Beberapa hari lalu muncul sebuah screenshot yang menunjukkan aplikasi dompet digital yang digunakan untuk melakukan pengujian ulang atau retestmata uang digital Bank Sentral China (CBDC). Dompet tersebut mengacu pada dompet miliki Agricultural Bank of China (ABC), salah satu dari empat bank besar di China, yang diketahui terlibat dalam percobaan Yuan Digital atau yang dikenal sebagai DCEP (Digital Currency/Electronic Payment).
Muncul juga, tautan yang mengarah pada situs abchina.com, tetapi situs tersebut kemudian hilang dan tidak dapat diakses sama sekali. Di dalam situs tersebut melampirkan alamat situs WeBank, yang merupakan saudara dari WeChat Pay, yang membuat spekulasi bahwa WeBank ikut berpartisipasi dalam pengujian tersebut.
Menurut beberapa laporan, aplikasi ini hanya akan dapat diakses oleh pelanggan dengan daftar eksklusif di empat wilayah Shenzhen, Xiong’an, Chengdu and Suzhou.
Fasilitas yang Ditawarkan
Fitur-fitur pembayaran dalam aplikasi tersebut terlihat mencakup kemampuan dalam melakukan pembayaran ritel dengan memindai sebuah barcode, mengirim uang, membuat pembayaran, dan termasuk layanan pembayaran P2P.
Dalam mengelola dompet digital tersebut, pengguna dapat mengelola dana, menautkan dompet tersebut pada akun lain, dan meninjau semua transaksi.
Sudah empat bulan sejak berita mengenai dompet digital CDBC tersebut pertama kali muncul dan tak lama setelahnya terdapat berita mengenai “pengujian internal”. Ketika berita itu diluncurkan, terdapat pernyataan mengenai persidangan yang akan melibatkan empat bank besar negara, tiga perusahaan telekomunikasi dan Huawei.
Terselip harapan bahwa WeChat Pay milik Tencent ini akan ikut berpartisipasi sebagai salah satu penyedia dompet digital yang dominan dan memiliki unit mata uang digital.
Dua bulan lalu, terdapat laporan lain menguraikan 22 perusahaan yang terlibat dalam proyek ini, termasuk delapan yang disebutkan di atas dan Tencent. Namun, daftar tersebut tidak termasuk AliPay, perusahaan pembayaran digital terbesar di Tiongkok saat ini. Padahal AliPay memiliki banyak paten berkaitan dengan mata uang digital pada bank sentral.
Akan Segera Rilis?
Baru-baru ini, muncul berita yang mengatakan bahwa pengujian mata uang digital ini sudah selesai dan tinggal menunggu perubahan pada undang-undang untuk mata uang digital ini agar dapat terus maju.
Sementara itu, pada minggu lalu, Yao Qian, seorang Direktur di Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC), menuliskan sebuah artikel terkait masalah tersebut dan memberikan pernyataan mengenai alasannya bahwa pada tingkat ritel, harus ada kompetisi dalam distribusi mata uang digital ini, dan blockchain dapat digunakan dalam area tersebut.
Pada negara-negara lain, eksplorasi terkait mata uang digital pada bank sentral juga terus dilanjutkan, meski krisis pandemi Covid-19 ini.
Dunia kripto digemparkan oleh kebijakan Play Store Google yang sempat dianggap mengancam keberadaan dompet kripto non-kustodian. Meski akhirnya dibatalkan, insiden ini membuka diskusi serius soal risiko “regulasi” yang datang bukan dari pemerintah, melainkan dari perusahaan teknologi raksasa.
Awal Mula Kebijakan yang Mengundang Protes
Google sebelumnya mengumumkan pembaruan kebijakan yang mewajibkan semua aplikasi dompet kripto memiliki lisensi resmi—seperti FinCEN Money Service Business (MSB) di AS atau lisensi MiCA di Uni Eropa—tanpa membedakan antara dompet kustodian dan non-kustodian.
Dilaporkan Cryptorank, masalahnya, dompet non-kustodian adalah perangkat lunak yang memberi pengguna kendali penuh atas kunci pribadi mereka dan tidak pernah menyimpan aset pengguna. Dengan aturan ini, banyak pengembang kecil berpotensi tersingkir dari Play Store karena persyaratan lisensi yang tidak relevan secara hukum.
Setelah menuai gelombang kritik, Google mengklarifikasi bahwa dompet non-kustodian tidak termasuk dalam cakupan kebijakan dan berjanji merevisi aturan tersebut.
Google diketahui menginvestasikan US$ 1,5 miliar ke perusahaan di industri blockchain. Foto: Bloomberg.
Di Amerika Serikat, kebijakan awal Google sejatinya akan memaksa pengembang dompet digital untuk mendaftar sebagai MSB dan pengirim uang tingkat negara bagian, atau beroperasi sebagai bank resmi. Padahal, panduan FinCEN tahun 2019 sudah tegas menyatakan bahwa dompet non-kustodian tidak termasuk kategori tersebut.
