Tag: Fidelity

  • Direktur Fidelity: Bitcoin Unggul Dibanding Emas

    Jurrien Timmer, Direktur Makro Global di perusahaan layanan keuangan Fidelity yang mengelola aset lebih dari US$3,3 trilyun, mengatakan Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas.

    Bulan lalu, Timmer menerbitkan tulisan yang menyatakan manajer investasi sebaiknya melihat Bitcoin sebagai pengganti emas atau obligasi.

    “Investor mungkin ingin menambah Bitcoin dan alternatif lain sebagai satu komponen sisi obligasi dalam portofolio 60/40 saham dan obligasi,” katanya.

    Baca Juga: Warga Amerika Latin Ingin Belanja Pakai Bitcoin Cs

    Timmer menyoroti fitur Bitcoin yang menjadikannya bernilai, yaitu kelangkaan, kurva penambahan suplai yang berkurang, reputasi dan menuruti Hukum Metcalfe (Network Effect) yang menyatakan nilai jaringan tumbuh lebih cepat dengan bertambahnya pengguna.

    uncaptioned

    Direktur Fidelity itu berpendapat berinvestasi Bitcoin selain emas masuk akal, sebab sama-sama langka dan berfungsi sebagai alat simpan nilai (store of value).

    Timmer menekankan, sistem moneter dunia tidak didukung oleh emas dan ekonomi global semakin bergantung kepada kebijakan moneter bank sentral.

    Dalam era fiat money ini, semakin sedikit emas yang mendukung sistem moneter ketika uang baru diterbitkan dengan sangat cepat dan dalam jumlah banyak, tambahnya.

    “Bagi sebagian orang, hal ini menjadikan emas semakin menggiurkan, dan akhir-akhir ini Bitcoin mulai diperbincangkan sebagai bentuk emas digital,” jelas Timmer.

    Baca Juga: 4 Cara Mendapatkan Uang dari Internet dengan Cepat

    Sambil menegaskan pendapatnya hanya satu di antara yang lain, Timmer menambahkan Bitcoin bukan investasi yang aman. Kendati emas dan Bitcoin sama-sama langka, Bitcoin bersifat digital dan dapat diregulasi ketat.

    “Percaya sesuatu yang konseptual dan belum terbukti dapat bersaing dengan kelangkaan nyata yang telah dihargai selama ribuan tahun butuh keyakinan tinggi,” kata Timmer.

    Tetapi Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas. Pasokan Bitcoin dirancang terbatas, ketika pasokannya mendatar, produksi emas tetap konstan. Emas langka tetapi tidak semakin langka, sebut Timmer.

    Baik emas dan Bitcoin perlu dipertimbangkan investor ketika investasi dalam surat utang (obligasi) berimbal hasil rendah mendekati nol.

    Pekan lalu, investor milyarder Warren Buffett berkata investor obligasi menghadapi masa depan yang suram.

    Menurut Timmer, Bitcoin belum tentu lebih baik dari saham, terutama untuk jangka pendek, sebab harga Bitcoin sangat volatil.

    Saham menawarkan imbal hasil dan membayar deviden sehingga hasil investasi bertambah seiring waktu. Hanya, di saat hiperinflasi emas dan Bitcoin lebih unggul.

    Terlepas dari itu, karakteristik Bitcoin dan pasar kripto yang berkembang menjadikannya alternatif menarik selain emas atau obligasi.

    Bitcoin semakin dipercaya, dan sebagai emas digital, Timmer meyakini Bitcoin akan mengambil pangsa pasar lebih besar seiring waktu.

    Kini, manajer portofolio tidak lagi bertanya untuk berinvestasi Bitcoin atau tidak, melainkan bertanya seberapa banyak beli Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

    Akibat kelesuan ekonomi global yang disebabkan pandemi COVID-19, Bitcoin dan aset kripto lain mendapat dorongan adopsi besar oleh investor institusi. Hal tersebut diutarakan Christine Sandler, Kepala Pemasaran dan Penjualan Fidelity Digital Assets.

    Sejak tahun 2014, Fidelity telah mulai mempelajari teknologi distributed ledger itu. Mereka menyadari ada sejumlah friksi yang dihadapi institusi dalam hal penyimpanan dan perdagangan aset kripto, serta kurangnya infrastruktur. Sebab itu, Fidelity memutuskan untuk menciptakan layanan dan produk bagi institusi.

    Perusahaan tersebut umumnya memiliki klien dari kalangan investor ritel, individu kaya, family office, penasihat investasi, dana lindung nilai dan hibah, sehingga memungkinkan Fidelity menghadirkan produk-produk baru serta memudahkan penggunaan bagi pelanggan yang belum mengenalnya.

    Kendati demikian, baru pada tahun 2020 terjadi pergeseran investasi Bitcoin oleh institusi. Faktor yang mendorongnya adalah pandemi dan regulasi produktif oleh organisasi seperti Komisi Pertukaran dan Sekuritas AS (SEC) serta Kantor Pengawas Mata Uang AS.

    Sandler menjelaskan, pada tahun ini terjadi adopsi narasi emas digital. Bitcoin mulai diminati oleh investor institusi, seperti dana lindung nilai, individu kaya dan family office. Terjadi perluasan jenis klien yang berinteraksi dengan ekosistem aset kripto.

