Tag: dollar AS

  • Purwarupa Dolar Digital Digelar Juli 2021

    Purwarupa dolar digital digelar pada Juli 2021, hasil kajian Bank Sentral AS alias The Fed bersama MIT (Massachusetts Institute of Technology).

    Purwarupa dolar digital ini adalah jawaban The Fed terhadap desakan publik, bahwa AS harus mengadopsi bentuk digital murni uang fiat itu.

    Desakan itu terkait dengan lebih dulunya Bank Sentral Tiongkok (PBoC) menerbitkan dan berkali-kali mengujicoba yuan digital sejak Mei 2020.

    Baca Juga: Saatnya Anda Setting Bollinger Band Agar Lebih Akurat

    Pada awal tahun, Ketua The Fed, Jerome Powell menegaskan, bahwa pihaknya tidak perlu terburu-buru menerbitkan bentuk baru dari dolar AS. Baginya, yang penting adalah tepat, bukan cepat.

    MIT memang sejak tahun lalu ditunjuk sebagai lembaga pengkaji peluang dan risiko dolar digital itu.

    James Cunha, Kepala Proyek Dolar Digital di The Fed Boston, menyatakan peneliti MIT telah mengantongi dua purwarupa, di mana pengguna bisa menyimpan dan bertransaksi memakai dolar digital.

    Kendati demikian, ia tidak menjelaskan apakah kedua platform itu memakai teknologi blockchain, mirip seperti stablecoin bernilai dolar, USDT.

    “Kami pikir penting tidak menunggu perdebatan kebijakan, sebab akan telat setahun atau lebih. Hal ini akan menjangkau industri dan memicu perdebatan serius,” tambah Cunha.

    Purwarupa itu pun kini berjuluk “Fedcoin”, uang digital AS yang dapat menciptakan alternatif elektronik bagi dolar berwujud fisik. Namun, sejumlah pemain di industri keuangan tradisional justru tak senang.

    “Banyak orang takut dolar digital akan mendisrupsi pemain lama dengan bentuk pembayaran baru,” sebut Michael Del Grosso, Analis di Compass Point Research & Trading.

    Baca Juga: The Fed: Bitcoin adalah Pengganti Emas

    Pekan lalu, Jerome Powell mengatakan bahwa dolar digital dapat hidup berdampingan dengan uang tunai tradisional jika diatur secara tepat. Powell mengutip laporan oleh BIS (Bank for International Settlements).

    Salah satu dari tiga prinsip kunci yang disorot laporan itu adalah CBDC harus berdampingan dengan uang tunai fisik dan bentuk uang lain yang elektronis, dalam sistem pembayaran yang luwes dan inovatif, tambah Powell.

    Sementara itu, perusahaan pembayaran seperti Visa dan Mastercard sudah mulai mencari cara untuk mendukung mata uang digital bank sentral di platform mereka. Mastercard juga telah memfasilitasi dolar digital di Bahamas.

    “Kami berdiskusi dengan bank sentral soal rancangan mata uang digital mereka. Kami berbicara tentang cara berpikir perancangan mereka,” jelas Oliver Jenkyn, presiden Visa Amerika Utara.

    Jenkyn menambahkan, ada banyak diskusi tetapi ada banyak juga aksi. Desember lalu, Visa mengajukan sistem pembayaran luring bagi CBDC (Central Bank Digital Currency) yang dapat menandatangani transaksi tanpa koneksi Internet.

    Perusahaan pembayaran blockchain Ripple juga belum lama ini mengungkap proyek rintisan khusus untuk mata uang digital bank sentral.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menebak Sikap Presiden AS Joe Biden Terkait Cryptocurrency

    Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden dikabarkan sedang mempertimbangkan perintah eksekutif untuk agen federal yang mengharuskan mereka mempelajari industri kripto dan membuat rekomendasi tentang pengawasan cryptocurrency.

    Tidak mengherankan bahwa pemerintah AS sekarang memberikan perhatian khusus terhadap kripto. Sikap terhadap mata uang digital seperti Bitcoin di seluruh dunia sangat bervariasi, mulai dari kecurigaan langsung, larangan penambangan kripto di China, hingga negara seperti El Salvador yang menambahkan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. 

