Tag: eksekusi

  • Tips Pilih Kitchen Set Anti Jamur dan Rayap, Dijamin Tahan Lama



    Jakarta

    Saat ini kitchen set merupakan komponen yang hampir ditemukan di setiap dapur. Kitchen set dapat membuat tampilan dapur jauh lebih rapi dan memiliki ruang penyimpanan yang luas.

    Namun, kitchen set ini tidak dapat dibeli sembarangan karena ukurannya harus disesuaikan dengan luas dapur, jumlah yang diperlukan, hingga material yang ingin dipakai. Dalam kata lain, kitchen set merupakan barang yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Lantas, bagaimana cara memilih kitchen set yang sesuai dengan keinginan dan tahan lama?

    Tips Pilih Kitchen Set yang Cocok buat di Dapur

    Menurut manajer FurnitureMu Sidiq saat membeli kitchen set konsumen harus berkonsultasi terlebih dahulu. Seperti yang disebutkan sebelumnya, setiap rumah memiliki ukuran dan bentuk dapur yang berbeda. Setidaknya konsumen mengetahui luas ruangan, terutama ruang kosong yang hendak diisi dengan kitchen set.


    Setelah itu, dari pihak pembuat atau desainer interior akan datang ke rumah untuk melihat secara langsung dan menanyakan konsep kitchen set seperti apa yang diinginkan konsumen.

    “Harus survey lokasi mengukur ruangan, berkomunikasi dengan konsumen maunya seperti apa. Kemudian kita buatkan desain dan kita konsultasikan ke konsumen apakah sudah sesuai atau ada revisi jika sudah sesuai, buat gambar kerja lalu eksekusi,” kata Sidiq saat dihubungi detikProperti pada Selasa (21/5/2024).

    Pada saat konsultasi, konsumen bisa menanyakan apa saja, seperti bahan yang paling direkomendasikan atau pilihan bahan kitchen set yang bagus tetapi masuk dengan jumlah modal yang dimiliki.

    Apabila ingin mendapat rekomendasi sebelum bertemu dengan produsen, Sidiq mengatakan bahan kitchen set yang disarankan olehnya adalah multiplek finishing HPL. Bentuk material ini mirip dengan penampakan kayu, tetapi sebenarnya ini bukan kayu asli. Kisaran harga mulai dari Rp 1,7-1,8 juta per meter.

    Sidiq mengungkapkan kitchen set dari bahan kayu saat ini sudah terlindungi dari risiko lembap karena barang tersebut akan dipasang dengan jarak aman dari sumber panas. Meskipun kitchen set terkena hawa panas saat memasak, kualitasnya tetap terjaga.

    “Sebetulnya tidak terlalu karena pemasangan kitchen set biasanya jarak antar kabinet bawah dan atas sudah disesuaikan sehingga risiko terkena panas dan air bisa dikurangi,” jelasnya.

    Sidiq menyarankan material lain agar konsumen lebih tenang dari serangan jamur dan rayap, yakni PVC board yang terbuat dari bahan plastik polyvinyl chloride dan material aluminium.

    “Untuk bahan PVC board dan aluminium cocok digunakan bagi konsumen yang tidak ingin memiliki masalah dengan jamur dan rayap, namun dari segi harga juga berbeda. Bahan dari PVC board dinilai lebih mahal dari kedua bahan yang lain,” sebutnya.

    Setelah memilih bahan dan bentuknya termasuk bentuk penyimpanan di dalam lemari, kitchen set akan dibuat dan dipasang di dapur.

    Demikian tips dan penjelasan mengenai cara memilih kitchen yang pas di dapur. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Sejarah Kelam Jembatan Bantengan, Jadi Lokasi Eksekusi Mati Anggota PKI



    Klaten

    Sebuah jembatan di Kecamatan Karanganom, Klaten, yang menyimpan sejarah kelam tentang tragedi Gerakan 30 September 1965 (G 30 S). Bagaimana kisahnya?

    Jembatan Bantengan begitulah warga mengenalnya. Menurut warga sekitar, dulu ada sejumlah orang yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dieksekusi mati di jembatan itu.

    Jembatan Bantengan berada di jalan Klaten-Karanganom, tepatnya di perbatasan Desa Tarubasan dan Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom. Jembatan itu panjangnya sekitar 30 meter, berada di jalan yang menurun.


