Tag: detikjateng

  • Ini Pondok Pesantren Berusia 4 Abad dari Semarang



    Semarang

    Di kota Semarang, berdiri sebuah pondok pesantren yang konon usianya sudah 4 abad alias 400 tahun. Inilah pondok pesantren Luhur Dondong.

    Salah satu pondok pesantren (ponpes) tertua di Indonesia ada di Semarang. Saat ini, usianya dipercaya sudah 4 abad. Ponpes tersebut dikenal dengan nama pondok Luhur Dondong.

    Hingga kini, pondok tersebut dianggap menjadi penolong bagi para perantau di Kota Semarang. Sesuai namanya pondok ini berada di Jalan Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.


    Di pondok pesantren tertua ini, tampak bangunan yang cukup lawas. Di salah satu sudutnya terdapat kentongan dengan ukuran cukup besar.

    Suasana di pondok itu tampak sepi pada siang hari. Hanya ada beberapa santri pengelola pondok yang bersiap untuk salat zuhur. Salah satunya Ifan Fahrudin (22). Santri asal Kendal itu pun sempat menceritakan sejarah Pondok Luhur Dondong yang jadi pondok tertua di Indonesia.

    “Iya ini masuk pondok tertua di Indonesia. Sejarahnya, pondok ini berdiri sekitar tahun 1.609, didirikan Kiai Syafi’i Pijoro Negoro pada zaman Mataram,” kata Ifan saat ditemui, Rabu (23/10) pekan lalu.

    Pada saat era Sultan Agung itu, lanjut Ifan, Mbah Syafi’i, panggilan Kiai Syafi’i Pijoro Negoro, diutus untuk ikut serta dalam penyerangan di Batavia. Pada saat itu, ia memutuskan untuk singgah ke pesisir Mangkang.

    Mbah Syafi’i yang kerap disebut sebagai Panglima Diponegoro itu pun tak hanya ikut serta dalam peperangan. Ia turut melakukan dakwah hingga mendirikan pondok di Jalan Dondong.

    “Dulu awalnya beliau mendirikan padepokan dulu, dekat laut. Tapi makin lama kemakan zaman sama banjir rob, akhirnya geser ke sini yang lebih aman,” jelasnya.

    Suasana Pondok Luhur Dondong, di Jalan Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (23/10/2024).Suasana Pondok Luhur Dondong Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

    Santri yang telah menimba ilmu di Pondok Luhur Dondong selama kurang lebih empat tahun itu mengatakan, dua dari lima bangunan pondok kondisinya masih seperti sedia kala. Bangunannya masih menggunakan kayu dengan lantai masih berupa tegel. Pengampunya pun sudah dari generasi ke-7.

    Ifan mengatakan, saat ini hanya ada sekitar 20 santri yang mengaji di Pondok Luhur Dondong. Beberapa dari mereka pun merupakan perantau dari berbagai daerah yang saat ini tengah bekerja di Kota Semarang.

    “Menurut saya pondok ini termasuk pondok yang menolong, untuk menolong orang yang ingin bekerja. Dari pada di kos-kosan yang mahal, mereka bisa tinggal di sini, ikut ngaji,” jelasnya.

    Biasanya, para santri akan bekerja maupun sekolah pada pagi hingga siang hari. Sementara pada sore hingga malam hari, mereka akan memperdalam ilmu keagamaan dengan mengaji.

    “Santri paling jauh ada dari Sulawesi, Serang, Bogor, yang dari Sumatera dulu juga ada. Kebanyakan yang ngaji di sini itu buruh pabrik, tapi anak SMA juga ada,” paparnya.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cerita Air Terjun di Magelang, Konon Jadi Lokasi Legenda Jaka Tarub



    Magelang

    Di Magelang, Jawa Tengah ada satu air terjun yang dipercaya sebagai lokasi legenda Jaka Tarub bermula. Penasaran dengan ceritanya?

    Dikutip dari laman resmi Desa Tlogorejo Magelang, air terjun itu diketahui bernama air terjun Sekar Langit. Nama itu berasal dari bahasa Jawa.

    Kata ‘sekar’ berarti bunga dan ‘langit’ yang juga berarti langit dalam bahasa Indonesia. Jika diterjemahkan, sekar langit berarti bunga yang turun dari langit.


    Legenda Jaka Tarub di Air Terjun Sekar Langit

    Dikutip dari laman resmi Badan Otorita Borobudur, di balik keindahan Air Terjun Sekar Langit yang asri dan sejuk, tersimpan sebuah legenda yang menarik perhatian banyak orang. Legenda ini dikenal sebagai legenda Jaka Tarub.

    Konon, di telaga dekat air terjun tersebut, hiduplah seorang lelaki bernama Jaka Tarub. Ia terkenal karena memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Suatu hari, Jaka Tarub melihat para bidadari yang sedang mandi di telaga. Terpesona oleh kecantikan mereka, ia diam-diam mengintip dan mencuri selendang milik salah satu bidadari.

    Bidadari tersebut adalah Nawang Wulan. Selendang yang dicuri Jaka Tarub sangatlah penting, karena itulah satu-satunya alat yang memungkinkan para bidadari untuk terbang kembali ke kahyangan.

    Tanpa selendangnya, Nawang Wulan terpaksa tinggal di Bumi dan tidak bisa kembali. Dalam pencarian untuk mendapatkan kembali selendangnya, Nawang Wulan bertemu dengan Jaka Tarub.

    Alih-alih marah, keduanya akhirnya jatuh cinta dan membangun rumah tangga bersama, melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Nawangsih.

    Air Terjun Sekar Langit kini menjadi saksi bisu dari kisah cinta Jakatarub dan Nawang Wulan. Banyak wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati panorama alamnya yang menawan, tetapi juga untuk mendengarkan kisah yang melegenda ini.

