Tag: diabetes tipe 2

  • Apa Itu Ultra Processed Food? Jadi Polemik karena Muncul di Menu MBG


    Jakarta

    Istilah Ultra-Processed Food (UPF) belakangan ini ramai dibicarakan. Jenis makanan ini banyak ditemukan dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), program yang sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.

    Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri dalam sebuah surat memberi restu untuk menghadirkan UPF dalam menu MBG selama mengutamakan produk lokal. Di sisi lain, para pakar gizi mengkritik kebijakan tersebut karena seharusnya lebih mengutamakan makanan segar.

    Terlepas dari polemik tersebut, sebenarnya apa yang disebut Ultra Processed Food? Apa definisinya dan kenapa identik dengan menu tidak sehat?


    Pengertian Ultra-Processed Food

    Ultra-processed food (UPF) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang telah mengalami banyak tahapan pemrosesan industri. Tidak hanya sekadar dimasak atau diawetkan, UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi (seperti pati, protein terisolasi, minyak terhidrogenasi) yang kemudian dicampur dengan zat aditif seperti pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, dan pengemulsi. Bahan-bahan ini jarang sekali ditemukan di dapur rumah tangga.

    Ciri khas UPF adalah tampilannya yang sangat menarik, rasanya intens, praktis dikonsumsi, dan bisa bertahan lama di rak toko. Tidak heran kalau produk seperti mi instan, biskuit manis, sosis, nugget, snack kemasan, minuman bersoda, hingga makanan beku siap saji masuk dalam kategori ini.

    Industri makanan mengandalkan UPF karena beberapa alasan. Pertama, produk ini lebih murah diproduksi dengan bahan dasar yang bisa diolah massal. Kedua, daya simpannya lebih lama, sehingga mudah didistribusikan ke berbagai daerah. Ketiga, UPF cenderung seragam rasanya, membuat konsumen lebih mudah menerima dan terbiasa.

    Klasifikasi NOVA

    Istilah Ultra Processed Food diperkenalkan dalam Sistem NOVA, sebuah sistem pengkategorian pangan yang dibuat tahun 2009 oleh Prof Carlos Monteiro dan tim penelitian dari Universitas Sao Paulo, Brasil. Ide ini lahir karena masyarakat makin bergantung pada makanan olahan industri, sementara konsumsi pangan segar menurun.

    Berbeda dengan klasifikasi gizi biasa, NOVA menilai makanan dari tingkat pemrosesannya. Meski bukan acuan resmi WHO, sistem ini populer di dunia riset dan bahkan dipakai Pan American Health Organization (PAHO) sebagai rujukan kebijakan gizi, khususnya untuk melihat kaitan antara pola makan modern dan penyakit tidak menular.

    Untuk memahami posisi UPF, sistem NOVA membagi makanan menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya:

    • NOVA 1 (Unprocessed or Minimally Processed Foods) adalah makanan segar dan minim proses. Makanan segar atau makanan yang tidak diolah contohnya adalah buah, sayur, ikan segar, telur, biji-bijian, dan jamur. Makanan minim proses adalah makanan yang diolah secara sederhana seperti menghilangkan bagian yang tidak diinginkan, penggilingan, pemotongan, pendinginan, dan pemanasan.
    • NOVA 2 (Processed Culinary Ingredients) adalah bahan hasil ekstraksi atau bahan masak olahan, contohnya minyak goreng, gula, garam, mentega, cuka, dan madu.
    • NOVA 3 (Processed Food): makanan olahan sederhana, contohnya roti tradisional, keju, ikan asin, dan tempe.
    • NOVA 4 (Ultra Processed Food): produk industri dengan banyak tambahan, seperti nugget, sosis, mi instan, biskuit, dan minuman kemasan berpemanis.

    Sejauh ini tidak ada istilah resmi dalam Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai padanan Ultra Processed Food. Beberapa publikasi di media massa menggunakan istilah ‘Makanan Ultra Proses’ sebagai padanannya, walaupun sebenarnya kurang tepat karena tidak konsisten dengan terjemahan untuk kategori lain dalam sistem klasifikasi NOVA. Kategori ‘Processed Food‘ tidak diterjemahkan jadi ‘Makanan Proses’ kan?

    Kenapa UPF Identik dengan Makanan Tidak Sehat?

    UPF kerap diasosiasikan dengan makanan tidak sehat karena biasanya tinggi kalori, gula, garam, serta lemak jenuh, tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral. Konsumsi berlebihan berpotensi mengubah pola makan jadi tidak sehat dan meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.

    Sejumlah penelitian mendukung hal ini. Publikasi tahun 2025 dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition menyebutkan konsumsi UPF tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dini, diabetes tipe 2, kanker kolorektal, dan penyakit jantung. Studi lain yang dipublikasikan di Nutrition Journal tahun 2020 meneliti ratusan ribu peserta yang juga dikaitkan dengan konsumsi UPF dengan penyakit obesitas, sindrom metabolik, serta depresi.

    Jika ditarik lebih jauh, masalah utama bukan hanya soal zat tambahan di dalam UPF, melainkan bagaimana makanan ini memengaruhi pola makan seseorang secara keseluruhan. UPF cenderung membuat orang makan lebih banyak karena rasanya dirancang agar sangat enak dan sulit dihentikan (palatable). Selain itu, teksturnya biasanya lembut dan praktis, serta minim serat membuat proses makan lebih cepat, sehingga otak tidak sempat mengirim sinyal kenyang. Hasilnya, kalori yang masuk bisa berlebih tanpa disadari.

