Tag: ethereum 2.0

  • Inilah Prediksi Ethereum yang Anda Wajib Ketahui di 2021

    Siapa sih yang nggak tahu kesuksesan bitcoin pada dua tahun belakangan ini? Naiknya harga bitcoin ini pun turut berpengaruh terhadap aset kripto lainnya, lho. Salah satunya ethereum. Ia juga menunjukkan peningkatan harganya hingga mencapai Rp 28 juta selama hampir dua bulan pada awal tahun 2021 ini.  Jika Anda tertarik untuk investasi di aset kripto ethereum ini, simak dulu yuk prediksi harga ethereum yang akan terjadi di tahun ini!

    Kesuksesan Bitcoin di 2021

    Tahun 2020 merupakan tahun yang bersejarah dan sangat penting bagi perjalanan dunia aset kripto di seluruh dunia. Permintaan bitcoin yang tinggi saat  2020 membuktikan bahwa orang-orang memahami bahwa bitcoin merupakan aset safe haven. Harga bitcoin tetap stabil dan cenderung naik di saat harga aset lainnya mengalami penurunan harga saat pandemi COVID-19 berlangsung.

    Dilansir dari Coinmarketcap, harga bitcoin terus meroket dan mampu menyentuh level tertingginya, yaitu sekitar US$ 29.006 atau sekitar Rp 403 juta pada 31 Desember 2020.

    Seakan ingin mengulang kesuksesannya di tahun 2020, bitcoin terus mengalami tren harga yang positif di awal tahun 2021 ini. Menutup pekan pertama di Januari 2021 (10/1/21), harga bitcoin mampu menyentuh US$ 40.973 atau sekitar Rp 579 juta.

    Walaupun pada pekan selanjutnya di Januari harga bitcoin mengalami penurunan. Tapi itu tak bertahan lama. Pada bulan Februari secara perlahan, harga bitcoin menunjukkan kenaikannya lagi. Pada Selasa (9/2/21) ia sempat menyentuh di harga US$ 47.704 atau sekitar Rp 667 juta per btc.

    Nggak cuman sampai situ, lho. Pada Senin (21/2/21), harga bitcoin berada di level US$ 56.599 atau sekitar 796 juta. Keberhasilan bitcoin pada bulan Februari ini disebabkan karena semakin masifnya pengadopsian bitcoin oleh korporasi. Tesla, adalah salah satu korporasi yang menggadang-gadangkan jika ia telah memborong bitcoin di bulan Februari.

    Prediksi Ethereum di 2021

    Harga ethereum pada tahun ini pun turut naik seiring melonjaknya permintaan pada bitcoin. Ethereum juga mengalami kenaikan harga yang signifikan di awal tahun 2021. Harga ethereum pada Rabu (20/1/21) menembus level tertinggi mencapai Rp 20 juta per etc. Padahal di awal peluncurannya pada 2015 silam, ethereum diperdagangkan di harga kurang dari Rp 40.000 per etc.

    Kini ethereum merupakan aset kripto terpopuler dengan market cap nomor dua terbesar di dunia setelah bitcoin, lho. Dalam satu tahun terakhir, ethereum mampu mengalami kenaikan harga lebih dari 10 kali lipat dalam satu tahunnya. Dilihat dari harga ethereum di awal tahun 2020, ia dijual dengan harga hanya Rp 1,8 juta. Harganya terus naik dan akhirnya berhasil menembus rekor Rp 20 juta di bulan Februari 2021.

    Lantas apa sih yang menyebabkan harga ethereum mengalami tren harga yang positif?

    Nah, kenaikan harga ethereum yang meningkat secara drastis ini bersamaan dengan adanya upgrade jaringan blockchain ethereum menjadi ethereum 2.0. Fase evolusi ethereum 2.0  ini pun sudah dimulai pada akhir Desember 2020 dan akan dilakukan secara bertahap.

    Pada Desember 2020 lalu, penguncian ratusan juta dolar pasokan ethereum sudah dilakukan. Cara tersebut dilakukan untuk mengurangi pasokan Ethereum yang ada sebagai langkah dalam menstabilkan harganya.

    Februari 2021, harga ethereum terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari Coinmarketcap, harga ethereum mampu mencapai puncak dengan harga US$ 1.994 atau sekitar Rp 28 juta.

    Dilansir dari Warta Ekonomi, kenaikan di bulan Februari ini juga disebabkan karena adanya lonjakan minat dari investor institusional. Di bulan ini, Bursa Chicago Mercantile (CME) meluncurkan uang digital atau token yang memfasilitasi transaksi di Ethereum blockchain.

    Tak hanya sampai situ saja. Harga ethereum diprediksikan akan terus mengalami kenaikan. Menurut salah satu pendiri Aragon, Luis Cuende mengungkapkan bahwa ethereum mampu mencapai US$ 2.500 di 3 bulan ke depan.

