Tag: detikjatim

  • Terjadi Lagi, Mobil Nyasar ke Sawah Gara-gara Ikuti Google Maps



    Jakarta

    Mobil seorang pemudik tidak sengaja masuk ke area persawahan di Ponorogo, Jawa Timur. Gara-garanya, dia mengikuti petunjuk peta digital, Google Maps. Ini menjadi kasus kesekian kalinya pengendara mobil kesasar gegara mengikuti Google Maps.

    Diketahui mobil itu milik Ibnu, warga Yogyakarta. Ibnu berencana pergi ke Desa Sendang, Jambon, Ponorogo. Berbekal navigasi Google Maps, mobil yang ditumpangi olehnya justru terperosok ke dalam sawah di wilayah Balong.

    “Saya kan ngikuti arah google maps. Ternyata diarahkan ke sawah, akhirnya karena kurang menguasai medan malah tercebur ke sawah,” kata Ibnu kepada wartawan, Minggu (6/4/2025).


    Ibnu menambahkan, dia sudah berusaha mengeluarkan mobil berwarna merah itu dari sawah dengan bantuan warga sekitar. Namun usahanya gagal karena kurangnya tenaga bantuan. Akhirnya dia meminta bantuan Polsek Balong untuk mengeluarkan mobil yang diketahui bermerek Chevrolet Aveo tersebut.

    “Saya tadi minta tolong ke Polsek Balong, langsung ditangani. Alhamdulillah, berhasil mobilnya berhasil keluar dari sawah,” tandas Ibnu.

    Sementara itu, Kapolsek Balong, AKP Agus Wibowo, mengungkapkan bahwa insiden ini terjadi lantaran pemudik mengandalkan aplikasi peta digital dalam perjalanan mereka.

    “Mereka berangkat dari Yogyakarta dan tiba di Desa Sendang pada dini hari. Karena mengandalkan Google Maps, mereka tidak menyadari jalur yang dilewati adalah jalan persawahan hingga akhirnya terjebak,” papar Agus.

    Menurut Agus, meskipun mengikuti arahan Google Maps. Sebaiknya pengendara tetap memperhatikan area sekitar dan juga bertanya kepada warga agar tak terjadi kejadian serupa. “Ini tadi evakuasi tidak hanya dari pihak kepolisian, evakuasi juga melibatkan anggota Koramil Balong dan juga warga sekitar,” imbuh Agus.

    Cara mengevakuasi mobil warga yang masuk ke areal persawahan dengan menggunakan kayu papan untuk menyangga ban mobil. Kemudian mobil warga ditarik dengan mobil polisi dan akhirnya terbebas dari sawah.

    “Dengan semangat gotong royong, mobil tersebut akhirnya berhasil dikeluarkan dari area persawahan,” pungkas Agus.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    (lua/riar)



    Sumber : oto.detik.com

  • Masjid Anti Mainstream di Pacitan, Bisa Ibadah dengan Pemandangan Laut



    Pacitan

    Di Pacitan, ada satu masjid yang anti mainstream. Masjid itu terapung di tepi laut. Traveler bisa beribadah sambil melihat pemandangan lautan.

    Masjid Apung Pacitan menawarkan pengalaman ibadah yang unik dengan latar pemandangan laut yang menakjubkan. Berdiri megah di atas perairan, masjid ini mengapung di bibir pantai, menciptakan suasana khusyuk yang berpadu dengan semilir angin laut.

    Tak hanya menjadi tempat beribadah, masjid ini menjadi destinasi wisata religi yang menarik. Pembangunan Masjid Apung Pacitan itu dimulai sejak tahun 2019 sebagai perwujudan gagasan Kyai Fuad Dimyati, atau yang akrab disapa Gus Fuad.


    Gus Fuad merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tremas, salah satu pesantren tertua dan bersejarah di Pacitan. Masjid Apung Pacitan, yang juga dikenal sebagai Masjid Kemampul, berdiri megah di tepi Pantai Pancer Door, Kelurahan Ploso, Kecamatan/Kabupaten Pacitan.

    Lokasi masjid yang strategis memudahkan akses bagi para jemaah dan wisatawan, baik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

    Fasilitas yang disediakan di Masjid Apung Pacitan cukup lengkap, mulai dari tempat parkir yang luas, toilet, dan tempat wudu. Untuk memasuki kawasan Masjid Apung Pacitan, pengunjung hanya perlu membayar karcis sebesar Rp 5.000.