    Mitos Awet Muda dan Enteng Jodoh

    Masyarakat setempat percaya bahwa air dari Sekar Langit memiliki khasiat khusus, terutama bagi para wanita. Konon, mandi di air terjun ini bisa membuat seseorang awet muda dan enteng jodoh.

    Mitos ini menarik wisatawan yang ingin mencoba peruntungan atau sekadar merasakan kesegaran air yang bersumber dari pegunungan di sana.

    Lokasi dan Cara Menuju ke Air Terjun Sekar Langit

    Air Terjun Sekar Langit terletak di RT 03 RW 01, Desa Tlogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Lokasinya kurang lebih 25 kilometer dari pusat Kota Magelang dan bisa ditempuh dengan perjalanan selama 45 menit.

    Untuk menuju ke sini, traveler bisa memulai perjalanan dari Alun-Alun Magelang. Ikutilah Jalan Alun-Alun Utara ke arah timur menuju Jalan Ahmad Yani.

    Setelah itu, lanjutkan perjalanan dengan mengikuti Jalan Pahlawan dan Jalan Raya Grabag-Magelang hingga mencapai Jalan Sunan Geseng di wilayah Grabag.

    Belok kanan ke Jalan Sunan Geseng, dan ikuti jalan tersebut sekitar 3,9 km. Air Terjun Sekar Langit akan berada di sebelah kiri jalan di kawasan Tlogorejo, Grabag, Magelang.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mengenal Prabanlintang, Negeri Dongeng dari Tegal



    Tegal

    Kabupaten Tegal di Jawa Tengah menyimpan sebuah destinasi menawan bernama Prabanlintang yang kecantikannya disebut-sebut bak Negeri Dongeng.

    Prabanlintang di Kabupaten Tegal merupakan sebuah destinasi wisata yang menawarkan berbagai pesona dan sayang untuk dilewatkan oleh wisatawan di akhir pekan.

    Sebagai salah satu wisata alam andalan di Kabupaten Tegal, Prabanlintang dijuluki sebagai negeri dongeng. Alasannya karena terdapat beberapa spot foto yang menampilkan bangunan-bangunan estetik hingga jembatan yang dapat dilewati oleh pengunjung.


    Tidak hanya itu, ada sebuah danau kecil di sekitar area tersebut. Inilah yang membuat lokasi wisata ini cocok dijuluki sebagai negeri dongeng dari Kabupaten Tegal.

    Alam yang terbentang begitu indah sepanjang mata memandang tersaji di Prabanlintang. Lokasi wisata yang satu ini dipenuhi dengan tanaman hijau yang tumbuh dengan asri.

    Bukan hanya itu saja, Prabanlintang juga ditumbuhi dengan pohon-pohon pinus yang begitu tinggi, sehingga dapat membuat area di sekitarnya rindang dan sejuk.

    Pengunjung dapat berfoto di sekitaran pohon-pohon pinus yang tumbuh di sana. Bukan hanya itu, ada beberapa bangunan dan jembatan kayu yang sengaja dibangun oleh pihak pengelola untuk dapat digunakan oleh pengunjung sebagai spot foto.

    Selain ditumbuhi dengan pohon dan rumput yang begitu hijau, Prabanlintang juga memiliki banyak area kosong yang dapat dijadikan sebagai tempat piknik bagi para pengunjung.

    Fasilitas Prabanlintang

    Pengunjung diperkenankan untuk membawa tikar atau makanan sekaligus minuman dari luar. Oleh sebab itu, objek wisata yang satu ini tergolong ramah untuk dijadikan sebagai pilihan wisata piknik bersama keluarga.

    Selain menawarkan pesona alam yang mampu membuat pengunjung betah untuk berlama-lama, Prabalintang juga dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap. Misalnya saja disediakannya tempat untuk membuang sampah di sejumlah titik lokasi.

    Kemudian, terdapat toilet dan mushola yang dapat digunakan oleh para pengunjung. Inilah yang membuat pengunjung dapat menghabiskan waktu luangnya dengan penuh rasa nyaman di objek wisata ini.

    Jam Buka dan Harga Tiket Prabanlintang

    Merujuk dari Instagram resmi @prabanlintangtegal, destinasi wisata ini dibuka mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Tidak hanya itu, ada harga tiket berbeda yang diberlakukan pada hari-hari tertentu.

    Harga tiket masuk ke Prabanlintang berkisar Rp 7.500 sampai Rp 10.000 untuk dewasa. Kemudian bagi anak-anak yang telah berusia 5 tahun di atas, akan tetap dihitung 1 tiket penuh.

    Berikut harga tiket Prabanlintang:

    1. Senin sampai Jumat: Rp 7.500/orang
    2. Akhir pekan, libur panjang, atau libur nasional: Rp 10.000/orang.

    Cara Menuju ke Prabanlintang

    Prabanlintang berada di Jalan Raya Danasari, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Untuk menuju ke sini bila melihat Google Maps, diperlukan waktu lebih dari 1 jam lamanya dari Alun-Alun Tegal.

    Pengunjung dapat melewati Jalan Banjaranyar-Tegal menuju Jalan Raya Utara Adiwerna. Lalu ambil ke arah kanan menuju Jalan Anoa. Lanjutkan perjalanan dengan belok kiri ke arah Jalan Ir H Juanda dan tetap di jalan tersebut. Saat menjumpai Patung Obor, ambil ke arah lurus menuju Jalan Gajah Mada.

    Selanjutnya ambil ke arah kiri menuju Jalan DR Soetomo dan belok kanan saat berada dekat Gedung Korpri Kabupaten Tegal. Setelah itu ambil arah menuju Jalan Merapi dan ambil ke arah kanan di wilayah Lebakgowah.

