Tag: endapan

  • Jangan Sampai Mogok, Begini Cara Cegah Filter Bensin Tersumbat



    Jakarta

    Filter bensin yang tersumbat bisa menyulitkan pemilik kendaraan. Akibatnya, mobil jadi brebet hingga yang terparah mesin tak bisa dinyalakan.

    Kepala Bengkel Astrido Toyota Cileungsi Eko Prasetyo mengatakan ada beberapa kebiasaan pemilik kendaraan yang bisa menyebabkan filter bensin dan fuel pump rusak. Salah satunya membiarkan tangki bahan bakar sering kosong.

    “Biasanya salah satu penyebabnya tangki sering kosong sih. Karena dia kan di dalam pasti ada kotoran ya. Bertahun-tahun usianya, sehingga pasti ada endapan. Kalau saat kondisi sering kosong, itu kadang-kadang kotorannya ikut, makin banyak tuh (tumpukan kotorannya),” kata Eko kepada detikOto, Senin (2/11/2024).


    Kotoran bisa muncul dari dua faktor. Bisa dari tangkinya, bisa juga dari bahan bakar yang mungkin terdapat kotoran. Atau, dari faktor lain seperti penggunaan bahan aditif yang meninggalkan jejak endapan.

    “Tipe tangki kan ada beberapa yang sudah pakai semacam kayak fiber, ada yang masih pelat. Nah itu pasti ada endapan lah. Atau misalnya dulu pernah pakai semacam untuk naikin oktan yang sifatnya kayak serbuk, akhirnya ada endapan, itu juga bisa. Tapi yang umum kalau kotor itu biasanya karena umur dan bahan bakar sama kondisi tangki,” jelasnya.

    Untuk mencegah masalah yang menyulitkan ini, Eko menyarankan agar pemilik kendaraan tidak sering-sering membiarkan tangki bahan bakar kosong. Kalau perlu, saat sisa bensin tinggal setengah, segera isi lagi bahan bakar sampai penuh.

    “Kemudian pada saat usia kendaraan sudah di atas 4 tahun, 5 tahun, itu mungkin udah mulai bisa dibersihin tangkinya. Atau pada saat misalnya di kilometer di atas 100 ribu km, nggak usah nunggu gejala, kalau kita mau nyaman, 100 km itu mulai diganti filternya sama sekalian kuras tangkinya. Karena ada beberapa tipe yang dia kalau ganti filternya tangkinya (harus) turun. Jadi bisa sekalian pengerjaannya kuras. Tapi ada beberapa tipe yang filternya ada di luar tangki,” ujar Eko.

    Eko melanjutkan, dari agen pemegang merek (APM) memang tidak ada rekomendasi untuk melakukan servis atau tangki bahan bakar secara rutin. Namun, jika pemilik kendaraan merasakan gejala tertentu bisa dibicarakan kepada pihak bengkel untuk memeriksa bagian-bagian seperti tangki BBM, filter dan pompa bahan bakar.

    “Kalau dirasa udah lama nih nggak dibongkar, coba dibersihin. Atau dia perjalanan jauh di luar Jakarta yang kondisi pom bensinnya kita nggak tahu kondisinya,” katanya.

    (rgr/dry)



    Sumber : oto.detik.com

  • Fortuner-Innova Diesel ‘Minum’ Solar tapi Jarang Purging? Ini Dampaknya



    Jakarta

    Fortuner dan Innova Diesel masih aman bila ‘menenggak’ solar subsidi. Namun harus sering purging. Kalau tidak, apa dampaknya?

    Solar subsidi masih digunakan oleh mobil berbahan bakar diesel. Tak cuma truk atau bus, mobil seperti Toyota Fortuner dan Kijang Innova diesel juga terlihat masih ada yang menggunakan BBM bersubsidi itu.


    Sejatinya, pada buku panduan manual, Toyota Fortuner maupun Kijang Innova diesel, mobil itu disarankan untuk ‘menenggak’ bahan bakar rendah sulfur. Terlebih untuk model yang sudah mengusung teknologi Euro 4.

    Untuk Fortuner diesel model Euro 4 dianjurkan menggunakan bahan bakar diesel 50 ppm atau kurang sulfur. Angka cetane-nya 48 atau lebih tinggi. Begitupun dengan Innova Reborn diesel yang mengusung sistem DPF, dianjurkan pakai BBM degan kandungan sulfur 10 ppm atau kurang sulfur.