    Meskipun El Salvador masih menggunakan dolar AS, Bitcoin juga digunakan di sana. Bahkan, El Salvador sedang merencanakan cara untuk menambang Bitcoin menggunakan energi dari sumber vulkanik.

    Perintah eksekutif dari Presiden Biden itu nantinya akan mencakup Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, Lembaga Sains dan Badan Keamanan Nasional. Selain itu juga meminta agensi untuk mempelajari berbagai macam aspek industri dan memperjelas tanggung jawab yang dimiliki berkaitan dengan industri kripto dan blockchain

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Baca juga: Nasib Tether Usai Didenda 41 Juta Dolar AS oleh CFTC

    Potensi kripto di Amerika Serikat

    Untuk Amerika Serikat, cryptocurrency seperti Bitcoin, Ethereum, dan mata uang kripto lainnya berpotensi untuk penggunaan ilegal, dan memperdagangkan untuk menghindari kewajiban pajak. Pada tahun 2020, Departemen Keuangan AS mengusulkan aturan baru untuk transaksi kripto, bahwa transfer senilai lebih dari $10.000 wajib hukumnya untuk dilaporkan ke IRS.

    Departemen Keuangan AS juga mengatakan bahwa cryptocurrency sudah menimbulkan masalah yang signifikan dengan kemungkinan aktivitas ilegal yang semakin meluas, termasuk penghindaran pajak. Hal ini terjadi karena keuntungan dalam koin seperti Bitcoin akan secara efektif dihitung sebagai pendapatan dan harus dilaporkan pada pengembalian pajak individu atau perusahaan.

    Kantor Pengawas Keuangan Mata Uang (OCC), Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dan Federal Reserve, tiga regulator bank federal telah membentuk “ Sprint Team ” untuk mengoordinasikan gugus tugas mereka terkait kripto pada awal tahun ini.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Baca juga: Bank Spanyol Tertarik Tawarkan Aset Kripto ke Nasabahnya

    Gugus tugas yang bekerja untuk Presiden AS Biden juga akan mempertimbangkan laporan yang merekomendasikan Kongres memberlakukan undang-undang dalam membuat peraturan khusus untuk penerbit stablecoin, agar memperlakukan entitas ini sama seperti bank. Federal Reserve dan Bank Sentral AS juga akan merilis laporan tentang stablecoin dan token aset digital yang nilainya dipatok ke aset lain, seperti dolar AS dan mata uang digital bank sentral (CBDC).

    Sementara itu, Bank Sentral Eropa mengkonfirmasi awal tahun ini bahwa mereka sedang menjajaki kemungkinan mata uang euro digital sendiri. Mata uang virtual lintas batas yang didasarkan pada klaim langsung terhadap bank sentral itu sendiri. European Central Bank (ECB) menekankan, dengan tujuan meyakinkan pengguna bahwa dana tersebut tidak akan keluar dari pasar.

    Penambangan Bitcoin yang Semakin Masif

    Saat ini Amerika Serikat menjadi negara penambang Bitcoin terbesar di dunia setelah China melakukan pelarangan terhadap penggunaan Kripto di negaranya. 

    Pada akhir Agustus 2021, Amerika Serikat sudah menyumbang 35,4 persen tingkat hash global, ukuran kekuatan komputasi yang digunakan untuk menambang mata uang kripto. Menurut sebuah studi oleh Cambridge Center for Alternative Finance hasil tersebut lebih dari dua kali lipat aktivitas yang tercatat sejak bulan April 2021.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Baca juga: Mengenal Cryzen, Platform Trading Kripto yang Bawa Cuan

    Lonjakan pangsa kripto di Amerika Serikat telah didorong oleh langkah China yang melakukan pengetatan aturan cryptocurrency guna mengendalikan risiko keuangan. Pada awal Bitcoin diluncurkan tahun 2009, negara Asia adalah basis utama bagi para penambang terbesar yang memanfaatkan listrik murah dari pembangkit listrik tenaga batu bara dan air.

    Ada kemungkinan besar bahwa penambangan Bitcoin rahasia masih dilakukan di China, tetapi dialihkan melalui jaringan pribadi virtual yang membuat komputer seolah-olah beroperasi di negara lain. Peningkatan terbaru dalam tingkat hash di Irlandia dan Jerman kemungkinan merupakan hasil dari penambang yang menggunakan VPN atau server proxy. 

    Di Kazakhstan, tingkat hash sudah mencapai 18,1% pada Agustus 2021, naik dari 8,2% sejak April 2021, sementara di Negara Rusia tumbuh menjadi 11%, dari 6,8% pada periode yang sama.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Yuan Digital Ampuh Tebas Dominasi Dolar?

    Dari sisi Bank Sentral Tiongkok (PBOC), mereka tampak percaya diri dengan mengklaim, bahwa yuan digital dalam sistem DCEP (Digital Currency Electronic Payment), kelak mampu menebas dominasi dolar. Tapi ini lebih condong ke pertanyaan daripada pernyataan.

    Bahkan pada September 2020 lalu, Steven Suhadi, pejabat di Dewan Pengawas Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), dengan sejumlah argumennya meyakini yuan digital mungkin akan menjadi katalisator yang menjadikan yuan [yuan adalah sebutan satuan mata uang, dan renminbi nama mata uangnyaRed], sebagai mata uang cadangan dunia berikutnya.

    Kalimat terakhir itu sangat keliru. Mungkin yang Steven maksudkan adalah “bisa mendominasi dolar”, karena renminbi sudah menjadi mata uang cadangan sejumlah negara, walaupun masih kecil, yakni 2,05 persen. Sedangkan dolar lebih besar, yakni 61 persen. Renminbi hanya menang melawan dolar Australia (1,69 persen) dan dolar Kanada (1,89 persen).

    Pada tahun 2015 saja Bank Indonesia sudah mengakui sudah menggunakan renminbi sebagai cadangan devisa.

    Maka, tak heran pula Bank Indonesia dan Bank Sentral Tiongkok (PBOC) sepakat menggunakan rupiah-yuan dalam perdagangan antar kedua negara, termasuk dalam program investasi langsung.

    Penggunaan sejumlah mata uang negara sebagai mata uang cadangan negara lain. Sumber: IMF.

    Steven juga menyandarkan pernyataannya itu pada proyek One Belt One Road (OBOR) yang mencakup banyak negara termasuk Indonesia, yang memampukan penggunaan renminbi yang semakin luas.

    Di sisi itu Suhadi benar, tetapi sangat tidak mudah, mengingat pengaruh Amerika Serikat masih amat kuat, khususnya soal cara merawat dan mengelola kebijakan perdagangan, politik dan lain sebagainya, demi menguatkan nilai dolar di tingkat internasional. Artinya, perlu waktu lagi dan bukan sekadar gara-gara teknologinya.

    Adalah fakta bahwa mata uang renminbi sejak Oktober 2016 menjadi bagian dari Special Drawing Rights Basket (SDRB) IMF.

    Itu tonggak penting sebagai pengakuan lembaga internasional terhadap pertumbuhan perdagangan dan ekonomi Tiongkok. Dengan status bergengsi itu pula mata uang renminbi setaraf dengan dolar AS, euro, yen dan pound Inggris.

    Kita lihat lagi soal klaim yuan digital yang disebut-sebut sebagian berteknologi blockchain itu, mampu bersaing dengan dolar AS

    Pada 27 Oktober 2020 lalu, Zhou Xiaochuan, mantan Gubernur Bank Sentral Tiongkok (PBOC) mengatakan bahwa faktor utama yuan digital adalah untuk menghindari “dolarisasi”, di mana dolar AS digunakan secara paralel atau sebagai pengganti mata uang lokal.

    Pada Jumat pekan lalu PBOC bahkan sudah menerbitkan rancangan undang-undang bagi DCEP itu agar berkekuatan hukum tetap, sebelum bisa digunakan secara luas.

    DCEP sendiri dibidani sejak tahun 2014, ketika bank sentral itu secara agresif meneliti dan mengembangkan mata uang digital sendiri, ketika Bitcoin dan sejumlah aset kripto/mata uang digital “swasta” lainnya yang berteknologi blockchain, sedang naik daun.

    Dan sejak Mei 2020 yuan digital sudah diujicoba beberapa kali di dalam negeri, seperti di Suzhou, Shenzhen, Chengdu dan Xiongan.

    Bahkan PBOC berencana akan mengujicoba yuan digital itu dalam skala yang lebih luas dalam ajang Olimpiade Musim Dingin pada tahun 2022 mendatang di Beijing.