    Kemudian, ke arah kiri Jalan Tegal-Cilacap dan belok kanan menuju Jalan Bojong. Tetap berada di jalan ini lalu ambil ke arah Karang Jambu. Saat sudah sampai di Jalan Raya Danasari, berarti tujuan sudah dekat. Ikuti jalan tersebut hingga nantinya sampai di Prabanlintang.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Saksi Bisu Banjir Besar di Kampung Halaman Jokowi Tahun 1966



    Solo

    Solo, kampung halaman mantan presiden Jokowi ternyata pernah dilanda banjir besar pada tahun 1966. Saksi bisu peristiwa itu ada di sebuah bangunan gereja.

    Berdiri sejak 1832, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Penabur Solo menjadi saksi bisu terjadinya banjir besar di Kota Solo 1966.

    Bangunan yang masih berdiri kokoh itu baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.


    Sekretaris Panitia Pembangunan Perbaikan Atap Gereja, Neftali Saekoko, mengatakan GPIB dulunya dibangun era Belanda. Di mana saat itu, lantaran tentara Belanda yang biasanya beribadah di Benteng Vastenburg.

    “Kenapa gereja ini dibangun, ketika itu tentara Belanda yang sebelumnya gereja di dalam Benteng Vastenburg merasa sudah aman dengan kondisi sekitar, sehingga buatlah gereja ini,” katanya ditemui awak media di GPIB, Jalan Jendral Sudirman, Solo, Jumat (6/12).

    Dirinya menyebut, dulunya GPIB mempunyai nama De Protestansche Kerk in Nederlandsch Indie atau Gereja Protestan di Indonesia. Gereja tersebut dulunya hanya diperuntukkan bagi tentara Belanda dan keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, GPIB dibuka untuk masyarakat umum.

    “Untuk yang ditujukan di sini adalah tentara Belanda kolonial dan keluarga yang bertempat tinggal di Benteng Vastenburg, mereka dipersiapkan bergereja di sini. Tahun berjalan, masyarakat sekitar ikut bergereja di sini,” jelasnya.

    Menurutnya, selain jemaat GPIB, jemaat yang di Gereja Purbayan yang merupakan Gereja Katolik menggunakan tempat di GPIB. Ia menyebut, Gereja Purbayan baru berdiri sekira tahun 1910

    “Jemaat dari Gereja Purbayan juga pernah beribadah di sini, mereka pinjam gereja untuk ibadah. Kenapa dibangun, karena tentara Belanda sudah merasa aman di luar. Maka dibuat gereja ini untuk beribadah,” bebernya.

    Ia mengatakan, GPIB mengalami perubahan bentuk karena terkena banjir besar pada 1966 di Kota Solo. Sehingga merusak bagian besar bagian yang ada di depan.

    “Dulu tidak seperti ini, kenapa ini berubah karena terjadi banjir besar pada tahun 1966 di Kota Solo, itu yang merusakkan besar bagian depan gereja ini,” ungkapnya.

    Bahkan, kata Neftali, kursi-kursi besar yang ada di gereja tersebut ikut hanyut hingga ke Pasar Gede. Sedangkan jarak gereja dengan Pasar Gede 300 meter.

    “Bahkan kursi besar hanyut sampai tugu jam pasar Gede. Sehingga yang depan Gereja tidak asli lagi, yang asli hanya bagian belakang serta ubinnya masih asli,” bebernya.

    “Dari mimbar ke belakang itu masih asli, restorasi sudah kita lakukan 1902 dan 1904. Terakhir 1978 yang dilakukan sendiri,” lanjutnya.

    Dirinya mengaku tidak tahu apakah ada barang yang hanyut saat banjir besar tahun 1966 itu.

    “Kalau itu belum tahu ada yang terbawa atau tidak. Yang jelas kursi itu hanyut sampai tugu jam Pasar Gede,” terangnya.

    Selain itu yang masih menjadi saksi banjir besar di Kota Solo yakni lonceng di GPIB. Menurutnya, lonceng tersebut sebelumnya berada di depan Gereja.

    “Lonceng itu menurut sejarah dibuat dua unit. Satu ada di sini dan satu ada di Jakarta atau di mana. Sejak awal berdiri, dulu berada di samping, tapi dirubah lonceng berada di menara gereja,” ucapnya.

    “Lonceng itu dibunyikan setiap mau ibadah, sebagai bentuk panggilan untuk beribadah, jam 8 pagi setiap hari Minggu,” lanjutnya.

    Menjadi gereja tertua di Solo, ia mengaku jemaat yang bergabung kebanyakan juga sudah berusia senja alias sudah sepuh-sepuh.

    “Jemaat dari mana saja dipersilakan, tapi kalau yang sudah di sini 125 hingga 150 kepala keluarga. Karena gereja tua, jemaat juga sudah sepuh-sepuh, biasanya satu kepala keluarga satu orang, misal tinggal bapaknya saja, tinggal ibunya saja,” pungkasnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Penampakan Gua Terawang di Blora yang Punya Wajah Baru



    Blora

    Blora di Jawa Tengah punya destinasi wisata alam gua Terawang yang kini tampil dengan wajah baru. Pastinya wisatawan akan dibuat betah.

    Gua Terawang merupakan salah satu ikon wisata yang berada di wilayah Kabupaten Blora. Gua ini enawarkan keindahan pemandangan alam yang patut diperhitungkan sebagai opsi untuk berakhir pekan bareng keluarga, pacar, atau teman.

    Gua Terawang berada di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Baru-baru ini, gua itu menarik perhatian wisatawan karena memiliki wajah baru.


