Tag: degradasi

  • Atap Lumutan? Begini Cara Membersihkannya



    Jakarta

    Alga atau yang sering disebut lumut, dapat menjadi masalah yang mengganggu bagi atap rumah kamu. Tidak hanya merusak estetika, lumut juga berpotensi menyebabkan kerusakan struktural. Kehadiran lumut dapat mengakibatkan penumpukan air dan mempercepat proses degradasi material atap.

    Pahami artikel ini yang akan menjelaskan metode efektif untuk membersihkan alga dari atap kamu serta memberikan tips pencegahan agar atap tetap bersih dan terlindungi dari pertumbuhan yang tidak diinginkan. Dengan langkah-langkah yang tepat, kamu dapat menjaga keindahan dan daya tahan atap kamu dalam jangka panjang.

    Apa itu Alga?

    Melansir This Old House, Sabtu (30/11/2024), alga merupakan kumpulan organisme kecil yang memproduksi makanan dengan memanfaatkan sinar matahari. Di atap, alga biasanya terlihat sebagai noda dan garis-garis yang mirip dengan jamur.


    Meskipun alga dapat tumbuh di berbagai iklim, mereka paling sering ditemukan di daerah yang memiliki musim panas hangat dan lembap. Walaupun alga mungkin terlihat seperti masalah kosmetik, keberadaannya dapat menyebabkan penumpukan kelembapan di atap, yang dapat merusak sirap dan struktur di bawahnya.

    Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengakibatkan kebocoran dan menurunkan efisiensi energi rumah kamu.

    Cara DIY untuk Menghilangkannya

    Jika kamu merasa percaya diri untuk melakukan proyek do-it-yourself atau DIY, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan alga dari atap. Setiap metode ini sebaiknya dilakukan pada hari yang tenang dan mendung.

    Produk Pembersih Atap Komersial

    Terdapat berbagai produk komersial yang dirancang khusus untuk membersihkan atap. Produk-produk ini biasanya mengandung algaesida dan dapat lebih efektif dibandingkan dengan solusi buatan sendiri dalam mengatasi pertumbuhan alga yang sulit dihilangkan.

    Pastikan untuk membaca label dengan teliti dan mengikuti petunjuk dari produsen agar tidak merusak sirap dan lingkungan sekitarnya. Untuk informasi lebih lanjut, lihat panduan kami tentang biaya pembersihan atap.

    Cuka dan Air

    Cuka tidak sekuat pemutih, namun jika kamu menghadapi masalah alga ringan di atap, cuka dapat menjadi pilihan yang baik dan relatif ramah lingkungan. Caranya adalah campur cuka putih dengan air dalam proporsi yang sama, semprotkan pada area yang terinfeksi, diamkan selama 15-20 menit, lalu bilas dengan air.

    Air dan Pemutih

    Campuran air dan pemutih dengan perbandingan 50-50 dapat secara efektif membunuh alga. Semprotkan larutan ini pada area yang terinfeksi, biarkan selama 15-20 menit, kemudian bilas hingga bersih dengan air.

    Meskipun metode ini sangat efektif, perlu dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan lebih lanjut, pastikan untuk menggunakan perlengkapan keselamatan dan melindungi tanaman di sekitarnya.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Ampuh Hapus Cat di Permukaan Beton



    Jakarta

    Menghilangkan cat dari permukaan beton bisa menjadi tantangan, terutama jika cat tersebut sudah menempel kuat. Namun, dengan teknik dan alat yang tepat, kamu dapat mengembalikan tampilan asli beton tanpa merusak permukaannya.

    Simak panduan ini yang akan membahas berbagai metode efektif untuk membersihkan cat dari beton, mulai dari penggunaan bahan kimia hingga cara alami yang ramah lingkungan.

    Jenis Cat dan Permukaan Beton

    Melansir This Old House, pada (3/12/2024), sebelum kamu mulai menghapus cat, penting untuk memahami berbagai jenis cat yang biasa digunakan serta cara cat tersebut berinteraksi dengan permukaan beton.


    Pengetahuan ini akan memudahkan kamu dalam memilih metode penghilangan yang sesuai dengan kondisi spesifik kamu dan menetapkan tujuan yang realistis untuk proyek tersebut.