    Bangunan Masjid Apung Pacitan mengusung konsep tradisional Jawa yang didominasi bambu dan kayu-kayu tradisional. Dilansir dari laman resmi Perguruan Islam Pondok Tremas, Masjid Kemampul memanfaatkan banyak tong atau drum-drum besar yang membantu masjid agar bisa mengapung.

    Masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam seperti pada umumnya. Namun, yang membedakannya adalah suasana unik yang ditawarkan. Berada di tepi pantai dengan pemandangan laut lepas, masjid ini menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.

    Embusan angin laut dan deburan ombak yang terdengar di sekitar diharapkan dapat memberikan ketenangan, membantu para jemaah lebih khusyuk dalam melaksanakan salat. Waktu terbaik untuk mengunjungi Masjid Apung Pacitan adalah sore menjelang malam.

    Saat itu, pengunjung tidak hanya dapat menunaikan ibadah dengan suasana yang sejuk, tetapi juga menikmati keindahan matahari terbenam di tepi Pantai Pancer Door.

    Cahaya jingga yang memantul di permukaan laut menciptakan pemandangan yang menakjubkan, menambah ketenangan dan kekhus

    Kini, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan wisata religi bagi masyarakat setempat. Masjid Apung Pacitan juga menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah yang ingin merasakan sensasi beribadah dengan lanskap alam yang menakjubkan.

    Keunikannya sebagai masjid yang berdiri di tepi laut menjadikannya salah satu ikon Pacitan, kabupaten yang dikenal dengan julukan Paradise of Java.

    Dengan perpaduan arsitektur khas dan panorama alam yang menawan, masjid ini semakin memperkaya pesona wisata bahari Pacitan.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Masjid Kapal Pesiar yang Unik di Mojokerto, Ini Filosofi di Baliknya



    Mojokerto

    Di Mojokerto, Jawa Timur berdiri sebuah masjid berbentuk unik. Masjid itu dibangun menyerupai kapal pesiar. Ternyata, ada arti filosofis di baliknya.

    Masjid Ar Rahman di Dusun Belor, Desa Kembangbelor, Pacet, Mojokerto dibangun menyerupai kapal pesiar. Di balik keunikan arsitekturnya, masjid ini mempunyai filosofi sebagai bahtera penyelamat berbagai masalah sosial.

    Masjid milik Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Vila Durian Doa Yatim Sejahtera itu terletak persis di halaman panti asuhan. Luas masjid unik ini mencapai 45×25 meter persegi.


    “Masjid ini desainnya kapal pesiar. Harapannya menjadi bahtera penyelamat persoalan sosial karena penghuninya di sini beragam penyandang masalah sosial,” kata Ketua LKSA Vila Durian Doa Yatim Sejahtera, Muhammad Mukhidin (44), Senin (3/3/2025).

    Bentuk masjid ini memang mirip kapal pesiar, baik eksterior maupun interiornya. Banyak jendela di sisi kanan dan kirinya membuat masjid ini selalu terang. Uniknya lagi, tempat imam salat dan mimbar khatib didesain layaknya ruang kemudi kapal.

    Tempat imam dan khatib berhiaskan setir kapal asli, kompas berdiri, beberapa kompas kecil, monitor kemudi, jangkar, derek jangkar, serta lukisan lautan pada dindingnya. Tempat salat ini berada di lantai 2 masjid.

    Lantai 1 masjid disulap menjadi asrama putri dan balita. Posisinya di bawah tanah layaknya lambung kapal yang tenggelam di lautan. Sebelah kirinya merupakan area wudu. Lantai 3 menjadi aula, sedangkan lantai 4 dan 5 penginapan para tamu panti asuhan.

    “Pembangunan lantai 3, 4 dan 5 tinggal daun pintu dan daun jendela, tapi sudah bisa ditempati,” terang Mukhidin.

    masjid kapal pesiar mojokertoMasjid kapal pesiar di Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto

    Selama bulan Ramadan, masjid kapal pesiar ini tak pernah sepi dari berbagai kegiatan keagamaan. Jemaah datang dari LKSA, warga sekitar, juga para pelancong.

