Tag: exhaust

  • 5 Tips Sederhana Agar Rumah Terasa Sejuk saat Cuaca Panas Ekstrem


    Jakarta

    Belakangan ini cuaca panas ekstrem tengah melanda Tanah Air. Cuaca panas ini bikin tidak nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan karena suhunya bisa mencapai 37 derajat Celcius.

    Maka dari itu, masyarakat disarankan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan selama periode cuaca panas ekstrem. Namun terkadang, saking panasnya udara di luar bisa turut masuk ke dalam rumah.

    Udara panas yang masuk ke dalam rumah bikin penghuni rumah jadi merasa gerah. Bahkan untuk sekadar tidur di kamar pun jadi tidak nyaman karena keringat tak berhenti mengucur.


    Agar ruangan di dalam rumah tetap sejuk meski udara di luar sangat panas, ada beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan. Penasaran? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

    Tips Sederhana Agar Rumah Tetap Sejuk

    Hawa panas dari luar bisa masuk ke dalam rumah. Dilansir BBC, berikut cara mengatasi udara panas agar rumah kembali sejuk dengan langkah sederhana:

    1. Buat Ventilasi Silang

    Apabila udara panas masih terasa di dalam rumah walau sudah sore hari, cobalah buat ventilasi silang atau cross ventilation. Caranya adalah dengan membuka dua jendela atau satu pintu dan dua jendela di seberang ruangan.

    Langkah ini dilakukan untuk memperlancar aliran udara sekaligus melepaskan udara hangat yang terperangkap. Di sisi lain, cara ini dapat membiarkan udara lebih dingin masuk ke dalam rumah sehingga terasa sejuk.

    Jika tinggal di apartemen, buka pintu belakang dan jendela dapur, lalu gunakan kipas angin untuk mengeluarkan udara panas di dalam ruangan.

    Kalau rumah terdiri dari dua lantai, biasanya udara panas akan naik dan terperangkap di lantai dua. Untuk mengatasinya bisa memakai exhaust fan atau buka ventilasi loteng.

    2. Tutup Jendela dengan Gorden

    Saat siang hari dan cuaca sedang panas-panasnya, pastikan jendela rumah ditutup dengan tirai atau gorden, terutama pada sisi rumah yang terkena sinar matahari. Hal ini agar udara panas dan cahaya matahari tidak bisa masuk ke dalam rumah, sehingga ruangan tetap terasa sejuk.

    3. Pakai Kipas Angin untuk Mengembuskan Angin

    Kipas angin dapat digunakan untuk mengatasi hawa panas dan pengap di dalam rumah. Dengan begitu, ruangan tetap terasa sejuk meski kondisi di luar sangat panas.

    Caranya sangat mudah, yakni menempatkan kipas angin di depan jendela yang terbuka. Langkah ini agar udara panas di dalam ruangan bisa berhembus keluar rumah.

    Agar ruangan bisa terasa dingin, tempatkan wadah berisi es batu di depan kipas angin. Cara ini dinilai lebih hemat energi untuk mendinginkan ruangan ketimbang menyalakan AC selama 24 jam.

    4. Kurangi Penggunaan Barang yang Memicu Panas

    Penggunaan oven dan kompor juga dapat memicu udara panas di dalam rumah. Sebab, api yang terus menyala dari kompor dapat memicu hawa pengap ke seluruh ruangan, terutama bagian dapur. Kondisi ini bisa diperparah jika tidak ada ventilasi udara, sehingga hawa panas bisa menyebar ke seluruh ruangan.

    Peralatan lainnya seperti mesin cuci dan mesin pencuci piring juga dapat menghasilkan panas di dalam rumah. Maka dari itu, sebaiknya kurang penggunaan barang tersebut ketika cuaca panas.

    5. Pasang Kipas Angin Gantung

    Cara lain untuk mengatasi udara panas di dalam rumah adalah dengan memasang kipas angin gantung. Kipas angin yang dipasang di langit-langit rumah dapat meningkatkan sirkulasi udara, sehingga menciptakan angin segar yang nyaman tanpa perlu membuka jendela.

    Demikian lima tips sederhana untuk mengatasi udara panas di dalam rumah. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Kamar Mandi Lembap Sarangnya Bakteri, Begini Cara Agar Tetap Kering



    Jakarta

    Kamar mandi yang ukurannya cukup luas biasanya terdiri dari area basah dan kering. Namun, kebanyakan rumah di Indonesia tidak memiliki ruang yang luas untuk kamar mandi sehingga umumnya hanya memiliki kamar mandi basah.

