Tag: covid

  • Bos BCA Sebut Pinjol dan Judi Online Bikin Daya Beli Lesu!


    Jakarta

    Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengungkap bahwa maraknya pinjaman online (pinjol) dan judi online telah menggerus daya beli masyarakat. Hadirnya pinjol semakin diminati setelah pandemi COVID-19.

    Jahja mengatakan tren pinjol ini bahkan membuat banyak orang melakukan pinjaman lebih dari satu platform, sehingga utang bisa menggunung. Dia mengungkap bahwa satu orang bisa menggunakan 20 platform pinjol.

    “Karena mudah sekali, KTP apa dikasih langsung dia pinjam. Apakah legal atau illegal? Nasabah atau masyarakat mana mau tahu. Yang penting saya dapat pinjaman. Nah, bayarnya kumaha engke. Mulainya mungkin dari kecil dari Rp 500 ribu, Rp 1 juta, Rp 2 juta. Tapi karena muter. Ini gali lubang tutup lubang,” kata dia saat dalam peluncuran BCA UMKM Fest di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (7/8/2024).


    Namun gaya hidup seperti itu yang membuat masyarakat pun kehilangan harapan karena kesulitan membayar utangnya. Di sisi lain mereka juga harus memenuhi kebutuhan pokok mereka.

    “Dulu orang gampang pinjam, tetapi nggak bayar. Artinya dia pinjam tidak sesuai dengan income yang dia peroleh sebenarnya. Untuk kebutuhan apa? Kita nggak tahu lah, untuk macam-macam. Sekarang orang hidupnya hopeless,” jelas dia.

    Meski begitu, kini keberadaan pinjol juga telah diperketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terutama yang ilegal. Jadi saat ini keberadaan pinjol telah berkurang.

    “Sekarang kalau kita lihat sudah jauh berkurang dan secara ketat OJK pun melarang pinjol-pinjol yang tidak resmi. Ya jadi saya pikir ini suatu hal juga perkembangan yang kadang-kadang kita tidak sadari,” terangnya.

    Setelah hadirnya pinjol, sekarang juga sedang marak judi online yang membuat sebagian masyarakat kecanduan. Masalah ini juga menyeret perbankan karena diindikasi banyak orang yang menggunakan transaksi melalui bank untuk judi online.

    “Nah hadirlah namanya si judi online. Ini yang lagi ngetop. Top markotop topik. Bahkan bank di bawa-bawa. Padahal banyak sekali cara orang judi online bukan hanya bank. Ada e-commerce, ada e-wallet-e-wallet, ada juga tunai gitu ya. Banyak sekali yang tidak terdeteksi juga,” ungkap dia.

    Menurut Jahja, sejumlah aspek itulah yang kini menggerus daya beli masyarakat karena terlilit tanggungan akibat gaya hidup tidak sehat dari pinjol dan judi online. Penurunan daya beli masyarakat ini juga disebut telah dirasakan oleh pelaku usaha besar.

    “Nah ini semua menggerogoti daya beli masyarakat. Ini menyebabkan memang terasa sekali. Bahkan bukan hanya, yang menengah saja, beberapa hari yang lalu saya ada lunch bersama beberapa yang lumayan besar. Mereka bilang, teman-teman kita udah hilang, kita dagang, kita rugi,” ujarnya.

    (ada/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Santai Bisa, Olahraga Boleh di Tengah Kawasan Bisnis Jaksel



    Jakarta

    Ada spot asyik untuk nongkrong sekaligus olahraga ada di tengah kawasan bisnis di bilangan Jakarta. Dengan view gedung-gedung pencakar langit membuat tempat ini bak berada di luar negeri.

    River Walk Epicentrum, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan ini begitu ikonik dan kerap dijadikan tempat untuk bersantai di tengah kota. detikTravel pun mendatangi area yang dibangun oleh mantan orang nomor satu di Jawa Barat kala itu, Ridwan Kamil.

    Di tahun 2005 sebelum menjadi Gubernur Jabar, RK bersama tim yang lain bekerja sama membangun tempat yang indah ini. Didapuk sebagai arsitek dengan tangan dinginnya ia menyulap area kosong jadi tempat yang kini banyak didatangi orang-orang.


    Menurut petugas keamanan wilayah Epicentrum, Purnama, mengatakan River Walk Epicentrum ini banyak dijadikan arena olahraga dan juga bersantai-santai.

