Tag: fed

  • Pasar Kerja AS Panas, Harapan Pemangkasan Bunga Sirna di April 2026

    Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) mendadak runtuh setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini langsung mengubah arah pasar, mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sekaligus menekan aset berisiko seperti kripto.

    Laporan ketenagakerjaan Maret mencatat penambahan nonfarm payrolls sebesar 178.000, jauh di atas estimasi pasar yang hanya 65.000. Di saat yang sama, tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%, lebih rendah dari proyeksi 4,4%. Data ini menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih solid, sehingga mengurangi urgensi bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

    Dilaporkan Coingape, kondisi ini berbanding terbalik dengan data Februari yang direvisi menunjukkan kehilangan pekerjaan sebesar 133.000. Rebound yang kuat pada Maret membuat pelaku pasar mulai menilai ulang proyeksi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga ke depan.

    Dampaknya, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik sekitar 3–4 basis poin, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar. Sebelumnya, investor masih memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun kini, sebagian besar ekspektasi tersebut telah dihapus.

    Perubahan Sentimen Picu Repricing Pasar

    Setelah rilis data, pasar keuangan global langsung melakukan penyesuaian. Harga obligasi turun seiring kenaikan yield, sementara dolar AS sempat menguat sebelum akhirnya terkoreksi tipis.

    Di sisi lain, aset berisiko ikut terdampak. Bitcoin mengalami penurunan karena likuiditas pasar menyusut seiring berkurangnya harapan pelonggaran moneter. Pergerakan ini mencerminkan perubahan sentimen investor yang menjadi lebih defensif.

    Baca juga: Donald Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga 2 Poin

    Pelaku pasar juga mulai menutup posisi yang sebelumnya bertaruh pada penurunan yield. JPMorgan bahkan menyarankan untuk keluar dari posisi tertentu di pasar obligasi, mengingat risiko penundaan pemangkasan suku bunga semakin besar.

    Meski demikian, beberapa ekonom menilai data ini masih bersifat “backward-looking” dan belum sepenuhnya mencerminkan dampak kenaikan harga energi serta ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.

    Lonjakan Harga Minyak Perumit Arah Kebijakan

    Di saat yang sama, harga minyak dunia melonjak hingga menembus USD 111 per barel, dipicu oleh meningkatnya tensi konflik AS-Iran. Risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi perhatian utama pasar.

    Kenaikan harga energi ini berpotensi mendorong inflasi kembali naik, yang secara langsung memperkecil peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kombinasi antara data tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi dari sektor energi menciptakan dilema baru bagi bank sentral.

    Sebelumnya, pasar sempat memperkirakan beberapa kali pemangkasan suku bunga setelah The Fed melakukan pelonggaran sebanyak tiga kali tahun lalu. Namun dengan kondisi terbaru, arah kebijakan kini cenderung mengarah pada “higher for longer”.

    Likuiditas Global Mengetat

    Tim Research Tokocrypto melihat bahwa perubahan ekspektasi suku bunga ini menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar kripto dalam jangka pendek. Ketika peluang penurunan suku bunga menurun, likuiditas global cenderung mengetat, sehingga menekan aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin.

    Kenaikan yield obligasi AS juga membuat instrumen tradisional menjadi lebih menarik dibandingkan aset kripto, terutama bagi investor institusional. Hal ini dapat menyebabkan rotasi dana dari pasar kripto ke pasar obligasi dalam jangka pendek.

    Namun, di sisi lain, kombinasi antara ketegangan geopolitik dan potensi inflasi yang meningkat dapat membuka peluang baru bagi narasi kripto sebagai alternatif lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global.

    Tim Research Tokocrypto juga menilai bahwa pasar saat ini sedang berada dalam fase transisi, di mana investor mencoba menyeimbangkan antara data ekonomi yang kuat dan risiko makro yang meningkat. Selama belum ada kepastian arah kebijakan The Fed, volatilitas di pasar kripto diperkirakan akan tetap tinggi.

    Data tenaga kerja yang kuat telah mengubah arah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed, sekaligus memicu penyesuaian besar di berbagai instrumen keuangan. Kenaikan yield, penguatan dolar, dan tekanan terhadap kripto menjadi refleksi dari perubahan sentimen ini.

    Dengan tambahan faktor risiko dari lonjakan harga minyak dan konflik geopolitik, pasar kini menghadapi ketidakpastian yang lebih kompleks. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar perlu mencermati data ekonomi dan perkembangan global secara lebih hati-hati sebelum mengambil keputusan.

    Baca juga: 8,4 Juta WLFI Gratis! Begini Cara Mendapatkannya Lewat Program USD1


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Terjun Bebas, Investor Takut Konflik Iran Vs Israel Meluas


    Jakarta

    Harga Bitcoin terjun bebas selama akhir pekan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Di sisi lain, investor juga mengamati soal kekhawatiran inflasi yang baru-baru ini memicu aksi jual tajam di seluruh aset digital.

    Melansir CNBC, Senin (23/6/2025), harga Bitcoin sempat turun di bawah angka US$ 99.000 pada hari Minggu. Ini menjadi level terendah selama lebih dari sebulan.

    Aksi jual tampaknya terjadi di tengah guncangan geopolitik. Perang Iran dan Israel seperti diketahui tiba-tiba menjadi meluas setelah Amerika Serikat (AS) ikut menyerang Iran dan memperluas potensi ekskalasi.


    Iran bahkan dilaporkan mengancam akan memblokir Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran penting bagi 20% pasokan minyak global.

    JPMorgan sempat mengingatkan bahwa penutupan penuh Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak setinggi US$ 130 per barel. Imbasnya, lonjakan seperti itu dapat mengembalikan inflasi AS ke 5% dan membuat Fed bakal aktif menaikkan suku bunga.

    Prospek semacam ini membuat para investor menilai sudah saatnya kembali jalur suku bunga dan memegang mata uang Dolar daripada bertaruh pada aset spekulatif seperti kripto.

    Simak juga Video: Iran Vs Israel: Dulu Kawan, Sekarang Lawan

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com