    Pada anak-anak, kebiasaan ini bisa berdampak lebih serius. Konsumsi UPF berlebihan sejak usia dini dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, gigi berlubang, hingga menurunnya kualitas pola makan seimbang. Studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa pola makan yang terbentuk di masa kecil cenderung bertahan hingga dewasa. Artinya, jika sejak sekolah anak sudah terbiasa dengan nugget atau mi instan, besar kemungkinan kebiasaan itu akan terbawa sampai mereka dewasa.

    Isu ini relevan bila dikaitkan dengan program MBG. Jika menu yang diberikan berisi UPF seperti nugget, sosis, dll, maka tujuan untuk memperbaiki status gizi anak agar menjadi generasi emas bisa tidak tercapai. Memang, UPF lebih mudah diproduksi massal dan tahan lama, tetapi kualitas gizi yang ditawarkan tidak sebaik makanan segar. Di sinilah pentingnya memastikan MBG lebih menekankan buah, sayur, telur, ikan, atau daging segar agar manfaatnya benar-benar optimal bagi anak.

    Meski demikian, tidak semua UPF otomatis berarti buruk. Ada yang memang bermanfaat, misalnya makanan medis tertentu atau produk fortifikasi pangan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Apa Itu Ultra Processed Food? Jadi Polemik karena Muncul di Menu MBG


    Jakarta

    Istilah Ultra-Processed Food (UPF) belakangan ini ramai dibicarakan. Jenis makanan ini banyak ditemukan dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), program yang sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.

    Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri dalam sebuah surat memberi restu untuk menghadirkan UPF dalam menu MBG selama mengutamakan produk lokal. Di sisi lain, para pakar gizi mengkritik kebijakan tersebut karena seharusnya lebih mengutamakan makanan segar.

    Terlepas dari polemik tersebut, sebenarnya apa yang disebut Ultra Processed Food? Apa definisinya dan kenapa identik dengan menu tidak sehat?


    Pengertian Ultra-Processed Food

    Ultra-processed food (UPF) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang telah mengalami banyak tahapan pemrosesan industri. Tidak hanya sekadar dimasak atau diawetkan, UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi (seperti pati, protein terisolasi, minyak terhidrogenasi) yang kemudian dicampur dengan zat aditif seperti pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, dan pengemulsi. Bahan-bahan ini jarang sekali ditemukan di dapur rumah tangga.

    Ciri khas UPF adalah tampilannya yang sangat menarik, rasanya intens, praktis dikonsumsi, dan bisa bertahan lama di rak toko. Tidak heran kalau produk seperti mi instan, biskuit manis, sosis, nugget, snack kemasan, minuman bersoda, hingga makanan beku siap saji masuk dalam kategori ini.

    Industri makanan mengandalkan UPF karena beberapa alasan. Pertama, produk ini lebih murah diproduksi dengan bahan dasar yang bisa diolah massal. Kedua, daya simpannya lebih lama, sehingga mudah didistribusikan ke berbagai daerah. Ketiga, UPF cenderung seragam rasanya, membuat konsumen lebih mudah menerima dan terbiasa.

    Klasifikasi NOVA

    Istilah Ultra Processed Food diperkenalkan dalam Sistem NOVA, sebuah sistem pengkategorian pangan yang dibuat tahun 2009 oleh Prof Carlos Monteiro dan tim penelitian dari Universitas Sao Paulo, Brasil. Ide ini lahir karena masyarakat makin bergantung pada makanan olahan industri, sementara konsumsi pangan segar menurun.

    Berbeda dengan klasifikasi gizi biasa, NOVA menilai makanan dari tingkat pemrosesannya. Meski bukan acuan resmi WHO, sistem ini populer di dunia riset dan bahkan dipakai Pan American Health Organization (PAHO) sebagai rujukan kebijakan gizi, khususnya untuk melihat kaitan antara pola makan modern dan penyakit tidak menular.

    Untuk memahami posisi UPF, sistem NOVA membagi makanan menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya:

    • NOVA 1 (Unprocessed or Minimally Processed Foods) adalah makanan segar dan minim proses. Makanan segar atau makanan yang tidak diolah contohnya adalah buah, sayur, ikan segar, telur, biji-bijian, dan jamur. Makanan minim proses adalah makanan yang diolah secara sederhana seperti menghilangkan bagian yang tidak diinginkan, penggilingan, pemotongan, pendinginan, dan pemanasan.
    • NOVA 2 (Processed Culinary Ingredients) adalah bahan hasil ekstraksi atau bahan masak olahan, contohnya minyak goreng, gula, garam, mentega, cuka, dan madu.
    • NOVA 3 (Processed Food): makanan olahan sederhana, contohnya roti tradisional, keju, ikan asin, dan tempe.
    • NOVA 4 (Ultra Processed Food): produk industri dengan banyak tambahan, seperti nugget, sosis, mi instan, biskuit, dan minuman kemasan berpemanis.

    Sejauh ini tidak ada istilah resmi dalam Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai padanan Ultra Processed Food. Beberapa publikasi di media massa menggunakan istilah ‘Makanan Ultra Proses’ sebagai padanannya, walaupun sebenarnya kurang tepat karena tidak konsisten dengan terjemahan untuk kategori lain dalam sistem klasifikasi NOVA. Kategori ‘Processed Food‘ tidak diterjemahkan jadi ‘Makanan Proses’ kan?

    Kenapa UPF Identik dengan Makanan Tidak Sehat?

