Tag: desentralisasi

  • Yuk Kenali Blockchain beserta Cara Kerja dan Manfaatnya

    Potensi yang besar dimiliki oleh teknologi blockchain membuatnya ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Para trader pemula pastinya sudah sangat akrab dengan istilah blockchain. Nah, bagaimana sih cara kerja blockchain? Yuk, simak penjelasan lengkapnya tentang blockchain!

    Apa sih Blockchain itu?

    Gagasan blockchain 1991 dituangkan oleh Scott dan Stornetta dalam jurnal kriptografi yang berjudul “How to Time-Stamp a Digital Document”. Pada tahun 2009 blockchain pertama kali diimplementasikan, kemudian pada tahun 2014 direvolusi dengan Blockchain 2.0.

    Blockchain dapat diartikan sebagai buku besar digital, dimana setiap transaksi dicatat dan diamankan di banyak database yang tersebar luas di komputer. Pada sistemnya blockchain sudah tidak menggunakan pihak ketiga dalam proses pertukaran data maupun transaksi, tetapi menggunakan banyak pihak atau komputer yang tersebar di jaringan itu sendiri.

    Blockchain bekerja dengan cara sederhana, misal pengguna ‘A’ melakukan sebuah transaksi kepada pengguna ‘B’. Selanjutnya permintaan transaksi akan diumumkan pada jaringan peer-to-peer (P2P) dan divalidasi oleh Nades

    Setelah terverifikasi, transaksi akan digabungkan dengan transaksi lain dengan membuat blok data baru dalam buku kas induk. Lalu, block data baru ditambahkan ke blockchain dan disimpan secara permanen, serta dapat dilihat oleh siapapun. Transaksi selesai dilakukan.

    Keunggulan Teknologi Blockchain

    Diminati oleh banyak orang, berikut beberapa keunggulan teknologi blockchain:

    Dalam penggunaan teknologi blockchain, riwayat setiap transaksi mampu disimpan secara aman dan semakin transparan. Karena, blockchain merupakan sebuah sistem seperti buku besar yang terdesentralisasi, semua orang yang berada di dalam suatu jaringan memiliki daftar data yang sama.

    Daftar data bersama yang dimiliki setiap orang hanya dapat diperbarui melalui mekanisme konsensus, dimana setiap orang di dalam suatu jaringan harus menyetujui apabila terdapat suatu perubahan.

    • Keamanan Data yang Lebih Baik

    Dalam segi keamanan, blockchain memiliki fitur yang membuatnya lebih unggul dibanding dengan sistem pencatatan lainnya. Di dalam blockchain transaksi harus disetujui terlebih dahulu, kemudian baru dapat dicatat. Setelah disetujui dan diterima, transaksi dienkripsi dan dihubungkan dengan transaksi sebelumnya.

    Database blockchain memiliki struktur yang bersifat append only atau hanya bisa melakukan penambahan dan tidak memiliki perintah edit. Sehingga membuat teknologi blockchain sulit untuk diretas.

    Salah satu fungsi penting dalam teknologi blockchain adalah fungsi audit. Pertukaran barang akan tercatat di dalam blockchain, kemudian berakhir dengan sebuah jejak audit yang dapat menunjukkan asal dan setiap pemberhentian yang dilalui barang tersebut selama perjalanannya.

    Sebuah barang dapat diverifikasi keasliannya melalui data riwayat transaksi, sehingga sangat minim kemungkinan tindakan penipuan dapat terjadi.

    Adanya calo biasanya akan menambahkan biaya transaksi, sedangkan dalam bisnis penghematan biaya adalah prioritas. Selain itu, Anda tidak perlu menaruh kepercayaan kepada calo, tetapi kepada algoritma konsesus. Melalui algoritma proses verifikasi hanya mengarah ke satu database yang sifatnya immutable.

    Manfaat Teknologi Blockchain

    Ruang pengembangan blockchain di Indonesia sangat terbuka lebar. Apabila dioptimalkan, dapat menambah kesejahteraan sosial masyarakat. 

    Dilansir dari TRIBUNEWS, Oscar Darmawan selaku CEO Indodax menyatakan, saat ini sistem blockchain telah diterapkan pada berbagai bidang. Di bidang publik, memanfaatkan teknologi peer to peer (P2P) mempermudah aktivitas pencatatan identitas, aset berharga, data kesehatan, hingga faktur pajak.

