Tag: dakwah

  • Aksi Memukau Peserta Audisi Emeron Hijab Hunt, Suara Merdu hingga Monolog

    Bandung

    Para peserta tampil maksimal saat audisi Emeron Hijab Hunt 2024 karena akan terpilih tiga orang dari 20 peserta. Ada yang bernyanyi dan menampilkan suara emasnya, dakwah hingga tarian Bollywood.

    Penampilan pertama dari Tarisa Octaviena (21 tahun) membawakan lagu milik Alicia keys. Kemudian ada Fitria Nur Alifa (27 tahun) menyanyikan lagu Reflecion Ost Mulan. Suaranya membuat penonton yang hadir dan juri terpana.

    Selanjutnya ada aksi Saifa Sirna (15 tahun)yang membawakan tarian Jaipong dan India. Aksi luwes dan lincahnya mampu mencuri atensi. Tiba-tiba ia bertransisi dengan kostum ala Bollywood dan membuat penonton menari bersama.


    Para peserta mengikuti rangkaian audisi tahap kedua Emeron Hijab Hunt 2024 di Parkir Barat Trans Studio Mall, Bandung (21/7/2024). Ini aksi-aksi para peserta.Saifa Sirna memukau juri dan penonton yang hadir di audisi tahap kedua Emeron Hijab Hunt 2024 di Parkir Barat Trans Studio Mall, Bandung (21/7/2024). Foto: Wisma Putra/DetikJabar.

    Kemudian ada Ulfa Bhaeej yang berdakwah memberikan ilmu agama yang menginspirasi muslimah lainnya.”Dari awal ingin membawakan tema indah yang luar biasa seperti sosok muslimah yang berkarakter dan beragam sehingga bisa saling melengkapi,” ujar Ulfa.

    Desi Rachmi Fitria menampilkan aksi monolog yang berbeda dengan peserta lainnya. Ia bercerita tentang kehidupan wanita Timur Tengah pada tahun 80-an, dengan tampilan muka yang lebam.

    Penasaran dengan peserta lainnya? Yuk langsung datang ke Parkir Barat Trans Studio Mall, Bandung (21/7/2024).

    Para peserta mengikuti rangkaian audisi tahap kedua Emeron Hijab Hunt 2024 di Parkir Barat Trans Studio Mall, Bandung (21/7/2024). Ini aksi-aksi para peserta.Foto Desi Rachmi yang melakukan aksi monolog saat audisi tahap kedua Emeron Hijab Hunt 2024 di Parkir Barat Trans Studio Mall, Bandung (21/7/2024). Foto: Wisma Putra/DetikJabar.

    Ada yang spesial dengan audisi tahap kedua Emeron Hijab Hunt 2024 yaitu ada penampilan Salma Salsabil yang akan memeriahkan audisi.

    Acara ini didukung oleh Emeron Hijab Shampoo, Social Media KipasKipas, EZnet by Telkomsel Internet Mudah Murah Untuk Seisi Rumah dan GIS Travel Sahabat Umrah dan Haji Anda.

    (gaf/gaf)



    Sumber : wolipop.detik.com

  • 5 Kultum Hari Santri Nasional 2025: Dari Santri untuk Negeri


    Jakarta

    Setiap tanggal 22 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk mengenang perjuangan para santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Momen ini juga menjadi pengingat agar semangat perjuangan, keikhlasan, serta dedikasi santri terhadap ilmu dan tanah air terus hidup di hati generasi muda.

    Sebagaimana dijelaskan dalam buku Puisi adalah Senjata karya Gagak Lumayung, penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dilakukan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015. Peringatan ini menegaskan peran penting santri dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

    Dalam rangka memperingatinya, berbagai kegiatan digelar di pesantren dan masjid, salah satunya melalui tausiah atau kultum. Untuk itu, berikut beberapa contoh kultum Hari Santri Nasional yang dirangkum dari berbagai sumber.


    Kultum Hari Santri

    1. Kultum Hari Santri 1: Peran Santri untuk Indonesia Maju

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

    Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu amala. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.

    Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

    Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, serta nikmat kesempatan sehingga saya dan kita semua bisa hadir dan menjemput momentum Hari Santri Nasional Tahun 2025.

    Sholawat berbingkai salam kita sampaikan kepada Nabi akhir Zaman, Sayyidina Muhammad SAW. Mudah-mudahan kita semua mendapat syafaat beliau di Hari Kiamat nanti.

    Hadirin yang berbahagia,

    Pada tahun 2025 ini kita sama-sama masih berjuang untuk menyehatkan diri, keluarga, madrasah dan lingkungan sekitar.

    Dan pada tahun ini pula kita kembali menjemput momentum Hari Santri Nasional seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Walau demikian, tetap tidak apa-apa karena santri punya peran besar yaitu mewujudkan Indonesia Emas Tahun 2045.

    Masih cukup lama, ya? Namun cita-cita besar negeri ini harus kita rencanakan dan perjuangkan sedari jauh-jauh hari.

    Sejatinya santri mengambil peran besar untuk memajukan Bumi Pertiwi. Bukan sebagai “pasukan bersarung” yang menggaungkan resolusi jihad, tapi santri juga ikut berperan dalam menggapai Indonesia Maju.

    Jika dulu para santri ikut berkontribusi bersama bangsa ini dalam menumpas penjajah menggunakan senjata, maka sekarang kisahnya menjadi sangat berbeda.

    Santri hari ini adalah santri milenial, santri kreatif, serta santri yang percaya dengan kemampuan diri.

    Sudah bukan zamannya lagi jika ada santri yang tidak mengerti dengan teknologi, dan sudah bukan zamannya lagi jika santri tidak boleh berprestasi di bidang sains dan akademik lainnya.

    Untuk itulah, lembaga pesantren maupun madrasah diharapkan mau dan mampu terus mengembangkan kurikulum, kualitas pengajar, serta kualitas output santri agar di hari mendatang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.

    Hadirin yang dirahmati Allah SWT;

    Ada jutaan santri di Indonesia yang saat ini sedang menempuh ilmu. Meski mengambil peran penting untuk menggapai cita-cita Indonesia emas tahun 2045, sebenarnya akhlak adalah poin utama yang paling penting.

    Kita sama-sama tahu bahwa tidak sedikit anak-anak muda yang mulai bobrok akhlaknya, mulai liar lidahnya dengan kata-kata kotor, serta mulai luntur perilaku hormatnya.