    UPF kerap diasosiasikan dengan makanan tidak sehat karena biasanya tinggi kalori, gula, garam, serta lemak jenuh, tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral. Konsumsi berlebihan berpotensi mengubah pola makan jadi tidak sehat dan meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.

    Sejumlah penelitian mendukung hal ini. Publikasi tahun 2025 dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition menyebutkan konsumsi UPF tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dini, diabetes tipe 2, kanker kolorektal, dan penyakit jantung. Studi lain yang dipublikasikan di Nutrition Journal tahun 2020 meneliti ratusan ribu peserta yang juga dikaitkan dengan konsumsi UPF dengan penyakit obesitas, sindrom metabolik, serta depresi.

    Jika ditarik lebih jauh, masalah utama bukan hanya soal zat tambahan di dalam UPF, melainkan bagaimana makanan ini memengaruhi pola makan seseorang secara keseluruhan. UPF cenderung membuat orang makan lebih banyak karena rasanya dirancang agar sangat enak dan sulit dihentikan (palatable). Selain itu, teksturnya biasanya lembut dan praktis, serta minim serat membuat proses makan lebih cepat, sehingga otak tidak sempat mengirim sinyal kenyang. Hasilnya, kalori yang masuk bisa berlebih tanpa disadari.

    Pada anak-anak, kebiasaan ini bisa berdampak lebih serius. Konsumsi UPF berlebihan sejak usia dini dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, gigi berlubang, hingga menurunnya kualitas pola makan seimbang. Studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa pola makan yang terbentuk di masa kecil cenderung bertahan hingga dewasa. Artinya, jika sejak sekolah anak sudah terbiasa dengan nugget atau mi instan, besar kemungkinan kebiasaan itu akan terbawa sampai mereka dewasa.

    Isu ini relevan bila dikaitkan dengan program MBG. Jika menu yang diberikan berisi UPF seperti nugget, sosis, dll, maka tujuan untuk memperbaiki status gizi anak agar menjadi generasi emas bisa tidak tercapai. Memang, UPF lebih mudah diproduksi massal dan tahan lama, tetapi kualitas gizi yang ditawarkan tidak sebaik makanan segar. Di sinilah pentingnya memastikan MBG lebih menekankan buah, sayur, telur, ikan, atau daging segar agar manfaatnya benar-benar optimal bagi anak.

    Meski demikian, tidak semua UPF otomatis berarti buruk. Ada yang memang bermanfaat, misalnya makanan medis tertentu atau produk fortifikasi pangan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Ratusan Warga Inggris Alami Efek Samping Serius usai Pakai Obat Diet GLP-1


    Jakarta

    Ratusan orang melaporkan masalah dengan pankreas yang serius seusai menggunakan obat penurun berat badan yang awalnya ditujukan untuk menangani diabetes. Beberapa kasus pankreatitis akut ini dilaporkan terkait dengan penggunaan obat diet GLP-1.

    Pankreatitis akut adalah peradangan tiba-tiba pada pankreas, kelenjar yang terletak di belakang perut yang membantu pencernaan. Gejalanya termasuk sakit parah di perut, mual dan demam.

    Diberitakan The Guardian, sampai saat ini, Medicines and Healthcare products Regulatory Agency’s (MHRA) di Inggris telah menerima hampir 400 laporan pankreatitis akut dari pasien yang telah menggunakan Mounjaro, Wegovy, Ozempic dan liraglutide, dengan hampir setengahnya (181) melibatkan tirzepatide (Mounjaro).


    Meskipun tidak ada yang terbukti disebabkan langsung oleh obat GLP-1, yang juga digunakan untuk mengobati diabetes, ada kekhawatiran bahwa tidak cukup diketahui tentang hubungan tersebut, mendorong pejabat kesehatan untuk meluncurkan studi baru tentang efek samping yang berbahaya.

    “Obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy telah menjadi berita utama, tetapi seperti semua obat-obatan ada risiko efek samping yang serius,” tutur Profesor Matt Brown dari Genomik Inggris.

    MHRA meminta orang-orang yang menggunakan obat GLP-1 yang telah dirawat di rumah sakit karena pankreatitis akut untuk menyerahkan laporan ke skema Kartu Kuningnya. Ketika laporan diterima, MHRA akan menghubungi pasien untuk menanyakan apakah mereka bersedia mengambil bagian dalam penelitian.

    Pasien akan diminta untuk mengirimkan informasi lebih lanjut dan sampel air liur yang akan dinilai untuk mengeksplorasi apakah beberapa orang berisiko lebih tinggi terkena pankreatitis akut ketika mengonsumsi obat-obatan ini karena gen mereka.

    Obat GLP-1 dapat menurunkan kadar gula darah pada orang yang hidup dengan diabetes tipe 2 dan juga dapat diresepkan untuk mendukung beberapa orang dengan penurunan berat badan.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Ratusan Warga Inggris Alami Efek Samping Serius usai Pakai Obat Diet GLP-1


    Jakarta

    Ratusan orang melaporkan masalah dengan pankreas yang serius seusai menggunakan obat penurun berat badan yang awalnya ditujukan untuk menangani diabetes. Beberapa kasus pankreatitis akut ini dilaporkan terkait dengan penggunaan obat diet GLP-1.

    Pankreatitis akut adalah peradangan tiba-tiba pada pankreas, kelenjar yang terletak di belakang perut yang membantu pencernaan. Gejalanya termasuk sakit parah di perut, mual dan demam.