    Mereka menunaikan salat 5 waktu, salat Jumat, Salat Tarawih, tadarus, mengaji, burdah, hingga buka bersama di masjid berbentuk unik tersebut.

    Saat ini, kata Mukhidin, LKSA Vila Durian Doa Yatim Sejahtera mengasuh 57 orang. Terdiri dari 9 lansia dan 48 anak.

    “Ada anak-anak yatim, piatu, korban pelecehan seksual, korban KDRT, ada juga anak dari wanita ODGJ yang dilecehkan,” ungkapnya.

    Pembangunan masjid unik ini atas masukan dari Gus Amirul Mukminin dari Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah, Lamongan. Sosok inilah yang juga memotivasi Mukhidin mendirikan LKSA Vila Durian Doa Yatim Sejahtera.

    Pembangunannya sendiri menghabiskan lebih dari Rp 2,5 miliar tahun 2016-2021. Mukhidin berencana menambah panjang area masjid untuk salat setidaknya 10 meter lagi. Sehingga kapasitasnya lebih besar menampung jemaah.

    “Kami masih menabung untuk melanjutkan pembangunan,” tandasnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Wisata Religi Terkenal di Surabaya buat Ramadan



    Surabaya

    Selain kaya akan wisata sejarah, Surabaya juga kaya akan wisata religi. Berikut 5 destinasi wisata religi di Surabaya yang bisa dikunjungi saat Ramadan.

    Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya menjadi saksi perjalanan panjang Bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam keberagaman masyarakat Surabaya yang begitu dinamis dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk keagamaan.

    Memasuki bulan suci ramadan, tak sedikit masyarakat berkunjung ke wisata-wisata religi di Surabaya. Tujuannya untuk berziarah dan mempelajari sejarah perjalanan ajaran umat muslim di kota ini.


    Kehadiran berbagai situs wisata religi, menjadi sebuah simbol toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Kota Surabaya.

    Berikut 5 Wisata Religi di Surabaya yang Bisa Dikunjungi saat Ramadan:

    1. Masjid Al-Akbar Surabaya

    Masjid nasional Al-Akbar merupakan salah satu masjid terbesar dan terindah di Indonesia. Berlokasi di Jalan Masjid Al-Akbar Timur Nomor 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan, masjid ini salah satu landmark dari Kota Pahlawan.

    Masjid ini memiliki luas bangunan sebesar 28.509 m2 dan dapat menampung hingga 36.000 jemaah. Masjid ini pun diproyeksikan sebagai Islamic Center dengan peran multidimensi yang mencakup misi religius, kultural, edukatif, dan wisata religi.

    Beberapa daya tarik dari Masjid Al-Akbar di antaranya kubah dengan bentuk unik yang menyerupai setengah telur, serta keindahan ukiran dan kaligrafi yang memenuhi dinding-dinding masjid.

    Harga Tiket: Rp10.000
    Jam Operasional: 08.00-12.00, 13.00-16.00 WIB (Senin-Jumat)

    2. Masjid Cheng Hoo

    Dibangun tahun 2001, masjid ini menghadirkan konsep akulturasi antara budaya Tionghoa dan Agama Islam yang sangat menarik. Masjid Cheng Hoo salah satu ikon wisata religi di Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Gading Nomor 02, Ketabang, Kecamatan Genteng.

    Ciri khas dari masjid ini adalah gaya arsitekturnya yang banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa klasik yang kental. Hal ini ditunjukkan dengan ornamen-ornamen seperti relief naga dan pagoda dengan lafaz Allah di puncaknya.

    Gaya arsitektur dan interior masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika semata, melainkan juga mengandung makna filosofi yang mendalam.

    Salah satunya, dikutip dari laman resmi Dunia Masjid, Ketiadaan pintu pada Masjid Cheng Hoo menyimbolkan keterbukaan. Bahwa masjid ini adalah tempat yang dapat digunakan oleh semua orang untuk beribadah tanpa memandang etnis apa pun.

    Harga Tiket: Gratis
    Jam Operasional: – 04.00-22.00 WIB (Senin-Minggu)

    3. Makam Sunan Ampel

    Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh dari Wali Songo, yakni 9 ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap sejarah penyebaran ajaran Agama Islam di Indonesia.