    Ilmu pengetahuan memang penting, kecerdasan juga penting, tapi tetap adab dan akhlak adalah yang nomor satu.

    Maka dari itu, marilah kita semangati para santri untuk istiqomah di jalan kebaikan. Motivasilah para santri di mana pun mereka berada untuk terus belajar, menebar kebaikan, jihad fisabilillah, serta terus memperbaiki diri menuju takwa.

    Hadirin yang dimuliakan Allah;

    Mari kita semangati santri, dan bangga menjadi santri. Saya akhiri dengan pantun:

    Di taman ada mawar berduri

    Di sebelahnya ada bungkus mie kari Aku bangga menjadi santri

    Karena santri adalah harapan negeri

    Akhiru kalam, Wassalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh.

    2. Kultum Hari Santri 2: Resolusi Jihad Para Pejuang

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

    Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober sebagai momentum untuk mengingat, mengenang, dan meneladani kaum santri yang telah berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia.

    Pada tanggal 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad sebagai seruan kepada kaum muslimin untuk berjihad melawan sekutu. Sebagai santri masa kini, kita harus melanjutkan perjuangan para pendahulu. Namun bentuk perjuangannya tidak lagi dengan mengangkat senjata, melainkan dengan ilmu dan akhlak yang baik.

    Kita harus menjadi garda terdepan dalam menjaga moral bangsa, menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta ikut serta dalam pembangunan nasional dengan kerja keras dan keikhlasan.

    Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

    Arab latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥū fil-majālisi fafsaḥū yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzū fansyuzū yarfa’illāhul-lażīna āmanū minkum, wal-lażīna ūtul-‘ilma darajāt(in), wallāhu bimā ta’malūna khabīr(un).

    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

    Ayat ini mengingatkan kita bahwa ilmu adalah kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.

    Kita harus menjadi pemimpin di tengah masyarakat, tidak hanya dalam hal agama, tetapi juga dalam bidang pendidikan, sosial, dan pembangunan ekonomi. Saat ini tantangan yang kita hadapi sangat berbeda. Kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

    Kita juga harus bisa menyaring mana budaya yang bisa diambil dan mana yang harus dihindari.

    Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:

    اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

    Arab latin: Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādilhum bil-latī hiya aḥsan(u), inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn(a).

    Artinya: Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.

    Allah mengajarkan kita untuk berdakwah dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan, menggunakan pendekatan yang penuh rahmat, bukan dengan kekerasan.

    Sebagai santri, marilah kita terus belajar, mengamalkan ilmu, dan menjaga akhlak agar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

    Mari kita maknai Hari Santri Nasional ini sebagai momentum untuk terus berjuang dalam kebaikan dan menjadi generasi yang mampu menjaga amanah para ulama.

    Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan, petunjuk, dan keberkahan dalam setiap langkah kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    Sebelum saya akhiri kultum ini, izinkan saya membawakan sebuah pantun:

    Jalan-jalan ke Monumen Nasional,
    Pulangnya pasti membawa layang.

    Selamat Hari Santri Nasional,
    Mari berdoa demi para pejuang.

    Wabillahi taufiq wal hidayah,
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    3. Kultum Hari Santri 3: Jihad Santri Jayakan Negeri

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat-Nya atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita.

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Pertama-tama, saya ucapkan Selamat Hari Santri Nasional. Hari yang penuh makna ini kita rayakan dengan semangat dan kebanggaan atas peran besar santri dalam perjalanan bangsa.

    Tahun ini, tema Hari Santri adalah “Jihad Santri Jayakan Negeri.” Tema ini mengingatkan kita bahwa santri bukan hanya penuntut ilmu agama, tetapi juga pejuang dalam arti yang
    Luas, yakni pejuang ilmu, akhlak, dan kemajuan bangsa.

    Santri adalah sosok yang berkomitmen menuntut ilmu, menjaga moralitas, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjadi benteng nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat sekaligus motor penggerak perubahan menuju kebaikan.

    Jihad santri bukanlah jihad dalam arti mengangkat senjata, melainkan perjuangan tanpa henti untuk membangun negeri melalui ilmu, kerja keras, dan pengabdian. Inilah jihad yang sesungguhnya yaitu jihad dengan pena, dengan ilmu, dan dengan akhlak mulia.

    Santri telah lama menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai luhur Islam, menanamkan semangat toleransi, dan memperkuat persatuan bangsa. Mereka adalah teladan dalam kesungguhan, keikhlasan, dan keteguhan hati.

    Melalui semangat jihad santri, kita dapat mewujudkan berbagai cita-cita luhur, di antaranya:
    Membangun sumber daya manusia unggul, dengan menanamkan ilmu, moralitas, dan kepemimpinan.
    Menumbuhkan sikap toleransi dan kerukunan, agar masyarakat tetap harmonis di tengah keberagaman.
    Mendorong kemajuan ekonomi dan inovasi, melalui karya dan kontribusi nyata di berbagai bidang.
    Memerangi ketidakadilan dan kemiskinan, dengan kepedulian sosial dan aksi kemanusiaan yang nyata.

    Hari Santri Nasional menjadi momen untuk menghargai jasa para santri yang telah berjuang dari masa ke masa, sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan saat ini.

    Mari kita jadikan semangat jihad santri sebagai inspirasi untuk terus berbuat baik, menebar manfaat, dan menjaga amanah para ulama dalam memajukan agama dan bangsa.

    Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, kekuatan, dan kebijaksanaan kepada para santri di seluruh Indonesia, agar tetap istiqamah dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam dan menyejahterakan negeri ini.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    4. Kultum Hari Santri 4: Generasi Penerus Perjuangan Bangsa

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Semoga rahmat, berkah, dan kasih sayang Allah SWT senantiasa menyertai kita semua.
    Hari ini kita berkumpul sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada tali Allah, untuk memperkuat perjalanan rohani dan memperdalam pemahaman kita tentang agama Islam.

    Melalui kesempatan ini, marilah kita menjadikan pertemuan ini sebagai ajang untuk mempererat hubungan dengan Allah SWT, memperdalam ilmu agama, dan menumbuhkan semangat perubahan ke arah yang lebih baik.

    Semoga apa yang kita pelajari hari ini menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, memperkuat iman, serta menginspirasi kita agar menjadi muslim yang bermanfaat bagi masyarakat.

