Tag: Fiat

  • Mengapa Bitcoin Bisa Bernilai? – Tokocrypto News

    Sebagai kelas aset baru, Bitcoin seringkali disalahpahami sebagai aset yang tidak bernilai. Padahal ada banyak aspek fundamental yang membentuknya.

    Salah satu kesalahpahaman soal Bitcoin (BTC) adalah aset kripto itu tidak bernilai, sebab tidak didukung oleh aset fisik. Pemahaman itu disebarkan oleh tokoh-tokoh besar seperti Presiden AS Donald Trump dan investor miliarder Warren Buffett.

    Tetapi, BTC kini merupakan “mata uang keenam” terbesar di dunia, sehingga pastilah ada sesuatu yang membuatnya bernilai, sehingga bisa diperdagangkan dengan harga yang sangat tinggi.

    Sejarah Singkat Uang
    Dahulu kala, uang kertas dan koin logam dapat ditebus untuk emas fisik asli. Negara-negara maju memakai sistem standar emas, di mana mata uang nasional dipatok terhadap emas.

    Baca Juga: Bitcoin vs Emas, Mana yang Lebih Profit?

    Tetapi setelah era Depresi Besar, kebijakan ini diubah agar pemerintah dapat dengan bebas menambah suplai uang dan menstimulasi ekonomi.

    Amerika Serikat meninggalkan standar emas sepenuhnya pada tahun 1971 dan berubah menjadi standar uang fiat, di mana mata uang nasional tidak didukung oleh emas, tetapi oleh hukum permintaan dan penawaran serta kekuatan pemerintah dan politik.

    Selain itu, pajak harus dibayar dalam uang fiat, dan penghindaran pajak adalah tindak kriminal, sehingga hal ini mendorong kegunaan fiat untuk urusan perpajakan.

    Warga negara percaya kepada uang fiat, sebab dapat dipakai untuk membeli barang dan jasa. Tetapi hal ini belum tentu di masa depan, sebab tanpa didukung komoditas seperti emas, uang fiat dapat kehilangan nilainya seiring waktu seperti yang sudah terjadi di masa lalu.

    Bitcoin juga tidak didukung oleh komoditas apa-apa, tetapi Bitcoin bernilai melalui cara lain. BTC saat ini diperdagangkan di harga US$10 ribu dengan total kapitalisasi pasar senilai US$190 miliar. Hal ini menunjukkan Bitcoin bernilai bagi sekelompok besar orang.

    Basis nilai Bitcoin adalah karena ia didukung oleh algoritma matematika yang menjadi landasan teknologi blockchain dan mengendalikan suplainya.

    Algoritma ini menjamin suplai Bitcoin terbatas dan juga tidak bisa disensor.

    Anthony Pompliano berkata, “Bila Anda tidak percaya Bitcoin, berarti Anda tidak percaya kriptografi.” Pompliano berpendapat teknologi kriptografi blockchain itulah yang memberi nilai intrinsik terhadap Bitcoin.

    Bitcoin juga bernilai, sebab merupakan sistem moneter pertama yang berhasil berjalan tanpa badan pusat yang mengendalikan operasinya dan berada di luar struktur pemerintahan negara manapun, seperti emas.

    Suplainya juga tidak bisa dimanipulasi semena-mena, tidak bisa disita seperti halnya emas pada tahun 1930 di Amerika Serikat, dan menawarkan kebebasan finansial yang tidak bisa dilakukan menggunakan uang fiat manapun.

    Bitcoin juga berguna sebagai alat tukar, di mana ribuan pedagang saat ini menerima BTC sebagai alat pembayaran bagi barang dan jasa mereka.

    Bitcoin dipandang tidak selalu terkorelasi dengan pasar saham, sehingga dapat menjadi aset pelindung nilai di saat tren pasar menurun.

    Keyakinan terhadap mata uang terindikasi dari kegunaannya di dunia. Dolar AS merupakan uang fiat yang dapat dibelanjakan hampir di mana saja, sehingga konsumen cukup yakin terhadap dolar.