    Pada Agustus 2020, presiden Fidelity, Peter Jubber, mengumumkan rencana untuk meluncurkan dana indeks Bitcoin.

    Dengan investasi minimal US$100 ribu, produk ini ditujukan bagi institusi serta investor terakreditasi yang tidak bisa membeli Bitcoin langsung.

    Sandler berkata dana indeks tersebut diperuntukkan pihak yang terkendala menyimpan Bitcoin spot dalam portofolio mereka.

    Soal Bitcoin exchange-traded funds (ETF), suatu inisiatif yang telah berulang kali diajukan berbagai perusahaan dan ditolak SEC, Sandler berkata hal tersebut akan fantastis.

    Jika terjadi, layanan tersebut akan memberikan akses instan terhadap Bitcoin bagi investor tradisional, dan mampu menggenjot permintaan.

    Kendati institusi mulai serius terhadap Bitcoin, sikap tersebut tidak diberikan kepada aset kripto lain seperti Ethereum. Sandler menjelaskan klien Fidelity menunjukkan minat terhadap Ethereum hanya sesekali, dan minat utama masih ditujukan kepada narasi Bitcoin. Narasi emas digital lebih tepat mengena investor tradisional.

    Tetapi, dukungan bagi Ethereum ada di rencana Fidelity Digital Assets. Dengan adanya fitur Proof-of-Stake sebagai bagian Ethereum 2.0, Fidelity berencana menambahkan dukungan bagi layanan terkait di masa depan.

    “Sebagai kustodian aset digital, kita harus menawarkan layanan staking. Saya pikir kami akan menciptakan layanan tersebut setelah kami resmi mendukung Ethereum, tapi saat ini yang kami dengar kebanyakan adalah Bitcoin,” tambah Sandler.

    Baca Juga: Filecoin Capai Kapasitas 1 Exabyte, Lebih Besar dari Netflix!

    Sandler juga menyoroti lembaga keuangan tradisional yang mulai menyusul masuk ke industri aset kripto, dan uang digital bank sentral akan hadir dalam beberapa tahun ke depan. Ekosistem kripto berkembang cepat, terutama dengan adanya kegunaan tokenisasi aset nyata serta kontrak pintar (smart contract).

    Ia berpikir bukan tidak mungkin dolar digital atau uang digital bank sentral akan digunakan untuk berinteraksi dengan ekosistem tersebut. Kripto dan uang fiattradisional akan hidup berdampingan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Deutsche Bank hingga Fidelity Bikin Bitcoin Bergairah, Optimis Naik Tinggi

    Kabar dari Deutsche Bank hingga Fidelity yang masuk lebih dalam ke industri kripto mendorong sentimen positif Bitcoin. Harga Bitcoin (BTC) pun naik lebih dari US$ 28.000 dan memicu impian pemulihan harga dalam waktu dekat membuat gembira investor.

    Bitcoin dan Ethereum (ETH) memulai hari perdagangan pada Rabu (21/6) secara signifikan berada di zona hijau, dengan aset digital terbesar di dunia naik 5,8% menjadi US$ 28.359, sementara eter naik 3,4% menjadi US$ 1.793.

    “Pergerakan Bitcoin di atas USD $28.000 juga disertai dengan pangsa koin dalam kapitalisasi pasar kripto agregat yang mencapai 50% untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Tidak seperti kebanyakan aset digital lainnya, Bitcoin belum terlibat dalam kompleksitas peraturan apa pun, kami terlihat keluar dari AS,” kata Strahinja Savic, kepala data dan analitik FRNT Financial dikutip CoinDesk.

    Deutsche Bank Ajukan Lisensi

    Deutsche Bank telah mengajukan lisensi platform penyimpanan aset digital dengan regulator keuangan Jerman, Otoritas Pengawas Keuangan Federal (BaFin), menurut laporan Bloomberg.

    Ilustrasi aset kripto.
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Mengapa Pasar Kripto Naik Hari Ini (21/6)? Bitcoin Menuju Harga US$ 30K

    Berbicara di sebuah konferensi awal pekan ini, Kepala Bank Korporat Global Deutsche Bank, David Lynne mengatakan bahwa bank sedang “membangun bisnis aset dan kustodian digital,” dan mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengajukan aplikasi ke BaFin untuk lisensi aset digital.

    Bank Jerman dilaporkan telah bekerja pada platform penyimpanan aset kripto sejak akhir 2020, dengan maksud untuk menetapkan “produk minimum yang layak pada tahun 2021 sambil mengeksplorasi minat klien global untuk inisiatif percontohan.”

    Dengan aset senilai US$ 1,3 triliun, menurut data S&P Global tentang bank terbesar pada tahun 2023, Deutsche Bank adalah bank terbesar di Jerman dalam hal total aset, dan bank terbesar kesembilan di Eropa.

    Fidelity Bikin Konsorsium Bursa Kripto

    Bursa kripto yang didukung oleh Charles Schwab, Citadel Securities, Fidelity Digital Assets, Paradigm, Sequoia Capital, dan Virtu Financial telah meluncurkan dan menyelesaikan putaran pendanaan baru. Platform yang bernama EDX ini menawarkan perdagangan empat aset kripto, termasuk Bitcoin ( BTC ), Ethereum (ETH), Litecoin (LTC), dan Bitcoin Cash (BCH).