    “Beres (adzan) ashar tuh jam-jam empatan mulai banyak yang lari satu, dua, tiga orang, nanti jam lima udah mulai rame. Kalau pagi orang-orang biasa lari di sini jam setengah enam,” kata Purnama kepada detikTravel, Selasa (30/7/2024).

    Menurut Purnama yang menikmati tempat ini bukan hanya warga apartemen di sekitaran River Walk Epicentrum saja, tapi juga warga-warga lainnya di sekitar wilayah ini juga kerap menikmati hari ini di sini. Terlebih, saat akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu.

    “Kalau Sabtu-Minggu apalagi wah… orang-orang kampung pada ke sini, ada yang bawa anak, rame lah. Sabtu pagi atau Minggu pagi tuh rame,” ujarnya.

    Ia juga mengingat masa sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang ini berbeda. Kala itu Purnama menuturkan lebih banyak lagi masyarakat yang berkunjung ke River Walk Epicentrum ini.

    Memang kawasan River Walk Epicentrum ini menyuguhkan tempat yang sejuk walaupun terletak di tengah jalan dan berada di samping Kali Cideng. Yang menariknya kebersihan kali di River Walk Epicentrum yang panjangnya sekitar 500 meter dengan lebar 8 meter ini terbilang cukup bersih dan tidak tercium bau apapun.

    “Efek sebelum pandemi sama setelah pandemi beda jauh, dulu sebelum pandemi buset widih dari mana-mana datang ke sini. Orang-orang dari luar (kawasan Epicentrum) parkir motor, mobilnya di mana gitu terus ke sini, sekarang udah jarang nggak kaya dulu lagi,” kata dia.

    Lelaki yang telah bertugas kawasan ini dari tahun 2016 itu, melanjutkan kalau banyak masyarakat yang menikmati River Walk Epicentrum ini hingga malam hari. Kawasan ini memang tak ada jam operasional, akan selalu hidup 24 jam.

    “Nggak ada, ini kan 24 jam kawasan ini tuh. Selalu open 24 jam nggak ada penutupan, pembatasan nggak ada,” ujar dia.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Depok Open Space, Ruang Terbuka Gratis Biar Warga Depok Nggak Miskin Gerak



    Depok

    Tempat kumpul warga Depok pelan-pelan bertambah. Selain alun-alun, ada Depok Open Space (DOS) yang bisa jadi pilihan.

    DOS diresmikan pada Desember tahun 2023 di tanah seluas 2.444 meter persegi, tepat di depan Walikota Depok. DOS dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti taman air mancur, taman bermain anak, dua tribun, panggung dan perpustakaan mini.

    Saat dikunjungi detikTravel beberapa waktu lalu, DOS tampak ramai oleh pengunjung. Kebanyakan adalah anak sekolah yang sedang memanfaatkan fasilitas jogging track. Langit tampak mendung, namun pengunjung berdatangan untuk sekadar lari sore.


    Pak Bambang, seorang guru budaya dari Sekolah Master Indonesia mengajak anak muridnya untuk melakukan jalan sore. Ia begitu bersyukur dengan adanya fasilitas ini.

    Depok Open SpaceDepok Open Space Foto: (Agung Pambudhy/detikFoto)

    “Semenjak Covid, anak-anak ini jadi ‘miskin gerak’. Kami ke sini untuk ganti suasana selain di sekolah, biar anak-anak juga punya pengalaman,” ucapnya.

    Selain fasilitas lapangan, ia juga kerap membawa murid-muridnya ke perpustakaan mini. Di sana mereka diedukasi untuk lebih melek dengan dunia lewat buku.

    Depok Open SpaceDepok Open Space Foto: (Agung Pambudhy/detikFoto)

    Lapangan makin ramai, sekelompok anak laki-laki terlihat latihan di bagian tribun. Ternyata mereka adalah atlet muda Depok. Fajar (16), Reyvan (16) dan tiga temannya asyik melatih koordinasi tubuh di sana.

    Tak berapa lama, rintik hujan membasahi bumi. Semua berlarian ke area teduh yang tersedia di pinggir lapangan. Di sana, tim detikTravel mengobrol dengan kelompok atlet muda itu.

    Depok Open SpaceDepok Open Space Foto: (Agung Pambudhy/detikFoto)

    “Kami jarang ke sini sebenarnya, tapi lumayan enak kok di sini,” kata Fajar.

