Tag: china

  • China Bongkar Skandal Kripto: AS Diduga Curi 127.000 Bitcoin

    Dunia kripto kembali geger! Pemerintah China baru saja menuduh Amerika Serikat melakukan “peretasan tingkat negara” untuk mencuri 127.000 Bitcoin, senilai lebih dari 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp200 triliun.

    Tuduhan ini muncul setelah Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional China (CVERC) merilis laporan mengejutkan: ribuan koin digital milik LuBian Mining Pool, sebuah kolam penambangan Bitcoin asal China-Iran, ternyata berakhir di tangan pemerintah AS.

    4 Tahun Menghilang, Tiba-Tiba Dimiliki Pemerintah AS

    Dilaporkan Cryptopolitan, kasus ini bermula pada Desember 2020, ketika LuBian kehilangan 127.272 Bitcoin akibat serangan masif yang memanfaatkan kelemahan dalam sistem pembuat kunci privat.

    Alih-alih algoritma aman 256-bit, LuBian disebut hanya menggunakan generator 32-bit berbasis Mersenne Twister MT19937-32—celah yang memungkinkan peretas menebak kunci privat hanya dalam miliaran percobaan, bukan triliunan.

    Akibatnya, lebih dari 5.000 alamat dompet berhasil diretas dalam waktu kurang dari dua jam.
    Dana senilai sekitar 3,5 miliar dolar AS pada saat itu lenyap, dan LuBian pun ambruk.

    Namun yang membuat heran, Bitcoin curian itu diam selama empat tahun penuh, tak pernah dijual, dipindahkan, atau dicampur lewat mixer. Hingga pada pertengahan 2024, semua koin itu tiba-tiba berpindah ke alamat baru, yang menurut perusahaan analitik on-chain Arkham, dikendalikan oleh pemerintah AS.

    Baca juga: Amerika Borong Bitcoin, China Tumpuk Emas: Perang Aset Dunia Dimulai?!

    China: “Ini Bukan Penegakan Hukum, Ini Perampokan!”

    Menurut CVERC, langkah ini bukan kebetulan. Mereka menuduh bahwa Departemen Kehakiman AS (DOJ) melakukan operasi diam-diam untuk menguasai Bitcoin curian itu, lalu menggugat pemilik aslinya, Chen Zhi, kepala Prince Group asal Kamboja, pada Oktober 2025.

    “Rantai peristiwa ini menunjukkan sebuah operasi siber tingkat negara yang disamarkan sebagai penegakan hukum,” tulis CVERC dalam laporannya.

    CVERC juga menyebut, perilaku penyimpanan dana itu tidak sesuai dengan perilaku peretas biasa. Biasanya, peretas akan segera menjual atau mencampur koin hasil curian untuk menghapus jejak. Tapi dalam kasus ini, dana malah diam bertahun-tahun, lalu muncul di bawah kendali resmi AS.

    Pemilik Asli Sempat Minta Tebusan Lewat Blockchain

    Chen Zhi tak tinggal diam. Dalam 2021 hingga 2022, ia mencoba berkomunikasi dengan “peretas” lewat pesan yang disematkan di jaringan Bitcoin menggunakan fungsi OP_RETURN.
    Salah satu pesannya berbunyi:

    “Tolong kembalikan dana kami, kami akan memberikan imbalan.”

    Pesan lainnya bahkan berisi alamat email khusus:
    “Hubungi kami di [email protected] untuk membahas pengembalian dana dan imbalan Anda.”

    Sayangnya, tak satu pun mendapat jawaban. Kini, setelah AS menyita seluruh aset itu dan menuduh Chen melakukan aktivitas ilegal, China menuding Washington telah “menipu” dunia kripto.

    Pelajaran Pahit untuk Dunia Kripto

    Terlepas dari perang tudingan antara dua kekuatan dunia, laporan CVERC menutup dengan peringatan keras bagi komunitas kripto global:

    “Jangan ulangi kesalahan LuBian. Gunakan generator acak yang benar, aktifkan multisig, simpan aset di cold wallet, dan pantau aktivitas on-chain secara real-time.”

    Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa di dunia kripto, bahkan miliaran dolar bisa menghilang dalam sekejap, dan siapa pun bisa jadi “peretas,” bahkan negara superpower.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Amerika Borong Bitcoin, China Tumpuk Emas: Perang Aset Dunia Dimulai?!