    Diberitakan The Guardian, sampai saat ini, Medicines and Healthcare products Regulatory Agency’s (MHRA) di Inggris telah menerima hampir 400 laporan pankreatitis akut dari pasien yang telah menggunakan Mounjaro, Wegovy, Ozempic dan liraglutide, dengan hampir setengahnya (181) melibatkan tirzepatide (Mounjaro).


    Meskipun tidak ada yang terbukti disebabkan langsung oleh obat GLP-1, yang juga digunakan untuk mengobati diabetes, ada kekhawatiran bahwa tidak cukup diketahui tentang hubungan tersebut, mendorong pejabat kesehatan untuk meluncurkan studi baru tentang efek samping yang berbahaya.

    “Obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy telah menjadi berita utama, tetapi seperti semua obat-obatan ada risiko efek samping yang serius,” tutur Profesor Matt Brown dari Genomik Inggris.

    MHRA meminta orang-orang yang menggunakan obat GLP-1 yang telah dirawat di rumah sakit karena pankreatitis akut untuk menyerahkan laporan ke skema Kartu Kuningnya. Ketika laporan diterima, MHRA akan menghubungi pasien untuk menanyakan apakah mereka bersedia mengambil bagian dalam penelitian.

    Pasien akan diminta untuk mengirimkan informasi lebih lanjut dan sampel air liur yang akan dinilai untuk mengeksplorasi apakah beberapa orang berisiko lebih tinggi terkena pankreatitis akut ketika mengonsumsi obat-obatan ini karena gen mereka.

    Obat GLP-1 dapat menurunkan kadar gula darah pada orang yang hidup dengan diabetes tipe 2 dan juga dapat diresepkan untuk mendukung beberapa orang dengan penurunan berat badan.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Ratusan Warga Inggris Alami Efek Samping Serius usai Pakai Obat Diet GLP-1


    Jakarta

    Ratusan orang melaporkan masalah dengan pankreas yang serius seusai menggunakan obat penurun berat badan yang awalnya ditujukan untuk menangani diabetes. Beberapa kasus pankreatitis akut ini dilaporkan terkait dengan penggunaan obat diet GLP-1.

    Pankreatitis akut adalah peradangan tiba-tiba pada pankreas, kelenjar yang terletak di belakang perut yang membantu pencernaan. Gejalanya termasuk sakit parah di perut, mual dan demam.

    Diberitakan The Guardian, sampai saat ini, Medicines and Healthcare products Regulatory Agency’s (MHRA) di Inggris telah menerima hampir 400 laporan pankreatitis akut dari pasien yang telah menggunakan Mounjaro, Wegovy, Ozempic dan liraglutide, dengan hampir setengahnya (181) melibatkan tirzepatide (Mounjaro).


    Meskipun tidak ada yang terbukti disebabkan langsung oleh obat GLP-1, yang juga digunakan untuk mengobati diabetes, ada kekhawatiran bahwa tidak cukup diketahui tentang hubungan tersebut, mendorong pejabat kesehatan untuk meluncurkan studi baru tentang efek samping yang berbahaya.

    “Obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy telah menjadi berita utama, tetapi seperti semua obat-obatan ada risiko efek samping yang serius,” tutur Profesor Matt Brown dari Genomik Inggris.

    MHRA meminta orang-orang yang menggunakan obat GLP-1 yang telah dirawat di rumah sakit karena pankreatitis akut untuk menyerahkan laporan ke skema Kartu Kuningnya. Ketika laporan diterima, MHRA akan menghubungi pasien untuk menanyakan apakah mereka bersedia mengambil bagian dalam penelitian.

    Pasien akan diminta untuk mengirimkan informasi lebih lanjut dan sampel air liur yang akan dinilai untuk mengeksplorasi apakah beberapa orang berisiko lebih tinggi terkena pankreatitis akut ketika mengonsumsi obat-obatan ini karena gen mereka.

    Obat GLP-1 dapat menurunkan kadar gula darah pada orang yang hidup dengan diabetes tipe 2 dan juga dapat diresepkan untuk mendukung beberapa orang dengan penurunan berat badan.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Green Tea Jadi ‘Obat Diet Alami’ Penahan Lapar-Bakar Lemak? Ini Kata Para Pakar

    Jakarta

    Green tea atau teh hijau dikenal sebagai minuman diet selama berabad-abad. China misalnya, sejak 2.000 tahun lalu orang-orang di sana menganggap minuman ini paling ideal diminum saat ingin menurunkan berat badan.

    Sementara di zaman modern, asupan teh hijau juga kerap tercantum dalam buku diet dan pola makan seseorang. Belakangan, khasiat teh hijau disebut setara ‘ozempic’, obat yang sebenarnya ditujukan untuk pengidap diabetes dan obesitas dalam menjaga bobot tubuh, tetapi kerap disalahgunakan banyak orang sebagai obat diet.

    Terlepas dari itu, banyak yang menyarankan untuk meminum lima cangkir teh hijau sehari demi mencapai berat badan ideal. Apa kata pakar?


    “Meskipun ada beberapa penelitian tentang teh hijau dan berat badan, bukti tentang apakah secangkir (atau beberapa cangkir) teh hijau dapat membakar berat badan masih belum jelas,” kata Dr Jyotsna Ghosh, seorang dokter pengobatan obesitas di Universitas Johns Hopkins.

    Banyak video TikTok mengklaim teh hijau meningkatkan produksi GLP-1, hormon usus yang mendorong pankreas melepaskan insulin setelah makan. Insulin itu, pada gilirannya, menurunkan gula darah. GLP-1 juga memperlambat laju makanan meninggalkan lambung, serta memengaruhi area otak yang mengatur rasa lapar.

