Tag: dakwah

  • Khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa


    Jakarta

    Umat Islam tengah memasuki bulan Rabiul Akhir 1445 H pada pekan ini. Menyambut bulan tersebut, khatib bisa menyampaikan khutbah Jumat Rabiul Akhir yang bertema Hakikat Takwa.

    Rabiul Akhir adalah bulan ke-4 dalam kalender Hijriah. Menurut ikhbar Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) awal bulan Rabiul Akhir 1445 H jatuh pada Senin, 16 Oktober 2023.

    Berikut contoh khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa seperti diambil dari Buku Khutbah Zaynul Atqiya’ yang disusun oleh Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo.


    Teks Khutbah Jumat tentang Hakikat Takwa

    الْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْكَرَمِ وَالْجُوْدِ وَالْإِفْضَالِ. وَأَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيْقَ وَالْإِخْلَاصَ فِي سَآئِرِ الْأَعْمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ الْإِخْلَاصَ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ سَبَبًا لِلْوُصُوْلِ إِلَى مَرَاتِبٍ أَهْلِ الْكَمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْهَادِي إِلَى الرَّشَادِ وَالْمُنْقِذُ مِنَ الضَّلَالِ. صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِمُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِهِ عَلَى أَحْسَنِ مِنْوَالٍ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَصِحُ بِدُوْنِ الْعِلْمِ، وَالْعِلْمُ وَالْعِبَادَةُ لا يَنْفَعَانِ إِلَّا مَعَ الْإِخْلَاصِ

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

    Marilah kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa beramal saleh dan menjauhi bermaksiat kepada-Nya.

    Alhamdulillah dengan berakhirnya bulan Rabiul Awal, kita telah memasuki bulan baru yaitu Rabiul Akhir yang semestinya juga disertai semangat baru untuk beramal saleh dan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan agar sedikit demi sedikit ketakwaan kita kepada Allah SWT dapat bertambah.

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Pada zaman yang modern dan serba canggih ini, kemajuan di segala bidang terus berkembang pesat. Namun kemajuan pesat tersebut tidak disertai dengan peningkatan takwa kita kepada Allah SWT Bukti lemahnya takwa kita sangatlah tampak jelas dengan adanya kemerosotan moral dan akhlak. Apakah kita akan terus menutup mata dan hati akan hal tersebut? Tentu tidak.

    Oleh karena itu, marilah kita jernihkan pikiran ini dengan memahami takwa yang sesungguhnya.

    Takwa dalam pengertian secara umum adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun apakah kita benar-benar memahami hakikat takwa itu sendiri?

    Dalam sebuah hadits dikatakan

    لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ، حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ، حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ. (رواه الترمذي وابن ماجه)

    Artinya: “Seorang hamba tidak akan mencapai orang- orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak dilarang karena khawatir terjatuh kepada sesuatu yang dilarang.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Hakikat takwa adalah seseorang tidak akan sampai pada derajat iman dan takwa kepada Allah SWT sampai ia meninggalkan atau menghindari segala bentuk yang dapat menggoyahkan keimanan yang ada di dalam hatinya. Untuk itu marilah kita kuatkan kepercayaan kita, sedikit berpikir dalam taat dan memperbaiki ibadah kepada Allah SWT hingga mencapai derajat muttaqin.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 2 yang berbunyi,

    اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢

    Terjemahnya: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah) gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,”

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Iman dan takwa seseorang bisa bertambah dan dapat pula berkurang. Oleh karena itu kita juga harus mewaspadai terhadap perbuatan-perbuatan yang dapat menyurutkan iman dan takwa kita, terus berusaha dan memohon kepada Allah SWT agar menambah ketakwaan dan keimanan kita. Karena hanya Allah SWT yang dapat menambah ketakwaan dan keimanan seseorang.

    Seperti halnya pada firman Allah SWT,

    وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

    Artinya: Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS Muhammad: 17)

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Untuk memahami hakikat iman dan takwa, kita perlu mengetahui ciri-ciri orang yang benar iman dan takwanya. Ciri-ciri tersebut telah Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya:

    ۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧

    Artinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah: 177)

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Untuk itu, marilah kita bercermin diri, apakah kita telah memenuhi ciri-ciri tersebut atau masih jauh. Semoga kita semua diberi kemudahan Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi orang yang beruntung kelak di akhirat. Karena orang yang beruntung adalah orang yang telah benar imannya.

    Hal itu dikatakan dalam firman Allah SWT:

    قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ١

    Terjemahan: Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (QS Al Mu’minun: 1)

    أعُوذُ بِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ. فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا. بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ مَلِكُ بَرُّ رَؤُوْفٌ رَحِيمٌ.

    Demikian contoh khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Strategi Dakwah Sunan Kudus Gunakan Sapi untuk Dekati Masyarakat


    Jakarta

    Sunan Kudus adalah tokoh walisongo yang berdakwah di Pulau Jawa dengan cara terbilang unik. Ia menggunakan sapi sebagai salah satu strategi dakwahnya kala itu.

    Disebutkan dalam buku Sejarah Islam Nusantara: Dari Analisis Historis hingga Arkeologis tentang Penyebaran Islam di Nusantara karya Rizem Aizid, Ja’far Shadiq atau biasa dikenal dengan nama Sunan Kudus adalah putra dari pasangan Raden Utsman Haji alias Sunan Ngudung di Jipang Panolan (utara kota Blora) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang.

    Sunan Kudus lahir pada tanggal 9 September, tahun 1400 Masehi. Sunan Kudus juga merupakan cucu dari Sunan Bonang yang masih merupakan keturunan langsung dari Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.


    Banyak yang mengatakan bahwa Sunan Kudus adalah cucu Sunan Ampel. Namun, terdapat pendapat lain yang meyakini bahwa Sunan Kudus adalah keturunan Persia. Bahkan ada yang berkata bahwa dia asli orang Jawa.

    Namun, dari semua pendapat yang berbeda itu, yang paling diyakini kebenarannya adalah versi pertama, yakni cucu Sunan Bonang dan cicit Sunan Ampel.

    Cara dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, terutama tanah Jawa sangat menarik untuk diulas.

    Prinsip Dakwah Sunan Kudus

    Dalam hal ajaran agama Islam, Sunan Kudus adalah ulama fikih yang sangat ketat memegang syariat. Ia sangat tegas dalam bertindak ketika dihadapkan dengan penyelewengan syariat agama.

    Oleh karena itu, pendirian atau ajaran Sunan Kudus berlawanan dengan Sunan Kalijaga dan menyebabkan pecahnya dakwah Islam menjadi dua kubu, yaitu Kubu Sunan Kudus dan kubu Sunan Kalijaga.