    Dunia tengah memasuki fase baru yang ditandai oleh pergeseran kekuatan ekonomi antara Amerika Serikat dan China. Jika dulu kekayaan negara diukur dari besarnya cadangan emas, kini aset digital seperti Bitcoin mulai menantang dominasi tersebut. 

    Ketika China memperkuat posisi Yuan dengan menimbun emas dan menolak kripto, Amerika justru mendorong adopsi Bitcoin secara agresif!

    Bitcoin dan Amerika Serikat

    Sejak terpilihnya Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat, Pemerintah AS gencar memberlakukan aturan baru yang pro terhadap Bitcoin dan aset kripto.

    Pada Maret 2025, perintah Amerika Serikat secara resmi memberlakukan Bitcoin Strategic Reserve, yang mewajibkan BTC yang disita disimpan sebagai aset nasional tanpa penjualan, kecuali atas kewajiban hukum. Kerangka ini memungkinkan AS eksposur terhadap pasokan Bitcoin untuk jangka panjang. 

    Baca juga: Trader Veteran Peter Brandt Memprediksi Target Harga Bitcoin Baru

    Total Cadangan Bitcoin Amerika Serikat Terbaru

    Pemerintah AS saat ini menjadi pemegang Bitcoin sovereign terbesar di dunia, dengan sekitar 325.000 BTC bernilai sekitar $33 miliar per November 2025. 

    Keterlibatan pemerintah AS dengan Bitcoin secara garis besar dimulai melalui tindakan penegakan hukum daripada investasi proaktif.

    Contohnya seperti penutupan Silk Road oleh FBI pada 2013 menyita 69,370 BTC, 94,643 BTC dari pemulihan peretasan Bitfinex 2016, dan masih banyak lagi.

    Data negara-negara dengan Bitcoin terbanyak. Sumber: Bitcointreasuries

    Hingga kini, Amerika masih menjadi negara dengan pemegang Bitcoin terbesar di dunia dengan total kepemilikan sebesar 1.555% dari total supply Bitcoin.

    Perusahaan yang mengakumulasi Bitcoin. Sumber: Bitcointreasuries

    Tak berhenti disitu, banyak juga perusahaan publik asal Amerika Serikat yang berbondong-bondong memborong Bitcoin, seperti MicroStrategy, MARA Holdings, Riot Platform, hingga Trump Media & Technology milik Presiden Amerika, Donald Trump.

    Emas dan China

    Tren harga emas terus naik selama dua tahun terakhir, mencapai rekor baru di atas $3,940 per ons pada Oktober 2025.

    Menurut analis Fortune, pembelian emas secara besar-besaran oleh China digadang-gadang jadi salah satu penyebab kenaikan emas, selain tingginya tingkat inflasi dan ketegangan China dengan Amerika.

    China disebut sedang melakukan diversifikasi dari aset USD, karena terinspirasi oleh sanksi terhadap Rusia, dan mendukung upaya de-dolarisasi seperti konvertibilitas yuan-emas.

    Baca juga: Apa Itu PAX Gold (PAXG)?

    Total Cadangan Emas China Terbaru

    Cadangan emas resmi China mencapai 2.304 ton pada kuartal III 2025, menyumbang 7,7% dari cadangan devisanya dan menandai pembelian bulanan ke-11 berturut-turut pada September (menambahkan 1,2 ton). People’s Bank of China (PBoC) menambahkan 5 ton pada kuartal III, bagian dari tren sejak 2023 di tengah reli harga emas hingga $3.508 per ons. 

    Cadangan emas negara-negera. Sumber: tradingeconomics

    Para analis memperkirakan kepemilikan aktual bisa lebih tinggi, mungkin menargetkan 5.000 ton untuk menyamai skala ekonomi China (64% dari PDB AS) dan peringkat kedua secara global di belakang 8.133 ton AS. 

    ‘Perang Aset’ Antara Amerika dan China

    Langkah-langkah yang dilakukan oleh Amerika dan China mencerminkan posisi strategis dalam tatanan global yang bergeser, dengan AS merangkul aset digital untuk inovasi dan China merapat ke emas untuk stabilitas. 

    Para ahli mencatat peran emas dalam mempengaruhi dominasi dolar melalui inisiatif BRICS, sementara Bitcoin bisa melawannya jika AS mengintegrasikannya lebih lanjut. 