    Sebelumnya, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat iman dan Islam yang masih kita rasakan hingga hari ini. Tak lupa, shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari zaman kegelapan menuju cahaya iman dan ilmu.

    Santri adalah generasi penerus yang tidak hanya menuntut ilmu agama, tetapi juga berperan sebagai pencipta dan pengabdi bagi kemajuan bangsa dengan napas nilai-nilai Islam. Kekuatan iman, ilmu, dan amal yang dimiliki santri menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban bangsa.

    Sebagai penerus perjuangan dan penjaga nilai-nilai keislaman, santri memiliki tanggung jawab moral yang besar. Mereka harus siap menghadapi tantangan zaman dengan kecerdasan, keterampilan, dan keteguhan iman.

    Santri juga dituntut untuk melek literasi, karena literasi merupakan senjata intelektual bagi santri untuk terus beradaptasi dan berkontribusi di tengah perubahan global yang cepat. Keberadaan santri di bumi pertiwi sangat vital dalam menciptakan arah perubahan yang membawa kemaslahatan.

    Di tengah arus globalisasi dan tantangan modern, santri hadir sebagai cerminan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu Islam yang moderat, toleran, dan berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

    Peran santri dalam menjawab tantangan zaman membutuhkan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Melalui semangat ini, santri diharapkan mampu menjadi pelopor kebaikan yang menghidupkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

    Untuk itu, santri harus terus beradaptasi, belajar, dan berkontribusi aktif demi terwujudnya bangsa yang berilmu, berakhlak, dan bermartabat.

    Demikianlah yang dapat saya sampaikan.
    Mohon maaf atas segala kekurangan.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    5. Kultum Hari Santri 5: Santri Sebagai Teladan Akhlak

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Alhamdulillahilladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu amala.
    Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
    Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

    Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai kenikmatan, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul dalam acara peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober ini dalam keadaan sehat walafiat.

    Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kelak kita harapkan syafaatnya di Hari Akhir.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Sejak ditetapkan pada tahun 2015, Hari Santri Nasional menjadi momen penting bagi umat Islam, khususnya bagi para santri di seluruh Indonesia. Santri adalah mereka yang menimba ilmu agama, biasanya tinggal di pondok pesantren, dan dibimbing oleh para ustaz serta kiai.

    Para santri dikenal dengan perilaku yang sopan, berakhlak baik, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang diajarkan di pesantren. Karena itu, peringatan Hari Santri seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga jati diri sebagai santri yang berakhlak mulia.

    Di era modern ini, kita menghadapi banyak tantangan dan godaan, mulai dari gaya hidup, pergaulan, hingga hiburan yang dapat melemahkan akhlak generasi muda. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk menanamkan dan menjaga akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

    Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, surat Al-Qalam ayat 4:

    “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung.”

    Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam segala hal. Maka, sebagai umatnya, kita wajib meneladani perilaku dan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

    Hadirin yang berbahagia,

    Semoga dengan peringatan Hari Santri Nasional ini, kita semua semakin termotivasi untuk memperbaiki akhlak, memperkuat iman, dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.
    Demikianlah kultum singkat pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.

    Akhirul kalam,
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    (inf/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Singkat Bulan Syawal tentang 3 Amalan Baik



    Jakarta

    Khutbah Jumat singkat bulan Syawal tentang amalan baik bisa menjadi referensi khatib salat Jumat. Mengingat, Syawal adalah bulan peningkatan amal ibadah setelah sebelumnya menjalani puasa Ramadan.

    Bulan Syawal sebagai bulan peningkatan amal ini turut dijelaskan Amirulloh Syarbini dan Sumantri Jamhari dalam buku Dahsyatnya Puasa Wajib dan Sunah Rekomendasi Rasulullah. Secara bahasa, kata Syawal (Arab: Syawwal) artinya peningkatan amal.

    Dikatakan sebagai bulan peningkatan amal karena pada saat bulan Ramadan, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan puasa sebulan penuh ditambah dengan berbagai amal sunnah, seperti Tarawih, membaca Al-Qur’an, zakat, sedekah, dan lainnya.


    “Berbagai amalan tersebut dapat meningkatkan keimanan seseorang. Sehingga, setelah melewati bulan Ramadan, iman seorang muslim dipastikan akan meningkat. Maka, ketika masuk bulan Syawal, seharusnya terjadi peningkatan ibadah dibandingkan bulan-bulan lainnya,” jelas buku tersebut.

    Melansir situs Kemenag Jawa Barat, berikut contoh naskah khutbah Jumat singkat dengan tema “Tiga Amalan Baik”.

    Khutbah Jumat Singkat

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

    Hadirin Yang Terhormat

    Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.

    Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

    1. Istiqomah yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah.

    Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad SAW berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits berikut:

    عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم).

    “Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab: ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim)

    Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.

    Orang seperti itulah yang dipuji Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat Fushshilat ayat 30:

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

    2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.

    Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berpikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.

    Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة).

    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berpikirlah hari ini dan bicaralah esok hari).

    Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

    Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda:

    أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي عن جابر).

    Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR. Baihaqi dari Jabir)

    Sabda Nabi Muhammad SAW ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehendaknya tanpa mengindahkan etika agama . Para pakar barangkali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat.

    Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.

    Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)

    3. Istighfar yaitu selalu introspeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.

    Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.

    Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita introspeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridhaan Allah.

    Dalam persoalan ekonomi, jika rezeki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-terobosan yang produktif, maka kreativitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.

    Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.

    Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:

    “Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud: 52)

    Jamaah yang dimuliakan Allah

    Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan Tiga amalan di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

    Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmat-Nya yang melimpah. Amin

    أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Akhir Syawal tentang Empat Tanda Orang Istiqomah



    Jakarta

    Khutbah Jumat akhir Syawal tentang pentingnya menjaga istiqomah bisa menjadi salah satu referensi khatib saat salat Jumat. Hal ini lantaran mendekati akhir bulan Syawal, animo dan momentum masyarakat dari bulan Ramadan dapat dirasakan menurun dalam keistiqomahan beragama.

    Berdasarkan ketetapan hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag), bulan Syawal berakhir pada 21 Mei 2023 mendatang.
    Sementara itu, berdasarkan keputusan PP Muhammadiyah yang penentuan kalendernya menggunakan perhitungan dari posisi geometris bumi, matahari, dan bulan, Syawal berakhir pada 20 Mei 2023.