    EDX menawarkan “model non-custodial unik yang dirancang untuk mengurangi konflik kepentingan,” ungkap perusahaan. Selain itu, platform ini telah “memperkenalkan kutipan khusus ritel ke pasar kripto, yang memungkinkan para peserta mendapatkan keuntungan dari harga yang lebih baik untuk pesanan yang berasal dari ritel” dan berencana untuk meluncurkan EDX Clearing akhir tahun ini “untuk menyelesaikan perdagangan yang cocok di Pasar EDX.”

    Ilustrasi Fidelity Investment. Sumber: Pionline.com.
    Ilustrasi Fidelity Investment. Sumber: Pionline.com.

    Baca juga: Michael Saylor Prediksi Dominasi Bitcoin Akan Berlipat Ganda

    EDX bukan satu-satunya yang tetap optimis tentang industri kripto di AS, meskipun ada ketidakpastian peraturan. Blackrock, manajer aset terbesar di dunia, mengajukan peluncuran Bitcoin ETF spot dengan SEC minggu lalu. Langkah ini secara luas dianggap sebagai aplikasi untuk dana yang diperdagangkan di bursa bitcoin (ETF), yang sejauh ini telah ditolak oleh SEC.

    Investor Optimis

    Sebuah survei baru oleh Laser Digital menunjukkan bahwa investor institusi siap berinvestasi dalam aset kripto sebagai bagian dari strategi portofolio mereka. Survei menunjukkan keterbukaan yang luar biasa terhadap teknologi.

    Namun, itu juga mengungkapkan rintangan untuk adopsi kripto. Beberapa investor tidak mau melakukan lompatan tanpa dukungan pendukung besar dalam keuangan tradisional.

    Menurut survei, 96% responden memandang aset digital sebagai peluang untuk mendiversifikasi investasi mereka, di samping kelas aset tradisional seperti pendapatan tetap, uang tunai, ekuitas, dan komoditas. Dan 45% mengatakan kepemilikan aset digital mereka akan antara 5% dan 10% selama tiga tahun ke depan. Hanya 0,5% yang mengatakan mereka tidak akan menghitung sama sekali.

    Pastikan kamu hanya melakukan Nabung kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, nabung kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengapa Pasar Kripto Naik Hari Ini (21/6)? Bitcoin Menuju Harga US$ 30K

    Pasar kripto kembali ke tren positif pada hari ini, Rabu (21/6) mengalami kenaikan kapitalisasi pasar lebih dari 4%. Harga Bitcoin (BTC) pun melanjutkan tren kenaikannya dalam 24 jam terakhir dan telah naik lebih dari 6% menjadi US$ 28.770.

    Setelah harga Bitcoin mencapai level terendah tiga bulan di US$ 24,835 minggu lalu, tren bullish saat ini tampaknya akan kembali unggul. Investor berharap besar bahwa BTC dapat mematahkan penurunan beruntun 10 minggunya. Apa penyebab tren kenaikan ini?

    Pasar kripto dan harga Bitcoin naik lebih dari US$ 28.000 atau sekitar Rp 420 juta karena kegembiraan investor atas BlackRock dan Fidelity Investments yang mengajukan permohonan ETF BTC spot. Dua peristiwa itu memicu impian pemulihan harga Bitcoin, setelah berita negatif tentang Securities and Exchange Commission (SEC).

    Reli Bitcoin

    Katalis utama untuk reli pasar kripto tampaknya adalah meningkatnya minat institusional terhadap Bitcoin dari perusahaan, seperti BlackRock dan Fidelity Investments, yang tampaknya sedang dalam proses pengajuan untuk tempat ETF Bitcoin.

    koin bitcoin
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Bangun Karir Web3 Bersama Tokocrypto x IDNFT di Binus University

    Dikutip Cointelegraph, harga Bitcoin mulai naik setelah BlackRock mengajukan ETF BTC spot di Amerika Serikat pada 15 Juni. Meskipun BlackRock bukan yang pertama mengajukan permohonan ETF Bitcoin ke SEC, mereka adalah yang terbesar dari semua pengajuan saat ini.

    Sampai saat ini, SEC telah menolak untuk menyetujui produk Bitcoin ETF, meskipun banyak pengajuan termasuk ARK Cathie Wood dan 21Shares yang telah mengajukan persetujuan tiga kali. Perusahaan lain yang ditolak ETF Bitcoin adalah Grayscale. Setelah penolakan, perusahaan membawa SEC ke pengadilan untuk banding memperdebatkan kesehatan masa depan Bitcoin.

    BlackRock adalah pengelola aset terbesar di dunia dengan aset yang dikelola lebih dari US$ 8,5 triliun. Perusahaan juga akan menggunakan Coinbase untuk menyimpan BTC dalam kepercayaan sesuai dengan pengajuan SEC. Aplikasi ini juga memberikan dorongan pada ETF Grayscale. Diskon mendekati tertinggi 2023 dan di bawah 37%.