    Korelasi antara Bitcoin (hitam) dan Emas (orange). Sumber: Newhedge

    Di tengah kedua negara besar yang tengah mengakumulasi kedua aset tersebut, korelasi antara Bitcoin dan emas meningkat, menunjukkan bahwa Bitcoin semakin bergeser berfungsinya sebagai safe haven di tengah defisit dan konflik.

    Tertarik untuk investasi di Bitcoin dan Emas? Kamu bisa langsung beli di Tokocrypto dengan biaya perdagangan 0% lho! Download sekarang!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Referensi:

    Relative Return Insider: Gold and crypto take different paths amid US–China tension. Diakses 5 November 2025

    Gold plunges below $4,000 as U.S.-China truce erodes haven demand. Diakses 5 November 2025

    Top Government Bitcoin Holders: US Stash Could Increase Following Historic $15B Criminal Seizure. Diakses 5 November 2025



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Top 5 Chinese Meme Tokens yang Bikin Investor Terpesona

    Industri cryptocurrency terus berkembang, dan salah satu segmen yang paling seru adalah Chinese Meme Tokens. Hari ini, pasar memperlihatkan pergerakan menarik dari beberapa token yang sedang naik daun, dengan dominasi pemain-pemain besar yang berhasil mencuri perhatian investor.

    Berikut adalah daftar Top Chinese Meme Tokens berdasarkan kapitalisasi pasar hari ini menurut data CoinMarketCap:

    1. 币安人生 (BianRenSheng) — Raja Meme China

    • Harga: $0,2757
    • Pergerakan 24 jam: +75,11%
    • Kapitalisasi pasar: $275,789,804
    • Volume 24 jam: $133,733,461

    Token ini menunjukkan pertumbuhan super cepat dalam 24 jam terakhir, dengan lonjakan lebih dari 75%. Dengan supply yang beredar sebanyak 509 juta dari total 1 miliar token, BianRenSheng menjadi magnet investor yang mencari peluang cepat di dunia meme crypto.

    2. DORA — Si Pemain Stabil

    • Harga: $0,04431
    • Pergerakan 7 hari: +64,99%
    • Kapitalisasi pasar: $43,880,143
    • Volume 24 jam: $444,121

    DORA menunjukkan tren konsisten dan stabil, meski pergerakan harian relatif kecil. Dengan pertumbuhan mingguan hampir 65%, token ini menarik perhatian investor yang mengincar potensi jangka menengah.

    3. PALU — Lonjakan Spektakuler

    • Harga: $0,02694
    • Pergerakan 24 jam: +24,63%
    • Pergerakan 1 jam: +16,04%
    • Kapitalisasi pasar: $26,940,049
    • Volume 24 jam: $14,566,838

    PALU menunjukkan aksi harga yang agresif, naik cepat dalam hitungan jam. Dengan supply beredar 518,88 juta dari total 1 miliar, token ini semakin diperhitungkan di pasar meme China.

    4. PeiPei (ETH) — Token Ethereum yang Ikonik

    • Harga: $0,072451
    • Pergerakan 7 hari: +14,52%
    • Kapitalisasi pasar: $10,312,694
    • Volume 24 jam: $1,409,382

    Meski pergerakan mingguan lebih moderat, PeiPei tetap menarik perhatian investor karena basis Ethereum yang kuat, membuatnya menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin masuk ke dunia meme tanpa meninggalkan ekosistem ETH.

    5. BIAO — Token Mikro yang Naik Perlahan

    • Harga: $0,00002764
    • Pergerakan 7 hari: +27,15%
    • Kapitalisasi pasar: $27,211

    BIAO mungkin terlihat kecil dari segi kapitalisasi, tapi pergerakan mingguan menunjukkan potensi akumulasi yang menarik. Token ini bisa menjadi hidden gem bagi investor berani.
    Pasar Chinese Meme Tokens hari ini menunjukkan dinamika tinggi, dari lonjakan kilat BianRenSheng hingga stabilitas DORA dan potensi BIAO. Bagi investor yang ingin masuk ke pasar meme, hari ini adalah waktu yang penuh peluang, tapi tetap perlu waspada karena volatilitas tinggi bisa menimbulkan risiko besar.

    Baca juga: Bio Protocol Bikin Kejutan, Harga BIO Meledak 45% dalam 24 Jam


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pelaku Terancam Bui Seumur Hidup

    Otoritas Amerika Serikat mengungkap kasus besar yang mengaitkan penggunaan cryptocurrency dalam jaringan perdagangan narkoba global.