    Nah itulah prediksi ethereum yang akan terjadi di tahun 2021 ini. Wah menarik kan? Jika Anda tertarik untuk melakukan investasi pada ethereum, Anda bisa melakukannya di Tokocrypto, lho. Yuk, daftarkan diri Anda segera di www.tokocrypto.com!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • US$3 Milyar ETH “Terkunci” di Ethereum 2.0

    Sekitar 2,6 juta ETH dari pasokan beredar, 114,3 juta ETH telah “terkunci” di Ethereum 2.0, menurut data Dune Analytics. Ketika artikel ini disusun, ETH itu bernilai US$3,2 milyar.

    Blockchain Ethereum 2.0 tahap pertama, yang aktif mulai 1 Desember 2020, adalah pembaruan blockchain bertahap yang bertujuan mengubah algoritma konsensus proof of work Ethereum menjadi proof of stake.

    Baca Juga: Harga Bitcoin Mungkin Terus Terkoreksi, Namun…

    Untuk meluncurkan versi 2.0, minimal ETH yang terakumulasi adalah 524.288 ETH. Saat ini, jumlah ETH yang disetorkan 4,9 kali lebih besar dari yang dibutuhkan.

    Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah, seiring dengan perkembangan Ethereum 2.0 itu sendiri yang diperkirakan rampung pada tahun 2022 atau 2023.

    Menurut CryptoQuant, lebih dari 4.800 pengguna telah mendepositkan 32 ETH atau lebih ke versi 2.0 itu. 32 ETH adalah jumlah minimal yang disyaratkan yang juga dikenal dengan istilah staking itu.

    Proof of stake membutuhkan validator yang menyetorkan ETH mereka untuk mendapatkan hak memverifikasi transaksi.

    Baca Juga: Ini Cara DeFi Diadopsi Semakin Luas Lagi!

    Validator dipilih untuk memverifikasi block berdasarkan jumlah setoran dan jangka waktu setoran mereka.

    Metode ini akan mengganti sistem penambangan melalui Proof of Work yang memakan energi tinggi dan bergantung kepada daya komputasi, seperti Bitcoin.

    Keuntungan utama sistem tersebut adalah lebih hemat energi dibanding proof of work. Validator tidak memerlukan komputer kuat untuk mengamankan jaringan, cukup yang berspesifikasi komputer server.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Keuntungan Staking ETH di Ethereum 2.0

    Peluncuran Ethereum 2.0 tahap pertama pada 1 Desember 2020 lalu, menandai transformasi blockchain-aset kripto nomor dua itu kelak menjadi blockchain Proof-of-Stake. Versi baru ini diklaim lebih efisien, aman dan dapat diperbesar skalanya dibanding versi saat ini.

    Kendati versi 2.0 ini akan butuh waktu lama untuk dibangun seutuhnya, fase pertama yang disebut Phase 0 sudah berjalan apik dan mencerminkan sambutan baik dari ekosistem. Dengan adanya fase ini, muncul kegunaan baru bagi Ether (ETH), yaitu staking.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    Beberapa hari yang lalu sudah ada total 900.129 ETH (sekitar US$532 juta) yang di-staking di Ethereum 2.0. Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk mengamankan jaringan. Berkat partisipasi dari 21.291 validator, Ethereum 2.0 sudah berhasil memroses 100 epoch untuk menciptakan blok-blok baru.

    Node validator aktif rata-rata mendapatkan imbalan 0,00403 ETH/hari, atau sekitar US$2,36 per hari. Angka ini kemungkinan akan menurun seiring meningkatnya jumlah node validator yang tergabung. Setiap hari, maksimal 900 validator baru dapat bergabung ke Ethereum 2.0, dan ada ribuan yang mengantre.

    Harga aset kripto Ether (ETH) sendiri telah meningkat 364 persen sejak awal tahun 2020. Kendati demikian, aset kripto di sektor DeFi yang dibangun di atas jaringan Ethereum lebih menguntungkan lagi. Contohnya YFI, yearn.finance besutan Andre Cronje, meroket lebih dari 2.300 persen. Sektor DeFi secara keseluruhan untung 456 persen tahun ini terhadap dolar AS.

    Tetapi tidak semua bisa untung. Token Compound (COMP) longsor 55 persen setelah sebelumnya mengalami peningkatan signifikan. Sifat perdagangan token Ethereum dan DeFi yang volatil mengakibatkan investor mencari imbalan lebih stabil.

    Baca Juga: Perusahaan Australia Ini Beralih ke Bitcoin dari Emas

    staking eth
    Jumlah total ETH yang distaking pada Ethereum 2.0 (Beacon Chain), per 4 Desember 2020. Sumber: Ethereum.org.