    Selain itu, umumnya letak kamar mandi berada di tengah atau di dalam rumah tanpa memiliki ventilasi yang memadai. Jika ada ventilasi, letaknya di atas pintu kamar mandi dan ukurannya tidak begitu besar.

    Kondisi tersebut membuat kamar mandi lembap dan sulit untuk kering. Kamar mandi yang selalu basah, baik lantai dan dindingnya mudah sekali berjamur dan berlumut. Risikonya adalah kamar mandi terlihat kotor, lantainya licin, dan bisa muncul bau tak sedap.


    Oleh karena itu, kamar mandi yang bisa mengering setelah digunakan sangat dianjurkan. Kamar mandi yang kering berarti tidak ada genangan di lantai. Pengeringan ini bisa terjadi dengan sendirinya terutama jika kamar mandi tidak digunakan selama 30 menit hingga berjam-jam. Namun, apabila kamar mandi digunakan sejam sekali, memang tidak akan selalu kering.

    Direktur HomeWork Wahyu Achadi mengatakan setiap kamar mandi harus diupayakan menjadi ruang yang kering. Hal ini untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

    “Dengan kondisi kering bakteri dan virus tidak mudah berbiak,” katanya kepada detikcom, Kamis (19/10/2023).

    Tips membuat kamar mandi dapat cepat kering bisa dengan beberapa cara. Pertama pastikan kamar mandi memiliki ventilasi agar sirkulasi udara di dalam bagus. Bentuk ventilasi ini adalah jendela yang tidak tembus pandang, tetapi udara bisa masuk dan keluar atau memasang exhaust fan.

    Cara kedua adalah membagi kamar mandi menjadi area basah dan kering. Area basah merupakan tempat shower atau bak mandi. Sementara area kering tempat kloset dan wastafel.

    Ketiga, Wahyu menyarankan tidak perlu memasang bak mandi. Ganti dengan pancuran air (shower) sementara kloset harus dilengkapi pembilas semprot (jet washer) sehingga tidak perlu gayung atau bak penampungan air di dekatnya.

    “Jet washer membuat proses berbilas menjadi lebih terarah dan cipratan air tidak keluar dari lubang kloset,” sambung dia.

    Selain itu, material yang digunakan untuk perangkat sanitasi juga dipilih yang mudah dibersihkan. Jangan lupa area shower dibuat lebih rendah dibandingkan area kering untuk memudahkan air mengalir dan lantai kamar mandi bisa kering dengan lebih cepat.

    “Supaya air tidak menyiprat ke mana-mana bisa digunakan shower screen atau tirai yang tersedia dalam berbagai bahan seperti plastic, akrilik, hingga kaca. Shower screen ini menjadi pemisah antara area basah dan kering, jangan lupa shower screen juga perlu dibersihkan berkala supaya tidak berjamur,” jelas dia.

    Apabila ingin membuat area basah dan kering di kamar mandi, tidak butuh kamar mandi yang terlalu luas, ukuran 1×3 meter sudah cukup. Area kering ini bisa berukuran 1,5×1,5 m, terdiri dari kloset dan wastafel dilengkapi cermin serta rak-rak dan lemari kecil di sisi lain yang dekat dengan pintu. Sisanya untuk area basah dengan shower.

    Terakhir, letakkan head shower di sudut dalam posisi diagonal termasuk tempat sabun dan sampo untuk mendapatkan area mandi (basah) yang lebih lapang dan lebih efisien.

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Noda di Plafon Belum Tentu Karena Bocor! Bisa Jadi Ini Penyebabnya


    Jakarta

    Saat musim hujan tiba, banyak pemilik rumah terkejut ketika menemukan noda lembap atau bercak kekuningan di plafon. Padahal, atap terlihat baik-baik saja dan tidak ada tanda kebocoran. Fenomena ini sering kali bukan rembesan hujan, melainkan kondensasi uap air yang diam-diam terbentuk di balik lapisan atap.

    Ketika kelembapan dalam rumah meningkat, baik akibat aktivitas harian seperti mandi, memasak, hingga kualitas ventilasi yang buruk, uap air akan naik dan bertemu dengan permukaan yang lebih dingin di area langit-langit. Di titik inilah uap berubah menjadi tetesan air, memicu bercak, noda, hingga potensi jamur yang bisa merusak interior rumah.