    Jenis Cat

    Berikut adalah beberapa jenis cat yang umum digunakan pada permukaan beton, masing-masing dengan sifat yang berbeda seperti, cat akrilik yang fleksibel dan sering digunakan untuk eksterior, cat epoksi yang sangat sulit dihilangkan.

    Serta terdapat cat lateks berbasis air yang lebih mudah dihapus saat masih baru, serta cat berbahan dasar minyak yang lebih tahan lama dan sulit dihapus.

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penghilangan Cat dari Beton

    Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesulitan dalam menghilangkan cat meliputi usia cat yang lebih tua yang cenderung lebih membandel akibat ikatan kimia dan degradasi, tekstur permukaan beton yang kasar atau berpori yang meningkatkan daya rekat cat.

    Kondisi lingkungan seperti temperatur dan kelembapan yang dapat mempengaruhi keefektifan penghilang cat, jumlah lapisan cat yang menambah ketebalan dan ketahanan, serta perawatan permukaan sebelumnya yang dapat menciptakan penghalang tambahan atau interaksi kimia yang menyulitkan proses penghilangan.

    Persiapan Penghapusan

    Persiapan yang baik akan memastikan kesuksesan proyek kamu, yang meliputi pengumpulan peralatan keselamatan yang diperlukan dan penilaian kondisi cat serta permukaan beton.

    Langkah-langkah Keselamatan dan Peralatan yang Diperlukan

    Saat membersihkan cat dari beton, prioritaskan keselamatan dengan menggunakan peralatan seperti roda berlian 4,5 inci, penggiling sudut dengan alat pengumpul debu, sapu, sarung tangan tahan bahan kimia, sepatu tertutup.

    Pelindung lutut, kemeja lengan panjang dan celana juga perlu, lalu kape, masker pernapasan, kacamata pengaman, vakum basah/kering dengan filter HEPA, serta kipas jendela, dan pastikan area kerja memiliki ventilasi yang baik, terutama saat menggunakan penghilang cat berbasis kimia.

    Cek Kondisi Cat

    Sebelum memulai proses penghilangan cat, lakukan evaluasi terhadap cat dan beton dengan memeriksa permukaan beton untuk keretakan atau kerusakan, memeriksa beberapa lapisan cat, mengidentifikasi jenis cat jika memungkinkan, serta menguji area kecil yang tidak mencolok dengan metode penghilangan yang dipilih.

    Kemudian, bersihkan area tersebut menggunakan selang taman atau seember air untuk menghilangkan kotoran yang dapat menghambat pengenduran cat, dan biarkan area tersebut mengering untuk mencegah pengenceran.

    Metode Kimia

    Kemampuan penghilang cat berbasis kimia memungkinkan untuk menghapus sebagian besar jenis cat dari permukaan beton. Berikut adalah beberapa metode kimia yang umum digunakan dan patut dipertimbangkan.

    Aplikasikan Pengupas Cat

    Pengupas cat yang dirancang untuk mengurai cat dapat sangat efektif, jadi pilihlah produk yang sesuai untuk permukaan beton, gunakan sesuai petunjuk pabrik dan pedoman keselamatan, biarkan bekerja selama waktu yang direkomendasikan.

    Kikis cat yang terkelupas dengan pisau dempul atau sikat kawat, dan bersihkan permukaan secara menyeluruh menggunakan air atau larutan penetral.

    Teknik Penghapusan Berbasis Panas

    Panas dapat menjadi alat yang efektif untuk melunakkan cat dari permukaan beton, sehingga memudahkan proses pengikisan atau pencucian. Berikut adalah panduan tentang cara menggunakan panas sebagai metode untuk menghilangkan cat.

    Metode Penggunaan Air Panas untuk Ekstraksi

    Untuk pendekatan yang lebih lembut, kamu dapat menggunakan air panas dengan cara memanaskan air hingga hampir mendidih, menuangkannya dengan hati-hati ke atas noda cat, menutupi area tersebut dengan handuk yang dibasahi air panas.

    Membiarkannya selama beberapa menit untuk melunakkan cat, lalu menggosoknya dengan sikat kawat atau alat pembersih bertekanan untuk menghilangkan cat yang terkelupas, dan metode ini akan lebih efektif jika digabungkan dengan pencucian bertekanan.

    Penghapusan Ramah Lingkungan

    Bagi mereka yang peduli dengan dampak lingkungan, pertimbangkan pilihan penghilangan cat yang ramah lingkungan berikut.