    Sebuah grand jury federal di Ohio resmi mendakwa dua perusahaan farmasi asal China dan enam warga negaranya atas dugaan perdagangan prekursor fentanyl serta pencucian uang lintas negara.

    Crypto Jadi Alat Utama Transaksi Narkoba

    Dalam dakwaan tersebut, perusahaan Shandong Believe Chemical Company Pte Ltd. dan Shandong Ranhang Biotechnology Co. Ltd. disebut menjual bahan kimia prekursor dan zat campuran (cutting agents) yang digunakan untuk memproduksi fentanyl. Para pelanggan diarahkan untuk melakukan pembayaran menggunakan cryptocurrency ke wallet yang dikendalikan oleh para pelaku.

    Dilaporkan The Block, Otoritas menyebut dana dari transaksi tersebut kemudian dipindahkan ke institusi keuangan luar negeri, menunjukkan peran penting crypto dalam memfasilitasi aliran dana ilegal secara global.

    Bagian dari Operasi Besar FBI

    Kasus ini merupakan bagian dari inisiatif FBI bertajuk “Operation Box Cutter” yang bertujuan membongkar jaringan perdagangan fentanyl internasional. Tiga dari terdakwa juga didakwa mencoba memberikan dukungan kepada kartel narkoba Meksiko yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris asing.

    Jaksa AS Dominick S. Gerace II menegaskan bahwa penegakan hukum kini menargetkan seluruh rantai pasokan, mulai dari produsen bahan kimia hingga distributor di lapangan.

    Zat Campuran Tingkatkan Produksi Hingga 20 Kali Lipat
    Salah satu bahan yang diperdagangkan adalah medetomidine, obat penenang hewan yang digunakan untuk mencampur fentanyl. Zat ini dapat meningkatkan volume produksi secara signifikan, di mana satu kilogram fentanyl bisa diperbanyak hingga 20 kali lipat dan menghasilkan jutaan dosis yang beredar di jalanan.

    Jika terbukti bersalah, para terdakwa menghadapi ancaman hukuman berat, termasuk penjara seumur hidup untuk kasus perdagangan narkoba serta hingga 20 tahun untuk pencucian uang dan pendanaan terorisme.

    Pola Pencucian Uang Crypto Terungkap

    Peneliti dari TRM Labs mengungkap pola pencucian uang yang digunakan dalam kasus ini. Prosesnya dimulai dari penerimaan stablecoin di satu alamat, kemudian dana dipecah dan dialirkan melalui serangkaian wallet sebelum akhirnya dikonversi menjadi fiat di titik keluar lintas negara.

    Data juga menunjukkan bahwa sekitar 97% produsen prekursor narkoba berbasis di China menerima pembayaran crypto. Aliran dana on-chain ke vendor ini mencapai $39,1 juta pada 2025, meningkat dari $34,7 juta di 2024 dan $30,9 juta di 2023.

    Tim Research Tokocrypto mengatakan kasus ini mempertegas arah regulasi AS yang makin agresif terhadap penggunaan kripto dalam kejahatan lintas negara, terutama ketika menyentuh fentanyl dan kartel.

    “Begitu narasinya bergeser dari sekadar money laundering umum ke suplai narkotika global, tekanan penegakan hukum terhadap wallet, payment rails, dan fasilitator on-chain bakal jadi jauh lebih brutal,” ungkapnya.

    Penegakan Hukum Mulai Sasar Rantai Hulu

    Kasus ini menandai perubahan strategi penegakan hukum, yang kini tidak hanya fokus pada kartel, tetapi juga menyasar pemasok bahan baku, fasilitator pembayaran, hingga pemilik wallet crypto.

    Langkah ini menunjukkan bahwa penggunaan cryptocurrency dalam aktivitas ilegal semakin menjadi perhatian global, seiring meningkatnya peran aset digital dalam rantai pasokan narkotika internasional.

    Baca juga: Amerika Borong Bitcoin, China Tumpuk Emas: Perang Aset Dunia Dimulai?!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terkuak Biang Kerok Kripto Rontok


    Jakarta

    Transaksi kripto mengalami tekanan berat jelang akhir tahun. Tekanan ini terjadi imbas kombinasi sejumlah sentimen, baik arus keluar dana ETF Bitcoin (BTC), tekanan jual investor, hingga makro ekonomi global.