    Istiqomah sendiri secara bahasa berarti konsisten, sikap teduh berpendirian khususnya dalam berkeyakinan. Al-Maraghi melalui buku Tafsir al Maraghi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah teguh dalam beriman sehingga tidak tergelincir, serta ibadah dan itikad-itikad nya tidak dilanggar.


    Allah SWT berulang kali menyinggung mengenai pentingnya beristiqomah khususnya dalam beragama. Salah satunya termaktub dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 112 yang berbunyi,

    فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

    Arab Latin: “Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahū bimā ta’malūna baṣīr(un).”

    Artinya: “Maka, tetaplah beristiqomahlah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

    Melihat pentingnya istiqomah dalam Islam, berikut ini adalah contoh naskah khutbah Jumat akhir Syawal dengan tema tanda orang istiqomah yang dilansir dari laman BDK Bandung Kemenag RI.

    Contoh Teks Khutbah Jumat Akhir Syawal

    Assalamualaikum Wr. Wb

    إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

    صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

    اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

    Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

    Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 102,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

    Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.

    Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

    Sebelumnya ada dua adab penting pada hari Jumat saat mendengarkan khutbah Jumat yang perlu diterangkan. Pertama, diam dan tidak berbicara saat mendengar khutbah.

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda,

    إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

    Artinya: Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘”iamlah, khotib sedang berkhutbah!” Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Kedua, dilarang al-habwah, yaitu duduk sambil memeluk lutut saat mendengarkan khutbah. Dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata,

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

    Artinya: “Rasulullah SAW melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

    Kali ini kami akan mengangkat tema mengenai bagaimanakah tanda seseorang itu istiqomah. Karena setiap hari kita terus mengulang ayat ini di dalam salat,

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

    Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

    Ayat ini berisi perintah untuk meminta terus istiqomah di atas jalan yang lurus. Shirathal mustaqim menurut Ibnu Katsir adalah:

    Mengikuti jalan Nabi

    Mengikuti generasi salaf dari para sahabat seperti Abu Bakar dan ‘Umar

    Mengikuti kebenaran

    Mengikuti Islam

    Mengikuti Al-Qur’an

    Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan bahwa semua pengertian di atas itu benar dan semua makna di atas itu saling terkait. Siapa yang mengikuti Nabi Muhammad SAW dan mengikuti sahabat sesudahnya yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran. Siapa yang mengikuti kebenaran, berarti ia telah mengikuti Islam. Siapa yang mengikuti Islam, berarti ia telah mengikuti Al-Qur’an (Kitabullah), itulah tali Allah yang kokoh. Itulah semua termasuk ash-shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Semua pengertian di atas itu benar saling mendukung satu dan lainnya. Walillahil hamd. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:213.)

    Bagaimana kita bisa istiqomah pada jalan yang lurus? Syafiq Al-Balji rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqomah,

    1. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Musibah

    Pertama, tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. Tetap istiqomah walaupun mendapatkan musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Insyirah ayat 5,

    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

    Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

    Ayat ini pun diulang setelah itu dalam surah Al Insyirah ayat 6,

    إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

    Artinya: “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

    Tentang ayat di atas, Qatadah rahimhuallah berkata, “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”

    Ingatlah hikmah di balik musibah sungguh luar biasa. Pertama, musibah itu sebagai ujian, siapakah yang mampu bersabar.

    Kedua, mntuk membersihkan hati manusia dan supaya lepas dari sifat-sifat buruk karena ketika musibah datang, maka kesombongan, ujub, hasad berubah menjadi ketundukan kepada Allah. Ketiga, iman seorang mukmin menjadi kuat.

    Keempat, musibah menunjukkan kuatnya Allah dan lemahnya manusia. Kelima, dengan adanya musibah, kita jadi semangat berdoa dengan ikhlas.

    Keenam, musibah itu untuk membangunkan seseorang yang sedang lalai. Ketujuh, nikmat itu baru dirasakan kalau kita mengetahui lawannya. Kita baru rasakan nikmat sehat ketika kita mendapatkan sakit.

    Kedua, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. Ketiga, tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Keempat, beramal sesuai Al-Qur’an dan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).

    2. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Sibuk Dunia

    Tidak meninggalkan perintah Allah walaupun sibuk dengan urusan dunia. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang salat pada suatu hari di mana beliau bersabda,

    مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

    Artinya: “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad)

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa (hlm. 37-38) mengenai hadits di atas,

    Siapa yang sibuk dengan hartanya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun.

    Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun.

    Siapa yang sibuk dengan kekuasaannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun).

    Siapa yang sibuk dengan perdagangannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf.

    3. Tidak Ikut Komentar Orang Lain

    Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Dalam hadits disebutkan,

    مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

    Artinya: “Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

    4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

    Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Hasyr ayat 7,

    وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

    Dalam hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

    Artinya: “Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

    Demikian tanda kita bisa istiqomah, kesimpulannya adalah tidak meninggalkan perintah Allah tatkala kita tertimpa musibah, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia, tidak mengikuti komentar orang dan hawa nafsu sendiri, beramal sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

    أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

    Khutbah Kedua

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

    اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

    رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

    اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

    اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

    وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Berapa Tahun Nabi Muhammad Tinggal di Madinah untuk Berdakwah?



    Jakarta

    Periode dakwah Nabi Muhammad SAW diketahui terbagi ke dalam dua kota yaitu, Makkah dan Madinah. Berapa tahun Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah untuk berdakwah?

    Perjuangan dakwah periode Madinah yang dilakukan Rasulullah SAW tidaklah mudah. Di tempat baru semasa hijrah ini, tak sedikit fitnah didapati Rasulullah SAW selama menyebarkan ajaran Islam.

    Dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam yang disusun oleh Abu Achmadi dan Sungarso, ketidaksukaan Yahudi, kebencian kaum munafik, dan permusuhan kaum Quraisy kerap kali menimbulkan perseteruan yang berujung pada peperangan di masyarakat Madinah.


    Berbagai persoalan semasa berdakwah di kota yang dulu dikenal dengan Yatsrib ini berhasil diatasi oleh Rasulullah SAW. Pada puncaknya, beliau berhasil menaklukkan Kota Madinah dan menjadikannya bagian dari wilayah kekuasaan Islam.