    Itulah sebabnya staking pada Ethereum 2.0 menjadi peluang yang menggiurkan, setidaknya lebih mirip deposito di bank yang memberikan pendapatan pasif.

    Sebagai jaringan Proof-of Stake, imbalan pada Ethereum 2.0 berbentuk ETH dan mengiktut kurva distribusi menurun yang bergantung kepada partisipasi dan jumlah peserta. Imbalan per epoch per tahun menyaingi imbalan yang ditawarkan sejumlah proyek DeFi.

    Imbalan Ethereum 2.0 mulai dari 20 persen untuk staker awal, tetapi akan menurun seiring bertambahnya node validator, hingga ke angka 4,5 sampai 7 persen per tahun.

    Sebagai perbandingan, imbalan dari proyek DeFi terpercaya berada di kisaran 5 hingga 7 persen per tahun.

    staking eth
    Kalkulator cuan staking ETH di Ethereum 2.0. Sumber: Ethereum.org.

    Untuk proyek-proyek ini, semakin tinggi imbalan yang didapatkan, maka semakin besar risiko peranti lunak yang bisa terjadi.

    Staking pun melibatkan risiko. ETH yang disimpan node validator, yakni minimal 32 ETH bisa dipotong sebanyak separuh jika tidak mematuhi aturan jaringan.

    Setiap node validator harus memilih spesifikasi dari lima tim berbeda yang memakai bahasa pemrograman berbeda.

    Setiap spesifikasi ini bisa memiliki kerentanan yang belum diketahui, kendati uji coba berjalan mulus pada tahun ini.

    Selain itu, staking pada Ethereum 2.0 berarti ETH partisipan tertahan (locked) hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, setidaknya pada tahun 20222, mengingat ETH yang diperdagangkan adalah yang di-staking pada jaringan Ethereum 2.0 yang masih baru.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum Mulai Tunjukan Biaya Gas dan Total Biaya Rendah!

    Ada banyak optimisme terkait dengan peluncuran Ethereum 2.0 dan migrasi dari model verifikasi Proof-of-Work ke Proof-of-Stake.

    Jika melihat kembali kegunaan dan fungsionalitas dari jaringan Ethereum, ini sama ketika melihat penggunaan massal blockchain utama lainnya seperti Bitcoin.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    Dibandingkan harga terdahulu, saat ini Ethereum secara signifikan telah mampu membuat transaksi di dalam jaringan menjadi lebih murah dibandingkan dengan Bitcoin, mengenakan biaya rata-rata Rp425 untuk transaksi Ethereum biasa.

    Biaya Lebih Rendah Untuk Pengguna, Lebih Banyak Nilai untuk Validator

    Menurut Crypto Fees, saat ini jaringan Ethereum hanya memproduksi biaya di kisaran $1,6 juta dibandingkan dengan Bitcoin $895.000. Serta, rata-rata biaya tujuh hari, Ethereum mencatatkan $2,43 juta dibandingkan dengan Bitcoin $1,97 juta.

    Perbandingan penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah biaya transaksi dalam melakukan transaksi Bitcoin serta jumlah total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Seperti yang dinyatakan di atas, rata-rata biaya Ethereum dari beberapa minggu terakhir adalah sekitar Rp4.250 dan hanya perlu waktu sebentar untuk menyelesaikan sebuah transaksi (dengan asumsi biaya gas cukup tinggi).

    Di sisi lain, pengguna Twitter @antiprosynth menunjukkan, biaya transaksi Bitcoin rata-rata sekitar Rp82.000, dan dapat memakan waktu hingga satu jam sebelum transaksi benar-benar diverifikasi dan diselesaikan.

    Saat mempertimbangkan perbedaan harga biaya transaksi utama antara Bitcoin dan Ethereum, penting untuk dipahami meskipun harga transaksi Ethereum jauh lebih rendah, total biaya yang dibayarkan jauh lebih tinggi daripada Bitcoin.

    Metrik ini mengindikasikan jumlah transaksi yang terjadi di jaringan Ethereum secara besar-besaran melebihi Bitcoin, dan menghasilkan biaya yang jauh lebih banyak kepada validatornya sekaligus membebankan biaya yang lebih sedikit kepada penggunanya untuk melakukan transaksi ini.

    Baca Juga: Ini Cara DeFi Diadopsi Semakin Luas Lagi!

    Dampak Ethereum 2.0

    Lantaran Ethereum baru-baru ini mengganti mekanisme verifikasi bukti kepemilikan, lebih banyak pengguna akan dapat mengambil bagian dalam melakukan stake dan validasi agar membuat keamanan lebih kuat.

    Fokus dari migrasi dari ETH 1.0 ke ETH 2.0 adalah untuk mengurangi biaya transaksi serta waktu transaksi.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Withdrawal di Ethereum 2.0 Dapat Segera Diluncurkan?

