Tag: diode

  • Perlukah Matikan Lampu Saat Meninggalkan Ruangan? Ini Anjurannya



    Jakarta

    Sebagian orang mungkin sering mendengar anjuran untuk mematikan lampu ketika meninggalkan ruangan. Harapannya, pemilik rumah bisa hemat tagihan listrik.

    Banyak yang percaya semakin lama lampu menyala, maka semakin banyak listrik yang terpakai. Alhasil, tagihan listrik bisa membengkak. Padahal, teknologi sudah semakin maju dan peraturan zaman dulu mungkin sudah tidak berlaku saat ini.

    Lantas, sebaiknya penghuni rumah mematikan lampu setiap kali meninggalkan ruangan? Yuk simak penjelasannya berikut ini.


    Dilansir dari Real Simple, berdasarkan Department of Energy (DOE), semua bola lampu atau bohlam memiliki masa pakai yang terukur, dipengaruhi oleh seberapa sering bohlam dinyalakan dan dimatikan. Semakin sering bohlam dinyalakan dan dimatikan, semakin pendek masa pakainya.

    Oleh karena itu, daripada khawatir soal berapa lama lampu menyala, lebih baik memikirkan seberapa sering lampu tersebut dinyalakan dan dimatikan. Hal ini karena penghematan tagihan listrik dengan mematikan lampu bisa sangat kecil sedangkan biaya untuk mengganti bohlam usang secara berkala dapat melebihi biaya tersebut.

    Jadi, apakah penghuni rumah perlu mematikan lampu setiap kali meninggalkan ruangan atau tidak menggunakannya? Jawabannya terkadang iya, tetapi sering kali tidak. Hal ini tergantung pada jenis bohlam yang digunakan.

    Menurut DOE, efektivitas biaya mematikan lampu saat meninggalkan ruangan bergantung pada jenis bohlam dan biaya listrik. Namun, secara umum, semakin hemat penggunaan energi sebuah lampu, semakin lama penghuni dapat membiarkannya menyala.

    Jenis-jenis Bohlam

    1. Pijar

    Lampu Pijar adalah bohlam yang paling tidak efisien energi. Penghuni harus mematikannya setiap kali tidak digunakan.

    2. Halogen

    Meskipun lebih efisien daripada bohlam pijar, bohlam halogen menggunakan teknologi yang sama. Lampu ini tidak seefisien bohlam CFL dan LED, jadi sebaiknya dimatikan saat tidak digunakan.

    3. CFL (Compact fluorescent lamp)

    Bohlam CFL sangat efisien dan umur pakainya dipengaruhi seberapa sering lampu dinyalakan dan dimatikan. Jadi sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum mematikannya.

    DOE menyarankan untuk membiarkan lampu menyala kalau penghuni bakal meninggalkan ruangan hanya selama 15 menit atau kurang. Jika penghuni meninggalkannya lebih lama, matikan saja lampunya.

    4. LED (Light Emitting Diode)

    Bohlam LED sangat efisien dan tidak terpengaruh oleh seberapa sering dinyalakan dan dimatikan. Jadi penghuni rumah tak perlu terlalu khawatir soal menyalakan dan mematikan lampu saat meninggalkan ruangan.

    Namun perlu diketahui saat menggunakan lampu LED, membiarkan lampu menyala selama beberapa jam tidak akan membuat perbedaan besar dalam tagihan listrik.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Lampu LED DRL Kok Menguning, Ini Penyebabnya



    Jakarta

    Lampu DRL (Daytime Running Light) memiliki peran penting. Terlebih jika sudah menggunakan lampu LED. Saat hujan turun, lampu LED DRL bisa menambahkan visibilitas bagi pengendara.

    Ya, fungsi lampu DRL menjadi sangat penting saat musim hujan, karena dalam situasi tertentu cuaca menjadi lebih gelap namun lampu utama masih belum perlu dihidupkan. DRL membantu pengendara lain untuk mengetahui keberadaan kendaraan atau mobil yang kita kendarai. Sehingga meminimalisir terjadinya kecelakaan.

    Tapi lampu LED DRL ini juga butuh perhatian. Pasalnya, lampu bisa menguning dan terlihat buram. Hal ini bisa terjadi akibat faktor daya dari lampu yang terlalu tinggi.


    “Beberapa Analisa yang kami lakukan, penyebab lampu LED DRL cepat menguning adalah faktor daya yang berlebih. Sehingga menimbulkan panas ekstra,” ujar CEO Yoong Motor Jakarta dan Tomi Airbrush, Tomy Gunawan

    Akibat dari panas yang berlebih tersebut tentu berpengaruh terhadap usia pemakaian, durabilitasnya jadi berkurang. Lebih jauh ditekankan oleh Tomy bahwa panas berlebih yang dihasilkan menjadi pemicu kerusakan pada lapisan pembungkus atau plastik lampu LED-nya.

    Lampu DRL LED Mitsubishi All New Pajero SportLampu DRL LED Mitsubishi All New Pajero Sport yang telah menguning sebelum diganti. Foto: dok. Yoong Motor

    Tomy mencontohkan beberapa kasus lampu LED DRL menguning yang dialami pengguna Pajero Sport. Jika didiamkan, lama kelamaan lampu bisa mati dengan sendirinya.

    Untuk penggantian, biaya lumayan menguras kantong. Tomy mengatakan harga pasaran untuk satu set lampu Mitsubishi All New Pajero Sport mencapai Rp 10 jutaan per unit. Artinya bila dilakukan penggantian kanan dan kiri mencapai Rp 20 jutaan. Soalnya LED DRL Pajero Sport menyatu dengan lampu utama kecuali tipe 4×4 dan GLX yang terpisah model lampunya.

    Tomy pun selalu memberikan edukasi bahwa untuk penggantian lampu Mitsubishi All New Pajero Sport sebenarnya mudah, hanya tinggal pasang atau “colok” soket saja.

    “Tetapi bila pelanggan dari Yoong Motor Jakarta menghendaki penggantian LED DRL dengan model modifikasi atau rakitan, Tomy, tim bengkel sanggup mengerjakan penggantian lampu DRL tersebut,” ucap Tomy.

    Soal biaya jasa rakit dan pemasangan lampu LED DRL Pajero Sport di bengkel Yoong Motor Jakarta dibanderol mulai dari Rp 2 juta saja untuk satu set kanan dan kiri. Proses pengerjaannya pun singkat, tak lebih dari satu hari. Tomy juga memberikan garansi 1 tahun untuk lampu LED-nya sebagai bentuk servis.

    (lth/dry)



    Sumber : oto.detik.com