    Di sisi lain, Bitcoin masih jauh dari mainstream. Sudah lama sejak transaksi Bitcoin pertama untuk membeli pizza, tetapi adopsi massal belum terjadi.

    Keyakinan terhadap Bitcoin tidak akan tinggi sebelum adopsi massal terjadi dan Bitcoin digunakan sebagai alat bayar seperti uang fiat.

    Kendati berbeda, baik uang fiat maupun Bitcoin sama-sama didukung oleh keyakinan konsumen. Seiring bertumbuhnya sektor kripto, bertumbuh pula keyakinan akan Bitcoin.

    Karena nilai pasar Bitcoin merupakan fluktuasi suplai dan permintaan, maka harganya bisa meningkat pesat saat masa-masa sejahtera dan juga menurun tajam saat masa-masa sulit.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mastercard Meningkatkan Fitur Dompet Crypto dan Bisnis Pertukaran

    Industri crypto telah menarik banyak minat, termasuk para pemain besar dan utama disektor ini, dan Mastercard adalah salah satunya.

    Mastercard belum lama ini mengumumkan akan meningkatkan fungsi dan eksperimennya untuk dompet dan pertukaran cryptocurrency ke klien mereka. Penerbit kartu bekerja sama dengan beberapa perusahaan crypto untuk mempermudah konversi crypto dan uang fiat tradisional.

    Dalam sebuah pernyataan , Mastercard mengungkapkan ambisinya untuk meningkatkan program kartu crypto yang ada dengan banyak mitra.

    Sementara itu, Paxos dan Circle akan menggunakan platform mereka untuk mengubah crypto menjadi fiat melalui stablecoin yang didukung fiat, kelas cryptocurrency yang menawarkan stabilitas harga dan didukung oleh aset cadangan.

    Raj Dhamodharan, wakil presiden eksekutif aset digital dan produk & kemitraan blockchain di Mastercard, menyambut baik kemitraan tersebut dan berkata:

    “Tidak semua perusahaan crypto memiliki infrastruktur dasar untuk mengubah cryptocurrency menjadi mata uang fiat tradisional dan kami membuatnya lebih mudah… Mastercard berharap dapat memenuhi janji pilihan konsumen kami untuk memberikan opsi kepada orang-orang di seluruh dunia tentang bagaimana dan kapan harus membayar.”

    Baca Juga: Analisa Teknikal 22 Juli: Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH)

    Mastercard memahami meningkatnya permintaan pembayaran digital dari pelanggannya. Lebih dari 93% klien mempertimbangkan untuk mengadopsi metode pembayaran inovatif, seperti biometrik, mata uang digital, dan kode QR.

    Oleh karena itu, platform pembayaran telah mengumumkan pada bulan Februari untuk mendukung pembayaran crypto langsung dengan memungkinkan pemegang kartu untuk bertransaksi crypto di jaringannya tahun ini secara langsung.

    Sementara itu, Visa, salah satu pesaing utama Mastercard, pemegang kartu visa mereka telah menghabiskan lebih dari $1 miliar crypto dalam enam bulan pertama tahun ini oleh konsumen secara global.

    Baca Juga: Mengenal NFT: Peluang Besar Industri Kreatif di Indonesia Merambah Pasar Global

    Baru-baru ini, Visa memperluas bisnisnya di Australia dengan menyetujui CryptoSpend startup Australia untuk mengeluarkan kartu debit bagi pelanggannya untuk dikonsumsi melalui cryptocurrency.

    Dengan banyak perusahaan besar masuk ke dunia crypto, bisa dinyatakan bahwa pasar crypto tidak akan mati (BTC=0) dan sebuah koreksi adalah hal yang wajar.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Uang Fiat Meradang, Bitcoin Tak Tergoyang

    Sejumlah data menunjukkan Amerika Serikat di ambang resesi ekonomi berikutnya, yang bisa berdampak secara global. Sejumlah ahli bahkan berpendapat resesi itu akan terjadi pada tahun 2020. Bagaimana nasib Bitcoin yang disebut-sebut sebagai safe haven? Nah, mengingat Bitcoin belum teruji dalam situasi resesi global, namun sejumlah data historis menunjukkan Bitcoin memberikan imbal hasil lebih tinggi ketika situasi ekonomi sedang lesu. Di sinilah bukti bahwa ketika uang fiat meradang, bitcoin tak tergoyang.