    Berapa Tahun Nabi Muhammad SAW Tinggal di Madinah?

    Kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama Hijriah merupakan awal dari dimulainya dakwah. Menurut keterangan hadits, Nabi Muhammad SAW tinggal di madinah selama 10 tahun di Madinah hingga akhir hayatnya.

    Adapun sebelumnya, 13 tahun setelah menginjak usia 40 tahun awal kenabian, Nabi Muhammad SAW berdakwah di Makkah. Melansir buku Ringkasan Shahih Muslim oleh M. Nashiruddin al-Albani, keterangan tersebut didasarkan pada sebuah hadits yang mahsyur di kalangan ulama,

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : أَقَامَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةٌ يُوْحَى إِلَيْهِ ، وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرًا ، وَمَات وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِيْنَ سَنَةً

    Artinya: Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah tinggal di Makkah selama 13 tahun sejak beliau menerima wahyu dan tinggal di Madinah selama 10 tahun. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.” (HR Muslim)

    Dalam riwayat lain disebutkan redaksi serupa yang menyebutkan Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah selama sepuluh tahun. Dari Ibnu Abbas RA,

    “Rasulullah SAW tinggal di Makkah selama 15 tahun. Selama tujuh tahun beliau mendengar suara dan melihat cahaya tanpa ada wahyu dan selama delapan tahun beliau menerima wahyu. Beliau tinggal di Madinah selama 10 tahun.” (HR Muslim)

    Selama kurang lebih tinggal 10 tahun di Madinah, Nabi Muhammad SAW fokus pada penguatan Islam dan dakwah. Setelah Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau berangkat dan tiba di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal.

    Dikutip melalui buku Pendidikan Agama Islam karya Bachrul Ilmy, setidaknya ada empat substansi dakwah pada periode dakwah Madinah.

    Empat substansi tersebut adalah pembinaan akidah, ibadah, dan mu’amalah kaum muslim, pembinaan ukhuwah atau persaudaraan untuk menyatukan kaum muslim, pembinaan kader-kader perjuangan untuk mempertahankan wilayah dakwah, dan memetakan pertahanan dan sosial untuk menjaga stabilitas Madinah.

    Adapun cara dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah di antaranya sebagai berikut.

    Cara Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah

    1. Memberdayakan Masjid

    Rasulullah SAW membangun dua masjid selama di Madinah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah, yaitu Masjid Quba yang dibangun saat kedatangan pertamanya dan Masjid Nabawi yang kemudian dijadikan untuk mendidik para sahabatnya dan mengatur pemerintahan.

    2. Melakukan Perjanjian dengan Kaum Yahudi

    Selama dakwah di Madinah, Rasulullah SAW melakukan perjanjian untuk memperkokoh posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, bangsa Arab, maupun Yahudi. Hal ini juga dilakukan bertujuan secara umum untuk menjaga stabilitas di Madinah.

    Perjanjian tersebut selanjutnya melahirkan Piagam Madinah. Piagam ini berisi sepuluh bab, di antaranya pembentukan ummat, hak asasi manusia, persatuan seagama, persatuan segenap warganegara, golongan minoritas, tugas warga negara, melindungi negara, pimpinan negara, politik perdamaian, dan bab terakhir merupakan penutup.

    3. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar

    Rasulullah SAW berhasil mempersaudarakan dua kaum muslimin, yakni Muhajirin dan Anshar. Rasulullah SAW menganjurkan untuk kedua kaum tersebut untuk saling memupuk persaudaraan dan melarang adanya sentimen kesukuan. Hal ini dilakukan untuk semakin memperkuat umat Islam.

    4. Mendirikan Pasar

    Rasulullah SAW mendirikan pasar yang tidak jauh dari Masjid Nabawi agar supaya membangun perekonomian rakyat sekaligus sebagai sarana dakwahnya. Pasar ini dibangun untuk mendidik umat dalam mengatur roda perekonomian yang adil berdasarkan ajaran Islam.

    Begitulah pembahasan kali ini mengenai berapa tahun Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah sekaligus strategi dakwah yang digunakan beliau di sana.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah Berdakwah Sembunyi-sembunyi Selama 3 Tahun, Begini Kondisi Umat Islam



    Jakarta

    Periode dakwah secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3 tahun. Dakwah tersebut dilakukan di kota Mekkah.

    Menurut buku Mengapa Islam Memerintahkan Berperang susunan Muhammad Reza Rahardian, periode dakwah di Mekkah khusus untuk dakwah tauhid. Berbeda dengan di Madinah yang ruang lingkupnya meluas ke ilmu-ilmu lain seperti fiqih muamalah dan fiqih As-Siyar yang membahas tentang ilmu peperangan.

    Kala itu, tauhid menjadi hal yang asing bagi penduduk Mekkah. Karenanya, Nabi Muhammad tidak langsung berdakwah secara terang-terangan.


    Apabila penyampaian dakwah tauhid dilakukan tanpa metode yang tepat, tentu akan menyebabkan penduduk Mekkah terkejut dan berujung menolak ajaran yang disampaikan. Karenanya, Rasulullah berdakwah dengan sembunyi-sembunyi.

    Nabi Muhammad tidak langsung menyebarkan kepada masyarakat Mekkah, melainkan memulainya dengan berdakwah kepada orang-orang terdekat, seperti anggota keluarga dan sahabat karibnya. Keluarga Rasulullah merupakan orang-orang baik dan selalu menghormati beliau, karena itu mereka lantas menerima agama Islam.

    Mengutip dari buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam yang ditulis oleh Drs Imam Subchi MA, pada periode dakwah sembunyi-sembunyi, Nabi Muhammad hanya menyampaikan ajaran dasar dari Islam. Ajaran itu mencakup tiga hal, yaitu keesaan Tuhan, penghapusan patung-patung berhala, dan kewajiban untuk beribadah ritual serta sosial demi mencari ridha Allah semata.

    Kondisi Umat Islam pada Periode Dakwah Sembunyi-sembunyi

    Merujuk pada sumber yang sama, pada periode tersebut umat Islam melaksanakan salat bersama para pengikut dan sahabatnya dengan cara sembunyi-sembunyi. Ini dimaksudkan agar tidak ketahuan oleh penduduk Mekkah.

