Tag: buy the dip

  • Sentimen Buy The Dip Meledak, Pasar Kripto Siap Terjun Lebih Dalam

    Kalimat “buy the dip” semakin sering bertebaran di media sosial menyusul penurunan Bitcoin sekitar 5% dalam sepekan terakhir.

    Namun menurut platform analitik sentimen pasar Santiment, lonjakan ini bukanlah sinyal bullish, melainkan bisa menandakan kemungkinan tekanan harga lebih lanjut.

    Santiment mengingatkan bahwa pasar biasanya mencapai titik terendah ketika ketakutan mendominasi dan minat beli menghilang.

    Sebaliknya, lonjakan wacana “buy the dip” justru sering muncul saat sebagian besar investor retail mulai merasa nyaman kembali suasana yang cenderung muncul sebelum koreksi lebih lanjut terjadi.

    Dengan kapitalisasi total pasar kripto menyusut sekitar 6,18% dalam seminggu dan Bitcoin anjlok ke kisaran $108.748, mental investor tampak mulai goyah saat banyak yang mencoba mencari harga masuk.

    Baca Juga: Fear and Greed Index Turun ke 39! Pasar Kripto Panik

    Sentimen bergeser ke “Altcoin Season”? Waspada dulu

    Meski sejumlah analis dan trader mencermati potensi datangnya “altcoin season”, didukung oleh indikator seperti Altcoin Season Index yang menembus angka 60/100.

    Meski begitu, ini bukan jaminan bahwa pasar siap reli. Seorang trader bahkan menyebut altcoin saat ini “paling oversold dalam sejarah,” yang secara historis bisa jadi titik balik besar.

    Faktor eksternal pendukung moment, tapi jangan terlena

    Selain kondisi internal pasar, sentimen ini juga diperkuat oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga AS.

    CME FedWatch menyebut ada peluang 86,4% Fed bakal pangkas suku bunga di September. Langkah seperti ini biasanya menaikkan minat modal ke aset berisiko termasuk kripto.

    Namun, Santiment sekaligus memperingatkan bahwa ini bukan alasan untuk terburu melakukan pembelian. Banyak trader ritel tergoda oleh sentimen positif, tetapi secara historis, pasar umumnya bergerak berlawanan ketika optimisme massal mulai muncul.

    Baca Juga: Apa Itu Crypto Fear and Greed Index?

    Fenomena meningkatnya percakapan “buy the dip” di media sosial bisa jadi lampu merah dalam diskursus psikologi pasar: bukan tanda outlet bullish, tapi potensi masa konsolidasi atau koreksi lebih lanjut.

    Ini mengindikasikan bahwa keterlibatan ritel dalam FOMO bisa memperbesar risiko gelombang penjualan berikutnya.

    Investor sebaiknya bersabar dan memperhatikan data fundamental dan on-chain, daripada sekadar mengikuti hype.

    Momentum altcoin mungkin menjanjikan, tapi menanti data lebih valid sebelum membeli sangatlah dianjurkan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Altcoin Terbaik Saat Bitcoin Turun: Diversifikasi Saat Pasar Lesu

    Saat Bitcoin mengalami penurunan, pasar kripto juga cenderung ikut turun. Namun di balik penurunan BTC, ada peluang tersembunyi di altcoin yang justru bisa jadi penyelamat portofolio lho!

    Yuk, kenali strategi diversifikasi yang cocok saat Bitcoin sedang turun.

    Hal yang Perlu Kamu Tahu Saat Bitcoin Turun

    Pergerakan harga Bitcoin menjadi penentu pergerakan harga aset kripto lainnya—atau sering disebut dengan altcoin.

    Ketika Bitcoin turun misalnya, sebagian besar altcoin biasanya ikut merosot karena pasar masih sangat dipengaruhi oleh pergerakan BTC. Fenomena ini biasanya bisa dilihat dari tingginya dominasi Bitcoin (BTC.D), yaitu seberapa kapitalisasi pasar Bitcoin dibanding altcoin.

    Melakukan diversifikasi portofolio kriptomu ke beberapa altcoin bisa jadi opsi menarik untuk mengantisipasi akan adanya rotasi modal yang awalnya modal secara dominan ada di Bitcoin, beralih ke altcoin lain yang ada di pasar kripto.

