Tag: Corona

  • Narasi Bitcoin dan Panik Corona

    Apapun bentuk narasi Bitcoin yang Anda simpan dan Anda harapkan, tetap saja panik Corona menjadikannya tak pasti. Tak ada konstanta (nilai baku) di Bitcoin. Tetapi, bergaul dengan sejumlah penghayat Bitcoin, Anda akan menemukan narasi utama ini: saat-saat seperti itulah tujuan aset kripto itu dibuat.

    OLEH: Vinsensius Sitepu
    Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id

    Kalimat ini sangat bermakna: “kepanikan virus Corona tidak peduli dengan narasi Bitcoin Anda.” Ketika virus Corona di Tiongkok mereda, lalu menyebar masif di negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS), masih ada yang berpendapat bahwa saham akan runtuh dan Bitcoin sebaliknya.

    Namun, yang terjadi tidak diduga, kedua instrumen bernilai itu sama-sama jatuh. Kita pun menghabiskan waktu dengan neraka pada 12-13 Maret 2020 lalu. Ambyar!

    Melihat sejumlah sinyal eksternal, beberapa jam sebelum harga Bitcoin jatuh, saya menulis tulisan ini: Bitcoin Undur Diri, Sekian dan Terima Gaji.

    Pun tepat ketika Bitcoin menyentuh kisaran Rp64.992.000 per Bitcoin, naluri spekulasi saya membuncah. Saya pun masuk membeli Bitcoin setara Rp747.757. Jadilah saya dapat Bitcoin di harga sangat murah 0,01150536 BTC. Asyik!

    Namun, situasi itu tak lama berlangsung, hingga Kamis, 19 Maret lalu. Indeks saham di AS terjepit menguat tipis, sedangkan Bitcoin melesat lebih dari 50 persen. Jadilah saya menjual Bitcoin itu di harga Rp93 juta per BTC pada 19 Maret 2020. Asyik! (lagi). Sejak itu, harga Bitcoin terus melambung di atas Rp100 juta.

    BERITA TERKAIT  Bitcoin Bisa sebagai Safe Haven Asalkan…

    Sekali lagi, ini tak diduga, tapi patut ditafsirkan, bahwa arus uang lebih banyak mengalir ke Bitcoin, sebagian ke emas dan sebagian lagi di saham.

    Tentu ini mengingatkan kita kembali ke pesan masa lalu oleh Satoshi Nakamoto, ketika ia menciptakan Bitcoin. Ketika itu di masa-masa krisis 2008-2009.

    Dia menulis pesan ini dalam blok transaksi perdana Bitcoin pada 4 Januari 2009: “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on the brink of a second bailout for banks.” Pesan itu, mengutip judul berita utama (headline) surat kabar Inggris, The Times, ketika Bank Sentral Inggris memutuskan memberikan dana talangan kepada bank-bank yang sedang bangkrut.

    A Deep Dive Into Satoshi's 11-Year Old Bitcoin Genesis Block

    Image result for Chancellor on the brink

    Satoshi Nakamoto tidak pernah menjelaskan apa arti pesan ini. Namun, sulit untuk tidak melihat bahwa Bitcoin adalah reaksi terhadap krisis keuangan global di kala itu, yang dimulai pada September 2008.

    “Kita akan terkejut ketika Bitcoin turun di situasi seperti ini. Kita berharap sebaliknya,” kata Brian Armstrong, CEO Coinbase di Twitter pada 9 Maret 2020. Beberapa hari setelah itu, 12-13 Maret 2020, Bitcoin terbantai, kehilangan nilainya lebih dari 40 persen.

    Namun, kurang dari 7 hari, pada 19 Maret 2020 malam hari, Bitcoin terbang ke angkasa, naik lebih dari 50 persen. Impas!

    Dalam praktiknya, seperti kita ketahui bersama, Bitcoin terlalu lambat dan tidak efisien untuk bertindak seperti uang elektronik biasa, karena dia naik-turun lebih cepat daripada harga emas.

    Sebaliknya, banyak penggemar dan penghayatnya saat ini melihatnya sebagai bentuk “emas digital.” Emas asli telah lama dianggap sebagai penyimpan nilai yang andal, dan investor cenderung melihatnya sebagai bentuk asuransi terhadap penurunan ekonomi.