    Metode Berbasis Jeruk

    Penghilang cat berbahan dasar jeruk yang memanfaatkan d-Limonene sebagai pelarut alami dapat digunakan dengan cara mengoleskan larutan tersebut ke cat, membiarkannya selama waktu yang disarankan biasanya 30 menit hingga satu jam.

    Menggosok area tersebut dengan sikat kaku juga dapat membantu mengangkat cat dari beton, dan membilasnya hingga bersih dengan air, serta produk ini tidak sekuat pengelupas kimia tradisional dan memiliki aroma jeruk yang menyenangkan.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Masa Simpan Cat Berdasarkan Jenis dan Ciri-ciri Kedaluwarsa


    Jakarta

    Sisa cat dinding yang sudah dipakai masih bisa digunakan lagi lho. Tapi, harus diperhatikan dulu karena cat dinding memiliki ‘umur’ alias masa simpan yang aman untuk digunakan.

    Umur cat dinding ini tergantung dari beberapa hal, salah satunya cara penyimpanannya. Kalau disimpan sembarangan, masa simpannya bisa semakin pendek.

    Menurut superintendent dari ASAP Restoration, Brandon Walker, cat dinding bisa bertahan beberapa tahun jika belum dibuka dan disimpan dengan baik.


    “Jika kaleng-kaleng ini dibuka, atau disimpan di tempat yang tidak memiliki pengaturan suhu dan kelembaban, maka masa pakainya akan berkurang secara signifikan,” katanya, dikutip dari Martha Stewart, Selasa (4/11/2025).

    Berikut ini masa simpan cat berdasarkan jenisnya.

    Cat latex: 2-5 tahun
    Cat akrilik: 5-10 tahun
    Cat berbahan dasar minyak: 5 tahun hingga lebih dari 10 tahun
    Cat berbahan dasar air: 1-2 tahun

    Kualitas cat, warna, dan hasil akhir tidak memengaruhi masa simpan, tetapi jika perlu menyimpan cat di garasi atau gudang, cat berbahan dasar minyak mungkin lebih tahan lama daripada cat berbahan dasar air, termasuk cat akrilik dan lateks.

    “Jika cat disimpan di lingkungan yang suhunya berfluktuasi, seperti suhu beku dan mencair, cat berbahan dasar air lebih rentan mengalami degradasi dalam bentuk cair dibandingkan dengan cat berbahan dasar minyak,” kata senior project manager di Behr, Ed Edrosa.

    Walau demikian, setiap merek cat dinding memiliki panduannya tersendiri untuk masa simpan kaleng cat yang sudah dibuka maupun yang belum dibuka.

    Tanda Cat Sudah Kedaluwarsa

    Ada beberapa tanda cat yang sudah kedaluwarsa dan sebaiknya tidak dipakai lagi. Berikut ini informasinya masih dilansir dari Martha Stewart.

    Cat Menggumpal

    Menurut Edorsa, seharusnya cat yang sudah diaduk, konsistensinya halus dan tidak boleh ada gumpalan atau bertekstur.

    Bau Tak Sedap

    Cat yang sudah kedaluwarsa memiliki ciri-ciri bau tengik. Jadi kalau cat dinding di rumah sudah mengeluarkan bau, sebaiknya ganti dengan yang baru.

    “Cat yang sudah melewati masa simpannya dapat menimbulkan bau tengik, terkadang seperti telur busuk,” kata Edrosa.

    Perubahan Warna dan Hasil Akhir

    Cat yang disimpan terlalu lama juga dapat menunjukkan perubahan warna atau hasil akhir. Jika cat tampak berubah warna, menguning, atau kilapnya tidak merata setelah diaduk, itu pertanda cat telah rusak. Cat yang lebih lama ini kemungkinan besar tidak akan sama dengan warna atau hasil akhir aslinya saat diaplikasikan.

    Cara Menyimpan Cat Agar Awet

    Jaga Cat Tetap Bersih

    Untuk mencegah bakteri masuk ke dalam cat, selalu tuang ke dalam wadah sebelum mengecat, dan buang sisa cat alih-alih menuangkannya kembali ke dalam kaleng. Hal itu karena cat bisa terkontaminasi dan menyebabkan kerusakan dini.

    “Jangan celupkan kuas dan rol langsung ke dalam kaleng, dan jangan pernah meninggalkan kuas dan penutup rol di dalam kaleng atau wadah,” kata Edrosa.