    Sebagai sosok yang dihormati oleh masyarakat, Makam Sunan Ampel selalu ramai akan pengunjung yang hendak berziarah. Makam Sunan Ampel masih berada di kompleks yang sama dengan Masjid Ampel, salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan pada abad ke 15.

    Traveler yang tertarik untuk berkunjung, Makam Sunan Ampel berlokasi di Jalan Ampel Blumbang Nomor 2 A, Ampel.

    Harga Tiket: Gratis
    Jam Operasional: 24 jam (Senin-Minggu)

    4. Kampung Santri Ndresmo

    Kampung Santri Ndresmo dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan santri, dengan banyaknya kehadiran pondok pesantren dan kegiatan keagamaan yang berlangsung di sekitarnya sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda.

    Hingga saat ini, diketahui tidak hanya santri yang berasal dari Surabaya saja yang belajar di kampung ini, melainkan juga dari berbagai daerah di Indonesia.

    Sebagai kota yang dikelilingi oleh penduduk yang mayoritas menganut agama Muslim, Kampung Santri Ndresmo menjadi simbol penting yang menjaga identitas keislaman masyarakat d Surabaya.

    Di sini para pengunjung dapat menggali lebih dalam mengenai jejak perjalanan agama Islam di Surabaya, serta menilik peninggalan religi dan adat di Kampung Ndresmo.

    Alamat: Jl. Sidosermo III No.10A, Sidosermo, Kec. Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur.

    5. Makam Sunan Bungkul

    Sunan Bungkul atau yang memiliki nama asli Ki Ageng Supo merupakan salah satu tokoh yang juga berperan penting dalam penyebaran Agama Islam di Indonesia di akhir masa Kerajaan Majapahit.

    Sesuai namanya, Makam Sunan Bungkul berlokasi di belakang Taman Bungkul Surabaya. Meskipun Taman Bungkul sendiri dikenal dengan salah satu destinasi rekreasi baik untuk warga lokal maupun wisatawan.

    Tidak sedikit pula orang yang berkunjung ke taman ini untuk berziarah di Makam Sunan Bungkul, menikmati suasana religius dan sejarah yang ada di tempat tersebut.

    Harga Tiket: Gratis
    Jam Operasional: 24 jam (Senin-Minggu)

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim Diyakini Sebagai yang Tertua di Jawa



    Gresik

    Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur diyakini sebagai masjid tertua di Pulau Jawa.

    Meski usianya sudah tua, masjid yang berlokasi di Dusun Pesucinan, Desa Leran, Manyar, Gresik ini masih mempertahankan orisinalitas dan keunikan bangunannya.

    Salah satunya adalah kolam yang sudah ada sejak zaman Sunan Maulana Malik Ibrahim yang masih ada sampai hari ini.


    Masjid yang juga biasa disebut Masjid Pesucinan ini masih menyimpan sejumlah bentuk bangunan sejak zaman Sunan Giri. Masih ada bekas langgar kecil di dalam masjid yang masih dilestarikan. Lengkap dengan kolam untuk berwudu.

    Kolam berukuran 3×3 meter ini punya kedalaman kurang lebih 2,5 meter. Kolam itu berada di dalam area masjid karena adanya pemugaran.

    “Syekh Maulana Malik Ibrahim sekitar awal abad 14 atau akhir abad 13, beliau membawa kapal dagang bersama para santri bersama para pengawal, bersama para sahabatnya bersandar di pelabuhan Leran. Dulu ada pelabuhan kecil, baratnya masjid ini,” jelas Ketua Takmir Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim, Mushollin, Jumat (14/3).

    Saat itu Syekh Maulana Malik Ibrahim melakukan salat istikarah lalu mendirikan masjid untuk tempat ibadah dan mendirikan asrama pondok sebelah barat masjid.

    Oleh sebab itu, masjid ini dinamakan masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim di Pesucinan berasal dari kata Pesucinan. Pesucinan merupakan tempat kolam untuk wudhu di sini. Bisanya disebut Cinan, tempat wudunya Syekh Maulana Malik Ibrahim.

    Mushollin menambahkan saat pertama melihat masjid ini, kolam wudu pesucinan ada di luar masjid. Namun setelah ada renovasi beberapa kali, ada perluasan juga.

