Tag: cftc

  • Pendiri Cardano Optimis! Selig Pimpin CFTC, Apakah Kripto Siap Naik?

    Berita terbaru dari dunia kripto menarik perhatian banyak investor setelah Charles Hoskinson, pendiri Cardano (ADA), memberikan reaksi positif terhadap penunjukan Michael Selig sebagai ketua ke-16 Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC).

    Selig, yang sebelumnya menjadi penasihat hukum utama gugus tugas kripto CFTC, resmi memimpin lembaga yang berperan besar dalam regulasi aset digital di Amerika Serikat. Dalam cuitannya di X, Selig menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi pasar komoditas yang efisien, mendorong inovasi, kebebasan, serta persaingan, bahkan menargetkan menjadikan AS sebagai “ibu kota kripto dunia.”

    Hoskinson pun langsung menyambut kabar ini dengan optimisme. “Ketua Selig akan melakukan pekerjaan yang hebat di CFTC. Saya sangat yakin dengan kemampuan dan kepemimpinannya,” tulis Hoskinson, yang langsung memicu spekulasi tentang potensi arah bullish bagi pasar kripto.

    Harapan Baru Regulasi Ramah Kripto

    Baca juga: Pola Ini Bisa Lambungkan Harga Cardano (ADA) Hingga $6

    Menurut laporan U Today, penunjukan Selig datang di tengah gelombang regulasi baru yang memberikan kejelasan bagi industri aset digital. Undang-Undang GENIUS dan Undang-Undang CLARITY, yang diterbitkan tahun ini, membuka jalan bagi kerangka regulasi yang lebih jelas, disambut baik oleh para investor.

    Di sisi lain, SEC di bawah kepemimpinan Paul Atkins telah menunjukkan pendekatan lebih inklusif, beralih dari penegakan hukum ketat ke keterlibatan dan pelonggaran regulasi. Beberapa peraturan yang sebelumnya membatasi aktivitas pasar kini telah dibongkar, termasuk beberapa tuntutan hukum besar terhadap Ripple, Binance, dan Coinbase yang ditolak lembaga tersebut.

    Dengan kombinasi kepemimpinan pro-kripto di CFTC dan regulasi yang lebih ramah, banyak pihak mulai bertanya: akankah ini menjadi titik balik bagi pasar kripto AS dan memicu reli baru? Investor jelas menaruh perhatian besar terhadap langkah-langkah Michael Selig berikutnya.

    Baca juga: Prediksi Harga Cardano (ADA) Tahun 2025, 2026, 2030


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CFTC Bentuk Komite Penasihat Inovasi, Digawangi 35 Tokoh Kripto

    Regulator pasar derivatif Amerika Serikat, Commodity Futures Trading Commission (CFTC), secara resmi mengumumkan pembentukan Komite Penasihat Inovasi (Innovation Advisory Committee) yang terdiri dari 35 anggota.

    Menurut laporan Cointelegraph, komite ini mencakup sejumlah tokoh terkemuka dari industri kripto dan teknologi finansial, termasuk pimpinan perusahaan besar seperti Coinbase, Ripple, Kraken, Polymarket, Robinhood, serta Chainlink Labs.

    Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa regulator AS mulai mengadopsi pendekatan yang lebih kolaboratif terhadap industri aset digital dan inovasi keuangan.

    Baca Juga: Pendiri Cardano Optimis! Selig Pimpin CFTC, Apakah Kripto Siap Naik?

    Komite Penasihat untuk Era Inovasi Digital

    Komite Penasihat Inovasi CFTC dirancang untuk memberikan masukan strategis terkait perkembangan teknologi baru di sektor keuangan.

    Beberapa masukan tersebut antara lain aset kripto dan derivatif digital, tokenisasi aset dunia nyata (RWA), stablecoin dan infrastruktur pembayaran digital, serta integrasi blockchain dalam pasar keuangan tradisional.

    Dengan melibatkan pelaku industri secara langsung, CFTC berupaya membangun dialog yang lebih konstruktif antara regulator dan inovator teknologi.

    Kehadiran para CEO dan eksekutif perusahaan kripto papan atas menunjukkan bahwa suara industri kini memiliki ruang formal dalam proses konsultasi kebijakan.

    Sinyal Pergeseran Regulasi di AS

    Dalam beberapa tahun terakhir, industri kripto di Amerika Serikat menghadapi ketidakpastian regulasi dan berbagai tindakan penegakan hukum dari sejumlah lembaga.