    Penyimpanan yang Tepat

    Dilansir dari Better Homes & Gardens, pastikan untuk menyimpan cat di lokasi yang sejuk dan kering. Tempatkan kaleng cat di tempat yang tidak terkena fluktuasi suhu ekstrem, seperti gudang yang tidak terisolasi.

    Penutup yang Kedap Udara

    Pastikan kaleng cat tertutup dengan baik. Segel kedap udara bisa mengurangi risi pertumbuhan jamur dan lumut. Untuk menciptakan penutup yang kedap udara, tutup kaleng, lalu balikkan sehingga cat cair mendorong penutup ke dalam dengan kuat.

    Itulah informasi mengenai masa simpan cat dan ciri-ciri cat kedaluwarsa.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Amankah Ganti Oli Mobil Lebih Cepat dari Biasanya? Ini Penjelasannya


    Jakarta

    Oli mesin mobil harus diganti secara berkala. Apabila detikers jarang mengganti oli mesin, hal tersebut dapat mempengaruhi performa mobil hingga bahkan memicu sejumlah kerusakan.

    Sedikit informasi, oli mesin berfungsi untuk melindungi komponen dalam mesin yang saling bergesekan saat mobil berjalan. Penggunaan oli dapat menjaga komponen agar tidak cepat aus, tahan lama, dan performa mesin tidak cepat menurun.

    Dilansir situs Auto 2000, pada umumnya oli mesin mobil perlu diganti setiap interval 10.000 Km atau enam bulan sekali. Namun, frekuensi mengganti oli mesin juga tergantung dari mana yang lebih dulu tercapai, apakah hitungan jarak tempuh atau waktu.


    Akan tetapi, apakah boleh jika mengganti oli mesin sebelum mencapai batas kilometer yang telah ditentukan? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

    Apakah Aman Mengganti Oli Mesin Mobil Lebih Cepat?

    Masih mengutip Auto 2000, sebenarnya sah-sah saja jika detikers mengganti oli mesin mobil lebih cepat dari biasanya. Namun, sebaiknya pertimbangankan lebih dulu sebelum benar-benar memutuskan untuk mengganti oli mesin lebih cepat dari yang telah ditentukan.

    Adapun hal-hal yang membuat detikers perlu mengganti oli mesin lebih cepat, di antaranya:

    1. Menggunakan Jenis Oli Non Sintetis

    Kebanyakan oli mesin yang dijual di pasaran telah mengusung teknologi sintetis. Namun, ada juga sejumlah oli yang non sintetis.

    Jika kamu menggunakan oli non sintetis, disarankan untuk segera mengganti oli ketika sudah mencapai 5.000 Km. Sebab, penggunaan oli non sintetis memiliki daya tahan yang lebih rendah sehingga cepat menguap, mudah teroksidasi, dan struktur molekulnya yang tidak rata.

    2. Melalui Jalan dengan Medan yang Berat

    Jika kamu menggunakan mobil hanya untuk berkendara di perkotaan, tentu tak harus buru-buru mengganti oli mesin. Lain halnya jika kamu melalui jalur menanjak dan medan yang berat setiap hari, sudah sepatutnya untuk lebih sering mengganti oli mesin.

    Soalnya, mesin mobil harus bekerja lebih keras dan selalu berada di putaran tinggi. Alhasil, mesin jadi lebih cepat panas sekaligus mempengaruhi fungsi oli dalam melumasi mesin.

    Apabila oli mesin tak diganti secara berkala, dikhawatirkan bisa menyebabkan degradasi pada komponen mesin. Tak hanya mempengaruhi performa mobil, tetapi juga bisa memicu kerusakan yang merembet ke bagian lainnya.

    3. Mengangkut Beban yang Berat

    Jika mobil detikers sering membawa beban berat, seperti mengangkut barang atau penumpang, maka disarankan untuk lebih cepat mengganti oli mesin. Beban yang berat juga dapat mempengaruhi kinerja mesin karena harus bekerja lebih ekstra untuk menghasilkan tenaga besar.

    4. Melalui Jalanan yang Panas dan Berdebu

    Apakah mobil detikers sering melalui jalanan yang suhunya panas dan berdebu? Jika iya, maka dianjurkan untuk lebih cepat mengganti oli dari waktu yang ditentukan.