    Ozempic dan obat-obatan sejenisnya memberikan senyawa yang meniru GLP-1, membuat orang merasa lebih cepat kenyang. Banyak orang berhenti mengalami keinginan kuat untuk makan.

    Beberapa peneliti berteori teh hijau dapat menstimulasi GLP-1, sebagian karena penelitian telah menemukan ekstrak teh hijau menurunkan gula darah pada tikus pengidap diabetes. Namun, hanya ada beberapa penelitian kecil pada manusia, dan hasilnya tidak meyakinkan.

    Salah satu dari sedikit uji klinis pada subjek tersebut, yang mengamati 92 orang dengan diabetes tipe 2, menunjukkan tidak ada perbedaan yang mencolok dalam produksi GLP-1 antara orang yang mengonsumsi ekstrak teh hijau maupun mereka yang mengonsumsi pil plasebo.

    Para ahli mengatakan, efek apa pun yang mungkin ditimbulkan teh hijau pada GLP-1 kemungkinan kecil. “Makanan atau minuman apa pun dapat sedikit meningkatkan kadar GLP-1,” kata Dr. Ghosh.

    Namun, kadar GLP-1 dalam aliran darah menurun beberapa menit setelah makan atau minum sesuatu. Itulah salah satu alasan mengapa seseorang merasa kembali lapar, dan mengapa meningkatkan hormon untuk sementara tidak menjamin penurunan berat badan.

    Sebaliknya, Ozempic dan obat-obatan sejenisnya, bertahan di dalam tubuh selama berhari-hari, dan jauh lebih kuat daripada hormon alami, yang membuatnya sangat ampuh dalam menekan nafsu makan.

    Teh Hijau Betulan Ampuh Pangkas BB?

    Banyak klaim tentang teh hijau dan penurunan berat badan menyebutkan dua komponen minuman tersebut, yakni kafein dan antioksidan.

    “Secara teori, kafein mungkin sedikit mempercepat metabolisme seseorang. Namun, kecil kemungkinan efek tersebut akan langsung menghasilkan penurunan berat badan yang substansial,” kata Dr Ghosh.

    Teh hijau juga mengandung senyawa yang disebut polifenol, antioksidan yang dapat membantu melindungi sel dari kerusakan dan mengurangi peradangan. Penelitian pada hewan dan sel manusia menunjukkan senyawa ini dapat meningkatkan metabolisme dan mengurangi penyerapan lemak dari usus. Namun, uji coba pada manusia menghasilkan hasil yang beragam.

    Ada juga beberapa penelitian kecil yang mendalami secara langsung apakah teh hijau terkait dengan penurunan berat badan. Satu makalah tinjauan, yang meneliti lebih dari selusin uji coba terkontrol acak tersebut, menemukan orang yang mengonsumsi ekstrak teh hijau sering kali kehilangan sedikit berat badan yang. Penelitian lain juga menemukan orang yang mengonsumsi teh hijau cenderung kehilangan sedikit berat badan, biasanya di bawah empat pon.

    “Orang yang beralih ke teh hijau untuk menurunkan berat badan tidak dapat mengharapkan efek yang besar, dan tentu saja tidak ada yang mendekati obat-obatan seperti Ozempic,” kata Rob van Dam, seorang profesor ilmu olahraga dan nutrisi di Milken Institute School of Public Health di George Washington University.

    Julia Zumpano, ahli diet terdaftar di Cleveland Clinic di Ohio, menambahkan bahwa berfokus pada satu makanan atau minuman mengabaikan banyak faktor lain yang berperan dalam penurunan berat badan sebetulnya tidak ideal. Faktor-faktor diet yang utama adalah pola makan seseorang yang lebih luas, kebiasaan olahraga, genetika, stres, kesehatan metabolisme, dan bahkan kualitas tidur yang didapatkan seseorang.

    “Lihatlah bagaimana seseorang merubah gaya hidup, jika penurunan berat badan adalah tujuannya,” katanya. “Tidak hanya secara khusus satu makanan, obat, suplemen, apa pun itu.”

    (naf/naf)



    Sumber : health.detik.com

  • Konsumsi Dark Chocolate Bisa Turunkan Risiko Diabetes Tipe 2


    Jakarta

    Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang yang mengonsumsi dark chocolate memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2. Ini penjelasannya!

    Dark chocolate atau cokelat hitam dikenal sebagai makanan yang menyehatkan. Dark chocolate mengandung senyawa polifenol yang punya banyak manfaat.

    Mulai dari melawan peradangan, menurunkan tekanan darah, hingga meningkatkan suasana hati. Selain itu, rutin makan dark chocolate juga menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2.


    Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard T.H. Chan School of Public Health. Peneliti tersebut menganalisis data dari sekitar 192.000 peserta.

    Peserta tersebut sudah menyelesaikan kuesioner diet selama bertahun-tahun, termasuk berapa banyak dan jenis cokelat yang mereka konsumsi, lapor NPR. (5/12/24).

    Ini Perbedaan Dark Chocolate, Milk Chocolate dan White ChocolateCokelat hitam mengandung senyawa penting. Foto: Getty Images/iStockphoto/bhofack2

    Studi yang diterbitkan di The British Medical Journal tersebut menemukan bahwa orang yang mengonsumsi cokelat susu (milk chocolate), yang memiliki lebih banyak gula dan lebih sedikit kakao, tidak mengalami penurunan risiko diabetes.

    Selama penelitian berlangsung, pemakan cokelat susu cenderung mengalami penambahan berat badan dan ini berkontribusi terhadap risiko diabetes.