    Dilansir dari Homes and Gardens, berikut beberapa penyebab kondensasi di plafon dan cara mengatasinya.


    Penyebab Kondensasi di Plafon

    Tingkat Kelembapan Dalam Ruangan yang Tinggi

    Aktivitas sehari-hari seperti memasak, mandi, dan mencuci bisa meningkatkan kelembapan udara di dalam rumah. Jika kelembapan ini tidak dikontrol, uap air akan naik ke bagian langit-langit dan berkondensasi di permukaan plafon atau bagian rangka atap.

    Isolasi Plafon yang Buruk

    Insulasi yang kurang atau tidak merata bisa menciptakan titik dingin. Pada bagian tersebut, suhu bisa lebih rendah, sehingga udara lembap yang bersentuhan di sana akan lebih mudah mengembun.

    Ventilasi yang Tidak Efisien

    Kurangnya aliran udara di loteng atau ruang atas plafon membuat uap air sulit keluar. Tanpa ventilasi yang baik, kelembapan akan terus menumpuk, memperbesar peluang kondensasi.

    Kebocoran Atap yang Meniru Kondensasi

    Kadang noda di plafon menyerupai bekas kebocoran, namun sebenarnya berasal dari kondensasi. Perlu diketahui perbedaannya agar solusi yang diambil tepat.

    Penyaluran Udara Panas

    Struktur bangunan seperti rangka baja atau kayu bisa menjadi penyaluran panas, yaitu bagian yang memindahkan panas dengan cepat dan menciptakan area yang lebih dingin. Titik-titik ini rentan menjadi lokasi embun uap air.

    Cara Menangani & Mencegah Kondensasi di Plafon

    Berikut beberapa langkah efektif untuk mengatasi masalah kondensasi dan mencegah munculnya bercak di plafon.

    Kurangi Kelembapan dalam Ruangan

    Penggunaan exhaust fan di kamar mandi dan dapur bisa dilakukan, untuk mengeluarkan uap lembap dalam ruangan. Gunakan juga ventilasi yang cukup besar agar sirkulasi udara berjalan dengan lancar. Pertimbangkan juga untuk memakai dehumidifier jika kelembapan ruangan sangat tinggi.

    Perbaiki Insulasi Plafon

    Tambahkan atau perbaiki lapisan insulasi di plafon untuk mengurangi titik dingin. Insulasi yang baik akan menjaga suhu bagian dalam plafon agar lebih stabil, mengurangi risiko embun.

    Tingkatkan Ventilasi Loteng

    Kalau di rumah ada loteng, pastikan loteng memiliki ventilasi yang cukup agar udara lembap bisa keluar. Ventilasi yang baik dapat sangat mengurangi penumpukan kelembapan.

    Pastikan Bukan Karena Kebocoran

    Sebelum menyimpulkan bahwa masalahnya berasal dari kondensasi, periksa terlebih dahulu apakah ada kebocoran pada atap, talang, atau saluran air. Kondensasi sering terlihat mirip dengan air menetes akibat kebocoran, sehingga mudah membuat orang salah diagnosis. Setelah memastikan semua jalur air dan struktur atap dalam kondisi baik, sumber masalah yang sebenarnya dapat diketahui dan dapat menentukan langkah perbaikan yang tepat.

    Mengeringkan Plafon yang Basah

    Jika plafon sudah lembap, lakukan pengeringan dengan hati-hati agar uap air yang mengendap bisa hilang sebelum menyebabkan jamur atau kerusakan struktur.

    Itulah penyebab noda yang muncul di plafon karena kondensasi dan cara penanganannya. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Pakar Ungkap Kebiasaan yang Bikin Jamur Hitam Muncul di Kamar Mandi



    Jakarta

    Jamur hitam atau black mold kerap muncul di kamar mandi. Selain mengganggu estetika kamar mandi, kemunculan jamur hitam juga berbahaya bagi kesehatan penghuninya.

    Munculnya black mold di kamar mandi menandakan sirkulasi udara yang buruk dan kelembapan yang berlebihan. Jika tidak segera diatasi, black mold bisa menyebar ke area lain, seperti langit-langit hingga lantai kamar mandi.

    Seorang pakar di bidang kebersihan mengungkapkan ada sejumlah kebiasaan yang membuat jamur hitam tumbuh di kamar mandi. Kebiasaan ini bahkan sering dianggap sepele, tapi ternyata bisa memicu masalah besar.


