Tag: demak

  • Kisah Pulau Baru yang Tiba-tiba Muncul di Demak



    Demak

    Sebuah pulau baru muncul di perairan Kecamatan Sayung, Demak. Pulau seluas sekitar 60 hektare yang ditemukan tiga bulan lalu itu diberi nama Arnavat.

    Sekarang, pulau yang jadi penghalang ombak buat pesisir yang terdampak rob itu jadi destinasi wisata baru.

    Kepala Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Supriyanto mengatakan pulau baru itu ia temukan bersama Ditpolairud Polda Jateng saat mencari tirang. Tirang ialah tanah atau pasir yang timbul di perairan lalu menjadi daratan.


    “Luasnya sekitar 60 hektare, karena semakin hari (tirang) itu semakin naik jadi daratan, menutup perairan yang ada di sana,” kata Supriyanto, Kamis (28/12/2023).

    Kemunculan pulau baru tersebut menjadi anugerah bagi wilayahnya. Sebab, pulau itu dapat menahan abrasi di wilayahnya, yang mana hampir seluruh warganya kini terdampak rob.

    “99 persen warga kami (total warga sekitar 1.000 KK) sudah terdampak rob,” ujar Supriyanto.

    Selain mencegah abrasi, pulau itu juga bisa menjadi destinasi wisata pantai baru. Maka itu Supriyanto dan warganya bersemangat akan merawat pulau baru tersebut.

    “Delapan bulan sebelumnya itu sudah mulai ada tanda-tanda, baru ricik-ricik. Namun pasnya (jadi pulau) itu tiga bulan yang lalu. berarti memang pulau atau pasir ini rezeki kami,” ungkapnya.

    Arti Nama Arnavat

    Supriyanto menjelaskan, Arnavat merupakan istilah yang kerap digunakan oleh polisi maritim. Ke depan pihaknya juga akan membuka pelatihan SAR di dekat wisata tersebut.

    “Setahun yang lalu itu belum muncul kayak begini, tapi kita bersama Ditpolair mencari penemuan tirang di daerah wilayah pesisir Jawa ini kan. Di Demak kebetulan kita menemukan sebuah pulau Arnavat. Di situ juga ada sungai yang nantinya untuk pelatihan SAR rawan bencana,” jelasnya.

    Menurut Supriyanto, arnavat merupakan salah satu slogan dalam dunia maritim.

    “Arnavat itu slogan maritim, karena di laut kami bangga, sepenuh hati sepenuh jiwa demi kemaslahatan umat, di situ kita ambil karena kami berkolaborasi dengan Ditpolairud,” ucapnya.

    Baca selengkapnya di sini.

    (sym/sym)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Dulu Rumah Pejabat Zaman Belanda, Kini Jadi Tempat Penampungan Gelandangan



    Demak

    Dulu, bangunan ini adalah rumah pejabat Demak di zaman kolonial Belanda. Namun kini, bangunan ini berubah fungsi menjadi tempat penampungan gelandangan.

    Inilah Rumah Pelayanan Sosial (Rumpelsos) Dinas Sosial di Demak, Jawa Tengah. Bangunan ini ternyata merupakan sebuah cagar budaya.

    Di zaman kolonial Belanda, bangunan Rumpelsos Demak merupakan eks kantor Kawedanan Demak. Kawedanan ini merupakan tempat tinggal wedana atau wedono yang merupakan pejabat setingkat kepala wilayah yang diangkat oleh Kolonial Belanda.


    “Rumpelsos itu dulunya bangunan eks Kantor Kawedanan Demak. Bangunan eks Kawedanan Demak itu ditinggali oleh Wedana Demak,” kata Staf Pelaksana Subkoor Analis Sejarah dan Cagar Budaya Dindikbud Demak, Roni Sulfa Ali saat ditemui di kantornya, pekan lalu.

    Roni menjelaskan, wedana merupakan sistem administrasi yang dibentuk pemerintah Kolonial Belanda. Pejabat wedana ini pun difasilitasi dengan sebuah rumah dinas.

    “Wedana atau kawedanan itu adalah sistem administrasi pada saat Pemerintah Kolonial Belanda, posisinya di bawah bupati atau kabupaten. Jadi kabupaten, wedana, kemudian desa-desa. Dulu belum ada kecamatan, tapi kalau wedana itu kalau sekarang di atas kecamatan, lebih luas dari kecamatan,” terang Roni.

    Dibangun Pada Tahun 1909

    Bangunan gedung Rumpelsos Demak ini dibangun pada tahun 1909. Proses pembangunan rumah dinas wedana ini konon membutuhkan waktu tiga tahun.