    Withdrawal atau penarikan Ether (ETH) hasil staking di Ethereum 2.0 diperkirakan akan tersedia pada Q1 2021. Informasi ini didapatkan dari sebuah postingan blog layanan staking Rocket Pool.

    Phase 0 peluncuran Eth2 Beacon Chain pada 1 Desember lalu berhasil dilakukan. Peristiwa ini melibatkan 900.000 Ether yang disimpan oleh pemegang saham. Sayangnya, proses Phase 0 kemarin belum menyediakan layanan withdrawal dan menunggu hingga Phase 1.5 rampung. Pada awal rencana, Phase 1.5 diprediksi akan selesai pada awal 2022 mendatang.

    Baca Juga: AllianceBernstein: Bitcoin adalah Store of Value Jangka Panjang

    Namun, minggu lalu, pengembang Ethereum Danny Ryan memperkenalkan proposal baru terkait dengan “Kontrak penarikan sederhana (tapi ekspresif)”. Ini berarti pengguna akan dapat melakukan penarikan Ether mereka segera.

    Jika proposal tersebut diterapkan, Danny memperkirakan “80% kasus penggunaan kontrak penarikan akan terpenuhi”. Namun, ia juga mengakui, solusi ini tidak akan membuka fungsionalitas lengkap terkait fasilitas withdrawal ini

    “Ada fitur dengan potensi lebih canggih yang tidak dapat dibangun dengan skema sederhana sampai pembacaan Beacon Chain diterapkan, tetapi saya pikir sebagian besar desain dapat diselesaikan.”

    Salah satu utilitas yang didukung proposal Ryan adalah kemampuan staking pool untuk memulai pembayaran, yang selanjutnya meningkatkan sifat desentralisasi Ethereum.

    Withdrawal pada Eth2

    Rocket Pool merupakan platform staking terdesentralisasi berbasis di Australia yang dirancang untuk memungkinkan investor yang memiliki kurang dari 32 ETH dapat mengumpulkan dana mereka untuk bergabung melakukan staking. Terkait layanan withdrawal ini, ia mengindikasikan platform sedang menunggu layanan smart contract withdrawals untuk dapat digunakan bahkan sebelum jaringan utama resmi beroperasi.

    Dalam postingan blog hari ini, pendiri David Rugendyke menjelaskan, lantaran layanan withdrawal belum bisa didukung di Eth2 saat ini, “untuk mendemokratisasi staking di lingkungan saat ini, proyek harus menggunakan kustodian terpusat untuk mengontrol validator withdrawals keys.”

    Ia juga menambahkan masalah kepercayaan terkait dengan hal ini “tidak boleh mengorbankan nilai inti kami dan mempertaruhkan simpanan pengguna”. Rugendyke menyebut solusi yang diajukan Ryan sebagai “langkah fantastis” dan mendukung langkah tersebut agar dapat segera terealisasi.

    Baca Juga: Taat Peraturan, Coinbase Pro Tutup Layanan Margin Trading

    Layanan Staking Ethereum Pihak ke-3

    “Rocket Pool akan memilih untuk tetap medukung peluncuran setelah penerapan smart contract withdrawalsdilakukan, untuk mematuhi sifat non-kustodian, trustlesssebagai solusi staking yang sudah kami rencanakan selama dua tahun yang lalu. Peristiwa ini diharapkan terjadi pada Q1 tahun 2021 dan kami berharap untuk ikut meluncurkannya bersamaan dengan perstiwa tersebut.”

    Perusahaan Blockchain Consensys juga mencatat, solusi dari Danny Ryan bukanlah satu-satunya. Proposal “Simple Withdrawal Contract” dari pengembang Ethereum Jeff Coleman juga hadir memberikan solusi terkait masalah penarikan. Layanan stakingEthereum, salah satu pendiri Attestant, Jim McDonald’s, memiliki proposal lain yang disebut “Simple Transfers of Excess Balance”.

    Perusahaan saham LiquidStake telah mengambil pendekatan yang berbeda, memungkinkan pemegang saham untuk mengambil pinjaman USDC pada ETH yang dipertaruhkan untuk memberikan likuiditas yang lebih baik kepada pengguna. Coinbase juga telah mengumumkan dukungan untuk taruhan Eth2, namun mereka akan menyediakan likuiditas untuk pengguna:

    “Sementara token Eth2 yang di-stake tetap terkunci pada Beacon Chain, Coinbase juga akan mengaktifkan perdagangan antara Eth2, ETH, dan semua mata uang lainnya yang mendukung penyediaan likuiditas bagi pelanggan kami.”