    Sekitar jembatan itu merupakan lahan pertanian dan di tepi sisi utaranya digunakan untuk tempat pembungan sampah (TPS). Aspal di jembatan itu terbilang mulus.

    Salah satu warga sekitar, BN (75) mengatakan Jembatan Bantengan dulunya jembatan sesek dari bambu dan kayu. Setelah meletus tragedi G 30 S, dia bilang para tokoh PKI diangkut ke jembatan itu menggunakan truk.

    Nggih ngertos, kulo pun pemuda, lahir 1949 dan gegernya itu 1965. Nggih ngge nembaki ten kidul mriko (Ya tahu, saya sudah pemuda, lahir tahun 1949, dan geger PKI itu 1965. Yang untuk menembaki PKI di selatan sana),” ucap BN, Senin (30/9/2024) siang.

    Nggih (ya) tentara. Tapi sinten mawon yang ditembak mboten ngertos (tapi siapa saja yang ditembak saya tidak tahu). Bukan warga sini, tapi tokoh-tokohnya (PKI),” sambung dia.

    BN mengingat, para tahanan itu biasanya dibawa ke jembatan saat sore hari. Sebelumnya, warga sekitar sudah diberi pengumuman akan ada eksekusi mati di jembatan itu.

    “Sore, sore warga sudah diberitahu, lalu sini penuh orang. Setelah ditembak ditinggal di lokasi. Paginya warga PKI sekitar sini yang menyerah diminta mengubur,” ujar BN.

    Menurut BN, ada sekitar 127 orang yang ditembak mati di jembatan itu. Truk yang membawa para tahanan PKI itu datang dari arah kota Klaten.

    Saking mriko (dari sana, arah selatan). Mayatnya ya dikubur di situ, pokoknya itu terjadi habis Jakarta mbledhos (meletus G 30S),” kata BN.

    BPD Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Kusdiyono membenarkan ada cerita tentang jembatan itu dulu untuk menembaki para tokoh PKI.

    “Dibawa dengan truk oleh tentara, siapa dan orang mana tidak ada yang tahu. Bukan warga sini,” kata Kusdiyono.

    Jembatan Bantengan, sebut Kus, dulunya jembatan sesek bambu. Setelah digunakan untuk mengubur orang-orang PKI, jembatan itu kemudian dibangun.

    “Setelah kejadian itu baru diloning tembok. Saat banjir besar ada tulang-tulang yang hanyut dulu,” kenang Kusdiyono.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Penampakan Gedung Tempat Orang Majalengka Dihukum Gantung



    Majalengka

    Ada satu gedung bersejarah di Majalengka. Gedung itu bernama Gedung Juang, di sini lah orang-orang dijatuhi hukuman gantung pada zaman kolonial Belanda.

    Kabupaten Majalengka menyimpan banyak tempat bersejarah. Salah satunya adalah Gedung Juang. Lokasinya berada di kawasan kantor DPRD Majalengka. Gedung ini memiliki peran penting pada masa penjajahan Belanda.

    “Gedung Juang Majalengka dibangun sekitar tahun 1860-an pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, dibangun bersamaan dengan pendopo,” kata penikmat sejarah sekaligus Ketua Yayasan Galur Rumpaka Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana atau akrab disapa Naro, Senin (10/3/2025).


    Menurut Naro, gedung ini dibangun sebagai kantor Asisten Residen Keresidenan Cirebon. Oleh karena itu, dulunya, gedung ini dikenal sebagai gedung AR (Asisten Residen).

    “Gedung Juang adalah kantor sekaligus rumah dinas Asisten Residen. Kantor ini adalah tempat berkantornya sekaligus rumah dinas dari Asisten Residen sebagai perwakilan Residen Cirebon yang ditempatkan di Majalengka,” jelas Naro.

    “Pada 1860, Asisten Residen Majalengka yang pertama ditugaskan adalah J.J Meider. Saat itu, Residen Cirebon dipegang oleh Kein Van Der Poll,” sambungnya.

    Gedung ini tidak hanya berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Namun juga dikenal sebagai tempat eksekusi bagi para pribumi yang dianggap melawan pemerintahan Belanda.

    “Gedung asisten residen, katanya, kata orang tua dulu itu sebagai landraad, atau tempat mengeluarkan hukuman atau melakukan eksekusi,” ujar Naro.

    Di masa itu, hukuman gantung sering dilakukan di depan gedung ini sebagai peringatan bagi masyarakat.