    Rotasi ini biasanya terjadi setelah Bitcoin mengalami reli atau konsolidasi, di mana investor mencari peluang keuntungan lebih besar di altcoin yang memiliki fundamental kuat.

    Baca juga: Sejarah Singkat Bitcoin Dominance

    Sebelum Diversifikasi, Pahami Dulu Dominasi Bitcoin (BTC.D)

    Secara sederhana, dominasi Bitcoin (BTC.D)  adalah persentase kapitalisasi pasar Bitcoin dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar seluruh aset kripto.

    Misalnya: Kalau total pasar kripto bernilai $3 triliun dan Bitcoin menyumbang $1,8 triliun, maka dominasi Bitcoin adalah 60%.

    Dominasi ini bisa menjadi sinyal untuk kamu menentukan apakah lebih baik diversifikasi ke altcoin potensial sebagai diversifikasi yang agresif atau ke altcoin dengan backed asset sebagai diversifikasi yang defensif.

    Baca juga: Apa itu Alt Season Index dan Bagaimana Cara Membacanya?

    Skenario Potensi Penurunan BTC.D 

    Jika Bitcoin mengalami penurunan dan indikator teknikal menunjukkan potensi penurunan dominasi Bitcoin—misal; karena BTC.D terlihat rejected di level resistance. Rotasi modal biasanya akan terjadi, di mana dana yang semula terkonsentrasi di Bitcoin mulai mengalir ke altcoin berfundamental kuat.

    Maka ini bisa jadi peluang untuk masuk ke altcoin besar yang potensial seperti Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), atau Solana (SOL).

    Skenario Potensi Kenaikan BTC.D 

    Jika dominasi Bitcoin tinggi, pasar lesu, dan grafik BTC.D justru terlihat akan terus menanjak, maka altcoin berisiko jatuh lebih dalam saat BTC melemah. Dalam kondisi ini, pilihan yang lebih aman adalah diversifikasi ke altcoin dalam bentuk stablecoin seperti USDT, USDC, atau bahkan aset lindung nilai seperti PAX Gold (PAXG)—sebagai diversifikasi dari volatilitas yang sedang terjadi.

    Altcoin Terbaik untuk Hedging

    Ketika pasar kripto melemah beberapa altcoin didesain untuk melindungi nilai portofolio dari volatilitas, sehingga disebut sebagai instrumen hedging. Tiga di antaranya adalah stablecoin populer dan aset kripto berbasis emas berikut:

    USDT (Tether)

    Pergerakan harga TetherUS (USDT/Rupiah) pada Minggu, 17 Agustus 2025.

    USDT adalah stablecoin terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari $100 miliar. Koin ini dipatok 1:1 terhadap dolar AS, sehingga nilainya relatif stabil meski harga Bitcoin dan altcoin lain turun drastis. Karena likuiditasnya sangat tinggi, USDT sering menjadi pilihan utama investor global maupun Indonesia untuk parkir dana sementara sebelum kembali membeli aset lain.

    USDC (USD Coin)

    Pergerakan harga USD Coin (USDC/Rupiah) pada Minggu, 17 Agustus 2025.

    Mirip dengan USDT, USDC juga dipatok ke dolar AS dengan rasio 1:1. Bedanya, USDC dikelola oleh Circle dan Coinbase melalui konsorsium Centre, sehingga lebih fokus pada transparansi cadangan aset. Bagi investor yang mengutamakan kejelasan regulasi dan tingkat keamanan lebih tinggi, USDC bisa menjadi alternatif hedging selain USDT.

    PAX Gold (PAXG)

    Pergerakan harga Pax Gold (PAXG/Rupiah) pada Minggu, 17 Agustus 2025.

    Berbeda dengan stablecoin dolar, PAX Gold dipatok 1:1 dengan emas fisik yang disimpan di brankas London. Artinya, setiap 1 PAXG merepresentasikan kepemilikan emas nyata. Keunggulannya, PAXG bisa diperdagangkan layaknya kripto, tapi nilainya akan tetap mengikuti harga emas dunia—meskipun ketika harga pasar kripto turun. Saat pasar yang dianggap berisiko seperti kripto jatuh, emas sering menjadi aset pelindung nilai (safe haven), sehingga cocok untuk opsi diversifikasi portofolio kamu.