    Sebab, suhu udara yang panas dapat mempengaruhi kondisi mesin, salah satunya bisa memicu overheat. Jika mesin sudah terlalu panas maka oli tidak dapat berfungsi dengan optimal.

    5. Sering Melalui Jalanan Macet

    Ketika melintasi jalanan yang macet, tentu detikers akan lebih sering stop and go. Kondisi ini ternyata dapat mempengaruhi kualitas oli mesin, soalnya komponen mesin akan terus berputar walaupun mobil lebih banyak berhenti dan sedikit berjalan.

    Jika tetap mengganti oli mesin sesuai jarak tempuh interval, dikhawatirkan kondisi oli sudah buruk sehingga tak bisa melumasi komponen mesin secara optimal. Maka dari itu, sebaiknya ganti oli mesin lebih cepat demi menjaga performa mobil tetap oke.

    Itu dia lima hal yang bisa menjadi pertimbangan untuk mengganti oli mesin mobil lebih cepat. Semoga dapat membantu detikers!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Tips Rawat Layar AMOLED Biar Awet dan Nggak Burn-In


    Jakarta

    Panel AMOLED saat ini semakin banyak digunakan di ponsel, mulai dari segmen menengah sampai flagship. Tapi masih banyak pengguna yang khawatir layar AMOLED di ponselnya mengalami burn-in sehingga tidak enak dilihat.

    Istilah burn-in sebenarnya agak menyesatkan, karena sebenarnya hal ini tidak disebabkan oleh masalah panas atau terbakar. Sebaliknya, istilah ini menggambarkan bagian layar yang mengalami perubahan warna permanen.

    Burn-in biasanya terlihat seperti outline teks atau gambar, warna yang memudar, atau bercak dan pola lain yang membekas di layar. Layar ponsel memang masih berfungsi seperti biasa, tapi seolah-olah ada hantu yang membayangi.


    Burn-in terjadi ketika sub-pixel di layar AMOLED perlahan mati dan kehilangan kemampuan untuk memancarkan cahaya. Sub-pixel yang paling sering digunakan, seperti di bagian bilah navigasi dan status, biasanya rusak terlebih dulu sehingga menyebabkan produksi cahaya yang tidak merata.

    Kalau kalian sudah melihat tanda-tanda burn-in di layar AMOLED ponsel, tampaknya kalian sudah terlambat karena hal ini bersifat permanen. Karena itu, sebaiknya rawat layar ponsel yang menggunakan panel AMOLED agar lebih awet dan tidak kena burn-in.

    7 Tips Rawat Layar AMOLED Agar Tidak Mengalami Burn-in

    Berikut ini tujuh cara dan pengaturan yang bisa kalian gunakan untuk mencegah burn-in di layar AMOLED, seperti dirangkum detikINET dari Android Authority, Rabu (23/7/2025):

    Turunkan tingkat kecerahan layar

    Turunkan kecerahan layar ponsel serendah mungkin. Semakin cerah layar, semakin besar arus yang dibutuhkan sehingga bisa memperpendek masa pakai LED. Sebaiknya jangan naikkan tingkat kecerahan ke level maksimum kecuali benar-benar diperlukan.

    Kurangi waktu aktif layar

    Matikan layar ponsel ketika sedang tidak digunakan agar tidak menampilkan gambar statis. Atur screen timeout atau waktu tunggu layar sesingkat mungkin. Masuk ke Settings > Display > Screen timeout untuk mengubah pengaturan ini.

    Gunakan mode gelap

    Mengaktifkan dark mode atau mode gelap di antarmuka dapat mengurangi jumlah cahaya dan membantu LED bertahan lebih lama. Aktifkan dark mode dengan mengetuk ikon yang ada di panel quick settings atau buka Settings > Display > lalu pilih menu Dark theme.

    Pakai wallpaper berwarna gelap

    Prinsipnya sama seperti di atas, wallpaper dengan warna yang gelap akan menjaga LED bisa awet lebih lama. Jangan lupa pakai keyboard yang warnanya juga gelap untuk menghindari degradasi warna di bagian bawah layar.

    Pakai navigasi gestur

    Tombol navigasi back, home, dan recent apps yang ada di bagian bawah layar berpotensi meninggalkan bekas atau burn-in di layar AMOLED karena terus-terusan muncul di tempat yang sama. Beralih ke navigasi gestur dengan swipe bisa membantu mencegah layar AMOLED mengalami burn-in.