    “Dibangun sekitar 1909. Itu berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda. Waktu itu ada. Kalau ibarat sekarang Dinas Pekerjaan Umum, dan itu selesai sekitar 1912,” terangnya.

    Dari catatan sejarah, ada beberapa versi tentang Wedana Demak. Salah satunya menyebutkan ada tiga kawedanan.

    “Wedana sendiri berdasarkan catatan kami tapi ini ada banyak versi dan kita masih kroscek keabsahannya. Jadi, Demak dulu ada beberapa wedana atau beberapa kawedanan. Salah satunya itu adalah Kawedanan Demak Kota, Grogol, Dempet. Kalau nggak salah lebih dari tiga kawedanan,” jelasnya.

    Dibangun Dengan Biaya 12 Ribu Gulden

    Roni menuturkan, biaya pembanungunan kantor kawedanan konon menghabiskan uang 12 ribu gulden. Rumah tersebut juga sempat menjadi Panti Wreda sebelum menjadi Rumpelsos.

    “Bangunan eks kawedanan Demak itu dibangun dengan biaya sekitar 12 ribuan gulden, kalau sekarang sudah berapa ratus juta,” seloroh Roni.

    Roni menambahkan, seiring berjalannya waktu, fungsi wedana mengalami perubahan-perubahan. Pada akhirnya, penghapusan sistem administrasi wedana di Demak dilakukan pada tahun 1960.

    “Wedana dihapus itu sekitar 1967 tapi secara totalnya itu 1990-an. Di Demak sendiri tahun 1960-an masih ada wedana, tapi tidak seefektif zaman kolonial Belanda,” terangnya.

    Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

    Kini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya lewat Keputusan Bupati Demak Nomor 438/123 Tahun 2023 pada 17 Mei 2023.

    Bangunan itu kini difungsikan sebagai rumah sementara bagi gelandangan, lansia, orang gila yang berkeliaran di wilayah Demak.

    Lorong pendek yang menghubungkan bangunan cagar budaya dengan bangunan baru di Rumpelsos Demak. Foto diambil Selasa (16/1/2024).Rumpelsos Demak Foto: Mochamad Saifudin/detikJateng

    Ada dua kamar yang difungsikan untuk menampung lansia perempuan. Sedangkan di bangunan baru, ada empat kamar berjeruji yang difungsikan untuk menampung orang gila.

    Bangunan Rumpelsos yang ditetapkan sebagai cagar budaya berbentuk joglo. Bangunan itu dominan dengan cat warna hijau, putih, dan merah muda atau pink.

    Bagian lantai di area aula dipasangi keramik berwarna putih. Namun berbeda dengan area aula, bagian dalam bangunan itu masih asli dengan tegel warna gelap.

    —–

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kerajaan-kerajaan di Jawa yang Bisa Dijumpai hingga Sekarang



    Jakarta

    Indonesia memiliki sejarah panjang dari era kerajaan, kolonial, hingga era modern. Saat ini, masih ada kerajaan di Jawa yang masih eksis.

    Di Pulau Jawa pernah berdiri beberapa kerajaan besar. Dari Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kerajaan Mataram Islam, Kesultanan Cirebon, hingga Kesultanan Banten.

    Di antara kerajaan tersebut, masih ada kerajaan yang eksis dengan dipimpin oleh seorang raja. Tetapi, di antara kerajaan itu, hanya Kesultanan Yogyakarta yang masih memiliki fungsi pemerintahan.


    Kerajaan-kerajaan di Jawa dan kerajaan lain di Indonesia masih berkumpul dalam sebuah Majelis Agung Raja dan Sultan (MARS) Indonesia. Di antara yang masih eksis itu adalah Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo, Puro Mangkunegaran, Keraton Cirebon, dan Kasultanan Banten. Kesultanan Yogyakarta satu-satunya yang memiliki hak istimewa mengelola pemerintahan. Sedangkan yang lain memiliki fungsi kebudayaan.

    Berikut beberapa di antara kerajaan di Jawa yang masih eksis hingga kini:

    1. Kesultanan Yogyakarta

    Kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat ini berdiri sejak 1755 dan raja pertama yang menjabat di kesultanan itu adalah Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono 1.

    Kerajaan itu mulanya merupakan pecahan dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua. Pembagian wilayah itu tertuang pada Perjanjian Giyanti. Pecahan lainnya menjadi Kasunanan Surakarta.

    Di tahun 1950, Kesultanan Yogyakarta resmi berubah menjadi yang kita kenal saat ini yakni Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan hingga saat ini gelar untuk pemimpin-pemimpin daerah tersebut masih menggunakan gelar Hamengkubuwono.