    Atlet yang tergabung dengan PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) itu mengatakan bahwa tanggal 24 Mei mereka akan berangkat untuk berlomba di tingkat kota.

    “Di sini enak, tapi belokannya terlalu tajam terus lebarnya nanggung,” ungkap Reyvan. Dalam pandangan atlet, lapangan jogging ini masih perlu diperbesar lagi, agar bisa dipakai oleh semua kalangan.

    Depok Open SpaceDepok Open Space Foto: (Agung Pambudhy/detikFoto)

    Maklum, sampai saat ini Depok belum memiliki lapangan standar untuk atlet atletik, sehingga ia dan teman-temannya cukup sulit untuk latihan secara profesional.

    “Karpet track-nya udah enak kok buat lari, tapi nanggung buat sprint. Nggak ada tanda start-finish dan panjang lintasan,” jawabnya lengkap.

    Depok Open SpaceDepok Open Space Foto: (Agung Pambudhy/detikFoto)

    Terakhir ada Indah (30) dan Amel (25), sebagai warga sipil mereka sangat senang degan adanya DOS. Mereka biasa datang ke sana untuk lari sore.

    “Fasilitasnya udah bagus, tapi toiletnya jauh harus ke masjid,” ucap Indah.

    DOS beralamat di Jl. Margonda Raya No.54, Depok, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok. Ruang terbuka ini buka 24 jam setiap hari.

    Depok Open SpaceDepok Open Space Foto: (Agung Pambudhy/detikFoto)

    (bnl/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah Omah Dhemit di Klaten: Dikenal Angker-Banyak Kejadian Aneh



    Klaten

    Di Klaten, ada sebuah bangunan kuno yang dikenal sebagai Omah Dhemit oleh warga setempat. Bangunan itu dikenal angker dan banyak kejadian di luar nalar.

    Lokasi Omah Dhemit itu diketahui berada di dusun Mojo Pereng, desa Krakitan, kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Jika diartikan ke bahasa Indonesia, Omah Dhemit berarti Rumah Setan.

    Bangunan itu mendapat julukan yang seram karena letaknya memang tidak lazim. Omah Dhemit bukan rumah di perkampungan pada umumnya.


    Bangunan kecil yang berukuran hanya sekitar 3×3 meter itu berdiri di atas batu kapur yang menjulang tinggi. Batu kapur putih itu tingginya sekitar 30-40 meter dari permukaan tanah.

    Letak bangunan yang berada di atas ketinggian membuat omah dhemit terlihat jelas dari kejauhan, baik dari jalan raya ke arah Rawa Jombor maupun dari desa sekitar.

    Di kanan kiri bukit adalah jurang menganga dan tidak ada tangga menuju ke puncaknya. Di sisi selatan sekitar 10 meter terdapat perbukitan kapur yang dulu menjadi objek wisata Bukit Patrum.

    Jika dari kejauhan, sekilas omah dhemit dan bukit Patrum terlihat seperti kura-kura dengan kepala mendongak. Bukit Patrum sebagai tubuh kura-kura, sedangkan omah dhemit seperti kepalanya.

    Penampakan bangunan bersejarah Omah Demit di Krakitan, Klaten, Rabu (26/3/2025).Penampakan bangunan bersejarah Omah Demit di Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

    Karena letaknya dikelilingi rimbun pepohonan, dari kejauhan Omah Dhemit terkesan mistis dan menyeramkan. Namun benarkah banyak dhemit di bangunan itu?

    “Karena letaknya begitu diarani akeh dhemite (disangka banyak hantunya), yang viral juga nyebut omah dhemit. Yang di sini padahal biasa saja,” ungkap warga yang tinggal di dekat omah dhemit, Saiman Hartono (55).

    Diceritakan Saiman, omah dhemit itu sebenarnya bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Pada waktu itu fungsinya digunakan untuk gudang dinamit. Dinamit itu bahan peledak yang digunakan untuk tambang batu kapur.

    “Itu rumah kan gudang dinamit, maka bukit di sebelahnya disebut bukit Patrum (dinamit/peledak) untuk nambang batu kapur. Batu kapur itu dibawa ke PG Gondang,” tutur Saiman.

    Dulu, kata Saiman, di sekitar bukit ada rel lori kereta yang digunakan untuk mengangkut batu kapur ke PG Gondang (di Kecamatan Kebonarum berdiri 1860). Pengambilan batu kapur sampai tahun 1995.