    Sementara itu, hal yang berbeda ditemukan pada orang yang memakan dark chocolate. Mereka tidak mengalami penambahan berat badan. Justru mereka memiliki risiko yang lebih rendah terkena diabetes tipe 2 sebanyak 21%.

    Dark chocolate juga memiliki senyawa penting yang bisa meningkatkan kesehatan jantung. Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Heart juga menemukan hal yang sama.

    Para ilmuwan telah menemukan senyawa tanaman bioaktif yang ditemukan dalam biji kakao, yang disebut flavanol. Senyawa itu terbukti mendorong memproduksi oksida nitrat dalam tubuh.

    Cheerful young woman eating chocolate at homeRutin makan cokelat hitam 28 gram per hari bisa membantu menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2. Foto: Getty Images/eternalcreative

    Selain itu, senyawa tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah terbuka atau melebar, sehingga mengonsumsi dark chocolate juga dikaitkan dengan sedikitnya penurunan tekanan darah.

    “Vasodilatasi tampaknya menjadi mekanisme penurunan tekanan darah. Tekanan darah yang lebih rendah ini membantu menurunkan risiko jantung,” tutur peneliti Dr. JoAnn Manson.

    Studi selama 20 tahun yang lalu juga menunjukkan bahwa konsumsi dark chocolate dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin pada orang sehat.

    Sensitivitas insulin adalah ukuran seberapa baik sel seseorang merespon insulin, yaitu hormon yang mengatur gula darah. Namun, mengonsumsi cokelat hitam juga perlu dibatasi.

    Menurut peneliti Qi Sun maupun Jeffery Tessem, cokelat hitam dapat bermanfaat jika dikonsumsi tidak berlebihan. Mereka menyarankan agar mengonsumsi cokelat hitam sekitar 28 gram per hari.

    Dark chocolate mengandung kakao yang lebih tinggi dibandingkan cokelat susu. Karenanya para peneliti tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang jenis flavanol tertentu yang ditemukan dalam kakao, termasuk epikatekin yang dikenal dengan sifat antioksidannya.

    (raf/odi)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Dan Gold

  • Waspada! Ini 6 Risiko Kecanduan Makanan Cepat Saji


    Jakarta

    Fast food atau makanan cepat saji memang enak dan murah, tetapi konsumsi berlebihan dapat membawa dampak negatif bagi tubuh dalam jangka panjang.

    Makanan cepat saji menjadi pilihan populer karena mudah ditemukan, rasanya enak, penyajiannya cepat dan harganya lebih murah. Namun mengkonsumsi fast food berkalori tinggi setiap hari dalam porsi besar dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan.

    Alasannya berasal dari kandungan lemak jenuh, natrium yang tinggi, serta gula tambahan tersembunyi yang berbahaya untuk kesehatan. Meski begitu, bukan berarti makanan cepat saji harus dihindari sepenuhnya. Dalam porsi kecil dan sesekali, makanan ini masih bisa masuk dalam pola makan sehat.


    Menurut Ahli gizi Nicole Rodriguez, konsumsi makanan cepat saji setiap hari dapat menyebabkan berbagai efek samping, seperti peningkatan tekanan darah, kolesterol tinggi, kekurangan serat, hingga risiko diabetes tipe 2. Hal ini umumnya disebabkan oleh kandungan nutrisi yang tidak seimbang serta minimnya serat, vitamin, dan mineral penting dalam menu-menu cepat saji yang populer.

    Dilansir dari Eat This Not That (10/07/2025), berikut 6 efek yang dialami tubuh jika makan makanan cepat saji setiap hari:

    1. Meningkatkan Risiko Stroke

    assorted junk foodAneka makanan cepat saji yang bisa picu stroke. Foto: iStock

    Rodriguez, menjelaskan meski makanan cepat saji dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang, mengonsumsinya lebih dari satu kali sehari secara rutin dapat meningkatkan asupan natrium.

    Sebagai contoh, satu porsi double cheeseburger, kentang goreng kecil, dan milkshake kecil dari salah satu restoran cepat saji dapat mengandung lebih dari 1.500 miligram natrium.

    Padahal menurut anjuran dari Dietary Guidelines for Americans 2020-2025, batas maksimal konsumsi natrium per hari untuk sebagian besar orang adalah 2.300 miligram. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan natrium tinggi dapat memicu tekanan darah tinggi dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta stroke.

    2. Memicu Kenaikan Berat Badan

    Ilustrasi makanan cepat sajiIlustrasi makanan cepat saji Foto: Getty Images/arselozgurdal

    Porsi standar satu kali makan di restoran cepat saji seperti burger, kentang goreng, dan minuman bersoda bisa mencapai lebih dari 1.000 kalori. Kalori ini akan bertambah signifikan jika seseorang memilih burger yang berukuran besar, kentang goreng jumbo, dan minuman soda manis.

    Asupan kalori berlebihan yang terus-menerus serta melebihi kebutuhan tubuh harian, akan menyebabkan penambahan berat badan secara bertahap. Hal ini tentu berisiko bagi kesehatan dalam jangka panjang.

    3. Tubuh Kekurangan Serat

    Rodriguez menambahkan jika sebagian besar makanan diperoleh dari restoran cepat saji, kemungkinan besar asupan serat pada tubuh tidak akan memenuhi anjuran. Ia menyarankan konsumsi 14 gram serat per 1.000 kalori makanan.

    Contohnya pada salad ayam yang dijual di beberapa restoran cepat saji hanya memiliki kandungan 5 gram serat. Bahkan jika dikonsumsi tiga kali sehari, jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan harian.