    Saat ini, Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

    2. Kasunanan Surakarta

    Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah sebuah kerajaan di Pulau Jawa bagian tengah yang berdiri pada tahun 1745. Kasunanan itu merupakan penerus dari Kesultanan Mataram yang beribu kota di Kartasura dan selanjutnya berpindah di Surakarta.

    Pada tahun 1755, sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti yang disahkan pada tanggal 13 Februari 1755 antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan Pangeran Mangkubumi, disepakati bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua pemerintahan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

    Awalnya, 1745 hingga peristiwa Palihan Nagari pada 1755, Kesunanan Surakarta yang beribu kota di Surakarta merupakan kelanjutan dari Kesultanan Mataram yang sebelumnya berkedudukan di Kartasura, baik dari segi wilayah, pemerintahan, maupun kedudukan penguasanya.

    Setelah Perjanjian Giyanti dan diadakannya Pertemuan Jatisari pada tahun 1755 menyebabkan terpecahnya Kesunanan Surakarta menjadi dua kerajaan; kota Surakarta tetap menjadi pusat pemerintahan sebagian wilayah Kesunanan Surakarta dengan rajanya yaitu Susuhunan Pakubuwana III, sedangkan sebagian wilayah Kesunanan Surakarta yang lain diperintah oleh Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di kota Yogyakarta, dan wilayah kerajaannya kemudian disebut sebagai Kesultanan Yogyakarta.

    Kemudian dibuat Perjanjian Salatiga tanggal 17 Maret 1757, yang membuat wilayah Kesunanan makin kecil. Sebagian wilayah, yakni Nagara Agung (wilayah inti di sekitar ibu kota kerajaan) diserahkan kepada Raden Mas Said yang kemudian bergelar Adipati Mangkunegara I. Saat ini, Mangkunegaran masih eksis.

    3. Mangkunegaran

    Mangkunegaran adalah kadipaten yang posisinya di bawah kasunanan dan kasultanan, sehingga penguasa tidak berhak menyandang gelar Sunan ataupun Sultan.

    Penguasa Keraton Kasunanan Surakarta bergelar Sunan Pakubuwono, sedangkan gelar penguasa Kadipaten Mangkunegaran adalah Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro.

    Antara tahun 1757 sampai dengan 1946, Kadipaten Mangkunegaran adalah kerajaan otonom yang berhak memiliki tentara sendiri yang independen dari Kasunanan Surakarta.

    Wilayahnya mencakup bagian utara Kota Surakarta, di antaranya adalah Kecamatan Banjarsari, kemudian seluruh Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, dan sebagian wilayah Kecamatan Ngawen serta Semin di Gunung Kidul, Yogyakarta. Keseluruhan wilayah Mangkunegaran tersebut hampir mencapai 50 persen wilayah dari Kasunanan Surakarta.

    Saat ini, Mangkunegaran dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo merupakan raja.

    Sejatinya, pemimpin Mangkunegaran bukanlah raja, namun adipati atau pangeran miji atau pangeran mandiri, yang memimpin sebuah kadipaten di bawah Keraton Kasunanan Surakarta bernama Mangkunegaran.

    Meskipun kedudukan pemimpin Mangkunegara yang sebenarnya adalah adipati, namun kerap dianggap raja dalam memori masyarakat Mangkunegara. Itu dipengaruhi oleh Mangkunegara yang dulu sempat berkuasa atas beberapa wilayah, yakni Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

    4. KadipatenPakualaman

    Dulu Kadipaten Pakualaman merupakan sebuah negara dependen yang berbentuk kerajaan. Tetapi pada 1950, status negara dependen Kadipaten Pakualaman diturunkan menjadi daerah istimewa setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Kadipaten Pakualaman berdiri pada 1813, kekuasaan Inggris dengan penyerahan kekuasaan oleh Hamengku Buwono II kepada adiknya, Pangeran Natakusuma dengan status Pangeran Merdika. Pangeran Natakusuma kemudian mendapatkan gelar sebagai KGPAA Paku Alam I dengan kediaman di Puro Pakualaman yang berada di sisi timur Kasultanan Ngayogyakarta.

    Status kerajaan ini mirip dengan status Praja Mangkunagaran di Surakarta.

    Saat ini, Pakualaman dipimpin oleh Sampeyan Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X dengan nama lahir Raden Mas Wijoseno Hario Bimo.

    5. Kesultanan Cirebon

    Kesultanan Cirebon ini disebut sebagai jembatan untuk kebudayaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat, Kesultanan Cirebon ini memiliki corak Islam yang begitu mahsyur di abad 15-16 Masehi. Memiliki letak yang cukup strategis menjadi kesultanan ini sebagai jalur perdagangan dan pelayaran yang cukup vital antar pulau di masa itu.