    Dilansir dari CNBC Indonesia, pada November 2018, disebutkan pasar saham anjlok, karena investor pindah ke obligasi negara dan imbal hasil utang perusahaan yang membengkak lebih tinggi. Pandangan investor, pada kenyataannya, mungkin, bahkan lebih suram daripada para ekonom. Goldman Sachs dan JP Morgan melihat pertumbuhan melambat menjadi di bawah 2 persen pada paruh kedua tahun 2019. Tetapi pada saat yang sama, kedua perusahaan itu memperkirakan Federal Reserve menaikkan suku bunga empat kali, sementara para ekonom lainnya percaya The Fed mungkin harus bergerak dengan lebih lambat. Para ekonom menunjukkan sejumlah faktor pertumbuhan yang lebih lambat, tetapi pemuncak daftar faktor yang menakutkan bagi pasar adalah kenaikan suku bunga The Fed serta dampak dari tarif impor dan perang perdagangan. Para ekonom tidak memperkirakan resesi terjadi pada tahun 2020.

    “Itu tergantung pada Fed. Jika mereka terus mengikuti lintasan saat ini (kenaikan suku bunga), saya pikir (ada resesi di) paruh pertama tahun 2020,” kata Joseph LaVorgna, kepala ekonom Amerika di Natixis, dilansir dari CNBC International. LaVorgna memperkirakan pertumbuhan 2,5 persen tahun depan, meskipun lebih lambat di paruh kedua.

    Dalam situasi resesi, harga indeks saham akan jatuh cukup dalam dan investor mengalihkan uangnya ke jenis aset lain, seperti emas. Resesi ekonomi di Negeri Paman Sam itu tentu membawa dampak pada situasi ekonomi global termasuk Indonesia, seperti resesi tahun 2008 silam, di mana sejumlah mata uang negara lain mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

    Emas masih menjadi pilihan utama. Namun, sejak tahun 2013 harga emas justru trun dan kini relatif stabil. Bagaimana dengan Bitcoin? Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008 sebagai sistem pembayaran lintas negara melalui Internet secara peer-to-peer. Karena Bitcoin tidak dikendalikan oleh negara, maka nilainya relatif independen terhadap situasi ekonomi mikro dan makro. Artinya ia berdiri sendiri berdasarkan hukum permintaan dan penawaran.

    Mudahnya sebut saja ia spekulatif, tetapi diadopsi secara mantap oleh sejumlah besar perusahan, seperti Ameritrade, E*trade, Fidelity Investment, CME, Nasdaq. Adopsi ini kian menguatkan tingkat likuiditasnya di tingkatan global. Artinya Bitcoin tahun 2019 jelas berbeda dengan tahun 2017, di mana pemain ritel lebih banyak. Hari ini sejumlah produk terkait Bitcoin juga digemari oleh kalangan institusi sebagai kelas aset baru yang menjanjikan.

    Namun, mengingat karakteristik Bitcoin seperti emas, yakni ada pengurangan suplai dan jumlahnya terbatas, maka nilai Bitcoin sangatlah unik. Ini berbeda dengan uang fiat yang sejatinya tak terbatas, sehingga rentan terhadap inflasi dan menekan nilainya ketika ada gejolak ekonomi, terlebih-lebih uang fiat digunakan di pasar modal, di mana ada uang publik yang dipertaruhkan di dalamnya.

    Berdasarkan penelitian Grayscale terbaru, untuk menandai besaran krisis, dapat mengacupada derajat liquidity risk (resiko sejumlah aset turun besar berbanding harga belinya). Salah satu komponen untuk mengukurnya adalah besaran utang dalam sistem keuangan. Grayscale mengacu pada rasio utang global tahun 2018, yang sudah mencapai US$250 triliun dan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 300 persen. Jelas Grayscale, kendati volatilitas mengecil pada beberapa tahun belakang, namun resiko likuiditasnya masih tinggi.