    Di samping itu, berita raksasa perbankan Jerman Deutsche Bank (DB) mengajukan permohonan lisensi penyimpanan kripto menambahkan dukungan kenaikan ke pasar. Langkah Deutsche Bank yang mengikuti Fidelity, Citadel Securities, dan Charles Schwab (SCHW) dari EDX Markets, membuat Bitcoin dalam tren bullish.

    Sentimen Positif

    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: IMF Siapkan Platform CBDC untuk Fasilitasi Transaksi Antar Negara

    Sentimen positif pasar kripto juga datang dari para investor dan trader yang percaya indeks dolar AS (DXY) yang akan mendingin bagus untuk harga Bitcoin.

    Sejak kenaikan suku bunga dihentikan oleh The Fed pada minggu lalu, beberapa pelaku pasar berpikir bahwa ekonomi AS dapat tumbuh dan dolar dapat terus melemah. Jika ini terjadi, Bitcoin dapat terus menguat di samping pasar ekuitas. Semakin baik iklim makro, semakin baik untuk harga Bitcoin.

    Sementara harga Bitcoin menunjukkan beberapa momentum bullish dalam jangka pendek setelah berita BlackRock dan pendinginan dolar AS, Fear & Greed Index Bitcoin telah mencapai level tertinggi 3 bulan, yiatu diangka 59 dengan kategori Greed yang menujukan sinyal bullish.

    Di sisi lain, beberapa analis yakin harga Bitcoin akan diperdagangkan sideways setidaknya selama 18 bulan. Meski begitu indikator teknis tetap bullish, menandakan pengembalian ke US$ 30.000 atau sekitar Rp 451 juta.

    Jika reli diperpanjang, Bitcoin kemungkinan akan menguji Level Resistensi Utama Kedua (R2) di US$ 29.479 dan resistensi di US$ 30.000. Level Resistensi Utama Ketiga (R3) berada di US$ 31.172.

    Pastikan kamu hanya melakukan Nabung kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, nabung kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity Siap Luncurkan Stablecoin Berbasis Dolar AS

    Fidelity Investments tengah bersiap untuk merilis stablecoin berbasis dolar AS, menandai langkah signifikan perusahaan dalam ekspansi ke sektor aset digital.

    Ekspansi ke Aset Digital

    Fidelity, perusahaan manajemen aset asal Boston, dikabarkan telah menyelesaikan tahap pengujian untuk stablecoin barunya melalui divisi aset digital khususnya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memanfaatkan teknologi blockchain dalam modernisasi sistem keuangan.

    Dikutip Benzinga, stablecoin ini dirancang untuk berfungsi sebagai uang digital di pasar kripto, mengikuti tren global yang berkembang pesat dalam penggunaan tokenisasi aset. Peluncuran ini juga beriringan dengan rencana Fidelity untuk menawarkan versi token dari dana pasar uang pada akhir Mei, bersaing langsung dengan produk serupa dari BlackRock dan Franklin Templeton.

    Regulasi dan Dampak di Pasar

    Langkah Fidelity ini terjadi di tengah perdebatan regulasi di AS mengenai penerbitan stablecoin. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, kebijakan terhadap aset kripto mulai beralih ke arah yang lebih mendukung. Trump sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap pengembangan stablecoin berbasis dolar yang sah dan mendorong regulasi terkait agar segera disahkan.

    “Kami melihat tokenisasi sebagai perubahan transformatif untuk layanan keuangan,” kata Cynthia Lo Bessette, Kepala Manajemen Aset Digital di Fidelity. Ia menambahkan bahwa aset berbasis blockchain dapat meningkatkan efisiensi pasar modal dengan mempercepat proses penyelesaian transaksi dan meningkatkan likuiditas.

    Persaingan di Industri Stablecoin

    Saat ini, lebih dari $230 miliar stablecoin beredar di seluruh dunia, sebagian besar diterbitkan oleh perusahaan luar negeri seperti Tether. Dengan masuknya lembaga keuangan berbasis AS ke dalam sektor ini, muncul alternatif yang lebih teregulasi bagi pengguna stablecoin.

    Fidelity bukan satu-satunya pemain baru di industri ini. Perusahaan seperti Ondo Finance dan Hashnote—yang didukung oleh Circle—juga tengah mengembangkan produk tokenisasi berbunga yang berfungsi sebagai agunan dalam perdagangan. Instrumen ini telah menarik simpanan lebih dari $5 miliar meski masih dalam tahap membangun likuiditas.

    Pada saat yang sama, World Liberty Financial, perusahaan kripto yang berafiliasi dengan Trump, mengumumkan rencana peluncuran stablecoin miliknya sendiri, USD1. Koin ini akan sepenuhnya didukung oleh obligasi pemerintah AS jangka pendek dan aset setara kas lainnya.

    Dengan semakin banyaknya institusi keuangan yang memasuki pasar stablecoin, persaingan untuk mendominasi sektor ini diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa bulan mendatang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity Luncurkan Saham OnChain Berbasis Ethereum

    Fidelity Investments baru saja mengumumkan peluncuran kelas saham berbasis blockchain Ethereum yang disebut “OnChain” untuk dana pasar uang Treasury, seperti dikabarkan oleh Theblock pada Senin (24/3).

    Langkah ini menandai perkembangan signifikan dalam adopsi teknologi blockchain di sektor keuangan tradisional, khususnya dalam pengelolaan aset institusional.