    “Kendaraan dengan sistem DPF: Jangan menggunakan bahan bakar diesel yang mengandung kandungan sulfur di atas 10 ppm. Penggunaan berulang dari bahan bakar diesel dengan kandungan sulfur di atas 10 ppm dapat menyebabkan kerusakan pada mesin dan sistem exhaust dan mempengaruhi daya tahan kendaraan Anda,” begitu bunyi penjelasan di buku panduan Innova Reborn diesel.

    Lalu bagaimana kalau Innova dan Fortuner diesel itu justru mengkonsumsi solar subsidi yang punya kandungan sulfur 2.500 ppm? Kepala Bengkel Auto2000 Jatiasih Wahono menuturkan, tak ada masalah dengan mesin Fortuner dan Innova diesel. Dengan catatan, ada perawatan purging yang dilakukan saat servis berkala.

    “Kalau bisa tiap servis. Kalau di sini (Auto2000) kita sampaikan ke pelanggan ini wajib purging,” kata Wahono saat ditemui di kantornya belum lama ini.

    Wahono menjelaskan, dengan purging kotoran ataupun endapan sisa bahan bakar solar itu bisa dibersihkan. Kalau tidak dilakukan, injektor akan mampet. Kalau sudah mampet dan sulit dibersihkan, maka harus ganti injektor baru. Padahal harga injektor cukup mahal, di atas Rp 10 jutaan.

    “Nggak mahal kok, Rp 250 ribuan lah kurang lebih, bayar bahannya aja jasanya gratis. Kalau itu dilakukan aman walaupun pakai solar. Tapi kalau nggak, injektor mampet harus ganti,” lanjut Wahono.

    (dry/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Teliti Lagi, Ini 7 Ciri Mobil Bekas Pernah Terendam Banjir



    Jakarta

    Dalam membeli mobil bekas kita harus selektif. Jangan sampai mobil bekas yang kita pilih justru malah bikin susah ke depannya karena banyak perbaikan yang harus dilakukan. Salah satu jenis mobil bekas yang banyak dihindari adalah mobil bekas banjir.

    Mobil bekas yang pernah terkena banjir sering kali membawa berbagai masalah tersembunyi yang tidak langsung terlihat. Untuk itu, kamu yang sedang mencari mobil bekas harus lebih teliti agar tidak mendapatkan unit bekas banjir.

    Dikutip Auto2000, setidaknya ada 7 ciri mobil bekas pernah terendam banjir yang perlu dihindari. Apa saja?


    Berkarat

    Mobil bekas yang pernah terendam banjir biasanya akan menimbulkan karat di berbagai komponennya. Mungkin secara kasat mata sulit dikenali. Tapi coba cek beberapa bagian seperti baut di bagian rem tangan. Kalau sudah bahasa atau berkarat, ada kemungkinan mobil tersebut pernah terendam banjir. Periksa dengan teliti hingga detail seperti di bagian bumper agar bisa melihat kondisinya lebih jelas.

    Interior Rusak

    Biasanya, meski sudah dibersihkan dan dikeringkan, mobil bekas banjir memiliki interior yang kurang baik. Misalnya ada bau kurang sedap, karpet dasar bernoda, doortrim rusak, dan jok berbau atau berjamur.

    Bunyi Mesin Kasar

    Suara mesin juga bisa menjadi indikasi mobil bekas banjir. Mobil yang pernah terendam banjir biasanya mengeluarkan bunyi mesin yang lebih kasar. Hal itu disebabkan oleh air yang masuk ke mesin dan bercampur dengan oli sehingga menyebabkan gesekan berlebih.

    Bunyi kasar juga bisa disebabkan oleh bearing fan belt atau bearing kompresor AC. Di dalam bearing terdapat butiran atau bola besi berlapis gemuk untuk pelumas saat berputar. Bila komponen itu terendam banjir, gemuk akan menghilang dan menyebabkan bola besi kering dan korosif. Imbasnya muncul bunyi kasar ketika mesin bekerja akibat bearing yang berputar seret.

    Harga Terlalu murah

    Kalau mendapat tawaran harga mobil bekas terlalu murah dibanding harga pasaran, sebaiknya lebih hati-hati. Mungkin itu menjadi salah satu ciri mobil bekas banjir.