    Kesultanan Cirebon didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Haji Abudllah Imam pada tahun 1430. Ia sangat aktif dalam penyebarluasan agama Islam dan Kesultanan Cirebon meningkat kejayaannya ketika dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.

    Saat ini, Keraton Cirebon dipimpin Sultan Sepuh Aloeda II atau Raden Rahardjo.

    6. Kesultanan Kanoman

    Kesultanan Kanoman ini didirikan oleh Pangeran Muhamad Badrudi Kertawijaya atau Sultan Anom 1 di tahun 1678. Sebelumnya, Kesultanan Kanoman ini merupakan pecahan dari Kesultanan Cirebon pada tahun 1666.

    Di masa kekosongan 1666 hingga 1678 itu Kesultanan Cirebon diambil alih kekuasaannya oleh Kerajaan Mataram. Berjalannya waktu dan tak puasnya pengambilahinan tersebut hingga menimbulkan konflik.

    Akhirnya Kesultanan Cirebon dipecah dan salah satunya Kesultanan Kanoman yang diberikan Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya.

    Jejak-jejak peradaban kerajaan-kerajaan di atas masih bisa dilihat hingga sekarang di setiap wilayahnya. Masih terdapat keraton atau tempat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja yang menduduki kursi kekuasaan.

    Peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut kini menjadi sebuah destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin melihat dan menggali informasi tentang sejarah kerajaan tersebut.

    Saat ini, Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Sultan Anom XII Mochamad Saladin.

    Jadi keraton mana saja yang sudah kamu datangi?

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Bayar Rp 200 Ribuan, Bisa ke 13 Destinasi dan Masuk Area Makam Raja Demak



    Demak

    Wisatawan yang ingin melakukan perjalanan religi di Kabupaten Demak mungkin bisa mencoba paket wisata yang ditawarkan Dinas Pariwisata (Dinparta) Kabupaten Demak.

    Dinparta Demak memiliki Paket Wisata Jawara (Jelajah Wisata Religi Demak). Dengan harga Rp 200 ribuan, detikers bisa seharian menjelajahi 13 tujuan wisata di pusat penyebaran Islam tertua di nusantara.

    Kepala Dinparta Demak, Endah Cahya Rini mengatakan, ada sejumlah eksklusivitas yang bisa didapatkan dari Paket Wisata Jawara. Wisatawan bisa masuk ke area khusus hingga mencicipi kuliner khas Demak.


    “Wisatawan bisa masuk ke area khusus, misalnya di makam Raja Demak itu biasanya kan di luar. Nah, kita bisa usahakan untuk masuk ke dalam,” kata Endah saat ditemui detikJateng.

    “Kita juga sajikan jamu coro, ada nasi-nasi makanan khas Demak itu tidak sembarangan bisa (dihidangkan),” tambahnya.

    Adapun 13 lokasi tujuan yang akan dijelajahi wisatawan dalam Paket Wisata Jawara yaitu:

    1. Sunrise Pantai Noer Bedono
    2. Makam Terapung Syekh Mudzakir
    3. Explore Desa Tenggelam
    4. Kampung Adat Kadilangu
    5. Pendopo Ndalem Notobratan
    6. Lumbung Padi Tertua se-Asean
    7. Ndalem Sesepuh Kadilangu
    8. Masjid Kadilangu
    9. Makam Sunan Kalijaga
    10. Masjid Agung Demak
    11. Museum Masjid Agung Demak
    12. Makam Raja/Sultan Demak
    13. Explore Arsitektur Demak Kuno

    Wisata ini dimulai pukul 04.00 WIB, di mana wisatawan akan memulai perjalanannya menuju Kawasan Makam Syekh Mudzakir yang berada di tengah laut Kecamatan Sayung menggunakan perahu.

    “Jam 04.00 WIB pagi, sebelum subuh, kita menuju ke wisata religi Syekh Mudzakir yang ada di tengah laut. Itu sensasinya luar biasa karena pagi-pagi kita harus bangun, kemudian harus naik perahu. Terus kita salat subuh di makam Syekh Mudzakir dan berziarah di sana,” ujar Endah.

    Endah menyebut wisatawan bisa mendapat akses khusus di beberapa lokasi tujuan. Tak hanya melihat-lihat, pemandu wisata juga akan menjelaskan seluk-beluk tempat yang sedang dikunjungi.

    Artikel ini sudah tayang di detikJateng. Baca selengkapnya di sini.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Masjid Kuno Ini Saksi Penyebaran Agama Islam di Madiun



    Madiun

    Di tengah pemukiman warga kelurahan Kuncen, berdiri sebuah masjid kuno yang menjadi saksi penyebaran agama Islam di Madiun.