    Kubu Sunan Kudus banyak diikuti oleh murid-murid bangsawan Demak yang ingin menjalankan syariat Islam dengan ketat, sedangkan kubu Sunan Kalijaga lebih toleran terhadap adat istiadat setempat.

    Strategi Dakwah Sunan Kudus

    Dakwah Sunan Kudus identik dengan kata bijaksana dan lembut. Ia menyebarkan ajaran agama Islam dengan penuh kebijaksanaan dan tidak memakai kekerasan.

    Sunan Kudus juga masih mempertahankan beberapa tradisi agama Hindu. Contohnya melarang menyembelih sapi, memasukkan elemen-elemen candi dalam pembangunan masjid dan makam, dan membuat gending Maskumambang serta Mijil.

    Salah satu yang populer dari strategi dakwah Sunan Kudus adalah saat ia menggunakan sapi sebagai sarana dakwahnya. Kala itu, Sunan Kudus mengikat sapi di halaman masjid untuk menarik atensi masyarakat sekitar agar datang ke masjid.

    Menurut kepercayaan masyarakat setempat, sapi merupakan binatang yang dihormati. Orang yang memiliki sapi pun juga jarang.

    Sunan Kudus berpikir dengan cara itulah orang-orang akan mendatangi masjid yang tujuan awalnya untuk melihat sapi itu. Setelah mereka berkumpul, barulah Sunan Kudus menyampaikan wejangan yang berisi ajaran Islam.

    Cara yang sangat dekat dengan masyarakat ini tentu membuat dakwah Sunan Kudus sukses di kalangan masyarakat yang beragama Hindu. Mereka pun masuk Islam dengan tanpa paksaan.

    Strategi dakwah Sunan Kudus bisa ditulis dalam poin-poin penting sebagai berikut.

    • Masih membiarkan adat-istiadat Hindu-Buddha atau kepercayaan terdahulu yang sulit diubah.
    • Untuk adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mudah diubah, maka ia menyegerakan untuk menghapusnya.
    • Sunan Kudus menerapkan prinsip “tut wuri handayani” yang mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat, tapi mengusahakan untuk terus mempengaruhi sedikit demi sedikit dan prinsip “tut wuri hangiseni” yang artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi ajaran agama Islam.
    • Menghindari kekerasan dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Kudus memegang prinsip sebagaimana pepatah “mengambil ikan tetapi tidak mengeruhkan airnya.”
    • Pada akhirnya, boleh saja mengubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari umat Islam. Kalangan muslim yang sudah tebal imannya harus berusaha menarik simpati masyarakat nonmuslim agar mau mendekat dan tertarik dengan ajaran Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Alasan Dakwah Sunan Ampel Mudah Diterima oleh Penduduk Jawa



    Jakarta

    Sunan Ampel berdakwah di tengah masyarakat Jawa yang kala itu masih kental dengan budaya Hindu-Buddha. Meski demikian, dakwah Sunan Ampel mudah diterima oleh penduduk Jawa. Apa alasannya?

    Sebagai seorang muslim di Indonesia, terutama tanah Jawa, tentu kita tidak asing dengan nama Sunan Ampel. Ia termasuk dalam salah satu sunan di deretan nama-nama wali songo yang ada di Jawa.

    Sunan Ampel adalah keturunan ke-12 dari Husein bin Ali RA. Ia memiliki nama asli Ali Rahmatullah dan merupakan anak dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dengan Putri Champa, sebagaimana dijelaskan dalam buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa karya Alik Al Adhim.


    Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 di Campa, Aceh. Ia memiliki akhlak dan akidah yang sama dengan ajaran Islam sebab ia dibesarkan dalam keluarga yang kental keislamannya.

    Disebutkan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida’, Sunan Ampel adalah salah satu wali yang berdakwah di tanah Jawa, tepatnya di kota Surabaya.

    Setelah pindah ke Jawa Timur, ia sering disebut dengan nama Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Ia memiliki kepribadian yang alim, bijaksana, dan berwibawa.

    Sunan sendiri adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat untuk kewaliannya, sedangkan Ampel adalah tempat tinggalnya, yakni di daerah Ampel atau Ampel Denta.

    Saat ini wilayah Ampel menjadi bagian dari Surabaya. Setelah wafat, Sunan Ampel dimakamkan di tempat yang sama, yaitu sebelah barat Masjid Ampel.

    Ajaran Sunan Ampel sangat mudah diterima oleh masyarakat Jawa kala itu. Padahal kebudayaan Hindu-Buddha masih kental di antara mereka. Lantas, apa yang membuatnya demikian?

    Alasan kenapa dakwah Sunan Ampel mudah diterima oleh penduduk Jawa adalah karena ia menggunakan pola pengajaran tasawuf dalam pengajaran agama Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Sejarah Lengkap Islam Jawa: Menelusuri Genealogi Corak Islam Tradisi yang ditulis oleh Husnul Hakim.

    Dakwah ajaran Islam yang dikembangkan di pesantren Sunan Ampel dan selanjutnya oleh para wali songo adalah ajaran Islam model tasawuf, bukan model fikih. Hal ini disebabkan karena masyarakat Jawa sudah sangat kental dengan sistem dan pola pengajaran dukuh, dengan ajaran yamabrata dan niyamabrata.

    Singkatnya, yamabrata adalah tata cara pengendalian diri untuk tidak berbuat buruk. Adapun, niyamabrata adalah sikap menghiasi diri dengan sifat-sifat ilahi atau suci.

    Sebagaimana dijelaskan di atas, masyarakat Jawa kala itu masih sangat erat kaitannya dengan ajaran Hindu-Buddha. Tentu saja para pendakwah Islam tidak bisa langsung menghapus atau memutus seluruh hubungan antara masyarakat dengan ajaran mereka.

    Oleh sebab itu, Sunan Ampel memilih untuk memanfaatkan ajaran Hindu-Buddha ini untuk mendekatkan dan mengenalkan ajaran Islam kepada mereka.

    Sunan Ampel mengubah pendidikan Syiwa-Buddha yang disebut dengan “dukuh” dan lembaga kapitayan yang disebut dengan padepokan menjadi lembaga pendidikan Islam.

    Sunan Ampel mengubah istilah “susuhunan” menjadi “sunan”, “sashtri” dan “cantrik” menjadi “santri”, serta “dukuh” dan “padepokan” menjadi “pesantren” (dalam bahasa Indonesia disebut pesantrian).

    Sunan Ampel mengajarkan ajaran Islam dengan model tasawuf, di mana masyarakat menganggap pengetahuan rohani Islam tidak berbeda dengan Syiwa-Buddha. Apalagi, pola pengajaran ini di dukuh-dukuh tidak beda jauh dengan pola pengajaran tasawuf.

    Pengajaran ini menitikberatkan pada pembentukan watak mulia, budi pekerti murid yang luhur, jujur, tidak membenci, suka menolong, menjalankan syariat dengan baik, selalu bersyukur, dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Selain itu, alasan kenapa dakwah Sunan Ampel mudah diterima oleh penduduk Jawa adalah karena beliau mengganti istilah berbahasa Arab dengan istilah-istilah yang lebih mudah dan masih mengandung kapitayan dan Hindu-Buddha.

    Contohnya adalah menggunakan “Kanjeng Nabi” untuk memanggil “Nabi Muhammad SAW”, “susuhunan” untuk menyebut “syekh”, “kiai” untuk memanggil “al-‘alim”, “guru” untuk menyebut “ustadz”, dan masih banyak lagi.

    Sunan Ampel dan para wali songo juga mengambil alih anasir-anasir tradisi keagamaan Syiwa-Buddha dan kapitayan ke dalam adat kebiasaan masyarakat Islam. Contohnya adalah penggunaan beduk untuk penanda waktu sembahyang.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Contoh Pembukaan Ceramah Islami Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab


    Jakarta

    Kita sebagai umat Islam diamanahkan untuk menyebarkan kebaikan dan pengetahuan kepada masyarakat sekitar. Berdakwah kepada sesama merupakan suatu bentuk ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam.

    Dalam artikel ini, kita akan memberikan beberapa contoh pembukaan ceramah islami. Untuk penjelasan selengkapnya, simak tulisan berikut ini.

    Pentingnya Ceramah Agama

    Berdakwah yakni menyampaikan sebuah informasi atau ilmu baru pada orang lain merupakan sebuah kewajiban bagi umat muslim.


    Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah setiap orang di antara kalian menyampaikan darinya (ilmu) sekalipun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari).

    Allah SWT pun menekankan pentingnya pengetahuan dalam Al-Qur’an, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Mujadila (58:11), “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

    Contoh Pembukaan Ceramah Islami

    Berikut ini beberapa contoh pembukaan ceramah Islami yang bisa diterapkan saat membawakan materi dakwah.

    Contoh 1

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

    Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, was sholatu wassalamu ‘ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin, wa a’laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba’du.

    Artinya:

    “Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Rahmat dan keselamatan semoga terlimpah atas paling mulianya nabi dan rasul, juga atas keluarga dan para sahabat, serta kepada yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat. Adapun setelahnya.”

    Pertama-tama, marilah kita semua panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Kita bersyukur dapat berkumpul di pagi yang cerah ini, dengan nikmat kesehatan yang masih diberikan-Nya.

    Tak lupa pula salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, serta kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mulia.

    Marilah kita bersama-sama menjelajahi petunjuk hidup yang agung ini, dengan tema yang hendak kita bahas pada kesempatan yang berbahagia ini, yaitu tentang sedekah.

    Contoh 2

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    بِسْمِ اللهِ، والْحَمْدُ للهِ، الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

    Bismillah. Walhamdulillah. Assholaatu wassalaamu ‘ala rasuulillah. Wa’ala alihi washahbihi wamawwaalah.

    Artinya: Dengan menyebut nama Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan Salam atas Rasulullah, beserta keluarga dan shahabatnya yang mengikutnya.

    Hadirin yang dirahmati oleh Allah, pada kesempatan yang baik ini, izinkan saya untuk membawakan sebuah ceramah yang insya Allah akan memberikan inspirasi dan wawasan baru bagi kehidupan kita.

    Contoh 3

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

    Alhamdulillahi-lladzii hadaana lihadzaa, wama kunna linahtadiya laula an hadanallah, laqod jaa-at rusulu robbinaa bil haqqi wanuuduu an-tilkumul jannah, uuritstumuuhaa bimaa kuntum ta’maluun.

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT., yang dengan limpahan rahmat-Nya, memungkinkan kita berkumpul di pagi yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat walafiat untuk menyelenggarakan acara ceramah ini. Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah yang kita tempuh.

    Contoh 4

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    لْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُولِهِ الْـمُصْطَفَى، وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى، أَمَّا بَعْدُ

    Alhamdulillahi wakafaa, wassholatu wassalaamu ‘alaa rosulihil musthofaa, wa ‘alaa aalihi wasohbihi wamanih tadaa, amma ba’du.

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT., yang dengan limpahan rahmat-Nya memungkinkan kita berkumpul di pagi yang penuh berkah ini dengan kesehatan untuk melaksanakan ceramah hari ini.

    Contoh 5

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    الـحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهَ ، أَمَّا بَعْدُ

    Alhamdulillahi washsholatu wassalaamu ‘alaa rasulillah wa’alaa aalihi wa sohbihi wa maw waalaah. Amma ba’du.

    Pertama-tama, marilah kita semua bersyukur kepada Allah SWT., yang dengan limpahan rahmat-Nya memungkinkan kita berkumpul di pagi yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat walafiat untuk mengikuti ceramah islami kali in

    Contoh 6

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

    Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wabihi nasta’inu ‘alaa umuriddunya waddiin. Wassholatu wassalamu ‘alaa asyrofil mursaliin, wa ‘alaa aalihi wa sohbihi ajma’iin. Amma ba’du.

    Artinya:

    “Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kami memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Dan semoga rahmat serta kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi paling mulia, serta kepada para keluarga dan semua sahabatnya.”

    Hadirin yang mulia, dalam kesempatan yang berharga ini, izinkanlah saya untuk mengawali ceramah dengan membahas sebuah tema yang sangat penting dalam ajaran Islam, yaitu sedekah.

    Contoh 7

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ اْلأَنَامِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

    “Alhamdulillaahilladzii an’amanaa bini’matil iimani wal islaam. Wa nusholli wa nusallim ‘alaa khoiril an’ami sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’in. Amma ba’du.

    Artinya:

    “Segala puji bagi Allah yang telah memberi sebaik-baik nikmat berupa iman dan islam. Salawat dan doa keselamatanku terlimpahkan selalu kepada Nabi Agung Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabat-sahabat Nabi semuanya.”

    Saudara-saudari yang saya muliakan, pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan sebuah tema yang sangat penting dalam kehidupan kita, yaitu tentang sedekah.

    Contoh 8

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ….

    Innal hamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh, wana’udzu billahi min syururi anfusina, wamin sayyiaati a’maalinaa, mayyahdihillahu falaa mudhilla lah, wamayyudhlil falaa haadiya lah. Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuuluh.

    Artinya:

    “Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memujinya, memohon pertolongannya, dan memohon ampunannya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan kejahatan diri kita dan dari kejelekan-kejelekan amal kita.

    Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak seorangpun dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tak seorangpun dapat menunjukinya.

    Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusannya.”