    Ada Bau Tidak Sedap

    Banjir yang sampai masuk ke bagian interior akan meninggalkan aroma tidak sedap. Aroma ini bisa muncul seperti bau apek atau menyengat. Terkadang masih ada endapan kotoran atau lumpur.

    Daerah Asal Mobil

    Ada beberapa daerah yang langganan banjir. Maka, sebaiknya calon pembeli mobil bekas mengecek asal muasal atau lokasi mobil tersebut. Jika memang berasal dari daerah rawan banjir, sebaiknya pikir-pikir lagi untuk membeli mobil bekas tersebut.

    Riwayat Perawatan Mobil

    Mobil yang dirawat dengan baik memiliki perawatan yang jelas. Pembeli mobil bekas bisa melakukan pengecekan riwayat perawatan mobil dari perangkat elektronik, mesin, hingga jok. Mungkin ada juga riwayat klaim asuransi sehingga kita sebagai calon pembeli mobil bekas bisa dapat gambaran apakah mobil tersebut bekas banjir atau tidak.

    (rgr/dry)



    Sumber : oto.detik.com

  • Diklaim Sudah Siap Minum, Bolehkah Air Mineral Direbus?


    Jakarta

    Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) diklaim sudah siap minum, tidak perlu dimasak. Namun ada kalanya butuh menghangatkan, atau bahkan merebusnya sampai mendidih.

    Harus diakui, AMDK sudah jadi bagian dari gaya hidup modern. Praktis, mudah didapat, dan dianggap lebih aman dibanding air isi ulang atau air keran. Tapi di tengah kebiasaan serba instan, masih banyak orang yang memilih menghangatkan atau bahkan merebus air mineral sebelum diminum.

    Alasannya sangat beragam, agar lebih bersih, lebih hangat, atau sekadar kebiasaan. Lalu, pertanyaannya sederhana: perlukah air mineral dalam kemasan dipanaskan? Atau, apakah pemanasan itu justru mengubah kandungan alami dan manfaat AMDK?


    AMDK Bisa Langsung Diminum

    Air mineral kemasan tidak diambil begitu saja dari sumber air dan langsung dibotolkan. Sebelum sampai ke tangan konsumen, air ini telah melewati serangkaian proses penyaringan dan sterilisasi yang ketat. Proses tersebut memastikan tidak ada mikroorganisme patogen, logam berat, atau bahan kimia berbahaya yang tertinggal di dalam air.

    Dengan kata lain, air mineral sudah layak diminum langsung tanpa harus direbus lagi. Inilah yang membedakannya dengan air sumur atau air keran yang mungkin masih mengandung bakteri atau partikel lain sehingga perlu proses perebusan terlebih dahulu.

    Namun, sebagian orang tetap memilih untuk memanaskan air kemasan karena ingin merasa lebih aman. Tindakan ini sebenarnya tidak salah, tetapi bisa sedikit memengaruhi kandungan mineral alami di dalamnya.

    Apa Saja Perubahan yang Terjadi?

    Meskipun air mineral tampak stabil, ternyata pemanasan bisa menimbulkan sedikit perubahan pada komposisi kimianya. Penelitian yang terbit dari Water Journal tahun 2025 menunjukkan bahwa proses perebusan dapat mengurangi kadar mineral seperti kalsium dan magnesium. Hal ini terjadi karena pemanasan menyebabkan gas karbon dioksida (CO₂) di dalam air lepas, lalu sebagian kalsium dan magnesium bereaksi menjadi endapan kalsium karbonat. Fenomena ini dikenal dengan istilah precipitation of hardness minerals yaitu reaksi yang juga sering menyebabkan kerak putih pada teko air.

    Meski demikian, dari sisi gizi, penurunan kadar mineral akibat pemanasan ini tergolong sangat kecil dan tidak mengubah manfaat air mineral secara signifikan. Tubuh manusia masih bisa mendapatkan asupan mineral penting dari makanan sehari-hari, seperti sayuran, susu, atau kacang-kacangan.

    Perubahan rasa air yang sebelumnya terasa lembut atau berisi bisa terasa sedikit lebih hambar setelah dipanaskan. Itu terjadi karena beberapa ion yang memberi sensasi rasa seperti kalsium, magnesium, dan bikarbonat ada yang sedikit mengendap. Proses ini merupakan reaksi alami kalsium karbonat akibat suhu tinggi. Meskipun tidak berbahaya, endapan tersebut menandakan bahwa sebagian mineral dalam air telah berubah bentuk dan tidak lagi larut sempurna.