    Tak hanya punya bebatuan yang berlumuran air serapan, gua itu kini disulap menjadi eco park yang sangat memanjakan mata.

    Gua Terawang sekarang sudah dihiasi dengan lampu-lampu yang mempercantik suasana, tempat duduk dan kafe yang menyediakan kopi lokal blora, sehingga diharapkan membuat pengunjung menjadi nyaman dan betah di sini.

    Gua ini berada dalam kawasan Perum Perhutani Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Blora. Disebut sebagai gua Terawang karena di dalam gua kita bisa melihat cahaya matahari yang tembus dari luar.

    Cahaya matahari yang menembus gua ini menambah keindahan dan cocok untuk berswafoto. Salah satu pengunjung dari Kabupaten Grobogan, Nikmatul Khoiriyah, sengaja menyempatkan diri berkunjung ke gua ini.

    Dia mengaku baru pertama kali mengunjungi gua Terawang yang dia tahu dari sosial media. Menurut dia, gua Terawang mempertahankan keaslian dari goa. Sehingga tampak asri.

    “Di sini jalan-jalan aja sih, mas mumpung lagi liburan. Emm, tempatnya bagus, tahu informasi di sini dari FYP TikTok,” ucapnya di sela menikmati keindahan dari dalam gua pada Minggu (19/1/2025).

    Pengunjung menikmati suasana di dalam Goa Terawang, Blora, Minggu (19/1/2025).Pengunjung menikmati suasana di dalam Goa Terawang, Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

    “Gua Terawang bagus sih. Dari Purwodadi (Grobogan, red) ke sini kan lumayan dekat, worth it kalau mau jalan-jalan biasa,” ungkap wanita yang kerap disapa Nikmah.

    Oh iya, pengunjung mesti hati-hati ya, karena di sekitar gua banyak monyet-monyet liar yang terkadang meminta makan pengunjung. Namun, satwa monyet akan ramah ketika tidak diganggu.

    Keberadaan monyet-monyet itu juga dinilai menjadi salah satu daya tarik objek wisata tersebut. Kebanyakan monyet itu memang hanya berada di area pohon-pohon jati, kadang juga turun ke bawah.

    Nikmah mengaku sempat kaget dengan keberadaan monyet yang berkeliaran di sekitar goa. Menurutnya banyak tempat bagus yang cocok digunakan untuk berfoto.

    “Dapat foto-foto, ada kafenya juga. Nyaman sih. Ada lumayan banyak monyet, tapi monyetnya baik-baik,” terangnya.

    Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Blora Yeni Ernaningsih menjelaskan gua Terawang telah dikembangkan menjadi Gua Terawang Eco Park yang dikerjasamakan dengan mitra.

    “Ini adalah wana wisata yang dimiliki oleh Perum Perhutani KPH Blora berupa gua dengan buffer zone (zona penyangga) yang ada di sekelilingnya berupa tegakan tanamam jati. Saat ini kita lakukan pengembangan baru menjadi Gua Terawang Eco Park namanya. Untuk di dalam goa sendiri insyaallah masih asri,” jelasnya.

    Keseruan di dalam Goa Terawang Eco Park yang telah disulap menjadi ramah bagi pengunjung, Minggu (19/1/2025).Goa Terawang Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

    Pihaknya akan terus mengembangkan destinasi wisata ini. Nantinya pihaknya akan menggaet pelaku UMKM untuk mendisplay produk UMKM di sekitar area.

    “Memang di bawah (dalam gua) kita perkeras, tapi itu hanya untuk jalan, untuk pengunjung sehingga lebih aman dan tidak licin. Sedangkan untuk yang di sekitarnya kita nanti ada playground, kemudian resto, dan nanti ada lapak lapak yang dipakai untuk UMKM,” jelasnya.

    Yeni menjelaskan kondisi gua yang sebelumnya belum ada pengembangan. Hanya mengelola dan memanfaatkan kondisi yang ada. Sebelumnya juga terkendala masalah anggaran. Dia berharap Goa Terawang tetap menjadi icon destinasi wisata alam Blora.

    “Jadi dengan nama eco park ini adalah kayak wajah baru dari Goa Terawang yang menjadi icon wisata di Kabupaten Blora ini,” jelasnya.

    Cara Menuju ke Gua Terawang

    Lokasi Gua Terawang berada di tepi jalan. Jaraknya sekitar 33 kilometer dari jantung kota Blora atau sekitar 107 dari Kota Semarang. Menuju lokasi jalannya cukup mulus, dalam perjalanan menuju goa ini mata kita diperlihatkan pemandangan hamparan hutan jati.

    Jika dari arah Semarang, pengunjung di pertigaan Gagakan depan Puskesmas Kunduran ambil arah kanan, terus sejauh 12 kilometer.

    Ketika dari arah Blora, bisa juga melewati jalan Ngawen-Japah-Todanan sejauh kurang lebih 25 kilometer. Pengunjung kalau dari Kudus dan sekitarnya bisa melewati Jalan Pucakwangi, Kabupaten Pati.

    Tiket Masuk dan Jam Buka

    Pengunjung bisa menikmati pemandangan di dalam gua Terawang dengan membeli harga tiket Rp 10 ribu per orang. Wisata alam tersebut buka setiap hari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB.

    Gua Terawang belum dibuka untuk kunjungan di malam hari. Meski demikian, pihaknya telah merencanakan untuk buka di malam hari.

    “Untuk jam buka pengunjung mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Untuk malam hari tidak kami perkenankan untuk di dalam gua. Tetapi nanti apabila pengembangan sudah jadi, kemungkinan yang di luar akan kami buka, terutama untuk restonya sehingga bisa menikmati makan malam di dalam gua di malam hari,” imbuh dia.