    Namun pembentukan komite ini mengindikasikan perubahan pendekatan.

    Tim Research Tokocrypto menilai inisiatif ini sebagai langkah strategis menuju regulasi yang lebih seimbang.

    “Keikutsertaan tokoh-tokoh kunci industri dalam komite penasihat pemerintah ini menandakan pergeseran besar menuju lingkungan regulasi yang lebih kolaboratif di AS. Langkah ini menunjukkan kesediaan regulator untuk berdialog guna mendorong inovasi yang bertanggung jawab sambil tetap menangani kekhawatiran regulasi,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Pendekatan kolaboratif ini dapat mengurangi gesekan antara regulator dan perusahaan kripto, sekaligus mempercepat lahirnya kebijakan yang lebih jelas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

    Dampak bagi Industri Kripto

    Pembentukan komite ini berpotensi membawa sejumlah dampak signifikan:

    1. Kepastian Regulasi Lebih Baik

    Keterlibatan pelaku industri dalam diskusi kebijakan memungkinkan regulator memahami model bisnis dan risiko teknologi secara lebih mendalam.

    2. Inovasi Lebih Terarah

    Dengan dialog yang terbuka, inovasi dapat berkembang dalam kerangka hukum yang lebih jelas, mengurangi risiko tindakan penegakan hukum mendadak.

    3. Peningkatan Kepercayaan Investor

    Kolaborasi regulator dan industri dapat meningkatkan kepercayaan institusional terhadap pasar kripto AS.

    4. Standar Global Baru

    Sebagai salah satu ekonomi terbesar dunia, kebijakan AS sering menjadi referensi global. Jika model kolaboratif ini sukses, negara lain berpotensi mengadopsi pendekatan serupa.

    Siapa Saja yang Terlibat?

    Komite ini diisi oleh kombinasi regulator, akademisi, dan pelaku industri.

    Kehadiran pimpinan dari bursa kripto besar, perusahaan blockchain, hingga platform prediksi menunjukkan bahwa spektrum diskusi akan mencakup berbagai aspek ekosistem Web3.

    Partisipasi eksekutif dari perusahaan seperti Coinbase dan Kraken mencerminkan peran sentral bursa dalam ekosistem derivatif kripto.

    Sementara keterlibatan Ripple dan Chainlink Labs menandakan fokus pada infrastruktur blockchain dan interoperabilitas data.

    Di sisi lain, kehadiran Robinhood dan Polymarket menunjukkan perhatian terhadap model bisnis ritel dan pasar prediksi yang semakin berkembang.

    Tantangan yang Masih Mengemuka

    Meski menjadi langkah positif, pembentukan komite tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan regulasi kripto di AS.

    Beberapa isu krusial tetap menjadi perdebatan, seperti klasifikasi token sebagai sekuritas atau komoditas, regulasi stablecoin, pengawasan platform DeFi, hingga perlindungan konsumen dan manajemen risiko.

    Keberhasilan komite ini akan sangat bergantung pada efektivitas dialog dan sejauh mana rekomendasinya diimplementasikan dalam kebijakan nyata.

    Baca Juga: Tether Didenda 41 US Dollar Oleh CFTC

    Pembentukan Komite Penasihat Inovasi oleh CFTC menjadi tonggak penting dalam evolusi regulasi kripto di Amerika Serikat.

    Dengan melibatkan 35 tokoh industri papan atas, regulator menunjukkan komitmen untuk membangun ekosistem yang lebih transparan, kolaboratif, dan inovatif.

    Bagi industri kripto, ini adalah peluang untuk berkontribusi langsung dalam pembentukan kebijakan yang akan menentukan masa depan pasar aset digital di AS.

    Jika sinergi ini berjalan efektif, bukan tidak mungkin Amerika Serikat kembali menjadi pusat inovasi kripto global dengan kerangka regulasi yang lebih jelas dan kompetitif.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cetak Rekor Baru di Tengah Pemilu AS, Harga Bitcoin Tembus $75.000


    Jakarta

    Bitcoin (BTC) kembali mencetak All Time High (ATH) di level $75.000 pada Rabu (6/11) di tengah proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika Serikat (AS). Analisis memperkirakan tren kenaikan ini masih berpotensi berlanjut meskipun volatilitas tinggi di pasar kripto tetap perlu diwaspadai.