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum 2.0 Rilis 1 Desember, Begini Perkembangannya

    Ethereum 2.0 rilis pada 1 Desember 2020, kurang dari seminggu lagi maka proyek yang sangat dinantikan penggemar crypto ini akhirnya akan muncul ke publik dengan ragam solusi yang lebih baik dibandingkan Ethereum generasi pertama.

    Konfirmasi ini seiring dengan kontrak setoran Ethereum yang sudah memenuhi ambang batasnya yaitu 524.288 Ether dari 16.384 validator ke dalam kontrak setoran Eth2 sejak ditayangkan pada 4 November. Saat ini, kurang lebih 694.368 eter senilai lebih dari $422 juta yang berada dalam kontrak.

    Baca juga: Apa itu Staking Ethereum 2.0 ? Panduan untuk Pemula

    Selain itu sebuah portal web bernama Launch Pad diterbitkan untuk memudahkan pengguna belajar bagaimana menjadi validator ETH dan mengamankan blockchain.

    Alamat kontrak telah melihat sekitar 16.736 transaksi sekitar 32 ether per transaksi. 32 ETH adalah jumlah yang dibutuhkan oleh para calon validator untuk bisa berpartisipasi.

    Baca juga: Apa Itu Staking? Panduan Lengkap untuk Pemula

    Tim Ethereum 2.0 Merayakan Keberhasilan

    Setelah pencapaian ini sejumlah besar pendukung dan pengembang Ethereum merayakannya.

    “Kami mencapainya, terima kasih untuk semua tim Eth2 dan komunitas yang menulis sejarah. Dan terima kasih kepada kritikus Ethereum yang membuat kami lebih kuat. Jangan lupa untuk memperbarui klien Eth2 Anda dalam beberapa hari,”  kata anggota R&D Ethereum 2.0, Hsiao-Wei Wang.

    Pembaruan ETH 2.0 akan dimulai dalam waktu tujuh hari dan Beacon chain akan memulai yang fase eprtama dari empat fase awal.

    Perkiraan mengatakan bahwa validator Ethereum 2.0 dapat memperoleh sekitar 20% sebagai hadiah tahunan. Setelah persyaratan dipenuhi, pendukung Ethereum Tom Shaughnessy mengatakan bahwa peluncuran Ethereum 2.0 mendapat lebih banyak perhatian.

    Anggota Ethereum Foundation Hudson Jameson men-tweet tentang bagaimana peluncuran rantai Beacon Ethereum 2.0 akan terjadi sehari sebelumnya, dan apa yang perlu terjadi untuk membuat peluncuran yang sukses.

    “Beacon chain  menandai awal transisi ke Eth 2.0, tetapi itu tidak berarti bahwa semuanya segera berubah. Eth 2.0 adalah proses multi-tahun dan beberapa bagian pertama dari proses itu tidak akan terlalu memengaruhi mainnet Ethereum saat ini, “ kata Jameson.

    Jameson juga menekankan bahwa apapun yang terjadi, komunitas Ethereum harus terkesan dengan tim pengembangan Ethereum 2.0.

    Sementara itu para peserta genesis tidak akan dapat menarik koin mereka hingga ETH 2.0 mencapai Fase 1.5  yang akan menggabungkan mainnet Ethereum dengan beacon chain Eth2 dan lingkungan yang dipecah  banyak trader kini menunggu pihak ketiga untuk meluncurkan layanan staking yang mengaktifkan penarikan, meskipun ada potensi risiko penipuan. Oleh karena itu semua harus dilakukan dengan cermat dan penuh pertimbangan.

    Perkembangan Ethereum 2.0

    Berdasarkan data dari Cryptoquant dari Unfolded, berikut ini adalah perkembangan dari Ethereum 2.0

    Ethereum 2.0
    Perekmbangan Ethereum 2.0. Sumber: Unfloded

    – Phase 0 Success Rate: 111%

    – Phase 0 Unique Validators: 18,333

    – Total Value Staked: 586,656 ETH

    – Unique Depositors: 1733.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Optimis Nilai Ether (ETH) Dapat Berlipat Ganda di Masa Depan!

    Beberapa tren teknis juga menunjukan mata uang terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar ini akan terus naik di bulan-bulan mendatang. Analis memprediksi ini akan terjadi terlepas dari mata uang crypto lainnya seperti Bitcoin yang digadang-gadang akan meroket menuju ke level all-time-high-nya segera.

    Baca Juga: Berikut Tools yang Perlu Dikuasai Saat Trading Bitcoin

    Sentimen pasar Ether (ETH) memperkirakan kisaran $400 atau Rp5,6 juta akan menjadi level support yang nantinya akan menjadi batu loncaran ETH menuju $800 atau Rp12 juta.

    Seorang analis juga percaya bahwa tren jangka panjang Ethereum akan tetap positif. Hal ini mengacu pada grafik makro ETH, ditambah dengan eksposur yang terjadi pada aset saat ini.