    Sedangkan di bidang keuangan, blockchain turut serta membantu masyarakat dalam investasi aset digital, mempercepat kegiatan audit, pembuatan kontrak pintar (smart contract), hingga pembayaran lintas negara.

    Menarik sekali bukan? Melihat cara kerja blockchain yang sangat mudah dan tentunya sangat aman. Terlebih lagi teknologi blockchain memiliki banyak keunggulan. Jika Anda ingin memulai investasi dan trading aset kripto, segera bergabung dengan Tokocrypto. Nantikan juga update terbaru dari Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kini Aset Crypto Dapat Dijadikan Pinjaman Berbunga Tinggi

    Melakukan peminjaman di bank konvensional tentunya hal yang lumrah, namun bagaimana jika melakukan pinjaman aset kripto? Tentunya hal yang baru bukan? Kehadiran fitur DeFi (Decentralized Finance) yang dibangun di atas teknologi blockchain membuat siapa saja dapat meminjamkan aset kriptonya. Saat ini proses pinjam meminjam bitcoin ini dikenal sebagai crypto lending

    Sebelum membahas keuntungan dan tips melakukan pinjaman aset kripto, ada baiknya mengenali terlebih dahulu perbandingan pinjaman kripto dan bank konvensional. Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

    Perbandingan Pinjaman Bitcoin dan Bank Konvensional di Indonesia

    Saat melakukan peminjaman dana di bank konvensional tentunya Anda dihadapkan dengan beragam persyaratan administrasi yang cukup merepotkan. Seperti memberikan dokumen berupa KTP, NPWP, slip gaji, dan juga buku tabungan.

    Selain itu, tidak semua orang bisa mendapatkan akses untuk melakukan pinjaman di bank, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukan pinjaman di bank. Jika Anda memiliki catatan hutang dengan dengan skor kredit yang buruk, besar kemungkinan pinjaman yang dilakukan tidak akan berhasil.

    Proses peminjaman di bank membutuhkan waktu yang terbilang cukup lama. Sistem keuangan bank konvensional yang bekerja secara sentralisasi atau terpusat, menyebabkan ketidakefisienan dan tingkat pengamanannya kurang. Pasalnya, tidak adanya evolusi teknologi oleh lembaga keuangan dapat meningkatkan resiko transaksi dapat diretas.

    Berbanding dengan pinjaman kripto, Anda hanya perlu menyetujui beberapa persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Seperti terdaftar dalam platform crypto lending, memberikan aset kripto sebagai jaminan, dan menetapkan jangka waktu pinjaman. Proses pinjaman hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, sehingga lebih cepat dibandingkan bank konvensional.

    Sistem keuangannya bekerja tanpa otoritas pusat, karena data disimpan di antara berbagai node dalam jaringan, sehingga sangat amat. Selain itu, proses peminjamannya sangat efisien dan transparan kepada seluruh penggunanya. 

    Keuntungan Pinjaman Kripto

    Pinjaman kripto atau lebih dikenal dengan crypto lending memiliki sejumlah keuntungan, diantaranya sebagai berikut:

    Di dalam crypto lending, Anda memiliki potensi besar untuk mendapatkan kembali lebih banyak aset kripto dari jumlah aset yang Anda pinjamkan. Dengan demikian, Anda dapat memiliki penghasilan pasif yang bagus. 

    Terlebih lagi, apabila dibanding dengan Anda hanya melakukan HODLing, Anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan bunga yang tentunya jauh lebih menarik.

    • Mengurangi Dampak Volatilitas Pasar

    Memberikan pinjaman aset kripto berupa stablecoin, akan menciptakan solusi baru bagi Anda dan semua pemilik aset kripto. Perlu diketahui mengenai stablecoin, merupakan jenis berupa aset kripto yang dirancang untuk menjaga nilai yang sama dengan mata uang fiat tertentu.

    Melalui pemberian pinjaman berupa stablecoin, Anda dapat menumbuhkan aset Anda tanpa risiko variasi yang biasanya Anda miliki dengan aset kripto.

    Tips Melakukan Pinjaman Kripto

    Berikut tips sebelum  Anda melakukan pinjaman kripto:

    • Menggali Informasi Sedalam-dalamnya

    Tentunya sebelum Anda terjun ke dalam crypto lending, langkah paling bijak adalah dengan mencari tahu cara kerjanya dan platform apa yang paling cocok dengan kebutuhan Anda.