    Rendahnya asupan biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sayur serta buah segar di menu makanan cepat sajisulit memenuhi kebutuhan serat dan fitonutrien.

    Kekurangan serat pada tubuh bisa menimbulkan gangguan pencernaan, seperti sembelit, serta meningkatkan risiko kanker usus besar dan kolesterol tinggi.

    4. Risiko Kolesterol Tinggi

    Ilustrasi kolesterol tinggiIlustrasi kolesterol tinggi Foto: Getty Images/iStockphoto/interstid

    Salah satu masalah utama pada makanan cepat saji adalah tingginya kandungan lemak jenuh. Dalam diet 2.000 kalori, batas maksimal asupan lemak jenuh adalah 22 gram per hari. Sementara rata-rata satu porsi makanan cepat saji bisa mengandung lebih dari 75% bahkan mencapai 150% dari batas harian tersebut.

    Konsumsi lemak jenuh berlebih terbukti berkaitan dengan meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Sehingga Dietary Guidelines for Americans menyarankan agar lemak jenuh tidak melebihi 10% dari total kalori harian setiap orang.

    5. Risiko Kekurangan Nutrisi

    Mengandalkan makanan cepat saji sebagai sumber utama asupan harian bisa membuat tubuh kekurangan nutrisi penting. Empat nutrisi penting yang sering mengalami kekurangan pada tubuh adalah kalsium, serat, vitamin D, dan kalium.

    Kalium banyak ditemukan dalam buah dan sayur dan jarang ditemukan di menu makanan cepat saji. Kalsium dapat diperoleh dari keju atau susu, namun jumlahnya tidak signifikan jika hanya dari selembar keju dalam burger.

    Vitamin D biasanya hanya tersedia dalam susu atau produk olahan susu tertentu yang juga jarang ditemukan di menu makanan cepat saji. Ketidakseimbangan ini berisiko menyebabkan kekurangan gizi mikro jika konsumsi fast food terus-menerus dilakukan.

    6. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

    Image of an Asian Chinese woman helping her mother check blood sugar level using a blood glucose meter at homeIlustrasi cek gula darah bagi penderita diabetes. Foto: Getty Images/hxyume

    Sebuah studi beberapa waktu lalu menemukan bahwa konsumsi makanan cepat saji lebih dari dua kali seminggu berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, gangguan metabolik, dan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner.

    Bagi individu yang memiliki kondisi pra-diabetes, makanan cepat saji tidak menjadi pilihan pola makan seimbang yang dibutuhkan, seperti setengah porsi sayuran di setiap piring, konsumsi biji-bijian utuh, dan sumber protein rendah lemak.

    Sehingga hal ini memperburuk kondisi kesehatan seseorang. Untuk itu penting agar tetap menjaga pola makan sehat yang berimbang. Menurut Rodriguez, sah-sah saja makan makanan cepat saji sesekali, asal tidak berlebihan dan tidak terus menerus.

    (sob/dfl)

    Sumber : food.detik.com

  • Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Eater Collective

  • Catat! 5 Buah Ini Sebaiknya Tidak Dimakan Tiap Hari


    Jakarta

    Konsumsi buah-buahan memang menyehatkan, tapi beberapa jenis buah disarankan tidak dikonsumsi setiap hari. Deretan buah ini tinggi gula sehingga berisiko untuk kesehatan. Ini daftarnya!

    Buah adalah bahan makanan nabati yang menyehatkan. Buah menjadi sumber vitamin, mineral, dan serat pangan yang bagus dikonsumsi setiap hari.

    Secara spesifik, konsumsi buah bisa bantu mengatasi masalah kesehatan. Namun ada juga buah yang tidak disarankan untuk dimakan setiap hari karena bisa berdampak buruk untuk kesehatan.


    Jenis buah ini umumnya tinggi gula sehingga berisiko untuk jangka panjang. Alih-alih mendapat manfaat sehat, bukan tidak mungkin seseorang mengalami diabetes tipe-2.

    Lalu ada buah yang sifatnya terlalu asam sehingga bisa membahayakan kesehatan lambung. Juga buah yang tinggi kalori sehingga dapat menambah berat badan jika terlalu banyak dimakan.

    Berikut 5 buah yang sebaiknya tak dimakan setiap hari karena dapat merugikan kesehatan:

    1. Mangga

    Thai mango fruit (Nam Dok Mai) in basket on wooden background, Tropical fruit in summer seasonThai mango fruit Foto: Getty Images/iStockphoto/Nungning20

    Mangga adalah salah satu buah yang mendapat julukan ‘king of fruits’ atau raja dari buah-buahan. Hampir semua orang menyukai buah satu ini karena rasanya yang asam dan manis menyegarkan.

    Meski begitu, buah ini tidak boleh dikonsumsi setiap hari. Pasalnya, kandungan gula di buah mangga cukup tinggi.

    Mengutip Healthline, dalam setiap 165 gram buah mangga mengandung sekitar 22,5 gram gula.

    2. Jeruk
    Jeruk kaya akan asam. Terlalu banyak mengonsumsi jeruk, terutama bagi mereka yang memiliki masalah lambung, tentu bukan pilihan yang baik.

    3. Kurma

    Raw Organic Medjool Dates Ready to EatRaw Organic Medjool Dates Ready to Eat Foto: Getty Images/iStockphoto/bhofack2

    Buah yang identik dengan bulan Ramadan ini juga tidak baik dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang banyak. Pasalnya, kurma adalah salah satu buah dengan kandungan gula dan karbohidrat yang cukup tinggi. Dalam tiap 100 gram kurma mengandung 63 gram gula.

