Tag: core

  • Core Bahas Quantum Resistance Bitcoin, Awal Upgrade Besar?

    Core kembali menarik perhatian pasar dengan menggelar sesi Quantum Resistance Deep Dive pada 27 Maret 2026.

    Acara tersebut menghadirkan sejumlah kontributor inti untuk membahas arah pengembangan teknologi quantum-resistant yang diklaim dapat memperkuat keamanan infrastruktur blockchain, khususnya yang berkaitan dengan Bitcoin.

    Meski terdengar ambisius, penting untuk dicatat bahwa event ini lebih bersifat diskusi teknis dan eksplorasi visi, bukan peluncuran fitur final atau perubahan langsung pada jaringan.

    Baca Juga: Apa itu Coretax dan Apa Saja Keluhan yang Sering Dialami?

    Fokus pada Keamanan Era Quantum

    Quantum resistance menjadi salah satu topik paling hangat dalam dunia kripto, seiring kekhawatiran bahwa komputasi kuantum di masa depan dapat mengancam sistem kriptografi yang saat ini digunakan.

    Menurut laporan Coinmarketcal, dalam sesi ini Core membahas bagaimana pendekatan mereka dalam menghadapi potensi ancaman tersebut, termasuk strategi untuk memperkuat keamanan jaringan berbasis Bitcoin.

    Topik yang diangkat mencakup visi jangka panjang pengembangan quantum-resistant, dampak terhadap keamanan infrastruktur blockchain, dan arah teknis upgrade di masa depan.

    Dengan kata lain, event ini lebih berfungsi sebagai sarana edukasi dan transparansi kepada komunitas dibandingkan sebagai pengumuman produk siap pakai.

    Bukan Launching, Tapi Positioning

    Berbeda dengan peluncuran mainnet atau upgrade jaringan yang langsung aktif, Quantum Resistance Deep Dive lebih berfokus pada komunikasi dan positioning teknologi.

    Hal ini penting dalam membangun kepercayaan komunitas dan menarik perhatian developer, namun biasanya tidak memiliki dampak langsung terhadap fundamental harga dalam jangka pendek.

    Pasar kripto cenderung merespons lebih kuat terhadap deliverable nyata, seperti fitur yang sudah berjalan atau integrasi yang langsung digunakan.

    Perspektif Industri: Booster Sentimen

    Tim riset dari Tokocrypto menilai bahwa event ini lebih cocok dipandang sebagai penguat narasi teknologi dibandingkan katalis harga.

    “Tema quantum resistance memang seksi buat narasi teknologi, tapi event berbentuk Spaces seperti ini jarang cukup kuat buat mengubah valuasi secara nyata. Selama belum ada deliverable final yang hidup di jaringan, dampaknya buat CORE lebih cocok dibaca sebagai booster sentimen dan positioning brand teknologi, bukan pemicu repricing besar,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun topiknya menarik, pasar tetap membutuhkan bukti implementasi nyata sebelum memberikan valuasi lebih tinggi.

    Quantum Resistance: Narasi Masa Depan

    Topik quantum resistance sendiri memang memiliki daya tarik kuat, terutama karena menyangkut masa depan keamanan blockchain secara global.

    Jika komputer kuantum berkembang hingga mampu memecahkan algoritma kriptografi saat ini, maka banyak jaringan blockchain, termasuk Bitcoin, berpotensi terdampak.

    Karena itu, proyek yang mulai membahas dan mengembangkan solusi quantum-resistant sejak dini dapat memperoleh keunggulan positioning sebagai inovator teknologi.

    Namun, hingga saat ini, ancaman tersebut masih berada dalam tahap teoritis dan belum menjadi risiko langsung dalam jangka pendek.

    Dampak ke CORE Token

    Bagi investor, event seperti ini biasanya memberikan efek berupa peningkatan awareness terhadap proyek, dorongan sentimen jangka pendek, hingga penguatan narasi teknologi.

    Namun tanpa adanya implementasi nyata, dampak tersebut cenderung terbatas dan bersifat sementara.

    Pergerakan harga CORE kemungkinan besar tetap akan dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi pasar secara umum, likuiditas, serta perkembangan fundamental yang lebih konkret.

    Baca Juga: Hard-Core-Fund-Sinyal-Positif-Bagi-Pengembang-Bitcoin-Independen

    Sesi Quantum Resistance Deep Dive dari Core menjadi langkah penting dalam membangun narasi dan positioning teknologi di tengah persaingan industri kripto.

