Quantstamp, perusahaan audit smart contract, beberapa waktu lalu menyatakan Ethereum 2.0 hampir siap untuk diluncurkan. Berita tersebut mengikuti audit Teku yang diselesaikan oleh Quantstamp sebagai klien Ethereum 2.0 yang dikembangkan oleh ConsenSys.
Nantinya, Ethereum 2.0 ini akan menggunakan Proof-of-Stake (PoS) dalam sistem protokolnya. Hal ini berbeda dari Ethereum terdahulu yang menggunakan mekanisme Proof-of-Work (PoW). Dengan pergantian mekanisme ini memungkinkan pengguna melakukan staking atau pertaruhan ETH di dalam jaringan.
“Ethereum 2.0 berada di jalur yang tepat untuk segera menghadirkan Fase 0 dalam waktu dekat.”
Audit yang dilakukan Quantstamp ini melibatkan pengujian batas dan kemampuan jaringan. Terlebih, aksi kali ini berfokus juga untuk menyelesaikan masalah seputar serangan DDoS, kesalahan sinkronisasi, dan logika validasi yang hilang.
Perilisan Ethereum 2.0 Masih Simpang Siur
Meski proses pengembangan berjalan lancar, perusahaan tersebut belum memberikan detail lebih jelas terkait dengan tanggal pasti perilisan Ethereum 2.0 ke publik. Kabarnya, fasilitas kontrak deposit akan rampung pada pertengahan November 2020 mendatang.
Kedatangan Ethereum 2.0 ini sudah sangat dinatikan oleh komunitas crypto dan blockchain. Pasalnya, jaringan ini nantinya akan dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi jumlah validator kerja yang harus dilakukan.
Padatnya jaringan dan membludaknya biaya gas Ethereum terdahulu juga membuat perilisan ini menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu.
Indonesia disarankan menerapkan rupiah digital berteknologi blockchain untuk meningkatkan mutu tata kelola keuangan dan menjaga kedaulatan negara.
Munculnya aset kripto atau cryptocurrency (mata uang kripto) dan teknologi blockchain selama dekade terakhir, telah membawa kemungkinan baru dalam penerbitan dan penggunaan uang serta bentuk baru aset digital dan pasar yang menarik.
Bersamaan dengan perkembangan lingkungan geopolitik, ekonomi dan sosial yang pesat, tumbuh juga kebutuhan dan standar baru untuk pembayaran digital dan alat tukar yang aman, dapat dipercaya, dan mudah digunakan.
“Salah satunya adalah standar baru yang belakangan ini mulai gencar diterapkan di berbagai negara adalah mengenai Central Bank Digital Currency (CBDC),” kata Gilang Bhagaskara, Director of Blocksphere Indonesia.
Untuk mempercepat adopsi CBDC di Indonesia, baru-baru ini Blocksphere Indonesia yang bermitra dengan Consensys menerbitkan kembali laporan tinjauan adopsi CBDC yang berjudul “Laporan Resmi Consensys: Bank Central dan Masa Depan Uang Digital”. Laporan tersebut dapat diunduh di sini.
Di dalam laporan itu disebutkan bahwa Indonesia disarankan menerapkan rupiah digital dalam konteks Central Bank Digital Currency (CBDC).
“Selain dua hal itu, Indonesia berpotensi mempercepat inovasi keuangan digital dengan menerapkan mata uang digital bank sentral (CBDC),” kata Gilang Bhagasakara Director of Blocksphere Indonesia.
Lanjut Gilang, sebagai sebuah negara kepulauan dengan geografi yang berkarakter desentralistik, Indonesia memiliki tantangan soal fragmentasi data di banyak sektor. Pun termasuk sektor keuangan, pembayaran dan peraturan ekonomi.
Dengan CBDC yang berteknologi blockchain, Indonesia dapat mempercepat proses bisnis keuangan negara, baik di bidang ritel, antar bank, maupun antar negara.