    “Akhir tahun 2023 dirombak tetapi tidak mengubah bentuk orisinilnya,” tukasnya.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Melihat Masjid Berusia 1 Abad di Lumajang, Melambangkan Wali Songo



    Lumajang

    Di Lumajang, ada sebuah masjid kuno yang usianya sudah 1 Abad. Masjid Baitur Rohman ini dibangun tahun 1911 oleh kiai Usman.

    Masjid kuno di Lumajang ini berada di Dusun Munder, Desa Tukum, Kecamatan Tekung. Awalnya masjid ini masih berbentuk surau atau mushala. Lalu pada tahun 1933 direnovasi oleh Kiai Suhaemi dan desain masjidnya dipertahankan hingga sekarang.

    Masjid ini menjadi sejarah penyebaran agama Islam di Lumajang dan kini Kiai Usman dan Suhaemi diabadikan sebagai nama jalan di desa setempat.


    “Masjid Baitur Rohman ini dibangun tahun 1911 oleh Kiai Usman kemudian dilakukan renovasi oleh Kiai Suhaemi pada tahun 1933 dan desainnya dipertahankan hingga sampai sekarang,” ujar Imam Masjid Baitur Rohman Yoyon Sudarmanto, Minggu (16/3/2025).

    Bangunan masjid ini dipenuhi keunikan dan berbagai makna filosofi dari kubah masjid yang berjumlah 9. Yang melambangkan jumlah para wali penyebar agama Islam di nusantara yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.

    Tangga tingkat masuk ke teras masjid berjumlah 5 tingkat, mengingatkan pada jumlah rukun islam ada 5. Pintu masuk masjid yang berjumlah 3, dengan pintu imam yang sama berjumlah 3 menunjukkan jumlah rukun iman yang berjumlah 6.

    Jumlah jendela masjid sebanyak 20 mengingatkan pada sifat wajib Allah SWT yang berjumlah 20. Selain itu, ruangan masjid dipenuhi bangunan kusen pintu memiliki makna kehidupan, yang harus terbuka melihat kekurangan kanan dan kiri atau guyub rukun dan saling membantu antar sesama manusia.

    “Masjid ini tidak hanya unik tapi memiliki makna filosofi dalam desain pembangunannya mulai dari kubah, jandela, pintu dan lainnya,” terang Yoyon.

    Selain itu, saat pembangunan Masjid Baitur Rohman ini para pekerja yang sedang membangun masjid tidak boleh memiliki hadas besar maupun kecil.

    Sehingga saat pekerja memiliki hadas kecil, harus berwudhu terlebih dahulu kemudian melanjutkan pekerjaan membangun masjid.

    “Pekerja yang membangun masjid ini juga harus menjaga dari hadas kecil maupun besar,” tandas Yoyon.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pantai Watukarung, Spot Selancar Kelas Dunia di Pacitan


    Jakarta

    Ada sebuah pantai di Jawa Timur yang tidak hanya punya panorama elok, tetapi juga dikenal sebagai spot selancar terbaik. Ialah Pantai Watukarung di Pacitan yang memiliki ombak istimewa.

    Pantai ini juga disebut mirip Raja Ampat di Papua Barat. Bukan tanpa alasan, pesona pantainya memanjakan setiap mata yang memandang. Tempatnya asri dan punya kesan eksklusif karena belum terlalu ramai pengunjung.

    Penasaran dengan destinasi satu ini? Simak uraian Pantai Watukarung berikut.


    Pesona Pantai Watukarung

    Mengutip laman Disparbudpora Kab. Pacitan, Pantai Watukarung di Pacitan menyuguhkan lautan dengan air jernih kebiruan. Gulungan ombak cukup besar di sini khas pantai selatan Jawa, dengan tinggi bisa mencapai 4 meter.

    Karakter arah ombak di pantai ini unik yaitu ke sisi kanan dan kiri, dilansir pemberitaan detikJatim. Arah ombak seperti ini menawarkan tantangan besar. Karenanya, ombak ‘kelas dunia’ ini kerap menarik perhatian peselancar profesional lokal maupun mancanegara.