    Selain itu, hal yang penting lainnya. Anda sangat perlu mencari tahu platform crypto lending yang terpercaya, agar semaksimal mungkin Anda dapat terhindar dari kecurangan ataupun pencurian.

    • Mengetahui Standar yang Dimiliki Platform Crypto Lending

    Tentunya untuk melakukan pinjaman Anda akan menjumpai syarat dan ketentuan yang berlaku. Tentu menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami dengan baik. 

    Anda juga perlu memastikan kapan  waktunya Anda akan mendapatkan kembali aset kripto Anda, serta seberapa besar bunga yang akan Anda dapatkan dari pinjaman tersebut. 

    Anda juga harus menyiapkan strategi maupun rencana cadangan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Salah satunya seperti peminjam tidak dapat membayar Anda. Sebaiknya anda memastikan dengan benar bahwa platform atau smart contract yang digunakan dapat mengembalikan aset kripto Anda.

    Baik melalui jaminan aset maupun asuransi yang sebelumnya telah disiapkan oleh peminjam.

    Sangat menarik bukan? Dengan melakukan pinjaman bitcoin yang merupakan aset kripto, Anda berpeluang mendapatkan lebih banyak aset kripto dari jumlah aset yang Anda pinjamkan. Untuk memulai pinjaman aset kripto, Anda perlu platform terpercaya seperti Tokocrypto. 

    Tidak perlu khawatir, Tokocrypto terdaftar secara legal dan tersertifikasi ISO 27001. Tunggu apa lagi? Yuk, gabung dan memulai investasi di Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Teknologi Web 3.0?

    Belakangan ini, dunia teknologi informasi diwarnai topik mengenai web 3.0 atau web3. Penambahan kode “3.0” sebenarnya merupakan tanda bahwa teknologi baru ini merupakan kelanjutan dari web yang sudah ada sebelumnya, yaitu web 1.0 dan web 2.0. Teknologi ini digadang-gadang unggul karena memanfaatkan sistem blockchain yang terdesentralisasi. Benarkah demikian? Untuk lebih memahami tentang teknologi baru ini, mari simak ulasannya berikut.

    Apa Itu Web 3.0?

    Web 3.0 atau kadang disebut web3 merupakan generasi terbaru dari world wide web (www) yang berbasis teknologi blockchain. Melansir dari portal berita NBC News, web3 merupakan suatu hipernim yang mewakili suatu pandangan masa depan terhadap internet. Dalam pandangan tersebut, kepemilikan internet di masa depan akan lebih terdistribusi.

    Sebenarnya, pandangan tersebut didasarkan pada teknologi ledger (buku besar) digital bernama blockchain. Teknologi pembukuan yang transparan itu akan membantu internet menjadi jauh lebih mudah diakses, tapi tetap terjamin keamanannya. Istilah web3 sendiri mulai banyak digunakan setelah Gavin Wood, co-founder Ethereum, menyebutkannya pada 2014 lalu.

    Generasi Internet Sebelumnya

    apa itu web3

    Seperti yang telah disebutkan pada bagian pembuka, web3 sebenarnya merupakan “penerus” dari generasi internet yang sudah ada sebelumnya, yaitu web 1.0 dan juga web 2.0. Mari membahas sedikit mengenai dua generasi internet tersebut.

    Web 1.0

    World Wide Web atau www mulai dikenal oleh masyarakat dunia pada tahun 1990-an (tepatnya 1991-2004). Kala itu, internet memang baru dikenalkan dan dipergunakan secara luas. Pada generasi web 1.0, kebanyakan website yang ada masih menggunakan format statis.

    Tidak ada interaksi yang terjadi antara pembuat konten website dengan pengguna. Jumlah pengguna internet juga didominasi oleh penikmat konten, bukan pencipta. Itu artinya, jenis konten yang tersedia masih sangat terbatas dan tidak punya banyak variasi. Meski begitu, kehadiran web 1.0 membuka harapan pengembangan internet yang jauh lebih maju lagi.  

    Web 2.0

    Lama-kelamaan, teknologi web 1.0 pun berkembang. Dari yang semula hanya memiliki konten terbatas, kini variasinya makin beragam. Akhirnya, dunia pun memasuki era web 2.0. Pada generasi ini, website menjadi sebuah platform.