“Inovasi produk keuangan pun menjadi ringkas dan cepat berkat CBDC dan bisa menciptakan model bisnis baru yang menguntungkan bagi negara,” paparnya.
Pandu Sastrowardoyo, VP of Consulting Blocksphere Indonesia & Supervisory Board Asosiasi Blockchain Indonesia menambahkan, bahwa CBDC pada prinsipnya berperan sebagai pelindung terhadap kedaulatan mata uang.
“Dengan banyaknya penelitian, pengembangan dan penerapan mata uang digital akhir-akhir ini, baik yang dikelola oleh negara asing dan perusahaan swasta, legal maupun tidak, tentu ini adalah tantangan kompetitif terhadap rupiah. Ringkasnya, suka atau tidak, pengguna uang di Indonesia kini telah terekspos ke pengalaman pengguna mata uang digital, yang memiliki banyak kemudahan dan berdayajangkau internasional,” katanya.
CBDC juga dapat membantu tata kelola keuangan di Indonesia. Transparansi yang menjadi basis dari rancangan teknologi itu, serta fitur kontra-perubahan (anti-tampering), bisa memperbesar auditabilitas dan pelacakan keuangan di seluruh Indonesia.
Blocksphere adalah perusahaan teknologi informasi di Indonesia yang memiliki spesialisasi dalam pengembangan blockchain.
Perusahaan yang didirikan pada tahun 2017 itu berpengalaman mengembangkan beragam solusi berbasis blockchain sejak teknologi itu mulai popular, di puluhan perusahaan berskala besar, baik nasional maupun mancanegara.
Di Indonesia, Blocksphere merupakan mitra strategis Consensys, perusahaan terkemuka asal AS di bidang blockchain. Consensys juga dikenal sebagai pencipta teknologi Hyperledger Besu, termasuk sebagai inisiator public blockchain, Ethereum.
Pada Agustus 2020, Consensys ini memperluas lingkup solusinya dengan membeli teknologi blockchain JPMorgan, Quorum. Dengan akuisisi teknologi ini, produk Hyperledger Besu kemudian bergabung ke dalam rumpun produk Consensys Quorum bersama GoQuorum.
Selain itu, Consensys dipercaya oleh banyak negara untuk mengembangkan solusi CBDC, termasuk yang terbaru di Hong Kong.
“Blocksphere siap menjadi mitra utama semua perusahaan di Indonesia dalam mengakses teknologi dan layanan Consensys. Khusus penerapan CBDC di Indonesia, Blocksphere siap bermitra dengan bank sentral,” pungkas Gilang.
Indonesia berada di peringkat ke-9 dunia sebagai pengguna dompet kripto “sejuta umat”, MetaMask.
Peringkat pertama diduduki oleh Filipina, menyusul di belakang adalah Amerika Serikat dan Vietnam, masing-masing di peringkat ke-3 dan ke-4.
Pada Agustus 2021, 15 negara teratas yang menggunakan MetaMask meliputi: Filipina, Amerika Serikat, Vietnam, Inggris Raya, Cina, India, Rusia, Brasil, Indonesia, Thailand, Turki, Jerman, Prancis, Kanada, dan Spanyol.
Asia adalah wilayah nomor satu dalam hal pertumbuhan pengguna, diikuti oleh Eropa dan Amerika Utara.
“Indonesia kini sebagai 15 negara pengguna terbanyak dompet kripto MetaMask. Indonesia berada di peringkat ke-9. Filipina berada di teratas dan peringkat ke-15 diduduki oleh Spanyol,” sebut ConsenSys dalam keterangannya kepada Redaksi Blockchainmedia.id, Rabu (1/9/2021).
ConsenSys menyebutkan total pengguna aktif bulanan Metamask berkisar 10 juta dalam bertransaksi kripto, termasuk di dalamnya untuk sektor NFT(Non-Fungible Token), token swap, bermain game dan lain sebagainya.