    Besar harapannya gua Terawang yang berada di Blora bagian barat ini dapat berkontribusi positif bagi sektor pariwisata Blora.

    “Di mana menjadikan Blora barat sekarang menjadi ramai dengan adanya kunjungan wisata di Gua Terawang. Dan berharap Gua Terawang masih tetap menjadi ikon Kabupaten Blora dengan suasana eksotik dalam gua yang masih terjaga kondisinya,” pungkas Yeni.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Rekomendasi 7 Wisata Kuliner Dekat Stasiun Solo Balapan, Cukup Jalan Kaki



    Jakarta

    Temukan tempat makan enak dan terjangkau dekat Stasiun Solo Balapan. Dari selat hingga gudeg, nikmati kuliner khas Solo hanya beberapa menit berjalan kaki!

    Di sekitar Solo Balapan, kita bisa menjumpai berbagai warung dan rumah makan yang menjual makanan khas Solo. Ada warung yang menjual selat, sate kambing, tahu kupat, hingga gudeg.

    Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Solo Balapan

    1. Selat Vien’s Pusat


    Rekomendasi yang pertama adalah Selat Vien’s Pusat yang beralamat di Jalan Hasanudin Nomor 99, Punggawan, Banjarsari, Kota Solo. Berdasarkan informasi yang dihimpun detikJateng dari laman Google Maps, detikers bisa berjalan kaki 9 menit dari Stasiun Solo Balapan menuju lokasi Selat Vien’s Pusat.

    2. Sate Kambing Pak H Kasdi

    Selain selat, Solo juga punya makanan khas berupa sate kambing. Jika detikers ingin mencicipi kelezatan sate kambing khas Solo di sekitar Stasiun Solo Balapan, pilihannya adalah Sate Kambing Pak H Kasdi. Lokasinya sendiri berada tepat di seberang stasiun dan bisa ditempuh hanya dengan 1 menit berjalan kaki karena jaraknya tidak sampai 100 meter.

    3. Rumah Makan Pak Die

    Kalau tidak suka dengan kuliner berbahan dasar kambing, kita bisa mampir ke Rumah Makan Pak Die yang beralamat di Kestalan, Banjarsari, Kota Solo. Untuk sampai ke lokasi rumah makan tersebut, kamu cukup berjalan kaki sejauh 130 meter dari Stasiun Solo Balapan yang bisa ditempuh dengan 2 menit berjalan kaki.

    4. Sate Ayam Ponorogo Pak Mangun

    Di dekat Stasiun Balapan, ada juga kuliner berupa sate khas Ponorogo. Namanya adalah Sate Ayam Ponorogo Pak Mangun (P Har) yang beralamat di Jalan Wolter Monginsidi Nomor 91, Kestalan, Banjarsari, Kota Solo. Lokasinya hanya berjarak 220 meter dari Stasiun Solo Balapan dan bisa ditempuh dengan 3 menit berjalan kaki.

    5. Bakso Alex Gajah Mada

    Nah, kalau traveler ingin menyantap bakso di dekat Stasiun Solo Balapan, pilihannya ada Bakso Alex Gajah Mada. Meski tidak sedekat tempat makan sebelumnya, jaraknya bisa terbilang belum terlalu jauh, yaitu 450 meter. Kita bisa menuju Bakso Alex dengan berjalan kaki selama kurang lebih 6 menit dari Solo Balapan. Mereka buka pukul 10 pagi hingga 9 malam.

    6. Tahu Kupat Sido Mampir

    Di dekat Stasiun Solo Balapan, kita juga bisa mencicipi makanan khas Solo yang bernama Tahu Kupat. Seperti namanya, hidangan ini memiliki komposisi utama berupa tahu dan ketupat yang disiram dengan kuah bawang dan gula cair. Untuk menuju ke sini, kita perlu berjalan kaki selama 9 menit dari Stasiun Solo Balapan dengan menempuh jarak 650 meter.

    7. Gudeg Ayu Solo

    Masih di Jalan Gajahmada, kita juga bisa mencicipi kuliner gudeg khas Solo. Nama tempat makannya adalah Gudeg Ayu Solo yang beralamat di Jalan Gajahmada Nomor 152 Ketelan, Banjarsari, Solo. Lokasinya sendiri hanya berjarak 300 meter dari Solo Balapan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 4 menit.

    Baca artikel selengkapnya di detikJateng

    (msl/msl)



    Sumber : travel.detik.com

  • 10 Tempat Ngabuburit Seru di Semarang, Bisa Sambil Berburu Takjil



    Semarang

    Ngabuburit sudah seperti jadi kegiatan wajib menjelang berbuka puasa. Di Semarang, traveler bisa ngabuburit di 10 tempat ini, sambil sekalian membeli takjil.

    Di Kota Semarang, Jawa Tengah ada begitu banyak pilihan lokasi ngabuburit. Ada taman, pusat kuliner, hingga tempat yang menawarkan pemandangan alam. Lebih asyiknya lagi, kalian bisa membeli takjil untuk berbuka puasa di sini.

    Berikut 10 Tempat Ngabuburit Seru di Semarang:

    1. Aloon-Aloon Masjid Kauman

    Rekomendasi yang pertama adalah Aloon-Aloon Masjid Kauman. Lokasinya berada di Jalan Kauman, Semarang, satu kawasan dengan Masjid Kauman. Traveler bisa menunggu waktu berbuka dengan berburu takjil di sini.


    Ada begitu banyak penjual makanan ringan hingga berat. Setelah berbuka puasa, traveler juga bisa langsung melaksanakan sholat di masjid bersejarah tersebut.