    Sebelumnya BTC bertengger di level $71.300 pada pagi hari pukul 08:00 WIB, dan mengalami kenaikan sebesar 4,80% dalam 24 jam terakhir. Selain BTC, Ethereum (ETH) juga mengalami peningkatan sebesar 3,00%, mencapai $2.500. Total kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan naik 4,50% dan mencapai angka $2,322 triliun.

    Kenaikan harga aset kripto saat ini dipengaruhi oleh pemilu AS yang sedang berlangsung dan tengah dalam proses penghitungan suara popular vote, yang akan menentukan electoral college.


    Pada pukul 15.30 WIB, Donald Trump sementara unggul atas Kamala Harris dalam popular vote dan electoral college. Menurut Apnews, Trump telah memperoleh 267 dari 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk menang, dan unggul di negara bagian penting seperti Michigan dan Wisconsin yang hasilnya belum diumumkan.

    “Dari sisi teknikal, BTC baru saja mencetak harga tertinggi baru di angka $75.000, kami masih melihat potensi lanjut reli untuk mencetak rekor baru hingga $77.875,” ujar Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha dalam keterangan tertulis, Rabu (6/11/2024).

    Dukungan Trump terhadap BTC serta minat politisi pada aset digital memberikan sinyal positif bagi pasar kripto. Namun, regulasi yang diusung oleh Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) diprediksi akan menentukan arah perkembangan kripto di masa depan, dengan SEC di bawah Gary Gensler kerap dinilai menerapkan aturan ketat terhadap industri ini.

    Panji juga mengingatkan para investor untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga BTC yang sedang tinggi saat ini. “Namun, perlu diperhatikan volatilitas BTC saat ini sedang tinggi, tetap antisipasi jika terjadi pembalikan arah yang diakibatkan oleh aksi profit taking dan sell on news,” tutup Panji.

    Berdasarkan data historis, harga BTC sering mengalami kenaikan menjelang dan sesudah pemilu AS. Seperti yang terjadi pada pemilu 2020 harga BTC naik sebesar 28,24% sebelum pemilihan dan melonjak hingga 42,06%. Dan pada pemilu 2016 kenaikan tercatat sebesar 14,99% sebelum dan 8,43% setelah pemilu.

    Sebagai platform investasi yang terus berinovasi, Ajaib Kripto berharap dapat memberikan edukasi dan akses yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia terhadap aset digital, terutama dalam menghadapi dinamika pasar kripto yang terus berkembang.

    Dengan peningkatan minat masyarakat pada kripto dan layanan investasi yang semakin mudah diakses, Ajaib Group berkomitmen untuk menjadi mitra terpercaya dalam perjalanan finansial para investor. Untuk informasi lebih lanjut, segera kunjungi website Ajaib Kripto.

    (akn/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Terjun Bebas Usai Shutdown AS Berakhir, Kok Bisa?


    Jakarta

    Pasar aset kripto kembali bergerak melemah setelah harga Bitcoin (BTC) turun ke bawah level support di kisaran US$ 96.000. Hal ini terjadi saat shutdown atau penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) berakhir.

    Presiden AS Donald Trump telah menandatangani rancangan anggaran yang mengakhiri shutdown selama 43 hari pada Rabu malam (13/11) waktu setempat. Penandatanganan ini mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS dan memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026.

    Dengan beroperasinya pemerintah secara penuh, lembaga-lembaga yang memegang peran penting dalam ekosistem kripto, termasuk Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dapat melanjutkan agenda regulasinya.


    Kondisi pasca shutdown kali ini berbeda. Meski pemerintah AS telah kembali beroperasi, reaksi pasar kripto relatif datar, bahkan Bitcoin masih berada di bawah tekanan.

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa fluktuasi harga saat ini harus dilihat sebagai konsolidasi pasar menuju fase pematangan. Selebihnya, ketidakpastian kebijakan suku bunga masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga Bitcoin.

    “Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selain itu, selama arah kebijakan masih belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (14/11/2025).

    Ia menambahkan bahwa sinyal pemangkasan suku bunga di bulan Desember nantinya bisa menjadi titik balik penting, sebab perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.

    Selain itu, di tengah tekanan jangka pendek ini, Antony menegaskan bahwa pergerakan harga yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital di era ketidakpastian global.

    “Penurunan harga Bitcoin di bawah US$ 100.000 dipengaruhi oleh beberapa faktor makro yang bersifat eksternal. Dengan berakhirnya shutdown dan operasional regulator kembali berjalan, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” jelas Antony.

    Ia menjelaskan bahwa volatilitas saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Antony menyebut seluruh investor bisa tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko.