    Jadi, dalam usianya masih muda itu, Bitcoin telah berubah dari aset yang sangat tidak jelas, yang sebagian besar dimiliki oleh orang sangat percaya menjadi “sekadar aset keuangan lainnya.”

    Mengingat krisis keuangan global terbaru, Bitcoin mungkin tidak terlihat seperti tempat yang aman. Tetapi dalam konteks lain, seperti di negara-negara dengan inflasi tinggi, seperti Venezuela, Bitcoin adalah sebaliknya, setidaknya dibandingkan dengan mata uang nasional.

    Mari kita berandai-andai. Satu dekade dari sekarang, seberapa berbedakah Bitcoin akan terlihat sebagai aset? Akankah masih lebih seperti emas digital daripada uang digital?

    Siapa yang akan berinvestasi di dalamnya, dan mengapa? Apakah Bitcoin terikat untuk terus berubah bersama dengan faktor-faktor itu? Begitu juga gagasan tentang peran yang dapat dimainkannya bagi investor dan di masyarakat, “safe haven” atau tidak?

    Pun setelah Halving, masih banyak pertanyaan yang terus menghujam kita, karena Bitcoin belum pernah melalui masa-masa kritis absolut seperti ini. Sebuah pelajaran untuk masa depan. Dan semoga para penambang Bitcoin masih kuat mental dan kuat modal. [vins]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jaringan ATM Crypto AS Membantu Gerakan Social Distancing

    Bitcoin Depot, operator jaringan ATM Bitcoin terbesar di dunia, telah mulai mematikan beberapa mesinya dalam upaya menghentikan penyebaran Covid-19.

    Mengingat sebagian besar penduduk dunia berada dalam masa karantina, Bitcoin Depor memilih untuk sementara menonaktifkan ATM Crypto yang berada pada daerah tinggi pengguna. Perusahaan ini ikut berpartisipasi dalam Gerakan Social Distancing yang dianjurkan WHO untuk dilakukan di seluruh dunia.

    “Kami akan terus memantau situasi. Diperkirakan jumlah lokasi yang harus offline sementara akan meningkat,” direktur pengembangan produk Bitcoin Depot, Alona Lubovnaya.

    Melalui surat elektronik kepada Cointelegraph, Lubovnaya juga menambahkan:

    “Kami terus memantau lokasi (yang masih aktif digunakan) yang menghambat pengguna kami dalam melakukan Social Distancing. Kami memperkirakan 10% dari mesin kami akan dikunci untuk sementara waktu hingga akhir April, atau sampai pemberitahuan lebih lanjut.”

    Bitcoin Depot tercatat memiliki lebih dari 600 ATM Bitcoin, atau disebut BTM, dalam jaringan yang mencakup 25 Negara Bagian AS.

    ATM Crypto Sedang Naik Daun

    Dalam beberapa tahun terakhir, nomor ATM Crypto telah berkembang secara global. Mesin ini memungkinkan penggunanya untuk melakukan trading dollar fiat untuk cryptocurrency di mesin fisik di seluruh dunia.

    Pada awal Maret 2019, berdasarkan data dari CoinATMRadar, dunia berbangga diri dengan munculnya 7.014 mesin BTM. Jumlah itu lalu berkembang menjadi 7.384 mesin BTM saat waktu peluncuran.

    “Tujuan kami adalah untuk berkontribusi pada keselamatan dan kesehatan pengguna kami. Dengan tetap mempertahankan protokol yang tinggi terkait dengan kebersihan mesin kami,” ujar CEO Depot Bitcoin, Brandon Mintz, terkait pandemi global Covid-19.

    Mintz juga menambahkan

    “Dalam hal ini, artinya mematikan BTM tertentu untuk mencegah penyebaran pandemi saat ini. Kami berharap operator ATM Bitcoin lainnya akan mengikuti langkah kami dan melakukan segala daya untuk menjaga pengguna tetap aman.”