    Baca juga: Senat AS Loloskan GENIUS Act: Regulasi Federal Pertama untuk Stablecoin

    Altcoin Terbaik untuk Rally Setelah Bitcoin

    Berdasarkan sejarah pergerakan pasar, ada beberapa altcoin yang konsisten mengalami kenaikan setelah fase dominasi Bitcoin melemah. Berikut altcoin yang layak diperhatikan:

    Ethereum (ETH)

    Grafik perbandingan pergerakan harga Ethereum dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Secara historis, Ethereum hampir selalu memimpin altcoin season setelah Bitcoin selesai reli besar. Misalnya, pada 2021, ketika ETH mencetak ATH di $4.800 beberapa minggu setelah Bitcoin mencapai puncak $69.000. Pola yang sama juga terjadi pada tahun 2025 dimana ETH reli setelah Bitcoin menembus beberapa kali ATH. Hal ini menunjukkan bahwa ETH cenderung menjadi “pemimpin” rotasi modal dari BTC ke altcoin.

    Baca juga: Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    XRP (Ripple)

    Grafik perbandingan pergerakan harga XRP dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    XRP punya sejarah unik: lonjakannya sering datang belakangan, setelah konsolidasi panjang. Pada 2021 misalnya, meski sempat terpukul oleh kasus hukum dengan SEC, XRP tetap mencatat reli besar setelah BTC. Begitu pula pada akhir 2024, setelah mengalami konsolidasi selama beberapa tahun XRP mengalami kenaikan setelah BTC. Ini membuktikan bahwa XRP sering jadi target rotasi modal.

    Solana (SOL)

    Grafik perbandingan pergerakan harga Solana dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Solana cenderung lebih volatil daripada Bitcoin: jatuh lebih dalam saat bear market, tapi juga naik lebih tajam saat ada rotasi modal ke altcoin. Di 2024–2025, SOL sempat menyaingi dan bahkan melampaui performa BTC, namun akhirnya ditutup dengan selisih lebih rendah. Pola ini konsisten dengan historis altcoin season—SOL reli setelah Bitcoin melemah, tapi dengan risiko fluktuasi yang lebih tinggi.

    Binance Coin (BNB)

    Grafik perbandingan pergerakan harga BNB dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Masuk dalam ekosistem Binance, membuat BNB selalu dibutuhkan—baik untuk membayar biaya transaksi, staking, maupun berbagai layanan lainnya. BNB masih stabil di top 5 kripto, likuiditas tinggi, dan meski kenaikan tidak setajam SOL atau XRP, BNB tetap jadi pilihan investor saat rotasi modal terjadi pasca-Bitcoin.

    Baca juga: 3 Strategi Buy the Dip Bitcoin yang Bisa Dicoba Saat Pasar Lesu

    TRON (TRX)

    Grafik perbandingan pergerakan harga Tron dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Jika dibandingkan altcoin lain, Tron (TRX) tidak selalu jadi bintang utama rally setelah Bitcoin, tapi justru punya kelebihan dalam hal daya tahan pasar berkat pasar stablecoin yang sering menggunakan Tron sebagai jaringan utama untuk mengirim aset—TRX memproses lebih dari 51% dari seluruh USDT yang beredar. TRX dapat diposisikan sebagai altcoin jangka panjang dengan risiko lebih rendah dibanding SOL, namun tidak setajam ETH dalam memimpin altseason.

    Bagaimana Strategi Beli untuk Diversifikasi Saat Pasar Lesu?

    Saat pasar kripto lesu, strategi terbaik bukanlah menebak kapan harga mencapai titik terendah, melainkan membangun portofolio secara bertahap.

    Salah satu cara yang bisa kamu gunakan adalah metode Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu membeli aset kripto dengan jumlah tetap secara rutin, misalnya mingguan atau bulanan—dengan DCA, kamu tidak perlu khawatir soal timing, karena harga beli otomatis diratakan dari waktu ke waktu. 