“Dalam satu tahun, pengguna MetaMask naik lebih dari 1800 persen. Per Juli 2020 misalnya pengguna aktif bulan mencapai 545.080. Lalu pada Agustus 2021 menjadi 10.354.279 pengguna,” sebut ConsenSys.
Bagi ConsenSys, peningkatan jumlah pengguna Metamask dari Indonesia, juga mencerminkan peningkatan penggunaan aplikasi DeFi(Decentralized Finance). Indonesia berada di peringkat ke-5 untuk wilayah Asia. Dibandingkan tahun lalu, peningkatanya mencapai 19 kali lipat.
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 50 Ribu, Lanjut Bullish atau Kembali Landai?
Dompet Kripto Metamask, NFT dan DeFi
ConsenSys mengklaim faktor pendorong meningkatnya pengguna Metamask berkat pertumbuhan ekosistem blockchainEthereum itu sendiri. Sebagai catatan, ConsenSys adalah perusahaan yang mendukung pembentukan sistem keuangan kripto itu.
“Pertumbuhan eksponensial MetaMask telah mengikuti perkembangan ekosistem Ethereum. Pada tahun 2019, aset kripto senilai US$2 milyar ada di ranah DeFi. Sedangkan saat ini mencapai US$80 miliar.
MetaMask adalah cara utama basis pengguna global berinteraksi dengan aplikasi DeFi, bersama dengan alam semesta luas sekitar 17.000 domain Web3 unik, yang mencakup pasar barang digital langka OpenSeadan game daring berbasis NFT.
Metamask pertama kali dibuat pada September 2016 dan telah menjadi katalis utama dalam adopsi aplikasi terdesentralisasi di Ethereum.
Peluncuran versi mobile pada September 2020 telah memainkan peran penting dalam membawa pengguna baru dengan cepat dari pasar global seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, China, India, Thailand dan Brasil.
Peluncuran token swap di MetaMask mobile pada Maret 2021 juga mempercepat pertumbuhan pengguna secara eksponensial.
“MetaMask mendefinisikan jenis baru dompet kripto, di mana pengguna tidak hanya berinteraksi dengan mata uang, tetapi dengan aplikasi terdesentralisasi, dan kami terus membuat jenis aplikasi baru ini lebih aman dan dapat diakses oleh audiens yang lebih luas,” kata Dan Finlay, Pendiri MetaMask.
SWIFT, organisasi global yang selama ini menjadi tulang punggung infrastruktur komunikasi antarbank internasional, kini mengambil langkah strategis berani dengan menggandeng perusahaan perangkat lunak blockchain Consensys.
Tujuannya untuk membangun prototipe sistem ledger berbasis digital bersama, yang memungkinkan pembayaran lintas batas secara real time, 24/7, dan mendukung nilai token yang teratur (regulated tokenized value).
Kolaborasi ini bukanlah sekadar lip service. Swift bekerja bersama lebih dari 30 institusi keuangan global untuk merancang dan menguji sistem bersama yang diharapkan menjadi fondasi pembayaran lintas batas generasi berikutnya.
Sejak lama, mekanisme pembayaran lintas negara menghadapi berbagai hambatan: keterlambatan jam operasi bank, biaya tinggi, rantai korespondensi perbankan yang panjang, hingga isu transparansi dan pelacakan.
Dengan munculnya teknologi blockchain, konsep “rel pembayaran digital”, jalur baru yang memungkinkan transaksi token ke token atau aset digital secara otomatis, mulai menjadi proyeksi masa depan keuangan global.
Swift menyadari bahwa untuk tetap relevan di era transformasi digital, ia harus melangkah ke ranah keuangan digital.
Dengan mengusung konsep ledger gabungan bersama Consensys, Swift berupaya mengubah posisinya dari sekadar platform komunikasi antarbank menjadi komponen inti dalam sistem infrastruktur keuangan digital.
Menurut pernyataan Swift, prototipe ledger ini nantinya akan mencatat, menyusun urutan, dan memvalidasi transaksi, sekaligus menegakkan aturan melalui kontrak pintar (smart contracts).