    “Koreksi semacam ini adalah bagian dari mekanisme pasar, dan setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” tambahnya.

    Ia menjelaskan, Shutdown yang berkepanjangan menyebabkan gangguan pada proses pengumpulan data ekonomi penting, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan laporan pekerjaan (nonfarm payrolls) untuk bulan Oktober 2025 yang seharusnya dirilis pada bulan November 2025.

    Terkait sentimen inflasi, data terakhir menunjukkan adanya tekanan harga yang masih membayangi. Tingkat inflasi tahunan di AS naik menjadi 3% pada September 2025, tertinggi sejak Januari, dari 2,9% pada Agustus, meskipun angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,1%.

    Data CPI terakhir ini masih menjadi acuan utama bagi The Fed karena perilisan data terbaru yang tertunda akibat shutdown. Adapun dengan kembalinya regulator utama seperti SEC dan CFTC bekerja penuh, perhatian pasar mulai bergeser dari urusan politik ke arah kejelasan regulasi kripto yang lebih terarah,

    Misalnya, proses persetujuan ETF Kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin. Kondisi ini bisa menjadi pondasi penting bagi perkembangan industri kripto dalam jangka panjang, meskipun tekanan inflasi masih perlu dicermati.

    (ily/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Inflasi AS Jinak Bikin Bitcoin Ngacir Dekati Harga Rp 1,69 Miliar


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) bergerak menguat pada perdagangan sepekan terakhir. Pada Kamis (14/1) kemarin, harga BTC diketahui sempat menembus US$ 96.232 atau sekitar Rp 1,62 miliar (asumsi kurs Rp 16.909). Pergerakan harga BTC ini kuat ditopang sentimen data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dianggap moderat.

    Kemudian berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap hari ini, Minggu (18/1), harga BTC tetap menguat sepekan terakhir meski secara harga terkoreksi sebesar 4,88% ke level US$ 95.020 atau sekitar Rp 1,60 miliar pukul 14.57 WIB. Selain BTC, token Ethereum (ETH) juga ikut menguat 6,92 ke level US$ 3.305 atau sekitar Rp 55,88 juta.

    Pergerakan harga ini disebut terjadi menyusul pengumuman posisi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember, yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali. Capaian ini memperkuat ekspektasi pasar, yang memprediksi langkah The Fed menahan suku bunga dalam waktu dekat.


    Adapun CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara untuk inflasi inti AS hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Kondisi ini diyakini berdampak positif bagi aset berisiko seperti kripto.

    Sementara dari sisi industri, regulasi aset kripto di AS juga turut mendorong pergerakan harga menyusul draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Digital Asset Market CLARITY Act. Aturan ini memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.

    “Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi adalah faktor krusial bagi masuknya modal institusional, dan ini yang saat ini mulai diantisipasi oleh pasar,” ungkap Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (18/1/2026).

    Peluang Harga Bitcoin Ngacir ke US$ 100.000

    Secara teknikal, terang Fyqieh, BTC telah keluar dari fase konsolidasi sejak akhir 2025. Menurutnya, harga BTC masih berpeluang menguat ke level US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar sepanjang dapat bertahan di atas level support pada US$ 94.000.

    Pasalnya, arus dana institusional masih berpeluang menjadi salah satu sentimen positif pergerakan harga BTC ke depan. Saat ini, arus dana institusi di ETF Bitcoin spot AS tercatat lebih dari US$ 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025.

    “Penembusan area US$ 94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$ 100.000 tetap terbuka,” jelas Fyqieh.

    Jika BTC mampu menembus dan bertahan stabil di atas US$ 100.000, Fyqieh menilai level psikologis tersebut berpotensi berubah menjadi pijakan baru. Dalam skenario ini, peluang terjadinya percepatan price discovery atau penemuan harga menuju area yang lebih tinggi terbuka lebih lebar.

    Namun jika harga BTC cenderung melemah di bawah US$ 100.000, ia menyebut pelaku pasar masuk menyesuaikan diri terhadap peningkatan likuiditas dan aksi ambil untung. Karenanya, ia mengingatkan agar investor bisa lebih peka terhadap volatilitas pasar.

    “Karena itu, dalam jangka pendek investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi, pergerakan yang sensitif terhadap berita, serta tarik-menarik harga di sekitar US$ 100.000 sampai permintaan benar-benar melampaui tekanan jual atau pasar membutuhkan waktu untuk membangun momentum,” pungkasnya.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com