    Matikan always-on display

    Always-on display bisa membantu menampilkan informasi seperti jam dan tanggal saat layar ponsel mati. Tapi informasi ini biasanya selalu ditampilkan di bagian layar yang sama dan berpotensi menimbulkan burn-in.

    Jangan tampilkan hal yang sama terus-terusan

    Satu benang merah yang menghubungkan sebagian besar penyebab layar AMOLED mengalami burn-in adalah menampilkan hal yang sama di layar dalam jangka waktu panjang. Misalnya, kalau kalian punya widget yang tampilannya selalu sama dan berada di tempat yang sama, kemungkinan akan menampilkan bekas burn-in di layar. Sesekali ubah posisi widget dan ikon lain di ponsel agar tidak menyebabkan burn-in.

    (vmp/fay)

    Sumber : inet.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صل على رسول الله محمد teknologi
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Jannis Brandt
  • Tips Nonton Film di Rumah Serasa di Bioskop Ala Sutradara Yandy Laurens


    Jakarta

    Bagi sutradara Yandy Laurens, televisi merupakan bagian penting dalam pekerjaannya sehari-hari. Sutradara film ‘1 Kakak 7 Ponakan’ ini juga memiliki sejumlah kriteria yang dipertimbangkan saat memilih televisi.

    Yandy mengatakan setelah selesai melakukan pengambilan gambar atau shooting, ia akan menghabiskan banyak waktunya di depan TV untuk mengedit film atau proyek terbarunya. Karena itu ia membutuhkan TV yang bisa menampilkan warna dengan akurat dan realistis seperti di dunia nyata.

    “Kalau saya film, jadi memang ngejar se-realistis, sedekat mungkin dengan apa yang memang filmnya mau kita lihat. Jadi itu menghasilkan pengalaman menonton yang mendekati sekali atau bisa sama persis dengan apa yang filmnya mau kita lihat,” kata Yandy dalam acara Exclusive Preview Xiaomi TV S Mini LED di Jakarta, Jumat (21/2/2025).


    Sutradara yang sudah langganan menang Piala Citra ini juga menekankan pentingnya memilih ukuran TV sesuai dengan luas ruangan agar jarak penonton ke TV tidak terlalu jauh atau terlalu dekat. TV ideal menurut Yandy juga harus memiliki kontras yang sempurna.

    “Ada tuh TV-TV yang kalau dia terlalu gelap atau degradasi dari terang dalam satu shot ke gelap, dia tidak bisa menerjemahkan data itu sehingga dia pecah ke kotak-kotak,” ujar Yandy.

    “Itu momen kita jadi sadar, wah lagi nonton nih. Padahal kalau nonton kita pengennya larut. Jadi tiga hal itu sih yang paling penting,” sambungnya.

    Saat menikmati film di rumah, Yandy biasanya memadukan TV-nya dengan soundbar, dan ia kadang sampai menunggu hingga malam hari agar suasananya benar-benar gelap dan tidak ada pantulan cahaya. Agar film yang ditonton terlihat seperti yang diinginkan sutradara, ia juga mengaktifkan mode Filmmaker seperti yang ada di Xiaomi TV S Mini LED.

    “Kemarin cobanya kaget karena saya cuma mau coba putar film saya di situ. Dan begitu tes semua mode picture-nya, begitu Filmmaker mode ini dekat banget sama apa yang saya lihat di monitor shooting,” pungkas Yandy.

    (vmp/fay)



    Sumber : inet.detik.com

  • Barcelona Bidik Karl Etta Eyong untuk Gantikan Lewandowski


    Jakarta

    Barcelona berniat merekrut Karl Etta Eyong dari Levante. Hal ini mengingat kemungkinan perginya Robert Lewandowski.

    Lewandowski kini sudah berusia 37 tahun dan kontraknya di Barca tuntas pada Juni 2026. Blaugrana diyakini tidak akan memberikan kontrak baru untuk striker asal Polandia itu.

    Etta Eyong disebut-sebut menjadi incaran Barcelona. Etta Eyong sudah mengemas enam gol dan tiga assist sepanjang musim 2025/2026.


    Barca sangat tertarik dengan pemain berusia 22 tahun itu. Raksasa asal Spanyol itu juga mau mencoba mendatangkan Etta Eyong pada Januari mendatang dengan kesepakatan yang mencapai 30 juta euro.