    Beijing telah memperjelas bahwa tujuan DCEP termasuk kelak mengganti uang tunai sepenuhnya [kelak tak ada lagi uang kertas fisik, seperti yang sekarang masih digunakan di desa-desa di Tiongkok-Red], mempertahankan kendali pemerintah atas mata uang dan menciptakan skenario aplikasi ritel kecil sebanyak mungkin.

    Yuan digital akan didistribusikan melalui Bank Sentral Tiongkok ke penyedia tingkat kedua yang resmi, termasuk bank-bank besar milik negara, operator telekomunikasi yang dikendalikan negara dan penyedia pembayaran daring oleh Ant Group dan Tencent, kata Zhou.

    Kebijakan bukan Teknologi
    Mengacu pada pernyataan Anthony Pompliano beberapa waktu lalu, teknologi pada prinsipnya bukanlah penentu utama nilai pada mata uang, melainkan pada kebijakan penggunaan mata uang itu dalam transaksi.

    “Uang tidak ada urusan dengan teknologi, melainkan masalah kebijakan moneter,” katanya.

    Lalu, Dr. Saifedean Ammous, pakar ekonomi yang juga penulis buku The Bitcoin Standard, mencontohkan, antara dolar AS dan yen.

    Katanya, ketika sejumlah orang kurang suka 10 yen daripada 1 dolar AS, maka orang lainnya masih lebih suka menyimpan 1 dolar AS daripada 10 yen. Penyebabnya adalah, karena nilai 1 dolar AS lebih daripada 10 yen.

    “Jadi, bukan jumlah unit uangnya yang Anda peroleh, tetapi daya belinya,” jelas Ammous.

    Bahwa nilai dolar AS itu diapresiasi, bukan karena dia berteknologi tinggi atau tidak, melainkan dilatarbelakangi kemampun negara AS dalam mengelola kebijakan moneter, kebijakan fiskal, termasuk keputusan politik dalam dan luar negeri. Inilah pula yang menentukan nilai dan daya belinya.

    Sentimen yang positif terhadap kebijakan itu, maka sejauh dan seluas itulah dolar AS digunakan. Sebaliknya, ketika situasi ekonomi genting seperti ini dan memaksa bank sentral menambah pasokan dolar ke ekonomi, maka nilainya tertekan. Itu juga bisa membuat Tiongkok keringat dingin, karena sejumlah investasinya di luar negeri bersatuan dolar AS.

    Bahwa teknologi menjadi faktor yang seolah-olah teramat penting, itu keliru. Sama halnya dengan Bitcoin. Benar karena teknologi blockchain-lah dan bersifat terbukalah ia unggul dibandingkan kelas aset lain, termasuk dolar. Namun, berkat dolar pulalah dia memiliki nilai, termasuk dengan mata uang fiat lain. Karena keunggulan relatif itulah Bitcoin juga diapresiasi selayak dolar dan emas.

    “Dalam sudut pandang faham ekonomi Austria, Bitcoin memenuhi kriteria sebagai bentuk uang. Pasokan Bitcoin yang tetap dan terbatas dan ketahanannya terhadap inflasi adalah kunci keunggulan Bitcoin sebagai mata uang,” kata Ammous lagi.

    Sekarang perhatikan seberapa banyak yuan digunakan secara global. Jikalau mengacu pada data SWIFT sebagai jaringan pembayaran global antar bank, dolar masih mendominasi, yakni mencapai 40 persen. Sedangkan yuan hanya 2 persen.

    Ini adalah satu penanda bahwa tingkat “konversi bebas” yuan masih sangat terbatas, walaupun riak perdagangan internasional mereka mampu bersaing ketat dengan AS.

    “Karena mata uang digital sedikit berbeda dari yuan itu sendiri, maka tidak akan menjadi pengubah permainan yang meningkatkan peran renminbi dalam keuangan internasional,” tulis Eswar Prasad, profesor di Cornell University.

    Prasas mencatat, bagaimanapun, pemerintah Tiongkok masih membatasi arus masuk dan keluar modal dan PBOC masih mengelola nilai tukar renminbi.

    “Tidak ada kebijakan yang akan berubah secara signifikan dalam waktu dekat,” katanya.