    “Banyak orang yang digantung di depan di situ. Pengeksekusian itu hukum digantung. Orang-orang pribumi yang bersalah ya digantung di situ,” ucap Naro.

    Selain menjadi simbol kekuasaan kolonial, Gedung Juang juga menjadi saksi perjuangan rakyat Majalengka. Di masa perang kemerdekaan tahun 1945, gedung ini sempat diduduki oleh para pejuang Majalengka, meskipun akhirnya kembali direbut oleh Belanda.

    “Memasuki pendudukan tentara Jepang, kemudian beralih lagi masa agresi militer Balenda, banyak pejuang Majalengka yang tertangkap dan mengalami penyiksaan berat di Gedung AR (atau Gedung Juang). Bahkan para pejuang yang dieksekusi tak tahu rimbanya, makamnya di mana,” beber Naro.

    Gedung Ini Nyaris Hancur Dibom Jepang

    Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, gedung ini hampir dihancurkan oleh bom. Namun bom tersebut tidak meledak.

    “Waktu zaman Jepang itu pernah mau dibom, dihancurkan. Cuman katanya si bomnya mati. Alhamdulillah selamat sampai sekarang,” tutur Naro.

    Singkat cerita pada tahun 1945, gedung ini dijadikan Kantor Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), yang berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

    Sebelumnya, lembaga ini dikenal sebagai Regenscaftraad dan College van Gecomitterden, yang dibentuk oleh Bupati Majalengka RMAA Suriatanudibrata, yang menjabat dari tahun 1922-1944.

    Tidak berhenti di situ, gedung tersebut juga menjadi basis penting saat pasukan gerilya Indonesia kembali dari perlawanan di pegunungan pada tahun 1949.

    Gedung ini kemudian menjadi markas bagi Komando Militer Distrik (KMD), yang dipimpin oleh Lettu M. Challil. Gedung ini juga lalu berubah menjadi PDM (Pos Distrik Militer).

    “Setelah pasukan gerilya kembali turun gunung dan menempati pos pertahanan di Majalengka, tahun 1949 di Gedung AR berdiri KMK/KMD yang dipimpin oleh Lettu M. Challil, yang kemudian berganti PDM. Dan sekarang markas TNI itu menjadi Kodim 0617 Majalengka yang bermarkas di Tonjong,” ucapnya.

    Gedung ini, kini masih berdiri sebagai pengingat sejarah kelam penjajahan, serta simbol perjuangan rakyat Majalengka yang tak pernah padam. Gedung Juang saat ini masih digunakan sebagai kantor beberapa organisasi, seperti PEPABRI, FKPPI, PP Polri, PPAD, PPM dan Grumala.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Bekas Tempat Eksekusi, Ini Pulau di Jakarta yang Paling Ditakuti



    Jakarta

    Satu-satunya bank terapung dunia, Teras BRI Kapal berlayar ke berbagai pulau di Nusantara. Mereka tentu punya pengalaman berbeda dari pekerja bank lainnya.

    Teras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ melayani inklusi keuangan di Kepulauan Seribu. Setiap minggu, mulai Senin-Jumat, kapal ini bergantian ke lima pulau yaitu Pramuka, Panggang, Kelapa-Harapan, Tidung dan Untung Jawa.

    Setiap pulau memiliki cerita yang berbeda, termasuk kisah yang membuat bulu kuduk merinding, bahkan masa lalu kelam Indonesia. Saat berlayar ke Pulau Panggang bersama bank terapung BRI, detikTravel mendengar langsung tentang seramnya Pulau Karya.


    Pulau ini berada tepat di seberang dermaga Pulau Panggang. Saat Bahtera Seva I bersandar di dermaga, satu sisi kapal otomatis menghadap ke pulau itu. Jaraknya tak sampai satu kilo.

    Teras BRI KapalTeras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ Foto: (bonauli/detikcom)

    Salah satu mantri BRI yang bernama Ryan (35) mendapat jadwal ke pulau itu. BRI memiliki dua tim yang bergantian untuk melayani ke Pulau Seribu, tim ini akan berganti setiap minggu.

    Ia bercerita bahwa pernah sekali waktu ia masih terjaga sampai pukul 01.30 WIB. Masih asyik dengan telepon genggamnya, sayup-sayup ia mendengar suara berupa ketokan di dinding kamar.