    “Tahun 1995 batu kapur mulai berhenti diambil, sempat untuk tambang batu gamping (bahan bangunan). Sejak dulu bentuk Omah Dhemit ya begitu, bukan dibuat-buat, kawit mbah (sejak nenek) saya juga begitu,” terang Saiman.

    Konon, sebut Saiman, ada cerita ada orang yang mau merobohkan omah dhemit tapi tidak bisa. Untuk naik ke omah demit tidak ada akses berupa jalan atau tangga.

    “Naik ke situ tidak ada tangganya, jika manjat licin. Yang pernah naik dulu karena ada pohon tinggi di dekatnya sehingga lewatnya dahan pohon,” sambung Saiman.

    Rumah itu, kata Saiman, dibangun sudah konstruksi tembok dan tidak ada isinya. Dibangun tentu saat bukitnya masih utuh belum terisolasi seperti sekarang.

    “Dibuatnya dulu ya mungkin saat bukitnya masih utuh, kalau sudah seperti sekarang ya tidak mungkin bisa. Mau naik saja tidak bisa, apalagi membangun, sebelum ada COVID untuk wisata ramai sekali,” imbuh Saiman.

    Sugiyanto, warga Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes mengatakan sejak dulu disebut omah dhemit karena terkesan seram. Di lokasi banyak pohon, bukitnya terjal dan berlumut.

    “Sebelum dibangun (wisata) itu jalannya sulit, lumutan, terjal, ya akhirnya disebut omah dhemit. Warga sekitar ya tahunya bukit Patrum, Patrum itu dinamit karena rumah itu dulu jaman Belanda untuk nyimpen peledak,” papar Sugiyanto.

    Dulu Tambang Batu Kapur

    Bukit di Omah Dhemit itu, sebut Sugiyanto, dulu tambang batu kapur Belanda untuk pabrik gula (PG). Bahkan sampai tahun 1995-2000 masih diambil.

    “Sampai tahun 2000 masih diambil, tapi terus berhenti, lalu diambil untuk bahan bangunan. Sebelum COVID sempat jadi bagian desapolitan bersama desa sekitar tapi sekarang sepi,” katanya.

    Terpisah, Sekdes Krakitan, Kecamatan Bayat, Warsono membenarkan Omah Dhemit itu peninggalan era kolonial Belanda tempat tambang batu kapur untuk PG. Rumah digunakan untuk penyimpanan peledak.

    “Fungsinya untuk menyimpan peledak untuk tambang batu kapur untuk PG Gondang. Pernah jadi objek wisata desa yang ramai sebelum Covid,” jelas Warsono.

    “Konon cerita mbah saya, di jaman dulu pernah ada orang angon (gembala) kambing hilang, dicari tidak ketemu berhari-hari. Ternyata ditemukan di rumah itu,” imbuhnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Lagi! Barca Punya Masalah Daftarkan Pemain Baru, Kini Marcus Rashford


    Jakarta

    Barcelona dibayangi masalah tak bisa mendaftarkan pemain baru. Kini, Marcus Rashford yang terancam tak bisa didaftarkan Los Cules.

    Semenjak pandemi COVID-19 beberapa tahun silam, Barcelona mengalami masalah keuangan. Akibatnya, Lionel Messi sampai harus hengkang, sampai permasalahan mendaftarkan pemain baru selalu menjadi langganan di bursa transfer.

    Pada musim lalu, Dani Olmo dan Pau Victor yang terancam tak bisa dimainkan pada paruh kedua. Barcelona harus mengurangi beban gaji untuk bisa mendaftarkan pemain baru.


    Di La Liga, memang ada kebijakan salary cap. Barcelona sudah mencapai batas atas.

    Kini, Barcelona berpacu dengan waktu agar bisa menciptakan ruang agar Rashford bisa didatangkan. Inago Martinez dikabarkan akan dilepas Barcelona ke Al Nassr untuk memuluskan proses pendaftaran Rashford.

    Selain itu, Barcelona juga memaksa Marc-Andre ter Stegen agar pergi. Pemain asal Jerman itu cedera punggung, akan absen selama tiga bulan. Dia sebenarnya diharapkan menepi empat bulan, agar 50 persen gaji pemain 33 tahun itu bisa dialihkan untuk pemain lain.

    Pada prosesnya, Barcelona dan Ter Stegen malah terlibat konflik. Dia akan dilepas, Paris Saint-Germain yang menjadi peminatnya.

    Untuk bergabung dengan Barcelona, Rashford sudah bersedia menurunkan gajinya. Rashford digaji 325 ribu poundsterling atau setara 375 ribu euro, bersedia memangkas setengah dari bayarannya di Man United setiap pekan. Jadi, bisa segera mendaftarkan Rashford, Barcelona.

    (cas/mrp)



    Sumber : sport.detik.com

  • Cerita Diet Pria Turun 57 Kg, Begini Triknya yang Bisa Ditiru


    Jakarta

    Seorang pria asal Jerman yang tinggal di Shanghai, China bernama Thomas Derksen (36) menceritakan pengalamannya sukses menurunkan 57 kg berat badan menjadi 83 kg dalam 5 tahun. Ia mengaku berhasil menurunkan berat badannya tanpa obat dan tanpa diet ketat.

    Ia mengalami masalah berat badan sejak sekolah dasar. Ia sempat mencoba beberapa kali diet ketat dan berhasil turun, tapi akhirnya berat badannya justru naik lagi dan semakin parah. Bobot terberatnya pernah mencapai 140 kg.

    Semasa sekolah, ia sering diejek oleh teman-temannya dan Derksen menyebut itu pengalaman yang menyakitkan. Bahkan ketika sudah dewasa, dirinya masih sering menerima komentar dan saran yang tidak diminta untuk menurunkan berat badan.


    Sampai pada tahun 2020 di masa pandemi, isolasi mandiri membuatnya lebih banyak merenung soal berat badan dan kesehatan. Ini juga didorong komplikasi medis yang ia alami akibat berat badan berlebih.

    “Aku mulai menurunkan berat badan saat COVID melanda. Aku tahu harus menurunkan berat badan dan bahwa gaya hidupku tidak sehat. Aku punya masalah hati berlemak, nyeri dada, dan sendi yang sakit,” katas Derksen dikutip dari SCMP, Jumat (1/8/2025).

    Semenjak itu, Derksen jadi sering jalan-jalan, berolahraga, hingga pergi ke gym. Ia melakukan latihan kekuatan tiga kali seminggu dan kardio dua kali seminggu.

    Derksen juga selalu memilih jalan kaki jika pergi ke tempat yang jaraknya kurang dari 5 km. Menurutnya, jalan kaki adalah aktivitas fisik terbaik.

    Alih-alih diet ketat, Derksen justru makan 3-4 kali sehari tapi dengan porsi yang lebih kecil. Ia pernah mencoba intermittent fasting, tapi memutuskan berhenti karena menurutnya terlalu berat. Derksen bahkan bisa makan bebas seperti kentang dan hamburger sesekali.

    “Aku tidak pernah berkata pada diriku, ‘Kamu tidak boleh makan ini atau itu’. Sebaliknya, aku bilang, ‘Kamu boleh makan apa pun, tapi 80 persen waktunya harus makan sehat’. Pergeseran itu membuatku merasa jadi pelaku aktif, bukan pasif,” katanya.

    Dulu, ia menganggap makanan sebagai hiburan dan harus enak. Derksen kini lebih sering memasak sendiri dengan bahan sehat dan sederhana.

    Derksen tidak mempertimbangkan obat GLP-1 karena ia menyadari bahwa pola makannya selama ini bukan disebabkan oleh rasa lapar, melainkan oleh faktor emosional seperti stres atau kebosanan. Baginya, menekan nafsu makan saja tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan.

    (avk/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Mirip COVID-19, Ini Penyakit yang Lagi Ngegas Hampir 2 Juta Kasus di DKI!


    Jakarta

    Dinas Kesehatan DKI Jakarta membuka data kenaikan kasus penyakit di balik ramai warga yang merasa tak kunjung sembuh dari gejala batuk, pilek, hingga keluhan lain menyerupai COVID-19.

    Kepala Dinkes DKI Ani Ruspitawati menyebut sebetulnya tidak ada peningkatan kasus tertentu yang relatif berbeda dari tahun ke tahun. Di tengah cuaca tak menentu, wajar keluhan semacam itu banyak dilaporkan.

    Penyakit Apa yang Lagi Melonjak?


    Namun, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) tercatat memang tengah melonjak, terlihat sejak periode Juli. Meski begitu, tren ini sebenarnya dilaporkan setiap tahun.