    Pelemahan ini pun terjadi pada transaksi kripto di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto melemah 24,53% secara bulanan dari Rp 49,29 triliun di bulan Oktober 2025 menjadi Rp 37,20 triliun pada November 2025.

    Kemudian secara tahunan, transaksi aset kripto juga turun 19,72% atau terkoreksi sebesar Rp 109,76 triliun. Adapun rinciannya, total nilai transaksi aset kripto hingga November 2025 sebesar Rp 446,77 triliun dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 556,53 triliun.


    CEO Tokocrypto Calvin Kizana menjelaskan penurunan transaksi ini terjadi seiring runtuhnya Bitcoin (BTC) yang mencatat bulan terburuk kedua sepanjang 2025.

    Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17% akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, dan tekanan jual dari investor jangka pendek.

    “Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” jelas Calvin dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025).

    Selain itu, arus dana institusional BTC juga melemah yang tercermin dalam data SoSo Value, di mana ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS) mengalami arus keluar dana sebesar US$ 3,48 miliar sepanjang November.

    Kondisi ini mempengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang akhir tahun.

    Sementara berdasarkan transaksi di Tokocrypto hingga November 2025, total nilai transaksi tercatat mendekati Rp150 triliun. Capaian ini mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi.

    “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” pungkasnya.

    Simak juga Video: Modus Pria Bandung Bobol Situs Kripto London Rp 6,6 M

    (ahi/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Tembus Rp 1,7 M, Donald Trump Biang Keroknya!


    Jakarta

    Aset kripto Bitcoin terus mengalami peningkatan, bahkan Bitcoin sempat menyentuh harga US$ 107 ribu atau sekitar Rp 1,7 miliar (kurs Rp 15.925) pada perdagangan hari Senin kemarin. Hal ini merupakan respons pasar terhadap langkah yang bakal diambil Donald Trump ketika resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

    Trump menegaskan dia berencana membuat cadangan strategis Bitcoin yang dibuat menyerupai cadangan minyak strategis di AS. Hal ini memicu antusiasme investor kripto.

    Dilansir dari Reuters, Selasa (17/12/2024), sentimen investor juga terangkat oleh masuknya MicroStrategy ke dalam indeks Nasdaq 100. MicroStrategy selama ini dikenal sebagai perusahaan yang cukup banyak memiliki cadangan Bitcoin.


    Dengan masuk indeks Nasdaq 100, artinya perusahaan itu kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak arus modal yang bisa berubah menjadi pembeli Bitcoin.

    Analis Pasar dari IG Analyst, Tony Sycamore menyebut Bitcoin masih bisa terbang ke level US$ 110 ribu dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang.

    “Angka berikutnya yang akan dicari pasar adalah US$ 110 ribu. Penurunan yang ditunggu banyak orang ternyata tidak terjadi, karena sekarang kita punya berita baik,” sebut Tony.

    Investor telah bertaruh bahwa pemerintahan Donald Trump yang akan datang akan membawa lingkungan regulasi yang lebih bersahabat buat aset kripto. Ini meningkatkan sentimen yang baik di seputar mata uang alternatif tersebut. Bitcoin saja sudah naik sekitar 150% nilainya pada tahun 2024.

    Trump sendiri sudah menegaskan dia ingin agar Amerika Serikat menjadi yang terdepan dalam urusan regulasi kripto.

    “Kami akan melakukan sesuatu yang hebat dengan kripto. Kami ingin menjadi yang terdepan,” kata Trump.

    Ketika ditanya apakah ia berencana untuk membangun cadangan kripto yang mirip dengan cadangan minyak. Dia mengatakan hal itu bisa saja terjadi.

    Menurut data CoinGecko, pemerintah di seluruh dunia memegang sekitar 2,2% dari total pasokan Bitcoin per Juli. Amerika Serikat memiliki hampir 200.000 bitcoin yang bernilai lebih dari US$ 20 miliar saat ini. China, Inggris, Bhutan, dan El Salvador juga menjadi negara-negara lain dengan jumlah bitcoin yang signifikan.

    Simak juga Video ‘Ancaman Trump ke Hamas: Bebaskan Sandera atau Kekacauan akan Terjadi’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (hal/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Perang Dagang AS Vs Kanada cs Bikin Harga Kripto Anjlok


    Jakarta

    Harga mata uang kripto merosot. Kondisi ini didorong kekhawatiran publik akan perang dagang yang dipicu kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenakan tarif impor kepada Kanada, Meksiko dan China.