    Beberapa ketukan ia abaikan. Ia masih terpaku dengan layar handphone. Namun kali kedua, jantung Ryan seakan berhenti berdetak.

    “Kamar itukan posisinya menghadap ke laut Pulau Karya. Langsung tahu, nggak bener nih. Langsung tidur saat itu,” kenangnya sambil memeragakan di depan kru kapal.

    Yang lain ikut menimpali sambil tertawa, mereka belum pernah merasakan pengalaman yang horor, tapi sering mendengar cerita-cerita gaib dari warga Pulau Panggang.

    “Iya, tau pulau itu horor,” kata yang lain bersahutan.

    Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

    detikTravel bertanya langsung pada seorang warga asli Pulau Panggang, Sopyan Hadinata (38). Leluhurnya termasuk tokoh agama terpandang di pulau itu.

    Iyan (sapaan akrab) mengakui bahwa Pulau Karya memang angker. Sejak dulu, ia sudah mendengar cerita-cerita horor sampai jadi terbiasa dengan hal itu.

    “Dulu itu bilangnya tempat buat latihan menembak tentara. Jadi warga nggak boleh ke sana kalau ada latihan,” katanya memulai cerita.

    Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

    Sebelum jadi pulau khusus pemakaman (TPU) seperti sekarang ini, Pulau Karya hanyalah hutan belantara. Ada berbagai macam tumbuhan, buah-buahan dan tentu saja pantai yang indah sana.

    “Di era pemerintahan Soeharto itu, kalau ada tentara yang ke sana warga langsung tahu mau ada latihan menembak. Karena orang tua kita zaman dulu banyak juga yang jadi pahlawan, mereka bilang kita harus hormat sama tentara,” katanya.

    Mandat untuk menjauhi pulau saat ada tentara tidak pernah dilanggar oleh warga Pulau Panggang. Yang mereka tahu, suara tembakan selalu terdengar saat tentara tiba. ‘Oh sedang latihan’, pikiran itu akan otomatis muncul tanpa kecurigaan. Dua atau tiga kapal tentara muncul jika waktu ‘latihan’ tiba.

    Sampai kerusuhan tahun 1998 terjadi. ‘Latihan menembak’ semakin sering, barulah warga sadar apa arti letusan bedil, yaitu eksekusi. Lalu terbentuklah reformasi dan ‘latihan menembak’ tak pernah terjadi lagi.

    Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

    Iyan tidak ingat jelas kapan, tapi sekitar tahun 2000-an, pembangunan Pulau Karya dimulai. Warga bahu-membahu membantu pembangunan rumah dinas untuk pejabat dan unit lainnya seperti polres dan pemadam kebakaran.

    Saat menggali tanah, ditemukan puluhan tengkorak. Tak ada identitas, hanya tulang belulang. Masa lalu Pulau Karya terkuak, diceritakan turun-temurun sampai sekarang.

    “Orang sini udah nggak asing lagi sama cerita horor. Dulu polisi sering cerita digangguin kalau tidur. Tadinya tidur di dalem kantor, bangun-bangun udah ada di luar,” ungkapnya.

    Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

    Tak hanya polisi, narapidana yang dikirim ke Pulau Karya juga merasa sengsara. Kata Iyan, jumlah napi seringkali bertambah, mereka terus minta pindah karena diganggu oleh makhluk halus.

    “Pernah mereka lagi tidur, terus dinampakin ada jari-jari segede pisang ambon. Pokoknya digangguin terus sampai mereka bilang lebih mending di Cipinang daripada di sini,” jawabnya.

    Iyan sendiri pernah mengalaminya langsung. Bapak beranak empat itu ingat betul dirinya membawa lima teman kampus UNINDRA untuk kemping di Pulau Karya. Sebelum kemping, Iyan mengajak teman-temannya untuk ziarah, meminta izin untuk masuk ke pulau.

    Lelaki lulusan Teknik Informatika itu mengatakan ada sebuah aturan untuk bisa kemping di sana. Mereka tidak boleh berkata kasar dan berbuat mesum saat kemping. Teman-temannya mengiyakan.

    “Setelah puas main di pantai, mereka kecapean lalu tertidur di tenda,” katanya.

    Dua perempuan dan tiga pria tentu membuat kemah cukup sesak. Tak mau mengganggu temannya yang kelelahan, Iyan pun ngungsi ke rumah dinas pemadam kebakaran.

    Tak berapa lama angin kencang muncul, awan gelap seakan jadi pertanda akan hadirnya badai. Iyan khawatir akan teman-temannya. Dari ujung pulau ke ujung satunya, ia berlari untuk mendapati kawan-kawannya.

    “Saya kaget, kok mereka udah nunggu di dermaga. Pas saya tanya, mereka jawab ‘kan tadi kamu udah bangunin katanya suruh siap-siap’,” ucapnya.

    Dalam hati Iyan paham, yang tadi datang bukan dirinya. Namun makhluk gaib yang menyerupai dirinya. Tak ingin membuat temannya panik, ia kemudian membawa mereka pulang ke Pulau Panggang.

    “Di sini itu udah biasa, pokoknya kita hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu, itu aja,” pungkasnya.

    Teras BRI Kapal terjadwal hadir di Pulau Panggang setiap Selasa. Pulau pemukiman dengan penduduk terpadat di Pulau Seribu itu memiliki jumlah penduduk 6.260 jiwa menurut sensus tahun 2017. Berbeda dengan pulau-pulau lainnya yang sangat erat dengan kegiatan pariwisata, Panggang murni pemukiman. Kebanyakan nasabah BRI yang melakukan transaksi di kapal terapung berupa setoran tabungan, peminjaman, pembuatan tabungan dan penarikan ATM.

    (bnl/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Sejarah Gedung Juang Majalengka, Pernah Jadi Tempat Orang Dihukum Gantung


    Jakarta

    Gedung Juang Majalengka adalah bukti sejarah masyarakat setempat sejak era penjajahan hingga sekarang. Sekaligus menjadi destinasi wisata saat liburan.

    Gedung itu menjadi saksi bisu kejamnya penjajah di masa pendudukan Belanda, Jepang. Hingga kemudian, Indonesia merdeka.

    Masyarakat Majalengka dan sekitar masih bisa menyaksikan Gedung Juang tanpa perlu membayar tiket masuk. Gedung Juang juga terletak di pusat kota sehingga tidak terlalu jauh diakses masyarakat atau pengunjung dari lain daerah.


    Lokasi Gedung Juang Majalengka

    Destinasi wisata sejarah ini berada di Jl. Letkol Abdul Gani Nomor 5, Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Bangunan ini berada di areal DPRD Kabupaten Majalengka dan tidak jauh dari kantor Dinas Pendidikan.

    Sejarah Gedung Majalengka

    Pemerhati sejarah sekaligus Ketua Yayasan Galur Rumpaka Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana yang akrab disapa Naro, menjelaskan perjalanan Gedung Majalengka dalam wawancaranya dengan detik jabar.

    1. Era Belanda

    Situs sejarah ini awalnya adalah kantor sekaligus rumah dinas Asisten Redaksi sehingga disebut Gedung AR. Asisten Redaksi adalah wakil dari karesidenan Cirebon yang ditempatkan di Majalengka. Pada 1860, Asisten Residen Majalengka pertama adalah JJ Meider.

    Gedung AR kala itu digunakan juga sebagai lokasi ekskusi hukuman mati. Warga Indonesia yang ditetapkan menerima sanki mati akan digantung di Gedung AR disaksikan publik. Pelaksanaan hukuman gantung menjadi peringatan bagi masyarakat umum.

    “Kata orang tua, Gedung AR itu dulunya landraad atau tempat melakukan eksekusi. Pengeksekusian itu hukum digantung. Orang-orang pribumi yang bersalah digantung di situ,” ujar Naro.

    2. Era Jepang

    Ketika Jepang masuk Indonesia di tahun 1942, Gedung AR menjadi lokasi penahanan para pejuang Indonesia. Pejuang yang tertangkap mengalami siksaan berat hingga meninggal di Gedung AR. Jasad dan kuburan para pejuang tersebut tidak diketahui hingga kini.

    Menurut Naro, Gedung AR hampir dihancurkan dengan bom di masa pendudukan Jepang. Namun bomnya dikabarkan mati sehingga rencana tersebut gagal. Sebagai hasilnya, Gedung AQ masih berdiri tegak hingga kini.

    3. Era kedatangan Belanda kembali

    Belanda kembali datang ke Indonesia pada 29 September 1945. Kedatangan Belanda dalam topeng Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dan sekutu bertujuan melucuti senjata Jepang.