    CEO Levante, Jose Danvila, telah menepis kemungkinan Etta Eyong hengkang pada bulan Januari. Hal tersebut disampaikan oleh Radi Marca.

    “Dia tidak akan pergi musim dingin ini. Saya terus mendengar rumor dan kami juga menerima tawaran setiap hari, tetapi kami tidak akan menjual Etta Eyong di bursa transfer musim dingin ini,” kata Danvila.

    “Tujuan utama tim adalah menghindari degradasi. Tidak masuk akal untuk berusaha di musim panas lalu menjualnya di musim dingin. Aset terbesar klub adalah bertahan di Divisi Pertama, meskipun ada tawaran yang sangat besar,” sambungnya.

    Levante sedang duduk di posisi ke-16 dengan sembilan poin. Mereka cuma unggul selisih gol dari zona merah.

    (ran/mrp)



    Sumber : sport.detik.com

  • Simeone Tak Mau Cari-cari Alasan, Atletico Memang Jelek


    Madrid

    Diego Simeone tak mau mencari-cari alasan atas performa buruk Atletico Madrid. Menurutnya, Los Colchoneros memang pantas dikritik.

    Atletico menjalani start buruk musim ini karena cuma meraih dua poin dari tiga laga berlalu. Setelah kalah dari Espanyol di pekan perdana LaLiga, mereka diimbangi dua tim favorit degradasi Elche dan Alaves.

    Atletico terpuruk di posisi ke-16 klasemen Liga Spanyol dan baru tiga gol serta kebobolan empat gol. Ini tentu bukan start apik bagi tim yang jadi favorit kuat juara bersama Real Madrid dan Barcelona.


    Apalagi klub ibukota sudah menghabiskan lebih dari 100 juta euro untuk memboyong 13 pemain. Sayangnya, para pemain baru itu belum padu sehingga menyulitkan Simeone dalam meracik strategi.

    Jika kondisi ini tak kunjung berubah, maka posisi Simeone sebagai pelatih Atletico terancam. Meski situasinya sulit, Simeone enggan mencari kambing hitam.

    Menurutnya, performa Atletico memang buruk dan pantas mendapat kritik.

    “Kami terima dikritik, yang mana itu adil karena kami tidak bisa meraih poin sebanyak yang kami inginkan, tapi kami harus bisa membuat tim ini solid dan memperbaiki kekurangan yang ada, serta mempertahankan apa yang telah kami lakukan dengan baik. Tidak semuanya buruk kok,” ujar Simeone di Football Espana.

    “Tidak ada pembelaan apapun untuk dua poin dari kemungkinan sembilan. Kami tidak tampil seburuk di musim-musim sebelumnya dan punya poin lebih sedikit.”

    (mrp/mrp)



    Sumber : sport.detik.com

  • 4 Kartu Merah dari 5 Laga


    Jakarta

    Liga Spanyol sudah memainkan lima laga pada jornada pembuka musim 2025/2026. Laga-laga dibuka dengan keras, empat kartu merah melayang!

    LaLiga memulai musim 2025/2026. Lima pertandingan sudah digelar sejak Sabtu (16/7) malam WIB dan Senin (17/7) dini hari WIB.

    Laga-laga itu adalah Girona vs Rayo Vallecano, Villarreal vs Oviedo, Mallorca vs Barcelona, Alaves vs Levante, dan Valencia vs Real Sociedad. Empat kartu merah melayang!


    Mereka yang kena kartu merah adalah Paulo Gazzaniga (Girona), Alberto Reina (Oviedo) serta dua pemain Mallorca yakni Manu Morlanes dan Vedat Muriqi.

    Pelanggaran Vedat cukup berbahaya. Dirinya menyambar bola di udara dengan kakinya, tapi kemudian mengenai bahu dan wajah kiper Joan Garcia. Untung Joan Garcia tidak terluka parah.

    Di musim 2024/2025 lalu, Sevilla jadi tim terbanyak pengoleksi kartu merah dengan delapan kali. Getafe di bawahnya dengan tujuh kali. Sementara Real Madrid catatkan empat kartu merah dan Barcelona tiga kartu merah.

    Osasuna jadi satu-satunya tim LaLiga musim lalu yang tidak pernah dapat kartu merah. Untuk kartu kuning, terbanyak adalah Las Palmas dengan 109 kali tapi mereka degradasi.