    Dikutip dari Reuters, Senin (3/2/2025) harga Bitcoin turun lebih dari 4% pada Senin pagi di Asia, menyentuh level terendah tiga minggu di sekitar US$ 96.606. Harga kripto ether juga anjlok sekitar 12%.

    Kepala penelitian di Pepperstone Chris Weston, menilai investor berpikir kebijakan tarif impor Trump dapat merugikan pertumbuhan dan pendapatan perusahaan. Respon pasar pun terguncang termasuk kripto.


    Untuk diketahui, Presiden AS Donald Trump telah menetapkan pengenaan tarif impor 25% untuk Meksiko dan Kanada. Selain itu, barang impor China juga akan dikenakan tarif 10%.

    Merespon kebijakan itu, Kanada membalas. Dikutip dari CNBC International, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menjawab kenaikan tarif tersebut. Pada Sabtu (1/1/2025) waktu Kanada, ia mengumumkan akan memberlakukan tarif 25% terhadap barang-barang AS senilai US$ 155 miliar.

    Namun begitu, Trudeau tidak merinci apakah barang-barang Amerika senilai US$ 155 miliar itu merupakan nilai produk dalam dolar Kanada atau dolar AS. US$ 155 miliar dalam dolar Kanada akan menjadi sekitar US$ 106 miliar dalam dolar AS atau sekitar Rp 1.727.800.000.000.000 (asumsi kurs Rp 16.300).

    (ada/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Sempat Terkoreksi, Bagaimana Prospeknya?


    Jakarta

    Harga bitcoin sempat mencapai harga tertinggi pada Januari 2025 yaitu sebesar US$ 108.000 per keping. Kemudian harga bitcoin mengalami koreksi dan turun menjadi US$ 91.000 per keping pada 3 Februari 2025.

    Kemudian pada 4 Februari 2025, harga Bitcoin sempat kembali naik dan tercatat mencapai US$ 101.000 sebelum akhirnya kembali turun pada 10 Februari 2025 menjadi US$ 95.000. Koreksi ini menunjukkan karakteristik pasar Bitcoin yang fluktuatif, di mana harga bisa mengalami kenaikan dan penurunan secara bergantian, dipengaruhi oleh faktor eksternal dan sentimen pasar global.

    Beberapa hari terakhir koreksi harga ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, terutama setelah pengumuman kebijakan tarif impor yang baru oleh Presiden AS yang berlaku pada Februari 2025. Kebijakan tersebut memberikan dampak langsung terhadap pasar global, termasuk pasar aset kripto, dengan memicu aksi jual dalam jangka pendek.


    CEO INDODAX Oscar Darmawan menjelaskan koreksi harga bitcoin saat ini menunjukkan sifat volatilitas pasar yang memang wajar terjadi.

    “Dalam pasar yang dinamis seperti ini, koreksi harga adalah bagian dari siklus alami, di mana fluktuasi harga dapat mempengaruhi sentimen pasar. Namun, kami tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Bitcoin,” ujar Oscar dalam siaran pers, Senin (10/2/2025).

    Oscar menambahkan bahwa meskipun pasar mengalami koreksi, faktor fundamental Bitcoin tetap kuat, termasuk adopsi yang semakin luas, baik oleh investor ritel maupun institusional.

    “Tingkat adopsi Bitcoin yang terus meningkat, serta kemajuan regulasi di berbagai negara, memberikan sinyal positif untuk masa depan Bitcoin. Di Indonesia, kami melihat pertumbuhan yang signifikan, tercermin dari data yang menunjukkan total transaksi kripto yang mencapai Rp650,61 triliun pada tahun 2024, sebuah lonjakan 4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” lanjut Oscar. Oscar juga mengingatkan bahwa meskipun koreksi harga terjadi dalam jangka pendek, potensi Bitcoin untuk rebound sangat besar.

    “Kami telah melihat sebelumnya bagaimana Bitcoin mampu pulih setelah mengalami koreksi tajam. Dengan latar belakang pasar yang lebih matang dan kesadaran akan aset digital yang terus berkembang, kami yakin Bitcoin akan kembali menunjukkan tren bullish dalam waktu dekat,” jelas dia.

    Dengan data yang menunjukkan peningkatan transaksi yang signifikan, Oscar percaya bahwa ketidakpastian pasar global menjadi tantangan terhadap pertumbuhan kripto di Indonesia. “Investor Indonesia semakin terbuka terhadap peluang yang ada di pasar kripto, dan kami di INDODAX terus berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik serta edukasi yang diperlukan agar mereka dapat berinvestasi dengan bijak, meskipun di tengah volatilitas yang terjadi,” kata Oscar.

    Oscar menekankan bahwa meskipun ada penurunan harga Bitcoin saat ini, para investor yang mengikuti prinsip Dollar-Cost Averaging (DCA) dapat memperoleh keuntungan dalam jangka panjang. “Koreksi harga ini bisa menjadi peluang bagi investor untuk membeli Bitcoin dengan harga lebih rendah, terutama bagi mereka yang memiliki pandangan jangka panjang,” ujar Oscar. Menurut Oscar, langkah pemerintah yang mendukung pengaturan dan regulasi kripto juga memberikan kestabilan lebih besar untuk pasar, sehingga investor merasa lebih aman untuk berpartisipasi.

    “Regulasi yang jelas akan semakin mendorong adopsi Bitcoin dan aset kripto lainnya, menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan pasar dalam jangka panjang,” ujar dia. Secara keseluruhan, meskipun pasar Bitcoin sedang mengalami koreksi, potensi untuk kenaikan jangka panjang tetap ada. Bagi investor yang memiliki pandangan jangka panjang, harga saat ini bisa menjadi kesempatan untuk melakukan akumulasi. Terlebih, dengan proyeksi pergerakan harga yang masih berada dalam kisaran positif, Bitcoin tetap menjadi pilihan menarik dalam portofolio investasi.

    Meskipun harga Bitcoin mengalami penurunan, permintaan terhadap aset kripto di Indonesia masih tinggi. Terlihat dari jumlah transaksi yang terus meningkat pada platform INDODAX, data internal INDODAX total transaksi di Januari 2025 mencapai Rp16,019 Triliun atau sekitar 12,02% dari total transaksi selama 2024. Meskipun ada koreksi, pasar kripto Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan, yang menandakan bahwa minat terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya tetap solid.

    Beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi koreksi harga Bitcoin adalah ketidakpastian ekonomi global, terutama terkait dengan kebijakan fiskal negara besar dan fluktuasi suku bunga. Pada saat yang sama, para investor semakin memperhatikan gejolak ekonomi yang dapat mempengaruhi pasar global, termasuk kripto. Kenaikan suku bunga di beberapa negara besar memicu peralihan dana dari aset berisiko tinggi seperti Bitcoin ke aset yang lebih aman.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Fintech Ini Dapat Kredit dari BlackRock-InnoVen Capital Rp 1,3 T


    Jakarta

    Perusahaan financial technology (fintech), Atome Financial, menerima fasilitas penyaluran dana kredit dari BlackRock dan InnoVen Capital hingga US$ 80 Juta atau sekitar Rp 1,3 triliun (kurs Rp 16.369/dolar AS).

    Diketahui tim kredit swasta BlackRock memiliki rekam jejak yang kuat dalam investasi kredit swasta. Sementara InnoVen Capital merupakan penyedia pembiayaan ventura yang mendukung perusahaan tahap awal dan pertumbuhan di Asia Tenggara, China, dan India.

    Chief Commercial Officer Atome Financial, Andy Tan, mengatakan fasilitas dana kredit ini akan mendukung pertumbuhan produk perusahaan, memperkuat kemitraan dan portofolio regional di pasar Asia Tenggara termasuk Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.


    “Kami sangat gembira dan merasa terhormat menyambut BlackRock dan InnoVen Capital sebagai mitra pemberi pinjaman baru kami,” kata Andy dalam keterangan resminya, Rabu (12/2/2025).

    “Partisipasi mereka mencerminkan keunggulan operasional, kepemimpinan pasar, serta momentum bisnis luar biasa kami yang berkelanjutan, yang diharapkan akan meningkat pada tahun 2025,” sambungnya.

    Sementara itu Head of APAC Private Credit di BlackRock, Celia Yan, mengatakan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan peluang investasi kredit swasta yang menarik. Sehingga ia sangat mengapresiasi kerja sama penyaluran pendanaan kredit ini

    “Atome Financial telah membuktikan dirinya sebagai pemain fintech terkemuka di Asia Tenggara dan kami berharap dapat terus mendukung percepatan ekspansi yang dilakukan,” kata Celia.