    Contoh 9

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

    Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wadinil haqq, liyudzhirahu ‘aladdini kullihi, wakafa billahi syahiidaa. Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa’ala alihi washahbihi ajma’in. Amma ba’du.

    Artinya: Segala puji milik Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hidayah dan Agama yang benar, untuk memenangkannya atas semua agama lainnya, dan cukuplah Allah sebagai saksi.

    Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah berikan rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad serta kepada keluarga dan sahabatnya, semuanya. Adapun setelahnya.

    Hari ini, dalam kesempatan yang mulia ini, kita berkumpul untuk merenungi sebuah tema yang penting dalam ajaran Islam, yaitu tentang sedekah.

    Contoh 10

    Assalamu’alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

    “Nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruhu wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalinaa. Man yahdihillahu falaa mudhillu lahu wa man yudhlilhu falaa hadiyalah. Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii ajma’iin. Amma ba’du.”

    Artinya:

    “Kami panjatkan segala puji pada-Nya dan kami meminta pertolongan-Nya. Seraya memohon ampun dan meminta perlindungan-Nya dari segala keburukan jiwaku dan dari kejelekan amaliahku.

    Barang siapa yang telah Allah tunjukkan jalan baginya, maka tiada yang bisa menyesatkannya. Barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam bagi Muhammad Saw. beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.”

    Ceramah kali ini akan membahas dengan lebih mendalam tentang manfaat sedekah, dan bagaimana amalan ini memberikan dampak baik dalam kehidupan kita, tidak hanya secara materi, tetapi juga secara spiritual.

    Demikian beberapa contoh pembukaan ceramah Islami dalam bahasa Indonesia dan Arab yang berhasil kami rangkum. Kalimat rasa syukur di awal ceramah disebut pembukaan ceramah atau mukadimah. Semoga informasi ini membantu!

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Metode Dakwah Sunan Muria yang Mudah Diterima Masyarakat


    Jakarta

    Wali songo adalah sembilan ulama penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Setiap dari mereka memiliki metode dakwah yang khas, begitu pula dengan Sunan Muria.

    Daerah dakwah Sunan Muria cukup luas dan tersebar mulai lereng-lerang Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juwana, sampai pesisir utara Jawa Tengah.

    Metode Dakwah Sunan Muria

    Dirangkum dari buku Sejarah Islam Indonesia karya Rizem Aizid dan buku Seri Jejak Para Wali: Sunan Kalijaga karya Lilis Suryani, Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Sunan Muria mengikuti jejak ayahnya sebagai juru dakwah di tanah Jawa. Ia juga adalah penyokong Kerajaan Demak Bintara yang setia dan juga berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Agung Demak.


    Sunan Muria berdakwah dengan cara yang halus. Cara tersebut digunakannya dalam menyiarkan Islam di sekitar Gunung Muria.

    Metode dakwah Sunan Muria yaitu dengan menggunakan kesenian dan tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dina (tiga harian), sampai nyewu (seribu hari) yang tidak diharamkannya. Hanya tradisi yang berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau sholawat.

    Sunan Muria juga berdakwah dengan menggunakan gamelan dan wayang. Hal ini dilakukan oleh Sunan Muria sebagai upaya mempertahankan metode dakwah ayahnya terdahulu.

    Selain itu, Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang. Tembang Sunan Muria yang terkenal adalah tembang Sinom dan Kinanthi. Melalui lagu-lagu inilah Sunan Muria mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam.

    Cara dakwah yang dilakukan Sunan Muria tersebut membuatnya dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah “tapa ngeli”, yaitu dengan “dengan menghanyutkan diri” dalam masyarakat.

    Keterampilan Sunan Muria

    Disebutkan dalam buku Seri Jejak Para Wali: Sunan Kalijaga, Sunan Muria adalah wali yang sakti dan kuat. Keterampilan yang dimiliki oleh Sunan Muria adalah bercocok tanam, berdagang, dan melaut.

    Sunan Muria sering kali diminta menjadi penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan permasalahan yang sangat rumit sekalipun.

    Ajaran Sunan Muria yang Masih Dilestarikan

    Dirangkum dari buku Walisongo: Sebuah Biografi karya Asti Musman, ajaran Sunan Muria masih dilestarikan hingga saat ini. Beberapa di antaranya yaitu:

    1. Bidang Kesenian

    Sunan Muria menciptakan beberapa tembang. Di antara tembangnya yang terkenal yaitu tembang Kinanthi dan Sinom.

    2. Tradisi Bancakan

    Sunan Muria tidak menghilangkan tradisi masyarakat Jawa sebelumnya, justru ia memberikan warna Islam pada tradisi tersebut. Tradisi bancakan dan tumpeng yang biasa dipersembahkan ke tempat-tempat yang angker diubah menjadi kenduri, yaitu mengirim doa kepada leluhur.

    3. Tradisi Syukuran

    Colo Muria adalah salah satu tradisi syukuran sebagai bentuk rasa syukur kepada alam dan Tuhannya yang secara massal dilaksanakan oleh masyarakat Colo Muria. Tradisi tersebut ditujukan untuk menghormati dan mensyukuri dengan apa yang ada di bumi, khususnya untuk masyarakat sekitar Muria.

    4. Pantangan Bekerja Tiap Kamis Legi

    Pantangan bekerja setiap Kamis Legi merupakan tradisi dari masyarakat Colo yang masih berlaku hingga saat ini. Jika masyarakat Colo ingin melakukan pekerjaan atau hajat tertentu, maka mereka harus ziarah ke makam Sunan Muria dan melakukan selamatan agar tidak mendapatkan malapetaka maupun sesuatu yang tidak baik.

    5. Melestarikan Lingkungan

    Sunan Muria meninggalkan situs yang dikeramatkan seperti buah parijoto, kayu pakis haji, air gentong yang terdapat di lokasi pemakaman, ngebul bulusan, pohon kayu adem ati, serta pohon jati keramat.

    Sampai saat ini, situs tersebut masih dipercayai oleh masyarakat. Pengeramatan situs ini sebenarnya merupakan upaya Sunan Muria untuk mendukung kelestarian lingkungan.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Strategi Dakwah Sunan Gunung Jati saat Sebarkan Islam


    Jakarta

    Sunan Gunung Jati adalah satu dari sembilan wali songo yang berdakwah di wilayah Jawa. Setidaknya ada tiga strategi dakwah Sunan Gunung Jati yang pada akhirnya berhasil menarik minat masyarakat untuk masuk Islam.

    Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Maulana Syarif Hidayatullah. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memiliki nama lain yang terkenal seperti Fatahillah, Syekh Nuruddin Ibrahim bin Maulana Ismail, Said Kamil, dan Maulana Syekh Makhdum Rahmatullah, sebagaimana disebutkan dalam buku Metode Dakwah Masyarakat Multikultur karya Rosidi.