    Berikut langkah-langkah untuk melakukan pembelian Dollar Cost Averaging (DCA) dengan minimal deposit Rp50.000 di Tokocrypto:

    1. Buka Aplikasi Tokocrypto dan masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, Mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Baca juga: Cara Menggunakan Sinyal Trading di Aplikasi Tokocrypto atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Kesimpulan

    Saat harga Bitcoin turun, kamu bisa melakukan diversifikasi ke altcoin—baik dengan stablecoin sebagai lindung nilai saat pasar turun atau menilik potensi rotasi modal yang akan terjadi dengan memposisikan diversifikasi di altcoin potensial.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 3 Strategi Buy the Dip Bitcoin yang Bisa Dicoba Saat Pasar Lesu

    Pasar kripto sedang lesu? Justru ini saatnya buy the dip. Dalam kondisi sideways dan minim volatilitas, strategi seperti DCA, analisis RSI oversold, dan pantauan data on-chain bisa jadi senjata ampuh untuk menangkap peluang akumulasi Bitcoin.

    Yuk, simak langsung 3 strateginya yang bisa kamu terapkan!

    Mengapa Momen Pasar Lesu Jadi Peluang Buy the Dip?

    Kondisi pasar yang lesu sering kali dianggap tidak menyenangkan bagi para trader karena pergerakan harganya yang stagnan—hanya memantul antara level support dan level resistance. 

    Tapi dengan memanfaatkan momentum seperti saat harga turun mencapai level support, kamu bisa melakukan buy the dip untuk membeli dan menjualnya saat harga kembali mengunjungi level resistance.

    Baca juga: Apa itu swing Trading dan Bagaimana Cara Swing Trading Crypto?

    Buy the Dip dengan Dollar Cost Averaging (DCA)

    Saat harga lesu dan cenderung sideways, kamu bisa memanfaatkan momen ketika harga mengunjungi level support untuk melakukan pembelian. 

    Alih-alih melakukan pembelian secara serampangan tanpa melihat level support dan resistance, akan lebih baik jika kamu membeli dengan metode DCA (Dollar Cost Averaging) ketika harga menyentuh level support dan jika harga kembali menguji level support berikutnya dalam tren yang masih valid, kamu dapat melakukan buy the dip kembali—contohnya seperti gambar di bawah ini:

    Contoh buy the dip dengan support dan resistance.

    Memanfaatkan level support dan resistance seperti gambar di atas adalah salah satu cara sederhana untuk melakukan buy the dip di saat harga lesu dan sideways. 

    Namun, penting untuk diingat bahwa identifikasi level entry saja tidak cukup. Kamu juga perlu menerapkan manajemen risiko yang disiplin, seperti penggunaan stop-loss di bawah area support, guna melindungi modal dari potensi breakdown.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip di Area RSI Oversold

    Kamu bisa menggunakan indikator seperti RSI (Relative Strength Index) untuk mencari kondisi jenuh jual (oversold)

    Caranya dengan memperhatikan indikator RSI, jika RSI berada di bawah 30 dan harga mendekati level support historis, itu bisa jadi momen tepat untuk mulai beli bertahap.

    Contoh RSI sebagai indikator buy the dip.

    Nah terlihat dari gambar di atas, setiap RSI kurang lebih menyentuh angka 30 dan bertepatan dengan level support—harga cenderung memantul dari ‘dip’-nya.

    Jadi jika kamu sebelumnya hanya memanfaatkan level support dan resistance untuk membeli, kamu juga bisa tambahkan indikator RSI sebagai pendukung. Jika kamu menggunakan aplikasi Tokocrypto, cara untuk aktifkannya sangat mudah:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk menu ‘Pasar’
    2. Cari aset kripto — contoh: BTC/USDT
    3. Pilih ‘RSI’ pada bagian bawah chart harga
    4. Amati saat RSI turun ke bawah angka 30 yang menandakan kondisi oversold
    5. Tunggu konfirmasi pembalikan arah

    Baca juga: Apakah Itu Stochastic RSI?

    Buy the Dip Berdasarkan Data On-Chain

    Whale, sebutan untuk pemilik aset kripto dengan jumlah besar—seringkali membeli dalam jumlah besar saat pasar lesu. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat pergerakan transfer dari exchange ke dompet pribadi.

    Karena kripto bersifat transparan, kamu dapat melihat dengan jelas transaksi pengiriman Bitcoin dari exchange ke dompet pribadi (outflow). Jika banyak Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi, itu tanda bahwa investor mulai mengakumulasi karena mereka percaya dengan pergerakan harga ke depannya.