    4. Ceri
    Ceri adalah buah cantik yang kerap jadi hiasan pada minuman atau cake. Namun, walau ukurannya kecil dan cantik, kandungan gulanya sangat tinggi.

    Mengutip Mashed, 150 gram ceri mengandung hingga 17,7 gram gula. Makanya buah ini tidak boleh dimakan terlalu banyak, apa lagi setiap hari.

    5. Kelapa

    Fresh Coconut Water Drink in glass with coconut leaf on wooden  backgroundFresh Coconut Water Foto: Getty Images/iStockphoto/PitchyPix

    Daging dari buah kelapa tidak boleh dimakan setiap hari. Alasannya, buah ini mengandung kalori tinggi. Dalam 80 gram daging kelapa umumnya mengandung 283 kalori.

    Dengan begitu, kelapa juga jadi salah satu buah yang tidak boleh dimakan setiap hari.

    Artikel ini sudah tayang di CNN Indonesia dengan judul Catat, 5 Buah Ini Tidak Boleh Dikonsumsi Setiap Hari

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • 5 Perubahan yang Terjadi Pada Mr P Seiring Bertambahnya Usia

    Jakarta

    Seiring pertambahan usia, tubuh manusia akan mulai mengalami perubahan. Pada pria, perubahan juga terjadi pada Mr P alias penis.

    Penis dapat mengalami berbagai macam perubahan, mulai dari ukuran, bentuk, hingga kemampuan ereksi. Terkadang, risiko penis mengalami masalah kesehatan tertentu pun meningkat seiring bertambahnya usia.

    Lantas, apa saja perubahan yang bisa terjadi pada penis seiring pertambahan usia? Dikutip dari Livestrong, berikut penjelasannya.


    1. Ereksi Berkurang

    Profesor urologi dari Loyola Medicine di Chicago, Denise Asafu-Adjei, MD mengatakan pertambahan usia bisa memengaruhi kemampuan penis untuk ereksi. Ini disebabkan oleh perubahan pada jaringan yang membuat penis bisa ereksi.

    “Ketika kita masih muda, jaringan penis ada pada bentuk terbaiknya, elastis serta dapat menghasilkan ereksi yang keras dan utuh,” ujarnya.

    Selain faktor usia, penurunan fungsi ereksi juga dapat dipengaruhi oleh gaya hidup. Karenanya, menerapkan gaya hidup sehat, seperti menjaga pola makan dan rutin berolahraga, dapat membantu mempertahankan fungsi ereksi meski sudah memasuki usia lanjut.

    2. Penis Jadi Kurang Sensitif

    Pertambahan usia juga bisa memengaruhi sensitivitas penis terhadap rangsangan seksual. Inilah penyebab pria yang sudah tua membutuhkan waktu lebih lama agar bisa terangsang saat bercinta.

    Risikonya akan semakin bertambah ketika seorang pria mengidap kondisi kronis, seperti diabetes tipe 2. Diabetes dapat memengaruhi saraf dan pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk yang ada di penis.

    Kabar baiknya, pria sehat memiliki risiko yang lebih kecil mengalami masalah ini. Jadi, penurunan sensitivitas bukanlah perubahan mutlak yang bakal terjadi pada setiap pria seiring pertambahan usia.

    3. Ukuran Penis Mengecil

    Asafu-Adjei menjelaskan ada beberapa hal yang bisa menyebabkan ukuran penis menyusut seiring pertambahan usia. Pertama, jaringan penis mulai kehilangan elastisitasnya.

    Kedua, kelebihan berat badan. Asafu-Adjei mengatakan lemak yang menumpuk di perut dapat ‘mengubur’ penis dan membuatnya tampak lebih kecil. Karenanya, mengurangi lemak visceral bisa saja membuat penis tampak lebih panjang atau besar.

    “Saya melihat peningkatan yang baik dalam cara orang-orang memandang diri dan tampilan penis mereka hanya dengan memangkas lemak perut,” katanya.

    4. Penis Melengkung

    Penis pria mengalami banyak hal selama bertahun-tahun. Terkadang, itu dapat menyebabkan perubahan bentuk penis.

    Kondisi ini disebut juga sebagai penyakit Peyronie, yaitu kondisi penis melengkung yang disebabkan oleh terbentuknya jaringan parut di bawah kulit penis.

    Penyakit terbilang cukup jarang, hanya menyerang 1 dari 10 orang pria. Namun, risikonya dapat meningkat seiring pertambahan usia.

    “Hal ini disebabkan oleh cedera pada penis, termasuk posisi seksual tertentu,” ujar Asafu-Adjei.

    5. Risiko Disfungsi Ereksi Meningkat

    Disfungsi ereksi adalah kondisi ketika penis kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi.

    Usia menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko disfungsi ereksi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Translational Andrology and Urology pada 2017 menemukan saat pria berusia 40-an, risiko terkena disfungsi ereksi adalah 40 persen, dan akan terus meningkat sebesar 10 persen per dekade.

    Sebagian dari peningkatan itu disebabkan oleh meningkatnya risiko kondisi yang dapat memengaruhi fungsi ereksi, seperti diabetes, penyakit jantung, kolesterol, dan tekanan darah tinggi. Tak hanya itu, penurunan kadar testosteron yang terjadi seiring pertambahan usia juga berkontribusi memengaruhi dorongan seks dan kemampuan ereksi.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy