Tag: disiplin ilmu

  • Beasiswa Pertukaran Pelajar 2025 TechGirls, Belajar STEM di AS


    Jakarta

    Beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika Serikat TechGirls 2025 sedang membuka pendaftaran. Siswa perempuan usia 15-17 tahun dari Indonesia bisa mendaftar sebelum 6 Desember 2024.

    Beasiswa TechGirls adalah program pertukaran musim panas di AS bagi siswa perempuan. Program ini diinisiasi Biro Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Luar Negeri AS, seperti dilansir laman resminya.

    Rangkaian pelatihan pengembangan keterampilan langsung di TechGirls mendukung potensi mengenyam pendidikan tinggi dan karier di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Sebanyak 111 siswa perempuan berbagai negara akan dibimbing selama tiga minggu di AS dan total tujuh bulan termasuk pra dan pascapertukaran.


    Program Pertukaran ke Amerika Serikat 2025 TechGirls

    Para peserta TechGirls akan menjalani perkemahan teknologi dengan bimbingan dari Pusat Peningkatan Keanekaragaman Teknik (CEED) milik perguruan tinggi Virginia Tech. Pendidikan ini antara lain meliputi 38 jam pendidikan dasar STEM dan kunjungan ke laboratorium untuk mempelajari penelitian inovatif.

    Sejak 2019, kegiatan TechGirls juga meliputi kunjungan ke Pusat Penerbangan Antariksa Goddard milik Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA). Peserta dapat mengenal dan menanyakan saran tentang karier di bidang STEM secara langsung dari para wanita karier di NASA.

    Di samping itu, Smithsonian Institution juga bekerja sama dengan TechGirls untuk memungkinkan peserta bicara langsung dengan ilmuwan kelautan hingga ruang angkasa. Kunjungan ke pameran interaktif di National Museum of Natural History AS juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal peluangnya di dunia STEM dan sinerginya dengan disiplin ilmu lain.

    Sejumlah manfaat rangkaian pertukaran pelajar ke AS ini yaitu:

    • Mengenal jenis pendidikan yang dibutuhkan untuk memasuki karier yang diminati.
    • Berjejaring dengan calon pemberi kerja di masa depan.
    • Mengetahui apakah karier yang diinginkan sesuai dengan minat dan kemampuan
    • Membuka peluang untuk membimbing sesama perempuan di bidang teknologi
    • Membangun kepercayaan diri siswa perempuan untuk kuliah dan berkarier di bidang teknologi
    • Mengenal dunia kerja dan kehidupan di AS
    • Menjajal lingkungan kerja yang kolaboratif dan berlatih berpikir inovatif.

    Tahap Seleksi

    • Peninjauan lamaran
    • Wawancara bersama personel Kedutaan Besar AS untuk Indonesia bagi kandidat semifinalis terpilih

    Syarat Pendaftaran

    • Warga Negara Indonesia dan penduduk tetap
    • Usia 15-17 tahun pada awal pertukaran pada tanggal 12 Juli 2025
    • Lahir pada atau antara 13 Juli 2007 dan 12 Juli 2010
    • Punya keterampilan tingkat lanjut dan minat serius terhadap sains, teknologi, teknik, dan/atau matematika dalam studi akademis
    • Berniat untuk mengejar pendidikan tinggi dan/atau karier di bidang STEM, khususnya teknologi
    • Memiliki keterampilan bahasa Inggris menengah tingkat lanjut
    • Menunjukkan kedewasaan, fleksibilitas, dan keterbukaan pikiran
    • Memiliki setidaknya satu semester sisa di sekolah menengah setelah kembali ke Indonesia
    • Berkomitmen untuk menyelesaikan proyek berbasis komunitas setelah kembali ke rumah
    • Pendaftar yang memiliki pengalaman terbatas atau belum pernah ke Amerika Serikat akan diprioritaskan
    • Calon pendaftar yang sudah pernah melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dalam tiga tahun terakhir sebagai bagian dari program pertukaran Biro Pendidikan dan Kebudayaan Deplu AS tidak boleh melamar.
    • Bukan anggota keluarga staf Kedutaan Besar atau Konsulat AS atau karyawan Departemen Luar Negeri AS, anggota keluarga staf Legacy International atau organisasi mitra
    • Warga Amerika yang memiliki kewarganegaraan ganda dan tinggal di luar negeri tidak memenuhi syarat untuk bepergian ke AS melalui program ini atau mendapatkan visa J-1.
    • Siswa penyandang disabilitas didorong melamar.