    Masjid Kuno Kuncen, yang dikenal pula sebagai Masjid Nur Hidayatullah, kerap disebut sebagai salah satu saksi perkembangan Islam di Madiun dan telah menarik perhatian warga, peneliti, serta wisatawan religi.

    Meski ukurannya tak seluas masjid-masjid agung metropolitan, nilai historis dan arsitekturnya membuat tempat ini istimewa. Struktur serupa joglo, tiang saka kayu berusia, serta pagar batu bata yang menjulang menjadi ciri khas yang mudah dikenali.


    Kompleks masjid ini juga letaknya berdekatan dengan sendang yang menurut tradisi setempat terkait dengan asal-usul nama kota Madiun. Air dari sendang ini juga dipercaya memiliki berkah dan sering digunakan untuk ritual jamasan (penyucian) benda-benda pusaka, terutama menjelang bulan Suro (Tahun Baru Jawa) atau saat perayaan Grebeg Maulud.

    Asal-usul Masjid Kuno Kuncen

    Dilansir dari laman resmi Kelurahan Kuncen, pergeseran kekuasaan besar terjadi pada tahun 1568 di Kesultanan Demak, yang dampaknya turut membentuk sejarah di Madiun.

    Era baru ini dimulai setelah Mas Karebet, atau Jaka Tingkir, memenangkan perang saudara. Dengan restu para wali, ia naik tahta menggantikan mertuanya, Sultan Trenggono, dan bergelar Sultan Hadiwijaya.

    Namun, Sultan Hadiwijaya menolak untuk berkedudukan di Demak dan memilih memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang. Sejalan dengan perubahan tersebut, putra Sultan Trenggono lainnya, Pangeran Timur, diangkat sebagai Bupati Madiun pada 18 Juli 1568.

    Pengangkatan adik ipar Sultan Hadiwijaya ini dilakukan oleh Sunan Bonang yang mewakili dewan wali. Pangeran Timur, yang memerintah Madiun dari tahun 1568 hingga 1586, kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno.

    Pada tahun 1575, Pangeran Timur mengambil keputusan strategis untuk memindahkan pusat pemerintahan Madiun dari wilayah utara (Kelurahan Sogaten) ke lokasi baru di selatan, yaitu di Kelurahan Kuncen (sebelumnya bernama Wonorejo).

    Selain mengurus pemerintahan, Pangeran Timur juga mengemban misi dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Karena penyebaran agama erat kaitannya dengan pendirian tempat ibadah, maka diyakini bahwa Masjid Kuno Kuncen (yang kini bernama Masjid Nur Hidayatullah) didirikan di Kuncen setelah perpindahan ibu kota tersebut, yakni sekitar akhir abad ke-16.

    Peninggalan Sejarah Masjid Kuncen

    Peninggalan sejarah di masjid di antaranya adalah bedug (kentungan besar) kuno yang diyakini seusia dengan masjid, serta mustaka (mahkota atap) asli masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi.

    Selain itu, mimbar dan beberapa elemen arsitektur di dalam masjid juga masih mempertahankan keasliannya sejak era Pangeran Timur.

    Artefak terpenting di kompleks ini sesungguhnya adalah keberadaan makam-makam kuno, terutama makam Pangeran Timur (Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno), Bupati Madiun pertama.

    Kompleks makam ini, yang letaknya menyatu dengan area masjid, menjadi bukti utama fungsi Kuncen sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam pertama di Madiun. Nisan-nisan kuno dari para kerabat dan abdi dalem yang dimakamkan di sekitar Pangeran Timur juga menjadi peninggalan sejarah yang tak ternilai.

    Karena nilai sejarah yang tinggi dan keunikan arsitekturnya, kompleks Masjid Kuno Kuncen (termasuk area makam Pangeran Timur) telah ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah Kota Madiun sebagai Situs Cagar Budaya melalui SK Walikota pada tahun 2019.

    Status ini memberikan perlindungan hukum penuh, yang berarti segala bentuk pemugaran atau penambahan fasilitas baru di kawasan tersebut harus dilakukan atas seizin dan pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

    Masjid Kuno Kuncen adalah bukti konkrit yang menghubungkan masa lalu dengan keseharian warga Madiun. Perdebatan tentang tanggal pendirian atau nama pendiri menggambarkan hidupnya tradisi dan arsip, keduanya perlu disandingkan agar sejarah kawasan ini bisa ditulis lebih lengkap.