    Nah, bagaimana performa Bitcoin terhadap resiko likuiditas aset-aset lain? Grayscale mengambil 5 contoh terbaik berikut ini.

    Utang Tinggi Yunani

    Peristiwa ditutupnya semua bank di Yunani selama 3 minggu pada tahun 2015, gara-gara semakin banyak warga Yunani yang menarik uang secara tunai. Hal itu disebabkan Pemerintah Yunani gagal membayar utang luar negerinya, ditambah isu Yunani ingin keluar dari Uni Eropa. Kekacaubalauan terjadi hingga tiga bulan lamanya. Ketika sebagian besar harga indeks saham dan mata uang ikut merosot, Bitcoin malah mampu cetak untung hingga 28 persen pada periode 20 April-10 Juli 2015. Sedangkan aset lainnya rata-rata minus 1,7 persen. Bitcoin hanya bersaing dengan poundsterling dengan raihan 4,1 persen.

    Yuan Dilemahkan Sang Tuan

    Pada Agustus 2015-Desember 2016, Bank Sentral Tiongkok memutuskan memotong suku bunga acuannya sebesar 1,9 persen. Tapi investor pasar modal di negeri itu sudah keburu menjual aset-aset berisikonya. Pada periode 20 Agustus 2015-20 Januari 2016, Bitcoin memberikan imbal hasil hingga 53 persen (10 Agustus-20 Januari 2016). Sedangkan kelas aset lainnya rata-rata minus 10 persen. Hingga Desember 2016 pula nilai mata uang yuan melemah hingga 11 persen terhadap dolar AS. Inilah pendorong pembelian Bitcoin untuk melindungi nilai uangnya.

    Gerimis “Brexit” di Inggris

    Pada 24 Juni 2016 Inggris membuat dunia terperanjat, ketika hasil referendum menunjukkan bahwa rakyat Inggris ingin terpisah dengan Uni Eropa (Brexit). Satu hari setelah pengumuman itu, harga poundsterling ambruk hingga minus 8,1 persen dan euro jatuh tak terbendung hingga minus 2,4 persen. Sementara itu Bitcoin bullish dengan imbal hasil hingga 7,1 persen. Bitcoin hanya bersaing ketat dengan Indeks harga emas COMEX, yakni 4,7 persen dan yen 3,9 persen. Hingga akhir tahun 2016, poundsterling dan euro terus melemah.

    Gara-gara Bapak Trump

    September-Desember 2016 terjadi gonjang-ganjing politik seputar pemilihan Presiden Amerika Serikat plus situasi geopolitik global. Dua bulan sebelum pemilu presiden, suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS melebihi ekspektasi para pelaku pasar. Aksi jual saham dan aset berisiko tinggi lainnya pun tak terbendung. Pada periode 7 September 2016-10 November 2016 Bitcoin mampu memberikan imbal hasil hingga 17,2 persen. Di posisi kedua ditempati oleh Bloomberg Comodity Index 0,5 persen, selebihnya justru rata-rata minus 3,5 persen.

    Goyangan Perang Dagang

    Ketegangan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok turut mendorong banyak orang membeli Bitcoin. Sebenarnya ketegangan itu dimulai pada 2017, lalu dipertegas pada 5 Mei 2019, di mana Presiden Trump memerintahkan kenaikan bea masuk barang-barang impor dari Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen. Hal itu mendorong kenaikan Bitcoin hingga memberikan imbal hasil hingga 47 persen pada periode 5 Mei-31 Mei 2019. Yen Jepang hanya memberikan 2,1 persen, sedangkan yang lainnya rata-rata minus 2 persen. Grayscale menyimpulkan, kendati Bitcoin menguat, khususnya ketika terjadi devaluasi mata uang fiat, bukan berarti Bitcoin dapat disebutkan sebagai “investable asset“. Tetapi, fakta demikian menunjukkan Bitcoin sangat tangguh menghadapi situasi makro ekonomi yang melemah dan Bitcoin memberikan imbal hasil lebih tinggi berbanding jenis aset lain dan mata uang fiat lain.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ChatGPT Prediksi Bagaimana Bitcoin Akan Akhiri Dominasi Uang Fiat

    ChatGPT adalah alat kecerdasan buatan inovatif yang dilengkapi untuk memecahkan masalah yang menantang hingga menjawab pertanyaan kompleks. Tanpa disadari ChatGPT memberikan jawaban bahwa kehadiran Bitcoin (BTC) dapat mengakhiri dominasi mata uang fiat.

