Tag: dApps

  • Bank of America Prediksi Solana Kalahkan Pangsa Pasar Ethereum

    Dalam catatan penelitiannya baru-baru ini, analis Bank of America Alkesh Shah memperkirakan bahwa Ethereum akan terus kehilangan pangsa pasar jaringannya dan perlahan disaingi Solana.

    SOL naik lebih dari 2.200% diatas performa ETH tahun lalu. Dengan blockchain aslinya muncul sebagai salah satu pesaing utama untuk platform smart contract.

    Namun, pasangan SOL/ETH turun 8% di awal 2022, dengan seluruh pasar mengalami koreksi yang signifikan.

    Shah juga meyakini bahwa Solana dapat menjadi Visa ekosistem aset digital.

    Baca JugaSuku Bunga Belum Jadi Naik, Crypto Diprediksi Membaik

    Meskipun Ethereum lebih terdesentralisasi, Shah mengklaim bahwa itu tidak cukup terukur, yang menaikkan biaya transaksi. Oleh karena itu, analis percaya bahwa skalabilitas adalah pertukaran yang wajar.

    Solana Bisa Menjadi Visa Ekosistem Aset Digital

    Shah menyebut ‘Solana bisa menjadi Visa ekosistem aset digital’ bukan tanpa alasan.

    Hal itu diklaim sang analis setelah melihat potensi yang ada pada blockchain Solana dengan 400 dApps di dalamnya yang bisa menampung semuanya, mulai dari peer-to-peer exchange hingga NFT marketplace.

    Sementara Ethereum dinilai kurang pantas diklaim dengan gelar tersebut, namun dapat menjadi blockchain untuk ‘transaksi dan identitas, penyimpanan, serta kasus penggunaan chain berpasokan bernilai tinggi,’ tulisnya.

    Laporan lain kemudian datang dari Crypto veteran, yang ternyata telah lama membandingkan transaksi per detik (TPS) yang mungkin dilakukan dalam blockchain dan yang dilakukan di jaringan kartu kredit.

    Visa mengatakan secara teoritis dapat menangani setidaknya 24.000 TPS tetapi rata-rata sekitar 1.700. TPS yang paling sering dibicarakan untuk Ethereum adalah 15. Itu tidak banyak, mengingat tuntutan dApps yang terus-menerus on-chain.

    Dengan tempat terbatas, biaya transaksi di jaringan biasanya diukur dalam dua digit dalam Dollar.

    Sementara banyak proyek mencoba memecahkan masalah skalabilitas Ethereum, termasuk melalui sidechain di Polygon dan rollup di Arbitrum.

    Namun hasil mengungkapkan, kemacetan tidak akan berkurang secara signifikan hingga peluncuran penuh Ethereum 2.0.

    Sementara Solana, dinilai dapat mengalahkan Ethereum dan Visa dengan dengan batas teoretis 65.000 TPS yang ditetapkan dengan harga sepersekian sen.

    Baca juga5 Prediksi Dogecoin (DOGE) di Tahun 2022

    “Solana memprioritaskan skalabilitas, tetapi blockchain yang relatif kurang terdesentralisasi dan aman memiliki pengorbanan, diilustrasikan oleh beberapa masalah kinerja jaringan sejak awal,” tulis Shah dalam catatannya. Merujuk pada pemadaman jaringan di September lalu dan beberapa masalah yang lebih kecil.

    Shah mencatat keunggulan SOL lain yang berpotensi mengalahkan pangsa pasar Ethereum seperti kemampuannya untuk memberikan throughput tinggi, biaya rendah, dan kemudahan penggunaan menciptakan blockchain yang dioptimalkan untuk kasus penggunaan konsumen seperti pembayaran mikro, DeFi, NFT, jaringan terdesentralisasi (Web3), dan game.

    Lantas, dengan performanya apakah Solana benar-benar bisa menjadi Ethereum Killer di masa depan?

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Anak Perusahaan Aplikasi Chat LINE Kembangkan Blockchain Finschia

    LINE Corporation terus memperdalam bisnisnya di dunia blockchain dan kripto. Perusahaan yang punya aplikasi chat LINE ini sedang mengembangkan jaringan blockchain bernama “Finschia.”

    LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation dan pengelola bisnis yang terkait dengan kripto dan blockchain, mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan “Finschia,” sebuah mainnet blockchain yang disebut perusahaan sebagai generasi ketiga, untuk membantu pengembang lebih mudah mengelola program mereka dan mendukung smart contract.

    Mainnet saat ini hanya mendukung token LINK (LN), tetapi di masa depan akan lebih banyak token dan fitur akan diperkenalkan. Dengan mainnet yang sekarang aktif, LINE telah resmi menjadi platform terdesentralisasi yang menawarkan media sosial dan layanan pembayaran.

    LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation mengumumkan peluncuran mainnet blockchain Finschia, Sumber: LINE Corporation.
    LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation mengumumkan peluncuran mainnet blockchain Finschia. Sumber: LINE Corporation.

    Baca juga: Penerimaan Pajak Kripto Tembus Rp 231 M, Investor Terus Bertambah

    Peluncuran mainnet blockchain Finschia menandai langkah lain menuju realisasi rencana besar perusahaan untuk membuat layanan terdesentralisasi dapat diakses oleh semua orang. Selain itu, dengan peluncuran ini LINE memantapkan dirinya sebagai pesaing langsung Ethereum dalam pengembangan dApps.

    “Kami sangat senang memperkenalkan Finschia, di mana kami dapat bekerja sama dengan pengembang lain untuk membuka kemungkinan jaringan blockchain kami,” kata CEO LINE NEXT, Youngsu Ko.

    “Kami berharap dapat menciptakan ekosistem blockchain baru dan memperluas ekonomi token LINE berdasarkan LINK aset kripto.”

    Finschia telah menambahkan banyak fitur untuk meningkatkan fungsionalitas, kecepatan, dan stabilitas. Ia menggunakan Ostracon, algoritma konsensusnya sendiri, yang menambahkan VRF (Verifiable Random Function) ke algoritma konsensus Cosmos.

    Dengan peningkatan ini, Finschia 400 kali lebih cepat dalam kecepatan perdagangan dan mengurangi biaya hingga 98% dibandingkan dengan Ethereum. Selain itu, Finschia telah memperkenalkan penghargaan berbasis kontribusi, di mana pengguna dan pengembang dapat menerima penghargaan berdasarkan kontribusi mereka untuk memperluas ekosistem blockchain.

    Keunggulan

    LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation mengumumkan peluncuran mainnet blockchain Finschia, Sumber: LINE Corporation.
    LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation mengumumkan peluncuran mainnet blockchain Finschia. Sumber: LINE Corporation.

    Baca juga: Huobi dan Visa Kolaborasi Rilis Kartu Debit Kripto Buat Belanja

    Dengan peluncuran ini, LINE bermaksud untuk mendekatkan diri ke para pengembang blockchain, untuk mengenalkan keunggulannya yang mudah dalam mengembangkan dApps.

    Melalui Finschia, pengembang dapat berkolaborasi dengan layanan LINE dan menggunakan sumber daya yang dimiliki LINE untuk mengembangkan layanan blockchain yang mudah digunakan.

    LINE telah mengembangkan ekosistem blockchain sejak 2018 melalui pengenalan layanan seperti LINK kripto, layanan perdagangan aset kripto, wallet, dan NFT marketplace.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Solana Jadi Tulang Punggung dApps, Transaksi Sehari Tembus $8,9 Juta

    Solana telah mencuri perhatian dunia kripto dengan dominasinya yang luar biasa dalam pendapatan aplikasi blockchain.

    Pada Januari 2025, aplikasi terdesentralisasi (dApps) berbasis Solana menghasilkan 73,3% dari total pendapatan harian di seluruh ekosistem kripto, melampaui Ethereum dan Binance Smart Chain secara signifikan.

    Dominasi Pendapatan Solana

    Data dari DeFiLlama menunjukkan bahwa dApps Solana meraup pendapatan sebesar $8,9 juta dalam 24 jam, hampir dua kali lipat dari Ethereum yang berada di posisi kedua.

    Aplikasi seperti BONKbot dan Raydium menjadi kontributor utama, masing-masing menghasilkan $2,67 juta dan $1,17 juta.

    Pertumbuhan ini bukan hanya fenomena sesaat. Pada kuartal terakhir 2024, dApps Solana mencatat pendapatan sebesar $751 juta, lebih dari tiga kali lipat pendapatan Ethereum sebesar $314 juta.

    Faktor Pendorong: Memecoin dan Infrastruktur Efisien

    Salah satu pendorong utama lonjakan pendapatan Solana adalah popularitas memecoin.

    Platform seperti Pump.fun mencatat pendapatan kuartalan sebesar $235 juta, meningkat 242% dari kuartal sebelumnya.

    Selain itu, arsitektur layer 1 Solana yang efisien memungkinkan pemrosesan transaksi yang cepat dan biaya rendah, menarik minat pengembang dan pengguna.

    Hal ini menjadikan Solana sebagai pilihan utama untuk berbagai aplikasi, mulai dari keuangan hingga hiburan.

    Baca Juga: Solana Lampaui Semua Blockchain dalam Transaksi Volume DEX

    Dampak pada Token SOL dan Minat Institusional

    Kinerja impresif ini berdampak positif pada harga token SOL, yang mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2024.

    Analis memperkirakan momentum ini akan terus berlanjut, memperkuat posisi Solana di pasar.