    Belanda bermaksud merebut kembali Indonesia yang saat itu sudah menyatakan kemerdekaannya. Saat itu, Belanda merebut kembali Gedung AR yang sudah diduduki pejuang Indonesia.

    4. Era merebut kemerdekaan pada 1945

    Selama perang kemerdekaan, Gedung AR menjadi saksi perjuangan masyarakat Majalengka. Pada 1945, Gedung AR menjadi Kantor Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) yang berfungsi layaknya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

    KNID dulunya dikenal sebagai Regenscaftraad dan College van Gecomitterden. Lembaga ini dibentuk Bupati Majalengka RMAA Suriatanudibrata, yang menjabat dari tahun 1922-1944.

    5. Selepas meraih kemerdekaan

    Gedung AR menjadi basis penting pasukan gerilya yang kembali dari perang di pegunungan pada 1949. Kemudian, Gedung AR menjadi markas Komando Militer Distrik (KMD) yang dipimpin Lettu M. Challil. Gedung ini juga sempat menjadi kantor Pos Distrik Militer (PDM).

    Seiring waktu, Gedung AR menjadi Gedung Juang yang menjadi pengingat perjalanan dan keberanian masyarakat Majalengka. Gedung Juang sempat menjadi kantor PEPABRI, FKPPI, PP Polri, PPAD, PPM dan Grumala. Jika detikers jalan-jalan ke Majalengka, jangan lupa untuk mengungjungi Gedung Juang Majalengka.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tips Foto Kurban Pakai Smartphone Biar Estetik dan Aman


    Jakarta

    Penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha menjadi momen menarik untuk dijepret. Darah kental yang berwarna merah dan rasa pasrah hewan kurban, pisau jagal yang super tajam dan tetesan keringat petugas saat membekap hewan pada detik-detik eksekusi.

    Semuanya menjadi momen yang sangat menarik, penuh drama dan menggugah emosi. Setidaknya secara visual, semuanya bisa dieksplorasi menjadi foto yang teatrikal. Akan tetapi, sebagai fotografer tentu terikat asas kepatutan.

    Beberapa foto yang pernah dihasilkan sampai memperlihatkan lelehan darah merah segar dan menyulut kontroversi. Juga wajah iba dan memelas hewan korban yang di-capture begitu close up sehingga menimbulkan tafsiran berbeda-beda.


    Apalagi kalau foto tersebut diunggah ke media sosial dan menjadi konsumsi publik, maka persoalan kepatutan tersebut perlu diperhatikan. Yakni bagaimana memotret proses ritual tersebut dengan wajar dan tidak dilebih-lebihkan.

    Pertama, juru potret bisa mengesampingkan emosi pembantaian dan kekerasan dalam foto-foto yang dihasilkan. Meski pada praktiknya tidak ada sama sekali praktik sadisme bahkan hewan tersebut disembelih di bawah kalimat takbir, namun bahasa foto mempunyai keterbatasan dan multitafsir.

    Sehingga, tanpa menghilangkan fakta, ada baiknya memotret hewan kurban tanpa perlu mengeksploitasi secara berlebihan. Buatlah foto-foto yang soft. Tidak secara vulgar memotret eksekusi dengan menampilkan tetesan darah yang mempunyai kesan berbeda bagi tiap-tiap individu.

    Kedua, kalaupun itu perlu ditampilkan, ada baiknya membuatnya menjadi format Hitam-Putih. Sehingga darah merah menjadi tidak begitu mencolok.

    Ketiga, pergunakan bahasa simbol yang relevan. Misalkan dengan foreground pisau jagal yang masih bersih dengan foreground hewan korban yang masih berdiri tegak. Atau bisa dengan memotret tanduknya saja setelah semua prosesi selesai.

    Keempat, hindari ekpresi foto yang sadistik. Misalkan wajah memelas hewan korban dengan anak-anak kecil yang bersorak-sorai. Beberapa foto di social media bahkan bisa bernilai sadis yakni menenteng kepala hewan. Kalaupun perlu dipotret, simpanlah untuk konsumsi pribadi saja.

    Kelima, jangan lupa pasca penyembelihan itu penting. Yakni proses kebersamaan saat memotong-motong daging, membagi dan memasaknya. Kalau perlu, kebersamaan kuliner yang ditonjolkan. Banyak sekali variasi kuliner dari daging sapi, kerbau atau kambing yang diwariskan dari nenek moyang. Tidak melulu sate dan sate.

