Tag: El Salvador

  • El Salvador Rilis UU Hapus Pajak Inovasi Teknologi, Bullish untuk Bitcoin?

    Nayib Bukele, presiden El Salvador baru-baru ini menandatangani undang-undang yang menghapus pajak atas inovasi teknologi di negara tersebut. Kebijakannya diklaim bisa menjadi sentimen pendorong untuk bullish Bitcoin.

    Bukele yang merupakan pendukung Bitcoin mengungkap Undang-undang Insentif Manufaktur Inovasi dan Teknologi (ITMI) bisa membuat spektrum yang luas dari sektor-sektor di mana penghapusan pajak sepenuhnya berlaku.

    Sementara negara-negara seperti pemerintahan AS menginginkan pembayaran pajak yang tinggi untuk inovasi teknologi, seperti penambangan aset kripto, undang-undang baru ini dapat menarik banyak perusahaan yang berfokus pada inovasi, yang akan membawa pembangunan bagi negara.

    El Salvador Dorong Inovasi Teknologi

    Baca juga: Daftar Pemegang Aset Kripto Bitcoin Paling Banyak di Dunia

    Nayib Bukele menggunakan akun Twitter resminya pada 4 Mei 2023, untuk mengatakan bahwa dia menandatangani undang-undang baru untuk memastikan bahwa pajak atas properti, pendapatan, keuntungan modal, tarif impor, perangkat lunak dan pemrograman aplikasi, AI, manufaktur perangkat keras komputer dan komunikasi adalah benar-benar dihapus maju.

    Undang-undang yang ditandatangani ITMI telah dalam pengerjaan, sejak Maret 2023, ketika presiden El Salvador itu memperjelas niatnya untuk memperkenalkan undang-undang untuk melindungi kemajuan teknologi inovatif di negara tersebut.

    Mengikuti niatnya, undang-undang diteruskan ke Kongres untuk menghapuskan pajak atas inovasi teknologi di negara tersebut.

    Undang-undang yang baru ditandatangani ini hanyalah salah satu dari banyak upaya yang telah didorong oleh presiden El Salvador untuk pertumbuhan dan perkembangan teknologi di negara tersebut.

    Regulasi Kripto

    koin bitcoin
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Pasar Kripto Berhasil Bangkit Setelah Gerak Liar Sepekan Terakhir

    Pada Januari 2023, laporan Forbes India memuat berita yang menyatakan bahwa El Salvador telah menetapkan kerangka hukum dan proses untuk menerbitkan obligasi yang didukung Bitcoin, juga dikenal sebagai “Volcano Bonds.”

    Obligasi yang didukung Bitcoin El Salvador didorong ke depan untuk pembayaran utang negara, mengembangkan infrastruktur penambangan Bitcoin dengan mendanai pembangunan proyek yang dijuluki Kota Bitcoin untuk meningkatkan upaya penambangan kripto yang berkelanjutan.

    Undang-undang yang ditandatangani oleh Nayib Bukele hari ini dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan teknologi El Salvador sebagai sebuah negara dan untuk perusahaan manufaktur, teknologi, dan kripto yang beroperasi di negara tersebut. Sementara AS baru-baru ini mengusulkan pajak 30 persen untuk operasi penambangan kripto, El Salvador terus mempromosikan ekosistem inovasi teknologi yang berkembang pesat.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Tingkatkan 95% Ekonomi Pariwisata El Salvador

    Presiden El Salvador, Nayib Bukele, menyatakan dampak dari melegalkan Bitcoin (BTC) sebagai mata uang meningkatkan pendapatan ekonomi pariwisata sebesar 95%. Menurutnya hal ini sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi El Salvador.

    Melihat ke belakang,Nayib Bukele meluncurkan proposal pada 5 Juni 2021, yang menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di negara El Savador. Akibatnya, El Salvador menjadi negara pertama yang menerima Bitcoin sebagai mata uang resmi.