    Upaya pelestarian dan pengelolaan wisata yang menghormati nilai asli akan menentukan apakah generasi mendatang masih bisa menyentuh, melihat, dan belajar dari warisan ini.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Masjid Tertua di Indonesia, Ada yang Usianya Lebih dari 5 Abad


    Jakarta

    Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Masuknya Islam ke Nusantara meninggalkan banyak jejak sejarah, salah satunya berupa masjid-masjid tua yang masih berdiri kokoh hingga kini.

    Masjid-masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga saksi bisu awal mula penyebaran Islam di berbagai daerah. Beberapa di antaranya bahkan dibangun ratusan tahun lalu oleh para ulama dan wali, dengan arsitektur yang unik dan nilai sejarah yang tinggi.


    Berikut adalah lima masjid tertua di Indonesia yang menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang peradaban Islam di Tanah Air.

    Masjid Tertua di Indonesia

    1. Masjid Sultan Suriansyah

    Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan sekaligus menjadi salah satu yang tertua di Indonesia. Dilansir dari laman Kecamatan Banjarmasin Utara, masjid ini dibangun sekitar tahun 1526 M pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah, raja pertama Kerajaan Banjar yang memeluk Islam.

    Terletak di tepi Sungai Kuin, Banjarmasin, masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Kuin dan berdekatan dengan makam sang sultan yang menjadi objek wisata religi.

    Masjid ini mencerminkan arsitektur tradisional Banjar, dengan struktur panggung dan atap tumpang, serta mihrab yang memiliki atap terpisah. Bangunan utamanya terbuat dari kayu ulin yang kokoh, dan walau telah beberapa kali dipugar, keaslian bentuk dasarnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari Kawasan Cagar Budaya.

    Keunikan lainnya adalah filosofi empat tingkatan bangunan masjid yang menyimbolkan syariat, pengamalan, hakikat, dan spiritualitas Islam. Masjid ini dihiasi dengan kaligrafi Arab, simbol-simbol Islam, dan ukiran khas Banjar.

    Empat tiang guru utama masjid masih asli sejak dibangun, dan konon diletakkan dengan tradisi Banjar, termasuk pemasangan wafak sebagai pelindung bangunan. Akses menuju masjid ini mudah karena berada di dalam wilayah Kota Banjarmasin, dekat Jalan Pangeran, dan dapat dinikmati bersamaan dengan pemandangan Sungai Kuin serta dermaga bersejarah di seberangnya.

    2. Masjid Saka Tunggal

    Masjid Saka Tunggal merupakan masjid unik yang terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Ciri khas utamanya adalah hanya memiliki satu tiang utama (saka guru) sebagai penyangga bangunan, sehingga disebut “Masjid Saka Tunggal.”

    Dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, masjid ini diyakini didirikan oleh Mbah Mustolih, dengan tiang utama bertuliskan angka 1288, yang diduga sebagai tahun pendiriannya.

    Tiang tunggal ini melambangkan huruf Alif, yang menjadi simbol kehidupan yang lurus dan sesuai aturan agama. Awalnya, masjid beratap sirap kayu dan berdinding kayu serta anyaman bambu, namun seiring waktu dilakukan penggantian material demi pemeliharaan, termasuk penggunaan seng dan bata pada bagian luar.

    Selain arsitekturnya yang khas, masjid ini dikenal karena sering didatangi kawanan kera dari hutan sekitar. Kera-kera ini awalnya tidak terbiasa dengan makanan manusia, namun kini telah terbiasa dan sering datang mencari makanan, sehingga pintu masjid biasanya ditutup agar tidak dimasuki oleh kera.

    Hingga kini, Masjid Saka Tunggal tetap aktif digunakan untuk ibadah dan menjadi daya tarik sejarah serta budaya di wilayah Banyumas.

    3. Masjid Agung Demak

    Masjid Agung Demak menjadi salah satu masjid tertua di Pulau Jawa. Masjid ini paling bersejarah di Nusantara.

    Merujuk laman Masjid Agung Demak, masjid ini didirikan oleh Raden Fatah bersama Walisongo sekitar 1466 M, dan diyakini pernah menjadi tempat pertemuan para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

    Masjid ini sangat erat kaitannya dengan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Pembangunan awalnya dimulai sebagai masjid pesantren, kemudian direnovasi menjadi masjid kadipaten dan akhirnya menjadi masjid kesultanan pada 1479 M, sebagaimana ditandai dengan relief bulus di mihrab.

    Arsitekturnya khas Jawa, dengan bangunan utama berukuran 31 x 31 meter dan serambi terbuka. Masjid ini memiliki 4 tiang utama (saka guru), salah satunya adalah saka tatal, yakni tiang yang disusun dari serpihan kayu oleh Sunan Kalijaga. Atapnya berbentuk limas bertingkat tiga sebagai simbol iman, Islam, dan ihsan. Serambi masjid juga memiliki tiang-tiang yang disebut Saka Majapahit.