Jika diberlakukan, aturan ini akan membebankan kewajiban Anti Pencucian Uang (AML) dan Kenali Nasabah Anda (KYC) pada proyek open source yang secara hukum tidak wajib mematuhinya.
Dampak di Uni Eropa: Potensi Larangan De Facto
Di Eropa, kebijakan Google awalnya selaras dengan regulasi MiCA untuk Penyedia Layanan Aset Kripto (CASP). Namun, CASP didefinisikan sebagai entitas yang menyimpan atau menukar aset digital—yang jelas tidak relevan dengan dompet non-kustodian.
Karena lisensi MiCA tidak akan diberikan untuk perangkat lunak non-penitipan, kebijakan ini akan menciptakan larangan de facto, kecuali dompet tersebut dirilis oleh CASP berlisensi. Implikasinya, pasar akan terkonsolidasi pada pemain besar yang teregulasi.
Faktor FATF dan “Regulasi melalui Penegakan Komersial”
Kebijakan Google ini juga mencerminkan panduan FATF (Financial Action Task Force) 2021, yang mendorong interpretasi luas terhadap siapa saja yang dapat dianggap sebagai penyedia layanan aset virtual. Walau tidak mengikat secara hukum, panduan FATF punya pengaruh besar karena negara anggota berisiko terkena sanksi jika mengabaikannya.
Dengan menerapkan interpretasi ini, Google dinilai melakukan “regulasi melalui penegakan komersial”—menggunakan kekuatan pasar untuk menegakkan standar yang bahkan belum diwajibkan undang-undang.
Kenapa Penting untuk Open Source dan Privasi
Dompet non-kustodian adalah pilar kedaulatan finansial dalam dunia kripto. Ia memungkinkan pengguna bertransaksi tanpa pihak ketiga dan tanpa membocorkan data pribadi. Memaksakan lisensi kustodian pada model ini berpotensi membunuh inovasi, mengurangi pilihan pengguna, dan memusatkan kekuasaan pada segelintir entitas besar.
Kesimpulan: Kemenangan Sementara
Meski Google telah membatalkan rencana larangan ini, kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap ekosistem kripto tidak hanya datang dari regulasi pemerintah, tetapi juga dari kebijakan internal perusahaan teknologi. Ke depan, keseimbangan antara perlindungan pengguna, kepatuhan, dan kebebasan teknologi non-kustodian akan menjadi medan tarik ulur yang perlu diawasi ketat.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Perkembangan teknologi membuat pengiriman uang tidak lagi dilakukan secara konvensional. Namun saat ini, pengiriman uang sudah memanfaatkan teknologi digital.
Meskipun begitu, ada sejumlah hal yang perlu diketahui agar proses pengiriman uang menjadi lebih praktis mulai dari jaringan smartphone, keamanan, hingga memanfaatkan aplikasi kredibel. Simak ulasannya berikut!
1. Jaringan Smartphone
Memastikan jaringan smartphone stabil menjadi salah satu langkah awal yang perlu dilakukan agar transfer uang digital menjadi lebih praktis. Pasalnya, jaringan yang tidak stabil bisa membuat proses transaksi menjadi terganggu hingga batal. Untuk itu sebelum melakukan transaksi, pastikan memiliki jaringan internet yang stabil.
2. Keamanan
Memperhatikan aspek keamanan menjadi hal tidak boleh dikesampingkan. Pastikan menggunakan aplikasi transaksi yang keamanannya menjanjikan.
Selain itu, para pengguna pun perlu diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Sebab aksi kejahatan yang terjadi di dunia digital kerap terjadi karena disebabkan oleh kelalaian para penggunanya sendiri.
Untuk itu, para pengguna disarankan untuk tidak berbagi password, data pribadi, dan hal-hal penting lainnya. Serta pastikan menggunakan password yang sulit untuk ditebak.
3. Memanfaatkan Aplikasi Kredibel
Saat ini, banyak aplikasi transaksi digital yang tengah berkembang. Untuk itu, para pengguna perlu memilih aplikasi kredibel agar setiap transaksi bisa menjadi lebih aman dan nyaman.
DANA menjadi salah satu dompet digital cukup kredibel. Pasalnya DANA menyuguhkan beragam fitur untuk memberikan kemudahan transaksi para penggunanya, salah satunya fitur Kode Tunai.
Foto: DANA
Layanan tersebut menghadirkan biaya kirim uang sesama pengguna DANA bisa menikmati layanan secara gratis. Fitur ini cocok untuk berbagi uang dengan siapa saja, kapan saja, bahkan jika penerima belum memiliki akun DANA.
Cara Menggunakan Kode Tunai
Tap Kirim di Beranda DANA, lalu pilih Kirim Kode Tunai
Masukkan nomor HP penerima & jumlah uang yang mau ditransfer
Tap Bayar, lalu masukkan PIN DANA kamu
Share Kode Unik ke penerima untuk klaim uangnya.