    Kebiasaan Sepele yang Picu Munculnya Jamur Hitam di Kamar Mandi

    Direktur Eksekutif Good Housekeeping Institute Home Care & Cleaning Lab, Carolyn Forte mengungkapkan ada satu kebiasaan buruk penghuni rumah yang memicu munculnya jamur hitam, yakni menutup pintu kamar mandi setelah mandi.

    Forte menyebut pintu kamar mandi yang ditutup setelah digunakan dapat menghalau udara lembap untuk keluar. Seiring waktu, jamur hitam dapat muncul dari yang ukurannya kecil hingga menjalar ke seluruh permukaan kamar mandi.

    “Menutup pintu dapat memicu kelembapan di dalam kamar mandi. Jika suatu ruangan lembap, maka jamur dapat tumbuh subur,” kata Forte dilansir Good Housekeeping, Minggu (23/11/2025).

    Memang, kebiasaan menutup pintu kamar mandi bukan jadi faktor utama munculnya black mold. Meski begitu, kebiasaan ini dapat mempercepat tumbuhnya jamur hitam yang berbahaya bagi kesehatan.

    Forte mengimbau agar selalu membuka pintu kamar mandi setelah digunakan. Bila perlu pasang exhaust fan agar udara yang terperangkap di kamar mandi bisa cepat keluar secara otomatis.

    “Jika tidak ada exhaust fan, buka jendela kamar mandi atau bisa menyalakan kipas angin. Semakin cepat kelembapan keluar dari kamar mandi, maka dapat menghalau pertumbuhan jamur,” paparnya.

    Setelah menggunakan kamar mandi, terutama untuk dipakai mandi dalam waktu cukup lama, biarkan pintu kamar mandi tetap terbuka agar udara di dalam bisa keluar.

    Forte mengingatkan pentingnya untuk menjaga kamar mandi tetap kering. Meski memang didesain untuk basah, tapi kamar mandi yang kering dapat menjaga kelembapan sekaligus meminimalisir tumbuhnya jamur hitam.

    “Semakin cepat permukaan lantai mengering, maka semakin kecil kemungkinan jamur tumbuh,” ujar Forte.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Noda di Plafon Belum Tentu Karena Bocor, Bisa Jadi Ini Biang Masalahnya!



    Jakarta

    Saat musim hujan tiba, banyak pemilik rumah terkejut ketika menemukan noda lembap atau bercak kekuningan di plafon. Padahal, atap terlihat baik-baik saja dan tidak ada tanda kebocoran. Fenomena ini mungkin saja bukan rembesan hujan, melainkan kondensasi uap air yang diam-diam terbentuk di balik lapisan atap.

    Ketika kelembapan dalam rumah meningkat, baik akibat aktivitas harian seperti mandi, memasak, hingga kualitas ventilasi yang buruk, uap air akan naik dan bertemu dengan permukaan yang lebih dingin di area langit-langit. Di titik inilah uap berubah menjadi tetesan air, memicu bercak, noda, hingga potensi jamur yang bisa merusak interior rumah.

    Dilansir dari Home and Garden, berikut beberapa penyebab kondensasi di plafon dan cara mengatasinya.


    Penyebab Kondensasi di Plafon

    Tingkat Kelembapan Dalam Ruangan yang Tinggi

    Aktivitas sehari-hari seperti memasak, mandi, dan mencuci bisa meningkatkan kelembapan udara di dalam rumah. Jika kelembapan ini tidak dikontrol, uap air akan naik ke bagian langit-langit dan berkondensasi di permukaan plafon atau bagian rangka atap.

    Isolasi Plafon yang Buruk

    Insulasi yang kurang atau tidak merata bisa menciptakan titik dingin. Pada bagian tersebut, suhu bisa lebih rendah, sehingga udara lembap yang bersentuhan di sana akan lebih mudah mengembun.

    Ventilasi yang Tidak Efisien

    Kurangnya aliran udara di loteng atau ruang atas plafon membuat uap air sulit keluar. Tanpa ventilasi yang baik, kelembapan akan terus menumpuk, memperbesar peluang kondensasi.

    Kebocoran Atap yang Meniru Kondensasi

    Kadang noda di plafon menyerupai bekas kebocoran, namun sebenarnya berasal dari kondensasi. Perlu diketahui perbedaannya agar solusi yang diambil tepat.