    Dikutip Investing, Parman, seorang pendidik dan penulis di bidang Bitcoin self-custody, memprediksikan kepada ChatGPT bahwa munculnya Bitcoin akan diikuti oleh penghapusan mata uang fiat yang dikeluarkan pemerintah.

    Dalam serangkaian tweet-nya Parman memicu diskusi panas dengan merinci alasan di balik ramalan tersebut. Sebelumnya, ia memulai dengan mengajukan pertanyaan ke ChatGPT: Bagaimana umat manusia dapat mengakhiri bank sentral?

    Pertanyaan itu kemudian dijawab secara garis besar bahwa setelah dimulainya setelah kesulitan keuangan global tahun 2008, Bitcoin muncul sebagai penanda penentangan terhadap perbankan terpusat.

    Baca juga: Tokocrypto Setor Pajak Transaksi Kripto Pengguna Puluhan Miliar Rupiah

    ChatGPT kemudian mengidentifikasi munculnya teknologi blockchain sebagai platform yang akan merevolusi sistem keuangan global dan juga mengakhiri bank sentral.

    ChatGPT menekankan bagaimana Bitcoin berpotensi memberikan otonomi individu atas keuangan mereka, karena pengguna tidak perlu lagi bergantung pada sistem perbankan terpusat.

    Parman, kemudian memberi tahu AI bahwa DeFi pada dasarnya adalah nama yang disamarkan untuk keuangan terpusat yang dirancang untuk menipu orang. Kemudian diminta untuk menganalisis lebih lanjut. Sebagai balasannya, ChatGPT menyatakan, “matikan mata uang fiat.”

    Ramalan DeFi

    Ilustrasi DeFi (decentralized finance) jadi revolusi layanan keuangan
    Ilustrasi DeFi (decentralized finance) jadi revolusi layanan keuangan.

    Baca juga: Tesla Simpan Bitcoin Senilai US$ 184 Juta meski Market Kripto Lesu

    Parman menyinggung asal-usul Bitcoin saat itu adalah unit virtual tanpa nilai nyata. Dan bahkan tanpa jaminan nilai. Sebaliknya, dia berkomentar bahwa aset kripto lainnya “memiliki kelompok yang mengatur dan karenanya terpusat.”

    ChatGPT kemudian menyimpulkan analisisnya dengan menambahkan bahwa Bitcoin pada akhirnya memungkinkan individu menjadi bank mereka. Dan mengandalkan sistem tanpa kepercayaan, sehingga menghilangkan kebutuhan akan fiat.

    Prediksi kepunahan mata uang yang dikeluarkan pemerintah tergolong berani. Dan masih harus dilihat apakah Bitcoin benar-benar akan menjadi kekuatan revolusioner seperti yang diharapkan.

    Bagaimana kamu percaya?





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Memahami Perbedaan Fiat dan Crypto

    Mata uang fiat dan crypto memiliki perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami, terutama bagi pengguna platform seperti Tokocrypto. Pengetahuan ini dapat membantu pengguna mengelola transaksi dengan lebih lancar serta melaporkan kendala yang mungkin terjadi dengan tepat.

    Mata uang fiat adalah uang tradisional yang diterbitkan oleh pemerintah, seperti Rupiah (IDR), Dolar AS, atau Euro. Fiat digunakan secara luas dalam transaksi sehari-hari dan didukung oleh otoritas pusat seperti bank sentral.