    Tak jauh dari bibir pantai terlihat beberapa batuan karang besar yang ditumbuhi kehijauan mengelilingi pesisir. Hal inilah yang menjadikan Pantai Watukarung disebut-sebut sebagai ‘Raja Ampatnya Jawa Timur’.

    panorama wisata alam Pantai Watukarung khas PacitanPanorama Pantai Watukarung di Pacitan Foto: Purwo Sumodiharjo

    Pantainya yang luas dengan garis pantai panjang dilengkapi pasir putih halus dan bersih. Cocok banget buat traveler yang suka menyusuri pantai dari ujung ke ujung.

    Di sebelah kanan pantai terdapat bukit dengan gardu pandang. Tersedia anak tangga jika tertarik menaiki dan menyaksikan pemandangan laut yang lebih menakjubkan dari ketinggian. Atas bukit juga menjadi spot yang oke untuk menikmati view matahari terbenam (sunset).

    Bebatuan karang akan muncul saat air lautnya agak surut. Akan banyak ditemukan juga bintang laut, bulu babi, siput laut, hingga ikan-ikan kecil yang berenang di antara batuan.

    Aktivitas di Pantai Watukarung

    Sejumlah aktivitas seru dapat traveler lakukan di Pantai Watukarung, berikut di antaranya:

    1. Berselancar

    Pantai WatukarungBerselancar di Pantai Watukarung Foto: Purwoto Sumodiharjo

    Jika hobi berselancar, kamu bisa mengendarai gulungan ombaknya dengan papan selancar. Pastikan sudah mahir berselancar atau ditemani profesional selama melakukan aktivitas ini. Sebab karakter ombak PantaiWatukarung yang unik menawarkan tantangan yang cukup berat.

    2. Bermain Air dan Pasir

    Ombaknya yang lumayan besar juga membuat pengunjung tidak cukup aman berenang di Pantai Watukarung. Disarankan untuk sekadar bermain air di tepian atau bermain pasir di pantai saja.

    Perhatikan langkah saat bermain air karena di bawah bibir pantainya dipenuhi bebatuan karang.

    3. Berfoto

    Pantai Watukarung termasuk pantai cantik di Pacitan. Sangat disayangkan jika traveler tidak mengabadikan potret panoramanya. Semua titik di pantai ini bisa dijadikan spot berfoto.

    4. Wisata Kuliner

    Tidak usah khawatir kelaparan saat berkunjung ke pantai ini. Terdapat banyak tempat makan yang bisa disinggahi. Warung-warung ini menyediakan aneka olahan seafood lezat dengan harga terjangkau.

    Pantai Watukarung pacitanView sunset di Pantai Watukarung, Pacitan Foto: Purwo Sumodiharjo

    Pantai Watukarung terletak di Pringkuku, Ketro, Watukarung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tempatnya cukup jauh dari pusat kota Pacitan, kurang lebih memakan waktu 1 jam untuk sampai di lokasi.

    Jalan menuju Pantai Watukarung sudah beraspal mulus. Namun traveler masih perlu berhati-hati karena lebar jalan agak sempit serta aksesnya masih banyak tikungan tajam dan jalanan curam. Meski begitu, akan ada orang yang membantu agar pengunjung dapat melewati aman.

    Pantai Watukarung hanya bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi. Belum ada transportasi umum yang menjangkau tempat ini.

    Fasilitas Pantai Watukarung

    Pantai Watukarung menyediakan fasilitas memadai untuk pengunjung. Sudah tersedia toilet, kamar bilas, tempat sampah, area parkir, warung makan, hingga mushola.

    Ada banyak penginapan di sekeliling pantai jika tertarik bermalam di kawasan ini. Bisa pilih homestay, cottage, atau resort dengan harga sewa per malam yang bervariasi. Disarankan reservasi kamar jauh-jauh hari karena sering kali cepat penuh.

    Biaya tiket masuk Pantai Watukarung masih sangat terjangkau, cukup merogoh kocek Rp 10.000 per orang untuk bisa menikmati panorama Raja Ampatnya Jawa Timur ini. Pengunjung juga perlu membayar sekitar Rp 15.000 untuk tarif parkir.

    (azn/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • View-nya Bikin Takjub! Khofifah Ajak Wisatawan Coba Jembatan Kaca di Bromo



    Probolinggo

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Jembatan Kaca Seruni Point yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo.

    Khofifah mengaku takjub atas keindahan Gunung Bromo yang disuguhkan dari sisi Jembatan Kaca Seruni Point. Ia optimis bahwa ikon wisata yang menawarkan sensasi berbeda ini akan menjadi magnet bagi pariwisata di kawasan TNBTS Probolinggo.