Dengan demikian, institusi keuangan bisa memindahkan nilai digital yang sudah diatur (regulated tokenized value) dengan keamanan, skalabilitas, dan keandalan khas Swift.
Swift juga berencana agar sistem ini mendukung interoperabilitas antara sistem lama dan sistem baru, termasuk berbagai format token dan protokol yang mungkin muncul nantinya.
Pihak yang Terlibat & Dukungan Institusi
Kolaborasi ini melibatkan institusi-institusi besar dari berbagai belahan dunia sebagai mitra penguji / pemberi masukan.
Beberapa yang disebutkan antara lain: DBS Bank, ANZ, Absa, Standard Chartered, Royal Bank of Canada, Deutsche Bank, Emirates NDB, Mizuho, Westpac, Commerzbank, JPMorgan Chase, Citi, BNP Paribas, BBVA, Bank of America, HSBC, Wells Fargo, dan lain-lain.
Kehadiran institusi-institusi ini memberi bobot kredibilitas bahwa upaya Swift–Consensys bukan eksperimen kecil.
Mereka mewakili bank global dan lembaga keuangan di berbagai wilayah, yang artinya kebutuhan terhadap infrastruktur pembayaran lintas negara masih sangat nyata dan mendesak.
Javier Pérez-Tasso, CEO Swift, menyatakan bahwa Swift “sudah punya rel yang powerful dan efektif hari ini.”
Namun organisasi ini ingin lebih cepat bergerak dengan komunitasnya untuk membangun tumpukan (stack) infrastruktur masa depan.
Ia menyebut bahwa konsep ledger awal ini membuka jalan agar lembaga keuangan mampu membawa pengalaman pembayaran ke level selanjutnya, dengan platform tepercaya Swift berada di pusat transformasi digital industri.
Manfaat Potensial & Dampak Industri
Kolaborasi ini, jika berhasil, menjanjikan beberapa manfaat berikut:
Transaksi real time 24/7: no more tergantung jam kerja bank tradisional, dapat mentransfer nilai kapan pun dalam sehari.
Eksekusi otomatis dengan smart contract: aturan, validasi, dan eksekusi transaksi bisa otomatis dan transparan dalam ledger bersama.
Interoperabilitas: sistem baru ini diharapkan bisa berinteraksi dengan sistem perbankan tradisional serta format token digital yang berbeda, menjembatani dunia lama dan ekosistem blockchain.
Keamanan & keandalan: Swift membawa reputasi dalam hal keamanan dan stabilitas, yang menjadi fondasi untuk menggunakan aset digital secara regulatif dalam jaringan global.
Skalabilitas & efisiensi biaya: dengan jalur pembayaran lebih langsung dan protokol modern, biaya overhead bisa ditekan dibanding skema perbankan korespondensi konvensional.
Bila inovasi ini sukses dan diadopsi luas, peran Swift bisa bergeser, dari “jaringan komunikasi antarbank” menjadi “jaringan rel aset digital global.”
Tantangan & Risiko
Meskipun prospeknya menarik, proyek ini menghadapi beberapa tantangan nyata:
Regulasi & kepatuhan Nilai token teratur (regulated tokenized value) harus mematuhi regulasi lintas yuridiksi. Perbedaan regulasi antar negara bisa menjadi hambatan signifikan.
Standarisasi teknis & interoperabilitas Menyatukan format token, protokol smart contract, dan sistem legacy bank yang sangat beragam akan membutuhkan standarisasi dan konsensus industri yang sulit diperoleh.
Kepercayaan & adopsi institusional Bank dan lembaga keuangan besar cenderung berhati-hati dalam adopsi teknologi baru, terutama yang melibatkan integrasi blockchain dan token.
Keamanan & risiko teknis Sistem ledger bersama harus dirancang sangat tangguh terhadap serangan, bug, dan kegagalan operasional. Jika gagal, dampaknya akan sangat luas.