    Namun jika banyak transaksi yang menunjukkan banyak Bitcoin yang dikirimkan ke exchange (inflow), bisa jadi tekanan jual akan meningkat. 

    Berikut contoh indikator untuk mengetahui banyaknya Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi (outflow):

    Data Bitcoin outfolow. Sumber data: CryptoQuant.

    Terlihat beberapa spike outflow dari exchange ke dompet pribadi ketika harga mengalami penurunan saat sideways dan diikuti oleh kenaikan harga setelahnya.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Tips: Gunakan Fitur 0% Biaya Trading Ketika Buy the Dip

    Setelah kamu mengetahui strategi untuk buy the dip, agar makin untung kamu bisa gunakan fitur Beli/Jual yang ada di aplikasi Tokocrypto untuk pembelian yang cepat dengan 0% biaya trading.

    Cara untuk gunakan fiturnya gampang:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan login ke akun Tokocrypto kamu dan lakukan deposit dengan minimal Rp50.000.
    2. Kemudian pilih menu “0 Fee”.
    3. Pada halaman Beli/Jual, pilih Dari dengan “IDR” dan Ke dengan “Bitcoin”.
    4. Masukkan jumlah pembelian.
    5. Klik “Pratinjau Konversi”.

    Nah, gampang banget bukan? Jangan lupa buat gabung juga di Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapan Waktu Terbaik untuk Buy the Dip Saat Harga Bitcoin Turun?

    Meskipun terdengar sederhana, nyatanya strategi buy the dip tidak semudah yang dibayangkan. Salah membeli di saat pasar harga bearish misalnya, bisa terjebak dalam tren harga yang terus menurun.

    Artikel ini akan membahas kapan waktu terbaik untuk buy the dip saat harga Bitcoin turun, kenapa tidak semua penurunan layak dibeli, dan tentu saja, bagaimana cara menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar saat Bitcoin sedang ‘dip’.

    Kapan Waktu Terbaik untuk Buy the Dip?

    Membeli saat terjadi penurunan atau buy the dip tidak berarti kamu langsung membeli tanpa memperhatikan indikator lain seperti teknikal dan berita yang sedang menjadi narasi dominan.

    Waktu terbaik buy the dip adalah ketika harga turun dalam konteks koreksi — namun, masih bullish dalam time frame yang besar. Sebab, koreksi biasanya terjadi dalam tren naik, dan harga turun sementara sebelum kembali melanjutkan kenaikan.

    Jika harga sedang dalam tren (bearish), melakukan buy the dip justru bisa membuat posisi trading kamu terjebak dalam posisi rugi (floating loss: kerugian sementara yang belum terealisasi) karena karena dalam time frame jangka panjang harga terus mengalami penurunan.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip ≠ Asal Beli Waktu Koreksi

    Banyak pemula salah kaprah dalam memahami strategi Buy the Dip dan mengira bahwa selama harga turun — bahkan hanya 2–3% itu artinya saat yang tepat untuk membeli. Padahal, tidak semua penurunan adalah “dip” yang ideal.

    Sebelum membeli kamu perlu mengetahui kondisi pasar secara keseluruhan dan melakukan analisa baik secara teknikal atau fundamental. Tanpa analisa ini kamu bisa saja malah membeli di tengah penurunan yang lebih dalam atau bahkan di awal fase bear market.

    Cobalah mulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini sebelum melakukan pembelian:

    • Apakah penurunan ini wajar dan hanya sekadar koreksi sehat?
    • Apakah ini hasil dari panic sell jangka pendek atau dapat menjadi penurunan jangka panjang?
    • Apakah ada tanda-tanda bahwa pasar akan pulih, atau justru akan semakin tertekan?
    • Apa yang menyebabkan penurunan?
    • Apakah secara time frame besar harga mengalami kenaikan?
    • Apakah kamu punya rencana entry, exit, dan stop loss yang matang?
    • Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan fundamental, berita, dan teknikal.

    Indikator untuk Menentukan Waktu Buy the Dip 

    Saat harga Bitcoin turun, tidak semua penurunan layak dibeli. Berikut indikator sederhana yang bisa membantu kamu menentukan waktu terbaik:

    1. RSI (Relative Strength Index) di Bawah 30

    RSI mengukur kekuatan momentum harga. Jika RSI Bitcoin berada di bawah 30, ini menandakan kondisi oversold—sinyal untuk potensi rebound.