    Minat dari investor institusional juga meningkat. Survei CoinShares menunjukkan bahwa hampir 15% dari investor institusional kini memiliki eksposur terhadap Solana, menjadikannya salah satu alternatif utama selain Bitcoin dan Ethereum.

    Pergerakan harga Solana (SOL/USDT) pada Jumat, 18 April 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Solana (SOL/USDT) pada Jumat, 18 April 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: Kanada Luncurkan ETF Spot Solana Pertama di Dunia

    Secara keseluruhan, Solana telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan dominan dalam ekosistem blockchain, dengan pertumbuhan pendapatan yang pesat dan infrastruktur yang efisien.

    Dengan terus menarik minat pengguna, pengembang, dan investor institusional, Solana berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan dan memperkuat posisinya di masa depan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aplikasi Kripto Ini Yakin RI Bisa Jadi Pemain Pasar Global


    Jakarta

    PT Pintu Kemana Saja (PINTU), aplikasi crypto all-in-one meyakini Indonesia bisa menjadi pemain kunci pasar kripto global. Indonesia dianggap menjadi negara yang tanggap dalam mengatur perdagangan aset kripto dengan berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (BAPPEBTI).

    “Saya percaya Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat penting bagi industri crypto secara global khususnya Indonesia yang bisa menjadi pemain kunci yang menonjol di Asia Tenggara,” kata Chief Marketing Officer (CMO) PINTU, Timothius Martin dalam keterangan tertulis, Minggu (1/9/2024).

    Indonesia dinilai bisa menjadi pemain kunci pasar kripto yang menonjol di Asia Tenggara karena didukung banyak faktor positif di antaranya jumlah investor kripto yang mencapai 20 juta orang dengan nilai transaksi dalam enam bulan terakhir mencapai US$ 20 juta.


    “Angka tersebut sangat besar yang disumbang dari satu negara saja. Jadi pasar crypto di Asia Tenggara punya potensi yang besar karena didukung oleh regulasi yang ramah sehingga membuat penggunanya bisa berinvestasi dengan aman,” ucapnya.

    Indonesia menjadi negara yang tanggap dalam mengatur perdagangan aset kripto dengan berbagai regulasi di antaranya aturan yang mengkategorikan bahwa aset kripto diakui sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka, aturan tentang deretan aset kripto yang diizinkan untuk diperdagangkan, hingga peluncuran lembaga Self-Regulatory Organizations (SRO) yang diresmikan oleh BAPPEBTI untuk mengawasi perdagangan para pelaku usaha kripto agar dapat berlangsung dengan aman dan transparan.

    “Kerangka regulasi yang jelas dari BAPPEBTI hingga dukungan infrastruktur berbagai mitra dari bank-bank besar menjadikan industri crypto dalam negeri dapat tumbuh dengan baik. Saya meyakini juga, adopsi crypto yang sekarang baru mencapai 7% dari total jumlah populasi ini akan terus tumbuh karena potensinya masih sangat besar. Untuk mendukung peningkatan tersebut, kami akan fokus mengedukasi pasar domestik melalui platform aplikasi crypto all-in-one yang bisa digunakan untuk belajar menjelajahi dunia crypto,” ujar Timo.

    Aplikasi PINTU menjadi perusahaan berbasis teknologi blockchain yang menghadirkan fitur investasi crypto terlengkap di Indonesia. Tiga fitur utamanya antara lain aplikasi PINTU yang fokus pada investor pemula yang di dalamnya juga banyak fitur seperti Pintu Earn, Limit Order, dan Auto Dollar-Cost Averaging (DCA).

    Fitur kedua adalah Pintu Web3 Wallet, sebuah wallet kripto yang memberikan kemudahan akses ke berbagai aset crypto, mengoleksi non-fungible token (NFT), berinteraksi ke beragam Decentralized Applications (dApps), platform Decentralized Finance (DeFi), hingga Decentralized Exchange (DEX). Fitur ketiga yang terbaru adalah Pintu Pro dengan advanced fitur bagi trader Pro.

    “Coinfest Asia dihadiri dari berbagai negara tak terkecuali Eropa dan Amerika Serikat (AS). Saya melihat terdapat antusias dan minat yang besar untuk belajar tentang pasar crypto di Asia Tenggara ini yang memiliki banyak sekali keunikan dan use-cases crypto yang dapat dikembangkan seperti crypto remittance & industri game,” jelasnya.

    Spesifik pada industri game sendiri menjadi sektor yang sangat bersinggungan dengan kripto, ditambah jumlah gamers di Indonesia lebih dari 100 juta yang menjadikan potensi pengembangannya sangat besar.

    “Hemat saya, pasar crypto Indonesia bisa menjadi crypto hub di Asia Tenggara dan dapat membentuk tren global dunia crypto saat ini dan masa depan,” tutup Timo.

    (aid/das)



    Sumber : finance.detik.com