    Penggunaannya pun mulai bergeser. Jika pada web 1.0 masih dominan penikmat konten, pada era web 2.0 justru sebaliknya. Jumlah pembuat konten semakin meningkat. Ini karena user atau pengguna internet diberi keleluasaan untuk membuat konten pribadi. Mereka dapat mengunggah konten tersebut ke forum web, media sosial, layanan networking, hingga blog. Generasi internet ini dimulai kurang lebih pada 2004 dan terus berkembang hingga sekarang.

    Teknologi Yang Digunakan Web3

    Secara garis besar, web 3.0 ini akan mengadopsi teknologi blockchain. Teknologi tersebut dipilih karena memiliki sistem yang terdesentralisasi. Ini sejalan dengan pandangan web3 yang menginginkan adanya kepemilikan internet yang lebih terdistribusikan; tidak hanya terbatas pada posisi pembuat dan penikmat konten seperti pada generasi internet sebelum-sebelumnya.

    Diprediksi nantinya web3 akan meningkatkan keamanan data pengguna, skalabilitas yang lebih luas, dan kerahasiaan tinggi. Di samping itu, karena sifatnya yang terdesentralisasi, web3 juga diharapkan bisa menggulingkan monopoli perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dalam kepemilikan internet.

    Web 3.0 dan Crypto

    Web3 sangat erat kaitannya dengan teknologi blockchain dan sistem DeFi atau decentralized finance. Kedua konsep ini sebenarnya sudah berlaku dalam pengelolaan aset crypto. Aset crypto merupakan aset digital yang menerapkan sistem terdesentralisasi. Artinya, pengelolaannya dilakukan oleh pemilik aset saja tanpa ada campur tangan dari pihak ketiga. Begitu pula saat transaksi aset yang hanya akan terjadi antara pemilik dan pembeli aset.

    Dengan konsep DAO atau decentralized autonomous organization yang meminimalisir adanya campur tangan pihak ketiga, aset crypto jadi jauh lebih aman. Jalur distribusinya pun transparan karena bisa diketahui oleh siapa pun yang memiliki akses menuju blockchain.

    Baca juga: Metaverse adalah Gambaran Masa Depan? Begini Cara Kerjanya

    Jadi bagaimana? siapkah Anda untuk menyongsong web3 sebagai era baru internet? Sebenarnya, contoh penerapan web3 ini sudah terjadi di dunia crypto. Di crypto, seluruh transaksi aset dilakukan menurut sistem terdesentralisasi dan selalu terekam di blockchain, membuatnya begitu transparan dan mudah dikendalikan langsung oleh pengguna karena tidak adanya pihak ketiga yang terlibat.

    Tertarik untuk mulai menjajal teknologi web3? Anda bisa mulai di Tokoscape. Di ekosistem Tokoscape, Anda akan merasakan sistem terdesentralisasi yang aman dan nyaman. Misalnya, untuk investasi aset crypto, bisa dilakukan melalui Tokocrypto atau dengan menjadi Creator NFT (non-fungible token) di TokoMall. Jangan lupa juga gabung di komunitas Tokocrypto di Telegram dan Discord sekarang!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ketahui Apa itu Peer to Peer dan Penerapannya dalam Kripto

    Apakah Anda sering mendengar istilah ‘peer to peer’ (P2P)? Istilah ini memang sangat populer digunakan terutama dalam industri fintech. Namun, beberapa waktu belakangan istilah ini juga banyak terdengar di dunia kripto, lho! Yuk, ketahui pengertiannya serta penerapannya di dalam dunia kripto!

    Apa itu peer to peer? Peer to peer memiliki pengertian yang berbeda tergantung konteksnya

    Pengertian P2P secara umum menurut Merriam-Webster

    Kata ini merujuk pada sesuatu yang terjadi secara langsung antara manusia, antar teman, orang-orang yang serupa dalam usia, kelas, atau status. Sebagai contoh P2P mentoring artinya pendamping sejawat/dalam pekerjaan yang sama.

    Pengertian P2P dalam dunia komputer

    Peer to peer (P2P) adalah kumpulan dari beberapa perangkat komputer yang saling terhubung dan membuat sebuah jaringan, yang juga dikenal dengan sebutan P2P network. Lewat jaringan tersebut, tiap komputer memiliki tingkatan yang sama dan bisa saling bertukar data juga informasi, tanpa adanya satu perangkat komputer sebagai pusat.