    Khofifah melanjutkan, keberadaan Jembatan Kaca ini diharapkan bisa memaksimalkan waktu kunjungan wisatawan, utamanya wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal Cruise.


    “Kalau di daerah Jawa Tengah bisa dua hari untuk mengunjungi Borobudur dan Prambanan yang ditambah wisata budaya di Jogja, kemudian dilanjutkan ke Jawa Timur harapan kami juga bisa dua hari di Bromo dan sekitarnya,” kata Khofifah, Minggu (4/5/2025).

    Rencana tersebut disebutnya sangat mungkin, ketika nantinya pentas budaya dan tenant-tenant di sekitar Jembatan Kaca bisa diperkuat. Sehingga ada tambahan titik di Bromo yang bisa dinikmati keindahannya oleh wisatawan di siang maupun sore hari.

    Keindahan Bromo sendiri disebutnya juga sudah mendapat pengakuan dari berbagai pihak baik lokal maupun internasional. Terutama di media sosial, banyak exposure atau promosi terhadap keindahan Bromo.

    “Dan berbagai lembaga juga memberikan review yang luar biasa. Tentu ini jadi benefit yang baik bagi Bromo, Probolinggo, Jawa Timur dan Indonesia,” ucapnya.

    Untuk itu, melalui Jembatan Kaca Seruni Point ini, Khofifah mengajak seluruh masyarakat untuk bisa berkunjung dan menikmati eksotisnya Gunung Bromo dari sisi lain.

    “Sekarang kita berdiri di atas jembatan kaca Bromo, dan bisa disampaikan pada dunia bahwa sisi sisi eksotis Bromo juga bisa dilihat dari titik ini selain di kawah Bromo, pasir berbisik, Seruni Point,” tuturnya.

    Khofifah menegaskan bahwa keamanan tetap menjadi prioritas dalam pengoperasian Jembatan Kaca tersebut. Akan ada pembatasan di saat wisatawan baik dalam dan luar melewati jembatan Kaca Seruni Point.

    “Saya rasa ini jadi area dimana kita bisa punya peluang lebih luas menikmati keindahan yang Allah anugerahkan di bumi Probolinggo,” kata Khofifah.

    “Mudah mudahan hadirnya jembatan kaca ini bisa menguatkan gravitasi seluruh wisatawan untuk masuk area wisata Bromo yang luar biasa ini,” katanya.

    Artikel ini sudah naik di detikJatim. Simak selengkapnya di sini.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Jelang Waisak, Lihat Lagi Patung Buddha Tidur Raksasa di Mojokerto



    Mojokerto

    Menjelang perayaan Hari Raya Waisak, mari melihat lagi kemegahan patung Buddha tidur berukuran raksasa yang berada di Mojokerto, Jawa Timur.

    Di bekas jantung Kerajaan Majapahit, berdiri megah Patung Buddha Tidur raksasa yang kini menjadi ikon wisata religi umat Buddha di Kabupaten Mojokerto.

    Patung berlapis warna emas ini tak hanya memancarkan aura spiritual, tapu juga menjadi magnet wisatawan karena kemegahannya. Bahkan, patung ini termasuk daftar tiga patung Buddha terbesar di kawasan Asia Tenggara.


    Patung Buddha Tidur yang berada di kawasan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur tersebut juga ditetapkan sebagai patung Buddha tidur terbesar di Indonesia. Patung Buddha ini memiliki ukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter.

    This aerial picture shows a giant Buddha statue at the Maha Vihara Mojopahit temple in Mojokerto on June 4, 2023, as Buddha devotees celebrate Vesak day. (Photo by BAGUS SARAGIH / AFP) (Photo by BAGUS SARAGIH/AFP via Getty Images)Patung Buddha Tidur di Mojokerto (Bagus Saragih/AFP/Getty Images)

    Patung raksasa tersebut terletak di dalam kompleks Maha Vihara Majapahit, tepatnya Kampung Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

    Berkat ukurannya yang fenomenal, patung ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2021 silam, sebagai patung Buddha tidur terbesar di tanah air, dan menempati peringkat ketiga terbesar se-Asia Tenggara.