    2. Area Level Support

    Cek grafik pergerakan harga dan identifikasi zona support historis. Jika harga menyentuh titik ini dan mulai membentuk pola pantulan (reversal), itu bisa jadi momen strategis untuk buy the dip.

    3. Moving Average

    Indikator MA bisa kamu gunakan membantu kamu menentukan waktu buy the dip, contohnya ketika harga Bitcoin terkoreksi menyentuh garis MA200, sering dianggap undervalued dan pas untuk buy the dip.

    4. Fear and Greed Index

    Sentimen pasar mencerminkan suasana hati kolektif investor, apakah mereka sedang merasa optimistis (greedy) atau pesimistis (fearful). Momen fear yang didukung dengan analisa teknikal, bisa jadi momen buy the dip.

    Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Indikator Relative Strength Index (RSI) atau Dasar-Dasar Konsep Level Support dan Resistance

    3 Momen yang Pas untuk Buy the Dip

    1. Saat Terjadi Panic Selling

    Saat pasar panik dan harga aset jatuh drastis, banyak investor menjual karena ketakutan, bukan karena analisis. Tapi justru di momen seperti ini, banyak orang menjual dengan harga undervalued—jangan lupa gunakan indikator seperti RSI, EMA, atau Fibonacci untuk mengidentifikasi titik masuk yang ideal.

    2. Di Fase Konsolidasi Setelah Dump Besar

    Setelah penurunan ekstrem, harga biasanya masuk fase tenang (sideways). Ini waktu yang bagus untuk mulai membeli bertahap menggunakan strategi DCA (Dollar-Cost Averaging).

    3. Setelah Konfirmasi Reversal

    Alih-alih menebak dan mencoba membeli di harga bottom, tunggu sinyal konfirmasi—seperti candlestick bullish engulfing, breakout dari zona resistance kecil, atau kenaikan RSI. Ini lebih aman daripada menebak dip yang ternyata masih turun lagi.

    Tools dan Aplikasi yang Kamu Gunakan untuk Buy the Dip

    Tools Kegunaan
    Tokocrypto Fitur alert harga dan beli dengan 0% trading fee
    CoinMarketCap Data harga dan volume pasar
    Whale Alert Update terbaru dari pergerakan whale
    TradingView Analisa teknikal lengkap dan indikator kustom
    CoinGlass Pantau sentimen melalui Fear & Greed Index

    Baca juga: Cara Mudah Implementasi AI Trading dengan ChatGPT dan Incite AI untuk Pemula

    Tips Tambahan untuk Buy the Dip

    • Jangan pakai seluruh modal sekaligus, usahakan beli bertahap saat harga terus turun dengan metode DCA.
    • Pakai alert otomatis, seperti yang ada di aplikasi Tokocrypto agar kamu tidak melewatkan momen penting.
    • Gabungkan analisa teknikal dan sentimen dan jangan hanya mengandalkan satu pendekatan.
    • Tentukan level cut loss, jangan terbawa emosi dan berharap harga akan pulih selalu.
    • Gunakan fitur seperti Beli/Jual di Tokocrypto yang memungkinkan kamu transaksi kripto instan dengan 0% biaya trading.
    Klik gambar untuk mulai investasi dengan deposit mulai dari Rp50.000!

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Optimalkan Investasi Crypto dengan Strategi Buy the Dip


    Jakarta

    Pasar crypto telah mengalami tren kenaikan dan penurunan sepanjang 2025. Kombinasi kondisi makroekonomi yang buruk dan perang tarif Trump membuat pasar crypto terpuruk.

    Di sisi lain, berita-berita seperti penurunan suku bunga dan regulasi aset crypto juga menjadi pelontar kenaikan harga pasar. Salah satu strategi paling banyak digunakan oleh trader dan investor adalah strategi buy the dip.

    Kita akan mengupas apa itu strategi buy the dip dan memberikan 3 strategi yang bisa diterapkan oleh investor kripto!


    Apa itu Strategi Buy The Dip?

    Buy the dip adalah strategi investasi yang umum digunakan di pasar crypto dan saham. Strategi ini merujuk pada metode sederhana membeli ketika harga turun dengan ekspektasi bahwa harga akan pulih.