    2. Kota Lama

    Tidak jauh dari Aloon-Aloon Masjid Kauman, ada Kota Lama yang bisa menjadi lokasi ngabuburit. Kota Lama sendiri berada di Jalan Tanjung Mas, Semarang Utara. Di sini, traveler dapat berjalan-jalan menyusuri kawasan kota kuno yang dipenuhi bangunan lawas khas Belanda.

    Di beberapa titik juga terdapat kafe dan restoran yang dapat kita kunjungi untuk berbuka puasa. Tidak sedikit juga penjual takjil yang dapat kita temui di kawasan ini.

    3. Jalan Pahlawan

    Saat bulan Ramadhan, kawasan Jalan Pahlawan berubah menjadi pusat jajanan. Ruas jalan yang berada di tengah Kota Semarang ini pun menjadi tempat yang sangat cocok untuk ngabuburit.

    Namun saat ngabuburit di sini, sebaiknya datang lebih siang. Pasalnya, ruas jalan ini akan sangat macet ketika sudah semakin sore dan mendekati jam berbuka puasa.

    4. Simpang Lima

    Simpang Lima adalah salah satu ruang terbuka yang sangat ikonik di Kota Semarang. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat. Saat Ramadan tiba, tidak sedikit masyarakat yang ngabuburit dan menunggu waktu buka puasa di kawasan ini.

    Di sekitar lapangan Simpang Lima terdapat shelter kuliner yang menawarkan berbagai makanan khas Semarang. Tentu saja traveler bisa berburu takjil di sini sampai puas.

    Setelah puas ngabuburit dan bersantap buka puasa, traveler dapat menjalankan ibadah sholat maghrib maupun tarawih di Masjid Raya Baiturrahman. Lokasinya berada persis di sisi timur Simpang Lima.

    5. Taman Indonesia Kaya

    Rekomendasi tempat ngabuburit di Semarang selanjutnya adalah Taman Indonesia Kaya atau Taman Menteri Supeno. Lokasinya sendiri berada di Jalan Menteri Supeno Nomor 11 A, Mugassari, Semarang Selatan.

    Suasananya yang asri membuat taman ini sangat cocok untuk dijadikan tempat ngabuburit. Di sekitarnya terdapat penjaja makanan kaki lima sehingga traveler juga bisa berburu takjil.

    6. Kawasan Banjir Kanal Barat

    Kawasan Banjir Kanal Barat menjadi salah satu lokasi yang hits bagi muda-mudi di Kota Semarang untuk sekadar nongkrong. Saat bulan Ramadan tiba, kawasan ini pun menjadi tempat ngabuburit.

    Ada beberapa spot yang menarik di Banjir Kanal Barat ini. Pertama, ada Taman Bendungan Pleret yang asri. Di sini, pengunjung bisa duduk bersantai menikmati udara sejuk sambil melihat pemandangan kanal.

    Spot yang kedua yang menjadi favorit bagi masyarakat Kota Semarang adalah bagian seberang The Park Mall. Dari spot ini, kita dapat menyaksikan pemandangan matahari terbenam sambil ngabuburit.

    7. Taman Sampangan

    Berikutnya ada Taman Sampangan, salah satu lokasi yang tepat untuk berburu takjil selama Ramadhan. Di sini ada begitu banyak jenis jajanan kekinian yang dapat traveler temukan.

    Harganya pun masih terbilang terjangkau di kantong semua kalangan. Taman Sampangan beralamat di Jalan Menoreh Raya, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang.

    8. Kawasan Undip Pleburan

    Kawasan Undip Pleburan, khususnya di Jalan Pleburan Barat, Semarang Selatan, adalah lokasi ngabuburit di Semarang yang selanjutnya. Lokasinya sendiri tidak begitu jauh dari pusat kota. Di sini, ada banyak penjual makanan dan minuman sehingga cocok sekali untuk berburu takjil.

    9. Perempatan Manyaran

    Bagi detikers yang berada di Kawasan Semarang Barat, lokasi ngabuburit dan berburu takjil yang direkomendasikan adalah perempatan Manyaran. Lokasi ini biasanya menjadi pasar pagi di hari Minggu.

    Namun selama bulan Ramadan, perempatan Manyaran menjadi pusat takjil. Mulai dari makanan yang manis, gurih, ringan, hingga berat, bisa traveler dapatkan di sini!

    10. Jalan Roda Mas

    Untuk traveler yang berada di kawasan Semarang Utara, cobalah untuk ngabuburit di Jalan Roda Mas. Di kawasan ini, ada banyak penjual makanan yang menawarkan berbagai kuliner untuk berbuka puasa.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Keunikan Masjid Berarsitektur Eropa-Jawa di Pati



    Pati

    Menikmati bangunan berarsitektur Eropa tidak perlu ke luar negeri. Di Pati, Jawa Tengah ada masjid yang memadukan arsitektur Eropa dan Jawa yang bisa dikunjungi.

    Masjid yang berada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Lor Kecamatan Pati, Kabupaten Pati itu diketahui memiliki gaya unik. Masjid yang berdiri sejak tahun 2011 silam ini memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa dan Jawa.

    Masjid itu bernama Djauharotul Imamah. Lokasinya tepat di pinggir jalan Kaborongan, yakni di utara seberang jalan.


    Sekilas masjid ini tampak mewah dengan dua lantai. Bangunan masjid dari luar berwarna cokelat dan mirip seperti kastil yang ada di Eropa.

    Bangunan bawah merupakan aula dan tempat untuk wudu. Sedangkan bagian atas tempat untuk melaksanakan ibadah salat.