    Sementara itu, studi lain dalam Jurnal Environmental Monitoring and Assessment tahun 2021 juga mengonfirmasi bahwa suhu tinggi dapat mengubah pH air dan sedikit meningkatkan total zat terlarut atau Total Dissolved Solids (TDS). Namun, perubahan ini masih dalam rentang aman untuk dikonsumsi.

    Apakah Berarti Pemanasan Mengurangi Kualitas?

    Selama proses pemanasan dilakukan dalam durasi wajar, misalnya untuk membuat air hangat atau mendidihkan sekali, kualitas air mineral tetap terjaga. Tidak ada perubahan signifikan yang membuat air jadi berbahaya atau kehilangan manfaatnya.

    Pemanasan berulang atau terlalu lama justru bisa mempercepat pengendapan mineral. Akibatnya, kandungan mineral dalam air bisa berkurang lebih banyak dan rasa segarnya semakin berkurang.

    Selain itu, penting juga memastikan wadah yang digunakan untuk memanaskan air yang berasal dari AMDK bersih dan bebas logam berat. Jika menggunakan teko logam yang sudah berkarat atau ketel yang jarang dibersihkan, justru risiko kontaminasi bisa meningkat.

    Hal yang Perlu Diperhatikan:

    • Air mineral dengan kandungan kalsium dan magnesium tinggi lebih mungkin membentuk endapan dibanding air dengan kandungan mineral rendah.
    • Pemanasan bisa memunculkan endapan halus berwarna putih di dasar wadah. Itu bukan tanda air rusak, melainkan sisa kalsium karbonat dari mineral alami yang bereaksi saat dipanaskan.
    • Tidak perlu merebus terlalu lama atau berulang kali karena justru bisa mempercepat pengendapan mineral.

    Kesimpulan

    Memanaskan atau merebus air mineral dalam kemasan boleh dan aman dilakukan, selama dilakukan sewajarnya. Proses ini memang dapat menimbulkan sedikit perubahan pada komposisi mineral, terutama kalsium dan magnesium, tetapi jumlahnya sangat kecil dan tidak berpengaruh terhadap keamanan maupun manfaat air.

    Jadi, jika tujuannya hanya untuk membuat air hangat atau merasa lebih nyaman, langkah ini tetap tergolong aman. Namun jika ingin mempertahankan rasa segar dan kandungan mineral alaminya, sebaiknya AMDK diminum langsung sesuai fungsinya karena air telah siap konsumsi, murni, dan menyehatkan.

    Air mineral sudah melalui perjalanan panjang sebelum sampai konsumen, dari sumber mata air, proses penyaringan, hingga pengemasan yang higienis. Jadi, tidak perlu lagi diragukan kebersihannya. Yang terpenting, simpan di tempat sejuk dan hindari paparan panas secara langsung agar kualitasnya tetap terjaga.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Sama-sama Air Minum, Apa Sih Bedanya?


    Jakarta

    Banyak yang menganggap air minum dalam kemasan (AMDK) yang dijual di warung-warung dan minimarket sudah pasti air mineral. Jangan terlalu yakin, coba perhatikan baik-baik label di kemasannya.

    Jika dibandingkan, beberapa brand atau merek AMDK yang umum ditemui sehari-hari ternyata punya label berbeda. Ada di labelnya dinyatakan sebagai ‘air mineral‘, dan jika dicermati sebenarnya ada juga yang berlabel ‘air demineral‘.

    Apa bedanya?


    Dua-duanya merupakan ‘air putih’ dalam pengertian awam, atau dalam istilah teknis disebut Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Meski sama-sama bisa diminum, keduanya memiliki perbedaan.

    Air Mineral

    Air mineral merupakan AMDK yang bersumber dari alam, salah satunya dari mata air pegunungan. Karena tidak mengalami proses selain sterilisasi, AMDK jenis ini memiliki kandungan berbagai mineral alami seperti kalsium, magnesium, natrium, dan kalium.