    Victor Shih, seorang ahli ekonomi politik Tiongkok dan profesor di University of California San Diego, menjelaskan bahwa hanya dengan memperkenalkan mata uang digital “tidak menyelesaikan masalah bahwa beberapa orang yang memegang renminbi di luar negeri akan ingin menjual renminbi itu dan menukarnya dengan dolar.

    Shih mencontohkan, misalnya Iran menjual minyak dalam jumlah besar ke Tiongkok, dan menerima yuan digital sebagai pembayaran. Itu akan membantu tujuan Beijing dalam mengejar penggunaan yuan yang lebih luas dalam transaksi internasional.

    Tetapi Iran mungkin ingin menggunakan setidaknya seperempat dari pendapatan itu untuk membeli barang-barang dari Eropa, kata Shih, jadi mereka perlu mengubah sebagian dari yuan digital menjadi dolar dan euro, mata uang yang paling banyak digunakan kedua untuk pembayaran global.

    “Jika itu terjadi dalam skala yang sangat besar, Anda akan memiliki ratusan miliar renminbi terakumulasi di Hong Kong, pusat kliring utama untuk transaksi dalam mata uang yuan. Dan jika yuan tersebut dikonversi ke mata uang lain dalam jumlah besar, renminbi akan berada di bawah tekanan ke bawah dan PBOC harus turun tangan untuk menopang nilainya,” sebut Shih.

    Shih juga mengkritik soal sifat keterlacakan penuh yuan digital oleh Pemerintah Tiongkok. Katanya, salah satu keuntungan utama dari orang-orang yang menggunakan yuan digital adalah memungkinkan para bankir Tiongkok untuk melacak dengan tepat ke mana arah setiap yuan secara lebih rinci daripada yang mungkin saat ini.

    “Jika Iran melakukan pembelian dengan penghasilan yuan digitalnya, misalnya, PBOC akan dapat melihat apa yang dibelinya, dan dari siapa, hingga satuan sen,” jelas Shih.

    Namun hal itu justru dianggap buruk di negara lain, sebab ada banyak situasi ketika bahkan orang yang sangat taat hukum tidak ingin pemerintah mengetahui apa yang mereka lakukan, terutama ketika pemerintah itu adalah Partai Komunis Tiongkok.

    Namun Shih menilai adanya potensi perluasan penggunaan yuan selain dalam konteks perdagangan internasional biasa, misalnya melalui produk teknologi asal Tiongkok seperti TikTok (ByteDance) dan Fortnite (Epic Games).

    Dapat disimpulkan, bahwa yang dicari investor dalam mata uang cadangan (global reserve currency) bukanlah teknologinya, melainkan mata uang yang stabil, didukung oleh ekonomi yang kuat, dapat dikonversi secara bebas dan dapat digunakan secara luas.

    Namun, itu semua sangat tergantung pada kebijakan pemerintah Tiongkok, termasuk bank sentralnya. Bahwa yuan digital bisa menebas dominasi dolar di masa depan, bukan masalah “kapan”, tetapi “bagaimana” dan “mengapa”.

    Baca Juga: Kenali Jenis-jenis Investasi Decentralized Finance (DeFi)



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Terbukti Menang Melawan Saham, Emas, Minyak dan Dolar AS

    Sejak awal tahun 2020 hingga hari ini (year to date/ytd), Bitcoin mampu mengalahkan kinerja saham, emas, minyak dan indeks dolar AS. Ini mencerminkan sentimen positif terhadap Bitcoin sebagai kelas aset baru.

    Berdasarkan pantauan di MarketWatch siang hari ini, Bitcoin melejit hingga 50,63 persen sejak awal tahun (US$7.229 menjadi lebih dari US$10.800). Sedangkan Index Saham S&P 500 hanya mampu melaju di kisaran 2 persen. Sedangkan dalam tempo 30 hari masih minus 5,97 persen.

    Kinerja Bitcoin (BTC). Sumber: MarketWatch.
    Kinerja Indeks Saham S&P 500. Sumber: MarketWatch.

    Sementara itu indeks saham teknologi Nasdaq di rentang waktu serupa, cukup senang di 21 persen, dengan raihan minus 6,69 persen dalam 30 hari.