    Masjid Djauharotul Imamah yang ada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Kidul Kecamatan Pati, Kamis (6/3/2025).Masjid Djauharotul Imamah Pati Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

    Saat naik ke atas, bangunan masjid ini begitu apik. Gaya bangunan masjid ini tidak seperti umumnya, karena memiliki jendela berukuran besar dan lebar. Hal ini seperti bangunan khas Eropa.

    Kemudian masuk di dalam ruangan lantai atas terdapat tempat pengimanan yang berbentuk gebyok kayu berukir. Gebyok ini perpaduan budaya dari Jawa sehingga masjid ini bergaya Eropa dan Jawa.

    “Masjid ini berdiri sejak tahun 2011. Memang arsitektur masjid ini bergaya campuran, Jawa dan Eropa,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah, Hamzah saat berbincang dengan detikJateng, Kamis (6/3/2025).

    Dia mengatakan masjid ini dibangun oleh pasangan suami istri. Mereka mewakafkan masjid ini kepada masyarakat setempat. Pasangan suami istri itu adalah Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini warga Pati Lor. Dari nama keduanya kemudian diabadikan menjadi nama masjid.

    “Dari dua nama inilah kemudian dipakai nama masjid Djauharotul Imamah,” jelas Hamzah.

    Dia menjelaskan bangunan ini memiliki arsitektur gaya Eropa dan Jawa. Arsitektur Eropa ini bisa dilihat dari bentuk masjid seperti kastil, sedangkan Jawa dilihat dari tempat imam yang terbuat dari gebyok khas Jawa. Masjid ini menghabiskan anggaran mencapai Rp 1 miliar.

    “Kalau gaya Eropa ini dilihat bangunan masjid yang mirip seperti kastil jarang ditemui di Pati. Sedangkan yang Jawa itu gebyok yang ada di lantai atas, tempat pengimanan,” ujarnya.

    Dia mengatakan bangunan masjid lantai bawah digunakan tempat aula dan wudu. Sedangkan lantai atas digunakan untuk tempat ibadah. Masjid ini mampu menampung 100 lebih jemaah.

    “Kalau lantai atas tidak muat maka kita juga gunakan umat dalam kondisi darurat,” jelasnya.

    Selain itu di belakang masjid juga terdapat taman yang luas. Fasilitas taman ini digunakan jemaah untuk beristirahat atau sekadar berfoto.

    “Kemudian ada taman di belakang merupakan fasilitas masjid area hijau yang kita siapkan bagi jemaah yang pengin nyantai, bagi jemaah yang pengin duduk, sehingga ada spot tanam yang bisa dikunjungi,” ungkap dia.

    Ada Banyak Kegiatan Selama Bulan Ramadan

    Lebih lanjut Hamzah mengatakan, masjidnya ini rutin menggelar buka bersama setiap hari selama bulan Ramadan. Panitia masjid menyediakan 300 porsi sampai 500 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya.

    “Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Setiap Ramadan kita adakan acara buka bersama. Tahun lalu hanya 250 porsi dan tahun ini mencapai 300 porsi setiap hari. Dan memang target kita bisa sampai 500 porsi setiap hari,” kata Hamzah.

    Menurutnya, buka bersama ini tidak hanya untuk jemaah atau warga setempat, akan tetapi warga umum yang melintas di Pati Kota. Tak jarang tukang ojek maupun tukang sapu juga mampir ke masjid tersebut untuk mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama.

    “Mungkin banyak tukang ojek online sore ikut berbuka ke sini. Free ke sini,” jelasnya.

    Dia menjelaskan untuk menyediakan menu berbuka puasa, panitia setiap hari merogoh uang mencapai Rp 7,5 juta. Jika dihitung selama satu bulan puasa mencapai Rp 200-an juta. Anggaran ini pun didapatkan dari para donatur.

    “Semua murni kesadaran jemaah menitipkan donasi di masjid ini. Mereka percaya pengelolaan masjid di sini,” ungkap dia.

    Salah satu warga, Erik Setiawan, mengaku rutin ke masjid tersebut saat Ramadan ini. Selain mengikuti acara berbuka puasa, dia juga mengikuti acara pengajian rutin sebelum berbuka puasa.

    “Rutin ke sini, karena di sini sebelum berbuka puasa ada acara pengajian, terus berbuka puasa dilanjutkan salat tarawih berjamaah di sini,” ujar Erik.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Penampakan Masjid Sorowaden, Salah Satu Masjid Tertua di Klaten



    Klaten

    Masjid Sorowaden di Dusun Banjarsari, Klaten dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di kota itu. Begini penampakan masjid kuno tersebut:

    Masjid yang berlokasi di Desa Kauman, Kecamatan Ngawen, Klaten itu merupakan satu dari sekian masjid kuno di Kabupaten Klaten. Masjid yang usianya lebih dari seratus tahun itu konon didirikan Kiai Sorowadi atau Surawadi.

    “Ceritanya turun-temurun yang membuat masjid itu namanya Kiai Sorowadi. Makamnya ada dua, makam kecil dan besar tapi yang mendirikan ini Kiai Sorowadi 1 atau 2 tidak ada yang tahu pasti,” ungkap mantan ketua takmir Masjid Sorowaden, Basri, Senin (10/3/2025).


    Diceritakan Basri, Kiai Sorowadi hidup di masa Ki Ageng Gribig Jatinom, seorang ulama di masa Mataram Islam. Kampung tempat Kiai Sorowadi tinggal lebih sering disebut Sorowaden.

    “Makanya sini itu masjidnya namanya Masjid Sorowaden dari nama Kiai Sorowadi, sini (kampung) juga sering disebut Kauman Sorowaden. Sebelum Indonesia merdeka masjid sudah ada, jadi di pemerintah desa tidak ada gambar persilnya karena dulu milik Keraton Solo,” tutur Basri.