    Sunan Gunung Jati memiliki jasa yang sangat besar untuk agama Islam dan Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu universitas, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


    Perjalanan Hidup Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati merupakan seorang ulama dan kesatria yang memasuki kawasan Jawa Barat. Ia berhasil menaklukkan kerajaan Hindu Pajajaran dan mendirikan dua kerajaan Islam, yaitu Banten dan Cirebon.

    Sunan Gunung Jati juga adalah pendiri dari Jayakarta, yang kini menjadi Jakarta. Ia membentuk kerajaan itu demi melawan bangsa Portugis yang menjajah Indonesia.

    Saat sudah menginjak usia dewasa, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah pergi ke Makkah untuk menimba ilmu agama Islam secara detail selama tiga tahun.

    Tiga tahun kemudian, Ia merantau ke tanah Jawa, tepatnya di daerah Demak. Ia menikah dengan adik kandung Sultan Trenggono yang saat itu berkuasa dari 1521-1546.

    Kala itu, Belanda berniat untuk menginvasi Jawa Barat dan melancarkan rencana ekspansinya. Hal ini pun membuat Sultan Trenggono marah. Saat itulah, Sunan Gunung Jati diutus untuk membendung pasukan Portugis.

    Sunan Gunung Jati berhasil mengendalikan Sunda Kelapa pada tahun 1527. Kemudian beliau memindahkan Sunda Kelapa ke Cirebon. Kerajaan Banten diserahkan kepada putranya, Sultan Maulana Hasanuddin.

    Sunan Gunung Jati kemudian menetap di Cirebon untuk berdakwah menyiarkan agama Islam hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada tahun 1570 di Gunung Jati. Makanya, ia dijuluki sebagai Sunan Gunung Jati.

    Metode Dakwah Sunan Gunung Jati

    Terdapat beberapa macam metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Berikut adalah metode dakwah Sunan Gunung Jati.

    1. Pendekatan Budaya

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang pertama adalah dengan pendekatan kultural dan menghormati budaya lokal. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus dan murid-muridnya.

    Penghormatan terhadap budaya lokal dipraktikkan dengan membuat menara masjid yang menggabungkan seni arsitektur Islam dengan arsitektur budaya Jawa.

    Tak hanya dari segi arsitektur, metode dakwah Sunan Gunung Jati juga merambah pada pemanfaatan kesenian tradisional seperti wayang dan gamelan sebagai salah satu sarana menyentuh hati masyarakat sehingga mereka mau menerima ajaran Islam.

    Sunan Gunung Jati juga menciptakan tembang-tembang yang berisi nasihat agama yang bersumber dari kitab suci dan hadits nabi. Ada juga nasihat yang berisi etika kehidupan untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat serta ridha Allah SWT.

    Penggunakan seni budaya sebagai wasilah atau media dakwah Islam bertujuan agar masyarakat bisa menyerap ajaran Islam dengan lebih mudah dan akhirnya bisa digunakan sebagai pedoman kehidupan.

    2. Toleransi Tinggi terhadap Agama Lain

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang kedua adalah dengan meninggikan toleransi dengan agama lain yang ada di lingkungan masyarakat. Di mana saat itu mayoritas orang Jawa beragama Hindu atau Buddha.

    Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus dan murid-muridnya, Sunan Gunung Jati juga menerapkan sikap toleransi yang tinggi terhadap ajaran atau hukum-hukum yang dianut oleh agama Hindu-Buddha.

    Toleransi ini ditunjukkan dengan perilaku tidak menyembelih dan memakan sapi karena sapi adalah binatang yang dihormati oleh para pemeluk Hindu.

    3. Dimulai dari Lingkup Terdekat lalu Meluas

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang ketiga adalah dengan memulai dakwah dari lingkup terkecil hingga meluas sampai luar daerah.

    Disebutkan dalam buku Islam Abangan & Kehidupannya karya Rizem Aizid, proses dakwah Sunan Gunung Jati di tanah Pasundan membutuhkan waktu yang lama.

    Pada periode awal, Sunan Gunung Jati memulai dakwahnya di kawasan tempat tinggalnya saja, yakni Cirebon. Ia menyebarkan agama Islam sekaligus menjadi guru agama.

    Saat itu, Sunan Gunung Jati menggantikan Syekh Datuk Kahfi sebagai guru agama dan mengambil tempat di Gunung Sembung, Pasambangan (dekat Giri Amparan Jati).

    Setelah sukses, Sunan Gunung Jati pun melanjutkan dakwahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sana, yakni di Dukuh Babadan. Kemudian meluas lagi sampai daerah Banten.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Tema 9 Alasan Umat Islam Harus Bela Palestina



    Jakarta

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) minta juru dakwah sampaikan khutbah tentang peristiwa Palestina untuk membangun solidaritas umat Islam. Untuk itu, khatib Jumat bisa mengisi khutbah Jumat pekan ini dengan sederet alasan mengapa umat Islam harus membela Palestina.

    Anjuran MUI tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MUI bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh usai menyampaikan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina pada 10 November 2023 lalu.

    “Pesan ini harus disampaikan agar muncul sensitivitas, muncul solidaritas, dan juga muncul perasaan saling memiliki ketika saudara-saudara kita di Palestina dalam situasi duka dan kita mengalami duka yang sama,” kata Niam seperti dilansir Antara.


    Niam kemudian bilang, khutbah soal Palestina harus terus digencarkan hingga kemerdekaan Palestina tercapai.

    Saat ini Palestina tengah menghadapi serangan Israel yang memanas sejak 7 Oktober 2023 lalu. Belasan ribu nyawa dilaporkan melayang. Umat Islam juga kesusahan untuk menjalankan ibadah salat Jumat di Masjidil Aqsa karena penjagaan ketat dari polisi pendudukan Israel, meskipun gencatan senjata tengah diperpanjang.

    Tanah Palestina sendiri menyimpan sejarah dakwah para nabi terdahulu dan keistimewaan bagi umat Islam. Masjidil Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat awal Rasulullah SAW melakukan perjalanan suci–Isra Mi’raj– juga terdapat di bumi Palestina.

    Berikut naskah khutbah Jumat tentang alasan mengapa umat Islam harus membela Palestina yang disusun oleh Ustaz Nur Rohmad, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, seperti dilansir NU Online, Kamis (30/11/2023).

    Khutbah I

    الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّـدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلا (الأحزاب: ٢٣)

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan senantiasa berupaya melakukan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan.

    Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

    Hari-hari terakhir ini, kita disuguhi tontonan yang begitu menyayat dan mengiris hati kita. Bagaimana tidak. Di era modern yang katanya penjajahan di atas muka bumi telah dihapuskan, kaum Zionis dengan leluasa seenaknya saja menjajah bumi Palestina dan menindas rakyat di sana. Serangan demi serangan terus dilancarkan kepada rakyat yang tidak berdosa. Ratusan nyawa rakyat Palestina telah menjadi korban kekejian dan kebiadaban mereka. Sebagai umat Islam tentu kita mencintai dan membela Palestina. Palestina bukanlah negeri biasa. Palestina memiliki sejarah panjang yang menjadikannya selalu bersemayam di hati setiap Mukmin. Ada sembilan alasan kenapa kita harus mencintai dan membela Palestina.

    Pertama, di sana terdapat Masjid al-Aqsha, masjid tertua di dunia setelah Masjid al-Haram. Dibangun pertama kali oleh Nabi Adam ‘alaihis salam empat puluh tahun setelah beliau membangun Masjid al-Haram.

    Kedua, Masjid al-Aqsha yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina pernah menjadi kiblat shalat selama tujuh belas bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam berhijrah dari Makkah ke Madinah.

    Ketiga, Masjid al-Aqsha yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina adalah titik akhir perjalanan Isra’ dan titik awal perjalanan Mi’raj. Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sanalah Baginda Nabi melakukan shalat berjamaah mengimami seluruh nabi dan rasul, mulai Nabi Adam ‘alaihis salam hingga Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

    Keempat, Palestina adalah negeri para nabi dan rasul. Banyak sekali para nabi dan rasul yang pernah tinggal dan berdakwah menyebarkan Islam di sana. Di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariyya, Nabi Yahya, Nabi ‘Isa dan nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk Bani Israil yang jumlahnya sangat banyak.

    Kelima, di sana terdapat Kota Baitul Maqdis, ardhul mahsyar wal mansyar, tempat dikumpulkannya seluruh manusia menjelang hari kiamat yang masih hidup kala itu.

    Keenam, di sanalah Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

    Ketujuh, Palestina adalah bagian dari daratan Syam yang didoakan berkah oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya:

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا

    “Ya Allah, berkahilah negeri Syam dan Yaman.”

    Kedelapan, banyak sekali para sahabat yang pernah berdakwah, menyebarkan dan mengajarkan Islam di sana. Di antara mereka adalah ‘Ubadah bin ash Shamit, Syaddad bin Aus, Usamah bin Zaid bin Haritsah, Watsilah bin al Asqa’, Dihyah al Kalbiy, Aus bin ash Shamit, Mas’ud bin Aus dan masih banyak lagi yang lain.

    Kesembilan, Palestina telah melahirkan ribuan ulama dan tokoh-tokoh Islam terkemuka yang berkhidmah untuk Islam. Tercatat para ulama yang lahir atau pernah tinggal di Palestina adalah Imam Malik bin Dinar, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Ibnu Syihab az-Zuhri, Imam asy-Syafi’I, dan masih banyak lagi yang lain.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Oleh karena itulah, Sultan Mahmud Nuruddin Zanki pernah mengucapkan sebuah perkataan yang fenomenal: “Aku malu kepada Allah untuk tersenyum sedangkan Baitul Maqdis masih terjajah.”

    Sultan Abdul Hamid II bahkan pernah mengatakan: “Saya tidak akan menjual sejengkal tanah pun dari bumi Palestina.” Beliau katakan itu dengan tegas dan penuh keberanian pada saat menolak sogokan uang dalam jumlah sangat besar dari orang-orang Zionis Yahudi yang ingin menempati sebagian wilayah Palestina.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Tidak kalah fenomenal adalah Sultan Shalahuddun al-Ayyubi. Didorong oleh kecintaannya yang mendalam kepada bumi Palestina, pada tanggal 27 Rajab 583 H, beliau berhasil membebaskan Baitul Maqdis, Palestina. Ketika ingin membebaskan Baitul Maqdis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tidak langsung menyiapkan tentara dan peralatan perang. Akan tetapi yang mula-mula beliau lakukan adalah mempersatukan umat Islam dalam satu ikatan aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut beliau, kesatuan aqidah akan melahirkan kesatuan hati. Kesatuan hati antarumat Islam adalah kekuatan dahsyat yang tidak akan dikalahkan oleh siapa pun. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, beliau memerintahkan setiap juru adzan di semua wilayah yang beliau kuasai untuk mengumandangkan aqidah Asy’ariyyah setiap hari sesaat sebelum adzan shubuh.

    Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi adalah penganut mazhab Syafi’i dalam fiqih dan pengikut mazhab Asy’ari dalam aqidah. Sang sultan memiliki perhatian yang sangat besar dalam penyebaran aqidah Asy’ariyyah. Beliau adalah seorang sultan yang hafal Al-Qur’an, hafal kitab at-Tanbih, sebuah kitab yang menjelaskan tentang fiqih mazhab Syafi’i, dan hafal kitab al-Hamasah, sebuah kitab himpunan bait-bait syair. Sultan Shalahuddin, sebagaimana dijelaskan Imam as-Suyuthi dalam al-Wasa’il fi Musamarah al-Awa’il adalah seorang yang memegang teguh ajaran agama, wara’, pejuang, mujahid dan seorang yang bertakwa.

    Melihat perhatian khusus Sultan Shalahuddin terhadap penyebaran aqidah Asy’ariyyah, Syekh Muhammad bin Hibatillah al-Barmaki lalu menyusun kitab yang berisi bait-bait nazham dalam ilmu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang ia beri judul Hada’iq al-Fushul wa Jawahir al-Ushul. Kitab itu lalu dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Shalahuddin lantas memerintahkan kepada semua madrasah untuk mengajarkan kitab tersebut. Sebab itu, kitab itu kemudian terkenal dengan sebutan al-‘Aqidah ash-Shalahiyyah.

    Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut adalah beberapa bait berikut ini:

    وصانعُ العــالمِ لا يحويهِ # قطرٌ تعالى اللهُ عـن تشبيهِ قد كانَ موجودًا ولا مكانَا # وحكمهُ الآن على ماكـانَ سُبحانهُ جلّ عن المكـانِ # وعـزّ عن تغيُرِ الزمانِ فقد غَـلا وزادَ في الغُـلوِ # مــن خصهُ بجهةِ العـلو

    Sang Pencipta Alam tidak diliputi tempat, Allah Mahasuci dari penyerupaan terhadap makhluk
    Allah ada sebelum adanya tempat, dan Dia sekarang tetap seperti sedia kala, ada tanpa tempat
    Mahasuci Allah dari tempat, dan Dia Mahasuci dari peredaran masa
    Sungguh telah melampaui batas, orang yang mengkhususkan-Nya di arah atas

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Apa yang dapat kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Palestina? Berjihad membantu mereka secara fisik melawan para penjajah, jelas kita tidak mampu. Yang dapat kita lakukan adalah mengulurkan bantuan dana untuk meringankan penderitaan mereka. Minimal, kita bantu mereka dengan doa. Karena doa adalah senjata seorang Mukmin.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

    Khutbah II

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?