    Apa Itu Saham OnChain Berbasis Ethereum?

    Fidelity memperkenalkan OnChain sebagai kelas saham baru dalam Fidelity Treasury Digital Fund (FYHXX) yang akan tercatat di jaringan Ethereum.

    Meskipun kepemilikan saham akan tetap didokumentasikan dalam sistem pembukuan tradisional, pencatatan juga akan dilakukan di blockchain Ethereum, dengan proses rekonsiliasi harian oleh agen transfer Fidelity.

    Dalam dokumen pengajuannya ke U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), Fidelity menekankan bahwa catatan utama kepemilikan saham tetap dalam format book-entry.

    Namun, pencatatan di blockchain Ethereum memberikan keamanan, transparansi, dan verifikasi transaksi yang lebih baik bagi para investor.

    Manfaat Integrasi Blockchain Ethereum

    Penerapan blockchain dalam pencatatan kepemilikan saham memberikan berbagai keuntungan.

    Dari sisi transparansi, investor dapat dengan mudah melacak kepemilikan dan transaksi melalui jaringan Ethereum.

    Untuk aspek keamanan, data yang tercatat di blockchain lebih sulit untuk dimanipulasi oleh para peretas atau oknum yang memanfaatkan situasi.

    Sedangkan dari sisi efisiensi, proses verifikasi transaksi dapat dilakukan dengan lebih cepat dibandingkan sistem tradisional.

    Apakah Saham Ini Menggunakan Tokenisasi?

    Meskipun menggunakan teknologi blockchain Ethereum, Fidelity menegaskan bahwa investasi utama dalam dana ini tetap pada kas dan sekuritas Treasury AS.

    Artinya, aset yang dikelola tidak ditokenisasi, melainkan hanya pencatatan kepemilikan yang dibuat dalam format digital di blockchain.

    Posisi Fidelity di Pasar Tokenisasi

    Dengan langkah ini, Fidelity bergabung dengan raksasa keuangan lain seperti BlackRock dan Franklin Templeton yang telah lebih dulu mengeksplorasi tokenisasi aset dunia nyata (Real World Assets/RWA).

    Data dari rwa.xyz menunjukkan bahwa total nilai pasar untuk Treasury AS yang ditokenisasi telah mencapai sekitar $4,77 miliar, di mana Ethereum memegang $3,3 miliar dari jumlah tersebut.

    BlackRock memimpin sektor ini dengan dana tokenisasi T-bill BUIDL senilai $1,5 miliar, sementara Franklin Templeton telah mengumpulkan sekitar $689 juta dalam dana FOBXX yang kini juga diperluas ke jaringan Solana.

    Kapan Saham OnChain Fidelity Diluncurkan?

    Saham berbasis blockchain Ethereum dari Fidelity ini dijadwalkan mulai berlaku pada 30 Mei 2025, tergantung pada persetujuan regulasi.

    Keputusan Fidelity untuk mengadopsi blockchain Ethereum menunjukkan semakin besarnya minat institusional dalam mengintegrasikan teknologi ini ke dalam produk keuangan tradisional.

    Selain itu, Fidelity juga baru-baru ini mendaftarkan kepercayaan hukum bernama “Fidelity Solana Fund” di Delaware, yang menandakan kemungkinan peluncuran produk berbasis Solana di masa mendatang.

    Peluncuran saham OnChain berbasis Ethereum oleh Fidelity menjadi langkah penting dalam evolusi pasar keuangan digital.

    Dengan transparansi, keamanan, dan efisiensi yang ditingkatkan oleh teknologi blockchain, produk ini berpotensi menarik lebih banyak investor institusional ke dalam ekosistem Ethereum.

    Ke depannya, semakin banyak aset keuangan yang dapat memanfaatkan blockchain untuk meningkatkan efisiensi operasional dan transparansi bagi para pemegang saham.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity Gemparkan Ethereum! Luncurkan Produk Rahasia di Dunia Kripto

    Di balik sunyiannya pasar tradisional, Fidelity Asset Management melakukan langkah strategis.

    Secara diam-diam, mereka memperkenalkan produk keuangan inovatif berupa Dana pembendaharaan Tertokenisasi atau Fidelity Digital Interest Token (FDIT) di jaringan Ethereum.

    Kehadiran FDIT mencerminkan saham dari Dana Pasar Uang Treasury yang diolah perusahaan di Ethereum.

    Baca Juga: Wall Street Ungkap Kunci Sukses Ethereum yang Bikin Bitcoin Panik

    Apa Itu FDIT? Produk Tradisional, Kini On-Chain

    Fidelity meluncurkan FDIT pada jaringan Ethereum, yang mewakili satu unit saham dari Fidelity Treasury Digital Fund (FYOXX).

    Dana ini sepenuhnya dikelola di atas aset US Treasury dan kas, menawarkan exposure ke instrumen aman, tetapi dalam format blockchain ber-fiturnya, transaksi real-time, programmable, dan bisa diperdagangkan 24/7.

    Pengelola institusional hanya perlu membayar biaya manajemen 0,20% per tahun, dan Bank of New York Mellon tetap menjaga custody aset tersebut.