    “Total kasus ISPA di DKI Jakarta hingga Oktober 2025 sebesar 1.966.308. Peningkatan kasus terlihat mulai bulan Juli. ISPA merupakan penyakit tertinggi di Puskesmas karena penularannya sangat mudah, yakni melalui droplet dan aerosol,” tutur Ani kepada detikcom Kamis (16/10/2025).

    Peningkatan kasus ISPA disebut Ani juga bisa berkaitan dengan imunitas yang turun di masyarakat.

    Ani mewanti-wanti gejala ISPA yang kerap muncul yakni batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga demam. Gejalanya bisa dibarengi dengan keluhan hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, bersin, dan suara serak.

    “Pada kasus ISPA yang lebih berat, gejala dapat mencakup sesak napas, yang membutuhkan penanganan segera,” wanti-wantinya.

    Meski begitu, masyarakat dinilai tidak perlu khawatir mengingat penyakit saluran napas seperti ISPA dapat dicegah dengan menjalani Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Berikut imbauannya:

    • Mencuci tangan dengan sabun
    • Menghindari kerumunan
    • Memakai masker saat beraktivitas di ruangan padat maupun di luar ruangan dengan banyak orang berkerumun
    • Menerapkan etika batuk dan bersin
    • Segera akses layanan kesehatan jika ada gejala batuk pilek
    • Membatasi aktivitas saat sakit
    • Menghindari asap rokok
    • Meningkatkan imunitas dengan makan makanan bergizi, istirahat cukup, olahraga rutin serta kelola stres.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Hampir 2 Juta Kasus Penyakit Mirip COVID Hantui DKI, Dokter Bagi Tips Cegah Tertular


    Jakarta

    Di tengah cuaca panas yang tak kunjung reda, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat lebih dari 1,9 juta kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga Oktober 2025.

    Lonjakan mulai terdeteksi sejak Juli, seiring menguatnya paparan polusi dan datangnya musim kemarau basah yang disebut sebagai pemicu utama gangguan pernapasan warga.

    Meski jumlah kasus mendekati dua juta, Dinkes DKI memastikan situasi masih dalam kondisi terkendali. Pemerintah terus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) melalui Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini (SKDR) untuk memantau potensi wabah seperti ISPA dan COVID-19.


    “ISPA merupakan penyakit tertinggi di Puskesmas karena penularannya sangat mudah, yakni melalui droplet dan aerosol,” tutur Ani kepada detikcom Kamis (16/10/2025).

    Di sisi lain, dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP(K) beberapa waktu lalu menyebut saat ini memang terjadi musim infeksi saluran napas. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh perubahan cuaca dan sirkulasi virus yang tinggi.

    Ia membagikan beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga paru-paru tetap bersih dan sehat. Dengan begitu, tubuh bisa menjadi lebih kuat dalam menghadang berbagai penyakit, termasuk batuk pilek.

    ⁠”Pakai masker dan gizi seimbang, banyak makan sayur dan buah sebagai antioksidan. Serta juga hindari kerumunan,” ujar dr Erlang ketika dihubungi detikcom, Rabu (8/10).

    Makanan tinggi antioksidan juga dapat membantu memperkuat sistem imun dengan melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Dengan sistem imun yang optimal, tubuh menjadi lebih tahan terhadap serangan virus dan mampu mempercepat pemulihan saat sudah terkena batuk atau pilek.

    Menurutnya, masalah infeksi virus yang memicu batuk dan pilek bisa sembuh dengan sendirinya. Meski begitu, ia mewanti-wanti kelompok rentan, seperti lansia dan orang dengan komorbid untuk lebih berhati-hati.

    “Kalau tanda bahaya kalau sudah ada perburukan seperti sesak napas, dahak yang sudah berubah warna yang menandakan terjadinya infeksi bakteri, dan demam tinggi perlu ke fasilitas kesehatan,” sambungnya.

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • DKI Catat 1,9 Juta Kasus Penyakit Mirip COVID, Segera Periksa Jika Alami Gejala Ini


    Jakarta

    Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di DKI Jakarta menunjukkan tren peningkatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat total 1.966.308 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jakarta sejak Januari hingga Oktober 2025. Peningkatan jumlah kasus teridentifikasi sejak Juli 2025.

    Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan ISPA saat ini menjadi penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi di puskesmas. Penularan penyakit ini, kata Ani, sangat mudah terjadi melalui percikan droplet dan partikel aerosol di udara.

    “Total kasus ISPA di DKI Jakarta hingga Oktober 2025 sebesar 1.966.308. Peningkatan kasus terlihat mulai bulan Juli,” kata Ani kepada detikcom Kamis (16/10/2025).