    Jakarta

    Wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Ajarannya mudah diterima oleh masyarakat Jawa karena sangat toleran pada budaya lokal. Bagaimana cara beliau dalam menyebarkan agama Islam? Berikut ulasannya.

    Kerajaan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Patah pada akhir Abad ke-15 di Bintoro,Demak. Hal ini bersumber dari buku Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda karya Conie Wishnu W.

    Dalam mengatur Kerajaan Demak, pemerintahan dibantu oleh Dewan Penasihat yang bernama Wali Songo. Dewan ini bertugas memberikan masukan kepada raja serta menyelesaikan persoalan di masing-masing bidangnya.


    Seluruh Wali Songo ini memiliki peran yang sangat besar untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa dan Demak. Berikut nama wali yang memperluas agama Islam di Demak.

    a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

    b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

    c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

    d. Sunan Drajat atau Raden Qasim

    e. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

    f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

    g. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

    h. Sunan Muria atau Raden Umar Said

    i. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

    Salah satu wali yang paling banyak dibicarakan apabila membicarakan tentang perluasan agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria.

    Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nana Supriatna dalam bukunya yang berjudul Sejarah untuk Kelas XI SMA Program Bahasa.

    Tulisan kali ini akan membahas tentang sosok Sunan Kalijaga sebagai salah satu wali yang paling berpengaruh di Demak. Lantas, bagaimana sosoknya dan cara dakwahnya?

    Sosok Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Beliau adalah seorang wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Murodi.

    Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, adipati Tuban. Nama lain beliau yang banyak diketahui adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

    Mengenai nama Kalijaga ada banyak versi yang menjelaskannya. Ada yang berpendapat nama ini diambil dari hobinya berendam di sungai (kungkum kali), sehingga orang-orang menyebutnya “jaga kali” atau Kalijaga.

    Sebagian yang lain menyebutkan nama ini diambil dari istilah Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan Demak kala itu.

    Menurut catatan sejarah Indonesia, Sunan Kalijaga termasuk dalam jajaran wali yang popular di kalangan masyarakat khususnya Jawa. Peran dan cara penyebaran Islam yang menggunakan pendekatan budayalah yang menjadikannya banyak dikenal oleh masyarakat.

    Lantas, bagaimana cara dakwah Sunan Kalijaga sebagai wali yang memperluas agama Islam di Demak?

    Dakwah Sunan Kalijaga

    Salah satu wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Dakwah yang dilakukannya tergolong mudah diterima oleh masyarakat sehingga bisa berkembang pesat.

    Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama seperti guru sekaligus sahabat dekatnya, yaitu Sunan Bonang. Beliau memiliki paham keagamaan yang cenderung sufistik berbasis salaf.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan budaya lokal untuk media berdakwah. Oleh sebab itu, beliau dinilai sebagai wali yang toleran pada budaya lokal.

    Sunan Kalijaga berpendapat, jika pendirian atau budaya yang sudah melekat pada mereka dihilangkan atau diserang, maka mereka tidak akan mau mempelajari agama Islam. Oleh karena itu, beliau menyebarkan ajaran Islam secara bertahap sambil terus mempengaruhi mereka.

    Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta suluk sebagai media dakwahnya. Beliau yakin, apabila masyarakat sudah mengerti tentang agama Islam, maka kebiasaan lama mereka akan hilang dengan sendirinya. Karena inilah, ajaran beliau terkesan sinikretis.

    Terdapat beberapa peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada sampai sekarang. Beliau merupakan perancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang Tatal yang ada di masjid merupakan kreasi beliau.

    Selebihnya, Sunan Kalijaga juga merupakan pencipta dari baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja, lanskap pusat kota berupa keratin, dan alun-alun dengan dua beringin serta masjid.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Sahabat Rasulullah yang Rumahnya Jadi Pusat Dakwah?



    Jakarta

    Dakwah menjadi salah satu kunci penting dalam penyebaran Islam. Rasulullah SAW memiliki sejumlah sahabat yang berperan penting dalam berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam.

    Para sahabat Rasulullah SAW dengan giat dan sabar dalam menghadapi berbagai rintangan. Bahkan salah satu sahabat Rasulullah menjadikan rumahnya sebagai pusat berdakwah.

    Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang rumahnya dijadikan pusat berdakwah adalah Arqam bin Abi al-Arqam. Berikut kisahnya.


    Arqam bin Abi al-Arqam, Sahabat yang Rumahnya Jadi Pusat Dakwah

    Dirangkum dari buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur’an oleh Yoli Hemdi, Arqam bin Abi al-Arqam adalah sahabat ketujuh yang masuk Islam, namun namanya tidak setenar sahabat yang lain. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam.

    Rumah Arqam bin Abi al-Arqam ini dijadikan sebagai pusat berdakwah Rasulullah SAW pada masa dakwah sirri atau sembunyi-sembunyi. Pusat dakwah ini disebut dengan Darul Arqam atau Dar al-Arqam.

    Rumah Arqam yang terpencil di masa dakwah Islam ini berada di bagian bukit Safa. Sehingga aman dari kaum Quraisy karena mereka tidak mampu mendeteksinya.

    Arqam berasal dari suku Makhzum yang merupakan musuh suku Hasyim (keluarga besar Rasulullah SAW) pada masa jahiliyah. Sehingga para penyembah berhala ini tidak mencurigainya.

    Selain itu, Arqam juga masuk Islam di usia sekitar 16 tahun. Sehingga kaum Quraisy tidak curiga jika Rasulullah SAW berkumpul di rumahnya.

    Sebelumnya, tempat ini disebut dengan Daar al-Arqam atau rumah al-Arqam. Kemudian disebut dengan Daar al-Islam atau Rumah Islam setelah Arqam memeluk Islam.

    Tempat tini menjadi madrasah Islam yang pertama. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi pengajarnya adalah Rasulullah SAW. Selain sebagai tempat untuk belajar agama, strategi melebarkan dakwah Islam pun juga direncanakan.

    Rasulullah SAW secara sengaja menyembunyikan madrasah ini dari orang-orang Quraisy. Sebab, hal ini merupakan strategi beliau karena pada saat itu jumlah umat Islam masih sangat sedikit dan belum kuat.

    Golongan as-Sabiqun al-Awwalun (golongan pertama yang masuk Islam) secara berkala datang ke rumah Arqam. Mereka melaksanakan pengajian selama tiga tahun semenjak Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT.

    Rasulullah SAW tetap mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam. Namun belum terjadi kasus penghalangan karena kaum musyrikin Quraisy tersebut belum merasa mendapatkan ancaman. Sebab pada saat itu kaum muslim masih dipandang sebelah mata.