    Reliance Institution: AUM Telah Lampaui $200 Juta Meski ‘Quiet Launch’

    Meski tidak pernah diumumkan resmi, Fidelity hanya menyinggung di pengajuan ke SEC.

    Data menunjukkan dana FDIT sudah menguasai lebih dari $200 juta aset. Namun, jumlah pemegang token saat ini masih sangat terbatas: hanya dua alamat, dimana salah satunya mengontrol sebagian besar tokennya.

    Langkah ini menempatkan Fidelity sebagai pesaing langsung terhadap BlackRock, yang lebih dulu meluncurkan BUIDL, Token Treasury fund terbesar dengan lebih dari $2 miliar AUM.

    Total pasar tokenized Treasury sudah melampaui $7 miliar berkat produk dari Franklin Templeton, WisdomTree, dan lainnya.

    Terobosan Besar

    Keterlibatan institusional di blockchain semakin nyata. FDIT merupakan tanda nyata bahwa pemain terbesar di dunia keuangan mau mengadopsi keamanan dan efisiensi blockchain untuk menyediakan instrumen konservatif seperti Treasury funds.

    Akibatnya, tokenisasi real-world assets (RWA) semakin tergeser. Akses instan, transparansi on-chain, serta settlement waktu nyata adalah nilai jual utama FDIT.

    Bahkan, McKinsey memperkirakan pasar tokenized securities dapat menyentuh $2 triliun sebelum dekade ini berakhir.

    Dengan demikian, Ethereum kini menjadi pionir RWA On-Chain. Ethereum, dengan smart contracts-nya, kini meng-host mayoritas tokenized Treasury (sekitar 72% dari total $10–11 miliar tokenized U.S. Treasuries).

    Hal ini memperkuat posisinya sebagai infrastruktur utama untuk produk blockchain institusional.

    Tantangan dan Catatan Penting

    • Pasar Masih Terbatas
      Dengan hanya dua pemegang token besar, fokus awal FDIT tampak ditujukan untuk institusi besar—belum untuk publik luas.
    • Regulasi dan Likuiditas
      RWA tokenisasi masih membutuhkan pengawasan ketat dan support dari regulasi. Likuiditas pasar tokenized Treasuries juga harus terus ditingkatkan agar layak adopsi massal.

    Baca Juga: Cadangan Ethereum Terkuras! ETF & Perusahaan Borong ETH

    Dari Dana Tradisional ke Era Digital

    Dengan peluncuran FDIT, Fidelity membuktikan bahwa masa depan pasar modal berada di persimpangan antara tradisi dan teknologi blockchain.

    Aset aman seperti Treasury tidak lagi harus terkungkung di sistem lama—murah, transparan, dan cepat telah menjadi syarat baru.

    Inilah saatnya institusi besar mulai menyusuri jalur kripto dengan legitimasi dan infrastruktur mapan—bukan untuk spekulasi, tapi untuk efisiensi nyata dan inklusi keuangan.

    Ethereum pun dibuktikan bukan sekadar proto-kripto, melainkan platform dasar infrastruktur keuangan modern.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity Outlook 2026: Siklus 4 Tahunan Bitcoin Mungkin Tidak Ada Lagi!

    Menurut laporan Fidelity Digital Assets, pasar kripto pada 2026 diprediksi semakin matang dengan adopsi mainstream oleh pemerintah dan korporasi. Chris Kuiper, Vice President of Research, menyoroti bagaimana narasi dari sebagian investor yang memperkirakan bahwa siklus 4 tahunan Bitcoin sudah tidak berlaku karena semakin umumnya adopsi kripto.

    Kuiper, mengamini spekulasi ini dan berpendapat bahwa siklus 4 tahunan dari Bitcoin mungkin saja benar-benar berakhir, namun rasa takut dan serakah para investor kripto terhadap siklus 4 tahunan ini tidak akan hilang begitu saja. 2026 Jadi penentu apakah siklus 4 tahunan Bitcoin akan kembali terjadi atau benar-benar mati.

    Di tengah ketidakpastian ini, bagi investor ritel untuk masuk sekarang bisa berisiko jika terjadi bear market, tapi Kuiper menekankan bahwa untuk jangka panjang, Bitcoin tetap menarik karena suplai nya yang tetap. “Selama tidak ada perubahan suplai, setiap pembelian Bitcoin adalah menyimpan nilai kerja Anda dari inflasi kebijakan moneter pemerintah” ujar Kuiper.

    Fidelity juga memperkirakan bahwa akan lebih banyak negara mengadopsi Bitcoin sebagai cadangan devisa, mengikuti AS dan Kyrgyzstan. Sehingga bisa menciptakan efek game theory, di mana negara lain terdorong ikut serta untuk menghindari ketinggalan.

    Siklus 4 Tahunan Bitcoin Mungkin Tidak Akan Ada Lagi?

    Bitcoin telah menjadi aset digital terkemuka sejak 2009, dengan pola harga yang sering dikaitkan dengan siklus 4 tahunan yang dipicu oleh event halving di mana reward mining dipotong setengah setiap sekitar empat tahun. Siklus ini biasanya menghasilkan bull run yang diikuti oleh koreksi tajam satu tahun setelah halving. 