    Bagaimana dengan emas sendiri? Kendati emas mencetak imbal hasil bagus dalam setahun terakhir, yakni 24,01 persen, namun secara year to date, miring di 22,65 persen, sebagai akibat akumulasi koreksi cukup dalam setelah awal September 2020. Dalam 1 bulan saja emas terkoreksi hingga minus 5,49 persen.

    Kinerja Emas. Sumber: MarketWatch.

    Pasar minyak mentah tergolong sangat parah. Sejak awal tahun malah -34 persen. Minyak hanya tampak hijau dalam 3 bulan terakhir, yakni 4,93 persen.

    Dolar AS yang terbukti menguat selama beberapa pekan terakhir malah minus 1,88 persen sejak awal tahun. Dalam setahun saja minus 4,5 persen. Hal itu tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY).

    Kinerja Dolar AS. Sumber: MarketWatch.

    Indeks itu mengukur kekuatan dolar AS berbanding mata uang negara lain, yakni Euro (EUR), Yen (JPY), Poundsterling (GBP), Canadian dollar (CAD), Krona (SEK) dan Swiss Franc (CHF).

    Bitcoin Kalah Telak Berbanding Ether (ETH)
    Bitcoin memang cukup senang dengan capaian itu dibandingkan dengan aset tradisional lain. Namun di ranah aset kripto sendiri, kinerja Bitcoin (BTC) kalah telak dengan rivalnya, Ether (ETH), walaupun BTC masih terbaik dari segi kapitalisasi pasarnya yang masih nomor wahid.

    Ether sangat kuat hingga 181,91 persen sejak awal tahun (naik dari US$131,52 menjadi US$362,11). Dalam tiga bulan saja Ether terbang 57,25 persen dan selama setahun mencapai 111,79 persen!

    Pengguna Bitcoin Cs Bertambah
    Cambridge Centre for Alternative Finance di Universitas Cambridge, Inggris menyebutkan bahwa pengguna Bitcoin Cs (aset kripto) secara global saat ini mencapai 101 juta. Angka itu naik 189 persen berbanding tahun 2018, yakni 35 juta “unique users”. Pengguna dari kalangan institusi masih kecil.

    Hal itu tertuang dalam laporan hasil survei “3rd Global Cryptoasset Benchmarking Study” sepanjang 71 halaman. Survei digelar pada Maret-Mei 2020 dan laporan diterbitkan beberapa hari yang lalu. Mayoritas responden adalah dari kawasan Asia Pasifik dan Eropa.

    “Pada tahun 2018, berdasarkan survei edisi pertama jumlah pengguna aset kripto sekitar secara global mencapai 35 juta. Jumlah itu berdasarkan identitas pengguna yang terverifikasi di sejumlah bursa aset kripto dan penyedia layanan sejenis. Sedangkan pada survei ke-3 ini pengguna mencapai 101 juta di 191 juta akun,” sebut Cambridge dalam laporan itu.

    Menurut mereka, peningkatan pengguna sebesar 189 persen itu berdasarkan peningkatan jumlah akun (yang meningkat 37 persen), serta bagian akun yang lebih besar
    dikaitkan secara sistematis dengan identitas individu.

    Baca Juga: Mengenal Smart Contract



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penegasan Bank Sentral AS: Kami Mencetak Dolar AS Secara Digital

    Jerome Powell, Kepala Bank Sentral AS alias The Fed mengatakan di program 60 Minutes, bahwa mereka secara kelembagaan mencetak dolar secara digital, demi menyelamatkan ekonomi AS yang terdampak COVID-19.

    Sebenarnya pernyataan bank sentral itu adalah yang kesekian kalinya sejak Maret 2020. Hanya saja pernyataan Powell ini adalah penegasan dan memiliki kaitan erat dengan harapan kenaikan harga bentuk investasi lainnya, seperti emas dan Bitcoin.

    “Sebagai bank sentral, kami memiliki kemampuan mencetak/menerbitkan uang dolar AS secara digital. Caranya adalah kami membeli surat utang negara (obligasi) dan sejumlah sekuritas (saham) yang dijamin oleh pemerintah. Dan itu benar-benar menambah jumlah uang dolar AS yang beredar. Kami juga mencetak uang dolar fisik dan mendistribusikannya,” kata Powell.