    Itu diakui secara luas sebagai pertama kalinya suatu negara menggunakan mata uang digital yang mudah berubah sebagai alat pembayaran yang sah. Namun, banyak yang mengecam langkah Bukele, menyatakan bahwa hal itu akan menyebabkan meningkatnya pencucian uang dan perilaku terlarang.

    Tingkatkan Pariwisata

    Dilaporkan Watcher Guru, Bukele memiliki pendapat berbeda mengenai hal ini, karena dia baru-baru ini berbicara tentang berbagai hal, termasuk manfaat melegalkan Bitcoin, dalam wawancaranya baru-baru ini di “Tucker Carlson Today”. Salah satu manfaat utama yang disorot Bukele adalah lonjakan pariwisata yang terlihat di El Savador.

    Ilustrasi El Savador adopsi pembayaran dengan Bitcoin.
    Ilustrasi El Salvador adopsi pembayaran dengan Bitcoin. Foto: BuyUcoin

    Baca juga: Market Watch: Aset Kripto Stagnan, Bitcoin dan Ethereum Sulit Gerak

    Berbicara tentang legalisasi Bitcoin di negara tersebut, Bukele menyatakan bahwa itu pasti memiliki beberapa keuntungan dalam sistem ekonomi baru yang sedang dikerjakan. Bukele juga menyebutkan bahwa melegalkan BTC juga telah meningkatkan ekonomi pariwisata sebesar 95%.

    Presiden El Salvador melanjutkan perbincangannya tentang berbagai keuntungan, termasuk investasi swasta, dan juga bagaimana negara tersebut menarik para Bitcoiner karena berbagai konferensi, dengan alasan utama adalah legalisasi BTC.

    Bukele juga mendapat dukungan dari komunitas Bitcoin begitu dia merangkul “raja cryptocurrency” dan melegalkannya. Meskipun dia menerima banyak reaksi atas keputusannya, negara lain juga mulai memahami nilai aset kripto. Hal ini terlihat dari sikap dan perkembangan berbagai negara untuk merangkul blockchain dan kripto.

    Sikap IMF

    Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Kontestan El Salvador Pakai Kostum Tema Bitcoin di Miss Universe 2022

    International Monetary Fund (IMF) baru-baru ini membuat langkah anti-kripto lainnya, menentang kripto menjadi alat pembayaran yang sah. IMF mengklarifikasi narasi mereka dalam laporan terbaru. ‘Tidak’ untuk BTC sebagai alat pembayaran yang sah, ‘Ya’ untuk mengatur ruang.

    “Kami sangat mendukung pengaturan dunia uang digital dan ini adalah prioritas utama,” kata Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva.

    Di tengah maraknya tindakan keras regulator terhadap industri ktipto, cara masing-masing regulator memandang industri ini terbukti.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • El Salvador Sahkan Aturan Baru untuk Layanan Bitcoin Institusional

    El Salvador resmi mengesahkan undang-undang baru yang membuka peluang bagi lembaga keuangan teregulasi untuk menawarkan layanan terkait Bitcoin kepada investor institusional. Aturan ini disetujui oleh Majelis Legislatif pada 7 Agustus 2025, menandai pergeseran fokus adopsi kripto di negara tersebut dari ritel menuju ranah institusi.

    Dilaporkan Cointrackdaily, mengacu pada laporan The Block, regulasi ini memungkinkan lembaga dengan modal minimal $50 juta untuk mendaftar sebagai bank investasi dan mengajukan lisensi guna menyediakan produk kripto kepada investor dengan aset likuid setidaknya $250.000. Langkah ini dianggap sebagai penguatan dari Undang-Undang Bitcoin 2021, yang menjadikan Bitcoin alat pembayaran sah di El Salvador.