    Walau begitu, lama-kelamaan kabar tentang dakwah Islam sampai ke telinga kabilah Quraisy di Mekkah. Kala itu, mereka tidak terlalu peduli dengan dakwah Islam karena menganggap Nabi Muhammad sebagai orang yang peka terhadap urusan agama, tidak lebih dari itu.

    Berlangsung selama 3 tahun, pada rentang waktu tersebut umat Islam yang jumlahnya masih sedikit saling menguatkan satu sama lain. Hingga akhirnya turunlah ayat Al-Qur’an yang memerintahkan Rasulullah untuk berdakwah secara terang-terangan kepada penduduk Mekkah.

    Orang-orang yang Pertama Kali Menerima Ajaran Nabi Muhammad

    Orang-orang yang pertama kali menerima ajaran dan seruan Rasulullah SAW disebut dengan as-sabiqunal awwalun. Arti dari kata tersebut ialah orang-orang yang pertama masuk Islam.

    Sosok assabiqunal awwalun itu ialah, Khadijah istri Nabi mUhammad, Zaid bin Haritsah anak angkat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib sepupu nabi, dan Abu Bakar yang merupakan sahabat karib beliau. Setelahnya, mereka turut melanjutkan jejak Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam.

    Abu Bakar berhasil mengajak 5 orang lainnya untuk memeluk agama Islam, mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Utsman bin Affan. Selain nama-nama yang disebutkan, masih banyak orang-orang yang masuk Islam di awal-awal dakwah, mereka semua berasal dari kabilah Quraisy dan disebut sebagai sahabat, artinya orang-orang yang bertemu Rasulullah, beriman kepada beliau dan meninggal atas keimanan.

    Menurut artikel berjudul Karakteristik dan Strategi Dakwah Rasulullah Muhammad SAW pada Periode Mekkah yang terbit di jurnal At Tabsyir, selama 10 tahun pertama berdakwah belum ada kemajuan yang berarti khususnya dalam jumlah umat Islam. Penekanan dakwah di Mekkah difokuskan pada keesaan Allah, karena kondisi Mekkah saat itu belum bertauhid.

    Memulai Dakwah Terang-terangan di Mekkah

    Setelah turun surat Ash-Shu’ara ayat 214, Nabi Muhammad mulai berdakwah secara terang-terangan. Adapun, bunyi dan arti dari ayat tersebut yaitu:

    وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ

    Arab latin: Wa anżir ‘asyīratakal-aqrabīn

    Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,”

    Setelahnya, Nabi Muhammad SAW mulai menampakkan dirinya ke publik. Beliau percaya diri untuk melakukannya karena mendapat perlindungan dari pamannya Abu Thalib, Nabi Muhammad lalu mendaki Bukit Shafa dan berseru kepada kabilah Quraisy.

    Paman Nabi Muhammad lainnya yaitu Abu Lahab menanggapi dakwah beliau dengan ketus. Saat itulah turun firman Allah mengenai Abu Lahab dalam surat Al Lahab ayat 1-5.

    تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ

    Arab latin: Tabbat yadā abī lahabiw wa tabb.

    Artinya: 1. “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!”

    مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ

    Arab latin: Mā agnā ‘an-hu māluhụ wa mā kasab.

    Artinya: 2. “Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan,”

    سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ

    Arab latin: Sayaslā nāran żāta lahab.

    Artinya: 3. “Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka),”

    وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ

    Arab latin: Wamra’atuh, hammālatal-hatab.

    Artinya: 4. “Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah),”

    فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

    Arab latin: Fī jīdihā hablum mim masad.

    Artinya: “Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal,”

    Seruan Nabi Muhammad dan celaan Abu Lahab mengisyaratkan dimulainya pertempuran antara dua ideologi, yaitu tauhid melawan kesyirikan.

    Periode Dakwah di Madinah

    Setelah berdakwah di Mekkah, Nabi Muhammad juga berdakwah di Madinah. Dijelaskan dalam buku Pendidikan Agama Islam yang disusun oleh Bachrul Ilmy, setidaknya ada empat bentuk nyata dari periode dakwah di Madinah.

    Keempatnya adalah pembinaan akidah, ibadah, dan muamalah kaum muslim, pembinaan ukhuwah atau persaudaraan untuk menyatukan kaum muslim, pembinaan kader-kader perjuangan untuk mempertahankan wilayah dakwah, dan memetakan pertahanan dan sosial untuk menjaga stabilitas Madinah.

    Adapun, cara berdakwah Nabi Muhammad pada periode Madinah yaitu:

    • Membangun masjid sebagai pusat kegiatan dakwah
    • Melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah
    • Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar
    • Membangun ekonomi rakyat dengan mendirikan pasar

    Demikian pembahasan mengenai periode dakwah secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan di Mekkah. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Seruan Rasulullah di Atas Bukit Shafa Ajak Kaum Quraisy Bertauhid



    Jakarta

    Bukit Shafa menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Di tempat inilah beliau menyeru kaum Quraisy secara terang-terangan perihal ajaran Islam.

    Rasulullah SAW disebut menyeru dengan lengkingan yang tinggi saat di Bukit Shafa. Seruan tersebut merupakan seruan peringatan yang lazim digunakan untuk mengabarkan adanya serangan musuh atau terjadinya peristiwa besar.

    Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, seruan tersebut dilakukan usai Rasulullah SAW yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dalam menyampaikan wahyu Allah SWT.


    Hingga akhirnya, pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di atas Bukit Shafa dan berseru, “Wahai semua orang!” Maka semua suku Quraisy pun berkumpul memenuhi seruan beliau. Rasulullah SAW kemudian mengajak mereka bertauhid dan iman kepada risalah beliau serta iman kepada hari akhir.

    Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu Abbas yang berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214), maka Nabi SAW naik ke Shafa lalu berseru, ‘Wahai bani Fihr, wahai bani Adi!’ yang ditujukan kepada semua suku Quraisy.

    Mereka semuanya berkumpul. Jika ada yang berhalangan hadir, mereka mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

    Rasulullah SAW melanjutkan seruannya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”

    “Benar. Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran,” jawab mereka.

    Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih.”

    Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau untuk selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

    Kemudian turun ayat, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab. (QS Al Lahab: 1)”

    Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan bagian lain dari kisah ini dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214) beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda,

    ‘Wahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut kebasahannya.”

    Berikut seruan Rasulullah SAW selengkapnya sebagaimana termuat dalam sejumlah Kitab Sirah Nabawiyah.