Inisiatif Swift bekerja sama dengan Consensys untuk menghadirkan rel pembayaran berbasis blockchain pada transaksi lintas batas adalah langkah transformasional yang bisa mengubah wajah infrastruktur keuangan global.
Dengan dukungan institusi besar dan pendekatan prototipe bersama, proyek ini punya peluang nyata untuk mewujudkan transfer nilai digital real time dan interoperabilitas token yang diatur.
Namun, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada tantangan regulasi, adopsi institusional, dan standarisasi teknis.
Jika Swift berhasil menjalankan visi ini, maka peran mereka dalam dunia keuangan digital bisa menjadi sangat sentral, bukan sekadar sebagai “jaringan korespondensi perbankan,” melainkan sebagai tulang punggung ekosistem aset digital global.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Consensys pada tahun 2024 kepada 1.041 responden berusia 18-65 tahun bekerja sama dengan YouGov mengungkapkan bahwa, 90% masyarakat Indonesia sudah familiar dengan aset crypto.
Head of Product Marketing PINTU Iskandar Mohammad mengatakan masih dari data yang sama, 63% responden mengaku belum memahami konsep mata uang crypto.
“Ini menjadi tantangan bersama bagi pelaku industri crypto di Indonesia untuk mendorong adopsi sambil terus mengedukasi tentang aset crypto dan blockchain. Ke depan kami akan terus menghadirkan fitur inovatif dan program edukatif yang dapat menjawab berbagai tantangan yang ada di industri crypto dalam negeri,” ujar Iskandar dalam siaran pers, Selasa (25/3/2025).
Head of Product Marketing PINTU Iskandar Mohammad mengungkapkan, momen membagikan THR lebaran menjadi hal yang spesial saat perayaan hari raya.
“Untuk itu kami menghadirkan cara baru mengirimkan THR dalam bentuk aset crypto melalui fitur Send atau Kirim yang ada di aplikasi PINTU dan bisa menyertakan kartu ucapan dengan tema Idulfitri, THR atau dipersonalisasi sesuai keinginan pengirim. Selain mengirim THR, pengguna baru PINTU bisa mendapatkan THR hingga Rp300.000 dengan mengikuti program Ultimate Trading Quest Trading Hasilin Rezeki (THR). Fitur dan program tersebut kami hadirkan untuk membuat momen membagikan THR dan hari raya lebih bermakna, sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya berinvestasi,” ujar dia.
Berbagi THR kini bisa dalam bentuk aset crypto melalui fitur Send atau Kirim di aplikasi PINTU. Seluruh pengguna aplikasi PINTU bisa menggunakan fitur ini dengan beberapa tahap. Pertama, buka Wallet atau dompet crypto dan pilih aset crypto yang ingin dikirim sebagai THR, kemudian tap fitur Kirim dan masukan username pengguna PINTU yang ingin dibagikan THR. Setelahnya masukan nominal THR yang akan dibagikan dan bisa memberikan Kartu Ucapan yang pesannya dapat dipersonalisasi.
Selain itu, program Ultimate Trading Quest membuka kesempatan pengguna baru PINTU mendapatkan THR crypto hingga Rp300.000 cukup dengan membeli aset crypto pertama di aplikasi PINTU. Periode program ini dimulai dari 17 sampai 31 Maret 2025.
“Fitur Send atau Kirim ini ditujukkan khusus ke sesama pengguna aplikasi PINTU dan biaya kirim blockchain fitur ini gratis. Ini menjadi komitmen nyata kami bagi seluruh pengguna PINTU bisa memanfaatkan fitur ini untuk mengirimkan THR berupa aset crypto ke seluruh kerabat. THR dalam bentuk crypto ini bisa menjadi hadiah investasi jangka panjang yang berpotensi bernilai lebih di masa depan. Kami harap fitur ini dapat mendorong adopsi aset crypto di Indonesia serta meningkatkan kesadaran tentang aset crypto,” jelas Iskandar.