    Tunjukan Adopsi Bitcoin

    Ilustrasi El Savador adopsi pembayaran dengan Bitcoin.
    Ilustrasi El Savador adopsi pembayaran dengan Bitcoin. Foto: BuyUcoin

    Baca juga: Nayib Bukele: Bitcoin Tingkatkan 95% Ekonomi Pariwisata El Salvador

    Meski demikian, data terbaru menunjukkan adopsi kripto di kalangan masyarakat masih terbatas — hanya 1% pengiriman uang dan sekitar 20% warga negara yang menggunakan aset digital tersebut. Situasi ini mendorong pemerintah mengubah strategi, apalagi setelah tekanan dari perjanjian pinjaman senilai $1,4 miliar dengan IMF yang membuat pembelian Bitcoin oleh sektor publik berkurang dan penerimaan BTC menjadi opsional bagi bisnis sejak Januari 2025.

    Kerangka hukum baru ini menyasar investor berpengalaman, memungkinkan bank investasi untuk menyimpan Bitcoin, menerbitkan token, dan menyusun transaksi terkait aset digital sesuai regulasi. Kementerian Ekonomi bersama perwakilan Dania González menegaskan bahwa kebijakan ini diharapkan memperluas sistem keuangan yang teregulasi dan menarik modal institusional masuk ke El Salvador.

    Terlepas dari pembatasan IMF, Kantor Bitcoin El Salvador menyatakan masih memegang cadangan sebanyak 6.181 BTC senilai lebih dari $650 juta — bukti komitmen negara tersebut dalam mempertahankan posisi strategisnya di ekosistem kripto global.

    Baca juga: Sah! Bitcoin Digunakan Sebagai Alat Tukar di El Savador


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Presiden El Salvador Pamer Cuan Rp 5,2 T dari Bitcoin, Begini Respons Elon Musk


    Jakarta

    Presiden El Salvador Nayib Bukele memamerkan pencapaiannya usai Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan all time high (ATH) dan menembus level psikologis US$ 100.000.Hal tersebut itu pun direspons salah satu orang terkaya dunia, Elon Musk.

    Melalui unggahan di akun X (dulunya Twitter) pribadinya, Bukele membagikan tangkapan layar atas kepemilikan BTC senilai US$ 603,34 juta atau setara Rp 9,53 triliun (kurs Rp 15.800). Terlihat nilainya kini meroket 117,74% secara year to date (ytd).

    Bukele sendiri terkenal sebagai investor besar Bitcoin. Dari unggahan tersebut, juga terlihat bahwa total keuntungan yang diperolehnya selama berinvestasi sebesar US$ 333,59 juta atau setara Rp 5,27 triliun.


    Unggahan tersebut ternyata mendapat respons dari CEO Tesla, Elon Musk. Dikenal sebagai sosok yang pro kripto, ia turut berkomentar terhadap pencapaian dari investasi Bukele.

    “Impressive (menakjubkan),” ujar Musk melalui akun X pribadinya, dikutip Kamis (5/12/2024).

    Harga bitcoin sendiri telah mengalami kenaikan sejak kemenangan Donald Trump di Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS). Sejak pengumuman kemenangan, harganya telah melonjak lebih dari 40%. Janji Trump untuk mendorong regulasi yang ramah kripto dan menjadikan Bitcoin sebagai cadangan aset nasional memicu optimisme di pasar.

    Sementara itu, dikutip dari Coinmarketcap, harga Bitcoin hari ini mencapai US$ 103.587 atau setara Rp 1,64 miliar pada pukul 11.05. Kondisi ini pun menyebabkan para investor kini tengah berpesta menikmati hasilnya.

    Kondisi ini juga didorong oleh optimisme pasat usai Trump memilih Paul Atkins untuk mengepalai Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), menggantikan Gary Gensler. Adapun Atkins sendiri dipandang sebagai pilihan yang ramah terhadap kripto untuk posisi tersebut.