    Sementara itu, crypto adalah mata uang digital yang beroperasi menggunakan teknologi blockchain. Contohnya adalah Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Tidak seperti fiat, crypto terdesentralisasi dan tidak bergantung pada otoritas tunggal.

    Perbedaan ini juga terlihat dalam proses transaksi:

    • Fiat melibatkan transfer bank atau lembaga keuangan tradisional, seperti top-up Rupiah melalui virtual account.
    • Crypto memanfaatkan blockchain untuk pengiriman dan penerimaan dana secara langsung antar wallet atau exchange.

    Perbedaan Layanan Fiat dan Kripto di Tokocrypto

    Memahami Perbedaan Fiat dan Crypto

    Tokocrypto menyediakan layanan transaksi untuk fiat dan crypto dengan mekanisme yang berbeda:

    1. Deposit Fiat (IDR): Menambahkan saldo Rupiah ke akun melalui transfer bank.
    2. Deposit Crypto: Mengirimkan mata uang digital dari wallet atau exchange eksternal ke akun Tokocrypto.
    3. Penarikan Fiat: Menarik saldo Rupiah dari akun Tokocrypto ke rekening bank pengguna.
    4. Penarikan Crypto: Memindahkan crypto ke wallet atau platform lain.

    Proses Pelaporan Masalah

    Tokocrypto mempermudah pelaporan kendala transaksi dengan menyediakan kategori spesifik di menu chat.

    • Masalah Fiat:
      • Setoran: Pilih Setoran > IDR untuk melaporkan kendala top-up.
      • Penarikan: Pilih Penarikan > IDR untuk kendala transfer ke rekening bank.
    • Masalah Crypto:
      • Setoran: Pilih Setoran > Crypto untuk kendala pengiriman ke akun Tokocrypto.
      • Penarikan: Pilih Penarikan > Crypto untuk kendala pengiriman ke wallet eksternal.

    Tokocrypto mengimbau pengguna untuk melengkapi laporan dengan detail yang relevan agar tim customer support dapat menangani masalah lebih cepat dan akurat. Dengan pemahaman ini, pengguna diharapkan dapat lebih mudah beradaptasi dengan layanan fiat maupun crypto di Tokocrypto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Transaksi Kripto RI Anjlok, Bitcoin Cs Kompak Melemah


    Jakarta

    Harga aset keuangan kripto terpantau bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis (7/8/2025) seiring anjloknya transaksi di RI. Beberapa mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar cenderung melemah sepekan terakhir.

    Mengutip data perdagangan Coinmarketcap pukul 09.40 WIB, Bitcoin (BTC) terkoreksi sebesar 0,24% beberapa waktu. Kemudian sepanjang 24 jam, BTC menguat 1,02% dan menurun 2,99% sepekan terakhir di harga US$ 114.721 atau sekitar Rp 1,87 miliar (asumsi kurs Rp 16.312).

    Kemudian untuk Ethereum (ETH) tercatat melemah 0,85% untuk beberapa waktu. Sementara selama 24 jam perdagangan, ETH menguat 2,47% namun secara akumulatif sepekan terakhir melemah 4,68%. ETH berada di level harga US$ 3.667 atau sekitar Rp 59,82 juta.


    Kemudian untuk mata uang BNB tercatat terkoreksi 0,43% beberapa waktu. Kemudian menguat 2,78% sepanjang perdagangan 24 jam, dan menguat sepekan terakhir sebesar 3,21%. BNB berada di harga US$ 769,80 atau sekitar Rp 12,55 juta.

    Sementara untuk Solana (SOL) berada di harga US$ 167,51 atau sekitar Rp 2,73 juta. SOL mengalami koreksi 0,69% untuk beberapa waktu. Kemudian menguat 2,78% sepanjang 24 jam terakhir, dan anjlok 6,82% selama perdagangan sepekan.

    Sedangkan untuk mata uang XRP tercatat terkoreksi 0,61%. Kemudian menguat 1,89% selama 24 jam dan anjlok 4,53% sepekan terakhir. Dengan koreksi tersebut, harga XRP saat ini berada di posisi US$ 2.98.