    Baca Juga: Game AR berhadiah Crypto Ini Bantu Promosikan Social Distancing

    Aset Digital Menciptakan Dorongan Social Distancing

    Sudah sejak awal, konsep cryptocurrency memang tidak membutuhkan pertemuan sosial. Pengguna dapat mengirim dana atau nilai tertentu secara langsung dari satu orang atau entitas ke orang atau entitas lainnya, tanpa perlu untuk bertemu mereka.

    ATM Bitcoin memiliki tujuan untuk memungkinkan para penggunanya membeli dan menguangkan aset Blockchain mereka. Hal ini membantu memperluas akses pembayaran digital tanpa perlu transaksi bank, yang banyak diantaranya tidak dapat melakukan transaksi online. Selain itu, ATM Bitcoin juga dapat mengaktifkan pembayaran di perusahaan yang tidak menerima mata uang virtual.

    Namun, jika tetap digunakan ATM Bitcoin akan memaksa pengguna untuk melakukan kontak dekat, apalagi ketika pengguna berada di tempat-tempat dengan aktivitas sosial tinggi, seperti mal. Layar dan tombol pada ATM Bitcoin dapat menjadi sarang penyebaran virus dan penyakit jika tidak dijaga kebersihannya.

    Bitcoin Depot telah mengerahkan tim khusus untuk menonaktifkan mesin selama pandemi ini berlangsung. “Kami memiliki teknisi lapangan terbaik yang bekerja tanpa lelah untuk mendesinfeksikan dan membersihkan BTM kami yang terkena dampak,” ujar Lubovnaya.

    Baru-baru ini, Presiden AS memperpanjang masa penutupan darurat semua bisnis dari 12 April hingga akhir bulan April 2020.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Blockchain dan AI Dikombinasikan untuk Melawan Covid-19

    Di tengah-tengah banyaknya kasus Covid-19 yang meluas hingga ke penjuru dunia, para pelaku teknologi nampaknya tidak akan diam begitu saja melihat keadaan dan kondisi saat ini. Sebab, kemudahan dan kecepatan akses menjadi salah satu hal yang bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19.Hal yang bisa dilakukan adalah mempercepat dan melacak proses produksi obat-obatan di manufaktur farmasi seperti yang dilakukan oleh Mateon Therapeutics, perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan.

    Perusahaan kesehatan ini bermitra dengan Meridian IT, yang mengembangkan penggunaan platform blockchain  agar sesuai dengan proses pembuatan obat-obatan sesuai dengan ketentuan Food and Drug Administration (FDA), sebuah badan pengawas makanan dan obat-obatan di Amerika Serikat.

    Yang mana, hal ini bertujuan agar produsen bisa mencapai tingkat Return of Investment (ROI) dengan memangkas biaya tenaga kerja. Namun tetap mempercepat produksi obat-obatan. Ini menjadi salah satu hal yang penting dalam memerangi Covid-19.

    Hal ini dirasa penting untuk semakin mempercepat dan meningkatkan produktifitas pembuatan obat-obatan, sebab, saat ini masih banyak produsen obat yang memproduksi obat-obatannya secara manual, yang terkadang proses pembuatannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku oleh FDA.

    Divisi AI Mateon yakni EdgePoint, akan menyediakan mesin teknologi AI untuk platform di Mateon, di mana layaknya toko-toko otomatis tanpa kasir yang sudah dimplementasikan oleh EdgePoint di Amazon Go Store.

    Di mana, teknologi yang digunakan di Amazon Go Store, ingin coba digunakan dalam industri manufaktur farmasi untuk produk utama milik Mateon yakni OT-101, yang diuji untuk Covid-19.

    Jadi, Meridian IT akan membantu proses produksi obat-obatan di lantai produksi untuk produk farmasi dengan bantuan blockchain agar bisa melacak produk-produknya dengan secara cepat dan akurat dan mengefisiensikan proses kerja namun tetap sesuai dengan ketentuan FDA.

    Platform Meridian IT dan Mateon yang dikembangkan sudah memiliki kesepakatan kerja sama oleh perusahaan manufaktur obat-obatan, iBIO Inc, yang berguna untuk menguji dan mengotomasikan prosedur-prosedur proses produksi obat-obatan di perusahaan tersebut. Pihak perusahaan iBIO Inc ingin melihat dan mengetahui terlebih dahulu utilitas atau manfaat dari teknologi blockchain dan AI machine yang dipasang di area lantai produksi mereka.