    Kenaikan ini telah mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin di atas US$ 2 triliun untuk pertama kalinya, mengukuhkan statusnya sebagai salah satu aset paling berharga di dunia. Meskipun pertumbuhannya pada 2024 cukup signifikan, namun bukan yang paling dramatis dalam sejarah Bitcoin. Bitcoin pernah mengalami lonjakan 1.900% pada tahun 2017 dan lonjakan 1.250% selama pandemi COVID-19.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Tembus Rp 1,7 M, Donald Trump Biang Keroknya!


    Jakarta

    Aset kripto Bitcoin terus mengalami peningkatan, bahkan Bitcoin sempat menyentuh harga US$ 107 ribu atau sekitar Rp 1,7 miliar (kurs Rp 15.925) pada perdagangan hari Senin kemarin. Hal ini merupakan respons pasar terhadap langkah yang bakal diambil Donald Trump ketika resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

    Trump menegaskan dia berencana membuat cadangan strategis Bitcoin yang dibuat menyerupai cadangan minyak strategis di AS. Hal ini memicu antusiasme investor kripto.

    Dilansir dari Reuters, Selasa (17/12/2024), sentimen investor juga terangkat oleh masuknya MicroStrategy ke dalam indeks Nasdaq 100. MicroStrategy selama ini dikenal sebagai perusahaan yang cukup banyak memiliki cadangan Bitcoin.


    Dengan masuk indeks Nasdaq 100, artinya perusahaan itu kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak arus modal yang bisa berubah menjadi pembeli Bitcoin.

    Analis Pasar dari IG Analyst, Tony Sycamore menyebut Bitcoin masih bisa terbang ke level US$ 110 ribu dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang.

    “Angka berikutnya yang akan dicari pasar adalah US$ 110 ribu. Penurunan yang ditunggu banyak orang ternyata tidak terjadi, karena sekarang kita punya berita baik,” sebut Tony.

    Investor telah bertaruh bahwa pemerintahan Donald Trump yang akan datang akan membawa lingkungan regulasi yang lebih bersahabat buat aset kripto. Ini meningkatkan sentimen yang baik di seputar mata uang alternatif tersebut. Bitcoin saja sudah naik sekitar 150% nilainya pada tahun 2024.

    Trump sendiri sudah menegaskan dia ingin agar Amerika Serikat menjadi yang terdepan dalam urusan regulasi kripto.

    “Kami akan melakukan sesuatu yang hebat dengan kripto. Kami ingin menjadi yang terdepan,” kata Trump.

    Ketika ditanya apakah ia berencana untuk membangun cadangan kripto yang mirip dengan cadangan minyak. Dia mengatakan hal itu bisa saja terjadi.

    Menurut data CoinGecko, pemerintah di seluruh dunia memegang sekitar 2,2% dari total pasokan Bitcoin per Juli. Amerika Serikat memiliki hampir 200.000 bitcoin yang bernilai lebih dari US$ 20 miliar saat ini. China, Inggris, Bhutan, dan El Salvador juga menjadi negara-negara lain dengan jumlah bitcoin yang signifikan.

    Simak juga Video ‘Ancaman Trump ke Hamas: Bebaskan Sandera atau Kekacauan akan Terjadi’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (hal/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bisakah Pemerintah Investasi di Bitcoin buat Bayar Utang Negara?


    Jakarta

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan penghematan anggaran negara akan lebih besar dari perkiraan awal, yaitu Rp 306,69 triliun, dengan target Rp 750 triliun. Efisiensi ini akan dilakukan dalam tiga tahap utama, dimulai dengan penyisiran anggaran oleh Kementerian Keuangan yang dipimpin oleh Sri Mulyani Indrawati. Pada tahap pertama, pemerintah berhasil menghemat Rp 300 triliun.

    Sebagai bagian dari strategi pengelolaan efisiensi anggaran, Prabowo mengalokasikan Rp 300 triliun untuk Danantara, sebuah badan pengelola investasi yang akan membiayai proyek-proyek strategis nasional di sektor infrastruktur, energi, dan teknologi.

    Pakar digital Anthony Leong mengusulkan agar sebagian dari dana efisiensi ini diinvestasikan dalam Bitcoin. Ia menyoroti bahwa beberapa negara, seperti El Salvador, telah menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan devisa mereka. Menurutnya, Indonesia dapat mengambil langkah serupa untuk meningkatkan daya tahan ekonomi nasional.


    Berdasarkan data terbaru, total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 8.400 triliun. Per 25 Februari 2025, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 87.149 atau sekitar Rp 1,41 miliar per BTC (kurs Rp 16.200). Jika pemerintah mengalokasikan Rp 300 triliun untuk membeli Bitcoin, jumlah yang diperoleh mencapai 212.766 BTC.

    “Jika harga Bitcoin mencapai Rp 5 miliar per BTC, nilai investasi akan meningkat menjadi Rp 1.063,83 triliun, atau sekitar 12,66% dari total utang negara. Jika Bitcoin mencapai Rp 10 miliar per BTC, nilai investasi naik menjadi Rp 2.127,66 triliun, cukup untuk menutupi 25,32% dari total utang negara. Jika Bitcoin mencapai Rp20 miliar per BTC, nilai investasi melonjak menjadi Rp 4.255,32 triliun, hampir menutupi 50,66% dari total utang negara,” ujar Anthony pada keterangannya, Kamis (27/2/2025).

    Anthony menilai bahwa investasi dalam Bitcoin dapat memberikan keuntungan besar jika dikelola dengan regulasi yang tepat. Menurutnya, langkah ini dapat menjadi solusi inovatif dalam memperkuat cadangan keuangan negara.

    “Jika pemerintah mempertimbangkan investasi ini, mereka harus memiliki strategi mitigasi risiko yang matang. Bitcoin dapat memberikan imbal hasil yang tinggi, tetapi fluktuasi harganya juga sangat tajam. Harus kita pikirkan jangan sampai nanti sudah 20 miliar baru Indonesia melirik ini,” tambahnya.

    Jika sebagian dana dialokasikan ke Bitcoin dan nilainya terus mengalami kenaikan, Indonesia dapat memiliki sumber baru untuk membayar utang nasional tanpa perlu menambah pinjaman baru.

    “Tentu, kajian mendalam masih diperlukan. Namun, langkah awal bisa dimulai dengan alokasi kecil untuk memahami potensi dan risikonya. Saat ini, banyak manajer investasi global yang mulai berinvestasi di Bitcoin. Oleh karena itu, strategi mitigasi risiko yang jelas harus diterapkan agar tidak berdampak negatif terhadap stabilitas ekonomi nasional. Jika dikelola dengan baik, investasi ini dapat menjadi langkah inovatif dalam memperkuat keuangan negara dalam jangka panjang,” tutupnya.

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bukan Cuma El Salvador, Korporasi Dunia Kini Koleksi Bitcoin


    Jakarta

    Bitcoin kini mulai diadopsi secara lebih luas oleh perusahaan global dan sejumlah negara, tak lagi dipandang sekadar sebagai aset spekulatif. Tren ini mencerminkan pergeseran peran kripto menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang untuk menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

    “Jika dulu Bitcoin dianggap sebagai aset digital berisiko tinggi, kini ia sudah masuk ke dalam neraca keuangan perusahaan global bahkan dipertimbangkan sebagai cadangan negara,” kata pakar digital Anthony Leong pada keterangannya, (22/6/2025).

    Ia merujuk pada langkah Metaplanet, perusahaan pengembang hotel asal Jepang, yang pada awal tahun ini mengumumkan rencana akumulasi hingga 210.000 BTC atau setara dengan lebih dari US$22 miliar. Menariknya, harga saham Metaplanet melonjak lebih dari 8.000 persen dalam dua tahun terakhir sejak mengadopsi strategi treasury berbasis Bitcoin.


    “Ini sinyal keras bahwa Bitcoin sedang naik kelas menjadi cadangan strategis untuk menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi,” tambahnya.

    Lebih dari 130 perusahaan publik global kini menyimpan Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan mereka, termasuk nama-nama besar seperti MicroStrategy, Tesla, Galaxy Digital, dan Block Inc. Menurut Anthony, akumulasi ini bukan lagi langkah individual atau iseng, melainkan keputusan finansial yang berbasis analisis risiko dan prospek jangka panjang.

    Dalam pengamatan Anthony, sinyal adopsi juga datang dari sektor keuangan konvensional. Salah satu contoh penting adalah BBVA Switzerland, yang baru-baru ini merekomendasikan klien kaya mereka untuk mengalokasikan 3% hingga 7% dari portofolio investasi ke aset kripto, terutama Bitcoin dan Ethereum.

    “Ketika bank konservatif seperti BBVA sudah mulai bicara strategi kripto, kita sedang menyaksikan revolusi keuangan yang pelan tapi pasti,” ujarnya.

    Di balik fenomena Bitcoin, Anthony juga menekankan bahwa kekuatan utama justru terletak pada teknologi blockchain yang menopang aset digital ini. Menurutnya, blockchain menghadirkan sistem pencatatan yang terdesentralisasi, transparan, dan tahan manipulasi, yang secara fundamental mengubah cara dunia memahami kepercayaan dalam transaksi digital.

    “Dengan blockchain, kita bisa membangun sistem keuangan yang tidak bergantung pada otoritas tunggal, namun tetap aman dan akuntabel. Ini landasan dari ekonomi digital masa depan,” jelasnya.

    Anthony menilai keunggulan ini menjadikan Bitcoin tidak hanya bernilai karena kelangkaannya, tetapi juga karena fondasi teknologinya yang kokoh dan terus berkembang. Tak hanya swasta, beberapa negara kini juga telah masuk ke ekosistem Bitcoin.

    El Salvador menjadi negara pertama yang menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi. Sementara itu, Amerika Serikat, meskipun tidak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran sah, kini tercatat menyimpan lebih dari 200.000 BTC hasil dari penyitaan hukum, menjadikannya salah satu pemegang institusional Bitcoin terbesar di dunia.

    “Langkah El Salvador mungkin dianggap ekstrem, tapi jangan lupa Amerika Serikat diam-diam memegang Bitcoin dari proses hukum. Ini bukan kebetulan ini strategi,” jelas Anthony yang juga Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Bidang Sinergitas BUMN, Danantara dan BUMD.

    Meski begitu, Anthony mengingatkan bahwa risiko tetap ada. Volatilitas harga, ketidakpastian regulasi, serta keterbatasan edukasi publik menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Namun, ia menegaskan bahwa bagi pelaku ekonomi yang memiliki pemahaman dan strategi, Bitcoin kini bukan sekadar opsi melainkan bagian dari diversifikasi yang rasional.

    “Bitcoin tidak cocok untuk semua orang. Tapi untuk yang punya pemahaman dan strategi, ia bukan lagi alternatif ia jadi keharusan,” tegas Anthony.

    Saat ini, Bitcoin diperdagangkan stabil di atas level US$105.000 meski dunia menghadapi ketegangan geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter. Beberapa analis menyebut BTC sebagai “safe haven digital” karena mulai menunjukkan daya tahan seperti emas dalam kondisi ketidakpastian global.

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Pecah Rekor Lagi! Harga Bitcoin Terbang ke Level US$ 118.000


    Jakarta

    Lonjakan harga Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan sejarah dengan menembus harga tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH) di level US$ 118.000, Jumat (11/7). Kenaikan ini dinilai mengukuhkan posisi kripto sebagai aset yang kian populer di dunia.

    Lonjakan harga ini terjadi seiring meningkatnya akumulasi oleh institusi besar seperti BlackRock melalui iShares Bitcoin Trust (IBIT) yang kini telah menggenggam lebih dari 700.000 BTC, setara lebih dari 3,3% dari total supply Bitcoin di dunia. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 2,34 triliun, Bitcoin menyumbang sekitar 65% dari total kapitalisasi pasar kripto global yang telah menembus US$ 3,4 triliun.

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma menilai kondisi ini memperlihatkan dominasi Bitcoin yang tetap solid meski kompetisi dari altcoin terus meningkat. menurutnya, pencapaian ini bukan sekedar euforia sesaat, tetapi menunjukkan perubahan besar dalam pasar aset digital.


    “Sekarang kita melihat Bitcoin tidak hanya sebagai alat pelindung nilai, tapi juga mulai dipakai oleh perusahaan besar sebagai bagian dari strategi mengelola cadangan uang mereka,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (11/7/2025).

    Antony menilai, pergerakan harga Bitcoin adalah akumulasi dari berbagai faktor struktural, termasuk regulasi yang lebih terbuka, kebijakan fiskal global yang mendorong aset lindung nilai, serta narasi strategis dari tokoh-tokoh industri dan
    pemerintahan.

    IBIT bahkan mencatatkan pendapatan tahunan dari biaya pengelolaan melebihi ETF S&P 500 miliknya sendiri (IVV). Fenomena ini memperlihatkan bagaimana tren pasar bergerak ke arah aset digital sebagai kelas investasi utama.

    Selain AS, perusahaan teknologi Inggris The Smarter Web Company juga mulain meningkatkan kepemilikan Bitcoin hingga 1.000 BTC. Kemudian di El Salvador, tercatat memiliki 6.232 BTC, dengan nilai keuntungan belum terealisasi yang melampaui US$ 400 juta.

    “Negara, korporasi, dan individu saat ini berada di jalur yang sama: mencari alternatif yang tahan terhadap inflasi, geopolitik, dan disrupsi pasar tradisional,” ungkap Antony.

    Menurutnya, lonjakan harga Bitcoin memperkuat peran komunitas dalam menjaga prinsip desentralisasi sambil terus menarik minat institusi. Antony menyebut, Bitcoin bukan hanya teknologi, melainkan fenomena sosial-ekonomi.

    “Kinerja harga Bitcoin yang impresif sepanjang pertengahan 2025 ini juga mencerminkan pola teknikal yang kuat. Setelah sempat terkoreksi ke angka US$ 98.200, harga kembali bangkit pada akhir Juni sebelum meroket ke ATH. Kenaikan cepat selalu disertai dengan risiko koreksi. Namun yang membedakan saat
    ini adalah fondasi pasar yang jauh lebih kuat dibanding siklus sebelumnya,” pungkasnya.

    (ara/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Perang Dagang Makin Panas, Harga Bitcoin Ikut Kebakaran


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan imbas memanasnya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. CoinMarketCap mencatat koreksi harga BTC hingga 8,86% di perdagangan sepekan terakhir.

    Harga BTC tergelincir ke level US$ 110.743 atau sekitar Rp 1.83 miliar (asumsi kurs Rp 16.583). Pada perdagangan sepekan terakhir, BTC mengalami volatilitas tinggi yang dipicu oleh isu perang tarif AS-China. Kondisi tersebut menempatkan BTC pada rentang US$ 107.318 hingga US$ 123.535.

    Tokocrypto menyebut, kapitalisasi pasar BTC berada di angka Rp 36.629 triliun dengan volume perdagangan 24 jam terakhir tercatat turun 24% menjadi Rp 1.136 triliun. Penurunan terjadi setelah China menjatuhkan sanksi terhadap suku cadang buatan AS yang digunakan perusahaan pelayaran Korea Selatan.


    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan ketegangan dagang AS-China mendorong penurunan tajam kapitalisasi pasar kripto dari US$ 3,96 triliun menjadi US$ 3,75 triliun. Penurunan tersebut terjadi lebih dari US$ 210 miliar dalam sehari.

    Sementara altcoin utama relatif cepat pulih, harga BTC masih bertahan di zona pelemahan. Presiden AS, Donald Trump, bahkan menegaskan pihaknya secara aktif terlibat dalam perang dagang dengan China setelah sebelumnya mengancam tarif 100% pada semua impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

    “Selama hubungan AS-China masih goyah, kripto akan kesulitan pulih karena aset berisiko seperti ini biasanya hanya menguat saat kondisi global stabil,” ujarnya.

    Fyqieh menyebut, kondisi pasar saat ini berada dalam fase badai yang dipicu oleh faktor eksternal makroekonomi. Ia menjelaskan, fase yang sama sempat melanda BTC pada tahun 2022 kala China dihadapkan dengan era suku bunga The Fed yang tinggi.

    “Setiap fase bear market kripto punya pemicunya sendiri. Di 2018-2019 ada larangan Bitcoin di China, di 2022 kita menghadapi kenaikan suku bunga The Fed, dan kini di 2025 pemicunya adalah perang dagang AS-China. Ini fase yang tidak bisa dihindari, tapi pada akhirnya selalu diikuti pemulihan,” jelasnya.

    Namun, ia menyebut volatilitas tinggi ini merupakan kekhawatiran jangka pendek investor terhadap ketidakpastian kebijakan dagang global. Sementara di sisi teknikal, BTC kini tengah terkonsolidasi di kisaran US$ 110.000-US$ 116.000 dengan dominasi penjual (bear).

    Level US$ 110.000 menjadi area support penting, sementara US$ 116.000 menjadi batas resistensi utama. Jika BTC berhasil menembus level tersebut, peluang untuk kembali menguji US$ 120.000 terbuka lebar.

    “Jika ketegangan tarif terus berlanjut, pasar kripto akan tetap choppy dengan pergerakan harga yang liar. Namun, bila dalam beberapa minggu ke depan ada sinyal positif seperti kesepakatan dagang atau penundaan tarif, badai ini bisa mulai mereda,” tambahnya.

    Tonton juga video “Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin” di sini:

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Aset Kripto Bergairah, Harga Bitcoin Tembus Rp 1,2 M


    Jakarta

    Harga aset kripto kembali menguat dalam perdagangan hari ini, Kamis (5/3). Kenaikan tidak hanya dialami token utama, melainkan juga sejumlah altcoin hingga memecoin.

    Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap 10.07 WIB, Bitcoin menguat 6,68% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 72.737 atau Rp 1,22 miliar (kurs Rp 16.877). Harga Bitcoin bahkan sempat menyentuh level tertinggi hari ini sebesar US$ 73.652 atau sekitar Rp 1,24 miliar.

    Harga Bitcoin mendadak terbang dari level US$ 67.813 atau sekitar Rp 1,14 miliar pada perdagangan dini hari tadi. Secara kumulatif pada perdagangan sepekan terakhir, harga Bitcoin menguat 6,62% dengan kapitalisasi pasar sebesar US$ 1,45 triliun.


    Kenaikan harga juga dialami oleh sejumlah altcoin seperti Ether (ETH) yang menguat 7,29% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 2.119 atau sekitar Rp 35,77 juta. Secara kumulatif sepanjang perdagangan sepekan, harga token Ether menguat 3,44% dengan kapitalisasi pasar sebesar US$ 256,07 miliar.

    Sementara itu, token BNB dan Solana (SOL) juga tercatat menguat sepanjang perdagangan 24 jam terakhir yakni sebesar 3,36% dan 4,80%. Harga BNB saat ini berada di level US$ 654,70, sedangkan token SOL sebesar US$ 90,24.

    Sejumlah stablecoin juga tercatat menguat sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. Tehter (USDT) misalnya, menguat ke harga US$ 1. Sedangkan USDC melemah 0,03% ke harga US$ 0.9998. Sementara memecoin seperti DOGE tercatat 6,99% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09621.

    Tonton juga video “Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin”

    (ahi/ara)



    Sumber : finance.detik.com