    Ada 3 jenis peer to peer network :

    1. P2P tidak terstruktur

    Sesuai namanya, jenis P2P network yang satu ini terbentuk berkat node yang saling terhubung satu sama lain dengan tidak beraturan. Maka dari itu, biasanya P2P tidak terstruktur banyak digunakan untuk membangun platform di mana para penggunanya bisa bebas keluar dan masuk jaringan karena kuat dalam menahan churn

    Meski begitu, sistem pencarian pada jenis P2P network ini cenderung kurang efisien karena harus mencari secara acak dalam jaringan untuk menemukan sejumlah perangkat yang saling bertukar data tersebut. 

    1. P2P terstruktur

    Sementara itu, P2P terstruktur berarti jenis P2P network yang diatur oleh node yang diprogram untuk melakukan pencarian secara efisien. Umumnya, P2P network yang terstruktur berjalan dibantu dengan Distributed Hash Table (DHT) sehingga memudahkan untuk identifikasi nodes. Akan tetapi, jenis P2P network ini kurang kuat dalam menahan churn, dikarenakan setiap node harus terlebih dulu memiliki daftar yang sesuai kriteria.

    1. P2P hybrid 

    P2P hybrid adalah jenis P2P network hasil gabungan antara P2P dan client-server, alias jaringan yang terpusat. Oleh karena itu, P2P hybrid sangat berguna apabila diterapkan dalam sebuah jaringan yang membutuhkan server pusat tetapi dikelola secara P2P.

    Jenis P2P network yang satu ini juga dianggap paling efisien jika dibandingkan dengan dua jenis lainnya terutama dalam hal pencarian. Sebab, cara kerjanya dilakukan secara terpusat sambil memanfaatkan jaringan P2P tidak terstruktur.

    Pengertian P2P dalam dunia keuangan

    Konsep P2P banyak digunakan dalam industri keuangan dan teknologi, atau yang biasa disebut fintech. P2P dalam fintech mengacu kepada kegiatan pertukaran sejumlah uang, di mana seseorang (borrower) bisa memperoleh pinjaman uang secara online dari pemilik dana (borrower) tanpa harus melalui bank. Kegiatan inilah yang disebut sebagai P2P lending

    Pengertian P2P dalam blockchain dan dunia kripto

    Tak hanya di industri fintech saja, konsep P2P juga mulai marak diterapkan pada blockchain dan dunia aset kripto, di mana P2P diberlakukan dalam exchange kripto atau bursa pertukaran aset kripto.

    P2P exchange atau bursa kripto peer to peer merupakan jenis bursa kripto yang menggunakan konsep ini, di mana konsep ini memungkinkan para penggunanya untuk bertukar aset kripto langsung secara pribadi tanpa harus melalui pihak ketiga, seperti misalnya bank.

    Untuk lebih memahami P2P exchange mari kita lihat dulu konsep ini dalam blockchain.

    Konsep Peer to Peer dalam Blockchain

    ilustrasi peer to peer di teknologi blockchain

    Penerapan konsep ini memungkinkan pertukaran dilakukan secara tidak terbatas, dikarenakan tidak ada server pusat yang mengatur pertukaran tersebut alias sudah terdesentralisasi. 

    Hal inilah yang membuat siapa saja pengguna blockchain bisa berpartisipasi dalam validasi transaksi aset kripto yang terjadi dan pembuatan blok di dalam blockchain, mengutip CoinMarketCap.

    Pada blockchain, terdapat banyak data transaksi yang dicatat dan dilengkapi oleh waktu, pengirim, dan penerima, sehingga informasi mengenai transaksi terbuka secara publik dan tidak bisa dipalsukan. 

    Nah, keberadaan P2P dalam blockchain ini bisa lebih meningkatkan keakuratan data transaksi, yaitu dengan cara menghubungkan beberapa perangkat komputer yang juga memiliki salinan buku besar tersebut. 

    Konsep P2P blockchain ini menciptakan sebuah bursa pertukaran aset kripto atau exchange. Tentunya, P2P exchange berbeda dengan exchange aset kripto biasanya yang masih tersentralisasi dan mengikuti aturan wilayah atau transaksi yang berlaku. Dengan P2P exchange, para penggunanya bahkan memungkinkan untuk bertransaksi aset kripto secara tunai, lho!

    Lantas, bagaimana cara kerja P2P exchange?

    Cara Kerja P2P Exchange

    ilustrasi mekanisme peer to peer

    Sederhananya, dengan P2P exchange, registrasi akun bisa langsung dilakukan tanpa harus melewati tahap verifikasi identitas terlebih dulu. Setelah berhasil mendaftar, pengguna pun bisa langsung memilih penawaran yang terdapat di dalam exchange

    Jika telah memilih salah satu penawaran, pembeli bisa menghubungi penjual dan melakukan pembelian sesuai dengan harga, biaya tambahan, hingga metode pembayaran yang telah disepakati bersama.