    Mineral-mineral ini tidak hanya memberi rasa khas, tapi dalam kadar tertentu juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Sesuai kandungan yang ada di dalamnya, jenis AMDK ini umumnya mencantumkan keterangan ‘Air Mineral’ atau lebih spesifik ‘Air Mineral Pegunungan’.

    Bahkan ada juga brand air mineral yang secara detail mencantumkan mineral apa saja yang terkandung di dalamnya, berikut kadarnya.

    Air Demineral

    Sementara itu, air demineral adalah air yang telah melewati proses tertentu seperti penyulingan (distilasi) atau deionisasi agar menghilangkan kandungan mineral dan ion. Proses itu menghasilkan air yang sangat murni, tetapi menghilangkan seluruh kandungan mineral alaminya.

    Meski kemasannya mirip seperti air mineral, air demineral umumnya mencantumkan label yang berbeda. Ada yang mencantumkan ‘Air Demineral’, ‘Air Murni’, ataupun ‘Pure Water’.

    Maknanya sama, yakni air yang dimurnikan dari kandungan mineral maupun ion alaminya.

    Bagaimana Membedakan Air Mineral Vs Air Demineral?

    Bagi orang awam, salah satu cara paling mudah adalah dengan melihat label kemasan. Di kemasan air mineral, umumnya tertera tulisan “air mineral”. Klaim label ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 78 Tahun 2016. Menurut aturan tersebut, yang dimaksud dengan air mineral adalah AMDK yang mengandung mineral dalam jumlah tertentu tanpa adanya penambahan mineral, oksigen, dan karbondioksida.

    Meski demikian, tidak semua produk air minum mencantumkan label yang menyatakan apakah produk tersebut termasuk ‘Air Mineral‘ atau ‘Air Demineral‘. Beberapa produk yang diklaim sebagai ‘Air Alkali‘ atau ‘Air Minum pH tinggi‘ tidak mencantumkan keduanya.

    Demikian pula di laman registrasi produk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk-produk ‘Air Minum pH Tinggi’ juga tidak dinyatakan sebagai ‘Air Mineral’ maupun ‘Air Demineral’.

    Samakah Efeknya di Dalam Tubuh?

    Dalam kadar tertentu, mineral dibutuhkan oleh tubuh manusia. Menurut penelitian tahun 2025 yang terbit di Jurnal Nutrients, mineral seperti magnesium dan kalsium dalam air dibutuhkan untuk menjaga tekanan darah, fungsi otot, serta mendukung kesehatan tulang. Kandungan bikarbonat juga berperan menyeimbangkan pH tubuh dan mencegah asam lambung berlebih.

    Beberapa studi dari Frontiers in Nutrition dari tahun 2022-2024 menunjukkan bahwa konsumsi air mineral secara rutin dapat membantu menurunkan risiko sindrom metabolik dan meningkatkan fungsi ginjal. Bagi orang dengan pola makan rendah mineral, air mineral bisa menjadi tambahan sumber mikronutrien penting yang membantu menjaga keseimbangan elektrolit.

    Bagi mereka yang banyak beraktivitas atau mudah berkeringat, air mineral juga membantu mengembalikan elektrolit yang hilang. Karena itulah air mineral sangat cocok untuk konsumsi harian, baik di rumah, saat olahraga, maupun bekerja di luar ruangan.

    Bagaimana dengan air demineral?

    Meskipun tidak mengandung mineral, bukan berarti air demineral tidak punya manfaat. Terlebih, air demineral memiliki keunggulan dari segi kemurnian dan kebersihannya. Proses pemurnian membuat air ini bebas dari logam berat, klorin, mikroorganisme, maupun senyawa kimia lain yang bisa menimbulkan endapan.

    Karena sifatnya yang sangat murni, air demineral sering digunakan pada alat medis seperti nebulizer, mesin dialisis, serta pada industri makanan dan farmasi agar tidak menimbulkan endapan atau reaksi kimia yang bisa mengubah hasil produk.

    Bagi konsumen, air demineral juga bisa jadi pilihan saat kerja ginjal telah menurun. Air demineral juga baik diminum setelah mengonsumsi makanan yang tinggi mineral. Air demineral bisa menjadi pilihan sementara bila sumber air mineral sulit ditemukan, misalnya saat bepergian.

    Namun, karena tidak mengandung mineral sama sekali, penggunaannya untuk konsumsi jangka panjang tetap tidak direkomendasikan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com