    Komponen Beasiswa TechGirls

    • Biaya visa
    • Tiket pesawat pulang pergi dari negara asal peserta ke Amerika Serikat
    • Tiket pesawat pulang pergi domestik dari kota asal peserta
    • Tempat tinggal selama program
    • Akomodasi asrama di Virginia Tech
    • Akomodasi hunian di hotel di Washington, DC
    • Makanan selama program
    • Sarapan, makan siang, dan makan malam
    • Transportasi lokal ke acara program kelompok
    • Acara budaya yang diselenggarakan oleh Legacy International
    • Asuransi kesehatan darurat
    • Jaminan lingkungan aman:
      • – Pengawasan 24 jam sehari termasuk pertolongan pertama dan CPR
      • – Waktu dan ruang ibadah pada Jumat dan Minggu
      • – Kafetaria universitas dan prasmanan hotel sesuai keyakinan masing-masing

    Berminat ikut pertukaran pelajar ke AS, detikers? Cek informasi pendaftaran beasiswa TechGirls 2025 lebih lanjut di https://techgirlsglobal.org/.

    (twu/pal)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah buku Belajar di Sekolah اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / element5
  • Wajah Gloomy, Aura Positif, Banyak Disenangi, Mau?



    Jakarta

    Sebagian besar orang tua mulai gelisah. Apa sebab? Salah satu putrinya sudah melewati usia rata-rata pantas menikah.

    Para orang tua yang demikian itu, acap kali sudah sering meminta para kenalan untuk membantu. Terlebih kerabat dekat. Biasanya sudah sering dihubungi. Untuk mencarikan pasangan yang setidaknya pantas. Tidak mengajukan banyak syarat. Kalau perlu harus menyertakan dana pun tidak masalah. Asal lekas!

    Tapi tunggu dulu. Jangan menduga karena para putri beliau-beliau ini tidak memiliki fisik yang baik. Bahkan fisik mereka good looking. Tidak hanya good looking, banyak di antara mereka yang kecerdasannya di atas rata-rata. Gelarnya pun terkadang lumayan. Bahkan dari sisi materi boleh jadi mereka tidak memerlukan dukungan para calon suami.

    Entah karena kondisi yang demikian itu, justru menjadi bumerang bagi mereka. Memagari diri dengan mengangkat persyaratan yang agak tinggi, atau beberapa hal lain.


    Sebagian fakta, banyak di antara mereka yang jika berbicara sering membuat orang lain tersinggung. Istilahnya dalam bahasa Jawa nyelekit –menimbulkan rasa getir di hati yang mendengar. Kalau itu yang menjadi alasan utama, coba kita belajar bagaimana cara menepikan kendala itu.

    Sebuah teori yang tingkat kepercayaannya mencapai 100 prosen!

    Salah seorang guru besar terkenal dalam bidang psikologi, Profesor John Bargh. Guru besar dari universitas Yale Amerika Serikat. Ia melakukan riset self-talk, bicara sendiri. Riset ini menghasilkan sebuah teori yang sangat terkenal, Bargh Hallway Theory.

    Dalam risetnya, ia menguji efek kata-kata pada tubuh. Ia meminta empat puluh orang mahasiswanya yang bersedia ikut dalam risetnya. Bargh memerintahkan mereka untuk mengulang-ulang, berkata-kata pada dirinya sendiri. Itu harus mereka lakukan selama 30 hari.