    (aff/aff)



    Sumber : sport.detik.com

  • Viral Air Hujan di DKI Mengandung Mikroplastik, Benarkah? Ini Faktanya


    Jakarta

    Belakangan, media sosial diramaikan dengan narasi air hujan di DKI Jakarta mengandung mikroplastik berbahaya. Faktanya, sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2022 bertajuk ‘Marine Pollution Bulletin’ mengkonfirmasi hal tersebut.

    Meski demikian, ilmuwan menegaskan bukan berarti setiap tetes air hujan di Ibu Kota beracun.

    “Tetapi bahwa ada partikel plastik berukuran sangat kecil, lebih halus dari debu yang ikut turun bersama hujan,” kata Muhammad Reza Cordova, salah satu peneliti dalam jurnal ilmiah tersebut, saat dihubungi detikcom, Kamis (16/10/2025).


    Reza yang juga peneliti di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), mengatakan jenis mikroplastik yang ditemukan di udara dan hujan Ibu Kota adalah serat sintetis seperti poliester dan nilon, serta fragmen kecil dari plastik kemasan seperti polietilena dan polipropilena. Ditemukan juga polibutadiena yang jadi polimer sintetis dari ban kendaraan.

    “Mikroplastik ini berasal dari aktivitas manusia di kota besar. Misalnya serat sintetis dari pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran terbuka sampah plastik, serta degradasi plastik di lingkungan terbuka,” katanya.

    Lalu Apa Bahayanya Bagi Manusia?

    Karena ukurannya yang sangat kecil, lanjut Reza, mikroplastik ini terbawa angin dan naik ke atmosfer kemudian turun kembali lewat hujan. Menurutnya, tetap ada bahaya di balik mikroplastik yang turun bersamaan dengan hujan tersebut.

    “Untuk istilah ‘bersifat toksik’ sebenarnya karena merujuk pada potensi dampak negatifnya. Mikroplastik ini kan bisa membawa bahan kimia tambahan dari proses produksi plastik (misalnya BPA, platat) atau polutan lain yang menempel di permukaannya (seperti logam berat dan POPs),” kata Reza.

    “Jadi sifat beracunnya bukan dari air hujannya langsung, tapi dari partikel mikroplastik, bahan additive dan pollutan lain yang terbawa di dalamnya,” sambungnya.

    Dampak yang mungkin terjadi apabila terpapar atau terhirup dalam jangka waktu lama bisa bervariasi, seperti dapat memicu peradangan jaringan paru, stres oksidatif, dan gangguan sistem imun.

    “Nah di Indonesia kan masih minim nih. Jadi ya memang riset terkait masih terus berjalan untuk memastikan seberapa besar efeknya terhadap manusia,” kata Reza.

    “Tapi arah bukti global sudah cukup kuat bahwa paparan jangka panjang harus diwaspadai. Karena itu, prinsip pencegahan dan pengendalian jadi langkah utama,” sambungnya.

    Apa yang Harus Dilakukan?

    Menurut Reza, masalah mikroplastik memang tidak bisa diselesaikan oleh individu saja, tapi perubahan kecil di tingkat masyarakat tetap sangat penting. Kuncinya adalah dengan semaksimal mungkin untuk mengurangi sumbernya.

    “Kita bisa mulai dari menghindari plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, dan tidak membakar plastik terbuka,” kata Reza.

    “Industri juga perlu berperan, misalnya dengan sistem EPR menyaring serat di pabrik tekstil atau laundry besar. Industri dan riset juga harus mengembangkan bahan yang tidak mudah lepas ke udara,” sambungnya.

    Dari sisi pemerintah dan lembaga riset yang dibutuhkan adalah pemantauan secara rutin kualitas udara dan air hujan, serta pengembangan teknologi filtrasi dan pengolahan air. Untuk di riset nanti harus ada kolaborasi level regional dan global, pasalnya polusi mikroplastik ini bisa melintasi batas negara.

    “Intinya, kita harus beralih dari budaya membuang ke budaya mengurangi dan menggunakan kembali. Sebab setiap plastik yang tidak lepas ke lingkungan berarti mengurangi satu sumber mikroplastik di udara dan air kita,” tutupnya.

    (dpy/up)



    Sumber : health.detik.com