    Penyaluran Udara Panas

    Struktur bangunan seperti rangka baja atau kayu bisa menjadi penyaluran panas, yaitu bagian yang memindahkan panas dengan cepat dan menciptakan area yang lebih dingin. Titik-titik ini rentan menjadi lokasi embun uap air.

    Cara Menangani & Mencegah Kondensasi di Plafon

    Berikut beberapa langkah efektif untuk mengatasi masalah kondensasi dan mencegah munculnya bercak di plafon.

    Kurangi Kelembapan Dalam Ruangan

    Penggunaan exhaust fan di kamar mandi dan dapur bisa dilakukan, untuk mengeluarkan uap lembap dalam ruangan. Gunakan juga ventilasi yang cukup besar agar sirkulasi udara berjalan dengan lancar. Pertimbangkan juga untuk memakai dehumidifier jika kelembapan ruangan sangat tinggi.

    Perbaiki Insulasi Plafon

    Tambahkan atau perbaiki lapisan insulasi di plafon untuk mengurangi titik dingin. Insulasi yang baik akan menjaga suhu bagian dalam plafon agar lebih stabil, mengurangi risiko embun.

    Tingkatkan Ventilasi Loteng

    Pastikan ruang loteng memiliki ventilasi yang cukup agar udara lembap bisa keluar. Ventilasi yang baik dapat sangat mengurangi penumpukan kelembapan.

    Identifikasi dan Atasi Thermal Bridging

    Cari bagian struktur yang mungkin berfungsi sebagai penyaluran udara panas, misalnya rangka kayu ataupun logam. Perkuat isolasi di sekitar area tersebut.

    Pastikan Bukan Karena Kebocoran

    Sebelum menyimpulkan bahwa masalahnya berasal dari kondensasi, periksa terlebih dahulu apakah ada kebocoran pada atap, talang, atau saluran air. Kondensasi sering terlihat mirip dengan air menetes akibat kebocoran, sehingga mudah membuat orang salah diagnosis. Dengan memastikan semua jalur air dan struktur atap dalam kondisi baik, sumber masalah yang sebenarnya dapat diketahui dan dapat menentukan langkah perbaikan yang tepat.

    Mengeringkan Plafon yang Basah

    Jika plafon sudah lembap, lakukan pengeringan dengan hati-hati agar uap air yang mengendap bisa hilang sebelum menyebabkan jamur atau kerusakan struktur.

    Itulah penyebab noda yang muncul di plafon karena kondensasi dan cara penanganannya. Semoga bermanfaat.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Dekat-dekat Truk! Ini Kebiasaan Sopirnya yang Bikin Rem Blong



    Jakarta

    Kecelakaan maut diduga akibat truk mengalami rem blong lagi-lagi terjadi di Tol Cipularang, Senin (11/11/2024) sore. Belajar dari kecelakaan maut ini, pengendara diminta lebih waspada saat berada di dekat truk.

    Para praktisi keselamatan berkendara selalu mewanti-wanti, kita sebagai pengendara kendaraan yang lebih kecil jangan pernah merasa nyaman berada di dekat-dekat truk. Di jalan turunan, kalau bisa jangan berada di depan truk, karena banyak kasus truk gagal mengerem di turunan. Jika di tanjakan, usahakan jangan berada di belakang truk dan menjaga jarak aman, sebab beberapa kecelakaan disebabkan truk gagal menanjak.

    Bukan cuma itu, blind spot atau titik yang tidak terlihat oleh sopir truk juga banyak, mengingat dimensi truk yang besar dan banyak penghalangnya. Juga ada kebiasaan sopir truk yang berakibat fatal hingga menyebabkan rem blong.


    Menurut praktisi keselamatan berkendara sekaligus Instruktur & Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, beberapa kasus kecelakaan akibat truk rem blong terjadi karena kesalahan pengemudinya. Ada satu kebiasaan pengemudi truk yang berniat untuk mengirit pengeluaran justru menimbulkan kecelakaan.

    Menurut Jusri, para pengemudi truk punya kebiasaan menetralkan transmisi di jalan menurun. Mereka beranggapan saat transmisi dinetralkan, beban kerja mesin jadi ringan sehingga konsumsi BBM lebih irit.

    “Ujung-ujungnya konsumsi bahan bakar irit dan ada selisih dari budget yang bisa dibawa pulang. Tapi perilaku ini sangat konyol dan sangat membahayakan diri mereka, muatan, dan pengguna jalan lain,” tegas Jusri.

    Kalau hanya menggunakan gigi netral, maka tidak ada bantuan engine brake sehingga sopir truk hanya mengandalkan service brake atau rem kaki. Jika service brake terus-menerus diinjak tanpa ada bantuan engine brake, konstruksi rem lama-lama kepanasan dan mengakibatkan brake fading atau kegagalan fungsi pengereman.

    “Kalau kita berdiri di tol situ, hitungan menit setiap truk besar di sana ngeblong, yaitu menetralkan transmisi sehingga lajunya sangat kencang. Apa yang terjadi, perlambatan-perlambatan yang mereka lakukan hanya mengandalkan service brake atau rem kaki. Padahal truk-truk semacam ini mereka sudah menggunakan full air brake. Kalau full air brake, mereka punya sistem pengereman tambahan lain namanya exhaust brake atau retarder, yang tujuannya bisa engine brake,” ujar Jusri kepada detikOto, kemarin.

    “Pada kecepatan tinggi, karena elevasi jalan yang menurun dengan bobot yang berat, maka momentum ini akan menimbulkan kecepatan yang sangat luar biasa. Dan itu perlambatan yang dilakukan oleh rem kaki itu akan menimbuilkan overheating pada sistem rem. Ketika rem panas, dampak lain dari panas adalah brake fading, yaitu penyusutan kemampuan rem akibat overheating,” jelasnya.

    Jika konstruksi rem sudah overheat atau panas berlebih, yang terjadi adalah rem blong. Kalau sudah kecepatan tinggi dan sopir berusaha masuk gigi dari netral, pasti akan kesulitan mengingat sistem transmisi kendaraan besar tidak sama dengan mobil kecil.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Fortuner-Innova Diesel Dikasih ‘Minum’ Solar Subsidi? Harus Sering Begini


    Jakarta

    Fortuner-Innova Reborn diesel kamu sering dikasih solar subsidi? Lebih baik sering melakukan treatment purging supaya injector tak terhambat.

    Solar subsidi merupakan satu jenis bahan bakar yang masih digunakan pengendara mobil diesel di Tanah Air. Tak bisa dipungkiri, harga jualnya paling murah ketimbang bahan bakar diesel lainnya. Solar atau biosolar saat ini dijual Rp 6.500 per liter.

    Di sisi lain kandungan sulfur pada bahan bakar jenis solar subsidi cukup tinggi. Dalam catatan detikOto, kandungan sulfur solar subsidi itu 2.500 ppm. Padahal secara standar internasional, kandungan sulfur pada bahan bakar adalah 50 ppm atau lebih rendah. Penggunaan BBM dengan sulfur tinggi tentu mempengaruhi performa mesin.


    Harus Sering Purging

    Contohnya bila kamu menggunakan solar subsidi di mobil sekelas Fortuner ataupun Innova Reborn diesel maka ada perlakuan khusus yang harus dilakukan supaya injektor tak cepat rusak. Kepala Bengkel Auto2000 Jatiasih Wahono menjelaskan, sejatinya solar subsidi masih aman digunakan pada mobil-mobil Toyota seperti Fortuner ataupun Innova diesel. Tapi, pemilik kendaraan disarankan melakukan purging supaya endapan sulfur bisa dihilangkan.

    “Aman di komponen (mesin) dengan catatan harus ada treatment khusus. Misalkan di injektor, pernah dengar purging, itu wajib dilakukan. Kalau bisa tiap servis, kalau di sini kita sampaikan ke pelanggan ini wajib purging,” terang Wahono saat ditemui di kantornya belum lama ini.

    Wahono mengungkap ada beberapa kasus pengguna solar subsidi, malah membuat injektor mobil jadi mampet. Kasus ini ditemui pada kendaraan dengan usia tiga tahun ke atas.

    “Sementara harga injektor kan mahal. Jadi purging itu pembersihan kerak-kerak tadi, sulfur-sulfurnya nanti bisa hilang. Setiap servis berkala, (dibersihkan) pakai obat lah ya,” beber Wahono.

    Meski begitu, pengendara Innova maupun Fortuner tak disarankan menggunakan bahan bakar rendah sulfur tersebut. Untuk menjaga performa mesin sekaligus rendah emisi, disarankan menggunakan bahan bakar diesel yang sulfurnya lebih rendah.