    Di pasar crypto, strategi ini sangat populer di kalangan investor pemula karena sederhana dan mudah dilakukan. Strategi yang baik adalah membeli koreksi harga dalam tren naik yang kuat dan meraih keuntungan sebelum tren tersebut berbalik.

    Contoh di bawah ini menunjukkan betapa menguntungkannya melakukan buy the dip pada aset SOL sepanjang 2024. Ini merupakan contoh yang baik tentang cara membeli dip di pasar bullish.

    3 Pola Grafik dan Strategi untuk Membeli Dip

    1. Rounding Bottom

    InvestasiInvestasi Foto: dok. Pintu

    Rounding bottom adalah pola grafik yang sering terbentuk saat tren bearish akan selesai. Pola in ditemukan di akhir tren penurunan yang panjang dan menandakan pembalikan harga.

    Secara visual, pola ini berbentuk ‘U’ Pola ini juga disebut dengan rounding bottom karena kesederhanaan pergerakan harga (higher low yang diikuti oleh higher high). Dalam pola rounding bottom, pemulihan aset terjadi secara lambat dan stabil.

    Harga sering berfluktuasi di dekat level terendah, secara perlahan membentuk higher low sambil mendekati resistance sebelumnya. Selain itu, perhatikan pola lain yang sering terjadi dalam rounding bottom, seperti double bottom.

    2. Membeli pada Fase Akumulasi Wyckoff

    Menurut teori Richard Wyckoff, fase akumulasi adalah fase yang terjadi setelah suatu aset mengalami tren turun yang berkepanjangan dan akhirnya harga stabil. Dalam fase akumulasi, harga menetap dalam suatu jarak harga (bergerak sideways).

    Namun, Wyckoff berpendapat bahwa trader “smart money” akan mengakumulasi aset selama fase ini. Pada fase Fase akumulasi Wyckoff, dapat terlihat pola seperti rounding bottom, triple bottom, V-reversal, double bottom, atau bahkan cup and handle.

    Aspek penting dari tahap akumulasi adalah volume yang stabil dan/atau mulai meningkat kembali. Trading dalam fase akumulasi Wyckoff menggunakan strategi buy the dip serupa dengan pola rounding bottom.

    Terbentuknya higher low pada grafik merupakan potensi sinyal beli, sementara stop loss harus ditetapkan pada support sebelumnya atau pada titik rendah lokal (untuk mengantisipasi potensi penurunan lebih lanjut).

    3. Melakukan Buy the Dip dalam Tren Kenaikan

    InvestasiInvestasi Foto: dok. Pintu

    Menerapkan strategi buy the dip dalam tren kenaikan yang kuat adalah skenario ideal. Dalam tren ini, penurunan harga biasanya bersifat sementara dan harga pada akhirnya akan kembali melanjutkan tren.

    Seperti terlihat di atas, membeli koreksi besar di bawah $2 pada SUI akan memberikan profit lebih dari 150% (jika dijual sekitar $5). Kamu dapat menggunakan berbagai indikator untuk mengidentifikasi tren kenaikan yang kuat seperti EMA (Exponential Moving Average) atau Fibonacci Retracement.

    Kita bisa mengatakan SUI masih dalam kenaikan kuat karena harga memantul pada level EMA 50-hari dan langsung membentuk higher low dan higher high.

    Cara Membeli Aset Crypto di Pintu

    Kamu bisa membeli aset crypto di Pintu dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

    1. Masuk ke homepage aplikasi Pintu.
    2. Masuk ke laman Market, cari aset crypto seperti BTC, ETH, SOL, atau XRP.
    3. Di halaman token, kamu bisa melihat grafik pergerakan harga aset dalam jangka waktu 24 jam, 1 minggu, 1 bulan, hingga 1 tahun.
    4. Setelah berada di halaman token, klik Buy atau Beli dan masukkan nominal.
    5. Klik Lanjutkan.
    6. Anda sudah berhasil membeli aset crypto!

    Keamanan kamu sebagai pengguna Pintu terjamin, karena Pintu diawasi oleh OJK dan CFX. Selain trading, Pintu juga memungkinkan kamu untuk belajar lebih banyak tentang kripto melalui berbagai artikel di Pintu Academy, diperbarui setiap minggu!

    (prf/ega)



    Sumber : finance.detik.com