    Namun, investor perlu memahami bahwa event ini bukanlah peluncuran fitur atau upgrade yang langsung berdampak pada jaringan.

    Dalam jangka pendek, dampaknya lebih condong ke sentimen dan branding. Sementara dalam jangka panjang, nilai sebenarnya akan ditentukan oleh sejauh mana konsep quantum resistance tersebut benar-benar diwujudkan dalam bentuk teknologi yang dapat digunakan.

    Dengan kata lain, ini adalah langkah awal yang menarik, tetapi belum cukup untuk mengubah arah pasar secara signifikan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Utang Orang RI ke Pinjol Naik Kencang, Imbas Daya Beli Turun?


    Jakarta

    Masyarakat Indonesia terlihat semakin sering mengambil utang baik di pinjaman online maupun di layanan Buy Now Pay Later (BNPL). Hal ini terjadi di tengah daya beli yang menurun.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total outstanding pinjaman online (pinjol) atau peer to peer (P2P) lending di Indonesia di Agustus 2024 terus meningkat menjadi 35,62% yoy mencapai Rp 71,03 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 23,97% yoy.

    Untuk piutang pembiayaan Pay Later oleh Perusahaan Pembiayaan atau multifinance per Agustus 2024 juga meningkat sebesar 89,20% yoy menjadi Rp 7,99 triliun. Besaran ini naik dari bulan lalu, yang mencatatkan kenaikan 73,55% yoy per Juli 2024.


    Kenaikan ini terjadi di tengah deflasi lima bulan beruntun yang terjadi sejak Mei-September 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Mei 2024 terjadi deflasi sebesar 0,03% secara bulanan (month to month/mtm). Kemudian pada Juni 2024 semakin dalam sebesar 0,08%. Pada Juli 2024 terus memburuk tembus 0,18%.

    Pada Agustus 2024, angkanya kembali ke level 0,03%, kembali memburuk pada September 2024 sebesar 0,12%.

    Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan tren utang yang meningkat merupakan salah satu tanda daya beli yang menurun. Dia menyebut total penyaluran pinjol selama enam tahun terakhir lebih dari Rp 700 triliun. Sebagian besar digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

    “Sebagian besar untuk kebutuhan konsumsi yang berarti masyarakat terpaksa meminjam uang karena penghasilan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian, deflasi disebabkan demand pull inflation-nya rendah. Artinya sisi permintaan belum bisa mendorong harga barang jasa naik,” kata Bhima kepada detikcom, dikutip Jumat (11/10/2024).

    Adapun tanda daya beli lainnya, yakni disposable income terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita semakin turun. Menurutnya, hal ini menunjukkan uang yang bisa dibelanjakan masyarakat rata-rata menurun.

    Selain itu, semakin banyak masyarakat bekerja di sektor informal, seperti ojek online atau kurir paket. Hal ini terjadi lantaran menyusutnya lapangan kerja formal, khususnya di sektor industri.

    “⁠Bank Indonesia per Juli 2024 mencatat rata-rata tabungan rumah tangga tiap rekening bank tercatat senilai Rp 4,28 juta. Angka tersebut mengalami penurunan dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 6,3% (YoY). Indikator masyarakat makan tabungan,” terangnya.

    Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan transaksi pinjol, paylater, bahkan judi online (judol) meningkat pesat usai pandemi.

    “Setelah pandemi fenomena peningkatan secara pesat kalau transaksi pinjaman online, paylater termasuk judi online. Susah untuk meng-counter bahwa kondisi sekarang
    daya beli masyarakat tidak turun,” katanya kepada detikcom.

    Selain itu, dia juga bilang indikator daya beli menurun, seperti jumlah tabungan mengalami penurunan, terutama di rekening di bawah Rp 100 juta. Menurutnya, 99% tabungan masyarakat Indonesia di bawah Rp 100 juta.

    “Jumlah spending masyarakat kelas menengah itu turun. Dari range kelas menengah antara 2-10 juta ke kelas di bawah 2 juta. Turun hampir 10 juta orang. Ada juga upah riil di semester pertama 2024 tumbuh hanya 0,07%, angkanya bawah jauh di atas pertumbuhan ekonomi. Bahkan di tahun 2023 kontraksi, minus. Jadi, dari sekian banyak indikator bisa disimpulkan pemerintah perlu membalikkan keadaan,” imbuhnya.

    (rrd/rrd)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah Haji Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad Ekonomi Bisnis baca koran
    ilustrasi sumber : unsplash.com / adeolu eletu