Cara Klaim Uang dari Kode Tunai
Setelah dapat Kode Unik dari pengirim, tap link yang dibagikan
Masukkan nomor HP kamu & Kode Unik
Pilih mau klaim uangnya lewat mana: Saldo DANA, atau Rekening Bank.
Jika lewat Saldo DANA, daftar akun DANA untuk klaim uangnya
Jika lewat Rekening Bank, masukkan nomor rekening, dan pilih Bank yang mau kamu kirim.
Beragam kemudahan tersebut tentu mampu membuat transaksi keuangan menjadi lebih praktis tanpa ribet. Kirim uang kemanapun hingga beda pun makin mudah dengan menggunakan dompet digital DANA. Jadi tunggu apa lagi? Yuk download dan pakai DANA sekarang!
Masa tua sering identik dengan penurunan produktivitas, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Karena itu, menyiapkan strategi keuangan sejak dini jadi kunci agar tetap tenang dan mandiri di usia tua.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah berinvestasi. Ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan profil risiko, mulai dari emas, reksa dana, obligasi, hingga Surat Berharga Negara (SBN). Dengan pemilihan jenis investasi yang tepat, masa depan finansial Anda bisa lebih terjamin.
1. Emas
Emas dikenal sebagai aset yang relatif stabil dan tahan terhadap inflasi. Saat terjadi gejolak ekonomi, logam mulia ini justru sering mengalami kenaikan harga karena dianggap sebagai aset lindung nilai. Hal ini membuat emas tetap relevan untuk investasi jangka panjang.
Kini, investasi emas pun semakin mudah dijangkau. Selain membeli emas fisik, masyarakat juga bisa berinvestasi lewat tabungan emas maupun emas digital dengan harga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. Fleksibilitas ini menjadikan emas sebagai pilihan populer di kalangan investor.
2. Reksa Dana
Reksa dana merupakan instrumen investasi yang praktis dan cocok untuk pemula karena dikelola oleh manajer investasi. Investor cukup menanamkan modal, sementara pengelolaan portofolio akan dilakukan oleh pihak profesional. Modal awal yang dibutuhkan pun relatif kecil, mulai dari Rp100 ribu saja.
Instrumen ini hadir dalam berbagai jenis, mulai dari reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, hingga syariah. Dengan variasi tersebut, investor dapat memilih produk yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangannya.
3. Obligasi
Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah maupun perusahaan dengan imbal hasil berupa kupon. Investor akan menerima bunga secara rutin hingga jatuh tempo, sehingga instrumen ini menarik bagi mereka yang mencari pendapatan stabil. Risikonya pun lebih rendah dibandingkan saham.
Jenis obligasi juga cukup beragam, mulai dari kupon tetap, kupon variabel, hingga zero coupon. Pemerintah bahkan menawarkan produk ritel seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang bisa dibeli masyarakat. Dengan karakteristik tersebut, obligasi menjadi alternatif bagi investor yang ingin keuntungan lebih tinggi dibanding tabungan biasa atau deposito.
4. SBN
Surat Berharga Negara (SBN) adalah instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai APBN dan pembangunan nasional. Produk ini mencakup Surat Utang Negara (SUN) serta Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk. Dengan modal mulai Rp1 juta, masyarakat sudah bisa berpartisipasi dalam pembelian seri ritel.
Keunggulan SBN sendiri terletak pada keamanannya karena pembayaran pokok dan imbal hasil dijamin negara. Tingkat imbalannya juga kompetitif dengan pembayaran rutin setiap bulan. Selain memberi keuntungan, membeli SBN berarti ikut mendukung pembangunan Indonesia.
Supaya investasi makin cuan, dompet digital DANA menghadirkan promo menarik sepanjang 1-31 Agustus 2025. Ada diskon hingga Rp 80 ribu untuk transaksi emas, reksa dana, obligasi, e-SBN, dan isi saldo DANA+. Tak ketinggalan, ada juga diskon 80% untuk asuransi Xtra Protection yang bisa melindungi seluruh aset investasi.
Berikut daftar promonya:
Beli emas di DANA dapat voucher eMAS sampai Rp80 ribu untuk pembelian kedua.
Investasi Reksa Dana di DANA diskon sampai Rp80 ribu.
Isi Saldo DANA+ diskon sampai Rp80 ribu.
Investasi e-SBN di DANA cashback sampai Rp80 ribu.
Investasi obligasi di DANA cashback sampai Rp80 ribu.
Beli asuransi Xtra Protection di DANA diskon sampai 80%.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, manfaatkan promo investasi di DANA sekarang juga dan bikin rencana keuanganmu lebih siap untuk masa depan.
Tonton juga video “Reksadana Jadi Opsi Terbaik Untuk Investor Pemula Di Kondisi Market Saat Ini” di sini: