA mengumumkan akan menggunakan USD1 untuk mengambil alih saham Binance senilai US$ 2 miliar menggunakan USD1. Kesepakatan ini diharapkan menghasilkan keuntungan jutaan dolar bagi World Liberty, yang dikendalikan bersama oleh Trump dan keluarga Steve Witkoff.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Terbang Lagi, Jadi Segini Sekarang


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2026). Bitcoin bergerak mendekati level US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar (asumsi kurs Rp 16.752) dari harga US$ 64.867.

    Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 13.18 WIB hari ini, Kamis (26/2), harga BTC bergerak menguat sebesar 5,24% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 68.335 atau sekitar Rp 1,14 miliar. BTC Sempat menyentuh harga tertingginya pada level US$ 69.512 atau sekitar Rp 1,16 miliar pada perdagangan pagi tadi.

    Dikutip dari Bloomberg, menguatan harga BTC ini dipicu oleh kembalinya likuiditas pasar kripto usai tekanan jual bersih beberapa waktu lalu. Lonjakan harga BTC ini bahkan terjadi sejalan dengan pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengklaim kembalinya ekonomi Negeri Paman Sam.


    “Kenaikan harga kemungkinan mencerminkan perilaku pembelian saat harga turun setelah aksi jual yang berkepanjangan,” kata salah satu pendiri Orbit Markets, Caroline Mauron, dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/2/2026).

    Selain BTC, altcoin lainnya juga tercatat menguat pada perdagangan hari ini. Token Ether (ETH) misalnya, menguat 4,15% pada perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 2.063 atau sekitar Rp 34,56 juta. Kemudian token BNB menguat 2,33% ke harga US$ 627,16 dan Solana (SOL) menguat 6,39% ke level US$ 87,55.

    Stablecoin pada perdagangan siang hari ini juga terpantau menguat, sebagaimana yang terjadi pada Tether (USDT) yang naik 0,03% ke US$ 1. Sementara memecoin seperti DOGE menguat 8,3% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.1000.

    Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bedah Struktur Kepemilikan Saham untuk Lacak Keterlibatan Afiliasi Israel



    Jakarta

    Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 83 Tahun 2023 mengajak umat Islam mendukung Palestina. Salah satu caranya adalah memboikot produk yang terkait dengan Israel. Namun, gerakan boikot ini kerap salah sasaran.

    Perusahaan nasional sering dituduh berafiliasi dengan Israel. Hoaks ini beredar luas dan membingungkan masyarakat. Padahal, tidak semua tuduhan itu benar.

    Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, meluruskan kesalahpahaman ini. Ia menjelaskan, saham perusahaan nasional yang terdaftar di bursa bisa dibeli siapa saja, termasuk investor asing.


    “Saham perusahaan nasional yang diperjualbelikan bebas di bursa, bisa dibeli siapa pun,” kata Cholil dalam acara detikcom Leaders Forum beberapa waktu lalu.

    Cholil menegaskan, kepemilikan saham kecil oleh investor asing tidak akan mempengaruhi kebijakan perusahaan nasional tersebut. Yang perlu diwaspadai justru pemegang saham pengendali.

    “Sasaran utama fatwa kami adalah pemegang kendali yang berpihak kepada Israel,” jelasnya.

    Cholil memberikan penjelasan sederhana. Kepemilikan saham di bawah 5% misalnya tidak bisa menentukan arah bisnis perusahaan. Ini berbeda dengan pemegang saham pengendali. Mereka memiliki saham di atas 20% dan mengendalikan keputusan perusahaan.

    “Kepemilikan kecil tidak berpengaruh terhadap kebijakan. Yang penting adalah siapa yang mengendalikan perusahaan,” ujar Cholil.

    Cara Lacak Kepemilikan Saham

    Publik kini didorong untuk lebih cermat memahami struktur kepemilikan perusahaan agar tidak salah menilai keterlibatan. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan oleh sejumlah lembaga keuangan dan regulator:

    1. Cek Laporan Tahunan Perusahaan (Annual Report)

    Laporan ini wajib dipublikasikan oleh emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dapat diakses melalui resminya. Di dalamnya terdapat data pemegang saham utama, struktur anak perusahaan, dan transaksi pihak terkait.

    Jika dari laporan ini terlihat mayoritas saham dimiliki oleh investor lokal, maka perusahaan tersebut termasuk perusahaan nasional dan tidak bisa dikategorikan berafiliasi dengan Israel. Saham minoritas asing tidak otomatis memengaruhi arah kebijakan perusahaan.

    2. Gunakan Data dari Regulator Resmi

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui laman www.ojk.go.id menyediakan informasi tentang kepemilikan saham pengendali, laporan keterbukaan informasi, dan hasil pemeriksaan emiten.

    Data OJK bisa menjadi acuan utama untuk memastikan pemegang saham pengendali berasal dari dalam negeri. Jika pengendali tercatat entitas lokal atau BUMN, maka perusahaan tergolong nasional.

    3. Telusuri Pemegang Saham Institusional dan Asing

    Investor besar seperti manajer aset, dana pensiun, atau bank investasi global sering memiliki saham di banyak perusahaan. Data mereka bisa dilacak lewat laporan publik dan database keuangan internasional seperti Bloomberg atau Refinitiv.

    Keterlibatan investor asing tidak otomatis berarti dukungan atau afiliasi terhadap Israel. Hal ini berlaku jika investor asing hanya memegang porsi kecil (misalnya di bawah 5-10%) dan mayoritas saham masih dipegang pihak Indonesia.

    4. Perhatikan Struktur Holding dan Anak Usaha Lintas Negara

    Banyak perusahaan multinasional beroperasi lewat anak usaha di luar negeri. Analisis laporan keuangan konsolidasi bisa membantu melihat potensi afiliasi tidak langsung dengan perusahaan berbasis di Israel.

    Jika induk dan pengendali utamanya tetap berbasis di Indonesia, maka perusahaan tersebut tidak tergolong berafiliasi Israel, meski memiliki anak usaha global. Struktur holding lintas negara bukan indikator keterlibatan politik, selama kepemilikan utamanya tetap lokal.

    5. Cermati Peran Pemegang Saham Pengendali (Controlling Shareholder)

    Menurut Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu), pemegang saham di atas 20% atau yang memiliki hak suara istimewa bisa dikategorikan sebagai pengendali. Arah kebijakan perusahaan secara hukum dan ekonomi dikendalikan oleh nasional jika ‘pengendali’-nya merupakan individu atau perusahaan lokal.

    Dengan demikian, perusahaan tersebut bebas dari afiliasi politik atau ekonomi dengan Israel.

    (hnu/ega)



    Sumber : www.detik.com