    Grafik di bawah ini menunjukan Ethereum memiliki resistance makro hingga angka $800-$900. Area ini merupakan rally pada awal 2018,

    nilai tether berlipat ganda

    “Berhenti menyandingkan ETH dengan BTC, (ETH) itu dibawah USD. Tren HTF sangat bullish memasuki tahun 2021, saya sangat berharap kita dapat kesempatan untuk membeli dikisaran $350 sebelum akhirnya naik ke $600-$800… Saya punya banyak keuntungan untuk dihabiskan.”

    Ethereum 2.0 Dorong Nilai Ether (ETH) Lebih Tinggi

    Vilatik Buterin beberapa hari lalu mengirimkan 100 transaksi untuk masing-masing 32 Ether atau total 3.200 Ether untuk peluncuran kontrak deposit pada Ethereum 2.0. Dengan pengembangan sistem, jaringan nantinya akan memberlakukan prinsip proof-of-stake (PoS) yang sebelumnya merupakan proof-of-work (PoW).

    Saat ini, peserta sudah dapat melakukan deposit dengan minimal 32 Ether yang nantinya akan di stake melalu Ethereum 2.0. Hal ini dilakukan sambil menunggu jaringan luncur ke publik secara resmi pada Desember mendatang.

    Berita Terkait: Sempat Sulit Diakses, Ternyata Ethereum Lakukan Hard Fork

    Peluncuran Genesis memerlukan 16,384 validator untuk dapat menyimpan dana setara dengan 524.288 Ether ke dalam kontrak. Jika hal itu sudah terpenuhi, Beacon chain, inti dari Ethereum 2.0 akan bisa dinikmati langsung oleh publik.

    Dengan adanya perpindahan prinsip dan pengembangan jaringan, para analis optimis harga Ether nantinya akan melonjak ke harga yang lebih tinggi lagi. Ditambah, antusias pengguna dan komunitas semakin menghangatkan sentimen pasar yang positif ini.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bersiap! Ethereum 2.0 Akan “Segera” Rilis

    Quantstamp, perusahaan audit smart contract, beberapa waktu lalu menyatakan Ethereum 2.0 hampir siap untuk diluncurkan. Berita tersebut mengikuti audit Teku yang diselesaikan oleh Quantstamp sebagai klien Ethereum 2.0 yang dikembangkan oleh ConsenSys.

    Nantinya, Ethereum 2.0 ini akan menggunakan Proof-of-Stake (PoS) dalam sistem protokolnya. Hal ini berbeda dari Ethereum terdahulu yang menggunakan mekanisme Proof-of-Work (PoW). Dengan pergantian mekanisme ini memungkinkan pengguna melakukan staking atau pertaruhan ETH di dalam jaringan.

    Baca Juga: Testnet Ethereum 2.0 Dilakukan! Kapasitas Capai 75 GB per Node

    CEO Quantstamp Richard Ma menjelaskan,

    “Ethereum 2.0 berada di jalur yang tepat untuk segera menghadirkan Fase 0 dalam waktu dekat.”

    Audit yang dilakukan Quantstamp ini melibatkan pengujian batas dan kemampuan jaringan. Terlebih, aksi kali ini berfokus juga untuk menyelesaikan masalah seputar serangan DDoS, kesalahan sinkronisasi, dan logika validasi yang hilang.

    Perilisan Ethereum 2.0 Masih Simpang Siur

    Meski proses pengembangan berjalan lancar, perusahaan tersebut belum memberikan detail lebih jelas terkait dengan tanggal pasti perilisan Ethereum 2.0 ke publik. Kabarnya, fasilitas kontrak deposit akan rampung pada pertengahan November 2020 mendatang.

    Kedatangan Ethereum 2.0 ini sudah sangat dinatikan oleh komunitas crypto dan blockchain. Pasalnya, jaringan ini nantinya akan dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi jumlah validator kerja yang harus dilakukan.

    Padatnya jaringan dan membludaknya biaya gas Ethereum terdahulu juga membuat perilisan ini menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu.

    Baca Juga: Cara Praktis Agar Transaksi Cryptocurrency Tidak Gagal

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • London Hard Fork Kemungkinan Ditunda, Ini Pernyataan Developer Ethereum

    Terdapat kabar bahwa London Hard Fork yang akan memberikan peningkatan pada efisiensi jaringan Ethereum (ETH) akan ditunda.

    Dari sebelumnya dijadwalkan akhir bulan ini, salah satu developer dan pendiri dari ethhub.io menyatakan bahwa ada potensi penundaan.

    London Hard Fork Kemungkinan Ditunda

    Anthony Sassano baru saja memberikan informasi mengenai potensi penundaan peluncuran London Hard Fork untuk Ethereum.