    “Untuk dapat emisi Euro 4 itu wajib pakai BBM-nya yang angka cetanenya tinggi, minimal Dexlite lah. Tetapi, gimana kalau dipakainya solar biasa? Kalau Toyota masih aman, kan ada beberapa merek yang nggak bisa saya sebut engine lamp-nya nyala segala macam. Kalau Toyota masih bisa, tapi pengaruh nggak performance? Pengaruh pasti, tenaganya pasti berkurang,” kata Wahono.

    Jenis BBM untuk Innova Reborn Diesel dan Fortuner Diesel

    Sebagai informasi tambahan, dikutip dari buku panduan manual Toyota Fortuner, untuk versi diesel model Euro 4 dianjurkan menggunakan bahan bakar diesel 50 ppm atau kurang sulfur. Angka cetanenya 48 atau lebih tinggi. Begitupun dengan Innova Reborn diesel yang mengusung sistem DPF, dianjurkan pakai BBM dengan kandungan sulfur 10 ppm atau kurang sulfur.

    “Kendaraan dengan sistem DPF: Jangan menggunakan bahan bakar diesel yang mengandung kandungan sulfur di atas 10 ppm. Penggunaan berulang dari bahan bakar diesel dengan kandungan sulfur di atas 10 ppm dapat menyebabkan kerusakan pada mesin dan sistem exhaust dan mempengaruhi daya tahan kendaraan Anda,” begitu bunyi penjelasan di buku panduan Innova Reborn diesel.

    (dry/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Fortuner-Innova Diesel ‘Minum’ Solar tapi Jarang Purging? Ini Dampaknya



    Jakarta

    Fortuner dan Innova Diesel masih aman bila ‘menenggak’ solar subsidi. Namun harus sering purging. Kalau tidak, apa dampaknya?

    Solar subsidi masih digunakan oleh mobil berbahan bakar diesel. Tak cuma truk atau bus, mobil seperti Toyota Fortuner dan Kijang Innova diesel juga terlihat masih ada yang menggunakan BBM bersubsidi itu.


    Sejatinya, pada buku panduan manual, Toyota Fortuner maupun Kijang Innova diesel, mobil itu disarankan untuk ‘menenggak’ bahan bakar rendah sulfur. Terlebih untuk model yang sudah mengusung teknologi Euro 4.

    Untuk Fortuner diesel model Euro 4 dianjurkan menggunakan bahan bakar diesel 50 ppm atau kurang sulfur. Angka cetane-nya 48 atau lebih tinggi. Begitupun dengan Innova Reborn diesel yang mengusung sistem DPF, dianjurkan pakai BBM degan kandungan sulfur 10 ppm atau kurang sulfur.

    “Kendaraan dengan sistem DPF: Jangan menggunakan bahan bakar diesel yang mengandung kandungan sulfur di atas 10 ppm. Penggunaan berulang dari bahan bakar diesel dengan kandungan sulfur di atas 10 ppm dapat menyebabkan kerusakan pada mesin dan sistem exhaust dan mempengaruhi daya tahan kendaraan Anda,” begitu bunyi penjelasan di buku panduan Innova Reborn diesel.

    Lalu bagaimana kalau Innova dan Fortuner diesel itu justru mengkonsumsi solar subsidi yang punya kandungan sulfur 2.500 ppm? Kepala Bengkel Auto2000 Jatiasih Wahono menuturkan, tak ada masalah dengan mesin Fortuner dan Innova diesel. Dengan catatan, ada perawatan purging yang dilakukan saat servis berkala.

    “Kalau bisa tiap servis. Kalau di sini (Auto2000) kita sampaikan ke pelanggan ini wajib purging,” kata Wahono saat ditemui di kantornya belum lama ini.

    Wahono menjelaskan, dengan purging kotoran ataupun endapan sisa bahan bakar solar itu bisa dibersihkan. Kalau tidak dilakukan, injektor akan mampet. Kalau sudah mampet dan sulit dibersihkan, maka harus ganti injektor baru. Padahal harga injektor cukup mahal, di atas Rp 10 jutaan.

    “Nggak mahal kok, Rp 250 ribuan lah kurang lebih, bayar bahannya aja jasanya gratis. Kalau itu dilakukan aman walaupun pakai solar. Tapi kalau nggak, injektor mampet harus ganti,” lanjut Wahono.

    (dry/din)



    Sumber : oto.detik.com