    Kini, Masjid Agung Demak telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional, menjadi simbol penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia dan warisan berharga bagi dunia Islam secara umum.

    4. Masjid Sunan Ampel

    Masjid Sunan Ampel, juga dikenal sebagai Masjid Ampel, didirikan oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 M di kawasan Ampel Denta, Surabaya. Pembangunan masjid ini dilakukan bersama sahabatnya Mbah Sholeh, Mbah Sonhaji, dan para santri, sebagai bagian dari misi penyebaran Islam yang diperintahkan oleh Raja Brawijaya dari Majapahit.

    Sebagai bentuk penghormatan atas kesediaan Sunan Ampel, ia diberi sebidang tanah seluas 12 hektare. Sejak didirikan, masjid ini telah mengalami beberapa kali perluasan, antara lain oleh Adipati Aryo Cokronegoro, Raden Aryo Nitiadiningrat (1926), dan KH Munaf Murtadho (1944). Saat ini, kompleks masjid ini memiliki luas sekitar 4.000 meter persegi.

    Arsitektur Masjid Sunan Ampel menggabungkan unsur Jawa kuno, Arab, serta sentuhan budaya lokal dan Hindu-Buddha. Masjid ini memiliki 16 tiang kayu jati tanpa sambungan, masing-masing sepanjang 17 meter, simbol dari jumlah rakaat salat dalam sehari. Desain pintunya melengkung ala Timur Tengah, dengan total 48 pintu yang mengelilingi masjid.

    Masjid ini tak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat dakwah dan peninggalan sejarah penting penyebaran Islam di Pulau Jawa.

    5. Masjid Jami Tua Palopo

    Masjid Jami Tua Palopo merupakan masjid tertua di Sulawesi Selatan. Merujuk detikSulsel, masjid ini telah berdiri sejak tahun 1604 Masehi, atau berusia lebih dari 419 tahun. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Datu Luwu ke-16, Pati Pasaung, ketika pusat Kerajaan Luwu dipindahkan dari Pattimang Malangke ke Palopo.

    Masjid ini terletak di Jalan Andi Djemma, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, tepat di jantung Kota Palopo, dan berseberangan dengan Istana Kedatuan Luwu. Pembangunan masjid ini menjadi penanda resmi masuknya agama Islam di Tana Luwu, meskipun Islam telah mulai masuk sejak masa Datu Luwu ke-15, La Patiware’.

    Menurut pemangku adat Kedatuan Luwu, Masjid Jami menjadi bukti penerimaan Islam di wilayah tersebut. Keaslian bangunan masjid tetap terjaga hingga kini; bentuk dan tekstur arsitekturnya tidak mengalami perubahan sejak pertama kali dibangun. Masjid ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

    Kini, Masjid Jami Tua Palopo menjadi salah satu destinasi wisata religi yang populer di Kota Palopo, menarik banyak pengunjung yang ingin mengenal sejarah Islam di Sulawesi Selatan melalui bangunan bersejarah ini.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?



    Jakarta

    Wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Ajarannya mudah diterima oleh masyarakat Jawa karena sangat toleran pada budaya lokal. Bagaimana cara beliau dalam menyebarkan agama Islam? Berikut ulasannya.

    Kerajaan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Patah pada akhir Abad ke-15 di Bintoro,Demak. Hal ini bersumber dari buku Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda karya Conie Wishnu W.

    Dalam mengatur Kerajaan Demak, pemerintahan dibantu oleh Dewan Penasihat yang bernama Wali Songo. Dewan ini bertugas memberikan masukan kepada raja serta menyelesaikan persoalan di masing-masing bidangnya.


    Seluruh Wali Songo ini memiliki peran yang sangat besar untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa dan Demak. Berikut nama wali yang memperluas agama Islam di Demak.

    a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

    b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

    c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

    d. Sunan Drajat atau Raden Qasim

    e. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

    f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

    g. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

    h. Sunan Muria atau Raden Umar Said

    i. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

    Salah satu wali yang paling banyak dibicarakan apabila membicarakan tentang perluasan agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria.

    Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nana Supriatna dalam bukunya yang berjudul Sejarah untuk Kelas XI SMA Program Bahasa.

    Tulisan kali ini akan membahas tentang sosok Sunan Kalijaga sebagai salah satu wali yang paling berpengaruh di Demak. Lantas, bagaimana sosoknya dan cara dakwahnya?

    Sosok Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Beliau adalah seorang wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Murodi.

    Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, adipati Tuban. Nama lain beliau yang banyak diketahui adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

    Mengenai nama Kalijaga ada banyak versi yang menjelaskannya. Ada yang berpendapat nama ini diambil dari hobinya berendam di sungai (kungkum kali), sehingga orang-orang menyebutnya “jaga kali” atau Kalijaga.

    Sebagian yang lain menyebutkan nama ini diambil dari istilah Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan Demak kala itu.

    Menurut catatan sejarah Indonesia, Sunan Kalijaga termasuk dalam jajaran wali yang popular di kalangan masyarakat khususnya Jawa. Peran dan cara penyebaran Islam yang menggunakan pendekatan budayalah yang menjadikannya banyak dikenal oleh masyarakat.

    Lantas, bagaimana cara dakwah Sunan Kalijaga sebagai wali yang memperluas agama Islam di Demak?

    Dakwah Sunan Kalijaga

    Salah satu wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Dakwah yang dilakukannya tergolong mudah diterima oleh masyarakat sehingga bisa berkembang pesat.

    Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama seperti guru sekaligus sahabat dekatnya, yaitu Sunan Bonang. Beliau memiliki paham keagamaan yang cenderung sufistik berbasis salaf.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan budaya lokal untuk media berdakwah. Oleh sebab itu, beliau dinilai sebagai wali yang toleran pada budaya lokal.

    Sunan Kalijaga berpendapat, jika pendirian atau budaya yang sudah melekat pada mereka dihilangkan atau diserang, maka mereka tidak akan mau mempelajari agama Islam. Oleh karena itu, beliau menyebarkan ajaran Islam secara bertahap sambil terus mempengaruhi mereka.

    Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta suluk sebagai media dakwahnya. Beliau yakin, apabila masyarakat sudah mengerti tentang agama Islam, maka kebiasaan lama mereka akan hilang dengan sendirinya. Karena inilah, ajaran beliau terkesan sinikretis.

    Terdapat beberapa peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada sampai sekarang. Beliau merupakan perancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang Tatal yang ada di masjid merupakan kreasi beliau.

    Selebihnya, Sunan Kalijaga juga merupakan pencipta dari baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja, lanskap pusat kota berupa keratin, dan alun-alun dengan dua beringin serta masjid.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Haru Istri yang Suaminya Meninggal di Madinah



    Jakarta

    Niat Sumi’ah menunaikan ibadah haji beserta suaminya pupus setelah sang suami dipanggil Allah SWT. Ini ceritanya.

    Suami Sumi’ah bernama Masrikan Rejo Nasikun, meninggal dunia 31 Mei 2023, dari kloter 4 asal Karanganyar, Kabupaten Demak. Yang bersangkutan meninggal dunia di RSAS Madinah.


    Jemaah berusia 72 tahun dan termasuk kategori lansia itu meninggal dunia pada Rabu (31/5/2023) pukul 18.30 WAS (Waktu Arab Saudi). Penyebabnya karena serangan jantung.

    “Suami di pesawat biasa saja. Sebelumnya memang pernah sakit tapi kalau dikeroki terus enak. Yang dikeluhkan itu sakit di ulu hati. Sebelumnya sudah pernah diperiksakan dan dinyatakan sehat ketika berangkat. Normal terus sampai mendarat bahkan sampai masuk ke hotel,” tutur Sumi’ah saat ditemui tim Media Center Haji di Makkah, (5/6/2023).

    Suami Sumi’ah meninggal waktu jalan ke masjid kira-kira menjelang perpindahan ke Makkah. “Saya juga diajak untuk jalan-jalan tapi saya tidak mau. Setelah pulang jalan-jalan suami membawa kurma. Saya bilang kok belinya sekarang pak kita lo mau ke Makkah.”

    “Nah, terus suaminya itu sakit. Ketika diperiksa sama dokter dia terus terpejam terus dibawa ke rumah sakit. Saya sempat mau ikut ke rumah sakit tapi nggak dibolehkan,” ungkap perempuan paruh baya ini.

    “Saya tidak tahu kapan bapak (suami) meninggal. Saya tahunya itu ketika dokter dan perawat datang ke kamar terus di kamar itu cuma diem saja. Terus akhirnya dia bisa mengerti Kalau suaminya sudah meninggal,” ceritanya.

    Kini Sumi’ah yang beribadah dengan kursi roda sedang menata hati. Empat koper milik dia dan almarhum suaminya yang dibawa dari Solo dia tekadkan dibawa pulang kembali nantinya.

    “Kadang-kadang kalau teringat suami perasaannya bagaimana gitu. Masih baru jadi ya nangis. Kalau keluarga sering menelpon menguatkan tanya kabar,” tutupnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com