    Dikabarkan bahwa penundaan tersebut akan terjadi hingga 4 Agustus 2021, namun semua bergantung pada kelancaran jaringan uji coba RInkeby.

    Jaringan testnet atau uji coba tersebut dikabarkan akan meluncur pada 7 Juli 2021, yang akan menentukan perkembangan Ethereum.

    Banyak pihak yang menyatakan bahwa penundaan akan terus berlanjut bahkan melebihi tanggal yang dijanjikan oleh Sassano.

    Baca Juga: Inilah 5 Pola Candlestick Bearish yang Harus Diketahui Para Trader Kripto

    Salah satu pihak tersebut adalah Lark Davies, seorang Youtuber, yang menyatakan bahwa Ethereum bisa ditunda hingga pertengahan Agustus.

    Ia menyatakan bahwa kemungkinan besar semua akan menunggu hasil pertemuan antar developer yang akan terjadi pada 14 Juli 2021.

    Akibat penundaan ini banyak pihak yang mempertanyakan apakah sebenarnya layak ditunggu atau apakah akan memiliki dampak yang besar.

    Hal ini disebabkan suatu yang besar seharusnya tidak ditunda, menurut beberapa pihak di komunitas Ethereum.

    Namun beberapa pihak berargumen penundaan ini dapat menjadi hal positif akibat adanya kepastian dalam implementasi yang baik.

    London Hard Fork menjadi suatu hal yang ditunggu akibat akan membuat jaringan Ethereum lebih efisien dan lebih rendah biaya.

    Dua hal tersebut adalah hal yang dicari akibat daya saing Blockchain Ethereum yang mulai menurun akibat dua kekurangan tersebut.

    Tapi ada satu hal yang dikabarkan akan menjadi sentimen positif utama dari Hard Fork ini yaitu mekanisme burn.

    Nantinya dengan implementasi Hard Fork, 70% biaya transaksi Ethereum akan dihilangkan yang membuat jumlahnya berkurang 1,4% per tahun.

    Mekanisme ini akan membuat Ethereum semakin langka, yang jika terus naik permintaannya, dapat mendorong harganya naik.

    Keraguan dalam Peningkatan Efisiensi

    Namun, saat ini banyak pandangan dari penambang yang menyatakan implementasi proposal Hard Fork tersebut tidak akan seefisien yang dikatakan.

    Para penambang Ethereum saat ini masih terlihat menolak adanya implementasi proposal EIP-1559 yang akan diterapkan di London Hard Fork.

    Hal ini disebabkan adanya potensi penurunan pendapatan dari penambangan Ethereum sebesar 20% hingga 35%.

    Prediksi ini juga masuk akal mengingat transisi Hard Fork akan mempermudah masuknya perubahan dari Proof of Work ke Proof of Stake, yang tidak lagi membutuhkan penambangan.

    Baca Juga: Cardano Ungguli Ethereum 2.0 Dan Luncurkan Alonzo Testnet, Ini Analisis Harganya

    Selain itu, saat ini terdapat celaan dari beberapa pesaing, salah satunya adalah dari komunitas Cardano (ADA) melalui Twitter.

    Terdapat celaan bahwa EIP-1559 tidak akan bermanfaat secara signifikan terhadap Ethereum akibat hanya akan menjadi “bualan” untuk “mempercantik” Ethereum.

    Selain itu banyak pihak yang juga berasumsi bahwa penundaan akan terus berlanjut dan kemungkinan tidak akan terjadi di awal Agustus 2021.

    Bersama dengan peluncuran Alonzo Hard Fork dari Cardano, kemungkinan Ethereum memiliki saingan yang cukup kuat.

    Kemungkinan perdebatan antara komunitas Cardano dan Ethereum masih akan terus berlanjut hingga kedua Hard Fork terjadi, bahkan berlanjut.

    Namun untuk efisiensi London Hard Fork, masih belum ada yang yakin dan mengetahui secara pasti bagaimana kemungkinan dampaknya secara nyata walau baik secara tertulis.

    sumber.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ETH Bakal Langka, Kini Masuk Tahap Akhir

    Kabar pembaruan blockchain Ethereum (ETH) kini kembali menggema. Pembaruan bakal membuat jumlah ETH jadi lebih langka. Prosesnya di tahap akhir sudah dimulai.

    ETH Akan Menjadi Aset yang Langka

    Berdasarkan laporan dari Decrypt, hard fork London, pembaruan terjadwal di blockchain Ethereum, kini kali pertama menuju ke jaringan uji blockchain.

    Tim Beiko dari Ethereum Foundation belum lama ini mengumumkan bahwa London akan aktif di test net Ropsten sekitar  24 Juni 2021 mendatang, diikuti oleh Goerli pada 30 Juni 2021 dan Rinkeby pada 7 Juli 2021.

    Tetapi tanggal-tanggal tersebut bukanlah waktu pasti, karena semua ini masih akan bergantung dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan block untuk ditambang.

    “Setelah pemutakhiran berhasil diaktifkan di jaringan ini, block akan ditetapkan untuk main net Ethereum, yang seharusnya pada  Juli,” kata Ethereum, dilansir dari pengumuman resmi mereka, Jumat (18/6/2021).

    Baca Juga: Analis Plan B: Harga Bitcoin Bisa Sentuh Rp 6,5 Milyar di Akhir Tahun 2021

    Dikabarkan, pembaruan London tersebut akan menerapkan lima Proposal Peningkatan Ethereum (EIP) terpisah, yang merupakan perubahan pada kode blockchain yang harus disetujui secara luas oleh anggota komunitas sebelum dapat diadopsi secara penuh.

    Dan yang terbaru, setiap kali seseorang melakukan transaksi atau berinteraksi dengan smart contract di Ethereum, mereka harus memutuskan biaya dengan cara yang cukup unik, yakni dengan menebak (kira-kira).

    Untuk mendorong transaksi dengan cepat, Anda dapat menetapkan biaya tinggi, kecuali memastikan penambang akan memasukkannya ke dalam block.

    Jika Anda lowball (sengaja atau tidak), transaksi Anda kemungkinan akan menunggu hingga penambang tidak terlalu sibuk memroses transaksi dengan bayaran lebih tinggi.

    Kecepatan adalah peran penting dalam beberapa kasus, termasuk saat berdagang di bursa terdesentralisasi berbasis Ethereum seperti Uniswap, di mana harga token dapat berayun dengan cepat yang dapat menyebabkan pedagang kehilangan uang jika mereka menunggu (bahkan dalam beberapa menit saja).

    Akan Jadi Aset Deflasi

    Selain itu, salah satu yang paling menarik dari pembaruan ini adalah akan ditambahkannya fitur burn (pembakaran) terhadap Ether (ETH), sedikit mengadopsi sistem Bitcoin.

    Mekanisme burn memastikan mengurangi jumlah ETH yang beredar alias lebih langka.

    Cara itu pula guna menekan laju inflasi akibat pasokan ETH yang terlampau banyak.

    Fitur burn terkait dengan EIP-1559 yang kelak memastikan setiap ETH yang digunakan sebagai biaya transaksi (gas fee) akan di-burn (dimusnahkan). Itu yang kelak jumlah ETH jauh lebih langka daripada sebelumnya.

    Cara ini sebenarnya serupa dengan mekanisme burn di blockchain Ripple, di mana XRP di-burn untuk setiap transaksinya. Perbedaannya hanya terletak pada pasokan unit kripto-nya.

    XRP misalnya masih dibatasi pasokannya maksimalnya, yakni 100 milyar XRP. Sedangkan ETH memang tak ada batasan, sekalipun itu nanti masuk Ethereum 2.0.

    Itu akan berdampak pada tertekannya tingkat inflasi ETH, karena pasokan ETH pada dasarnya tidaklah terbatas.

    Sejumlah penambang (miner) ETH ada yang tak setuju dengan itu, karena bisa berdampak pada berkurangnya pendapatan mereka, karena imbalan transaksi hanya akan berasal dari pengguna transaksi itu sendiri.

    Skenarionya begini. Pengguna A mengirimkan ETH kepada pengguna B. Maka pengguna A menambahkan sejumlah kecil ETH sebagai biaya transaksi. Lalu beberapa ETH lagi diberikan kepada penambang.

    Mekanisme burn adalah bagian dari rencana menuju Ethereum 2.0 yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2022 atau tahun 2023 mendatang.

    Kala itu Ethereum tak lagi mengandalkan Proof-of-Work seperti saat ini, melainkan murni Proof-of-Stake yang lebih hemat energi.

    Baca Juga: MicroStrategy Beli Bitcoin Lagi, Setara Rp7 Triliun

    Ethereum 2.0 memastikan biaya transaksi menjadi lebih rendah dan mampu menangangi volume transaksi yang jauh lebih banyak.

    Penambang di Ethereum 2.0 disebut “node validator” akan mendapatkan imbalan ETH secara tahunan. Besarannya tergantung pada jumlah node validator dan jumlah ETH yang di-stake di sistem.

    Imbalan paling kecil adalah 4,9 persen secara tahunan (APR), jikalau jumlah total ETH yang di-stake adalah 10 juta ETH. Rinciannya bisa dilihat di situs ini.

    Sejumlah analis dan pengamat yang berpandangan, nilai ETH akan menjadi semakin besar dan diminati jika proses pembaruan ini telah berjalan 100 persen.

    Ujung-ujungnya sejumlah produk investasi terkait ETH berpotensi semakin beragam dan dibeli oleh investor institusi.



    Sumber : news.tokocrypto.com