    Menurut Basri, dulunya masjid tidak sebesar sekarang yang sudah ditambah serambi depan dan samping. Di jaman dulu ornamen masjid menyerupai bangunan Hindu.

    “Dulunya ornamen mirip bangunan Hindu ada lengkung-lengkung, tempat imamnya cuma kecil, jendela juga kecil. Saat saya ke Masjid Demak, mimbarnya sama bentuknya,” lanjut Basri.

    Saat ini, terang Basri, yang tersisa peninggalannya ada bedug kulit sapi dan alat timba air manual. Alat timba air itu saat dirinya kecil masih digunakan.

    “Dulu timba masih digunakan, dulu pakai kayu dan ember juga kayu. Setelah ada pompa air sudah tidak digunakan, itu kalau diputar satu turun dan satu naik kemudian air ditampung di bak besar untuk wudhu,” papar Basri.

    Masjid Sorowaden sendiri berada di tengah perkampungan padat penduduk. Memiliki ukuran sekitar 30×30 meter bercat hijau di ketinggian satu meter di atas jalan.

    Serambi depan masjid masih menggunakan atap dengan pilar kayu. Bangunan masjid seluruhnya sudah ditembok dan berkeramik.

    Masjid Sorowaden, Desa Kauman, Kecamatan Ngawen, Klaten, Senin (10/3/2025). Alat timba air manual menjadi salah satu jejak kunonya masjid ini.Alat timba air manual jadi salah satu bukti kunonya masjid ini. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

    Sumur tua dengan alat timba air kayu berada di serambi bagian Utara dan bedugnya di bagian selatan. Bagian utama masjid masih ditopang tiang-tiang kayu dengan penahan batu.

    Sesepuh Masjid Sorowaden, Syakur (84) mengaku tidak mengetahui pasti kapan masjid dibangun. Yang jelas, kata dia, masjid itu sudah ada sejak kakeknya hidup.

    Sumur nggih ngoten niku wit riyin, nggih pun nate nggunaken (sumur sejak dulu begitu dan saya pernah menggunakan),” kata Syakur.

    Sementara itu, pegiat sejarah Klaten Hari Wahyudi mengatkan dalam peta topografi Belanda tahun 1930 Masjid Sorowaden sudah ada. Dari cerita leluhur, lanjutnya, masjid itu didirikan Kiai Sorowadi.

    “Dari cerita ibu dan simbah saya, masjid didirikan Kiai Sorowadi. Kiai Sorowadi itu masih seperguruan dengan Kiai Singo Manjat (Kiai Imam Rozi Tempursari, Ngawen), itu cerita tutur yang ada,” jelas Hari yang kakek neneknya berasal dari sekitar Sorowaden.

    “Jadi Masjid Sorowaden termasuk masjid tua di Klaten dengan usia di atas 100 tahun,” imbuhnya.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pelajaran dari Kecelakaan Mobil Listrik ‘Terbang’ Tabrak Hotel



    Jakarta

    Sebuah mobil listrik MG ZS EV nyelonong masuk ke ruang lounge hotel di Jalan Pemuda, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (22/10/2025). Mobil itu hendak keluar dari parkiran namun nahas sampai menabrak hotel.

    Menurut keterangan saksi mata, Rizki Amalia, mobil tersebut tiba-tiba muncul dari depan. Posisinya dia sedang antre mengambil makanan di dalam lounge hotel. Tiba-tiba saja mobil menabrak kaca hotel.


    “Kebetulan tadi acaranya kita makan siang, terus pada antre disini, tiba-tiba mobil dari depan itu kayak terbang aja, langsung wuss sampai ke situ (jalan samping lounge) terus ngepul asap,” kata Rizki Amalia dikutip detikJateng.

    Diduga sopir mobil tersebut tidak terbiasa mengendarai mobil listrik. Ada juga dugaan kerusakan bagian elektrik.

    “Tadi dari pengakuan sopir, diduga karena eror elektrik. Itu pengakuan sopir juga belum terbiasa,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Klaten Ipda Asep Rustanto kepadadetikJateng.

    Pegawai hotel Tjokro, Agung Romadoni, menjelaskan mobil listrik yang nyelonong itu juga kemungkinan karena driver belum terbiasa. Mobil menabrak pintu lobi dan area resto.

    “Drivernya sendiri belum terbiasa dengan mobil listrik dan terlalu dalam menginjak gas,” kata Agung.

    Belajar dari kecelakaan ini, mengendarai mobil listrik sangat berbeda dengan mobil konvensional. Menurut praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana, perbedaan terbesarnya ada pada torsi yang tarikannya lebih menjambak alias lebih instan saat berakselerasi. Sony mengingatkan, tenaga instan di kendaraan listrik bisa membahayakan jika belum dipahami pengemudi.

    “Mobil listrik itu punya karakter yang berbeda dengan mobil bensin. Mobil listrik kalau digas enggak terasa (penambahan) kecepatannya, karena nggak bersuara. Kemudian tenaganya juga spontan, makanya harus sering cek speedometer,” kata Sony beberapa waktu lalu.

    Lebih jauh, Sony menerangkan, tenaga spontan tersebut bisa membuat kaget pengemudi yang belum terbiasa membawa mobil listrik. Itulah mengapa, sebelum mengemudikan mobil tersebut, pengemudi disarankan memahami kendaraannya lebih dalam.

    “Kalau dibilang (harus punya) kemampuan khusus sih harusnya nggak, tapi lebih kepada pemahaman (lebih) terhadap kendaraan tersebut. Makanya, biasakan membaca manual book-nya dulu, supaya paham operasional, fitur dan cara-cara yang benar untuk menghindari (kemungkinan) bahaya,” kata dia.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com