Tag: cempaka putih

  • Patrice Evra Datang ke Jakarta, Promosi Sepakbola Jalanan 3X3


    Jakarta

    Spirit sepakbola jalanan 3X3 sedang berlangsung di Cilandak Square, Jakarta. Untuk menambah semarak, legenda Manchester United Patrice Evra turut hadir.

    Chief Strategic & Operations Offside Corp Kunto Wiyoga menjelaskan bahwa pihaknya menggelar LigaKita Festival untuk mempromosikan sepakbola menyenangkan. Menurutnya, iklim sepakbola Indonesia cukup cocok dengan sepakbola jalanan.

    Minimnya jumlah lapangan dan pemain, tidak menjadi isu buat sepakbola jalanan. Cukup tiga pemain dalam satu tim, pertandingan sepakbola sudah bisa dijalankan.


    “Inisiasi kami adalah menciptakan turnamen soccer cage, mau mengangkat kultur sepakbola jalanan yang berbasis kandang. Jadi bisa dimainkan kapan saja dan di mana saja,” kata Kunto di Cilandak Square, Sabtu (8/11/2025).

    “Jadi ini eksibisi yang pertama 3×3. Intinya ada 1×1 juga, sekarang komunitas. Besok sore akan ada 6 content creator, termasuk juga Patrice Evra yang mau main lawan content creator di Indonesia,” ujarnya menambahkan.

    Sepakbola 3x3Foto: Muhammad Robbani/detikSport

    Dijelaskan Kunto, saat ini Evra sudah ada di Indonesia, dan bahkan sudah jalan-jalan di Jakarta sejak kemarin, Jumat (7/11). Kemudian acara akan dilanjutkan besok, Minggu (9/11), pagi, yang merupakan acara puncak dari berupa Simpati Clash of Stars.

    Acara puncak ini akan diikuti para peserta dari lima kota sebelumnya yang terpilih. Sebanyak lima orang anak berkesempatan berlatih bersama sama Evra di Stadion Asiop, Arcici, Cempaka Putih.

    “Rencananya kami membuat acara ini tiap tahun, ini kali pertama buat Offside Corp dan rangkaian event ini boleh dibilang trial. Insyaallah tahun depan akan mendatangkan pemain internasional lagi, mungkin sekitar 2-3 pemain dengan rangkaian acara yang sama; coaching clinic, clash of stars, nanti menarik anak-anak lagi ke Jakarta,” tutur Kunto.

    “Kemudian akan ada seperti ini lagi turnamen jalanan. Tapi kami akan sebar ke lebih kurang 8-11 kota tahun depan. Ini adalah inisiasi kami untuk membentuk sebuah intelectual property yang berbasis entertainment. Jadi kalau bicara tujuan kami punya tujuan secara komersial, pasti, secara jangka panjang mau naikkan sepakbola Indonesia dari grassroot, 3×3 yang spriritnya karena makin sedikit lapangan bola di Indonesia,” ucapnya.

    “Tidak perlu 11 pemain, tidak perlu 5 pemain, main sendirian lalu tarik dua teman. Jadi main di mana saja dan kapan saja bisa. Kami punya program coaching clinic yang tujuan jangka panjang kami mau punya silabus, meski belum tahu apakah bisa terkoneksi dengan federasi (PSSI),” katanya lagi.

    “Tapi setidaknya kemarin salah satu pelatih kolaborasi di Jogja ada Coach Indra Sjafri, beliau kasih banyak masukkan; program jangka pendek, menengah, panjang. Karena target usia 8-12, sepakbola menyenangkan sehingga diharapkan bisa menciptakan materi yang enak buat mereka,” tutupnya.

    (mro/aff)



    Sumber : sport.detik.com

  • 65 Juta Warga +62 Dibayangi Hipertensi, Pemicu Gagal Ginjal Usia Muda


    Jakarta

    Indonesia diestimasi mencatat 65 juta kasus hipertensi berdasarkan hasil survei kesehatan indonesia (SKI) 2023. Dari total tersebut, baru teridentifikasi 18,5 juta pasien, lantaran tidak banyak masyarakat yang aware melakukan pengecekan rutin tekanan darah.

    Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) dr Siti Nadia Tarmizi berharap gap tersebut bisa ditemukan melalui cek kesehatan gratis (CKG).

    “Ternyata dari CKG kalau lihat angka prevalensinya sama dengan SKI, jadi memang mungkin betul 65 juta masyarakat kita mengidap hipertensi, meskipun kita baru bisa menemukan 18,5 juta,” beber dr Nadia dalam talkshow di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).


    “Harapannya tahun depan sudah ada skrining di lebih dari 100 juta, kalau di akhir tahun mungkin 60-65 juta bisa kita skrining,” lanjutnya.

    Meski temuan kasus hipertensi pada CKG relatif tinggi, tindak lanjut tata laksana dan pengobatan terpantau masih rendah. dr Nadia menggambarkan sedikitnya tiga sampel di sejumlah kota besar.

    DKI Jakarta misalnya, di Puskesmas Kembangan tercatat ada 337 pasien yang terdiagnosis hipertensi. Namun, hanya 48 pasien yang menjalani tatalaksana pengobatan, dengan 22 kasus yang terkendali.

    “Tren di tiga kota besar, DKI Jakarta, Surabaya, Semarang, kurang lebih sama, gap-nya antara yang terdiagnosis dengan melakukan pengobatan tinggi, di Surabaya cuma satu yang agak lebih baik yaitu puskesmas Sidosermo,” lanjutnya.

    Puskesmas Sidosermo mencatat 693 kasus hipertensi dan seluruhnya dilaporkan sudah mendapatkan pengobatan, dengan 651 pasien sudah terkendali kondisinya.

    Masih Banyak Hoax di Masyarakat

    Tantangan yang dihadapi pemerintah juga dilatarbelakangi maraknya hoax yang diyakini masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang ogah berobat karena khawatir berdampak pada masalah kesehatan ginjalnya.

    “Padahal hipertensi-nya sendiri yang merusak ginjal mereka,” tandas dr Nadia.

    “Jadi ini pekerjaan rumah bagi kita, karena faktanya 40 hingga 60 persen pasien yang terdiagnosis hipertensi tidak pernah kembali untuk pengobatan,” pungkasnya.

    Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stroke hingga masalah gagal ginjal. Deputi Direksi Bidang Kebijakan Penjaminan Manfaat BPJS Kesehatan Dr dr Ari Dwi Aryani MKM menyebut total pembiayaan akibat diabetes melitus dan hipertensi mencapai Rp 35,3 triliun pada 2024.

    “Diabetes melitus dan hipertensi itu kan ibunya penyakit dia bisa kemana-mana, sehingga meningkat ke pembiayaan penyakit akibat jantung, gagal ginjal, stroke,” bebernya saat ditemui detikcom pasca talkshow.

    “Pasien yang dirawat karena jantung, karena cuci darah, naik,” tandasnya.

    Tren pasien disebutnya juga terus bergeser ke usia muda, dari semula di atas 50 tahun menjadi di rentang 30 hingga 40 tahun. Meski begitu, catatan peningkatan kasus tidak selalu menggambarkan penambahan jumlah pasien yang sakit, tetapi ia menilai ada beberapa pasien yang memang baru bisa mendapatkan akses pengobatan tercover BPJS Kesehatan.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com