    Wahai saudara-saudara Quraisy, tukarkanlah jiwa kalian demi Allah. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian untuk menghindar dari siksa Allah.

    Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah!

    Wahai bani Qushay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Shafiyah binti Abdul Muththalib, bibi Muhammad, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah. Engkau boleh meminta hartaku sesuka hatimu, selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkanmu dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Namun, kalian memiliki tali kekerabatan denganku. Aku akan berusaha menyambung sebatas haknya.

    Setelah Nabi Muhammad SAW selesai menyampaikan peringatan, orang-orang membubarkan diri dengan berbagai respons. Hanya Abu Lahab yang merespons seruan di Bukit Shafa tersebut dengan cara yang buruk.

    Saat ini Bukit Shafa digunakan sebagai salah satu lokasi utama dalam ibadah haji. Di tempat ini, jemaah akan berlari-lari kecil menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Rangkaian ibadah haji ini biasa disebut sa’i.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Hijrah ke Habasyah yang Pertama Rasulullah dan Kaum Muslimin



    Jakarta

    Setelah melalui masa sulit ketika berdakwah, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW dan kaum muslimin untuk hijrah. Beliau kemudian hijrah ke Habasyah untuk pertama kalinya.

    Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah menerangkan, perintah Allah SWT tersebut tercantum dalam surah Az-Zumar ayat 10,

    قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ١٠


    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”

    Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan, Rasulullah SAW sudah tahu bahwa Ashhaman An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah merupakan seorang raja yang adil sehingga tidak ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan beberapa orang muslim hijrah ke Habasyah untuk melepaskan diri dari cobaan sambil membawa agamanya.

    Tepatnya pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, sekelompok sahabat hijrah yang pertama kali ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita yang dipimpin oleh Utsman bin Affan RA.

    Dalam rombongan ini ikut pula Sayyidah Ruqayyah, putri dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah SWT setelah Ibrahim dan Luth.”

    Mereka berjalan dengan mengendap-endap di tengah malam dan pergi menuju pinggir pantai, agar tidak diketahui orang-orang Quraisy. Secara kebetulan saat mereka tiba di pelabuhan Syaiban ada dua kapal yang datang dan hendak bertolak menuju Habasyah.

    Setelah orang-orang Quraisy mengetahui kepergian orang-orang muslim mereka mulai mengejar, namun kaum muslimin berhasil untuk jabur dengan selamat.

    Di sana orang-orang muslim mendapat perlakuan yang baik. Hingga pada bulan Ramadan di tahun yang sama, Nabi SAW keluar dari Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul di sana.

    Beliau berdiri di hadapan mereka, lalu seketika itu pula membacakan surat An-Najm. Orang-orang kafir tidak pernah mendengarkan kalam Allah SWT tersebut sebelumnya. Hal ini turut dijelaskan dalam firman Allah SWT lainnya, yang berbunyi,

    وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

    Artinya: “Orang-orang yang kufur berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS Fushshilat: 26)

    Tetapi tatkala dilantunkan bacaan surah An Najm, gendang telinga mereka pun diketuk oleh kalam Ilahi yang indah menawan, yang keindahannya sulit untuk dilukiskan dengan suatu gambaran.

    Mereka sontak terdiam dan terpesona, menyimak setiap isi dan semua orang khidmat mendengarnya, sehingga tidak ada pikiran lain yang melintas di benak mereka.

    Tatkala beliau membacakan penutup surat ini, hati mereka serasa terbang. Akhirnya beliau membaca ayat terakhir yaitu surah an-Najm ayat 62,

    ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ

    Artinya: “Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,”

    Mereka pun bersujud, tidak seorang pun dapat menguasai dirinya dan mereka semua merunduk dalam keadaan sujud.

    Sebenarnya, sinar-sinar kebenaran ini sudah mulai masuk ke dalam jiwa orang-orang yang sombong dan selalu mengolok-ngolok itu. Mereka tidak mampu menahan diri untuk bersujud. Mereka merasakan keagungan dari Allah SWT.

    Mengenai hijrah ke Habasyah yang pertama ini juga dijelaskan oleh Ibrahim Al-Quraibi dalam Tarikh Khulafa bahwa setelah tiga bulan berada di Habasyah, para Muhajirin ini kembali ke Makkah.

    Mereka harus kembali ke Makkah karena menghadapi kenyataan bahwa mereka dalam keadaan terasing karena membawa serta istri-istrinya. Sehingga, mereka merasa tidak nyaman ketika hidup di negeri orang dengan keadaan terasing seperti itu.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Penduduk Sangat Ingkar, Rasulullah Dakwah di Thaif Hanya 10 Hari



    Jakarta

    Kisah dakwah Rasulullah SAW selalu menarik perhatian. Salah satunya ketika Rasulullah SAW berdakwah di Thaif selama 10 hari saja.

    Majdi Muhammad Asy-Syahawi dalam buku Saat-Saat Rasulullah Bersedih menceritakan sebuah riwayat dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im mengenai kisah dakwah Rasulullah SAW di Thaif.

    Diceritakan, sepeninggal Abu Thalib, orang-orang Quraisy semakin berani menyakiti Rasulullah SAW. Akhirnya beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah di sana dan ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA. Peristiwa ini terjadi pada beberapa malam terakhir di bulan Syawal tahun ke-10 kenabian.


    Muhammad bin Umar Al Waqidi mengatakan pula, “Rasulullah SAW tinggal di Thaif selama 10 hari, dan tidak seorang pun dari pemuka Thaif yang tidak didatangi oleh Rasulullah SAW dan disampaikan dakwah, namun tidak seorang pun dari mereka yang mau memenuhi dakwah beliau.”

    Hal itu dikarenakan mereka khawatir jika dakwah dari Nabi Muhammad SAW akan mempengaruhi kalangan muda mereka. Hingga akhirnya, mereka mengusir Rasulullah SAW dan mengatakan, “Wahai Muhammad, pergilah engkau dari negeri kami dan carilah pengikutmu di tempat lain.”

    Lalu para penduduk Thaif pun mulai menghasut orang-orang yang bodoh agar mengusir Rasulullah SAW. Akhirnya mereka pun melempari beliau dengan bebatuan hingga kedua kaki beliau menjadi terluka dan berdarah.