    Dampak positifnya bisa membuat kesan bahwa Idul Adha merupakan proses berbagi dan bersyukur sebagai umat manusia. Selamat Hari Raya Idul Adha.

    (fyk/fyk)



    Sumber : inet.detik.com

  • Flick Akui Barca Tak Pantas Menang Lawan Rayo


    Jakarta

    Hansi Flick tidak mau mencari-cari alasan usai Barcelona diimbangi Rayo Vallecano. Flick mengakui Barcelona memang pantas dapat satu poin.

    Laga Rayo vs Barcelona di pekan ketiga LaLiga digelar di Estadio de Vallecas, Senin (1/9/2025) dini hari WIB. Barcelona pulang dengan satu poin usai seri 1-1.

    Lamine Yamal membawa Barcelona unggul pada menit ke-40 lewat sebuah eksekusi penalti. Penalti ini sempat menimbulkan kontroversi setelah VAR tidak berfungsi untuk meninjau kembali insiden antara Pep Chavarria dan Yamal, yang berujung wasit menunjuk titik putih.


    Rayo kemudian membalas lewat gol Fran Garcia pada menit ke-67. Di sisa waktu pertandingan, Rayo beberapa kali menciptakan peluang, tapi Joan Garcia tampil prima di bawah mistar gawang Barcelona untuk menggagalkan kemenangan tuan rumah.

    Flick mengakui permainan Barcelona di bawah level yang ia inginkan. Hasil seri menurutnya memang pantas untuk Barcelona.

    “Saya kira satu poin cukup bagus. Kami tidak pantas dapat lebih,” ujar Flick seperti dilansir Football Espana.

    “Joan Garcia, Eric (Garcia), dan (Andreas) Christensen bagus. Masalahnya di lini tengah dan depan. Kami bikin banyak banget kesalahan.”

    “Saya tidak senang dengan tim saya. Kami tidak main bagus,” lanjutnya.

    “Kami tidak main dengan ketajaman yang seperti biasanya, kami tidak mendominasi seperti yang seharusnya, dan kami membuat banyak kesalahan. Ketika Anda main melawan tim yang tampil bagus, Anda harus main dengan cara berbeda dan tidak bikin banyak kesalahan, kami seharusnya main lebih baik,” kata Flick.

    Hasil ini menghentikan laju sempurna Barcelona di LaLiga. Blaugrana kini ada di peringkat keempat klasemen Liga Spanyol dengan tujuh poin dari tiga laga.

    (nds/rin)



    Sumber : sport.detik.com

  • Madrid Cuma Menang Tipis Lewat Penalti, Alonso Bilang Begini


    Jakarta

    Real Madrid memulai musim dengan kemenangan tipis atas Osasuna. Los Blancos menang 1-0 lewat eksekusi penalti Kylian Mbappe.

    Madrid menjamu Osasuna pada pekan pertama LaLiga 2025/2026, Rabu (20/8/2025) dini hari WIB. Meski dominan, tuan rumah dibikin frustrasi dan baru mencetak gol pada menit ke-51 lewat penalti.


    Tim besutan Xabi Alonso itu menguasai bola sebanyak 71% dan melepaskan 18 tembakan, dengan lima yang on target. Tapi lawan yang menumpuk pemain di pertahanan bikin mereka kesulitan mendapatkan celah yang bagus.

    Alonso mengakui timnya masih belum menemukan ritme permainan yang tepat karena baru memulai pramusim dua pekan terakhir. Itu pula yang membuat mereka kesulitan membongkar pertahanan Osasuna.

    “Ada hal-hal bagus dan hal-hal lain yang perlu ditingkatkan. Setelah dua pekan pramusim, jalan kami masih jauh,” ungkap Alonso di laman resmi klub.

    “Menurut saya kami bermain rapi, tapi kurang tenang di sepertiga akhir. Menghadapi pertahanan blok rendah kami agak kesulitan untuk menciptakan peluang bersih atau untuk mengusik pertahanan mereka.”

    “Saya yakin dengan hal-hal baik dan buruk ini, kami akan berkembang dan menemukan ritmenya. Kami punya dua pertandingan lagi sampai jeda (internasional) dan kami ada di fase penyempurnaan itu. Kemenangan memberi Anda ketenangan untuk terus melangkah, tentu saja,” imbuhnya.

    (raw/rin)



    Sumber : sport.detik.com