    Sebagai tambahan Informasi, Atome Financial merupakan platform teknologi keuangan atau fintech bagian dari Advance Intelligence Group yang berkantor pusat di Singapura. Perusahaan ini meliputi Atome, platform pembiayaan dan penyedia layanan keuangan digital yang mencakup asuransi, kartu, dan pinjaman, serta Kredit Pintar.

    Di Indonesia perusahaan ini juga sudah berlisensi, diawasi, dan diatur oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sedangkan induk usahanya, Advance Intelligence Group, turut didukung oleh SoftBank Vision Fund 2, Warburg Pincus, Northstar, dan investor global yang berbasis di Singapura, EDBI.

    Secara umum pada Tahun Fiskal 2024, Atome Financial yang mencakup Atome Buy-Now-Pay-Later (BNPL) dan Kredit Pintar mencatat kinerja bisnis yang solid. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 45% YoY, menjadi US$ 280 juta.

    Kemudian ada juga pertumbuhan nilai transaksi kotor (Gross Merchandise Value/GMV) perusahaan sebesar 35% YoY, menjadi US$ 2,5 miliar.

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Usai Rapat FOMC, Harga Bitcoin di Level US$ 80.000


    Jakarta

    Setelah Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan 4,50% harga Bitcoin (BTC) berhasil bertahan di atas level $80.000. Keputusan ini memberikan kelegaan bagi investor setelah periode ketidakpastian yang cukup panjang.

    Sebelum pengumuman FOMC pada 19 Maret 2025, harga Bitcoin berada di level $82.719, turun 1,61% dibanding hari sebelumnya. Namun, setelah keputusan diumumkan, harga Bitcoin melonjak 5,00% menjadi $86.854.

    Ethereum juga mengalami kenaikan signifikan, dari $1.932,54 pada 18 Maret 2025 menjadi $2.057,75 pada 19 Maret 2025, mencatatkan kenaikan sebesar 6,48% setelah sebelumnya hanya menguat tipis 0,29%.

    Optimisme investor semakin menguat karena The Fed berencana melakukan dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2025. Sebelum pengumuman ini, ekspektasi investor terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga relatif rendah, sekitar 1% berdasarkan alat FedWatch dari CME.


    CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menyatakan bahwa keputusan The Fed ini mencerminkan stabilitas kebijakan moneter yang berdampak positif pada pasar aset kripto. “Stabilitas suku bunga cenderung mendorong investor mencari alternatif investasi dengan potensi pertumbuhan tinggi seperti Bitcoin,” ujar Oscar dalam siaran pers, Minggu (23/3/2025).

    Dia menyoroti bahwa proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga di tahun 2025 menjadi pendorong utama optimisme pasar. “Dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, likuiditas di pasar keuangan cenderung meningkat, yang sering kali berujung pada apresiasi harga aset kripto,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Oscar menjelaskan bahwa volatilitas harga Bitcoin pasca keputusan FOMC menunjukkan bahwa aset kripto sensitif terhadap kebijakan ekonomi makro. “Investor global kini semakin memandang Bitcoin sebagai alat diversifikasi portofolio yang mampu memberikan perlindungan terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik,” jelasnya.

    Di sisi lain, Oscar menilai kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang menetapkan tarif 25% terhadap Kanada, Meksiko, China, dan kemungkinan Uni Eropa turut berpotensi memicu inflasi.

    “Kenaikan harga barang akibat tarif ini dapat mendorong masyarakat untuk mencari alternatif aset yang dapat mempertahankan daya beli mereka. Bitcoin, sebagai aset terdesentralisasi, bisa menjadi pilihan yang relevan dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan,” jelas Oscar.

    Oscar juga mengingatkan bahwa meskipun Bitcoin menunjukkan ketahanan yang baik, investor tetap perlu memperhatikan dinamika ekonomi global. “Dalam kondisi seperti ini, strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) dapat menjadi pendekatan bijak bagi investor ritel untuk menghadapi volatilitas pasar dan memperkuat portofolio investasi mereka,” ujar dia.

    Dengan kebijakan moneter yang stabil serta meningkatnya minat terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai, Oscar Darmawan optimistis bahwa pasar kripto akan terus menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan di tahun mendatang.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com