    Fidelity menyoroti bahwa Bitcoin bergerak dalam siklus sekitar 4 tahun (diukur dari puncak pasar bullish ke puncak berikutnya, atau dari dasar pasar bearish ke dasar berikutnya).

    Siklus 4 tahunan Bitcoin, 2026 jadi penentu. Sumber: Fidelity

    Bitcoin membentuk puncak pasar bullish pada November 2013, Desember 2017, dan November 2021, serta dasar pasar bearish pada Januari 2015, Desember 2018, dan November 2022.

    Siklus-siklus ini disertai dengan fluktuasi harga yang signifikan. Siklus pertama mengalami penurunan dari $1.150 menjadi $152, siklus kedua dari $19.800 menjadi $3.200, dan siklus ketiga dari $69.000 menjadi $15.500.

    Kuiper menjelaskan menjelaskan bahwa jika siklus 4 tahun berulang, kita seharusnya sudah mencapai all-time high dan memasuki bear market penuh. Namun, penurunan di bulan November 2025 kemarin bisa saja hanya koreksi bull market yang akan membawa Bitcoin ke all-time high baru. Ia menambahkan bahwa konfirmasi penuh mungkin dapat dipastikan di tahun 2026 nanti.

    Baca juga: Trading dengan Pair IDR vs USD, Mana yang Cocok Buat Kamu?

    Market Cap Bitcoin yang Semakin Besar

    Market cap aset secara global diurutkan dari yang terbesar. Sumber: companiesmarketcap

    Dari segi kapitalisasi pasar (market cap), Bitcoin telah sempat $2 triliun pada 2025, namun mengalami koreksi, tapi masih tetap masuk ke dalam top 10 aset secara global. Dengan semakin besarnya kapitalisasi pasar ini berarti dibutuhkan modal lebih besar untuk menggerakkan harga, sehingga mengurangi volatilitas. 

    Perbandingan antara market cap Bitcoin dengan volatilitasnya. Sumber: Glassnode

    Data Glassnode menunjukkan bahwa volatilitas Bitcoin terus menurun sejak siklus awal, hubungan terbalik antara kapitalisasi pasar Bitcoin yang meningkat secara eksponensial dan volatilitas realized 1-tahun yang menurun secara linear dari puncak di atas 600% pada awal 2010-an menjadi di bawah 50% mengonfirmasi bahwa pertumbuhan kapitalisasi pasar membuat mengurangi volatilitas Bitcoin karena memerlukan injeksi modal yang lebih besar untuk memicu perubahan harga signifikan.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Lebih dari 100 Perusahaan Besar Memegang Kripto

    100 Perusahaan dengan eksposur Bitcoin. Sumber BitcoinTreasuries

    Lebih dari 100 perusahaan publik memegang kripto, dengan sekitar 50 perusahaan memiliki lebih dari 1 juta Bitcoin secara total. Perusahan-perusahaan ini tidak terbatas hanya berada di AS namun Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

    Selain itu, adopsi pemerintah seperti Reserve Bitcoin Strategis AS melalui perintah eksekutif Presiden Trump pada Maret 2025, diikuti oleh Kyrgyzstan dan Brasil yang mengusulkan hingga 5% cadangan internasional dalam Bitcoin, diprediksi mampu menambah tekanan permintaan.

    Baca juga: Tom Lee: Ethereum Dalam Momentum 1971, Apa Maksudnya?

    Apakah Masih Ada Waktu untuk Membeli Bitcoin?

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Selasa, 16 Desember 2025. Sumber: Tokocrypto

    Menurut Kuiper, pasar kripto sedang memasuki paradigma baru dengan hadirnya gelombang investor tradisional yang mulai membeli Bitcoin dan aset digital lainnya. Ia menekankan bahwa potensi dana yang bisa masuk ke ruang kripto masih sangat besar.

    Secara jangka pendek atau menengah, jika kamu mengejar siklus 4 tahunan maka ada kemungkinan sudah terlambat jika siklus harga mengikuti pola historis—karena satu tahun setelah halving (2025) adalah top, Kuiper memang menyebut ada kemungkinan siklus 4 tahunan hilang, namun itu cukup berisiko.

    Untuk investasi jangka panjang, Kuiper berpandangan sangat bullish dan mengatakan “Saya pribadi tidak pernah menganggap seseorang bisa benar-benar terlambat membeli Bitcoin jika melihatnya sebagai penyimpan nilai. Selama pasokan tetap terbatas, setiap pembelian berarti menempatkan tenaga atau tabungan pada sesuatu yang tidak akan tergerus inflasi akibat kebijakan moneter pemerintah” ujar Kuiper.

    Jika kamu tertarik untuk melakukan investasi di aset kripto Bitcoin, pastikan kamu menggunakan exchange resmi dan terpercaya seperti Tokocrypto—deposit mulai dari Rp50.000 dan dapatkan potongan trading 20% dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat registrasi! Download dan daftar di sini


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

    Sumber: 2026 crypto market outlook | Fidelity



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fund Manager di AS Tingkatkan Alokasi Dana ke Bitcoin Usai Cetak Rekor


    Jakarta

    Sebuah perusahaan fund manager Amerika Serikat (AS) meningkatkan alokasi dana di bursa berjangka (ETF) Bitcoin pada kuartal IV-2024. Hal itu dikarenakan harga mata uang kripto terbesar di dunia itu naik 47%.