    Hal ingin dilihat oleh iBIO Inc, adalah tingkat ROI dari pemasangan mesin AI, biaya langganan, dan biaya transaksi. Agar mereka benar-benar memiliki gambaran bahwa memang penggunaan mesin AI yang dikembangkan Mateon dan Meridian IT bisa mempercepat proses produksi obat-obatan dengan memangkas biaya tenaga kerja. Sebab, proses kerja sudah diawasi oleh blockchain dan AI machine yang sesuai dengan prosedur-prosedur pembuatan produk farmasi di manufaktur yang berlaku.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Cara Blockchain Menghadapi Virus Corona

    Ketika wabah Covid-19 semakin meluas, peran supply chain managementsemakin dibutuhkan untuk memastikan bahwa suplai produk-produk farmasi untuk membantu para pasien yang terinfeksi virus corona (Covid-19) menjadi kian penting saja.

    Masalah-masalah yang dihadapi untuk melawan Covid-19 adalah kebutuhan produk, kredibilitas pemasok, pembayaran, sertifikasi dari bea cukai, dan pelacakan transportasi. Dari kelima tantangan tersebut, teknologi blockchain dapat memberikan solusinya antara lain:

    1. Kebutuhan produk, blockchain memberikan sebuah mekanisme untuk sistem kesehatan guna secara berkala memperbaruhi kebutuhan produk kesehatan dan spesifikasinya, hampir seperti production auction.
    2. Kredibilitas pemasok, memberikan cara bagi sistem kesehatan untuk menilai secara kredibel pabrik mana yang memiliki kontrol kualitas paling tinggi, dan memenuhi spesifikasi dan volume produksi yang dibutuhkan.
    3. Pembayaran, membantu proses pembayaran di muka, untuk pabrik-pabrik yang bisa langsung digunakan oleh para pabrik untuk memulai proses produksi kebutuhan farmasi yang telah disepakati sebelum dan ketika proses suplai bergerak ke langkah selanjutnya dari rantai pasokan yang terjadi.
    4. Sertifikasi Bea Cukai, pendistribusian obat-obatan dan peralatan medisnya pasti harus melalui departemen bea cukai. Hal ini akan dibantu oleh blockchain dengan sertifikasi bea cukai digital, yang dapat digunakan untuk mengatur kegiatan ekpor dan impor.
    5. Pelacakan Transportasi, persediaan obat-obatan harus dapat dilacak oleh seluruh dunia untuk memastikan transparansi dalam rantai pasokan, yang dapat dilakukan oleh blockchain.

    Blockchain memang merupakan salah satu teknologi yang sangat bisa diandalkan dalam kegiatan rantai pasok di sebuah perusahaan, khususnya untuk mengawasi transparansi dari masing-masing titik rantai pasok dan memastikan bahwa produk-produk yang diproduksi di perusahaan manufaktur farmasi sesuai dengan badan pengawas obat-obatan yang berlaku. Di mana, ketika salah satu titik rantai pasok tidak sesuai dengan prosedur yang telah diatur dalam blockchain, proses rantai pasok tersebut tidak bisa melanjutkan kegiatannya ke langkah selanjutnya.  Karena, hal ini bisa mengurangi bottleneck, yang menyebabkan adanya penundaan saat proses produksi dan suplai sehingga membuat distribusi produk-produk farmasi menjadi terganggu karena panjangnya antrian. Karena tidak adanya sistem manufaktur kesehatan yang mampu mengawasi setiap prosedur-prosedur produksi di pabrik.

    Contoh Kasus Penggunaan Blockchain untuk Melacak Produk Farmasi Demi Mengatasi Virus Corona

    Seperti yang sudah dilakukan oleh Mateon dan Meridian IT, yang menggabungkan AI dan blockchain agar bisa mempercepat produksi produk farmasi yang dapat disesuaikan prosedur produksinya  di pabrik berdasarkan FDA (badan pengawas obat-obatan AS).

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Waspada! Serangan Cyber Bertema Coronavirus Bisa Kapan Saja Menyerang Komputer Anda

    Adanya kerja jarak jauh yang disebabkan oleh pandemi membuat banyak orang sepenuhnya bergantung pada komputer untuk penghidupan mereka. Namun, ada saja orang tidak bertanggung jawab memanfaatkan hal ini.