    Disebut sebagai kebijakan moneter, bank sentral memang memiliki kemampuan seperti itu pada kondisi-kondisi mendesak. Dengan menambahkan uang ke dalam ekonomi, diharapkan bisa menstimulus gerak ekonomi yang padam akibat pandemi COVID-19.

    Masalahnya adalah, jikalau uang baru itu tidak digunakan secara baik, maka berpotensi menimbulkan inflasi atau malah hiperinflasi.

    Ini yang mengakibatkan kemerosotan ekonomi lebih lanjut dan membuat uang tidak memiliki nilai dan harga barang dan jasa menjadi tinggi.

    Jika fiat money alias uang yang diterbitkan oleh negara menganut pelonggaran kuantitatif seperti itu, maka Bitcoin berlaku sebaliknya, yakni pengetatan kuantitatif.

    Bitcoin secara baku dibuat menjadi langka setiap 210.000 block atau setara 4 tahun sekali, yang disebut Bitcoin Halving.

    Sejak 12 Mei 2020 lalu sampai tahun 2024 adalah Bitcoin Halving III, di mana imbalan terhadap penambang berkurang separuh dari 12,5 BTC per block menjadi 6,25 BTC per block. Itu yang sekaligus memperlambat laju pasokan Bitcoin ke dalam pasar melalui penambang, yakni hanya 900 BTC baru setiap hari. Inflasi juga berkurang menjadi 1,8 persen per tahun.

    Namun, apakah dalam jangka panjang Bitcoin bisa menjadi raja investasi luar biasa menghadapai uang fiat bahkan emas, tidak seorang pun tahu.

    Lagipula Bitcoin belum sanggup kembali ke US$13.000 per BTC seperti pada 2019 lalu, bahkan belum juga pulih melebih US$19 ribu seperti pada Desember 2017. Dalam moment masuk ke Bitcoin Halving pada 12 Mei 2020 lalu saja, Bitcoin enggan masuk ke level US$10ribu.

    Pulih Sangat Lama

    Di kesempatan yang sama, Powell juga mengatakan bahwa ekonomi bisa pulih pada akhir tahun 201 atau ketika vaksin COVID-19 yang efektif sudah ditemukan.

    Namun, Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff, ekonom dari Universitas Harvard mengatakan kepada Bloomberg, pemulihan tidak akan berlangsung secepat itu.

    “Memang kita berharap pemulihan berbentuk grafik V, sehingga kehidupan menjadi normal sebelum ada pandemi. Namun, dalam pandangan kami tidak satu pun dari itu yang mungkin benar,” kata Reinhart.

    Mengapa? Sebab COVID-19 telah menghancurkan rantai perdagangan dan pasokan produk secara global. Dan itu akan memakan waktu lama bagi perusahaan untuk berbenah, katanya Reinhart.

    “Mungkin saja akan terjadi gesekan sosial yang fenomenal dari situasi ini. Pun secara grafik, pemulihan akan terjadi dalam bentuk huruf U, bukan V. Sulit mengatakan kapan AS bisa kembali ke PDB 2019 per kapita. Namun, melihat situasi terkini, kita akan pulih 5 tahun lagi, kata Rogoff. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alasan Kenapa Bitcoin Seharusnya Dinilai Dengan Emas, Bukan USD

    Harga Bitcoin selalu jadi perdebatan, dan menjadi lebih rumit karena dihargai dalam dolar AS. Padahal Bitcoin dan dolar AS adalah entitas yang jelas berbeda.

    Baru-baru ini, seorang pengusaha, Sylvain Saurel, memposting di medium adanya penurunan daya beli sebesar 85% atau senilai $ 1.000 dari tahun 1971 sampai tahun 2020 ini. Menurutnya, itulah sebab nilai Bitcoin cepat meningkat.

     

    “Oleh karena itu, harga Bitcoin dalam dolar AS akan cenderung meningkatkan harga Bitcoin lebih cepat karena efek dari inflasi moneter,” katanya.

    Saurel lebih menyarankan emas sebagai tolak ukur harag Bitcoin, ketimbang dolar AS. Alasannya karena emas sudah menjadi benda simpanan bernilai yang diakui selama berabad-abad, dari pada dolar AS.