    Sejarah Patung Buddha Tidur

    Patung Buddha Tidur dibangun pada tahun 1993 oleh seniman patung dari Jawa Tengah dan warga lokal Desa Bejijong. Sosok Buddha digambarkan berbaring ke sisi kanan, posisi yang dikenal sebagai Parinirvana, melambangkan momen menjelang wafatnya Siddharta Gautama di Kusinara.

    Keindahan patung ini kian mencolok berkat warna emasnya yang berkilau, memberi kesan agung dan elegan. Di bagian bawah patung terdapat relief yang sarat makna. Relief sisi timur yang tersambung ke utara menggambarkan perjalanan Siddharta menuju Kusinara.

    Patung Buddha Tidur di Mojokerto dimandikan jelang peringatan WaisakPatung Buddha Tidur di Mojokerto (Enggran Eko Budianto/detikJatim)

    Sementara relief pada sisi selatan yang mengarah ke barat mengisahkan tentang hukum sebab-akibat atau kamma. Kini, Patung Buddha Tidur di Mojokerto tak hanya menjadi simbol spiritual umat Buddha, tapi juga menjadi destinasi religi dan ikon wisata yang membanggakan Mojokerto.

    Menjelang perayaan hari Tri Suci Waisak, Maha Vihara Majapahit rutin menggelar ritual pemandian patung yang sarat makna. Ritual ini dilakukan para pengurus vihara dengan menggunakan air yang telah dicampur bunga-bunga berbau harum seperti mawar, melati, kenanga, dan kantil.

    Selain itu, debu dan kotoran di permukaan patung juga dibersihkan dengan sikat khusus. Tradisi ini menyiratkan makna pembersihan lahir dan batin, sebagai bentuk refleksi spiritual menjelang Hari Raya Waisak.

    Maha Vihara Majapahit sendiri terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuk pun cukup terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pulau Bedil, Raja Ampat dari Banyuwangi



    Banyuwangi

    Tak banyak yang tahu, Banyuwangi punya ‘kembaran’ dari Raja Ampat. Namanya Pulau Bedil yang begitu eksotis dan menarik untuk dikunjungi.

    Terletak di perairan Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Pulau Bedil menawarkan lanskap bahari yang memukau.

    Pulau eksotis ini kini menjadi favorit wisatawan karena menyuguhkan panorama alam yang disebut-sebut mirip dengan Raja Ampat.


    Dikelilingi sejumlah pulau kecil, gugusan ini tampak makin memesona bila dilihat dari Puncak Kemuning, titik tertinggi di pulau itu. Tak heran bila banyak orang menjulukinya sebagai Raja Ampat dari Banyuwangi.

    “Pulau Bedil memiliki potensi yang luar biasa. Di sini lengkap, ada wisata alam, bawah laut, petualangan, edukasi, bahari, kuliner, dan lainnya. Destinasi wisata alam seperti inilah yang terus kami kembangkan di Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Dari atas Puncak Kemuning, wisatawan akan disuguhi panorama laut bergradasi hijau kebiruan. Selain menikmati pemandangan, beragam aktivitas seru bisa dilakukan di sini.

    Contohnya seperti berenang di laguna yang tenang, snorkeling untuk melihat biota laut, hingga sekadar duduk santai memandangi Samudera Hindia yang luas.

    Cara Menuju ke Pulau Bedil

    Untuk menuju ke Pulau Bedil, wisatawan harus lebih dulu ke Pantai Mustika di kawasan Pancer. Dari pusat Kota Banyuwangi, perjalanan darat menuju Pantai Mustika memakan waktu sekitar dua jam.

    Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu menuju pulau. Saat musim liburan, Pulau Bedil menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan.

    Pada libur panjang hari raya Waisak kemarin misalnya, pulau ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

    “Luar biasa pemandangannya, tidak kalah indah dengan Raja Ampat dan Labuan Bajo,” kata Imelda, wisatawan asal Toledo, Ternate, yang berlibur bersama keluarga besarnya ke sini.

    Usai puas menjelajahi Pulau Bedil, wisatawan bisa kembali ke Pantai Mustika untuk menikmati hidangan laut segar.

    Sejumlah restoran di sekitar pantai menyajikan aneka kuliner laut yang menggugah selera, dan menjadi penutup yang sempurna setelah seharian menjelajahi sisi selatan Banyuwangi.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com