    Selain di tengah cuaca yang tak menentu dan polusi udara, peningkatan kasus ISPA disebut Ani juga bisa berkaitan dengan imunitas yang turun di masyarakat. Adapun gejala ISPA di antaranya:

    • Batuk
    • Pilek
    • Sakit tenggorokan
    • Demam

    “Gejala lainnya bisa berupa hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, bersin, dan suara serak. Pada kasus ISPA yang lebih berat, gejala dapat mencakup sesak napas, yang membutuhkan penanganan segera,” kata Ani.

    Senada, dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP(K) beberapa waktu lalu mengatakan saat ini memang terjadi musim infeksi saluran napas. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh perubahan cuaca dan sirkulasi virus yang tinggi.

    Ia juga mengingatkan segera mencari pertolongan bila muncul tanda bahaya, seperti sesak napas atau dahak yang berubah warna. Menurutnya, kondisi tersebut bisa menjadi pertanda adanya infeksi bakteri.

    “Demam tinggi perlu ke fasilitas kesehatan,” ucapnya Rabu (8/10).

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Pakar Sorot Dominasi Buzzer di Medsos, Sedangkan Akademisi Absen


    Jakarta

    Media sosial menjadi medan tempur narasi yang didominasi buzzer dan bot. Hal ini disampaikan oleh pakar analisis media sosial pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi.

    Di sisi lain, ia juga menyorot absennya peran akademisi dalam membentuk narasi di ruang publik digital di negeri ini. Melalui penjelasannya yang bertajuk “Siapa Pemilik Narasi? Data, Disinformasi, dan Hilangnya Suara Akademisi” dalam “The 2025 International Conference on Computer, Control, Informatics, and Its Application (IC3INA) pada Rabu (15/10/2025), ia mengutarakan suara akademisi yang berbasis data dan kebenaran malah hilang dan tertinggal di belakang jurnal-jurnal ilmiah.

    Perbandingan Aktivitas Kampus Terkemuka di AS dan Indonesia

    Ismail Fahmi dalam acara ini memaparkan hasil analisis jaringan sosial (Social Network Analysis). Analisis ini membandingkan aktivitas digital universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat (AS) seperti Stanford University, Harvard University, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan tiga universitas terkemuka di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).


    Ia menemukan ada perbedaan aktivitas digital universitas-universitas di kedua negara. Di universitas-universitas di AS, jejaring akun institusi dan akademisi sangat aktif. Pembahasan yang dibangun bersifat global dan mencakup isu-isu kritis seperti COVID-19, politik internasional, serta penemuan sains. Para akademisi AS, seperti tampak pada saat pandemi, menjadi influencer pengetahuan yang aktif berdebat dan mengedukasi publik di media sosial.

    Sementara, ia menemukan Universitas Indonesia memiliki keterlibatan di media sosial yang sangat minim dan cenderung bersifat institusional atau lokal. Berdasarkan analisis Drone Emprit, jejaring diskusi seputar UI justru sangat dekat dengan isu politik.

    “Universitas kita tidak memiliki naratifnya sendiri di media sosial. Kita hanya ditarik oleh buzzer dan isu politik ke dalam naratif mereka,” jelasnya, dikutip dari BRIN pada Senin (20/10/2025).

    Namun, Ismail Fahmi juga mengakui ada kendala yang membuat akademisi di Indonesia enggan bersuara, termasuk ketakutan akan kekerasan politik; tekanan institusional; sampai risiko hukum dan reputasi.

    Saran Strategi Komunikasi untuk Akademisi

    Maka dari itu, ia menawarkan strategi komunikasi yang aman serta konstruktif yang dapat dilakukan para akademisi. Ia menegaskan agar para akademisi Tanah Air fokus pada data, bukan politik; mengadopsi jurnalisme konstruktif; serta memanfaatkan kecerdasan buatan.

    “Jika kita akademisi dan peneliti tetap menjadi penonton, maka siapa yang akan menjadi pemandu intelektual publik berbasis data? Data harus berada di ruang publik, bukan hanya di jurnal dan kelas”, ucapnya.

    Ia berharap forum akademik dapat menjadi kekuatan intelektual publik dengan memastikan hasil penelitian mempunyai tujuan gand,a yakni literasi sains dan informasi real-time untuk masyarakat.

    (nah/twu)



    Sumber : www.detik.com