    Empat puluh mahasiswa itu dibagi dalam dua kelompok. Ialah kelompok A dan kelompok B.
    Kelompok A diminta selalu mengulang hanya kata-kata yang bernilai positif misalnya; hidup ini nikmat, hidup ini ceria, cuaca menyenangkan, rezeki lancar, sehat selalu, Tuhan baik, pemerintah bagus, cari kerja mudah, sehat, lucu, asyik. Secara prinsip mereka harus mengulang kata-kata yang berkonotasi menyenangkan, entah apa saja kata-kata itu. Pengulangan itu dilakukan selama 30 hari.

    Kelompok B diminta untuk selalu mengulang kata-kata yang bernilai negatif. Misalnya: Tuhan jahat, nasib jelek, lapangan kerja sempit, zaman gila, korupsi merajalela, bangsa keparat, sialan, brengsek, susah mencari kerja, jalan macet, sampah di mana-mana, pemimpin bodoh, malas. Pendek kata, semua kata yang memberi kesan marah, bete, dan galau.

    Evaluasi hasil riset dilakukan pada hari ke-30. Baik pada kelompok A maupun kelompok B. Ada sejumlah 100 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu yang diminta melakukan evaluasi. Dilakukan evaluasi terhadap seluruh ekspresi wajah dan tampilan gerak. Evaluasi menggunakan sejumlah kamera besar yang tersembunyi

    Riset itu menghasilkan tingkat kepercayaan sampai 100 persen.
    Hasil yang diperoleh adalah;
    kelompok A memiliki pancaran wajah yang gloomy, wajah yang berkilau dan berbinar. Ekspresi ini ditampilkan oleh peserta, walau dia hanya mengenakan jeans dan kaos oblong. Kulit mereka tampak terang, wajahnya ceria, auranya menyenangkan. Para responden menjadi ingin dekat dengan orang-orang tersebut.

    Kelompok B memiliki pancaran wajah yang kumuh dan suram. Padahal pada saat datang mereka memakai tiga lapis jas yang mestinya membuat mereka parlente.

    Bargh Hallway Theory ditulis oleh Malcolm Gladwell dalam buku “Blink: The Power of Thinking Without Thinking” (2012). Buku ini terkenal di seluruh dunia.

    Di dalam Islam, berkata baik, berkata-kata yang bernilai positif menjadi standar evaluasi apakah orang bisa dimasukkan dalam kriteria beriman kepada Allah dan hari akhir.
    “Man kaana yu’minu billaahi wal yaumil aakhir, fal yaqul khayran aw liyashmut,” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik, atau (kalau tidak bisa berkata baik) diam. Itu sabda Nabiy SAW.

    Sedangkan orang beriman yang berkata tepat dapat diampuni dosa-dosanya (QS alAhzab (33) ayat 70).

    Suatu ketika, cucu Rasulullah Hasan bi Ali RA. berjalan bersama putranya yang diberi nama Muhammad. Hasan bin Ali dicela habis-habisan oleh seseorang. Tetapi beliau tidak membalas satu pun kata-kata kurang baik. Beliau hanya diam.

    Pencela segera pergi ketika merasa puas mencela.
    Muhammad bin Hasan RA., putra beliau heran,”Wahai Ayah, mengapa Ayah tidak membalas?” Hasan bin Ali menjawab, “Anakku, Ayah tidak tahu bagaimana caranya membalas!”

    Kata-kata buruk, bukan hanya ditahan untuk tidak diucapkan ketika berucap sendiri, “self-talk”. Bahkan kata-kata buruk itu harus ditahan walau stimulus untuk mengeluarkan kata-kata buruk datang bertubi-tubi.
    Contohnya ialah pada kisah di atas Hasan bin Ali (cucu Rasululullah) dan putranya (cicit Rasulullah) yang bernama Muhammad bin Hasan.

    Semoga, melalui upaya mengubah kebiasaan lama, kepada kebiasaan baru. Ialah mengganti seluruh kata-kata buruk, menjadi kata-kata baik, setiap siapa pun mampu memperoleh hasil positif sesuai riset Bargh. Begitu pun para remaja yang beranjak mencapai usia wajar untuk berkeluarga, mudah memperoleh pasangan yang baik untuk menikah!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com