    Di sisi lain, harga stablecoin Tether (USDT) dan USD coin (USDC) cenderung variatif pada perdagangan hari ini. USDC melemah 0,02% sepekan terakhir, pasangan USDT menguat 0,04% sepekan terakhir. Masing-masing stablecoin asal Amerika Serikat (AS) itu berada di harga US$ 0,99 dan US$ 1.

    Untuk diketahui, stablecoin atau koin stabil merupakan mata uang kripto yang menggunakan underlying lain, seperti mata uang fiat atau emas. Mata uang ini bergerak lebih stabil dibanding jenis kripto lainnya.

    Transaksi Kripto Melemah

    Diketahui, transaksi kripto di Indonesia sendiri mengalami tren penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp 32,31 triliun di bulan Juni, turun dibanding posisi Mei 2025 yang tercatat Rp 49,57 triliun

    Sementara secara akumulasi, nilai transaksi aset kripto sepanjang 2025 mencapai Rp 224,11 triliun. Di sisi lain, jumlah pengguna kripto sendiri terpantau naik di bulan Juni, menjadi sebesar 15,85 juta dari 15,07 juta di bulan sebelumnya.

    “Per Juni 2025 jumlah konsumen berada dalam tren peningkatan yaitu mencapai angka 15,85 juta konsumen, meningkat signifikan 5,18% dibanding posisi Mei 2025,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi, dalam konferensi persnya, Senin (4/8/2025).

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Transaksi Kripto Makin Aman, Ini Standar Keamanan Global yang Kini Diadopsi


    Jakarta

    Keamanan transaksi kripto kini makin ditingkatkan. Bursa mata uang kripto internasional BingX baru saja meraih sertifikasi keamanan global PCI DSS versi terbaru, yang selama ini jadi standar emas di industri pembayaran.

    Sertifikasi Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS) v4.0.1 ini dikeluarkan oleh PCI Security Standards Council-lembaga yang dibentuk oleh raksasa global seperti Visa, Mastercard, American Express, Discover, dan JCB. Sertifikasi ini menetapkan protokol ketat untuk melindungi data pembayaran sensitif, mulai dari penyimpanan, transmisi, hingga pemrosesan.

    Dengan sertifikasi ini, BingX menjadi salah satu bursa kripto pertama di dunia yang menerapkan standar PCI DSS untuk bisnis fiat-nya. Artinya, pengguna kini bisa bertransaksi-termasuk deposit dan pembayaran dengan kartu-dalam ekosistem yang lebih aman dan terpercaya.


    “Keamanan selalu menjadi inti operasional BingX. Meraih sertifikasi PCI DSS v4.0.1 lebih dari sekadar tonggak kepatuhan-ini merupakan komitmen kepada pengguna kami bahwa setiap transaksi ditangani dengan standar keamanan global tertinggi,” kata Chief Business Officer BingX, Daniel Lai.

    Ia menambahkan, “Seiring konvergensi aset digital dan mata uang fiat, melindungi pengguna melalui perlindungan yang ketat bukanlah pilihan-ini adalah inti dari misi kami di BingX.”

    BingX menyebut sertifikasi ini memperkuat kerangka keamanan mereka yang sudah komprehensif. Mulai dari sistem anti-pencucian uang (AML), audit Proof of Reserves (PSO) rutin untuk transparansi aset, pemantauan real-time terhadap aktivitas mencurigakan, hingga proteksi dana lewat Shield Fund senilai US$150 juta.

    Selain itu, platform ini juga melakukan tinjauan manual untuk penarikan yang tak biasa, audit rutin dari pihak eksternal, pembaruan sistem berkala, serta penggunaan teknologi enkripsi dan autentikasi terbaru. Semua langkah ini dirancang untuk memastikan lingkungan perdagangan yang aman, transparan, dan mengutamakan perlindungan pengguna.

    Langkah BingX ini menandai tren baru di dunia Web3: bursa kripto mulai menyesuaikan diri dengan standar keamanan global yang biasanya hanya ditemui di sektor perbankan dan kartu kredit.

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com