    Selain tanpa adanya kehadiran pihak ketiga yang menjadi jembatan antara pembeli dan penjual aset kripto, terdapat beberapa hal lain yang membedakan P2P exchange dengan exchange biasa, yaitu pembelian aset kripto di P2P exchange bisa dilakukan dengan menggunakan uang tunai atau metode pembayaran lain yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, di exchange kripto biasa mengharuskan pembelian dilakukan dengan sesama aset kripto.

    Beberapa P2P exchange yang populer dan banyak digunakan secara global antara lain Binance P2P, Bybit, Paxful, LocalBitcoins, Huobi, dan HODL HODL.

    Setelah mengenal secara umum mengenai P2P exchange, apakah Anda tertarik mencobanya? Sebelum itu, ketahui dulu kelebihan serta kelemahan dari P2P exchange berikut ini agar tidak salah langkah, ya!

    Kelebihan P2P exchange

    1. Transaksi dilakukan secara langsung

    Kelebihan pertama dari P2P exchange adalah tentu dari transaksi yang dilakukan secara langsung tanpa melalui perantara. Hal ini memudahkan para pembeli untuk memilih penawaran milik penjual mana yang sesuai dengan kriterianya masing-masing. 

    Selain itu, metode pembayaran yang digunakan pun sifatnya lebih fleksibel dan aman karena bisa disesuaikan langsung dengan kedua belah pihak. Alhasil, biaya yang dikenakan juga lebih murah apabila dibandingkan dengan exchange biasa.

    1. Privasi lebih terjaga

    Dengan menggunakan P2P exchange, privasi para pengguna pun cenderung lebih terjaga. Kok bisa? Hal ini dikarenakan P2P exchange tidak melibatkan Know Your Customer (KYC) seperti halnya exchange biasa. 

    Umumnya, pengguna hanya perlu mengisi email dan password saja dan menggunakan sistem pembayaran escrow untuk tetap menjaga keamanan transaksi. Jadi, kecil kemungkinan terjadi penyalahgunaan data pribadi.

    Baca juga: Berikut Ini 3 Manfaat Penerapan KYC dalam Dunia Kripto!

    1. Mudah diakses

    Terakhir, dikarenakan menganut konsep peer to peer dan tidak ada pihak pusat yang mengatur berjalannya exchange, P2P exchange sangat mudah diakses. Pengguna hanya memerlukan perangkat dan sambungan internet saja. Bahkan, rekening bank sekalipun tidak diperlukan, lho.

    Kelemahan P2P exchange

    1. Proses lebih lama

    Meski transaksi bisa dilakukan dengan cepat, proses pertukaran aset kripto cenderung lebih lama. Hal ini dikarenakan tidak ada pihak ketiga yang bisa menjembatani pembayaran antar kedua belah pihak.

    1. Rawan disalahgunakan

    Dikarenakan proses pertukaran aset kripto ini dilakukan secara langsung antara penjual dan pembeli, besar kemungkinan transaksi ini sulit terlacak. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan akan ada pihak-pihak tertentu yang menyalahgunakan hal tersebut untuk aktivitas ilegal seperti pencucian uang.

    1. Tidak lagi bersifat anonim

    Jika anonimitas dijunjung tinggi pada setiap transaksi yang dilakukan di blockchain, dengan menggunakan P2P exchange maka Anda harus siap untuk kehilangan privilege tersebut. Sebab, tidak jarang sistem pembayaran yang dilakukan adalah tunai sehingga sang pembeli dan penjual saling mengetahui identitas masing-masing. Selain itu, beberapa P2P exchange juga mencatat transaksi aset kripto pada profil pengguna secara terbuka.

    Itu dia penjelasan mengenai peer to peer secara umum dan penerapannya dalam dunia aset kripto untuk jual-beli aset. Sebelum mulai bertransaksi aset kripto, pastikan Anda telah melakukan riset yang mendalam dan menetapkan tujuan agar tidak salah kaprah, ya. Kunjungi Tokonews untuk informasi dan edukasi lainnya seputar aset kripto dan jangan lupa untuk gabung di komunitas Tokocrypto sekarang!



    Sumber : news.tokocrypto.com