    Rumah Arqam pernah gempar di masa Umar bin Khattab. Kaum Quraisy kemudian datang menggedor pintu dengan pedang terhunus, yang disambut Rasulullah SAW dengan menarik ikatan bajunya dengan tarikan keras.

    Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang menyebabkan engkau datang ke mari, hai anak Khattab? Demi Allah, aku melihat bahwa engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan menurunkan siksa kepadamu.”

    Meski yang datang adalah jagoan dari kaum Quraisy, namun bentrokan tidak terjadi. Sebab Umar bin Khattab RA menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah.”

    Rumah Arqam mulai menarik perhatian dari pihak-pihak yang lain. Secara tiba-tiba rumah Arqam terlihat oleh beberapa kafir Quraisy yang hendak membuat onar.

    Mereka mencaci maki dan hendak memerangi kaum muslim. Dengan sigap, Sa’ad bin Abi Waqqash memukul salah satu dari mereka sehingga darah pun tertumpah. Inilah darah pertama yang tertumpah dalam pergerakan Islam.

    Meski Arqam tidak dikenal secara luas, namun diri dan rumahnya memiliki peran yang sangat penting untuk melakukan dakwah di tengah keterbatasan.

    Renovasi pada Darul Arqam

    Merujuk pada buku Ensiklopedia Fiqih Haji & Umrah oleh Arifin, pada tahun 171 H dibangun sebuah masjid oleh Khaizuran, ibu Khalifah Bani Abbasiyah Harun Al-Rasyid. Kemudian pada tahun 1375 H, tempat itu dibongkar untuk perluasan Masjidil Haram.

    Sekarang Darul Arqam sudah menyatu menjadi tempat Sa’i. Guna mengenang sejarah ini, salah satu pintu di Masjidil Haram diberi nama dengan pintu Darul Arqam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Naskah Khutbah Jumat Soal Menjaga Lisan


    Jakarta

    Naskah Jumat kali ini akan membahas soal menjaga lisan. Hal tersebut sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan umatnya untuk selalu berbicara dengan kata-kata yang baik. Jika tidak mampu melakukannya, maka lebih baik untuk tetap diam, yang memiliki arti sama dengan menjaga perkataan.

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR Al Bukhari)


    Karena lisan dapat diibaratkan sebagai pisau. Jika digunakan secara sembarangan, dapat melukai perasaan orang.

    Merujuk pada buku “Sejumlah Amalan Penting Penghuni Surga saat di Dunia” karya Ahmad Abi Al-Musabbih, terdapat banyak perbuatan yang bermula dari lisan dan akhirnya menimbulkan dosa. Contohnya adalah ghibah, mengadu domba, pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan candaan yang berlebihan.

    Mengutip laman Kemenag, berikut ini adalah naskah khutbah Jumat tema menjaga lisan yang disusun oleh Amien Nurhakim, Alumnus UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan.

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Pada kesempatan mulia ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa; dengan menjauhi larangan Allah sejauh-jauhnya dan menjalankan perintah-Nya semampunya. Dengan demikian kita dapat berproses menjadi sebaik-baiknya hamba Allah sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13:

    اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

    “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Sesungguhnya umat Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, baik manusia, hewan, hingga tumbuh-tumbuhan dan lingkungan. Di antara bentuk kasih sayang yang terkandung dalam ajaran Islam adalah berkata-kata yang baik.

    Perkataan dan ucapan yang baik merupakan perbuatan terpuji yang mendatangkan kebaikan dan dapat meninggikan derajat, baik di sisi Allah maupun di tengah-tengah manusia.

    Allah SWT memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik. Dalam Surat al-Baqarah ayat 83 Allah berfirman:

    قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

    “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”

    Allah SWT juga menjanjikan surga kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, pakaian mereka di sana adalah sutera.

    Di ayat selanjutnya karakter mereka ditegaskan, yaitu orang-orang yang di dunia diberi petunjuk untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik. Allah ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 24:

    وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

    “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”

    Di ayat lain Allah menegaskan agar orang-orang beriman untuk berkata-kata yang baik, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Allah berfirman dalam surat Al-Isra ayat 53:

    وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

    “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

    Ayat-ayat yang telah dibacakan tadi merupakan pengingat bagi kita supaya senantiasa menjaga ucapan kita. Tidaklah yang keluar dari mulut kita melainkan kebaikan, minimal, jika kita tidak bisa mengucapkan kebaikan, maka lebih baik diam. Jangan sampai ucapan yang keluar dari lisan kita malah menyakiti hati orang lain. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita semua:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

    Jangan sampai perkataan kita yang tidak baik kepada orang lain membuat kekacauan di tengah-tengah masyarakat dan merusak hubungan harmonis yang telah tumbuh dan terpelihara di dalamnya. Berkata apa saja boleh, asalkan jangan berlebihan sehingga nantinya ucapan kita tidak dapat disaring dan perkataan buruk pun mengarah kepada orang lain, akhirnya hal itu menimbulkan kerusakan dan penyakit hati, baik bagi orang yang berbicara maupun mendengarnya.

    Tentunya, ucapan yang tidak baik merupakan akhlak yang tercela dan dapat menimbulkan kebencian di tengah-tengah manusia. Imam al-Lu’lui mengatakan dalam syair Adabut Thalab:

    وَفِي كَثِيْرِ الْقَوْلِ بَعْضُ الْمَقْتِ

    “Dalam banyaknya bicara dapat menimbulkan sebagian kebencian.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Imam al-Nawawi berkata:

    يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ أَن يَنْطِقَ أَنْ يَتَدَبَّرَ مَا يَقُوْلُ قَبْلَ أَنْ يَنْطِقَ، فَإِنْ ظَهَرَتْ فِيْهِ مَصْلَحَةٌ تَكَلَّمَ، وَإِلَّا أَمْسَكَ

    “Hendaknya bagi siapa pun yang ingin berbicara, ia pikir-pikir terlebih dahulu, apabila ucapannya mengandung maslahat, maka silakan, apabila tidak, maka lebih baik diam.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang sangat peduli kepada umatnya, beliau tidak mau dan sedih jika umatnya masuk neraka, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kiat-kiat supaya umatnya terbebas dari api neraka. Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

    “Jauhilah neraka meski dengan [bersedekah] sepotong kurma, jika tidak melakukannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan tutur kata yang baik.”

    Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

    Semoga kita dapat menjadi pribadi yang baik dalam berperilaku maupun bertutur kata, semoga kita digolongkan sebagai orang yang beriman, dan orang yang beriman itu bukanlah mereka yang suka mencaci maupun melaknat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ

    “Orang yang beriman bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk.”

    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

    أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

    اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com