    Dewan Investasi Negara Bagian Wisconsin meningkatkan kepemilikan ETF Bitcoin lebih dari dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir pada 2024, menjadi 6 juta saham ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT.O) pada 31 Desember 2024. Dana tersebut merupakan dana pertama yang melaporkan investasi dalam kripto setelah debut ETF bitcoin.

    Dana investasi besar lainnya juga meningkatkan kepemilikan di ETF yang diluncurkan pada Januari 2024. Tudor Investment Corp, manajer dana lindung nilai sistematis melaporkan kepemilikannya di ETF iShares sekarang yang terbesar dengan aset lebih dari US$ 55 miliar, naik menjadi 8 juta saham dari 4,4 juta saham.


    Nilai kepemilikan tersebut melonjak, mencerminkan lonjakan nilai bitcoin mencapai US$ 426,9 juta, naik dari US$ 159,9 juta pada akhir September 2024.

    Sebuah dana pemerintah Abu Dhabi, Mubadala Investment Co melaporkan upaya pertamanya ke ETF Bitcoin pada kuartal IV-2024, mengambil 8,2 juta saham di ETF iShares yang bernilai US$ 436,9 juta. Dana lindung nilai Hunting Hill Capital tidak memiliki eksposur terhadap ETF ini hingga akhir kuartal III, tetapi pada 31 Desember 2024 muncul kembali sebagai investor dengan posisi yang bernilai sekitar US$ 131 juta pada akhir tahun.

    “Kami telah aktif berdagang dalam kompleks ETF kripto yang lebih luas dan waktu pengajuan kuartal ketiga mungkin tidak sesuai dengan saat kami membeli dan menjual berbagai ETF,” kata Adam Guren, pendiri dan kepala investasi perusahaan tersebut dikutip dari Reuters, Minggu (16/2/2025).

    Cetera Advisors dan NewEdge Advisers termasuk di antara perusahaan yang meningkatkan kepemilikan di beberapa ETF, termasuk produk yang ditawarkan oleh Fidelity, ARK Investments dan Invesco (IVZ.N).

    Sementara itu, investor lain lebih selektif. Cresset Asset Management meningkatkan eksposurnya terhadap ETF yang memiliki biaya lebih rendah.

    (aid/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Cetak Rekor Lagi, Ini Pemicunya


    Jakarta

    Bitcoin mencatat kapitalisasi pasar hingga US$ 3,67 triliun atau sekitar Rp 59,68 kuadriliun (asumsi kurs Rp 16.262). Capaian ini terjadi usai harga aset kripto itu mencetak sejarah untuk pertama kalinya, yakni menjadi US$ 123.000.

    Posisi ini menjadikan bitcoin sebagai aset paling bernilai di dunia, menggeser Google dan menempati posisi keenam global. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi arus masuk besar ke ETF Bitcoin, peningkatan minat institusi, hingga ekspektasi pasar terkait regulasi di Amerika Serikat (AS).

    Berdasarkan data Farside Investors, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk hingga US$ 1,17 miliar dalam satu hari. Angka ini menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah untuk ETF kripto.


    Sementara BlackRock, memimpin dengan iShares Bitcoin Trust (IBIT) senilai US$ 448 juta, disusul Wise Origin Bitcoin Fund milik Fidelity sebesar US$ 324 juta. Total dana yang terkumpul di ETF Bitcoin spot kini melampaui US$ 50 miliar.

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan, ETF Bitcoin dapat membeli Bitcoin dalam jumlah sangat besar, sedangkan Bitcoin yang ditambang jumlahnya sedikit. Penambang hanya bisa menghasilkan puluhan juta dolar per hari.

    “Tapi ETF bisa beli lebih dari US$ 1 miliar dalam satu hari. Jika permintaan jauh lebih besar daripada pasokan, wajar kalau harga terus naik dan mencetak rekor baru,” ungkap Antony dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/7/2025).

    Menurutnya, fenomena ini menunjukkan pasar kripto menjadi instrumen yang menarik bagi investor ritel. Bahkan sekarang, terang Antony, pemain besar seperti BlackRock dan Fidelity masuk dengan dana triliunan rupiah.

    “Dengan adanya ETF, mereka tidak perlu lagi repot menyimpan Bitcoin atau Ether sendiri. Cukup beli ETF seperti beli saham, dan ini membuat kripto jadi bagian dari pasar keuangan utama, bukan lagi dianggap eksperimen,” ungkapnya.

    Antony menegaskan, tren ini didukung oleh regulasi yang semakin jelas di sejumlah negara besar.Kejelasan regulasi ini memberi sinyal, aset kripto semakin diakui. Bahkan menurutnya, kejelasan regulasi ini dapat mendorong harga Bitcoin dan Ether bertahan di level tinggi atau naik lebih tinggi.

    Namun, ia mengingatkan investor agar tetap bijak mengingat harga tinggi tidak berarti harus membeli. Menurutnya, investor perlu menerapkan strategi investasi yang aman.

    “Seperti beli bertahap (Dollar-Cost Averaging), agar risiko terkendali. Karena meskipun prospeknya cerah, kripto tetap mengalami fluktuasi,” tutup Antony.

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com