    Peretas telah mengambil keuntungan, meluncurkan “volume serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengelabui orang agar menyerahkan kredensial kepada penyerang,” menurut peneliti keamanan cyber.

    “Kami melihat kampanye dengan volume pesan hingga ratusan ribu yang memanfaatkan virus korona ini,” kata Sherrod DeGrippo, kepala penelitian ancaman untuk perusahaan keamanan Proofpoint, menurut AFP.

    DeGrippo menambahkan bahwa ini karena orang yang bekerja di rumah tidak memiliki akses ke sistem keamanan komputer yang mereka lakukan di tempat kerja.

    Dia mengatakan bahwa penipu dan peretas akan membuat trik baru untuk mengeksploitasi korban coronavirus.

    “Saya dapat melihat beberapa penyerang mengirim pesan seperti, ‘Saya di karantina dan meminta Anda membeli sesuatu untuk saya,’ atau ‘Saya ingin Anda melakukan transfer dana ini,’” tambahnya.

    Kekhawatiran DeGrippo sudah menjadi kenyataan

    Aplikasi pelacakan virus korona palsu menginfeksi komputer korban dengan malware. Salah satu bagian malware adalah Coronavirus tracking map yang mengambil data dari Universitas Johns Hopkins yaitu mencuri informasi pribadi dari komputer korban dan menjualnya di web gelap.

    Coronavirus tracking map menginfeksi komputer

    Khawatir tentang terinfeksi oleh coronavirus? Perluas kekhawatiran itu ke komputer Anda. Anda mungkin membutuhkan software tambahan untuk melindungi komputer dari serangan cyber Coronavirus.

    Tidak hanya menginveksi, melainkan juga meminta bayaran seperti, untuk mengekspos akun media sosial dan menghapus file di ponsel kecuali jika korban membayar $ 100 dalam Bitcoin.

    Dalam penipuan lain, penipu meminta pembayaran Bitcoin atau sumbangan palsu kepada Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, menurut National Fraud Intelligence Bureau (NFIB).

    “Mereka mengklaim dapat menyediakan daftar orang yang terinfeksi coronavirus di daerah mereka,” kata NFIB kepada The Guardian.

    DeGrippo menyarankan agar penggunaan komputer terpisah sehingga tidak terjadi kontaminasi silang. “Menyimpan komputer yang digunakan oleh orang tua dari jangkauan anak-anak adalah langkah pencegahan yang tepat untuk dilakukan,” katanya.
    Dari trik-trik baru itu, DeGrippo mengatakan: “Ini mengambil manfaat dari umat manusia pada titik yang paling rentan dan mencoba menggunakannya untuk keuntungan finansial.”

    Andai saja para scammer memiliki hati nurani. Pasti dunia tidak akan lebih sulit saat mengalami pandemic global seperti ini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mirip COVID-19, Ini Penyakit yang Lagi Ngegas Hampir 2 Juta Kasus di DKI!


    Jakarta

    Dinas Kesehatan DKI Jakarta membuka data kenaikan kasus penyakit di balik ramai warga yang merasa tak kunjung sembuh dari gejala batuk, pilek, hingga keluhan lain menyerupai COVID-19.

    Kepala Dinkes DKI Ani Ruspitawati menyebut sebetulnya tidak ada peningkatan kasus tertentu yang relatif berbeda dari tahun ke tahun. Di tengah cuaca tak menentu, wajar keluhan semacam itu banyak dilaporkan.

    Penyakit Apa yang Lagi Melonjak?


    Namun, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) tercatat memang tengah melonjak, terlihat sejak periode Juli. Meski begitu, tren ini sebenarnya dilaporkan setiap tahun.

    “Total kasus ISPA di DKI Jakarta hingga Oktober 2025 sebesar 1.966.308. Peningkatan kasus terlihat mulai bulan Juli. ISPA merupakan penyakit tertinggi di Puskesmas karena penularannya sangat mudah, yakni melalui droplet dan aerosol,” tutur Ani kepada detikcom Kamis (16/10/2025).