    Zaid yang saat itu menemani dakwah Nabi SAW berusaha melindungi Rasulullah SAW ketika meninggalkan Thaif dan kembali ke Makkah dengan penuh kesedihan. Sebab, tidak seorang pun dari mereka yang mau menerima dakwahnya baik dari kaum laki-laki maupun dari kaum perempuan.

    Rasulullah SAW pun akhirnya memilih untuk singgah di suatu tempat yang bernama Nakhlah. Di tempat tersebut beliau melakukan salat Tahajud dan membaca surah Jin.

    Pada saat itu terdapat 7 jin yang berasal dari penduduk Nashaibin ingin mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Namun, kedatangan mereka sama sekali tidak disadari oleh Rasulullah SAW. Hingga akhirnya turunlah firman Allah SWT dalam surah Al-Ahqaf ayat 29,

    وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٢٩

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Nabi Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an. Ketika menghadirinya, mereka berkata, “Diamlah!” Ketika (bacaannya) selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.”

    Kisah dakwah Rasulullah SAW ini juga diceritakan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Kitab Sirah Nabawiyah Jilid 1.

    Pada mulanya, Rasulullah SAW berkeinginan untuk mengadakan pusat dakwah baru. Beliau meminta pertolongan dari kaum Tsaqif namun mereka menolak bahkan mereka mengintimidasi Nabi Muhammad SAW dengan melempar batu. Lalu dalam perjalanan pulang dari Thaif tersebut ia bertemu dengan Addas, seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam.

    Al-Waqiqi mencatat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Ia menyebutkan pula bahwa beliau tinggal di Thaif selama 10 hari.

    Alasan Rasulullah SAW memilih Thaif sebagai tempat tujuan dakwahnya karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai.

    Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka.

    Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Juga di sanalah mereka mengisi waktu-waktu rehat di musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Sebagaimana juga orang-orang suku Makhzum memiliki keterkaitan kerjasama bisnis dengan orang-orang Tsaqif.

    Karenanya, apabila Rasulullah SAW berhasil melakukan dakwah di Thaif, sesungguhnya hal ini bisa menjadi kejutan yang dapat mengagetkan kaum kafir Quraisy sehingga mereka merasa terancam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah


    Jakarta

    Tahap pertama dakwah Nabi Muhammad SAW berlangsung di Makkah. Ada dua strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah yang digunakan kala itu.

    Strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah ini ditempuh beliau untuk menyebarkan agama Islam kepada kaumnya supaya meninggalkan kepercayaan untuk menyembah berhala.

    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW menempuh dua fase untuk berdakwah.


    Fase pertama yaitu berdakwah di Makkah kurang lebih selama 13 tahun dan fase kedua yaitu berdakwah di Madinah kurang lebih selama 10 tahun.

    Pada masing-masing fase yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa tahapan. Misalnya saja pada fase pertama yaitu berdakwah di Makkah di mana pada fase ini dibagi menjadi dua tahapan.

    Pertama, tahap dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Kedua, yaitu tahap dakwah secara terang-terangan kepada penduduk Makkah, dari awal tahun keempat kenabian hingga hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.

    Setelah beliau mendapatkan wahyu, beliau mulai menapaki jalan dakwah dan memikul tanggung jawab yang besar. Beliau mengemban misi kemanusiaan, beban akidah, sekaligus beban perang.

    Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

    1. Dakwah Sembunyi-sembunyi

    Pada awalnya, beliau berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Setelah turunnya ayat-ayat surah al-Mudatsir Rasulullah SAW mulai menjalankan misi dakwah di jalan Allah SWT.

    Saat itu, kaum Nabi Muhammad SAW tidak memiliki keyakinan dan hanya mengikuti tradisi nenek moyangnya saja. Berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi ini dilakukan Rasulullah SAW supaya penduduk Makkah tidak kaget dengan suatu ajaran yang tiba-tiba datang dan menggusarkan mereka.

    Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan menyampaikan kepada keluarganya terlebih dahulu. Orang-orang yang percaya kepada Rasulullah SAW dan memeluk Islam pertama kali dikenal dengan as-sabiqunal awwalun.

    Orang-orang tersebut di antaranya, Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW), Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi (mantan budak Nabi Muhammad SAW), Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad SAW), dan Abu Bakar as-Siddiq (sahabat Nabi Muhammad SAW).

    Kemudian Abu Bakar as-Siddiq mulai membantu dakwah Rasulullah SAW dengan menyeru kepada kaumnya. Ia memilih orang-orang yang percaya kepadanya, yang tentu saja mengenal dirinya dengan baik.

    Dari bantuan Abu Bakar as-Siddiq ini, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah akhirnya memeluk agama Islam.

    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa jika dijumlahkan maka total mereka yang memeluk Islam pertama kali mencapai 130 orang baik laki-laki maupun perempuan.

    2. Dakwah Terang-terangan

    Lambat laun dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini didengar oleh kaum Quraisy namun mereka tidak peduli. Mereka mengira bahwa Nabi Muhammad SAW termasuk salah satu golongannya.

    Namun, lama-kelamaan mulai muncul perasaan khawatir dari kaum Quraisy akan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kemudian turunlah wahyu yang mengharuskan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan.

    Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini dimulai dari menyeru kepada bani Hasyim, hingga dakwah di atas Bukit Shafa.

    Melihat kenyataan itu, kaum Quraisy menolak adanya dakwah dari Rasulullah SAW ini karena mereka khawatir akan merusak tradisi warisan nenek moyang mereka.

    Dari dakwah yang dilakukan secara terang-terangan ini Rasulullah SAW beserta dengan kaum muslimin mendapat perlakuan yang buruk dari kaum kafir Quraisy. Bahkan, kaum Quraisy membuat kesepakatan bersama untuk melarang kaum muslimin menunaikan haji. Kaum kafir Quraisy juga mengejek, menghina, dan mengolok-ngolok Nabi Muhammad SAW dengan menyebut beliau sebagai orang gila.

    Orang-orang musyrik itu melakukan berbagai cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW setelah disebarkan sejak permulaan keempat dari nubuwah. Berbagai tekanan ini terus dihadapi oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin, hingga mereka mulai berpikir untuk mencari keluar dari siksaan kaum kafir Quraisy ini.

    Akhirnya, Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT untuk melakukan hijrah. Maka, Rasulullah SAW dan kaum muslimin memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com