    Goldprice.org menunjukkan nilai logam mulia (emas) mencapai nilai tertinggi sepanjang masa yaitu $ 2.070 / oz pada 6 Agustus tahun ini. Sementara Fed sendiri terus mencetak triliunan untuk menjaga perekonomian AS agar tidak runtuh, tapi hal ini malah menghancurkan kepercayaan investor terhadap USD sebagai mata uang cadangan.

    Baca Juga: Melirik YFI, Satu-satunya Altcoin Yang Lebih Mahal Dari Bitcoin

    Selain emas, nilai perak juga meningkat ditengah runtuhnya greenback akhir-akhir ini. Sementara Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 57% sejak awal tahun.

    Bitcoin dan emas memiliki beberapa kesamaan, diantaranya : biaya ekstraksi dan penambangan. Perbedaannya, tidak mudah memperkirakan jumlah pasokan emas sementara kuantitas Bitcoin dapat diketahui.

    Lebih lanjut Saurel menambahkan jika harga Bitcoin menggunakan emas, akan menghilangkan inflasi yang terkait dengan mata uang fiat khususnya dolar.

    Kesimpulannya, harga Bitcoin bisa naik hingga $ 50.000 pada akhir tahun 2021 mendatang, atau lebih lama dari waktu yang diperkirakan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity Siap Luncurkan Stablecoin Berbasis Dolar AS

    Fidelity Investments tengah bersiap untuk merilis stablecoin berbasis dolar AS, menandai langkah signifikan perusahaan dalam ekspansi ke sektor aset digital.

    Ekspansi ke Aset Digital

    Fidelity, perusahaan manajemen aset asal Boston, dikabarkan telah menyelesaikan tahap pengujian untuk stablecoin barunya melalui divisi aset digital khususnya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memanfaatkan teknologi blockchain dalam modernisasi sistem keuangan.

    Dikutip Benzinga, stablecoin ini dirancang untuk berfungsi sebagai uang digital di pasar kripto, mengikuti tren global yang berkembang pesat dalam penggunaan tokenisasi aset. Peluncuran ini juga beriringan dengan rencana Fidelity untuk menawarkan versi token dari dana pasar uang pada akhir Mei, bersaing langsung dengan produk serupa dari BlackRock dan Franklin Templeton.

    Regulasi dan Dampak di Pasar

    Langkah Fidelity ini terjadi di tengah perdebatan regulasi di AS mengenai penerbitan stablecoin. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, kebijakan terhadap aset kripto mulai beralih ke arah yang lebih mendukung. Trump sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap pengembangan stablecoin berbasis dolar yang sah dan mendorong regulasi terkait agar segera disahkan.

    “Kami melihat tokenisasi sebagai perubahan transformatif untuk layanan keuangan,” kata Cynthia Lo Bessette, Kepala Manajemen Aset Digital di Fidelity. Ia menambahkan bahwa aset berbasis blockchain dapat meningkatkan efisiensi pasar modal dengan mempercepat proses penyelesaian transaksi dan meningkatkan likuiditas.

    Persaingan di Industri Stablecoin

    Saat ini, lebih dari $230 miliar stablecoin beredar di seluruh dunia, sebagian besar diterbitkan oleh perusahaan luar negeri seperti Tether. Dengan masuknya lembaga keuangan berbasis AS ke dalam sektor ini, muncul alternatif yang lebih teregulasi bagi pengguna stablecoin.

    Fidelity bukan satu-satunya pemain baru di industri ini. Perusahaan seperti Ondo Finance dan Hashnote—yang didukung oleh Circle—juga tengah mengembangkan produk tokenisasi berbunga yang berfungsi sebagai agunan dalam perdagangan. Instrumen ini telah menarik simpanan lebih dari $5 miliar meski masih dalam tahap membangun likuiditas.

    Pada saat yang sama, World Liberty Financial, perusahaan kripto yang berafiliasi dengan Trump, mengumumkan rencana peluncuran stablecoin miliknya sendiri, USD1. Koin ini akan sepenuhnya didukung oleh obligasi pemerintah AS jangka pendek dan aset setara kas lainnya.

    Dengan semakin banyaknya institusi keuangan yang memasuki pasar stablecoin, persaingan untuk mendominasi sektor ini diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa bulan mendatang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com