    Peningkatan kasus ISPA disebut Ani juga bisa berkaitan dengan imunitas yang turun di masyarakat.

    Ani mewanti-wanti gejala ISPA yang kerap muncul yakni batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga demam. Gejalanya bisa dibarengi dengan keluhan hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, bersin, dan suara serak.

    “Pada kasus ISPA yang lebih berat, gejala dapat mencakup sesak napas, yang membutuhkan penanganan segera,” wanti-wantinya.

    Meski begitu, masyarakat dinilai tidak perlu khawatir mengingat penyakit saluran napas seperti ISPA dapat dicegah dengan menjalani Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Berikut imbauannya:

    • Mencuci tangan dengan sabun
    • Menghindari kerumunan
    • Memakai masker saat beraktivitas di ruangan padat maupun di luar ruangan dengan banyak orang berkerumun
    • Menerapkan etika batuk dan bersin
    • Segera akses layanan kesehatan jika ada gejala batuk pilek
    • Membatasi aktivitas saat sakit
    • Menghindari asap rokok
    • Meningkatkan imunitas dengan makan makanan bergizi, istirahat cukup, olahraga rutin serta kelola stres.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Setelah Gencatan Senjata, 300 Ribu Siswa di Gaza Kembali Bersekolah



    Gaza

    Sekitar 300.000 siswa Palestina mulai kembali bersekolah di Gaza pada Sabtu (18/10/2025) di bawah naungan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Meskipun blokade Israel terus mencegah masuknya bantuan ratusan juta dolar ke wilayah tersebut.

    Adnan Abu Hasna, Penasihat Media UNRWA mengatakan bahwa badan tersebut telah menyusun rencan untuk melanjutkan proses pendidikan bagi 300.000 siswa Palestina di UNRWA. Dan menambahkan bahwa jumlah tersebut kemungkinan akan meningkat.

    Dilansir dalam Saudi Gazette (18/10/2025), sekitar 10.000 siswa akan menghadiri kelas tatap muka di sekolah dan tempat penampungan sementara dan sebagian besar akan menerima pembelajaran jarak jauh.


    “Sangat mustahil untuk menjalani dua tahun tanpa sekolah, didahului oleh dua tahun pandemi Corona,” kata Abu Hasna, seraya menambahkan bahwa 8.000 guru akan berpartisipasi dalam program tersebut.

    Pendidikan di Gaza telah dihentikan sejak 8 Oktober 2023, menyusul dimulainya perang Israel di wilayah tersebut. Banyak sekolah telah dihancurkan atau diubah menjadi tempat penampungan bagi keluarga-keluarga pengungsi.

    Menurut Kementerian Pendidikan Palestina, Israel telah menghancurkan 172 sekolah negeri, merusak 118 sekolah lainnya, dan menghantam lebih dari 100 sekolah yang dikelola UNRWA sejak konflik dimulai.

    Kementerian tersebut menyatakan 17.711 siswa tewas dan 25.897 terluka, sementara 763 pegawai sektor pendidikan kehilangan nyawa.

    Abu Hasna mengatakan UNRWA juga berencana untuk merevitalisasi 22 klinik pusat di Gaza dan terus mengoperasikan puluhan titik distribusi makanan dengan ribuan staf. Namun, ia mengatakan bahwa pasokan penting masih terhambat di luar Gaza.

    “Banyak kebutuhan pokok, termasuk bahan bangunan tempat tinggal, selimut, pakaian musim dingin, dan obat-obatan, tidak diizinkan masuk ke Gaza dari pihak Israel, sehingga memperburuk situasi kemanusiaan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa 95% penduduk Gaza kini bergantung pada bantuan kemanusiaan.

    Ia memperingatkan bahwa ratusan ribu pengungsi masih hidup di tempat terbuka setelah kembali ke Kota Gaza menyusul gencatan senjata 10 Oktober antara Israel dan Hamas.

    Perjanjian gencatan senjata, yang didasarkan pada rencana yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump, mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan tahanan Palestina dan kerangka kerja untuk membangun kembali Gaza di bawah mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.

    Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 68.000 warga Palestina di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sehingga wilayah tersebut sebagian besar tidak dapat dihuni.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com